Keluarga

7 Alasan Menyembah Berhala Zinah, Ambisi Kenikmatan & Kemuliaan Duniawi Adalah Baal Zaman Sekarang


Alasan Menyembah Berhala Zinah, Ambisi Kenikmatan & Kemuliaan Duniawi Adalah Baal Zaman Sekarang

Tekanan yang kita alami berasal dari dalam otak

Episentrum kehidupan berasal dari dalam pikiran pribadi lepas pribadi. Waktu demi waktu yang dilalui terguncang atau tidak, semuanya tergantung dari pusatnya. Hari-hari yang dijalani mudah goyah atau tidak oleh berbagai gejolak sosial yang terjadi di sekitar. Sangat tergantung dari kekuatan sentral yang berada di dalam rongga kepala ini. Kegesitan kita untuk mengendalikan pola pikir sangat menentukan besar kecilnya dampak buruk yang disebakan oleh gempa dinamika sosial yang berlangsung cepat maupun lambat. Semakin lurus aktivitas otak kepada hal-hal positif maka semakin terlatih diri ini untuk mengantisipasi, mempertahankan dan mengelakkan kehidupan dari berbagai-bagai goyangan gempa emosional yang berlangsung sangat cepat.

Mengendalikan diri sama dengan mengendalikan pikiran

Simpul dari pengendalian diri manusia terletak pada aktivitas otak masing-masing. Mereka yang aktif memikirkan hal-hal positif cenderung mampu mengatakan dan melakukan hal-hal yang baik. Orang yang mampu melatih dirinya dalam kerja keras dan belajar keras juga diberi kesanggupan untuk mengontrol pikiran pada hal-hal yang lurus saja. Jadi, yang hendak kami ingatkan di sini adalah “isi harimu dengan aktivitas positif maka selama itu segenap sikap akan mengarah kepada hal-hal yang baik pula.” Saat yang dipikirkan bernafaskan kepada kebenaran niscaya berbagai-bagai aroma kebenaran akan semerbak dari dalam hati masing-masing. Hanya saja, lakukanlah semuanya itu dengan tulus agar semerbaknya tetap kentara. Tanpa keikhlasan bau busuk akan tercium akibat kebaikan kita diabaikan oleh orang lain.

Keberadaan Tuhan dalam kehidupan manusia

Dimana fokusmu berada maka di situlah hatimu bersandar.” Kemana hatimu tertuju maka ke sanalah rasa puas, damai, bahagia, lega dan tenteram berasal.”  Atau lebih tepatnya, “dimana Allahmu berada, ke sanalah hatimu terpusat.”  Dari sini bisa kita ketahui dengan pasti bahwa sesungguhnya “Allah harus di posisikan sebagai inti segala fokus berpikir umat manusia.” Jadi, bisa dikatakan bahwa penempatan Allah dalam kehidupan kita bukan hanya secara simbolik lewat berbagai benda atau peristiwa yang dapat dibaca oleh indra masing-masing. Melainkan orang yang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh menempatkannya dalam posisi sentral kehidupan, tepat di dalam hati tiap-tiap orang.

Cara memuliakan Allah

Memang perlu juga kita sadari dan pahami bahwa Allah adalah segalanya, sebab nafas-Nya telah dititipkan kepada semua ciptaan yang tidak dapat dipetakan oleh manusia di seluruh jagad raya. Di balik semuanya itu, kitapun perlu memahami bahwa di dalam diri sendiri ada bagian dari nafas Allah yang disebut sebagai Roh Kudus. Bukankah Roh Kudus ada di dalam hati kita?  Ketika hidup senantiasa memuji-muji Allah di segala waktu yang dijalani (dalam hati, lewat bibir, gerakan, alat musik), saat itulah kehidupan ini telah menjadi umat yang setia tanpa memberhalakan siapapun. Allah adalah kebenaran itu sendiri, manusia juga dapat fokus kepada-Nya dengan berdoa dan membaca-mendengar firman. Bahkan dapat pula berbagi kasih kepada sesama seperti diri sendiri lewat pekerjaan dan pelajaran yang digeluti: semua ini adalah bagian dari aktivitas fokus kepada Tuhan (kebenaran sejati).

Bagaimana cara gemerlapan duniawi menjadi berhala memikat hati manusia?

