Kepribadian

Keserakahan Raja Daud, Perumpamaan Tentang Ketamakan Manusia – Kemewahan Hidup Memancing Keserakahan

Keserakahan Raja Daud - Perumpamaan Tentang Ketamakan Manusia – Kemewahan Hidup Memancing Keserakahan

Saat tertindas manusia mengingat Tuhan, saat makmur Allah terlupakan

Di dalam tekanan, kehidupan seorang manusia begitu dekat dengan kebenaran yang hakiki. Sangat fokus kepada Tuhan karena ada berbagai gejolak di sekitar yang siap melemahkan, menjebak dan menjatuhkan. Hatinya tertuju kepada Tuhan karena itulah kekuatan yang akan membungkusnya sehingga terlindung dari berbagai pengaruh buruk tersebut. Di dalam penderitaan, pikirannya selalu mengingat-ngingat Tuhan di setiap langkah kakinya. Sayang, begitu tekanan kehidupan hilang, fokus akan beralih kepada gemerlapan duniawi. Manusia mudah sekali melupakan Tuhan oleh karena pesona duniawi menggerayangi indranya. Oleh karena itu, berbahagialah orang yang suka menanggung salibnya/ menghadapi masalah/ menanggung derita sebab lewat dinamika tersebut hatinya terpaut erat kepada Tuhan.

Kecintaan pada materi membuat manusia berdosa karena melupakan Tuhan

Manusia ditawan oleh keinginannya sendiri. Hal-hal duniawi lebih menarik indranya sehingga hatinya fokus kepada materi. Kesenangan kejutan yang ditawarkan oleh materi telah membuat hatinya terlena dalam kemabukan yang fana. Otak justru semakin tumpul, kesadaran berkurang dan pengendalian diri anjlok oleh karena semua materi tersebut telah memanjakan manusia. Kejutan yang timbul lewat harta, kekuasaan dan gaya hidup telah mengaburkan mata hati kita hingga kebenaran yang sejati terlupakan. Kecintaan akan gemerlapan duniawi telah menggiring manusia secara berangsur-angsur ke dalam lembah kekelaman yang mendatangkan kerugian bagi orang lain dan diri sendiri bahkan lingkungan sekitar.

Kemewahan, kemudahan dan kenyamanan berujung pada keserakahan

Pesona materi begitu bergairah di indra manusia, semua yang memandang kepadanya pastilah akan terpana. Masalah akan dimulai karena hal-hal duniawi tersebut menempatkan manusia dalam zona aman kehidupan yang menawarkan kemewahan, kenyamanan dan kemudahan. Semua keadaan ini membuat seseorang terbebas dari tekanan sehingga perlahan-lahan menggiringnya dalam penurunan tingkat kewaspadaan yang diiringi oleh anjloknya kecerdasan dan kesadaran otak. Lebih parahnya lagi, fokus pikiran yang biasanya tertuju kepada Tuhan, kini telah lenyap ditelan oleh kesenangan materi. Lama kelamaan fokus pada gemerlapan duniawi membuatnya ketergantungan yang pada satu titik akan berubah menjadi membosankan. Inilah yang menjadi awal sehingga seseorang cenderung menginginkan kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang lebih lagi (terus meningkat – serakah).

Mengapa berada pada zona nyaman membuat manusia serakah? Sebab kemewahan, kemudahan dan kenyamanan membuat seseorang cenderung berleha-leha menikmati hidup. Secara tidak langsung semua keadaan ini akan menyebabkan berkurangnya aktivitas yang diiringi dengan turunnya kecerdasan dan kesadaran. Otomatis berkurangnya aktivitas positif yang dilakukan akan berimbas pada hilangnya kebahagiaan di dalam hati yang turut dipengaruhi oleh pencarian kesenangan lewat berbagai gemerlapan duniawi. Padahal fokus pada materi beresiko menyebabkan kejemuan sehingga mengarahkan seseorang untuk menginginkan lebih dan lebih lagi. Semua keadaan inilah yang membentuk seorang manusia semakin tamak hingga menjadi raja tega yang merugikan orang lain dan lingkungan hidup di sekitarnya. Saksikanlah, Efek samping hidup mewah-mewahan.

Ilustrasi tentang ketamakan (II Samuel 12)

TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya:

“Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.”du

Kebenaran dan kesetiaan Uria yang dibalas dengan khianat

Skandal perselingkuhan raja Daud telah membuktikan bagaimana seseorang menjadi raja tega akibat keserakahan  telah menguasai kehidupannya. Selingkuhannya itu adalah istri Uria, yaitu salah seorang dari pahlawan kerajaan (II Samuel 23:39) yang dari awal telah menemaninya semenjak di gua Adulam (I Samuel 22:1-5). Kebenaran dan kesetiaannya telah terbukti ketika raja menyuruhnya pulang ke rumah untuk menemui keluarganya tetapi dia malah membaringkan diri di depan pintu istana karena hatinya terpaut pada tabut Tuhan dan segenap tentara yang berkemah di padang (II Samuel 11:11). Ketika kami memaknai sikap Uria, sesungguhnya dia adalah prajurit yang hatinya sangat teguh terhadap kerajaan, sayang jasa-jasanya dibalaskan dengan pengkhianatan. Kami sendiri merasa iba terhadap nasib suami Batsyeba ini, dia tidak pantas mati karena tidak ada kesalahan di dalam dirinya.

