Kecerdasan Manusia

10 Alasan Semakin Cerdas Makin Sedikit Teman, Kecerdasan Hakiki Adalah Totalitas

Alasan Semakin Cerdas Seseorang Semakin Sedikit Teman, Kecerdasan Hakiki Adalah Totalitas

Intelektualisasi yang tanggung mengarah kepada arogansi, manipulasi dan ketamakan

Kecerdasan bukanlah suatu nilai yang hanya di dapat dari satu sisi kehidupan saja. Justru kepintaran semacam itu hanya akan menggiring manusia menjadi pribadi yang tidak seimbang sehingga esensi cerdasnya akan mengarah kepada berbagai-bagai aksi manipulatif yang syarat dengan kepicikan. Orang yang licik biasanya memanfaatkan ilmunya demi kepentingan pribadi, ada yang melakukan tipu muslihat demi mencapai impian dan beberapa di antaranya menemukan cara-cara tersendiri untuk mengontrol kehidupan orang lain. Sedangkan menurut pemahaman yang benar, kecerdasan manusia menyangkut berbagai lini kehidupan yang digunakan untuk kepentingan bersama sehingga terus berkembang.

Nilai intelektual yang hakiki sangat tergantung dari kemampuan seseorang untuk memahami kehidupan secara keseluruhan. Tidak memandang dirinya sebagai pribadi tunggal yang tidak membutuhkan peran sesama. Orang cerdas yang tidak mampu memahami keberadaan sesamanya cenderung menjadi manipulator yang memanfaatkan sistem untuk mengunggulkan dirinya sendiri (arogansi). Demikian juga saat kepintaran yang dimiliki hanya sebatas pada hal-hal duniawi, hanya mengarahkan kita untuk saling bersaing dan mendayagunakan sumber daya yang tersedia secara berlebihan (serakah). Untuk menyempurnakan tingkat kecerdasan diperlukan juga yang namanya pengenalan akan kekuatan ilahi yang menjadi konsumsi utama kepintaran itu sendiri.

Ciri-cirinya: keangkuhan melebihi ubun-ubun

Semakin melejit kemampuan intelektual seseorang, semakin tenggelam dalam rasa sombong. Tinggi hati inilah yang cenderung membuat seseorang cenderung menggunggulkan dirinya sendiri di dalam hati. Atau lebih tepatnya disebut juga sebagai kebiasaan memuja diri sendiri (memberhalakan diri). Ciri khasnya adalah membanggakan diri, tampil perfeksionis, tidak mentoleransi kesalahan kecil, memilih-milih teman bahkan cenderung anti (ilfil – mudah kesal) terhadap orang yang tidak sepemahaman/ sependapat/ sejalan dengannya. Keadaan ini terutama disebabkan oleh karena kepintaran yang dimilikinya belum teruji alias hanya di bidang akademik saja. Sedang saat berhubungan dengan orang lain, selalu membawa diri sebagai orang yang paling penting.

Ciri khas mereka: keinginan akan hal-hal duniawi sangat tinggi

Semakin tinggi tingkat kecerdasan, semakin haus hati akan kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman. Makanya ada beberapa orang intelek yang mencari-cari suasana hati yang baik itu lewat kenyamanan, kemudahan, kemewahan, kenikmatan, pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas duniawi. Mereka akan mengejar hal-hal tersebut seperti seorang mengejar deadline yang hampir jatuh tempo. Usaha yang keras akan dilepaskan bahkan tidak merasa keberatan saat hal-hal yang menyimpang itu diwujudkan. Sekalipun semua itu dapat dicapainya, tetap saja rasa puas, damai, bahagia dan tenteram itu rasanya tidak akan pernah penuh. Di sinilah manusia perlu memperdalam tentang hubungan spiritual yang lebih intens dengan Sang Pencipta Segala Masa lewat aktivitas fokus kepada Tuhan.