Pesona warna-warni materi telah memukau indra manusia sehingga jatuh cinta terhadap hal-hal duniawi. Pengaruh materi inilah yang menggeser posisi Tuhan dari dalam hati manusia sehingga hidupnya hanya didedikasikan untuk mencari materi. Tanpa sadar, dominasi pesona duniawi telah menawan hati manusia sehingga muncullah keinginan untuk membuat sistem yang menempatkan dirinya di atas yang lainnya (arogansi). Lantas timbullah iri hati di antara orang-orang di sekitarnya sehingga merekapun turut mengusahakan, meraih dan memperebutkan dengan cara memanipulasi aturan & situasi (menghalalkan segala cara). Jika persaingan ini bertahan maka yang dihadapinya ke depan adalah bencana alam dimana situasi lingkungan memburuk karena hampir semua sumber daya alam telah dieksploitasi secara berlebihan. Apabila persaingan antara konglomerat (kapitalis) tidak terkendali niscaya akan muncul berbagai konflik dan aksi terorisme hingga peperangan. Lirik juga kawan, Manusia digusur dari bumi lewat bencana alam dan bencana kemanusiaan.

KETIDAKADILAN AKAR DARI SEGALA KEJAHATAN

Alasan mengapa menyembah berhala (kenikmatan dan kemuliaan duniawi) adalah zinah

Manusia ambisius yang hatinya telah ditawan oleh hasrat yang tinggi untuk memperoleh harta benda, uang dan kekuasaan (jabatan) akan memanfaatkan ilmu (kelicikan) untuk memperolehnya. Semua keadaan tersebut akan menggiring seseorang/ sekelompok orang untuk mengeksplorasi alam sebebas-bebasnya dan mengeksploitasi manusia secara berlebihan. Semua ini diawali oleh ketidakadilan sosial yang memicu rasa cemburu, persaingan, konflik hingga peperangan. Pada titik inilah manusia menjadikan materi sebagai berhalanya sebab tujuan hidupnya tidak jauh-jauh demi beroleh kemewahan, kenyamanan, kenikmatan, pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas duniawi.

Berikut akan kami jelaskan selengkapnya mengapa ambisi terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi adalah berhala yang membuat manusia berzinah dihadapan Tuhan.

  1. Melanggar hukum Taurat – melanggar satu sama dengan melanggar semua.

    (Keluaran 20:2-6) “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

    Setelah pernyataan keberadaan Allah Tritunggal, konsep keberadaan Allah tidak lagi berakumulasi pada indra manusia. Melainkan Tuhan menyatakan dirinya langsung dalam wujud Roh Kudus dalam hati setiap orang. Ketika kita terlalu terobsesi untuk meraih berbagai kekayaan, kemewahan, kesuksesan, kenyamanan, pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas duniawi. Tepat saat itulah kita telah menggeser keberadaan Roh Kudus dari dalam hati sehingga menjadikan materi sebagai berhala yang adalah way of life (tujuan hidup). Kita mencintai hal-hal duniawi lebih dari pada Sang Pencipta. Terus-menerus memikirkan kenikmatan dan kemuliaan duniawi tersebut hingga dibawa dalam tidur masing-masing. Menjadikan hal-hal duniawi tersebut sebagai sumber kesenangan namun mengabaikan Tuhan. Malahan kita lebih mementingkan diri untuk mencari uang ketimbang beribadah kepada-Nya, bukankah dengan demikian kita berzinah karena melupakan Yang Maha Kuasa?

  2. Jemaat adalah istri dan Yesus Kristus adalah Suami.

    (Efesus 5:23) karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

    Kedekatan antara Kristus dan jemaat diumpamakan sebagai keintiman antara suami dan istri. Keduanya (suami-istri) berbeda tetapi pada dasarnya hanyalah satu rumah tangga. Demikian juga dengan Kristus sebagai kepala jemaat (bukan sintua, pendeta, pastor) dan semua orang percaya adalah anggota-anggotanya. Kita dan Yesus adalah satu: sebab Kristus ada di dalam kita dan kita ada di dalam Kristus. Tentu saja, keadaan ini turut dipengaruhi oleh fokus kehidupan kita yang senantiasa tertuju kepada kebenaran sejati dimulai dari pikiran, perkataan dan perbuatan.