Ketamakan membuat manusia menjadi raja tega

Daud sebagai seorang raja sekaligus nabi yang mengawali karirnya sebagai penggembala domba. Prestasinya yang luar biasa saat mengalahkan seorang tentara Filistin yang gagah perkasa telah menjadi awal karirnya di dunia militer. Hal inilah yang membuat dirinya menjadi menantu raja Saul yang dikemudian hari akan menjadi musuh dalam selimut. Dia hidup selama beberapa waktu di antara musang berbulu domba, sampai dua kali hampir ditombak mati oleh hipokrit Saul tetapi berhasil meloloskan diri. Selama di bawah tekanan raja Saul, dia sangat rendah hati (I Samuel 18:23) bahkan sekalipun hampir-hampir membunuh Saul lewat perantaraan pengikutnya, ia tetap menolak melakukan dosa dengan membunuh orang yang diurapi Tuhan (I Samuel 26:11).

Setelah hidupnya dilepaskan dari tangan Saul, diangkat menjadi raja di antara orang Yehuda dan Israel malah menjadi tinggi hati. Kesombongannya itu kentara sekali ketika ia benci kepada orang-orang timpang dan buta sehingga mereka tidak diperbolehkan untuk masuk ke rumah ibadat (II Samuel 5:6-10). Dari sinilah mulai nampak bibit-bibit keangkuhan itu telah mengakar kuat. Bukankah perintah tersebut dipatuhi oleh orang Yahudi hingga zaman perjanjian baru saat Yohanes menyembuhkan orang lumpuh yang meminta-minta di pintu karena tidak diizinkan masuk ke dalam bait Allah (Kisah Para Rasul 3:1-10)?

Kenyamanan hidup telah mengubah seorang raja Daud dengan spiritualitas yang tinggi menjadi orang yang serakah terhadap perempuan. Bukankah istri dan gundiknya ada banyak tetapi mengapa masih menginginkan istri orang lain? Ia bahkan sampai sampai tega membunuh sahabatnya sendiri yang telah menemani dan membelanya semenjak dalam pelarian di awal-awal saat nyawanya terancam karena diburu oleh Saul. Ini bukan lagi hawa nafsu sebab jika hendak melampiaskan hasrat bukankan dia bisa melakukannya kepada banyak perempuan (dari istri, gundik dan pelayannya yang berjibun) bahkan jika ia hendak mengambil istri yang baru sekalipun dari antara gadis-gadis Israel pastilah diperkenankan. Pada tahapan ini Daud telah terjebak dalam keserakahan yang menggiring kehidupannya untuk menjadi raja tega yang sengaja membunuh Uria lewat tangan musuh-musuhnya.

Upah dosa adalah maut

Kekejaman raja Daud sungguh telah menista Tuhan yang selama ini menjadi Gunung Batu dan Kubu Pertahanan bagi dirinya. Sikapnya yang semena-mena menggunakan kekuasaan untuk melakukan dosa adalah suatu tindakan kekanak-kanakan. Padahal pengalaman pribadi khususnya pengalaman spiritualnya  dengan Tuhan luar biasa tetapi semua itu terlupakan hanya demi selangkangan. Di satu sisi kita juga harus memahami betul bahwa tidak ada manusia yang sempurna sebab semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Beruntunglah raja Daud karena Tuhan tidak menghempaskan dan membuangnya akibat perkara tersebut. Sebab sebelumnya, Tuhan telah berjanji bahwa tahta kerajaan Daud akan ada untuk selama-lamanya. Tetapi dosa tetaplah dosa dan upah dosa adalah maut. Berikut ini beberapa ganjaran yang diterima oleh raja karena sifat serakah yang telah menghina TUHAN Allah Semesta Alam.

  1. Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya (II Samuel 12:10). Apakah ini yang menyebabkan negara Israel terus-menerus tenggelam dalam peperangan hingga sekarang?
  2. Anak pertamanya dari Batsyeba telah mati (II Samuel 12:14).
  3. Pemberontakan oleh Absalom (II Samuel 15-18).
  4. Gundik-gundik Daud ditiduri oleh Absalom di depan seluruh rakyat di atas sotoh (II Samuel 16:20-23). Seperti dirinya telah meniduri istri orang lain secara sembunyi-sembunyi, demikianlah gundiknya ditiduri di depan umum secara terang benderang.
  5. Daud tidak dizinkan untuk membangun bait Allah karena tangannya berlumuran darah (I Tawarikh (28:3).
  6. Dan masih banyak kejadian buruk lainnya yang menimpa Daud selama sisa hidupnya. Silahkan baca Alkitabmu kawan!

