Kepribadian

7 Alasan Penjahat Populer – Hendak Menguji Atau Menjerumuskan Masyarakat?


Alasan Penjahat Populer - Hendak Menguji Atau Menjerumuskan Masyarakat

Hal-hal duniawi adalah jebakan bagi umat manusia

Mari sadarilah dengan sungguh-sungguh bahwa berbagai kemelut duniawi yang terjadi adalah kesengajaan yang digunakan Tuhan untuk menguji hati manusia. Tuhan sengaja meletakkan kita di dunia ini agar terbuktilah dimana yang benar-benar anak-Nya dan siapa pula yang merupakan musang berbulu domba (anak si iblis). Anak-anak-Nya tentu akan lebih mementingkan firman yaitu melakukan dan memperjuangkan kebenaran sejati dari waktu ke waktu. Tetapi anak-anak si iblis, sekalipun mukanya licin, pada akhirnya mereka terjebak dalam pengejaran akan kenikmatan dan kemuliaan yang justru akan mendorong mereka ke dalam petaka bencana alam dan bencana kemanusiaan. Secara default orang benar akan berbahagia lewat kebenaran yang ditekunianya tetapi anak iblis akan terjebak dalam kecemburuan, politik persaingan dan konflik hingga penghancuran diri sendiri lewat berbagai bencana yang terjadi (bencana alam dan kemanusiaan).

Materi alat untuk mempertajam arogansi dan keserakahan agar anak si jahat terseleksi

Materi adalah bahan rebutan utama di dunia ini. Masing-masing orang melakukan usaha terbaiknya untuk mencari berbagai kenikmatan duniawi. Mereka mengerahkan kemampuan tenaganya dan memaksimalkan kapasitas otaknya untuk melakukan berbagai-bagai aksi yang dianggap perlu untuk menguasai lebih banyak harta duniawi (arogansi). Di sisi lain, orang-orang yang sudah terpuaskan oleh kekayaan yang berlimpah-limpah, turut pula melakukan berbagai aksi manipulasi agar sebisa mungkin dianugerahkan berbagai bentuk kemuliaan: pujian, penghargaan dan penghormatan. Semua keadaan ini menggambarkan betapa manusia hanya dipenuhi oleh berbagai-bagai hal yang fana di dalam dirinya (ketamakan). Pada akhirnya, kefanaan tersebutlah yang akan menyapu bersih umat manusia akibat bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Manusia suka cari sensasi agar timbul masalah hingga muncullah pahlawan

Manusia jaman sekarang memang edan. Kegilaan akan materi dan kemuliaan duniawi membuat mereka mulai berpikir untuk mencari-cari sensasi agar sebisa mungkin memperoleh semuanya itu lipat kali ganda. Bahkan beberapa oknum mulai berpikir untuk memunculkan masalah-masalah tertentu dengan sengaja. Sehingga dirinya bisa tampil sebagai pahlawan kesiangan dan dikenal sebagai seorang terhormat dibandingkan orang lain (arogan). Mereka menyebut ini sebagai pencarian akan kemuliaan duniawi. Banyak ambisi yang dimiliki sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan berbagai praktek politik yang menyimpang semata-mata demi munculnya suatu gejolak sosial. Padahal saat suatu dinamika terjadi, ada-ada saja pihak yang dirugikan bahkan ada kemungkinan jatuh korban jiwa. Mereka mengorbankan sesamanya demi kenikmatan dan kemuliaan duniawi sesaat.

Apakah ini sekedar ujian atau murni untuk menjerumuskan orang?

Salah satu alat yang digunakan untuk memancing sebuah gejolak sosial adalah media, baik media elektronik maupun media cetak. Satu lagi media yang paling liar dalam pemberitaannya adalah media sosial. Dengan bantuan teknologi berkedok pers, orang-orang tertentu mencoba menjebak yang lainnya semata-mata demi suatu masalah. Memang pada awalnya tidak ada apa-apa yang terjadi tetapi berangsung-angsur orang yang terlalu fokus dengan berbagai pemberitaan pers abal-abal tersebut mulai berjatuhan. Hanya saja kita berharap, kiranya tujuan para konglomerat tersebut melakukan semuanya ini demi menguji manusia dan tidak benar-benar dilakukan untuk menghancurkan sistem positif yang telah berkembang dengan baik di dalam masyarakat. Masalahnya sekarang adalah adakah orang yang mau mengeluarkan biaya jutaan bahkan miliaran rupiah semata-mata demi sebuah lelucon? Saksikanlah kawan, Perilaku yang tidak baik ditiru.