    Jadi, tepat saat kehidupan ini berfokus kepada ilah-ilah duniawi, tepat saat itu jugalah kita berzinah karena telah melupakan Suami yang sedari awal telah menebus dosa-dosa yang telah dilakukan seumur hidup.

  3. Orang percaya adalah mempelai perempuan dan Allah adalah mempelai laki-laki.

    (Wahyu 21:9) Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: “Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.”

    Kerajaan sorga seperti pesta pernikahan dimana orang percaya (mempelai perempuan) menanti-nantikan kedatangan Tuhan kedua kali untuk menghakimi umat manusia. Pada pesta penghakiman itulah akan ternyata jelas siapa-siapa saja yang benar-benar akan dipilih oleh mempelai laki-laik (Tuhan) untuk dibawa ke kediamannya di sorga yang kekal. Sedangkan orang-orang berdosa yang terus-menerus melumpur demi kenikmatan dan kemuliaan duniawi akan dicampakkan ke dalam api neraka yang penuh tangis, ratap dan kertak gigi.

    Jadi, kita menduakan Allah ketika hati lebih tergiur akan kenikmatan, kenyamaman, kemewahan, kemudahan, pujian, penghargaan, penghormatan dan ketenaran duniawi. Padahal Tuhan sudah berjanji bahwa Dia akan segera kembali, “hari Tuhan sudah dekat.” Tetapi karena hati lebih terpancing pada berbagai tawaran materi yang menyuguhkan kejutan sesaat (kesenangan), kita berzinah dengan berhenti menantikan kedatangan mempelai laki-laki dan malah tenggelam dalam berbagai bentuk dosa.

  4. Umat yang tidak setia seperti istri (orang percaya) yang meninggalkan Suami pertamanya (Allah).

    (Hosea 2:4) Sebab ibu mereka telah menjadi sundal; dia yang mengandung mereka telah berlaku tidak senonoh. Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku.

    Nabi Hosea sangat jelas menampilkan kelakuan orang percaya yang meninggalkan Allah semata-mata demi materi (roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku). Dari ayat ini jelas sekali tujuan seorang manusia bersundal dengan meninggalkan Allah, yaitu demi kenikmatan, kenyamanan, kemudahan dan kemewahan duniawi. Kenyataannya semua perjuangan dan pengejaran akan hal-hal duniawi tersebut menggiring lingkungan hidup dalam bencana alam. Tanah yang subur akan berubah menjadi padang gurun, kekeringan melanda negeri dan manusia mati kehausan. Seperti ada tertulis.

    (Hosea 2:2) supaya jangan Aku menanggalkan pakaiannya sampai dia telanjang, dan membiarkan dia seperti pada hari dia dilahirkan, membuat dia seperti padang gurun, dan membuat dia seperti tanah kering, lalu membiarkan dia mati kehausan.

    Pada akhirnya, manusia yang tidak memiliki kasih, tidak setia dan hatinya jauh dari pada Allah akan digiring dalam peperangan. Konflik berkepanjangan akan berlangsung sangat berat hingga memporak-porandakan seluruh negeri. Mereka akan dikalahkan dalam peperangan dan diseret dalam pembuangan oleh karena telah berlaku mesum dengan meninggalkan Allah. Seperti ada tertulis.

    (Hosea 5:14) Sebab Aku ini seperti singa bagi Efraim, dan seperti singa muda bagi kaum Yehuda. Aku, Aku ini akan menerkam, lalu pergi, Aku akan membawa lari dan tidak ada yang melepaskan.

    Pola Kehidupan Masyarakat Berputar Disitu-Situ Saja Akibat Miinimnya Kebersamaan Dan Keadilan Sosial Tetapi Tinggi Arogansi

  5. Penyembahan baal diiringi dengan pelacuran bakti dan pemburit bakti.

    Suatu informasi kami peroleh dari Sarapanpagi Org yang menyatakan bahwa awal mula atau trigger dari ketertarikan kepada baal mungkin adalah ritual-ritual seks dengan pelacuran bakti dan pemburit bakti yang merupakan salah satu ritual yang dihalalkan bahkan diwajibkan dalam penyembahan kepada berhala, sehingga akhirnya seseorang tergoda untuk menjajal, mencicipi, mengecap dan ujung-ujungnya terseret total ke arah penyembahan baal secara sempurna.