Proses Berakhirnya Zaman Raja-Raja

Makna di balik keserakahan raja Daud

Uria adalah salah seorang pahlawan dari bangsa asing yang berjuang bersama Daud sejak dari pelarian sampai merebut kota Yerusalem. Merekapun tinggal bersama dalam kota berkubu milik orang Yebus tersebut sebagai rekan seperjuangan. Saat Raja Daud terpana oleh kemolekan Batsyeba, posisinya berada di atas sotoh lagi santai-santai menikmati kejayaan kerajaan. Istana kerajaan pastilah lebih besar dan tinggi di banding gedung lain di sekitarnya sehingga saat berada di atas atapnya, mata mampu melayangkan pandangan ke segala arah secara bebas termasuk di wilayah terlarang pemukiman penduduk. Dari peristiwa ini bisa kita pahami bahwa minimnya aktivitas membuat kecerdasan otak menurun dan kesadaran berkurang sehingga beresiko  kehilangan kontrol atas hawa nafsu sendiri

Apakah ini, artinya kita tidak boleh santai menikmati hidup agar tidak terjebak dalam ketamakan? Harap di pahami bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah dengan sikap santai dan menikmati hidup. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa “kemewahan adalah ilmu pengetahuan paling merusak sejagad raya yang membuat manusia kehilangan jati dirinya.” Hal ini terbukti dalam kehidupan raja Daud, tepat saat dirinya dimanjakan oleh kemewahan, kemudahan, kenyaman, pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas, saat itu jugalah dosa ketamakan memaksanya untuk mengkhianati prajuritnya/ orang kepercayaannya/ sahabatnya/ pahlawannya sendiri. Mereka yang terlalu hidup mewah, mudah dan nyaman cenderung tidak mampu mengendalikan diri karena aktivitas positif telah hilang dari dalam dirinya. Lirik juga, Bahagia itu tidak mahal.

Berada terus-menerus dalam zona nyaman kehidupan membuat kecerdasan dan kesadaran manusia terjun bebas. Oleh karena itu, tetap sibukkan diri dengan aktivitas positif (mengasihi Allah seutuhnya (fokus doa, firman, bernyanyi) dan mengasihi sesama seperti diri sendiri lewat pekerjaan dan pelajaran yang digeluti dari waktu ke waktu. Adalah baik bagi seorang manusia untuk selalu menyangkal diri (terlebih ketika keunggulannya banyak) karena hasrat yang serakah bisa dilipat gandakan oleh keangkuhan manusia. Hindari terus tenggelam dalam zona nyaman kehidupan yang ditawarkan oleh berbagai kekuatan uang, pengetahuan dan kekuasaan (jabatan). Anda harus memberanikan diri untuk keluar dari kungkungan gemerlapan duniawi lalu mengambil inisiatif untuk merelakan diri diuji oleh orang lain lewat kebaikan yang kita bagikan. Camkanlah bahwa masalah mewarnai hidup, ambil itu, terima apa adanya, nikmati dan bersyukurlah sebab segala sesuatu adalah anugerah yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan tiap-tiap orang.

Kesimpulan

Berhati-hatilah bagi anda yang suka tinggal di pemukiman mewah nan elegan. Kenyamanan, kemewahan dan kemudahan hidup bisa jadi membuat diri ini terlelap kehilangan kemampuan mengendalikan diri sehingga menginginkan berbagai-bagai hal yang absurd. Pikiran yang tertidur karena telah dianugerahkan keamanan di segala penjuru sedang harta kekayaan semakin bertambah-tambah banyak jelas dapat mengganggu kesehatan fisik, sosial dan mental manusia. Over dosis menikmati materi bisa membuat seseorang menderita penyakit metabolisme sehingga makanan yang dikonsumsinya menjadi alat untuk bunuh diri. Terlalu dimanja oleh kenikmatan dan kemuliaan duniawi justru membuat hawa nafsu lepas kendali sehingga menjadi serakah terhadap segala sesuatu. Mereka yang mabuk oleh gemerlapan duniawi beresiko tinggi melakukan aksi kejahatan yang melemahkan, memanipulasi dan merugikan sesama juga lingkungan sekitar. Lambat laun semua keadaan ini akan mengundang murka Allah yang berwujud bencana alam dan bencana kemanusiaan (konflik – perang). Baca-baca juga, Mengapa manusia tamak?

Salam, Raja Daud saja orang yang pengalaman spiritualnya luar biasa terjerumus dalam ketamakan karena dimanjakan oleh kemewahan, kemudahan, kenyamanan, pujian, penghormatan dan popularitas duniawi, apalagi kita? Waspadai kenikmatan dan kemuliaan duniawi!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.