Faktor penyebab orang jahat populer

Ada apa dengan dunia ini, seolah-olah orang tertentu hendak melakukan berbagai-bagai politik informasi. Agar seolah-olah para pelaku bully, pemfitnah, pengejek, penghina, perilaku yang tidak ramah, mulut yang suka serapah dan lain-lain menjadi terkenal. Ketika pemberitaan tentang orang-orang tersebut menyebar seolah-olah mengindikasikan suatu ajakan, yaitu “hai ayo, ramai-ramai lakukan kejahatan agar bisa terkenal.” Apakah ini semacam politik praktis agar semakin banyak orang yang tersesat di jalan yang salah, melakukan berbagai-bagai aksi mencari sensasi semata-mata demi timbulnya gelombang kejahatan? Berikut ini akan kami berikan beberapa alasan mengapa orang yang berkelakuan buruk itu terkesan sangat ternama.

  1. Sebenarnya mereka hanya terlihat populer.

    Karena kita terlalu fokus terhadap media sehingga melupakan esensi yang sesungguhnya dari suatu berita, besar kemungkinan menjadi salah paham. Pemirsa yang kurang cerdas akan menganggap bahwa berada di depan kamere adalah sesuatu hal yang mengagumkan sehingga muncullah dorongan untuk melakukan hal yang sama. Terlebih ketika yang bersangkutan begitu menginginkan agar dirinya turut terkenal, seolah-olah itu adalah sumber kebahagiaannya. Alhasil, hasrat yang tinggi dari dalam hati ditambah dorongan media yang terus-menerus menjadikan berita tersebut sebagai bahan pemberitaan akan membuatnya melakukan hal yang sama agar dirinya juga populer. Jadi, dalam hal ini melakukan aksi kriminal hanyalah sebuah kesenangan demi mencari ketenaran.

  2. Televisi suka mengulas kehidupan penjahat (sudah tugas mereka).

    Ini adalah rutinitas media masa yang selalu menyebarkan berbagai informasi terbaru di seluruh negeri. Untuk itulah pemerintah dan masyarakat menggaji oknum pers agar informasi di telinga senantiasa diperbaharui. Peristiwa dari tempat yang jauh akan di dengarkan hingga ke pelosok-pelosok dengan demikian masing-masing orang akan dicerdaskan. Lagipula pemberitaan yang dilakukan bermanfaat untuk mempersatukan negeri dengan menyamakan persepsi antar wilayah, budaya, daerah dan profesi yang berbeda-beda. Bukankah ini yang dimaksud dengan kesetaraan informasi demi mewujudkan keadilan sosial di bidang pengetahuan dan pendidikan masyarakat?

  3. Penjahat sengaja dipopulerkan sebagai pembelajaran bagi masyarakat.

    Oknum pers memang sangat lihai dalam melakukan berbagai analisis untuk menemukan pondasi dan solusi dari suatu gejolak sosial. Mereka akan mengupas habis kehidupan pribadi seorang pelaku kriminal sehingga ditemukanlah apa sebenarnya yang menyebabkan perilaku yang tidak wajar itu. Apa ada pengaruh dari gaya (cara) mendidik anak sejak kecil, kebiasaan keluarga, faktor sosial, faktor budaya dan lain sebagainya. Kesemua ini adalah tugas media untuk mengupas kehidupan penjahat sekaligus mengedukasi masyarakat agar dapat menghindari kebiasaan buruk yang sama.

  4. Semakin jahat manusia semakin untung oknum kapitalis.

    Kita misalkan saja tentang kasus terorisme. Oknum kapitalis tertentu sengaja mengebom pemberitaan tentang betapa populernya para pelaku teror sekaligus menembakkan tujuan pelaku untuk mati sahid dan masuk surga. Dengan bertambahnya pelaku teror, secara tidak langsung penjualan senjata, peluru, rumpi anti peluru, robot penjinak, bahan-bahan bom, pemicu, remot kontrol, software dan lain sebagainya akan meningkat tajam. Sedang saat pihak pemerintah keteteran menangkap pelaku teror, oknum kapitalis penjual senjata ini semakin kaya raya sebab barang dagangannya laris manis.