  6. Hal-hal duniawi telah membuat manusia terpesona dengan kemolekan duniawi yang menggerayangi indra sampai mengabaikan Kekasih Hati Yang Sejati.

    Lekak-lekuk materi yang bertebaran di dalam dunia ini sangat menarik indra orang percaya. Mereka terpesona dengan berbagai kenikmatan dan kemuliaan duniawi tersebut sampai memikir-mikirkannya di dalam hati. Bahkan dirinya begitu senang bukan kepayang ketika membahas-bahas berbagai gemerlapan duniawi yang diperoleh selama ini. Hasrat yang tinggi akan hal-hal duniawi yang menggerayangi indralah yang membuat pikiran semakin jauh dari Tuhan. Saat manusia lebih terpana dengan kemolekan materi, tepat saat itu jugalah kita berzinah terhadap hal-hal duniawi sehingga otomatis melupakan TUHAN Allah semesta alam. Baca-baca teman, Pembelajaran hidup dari pribadi Trinitas.

    Ada pula orang yang memberhalakan dirinya sendiri dengan sikap yang sombong. Mereka menjadikan kelebihan yang dimiliki menjadi suatu kebanggaan sehingga hati menjadi senang. Memuja-muji diri sendiri di dalam hatinya sehingga jadilah dia berbahagia. Kebiasaan terlalu mencintai dan mengagung-agungkan diri sendiri inilah yang cenderung membuat hatinya semakin jauh dari Tuhan. Memberhalakan diri sendiri adalah salah satu bentuk perzinahan yang menyimpang sebab cintanya tinggi terhadap berbagai potensi (bakat) yang dimiliki.

  7. Hal-hal duniawi membuat manusia mengabaikan kebenaran yang hakiki dan menghalalkan segala cara untuk menggapainya.

    Ketika seorang manusia telah terangsang bahkan hampir mencapai klimaks karena menginginkan hal-hal duniawi. Besar kemungkinan hukum Taurat dan kitab para nabi akan dilupakan olehnya. Sebab pengaruh buruk materi dan kemuliaan duniawi tersebut telah membuat mata batinnya buta sehingga tidak mampu lagi membedakan mana yang patut dan tidak sopan, mana yang baik dan buruk juga mana yang benar dan yang jahat. Melainkan segala cara akan ditempuh oleh si kawan demi mewujudkan birahi yang tinggi untuk beroleh kemewahan, kenyamanan, kemudahan, pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas yang sebanyak-banyaknya. Persundalannyaa bukan lagi sekedar mengabaikan Suaminya tetapi mempermainkan dan memutar balikkan kebenaran sejati tersebut demi kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka juga berlaku picik dengan melegalkan segala usaha demi impiannya tersebut.

Yesus Kristus adalah mempelai laki-laki yang telah meminang setiap orang percaya dengan mas kawin, yakni darah-Nya sendiri dibayar tunai. Sebenarnya, kita ini milik iblis karena berbagai-bagai dosa yang telah diperbuat sejak dulu, sekarang hingga yang akan datang. Tetapi beruntunglah orang percaya karena telah ditebus sekaligus dibebaskan dari kematian kekal oleh darah Anak Domba Allah. Kita adalah mempelai perempuan yang menanti-nantikan kedatangan Sang Mempelai Laki-Laki untuk membawa setiap orang-orang pilihan ke kediaman-Nya di sorga yang kekal. Teman-teman sekalian, jangan berhenti berharap akan hal tersebut, nantikanlah hari Tuhan yang sudah dekat itu! Hindari berbuat khianat dengan berzinah menjadikan kenikmatan dan kemuliaan duniawi sebagai tujuan hidup anda melainkan jadikanlah kebenaran sejati sebagai fokus kehidupan masing-masing. Fokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian kepada-Nya. Juga, kasihilah sesama manusia seperti diri sendiri lewat pekerjaan dan pelajaran yang ditekuni dari waktu ke waktu. Saksikanlah, Transformasi cara Allah menyadarkan manusia.

Salam, Mempelai perempuan yang benar,
menanti-nantikan kekasih hatinya denga tegar,
sambi-sambil memperjuangkan hal-hal yang benar
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.