  5. Untuk memancing serigala berbulu domba menunjukkan taring (melakukan serangan).

    Saat mempopulerkan pelaku kriminal, banyak orang yang akan mendengarnya termasuk musuh dalam selimut atau disebut juga sebagai musang berbulu domba. Penjahat yang tampilannya alim-alim ini akan terpancing emosinya sehingga akan menunjukkan belangnya untuk turut rame-rame melakukan penyerangan. Jadi, media sengaja berlaku seolah-olah para pelaku kriminal itu sangat populer untuk memancing para mafia keluar dari sarang persembunyiaannya sehingga identitas dan kejahatannya terkuak ke publik.

  6. Untuk menjebak orang yang gila akan kemuliaan duniawi.

    Ada juga manusia yang sedang terganggu pemahamannya tentang dunia ini. Mereka menganggap terpuji dan populer saat seseorang masuk kamera. Mungkin karena baru-baru memahami cara dunia ini bekerja, lantas menyetarakan antara kehidupan artis yang diidolakan dengan para pelaku kriminal sebab keduanya sama-sama ditampilkan di channel/ saluran televisi yang sama. Terlebih ketika orang-orang ini belum dewasa dan mulai menganggap bahwa kepuasan dan kebahagiaan itu adalah masuk televisi.

    Ada juga orang yang menganggap bahwa banyaknya pengikut twitter, teman facebook, penyuka status, favorit di media sosial dan berbagai-bagai indikator popularitas lainnya merupakan sumber kebahagiaannya. Padahal semuanya itu kesenangan sesaat dan fluktuatif sehingga tidak baik jika dijadikan sebagai indikator kebahagiaan hati. Justru dengan menjadikan popularitas duniawi tersebut menjadi sumber kepuasan maka tepat saat itu juga kita akan dipermainkankan oleh orang lain bahkan akan terjerumus untuk melakukan kejahatan semata-mata demi ketenaran nama.

  7. Bagian dari ujian sosial.

    Inilah yang harus dipahami oleh para pembaca sekalian. Semuanya itu adalah ujian sosial yang bermanfaat untuk membuat kejahatan di dalam diri kita semakin menciut. Kalau-kalau sikap yang tidak senonoh itu muncul demi mencari popularitas di dunia maya, kan masih bisa mundur (mungkin akan dapat peringatan). Sedang saat melakukan kejahatan di dunia nyata sudah pasti akan dipidanakan/ dipolisikan.

    Orang yang sudah berpengalaman tentunya tidak akan membiarkan dirinya terjerat dalam nafsu untuk beroleh nama yang harum semerbak. Sebab dia tahu dan paham betul bahwa pesona popularitas itu “seperti bunga taik ayam, dilihat elok tetapi didekati busuk.” Seseorang yang belum dewasa akan menganggap penjahat yang tenar itu sebagai pedoman sehingga dirinya pun turut melakukan aksi sensasional lainnya.

Dunia ini penuh ujian bahkan Tuhan sendiri meletakkan kita di bumi untuk melihat, siapa yang benar-benar anak-Nya dan siapa pula yang bawaannya anak iblis. Mereka yang berasal dari si jahat begitu mencintai kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Jadi berjaga-jagalah teman agar tidak terjebak dalam berbagai praktek provokasi untuk mendorong anda menjadi pegiat dosa. Tunjukkanlah bahwa kita adalah anak-anak terang yang gemar melakukan hal-hal yang benar. Jangan terseret oleh nafsu popularitas sehingga diri ini jago melakukan tindakan kriminal. Ketahuilah bahwa “ketenerannya hanya sesaat tetapi masuk bui bisa berlarut-larut.” Belum lagi dampaknya kepada kaum keluarga yang turut malu terhadap peristiwa tersebut. Oleh karena itu, mulai arahkan pikiran untuk mencari kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman dengan melakukan kebenaran yang hakiki: kasihilah Tuhan Allahmu seutuhnya dan orang lain sama seperti diri sendiri. Simak juga teman, Mengapa penderitaan bisa menghilangkan dosa?.

Salam, Popularitas sangat fana,
moralitas dipertanyakan di pintu sorga
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s