Faktor penyebab semakin cerdas manusia semakin sedikit kawannya

Tidak selamanya orang cerdas rasa sosialnya tipis, tidak selamanya seorang ilmuan sikapnya edan. Mungkin ada beberapa yang aneh, itu karena prinsip hidupnya lebih sederhana atau malah lebih rumit. Demikianlah warna-warni kehidupan akan menemani setiap langkah kaki kehidupan umat manusia sehingga situasi masyarakat terasa indah. Akan tetapi, lain halnya ketika sistem yang ada mengalirkan terlalu banyak sumber daya kepada orang cerdas tersebut sehingga mereka bisa bermanja ria tanpa harus pusing dengan situasi orang lain. Gajinya yang tinggi untuk membeli berbagai kemewahan, kemudahan teknologi, kenyamanan hidup justru akan membuatnya semakin anti sosial. Lama kelamaan, mereka akan menjadi manipulator yang memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk merugikan orang lain dan lingkungan sekitar.

Berikut akan kami jelaskan alasan mengapa semakin intelek seorang manusia semakin sedikit kawannya.

  1. Mereka atheis.

    Orang ateis meyakini akan berlangsungnya seleksi alam di antara umat manusia dimana orang yang mampu bertahan akan semakin maju dan berkembang sedangkan mereka yang daya tahannya tidak memadai akan mati terbunuh oleh bencana alam dan peperangan. Para penganut ateis ini menyebutnya sebagai teori evolusi. Inti dari teori ini adalah persaingan melawan sesama manusia dan tekanan lingkungan sehingga seseorang mampu hidup dari generasi ke generasi. Jadi sudah otomatis ilmuan ateis yang cerdas, kawannya pasti sedikit sebab yang ada dalam otaknya hanyalah persaingan: bagaimana agar dirinya menang sedangkan orang lain kalah menuju tahapan evolusi yang lebih lanjut.

  2. Mereka tidak suka berbagi.

    Orang cerdas yang tidak memiliki iman kepada Tuhan, saat berbuat baik kepada sesamanya pasti akan menuntut balasannya atau setidak-tidaknya perhatian dan pengakuan. Saat kasih yang dilepaskannya di hadapan orang lain dibalas dengan pengabaian apalagi dengan ejekan: hatinya kesal sehingga kasih itu menjadi dingin. Orang pintar yang dipenuhi kepahitan, dendam dan arogansi ini cenderung enggan menjalin hubungan dengan orang lain. Saat ada satu teman yang melakukan kesalahan kecil terhadapnya, pasti langsung dijauhi, dicuekin, dicaci maki dan berbagai perilaku kasar lainnya. Sehingga secara otomatis teman-temannya semakin sedikit sebab mana ada manusia yang sempurna di dunia ini?

  3. Mereka sombong.

    Kelemahan orang cerdas berikutnya adalah suka memuja diri sendiri di dalam hati. Ini seperti orang yang memuji-muji diri sendiri sehingga hatinya senang dengan berbagai-bagai keunggulan yang diperoleh, baik lewat materi (kekayaan) maupun lewat penghargaan (kemuliaan). Lama-kelamaan kebiasaan memuji diri sendiri inilah yang membuat mereka sombong sehingga berpikir “masa bodoh” untuk berbaur dan bergaul dengan orang-orang rendahan. Sudah pasti keputusan tersebutlah yang membuat teman-temannya sedikit saja.

  4. Mereka belum teruji.

    Mereka tidak benar-benar cerdas (tanggung – belum matang). Kecerdasan yang belum teruji seperti pedang yang belum diasah. Memang kelihatannya elok tetapi saat digunakan susah. Sedang satu-satunya ujian yang bermanfaat bagi kehidupan adalah saat hal tersebut terjadi lewat kebaikan yang kita layangkan kepada sesama. Orang yang pintarnya teruji cenderung mampu untuk tetap ramah / santun/ lembut sekalipun kebaikannya tak berbalas. Memang semuanya ini butuh proses dimana kita ditempa melalui rasa sakit yang panjang. Tetapi mereka yang terus fokus kepada Tuhan akan mampu menanggung semuanya itu dengan penuh rasa syukur. Sebab mereka mengerti bahwa semua dinamika tersebut akan melatih kedewasaan hingga membuat seseorang menjadi bijak menjalani hidup. Baca-baca teman, Kasih menurut orang kristen.

  5. Mereka sibuk.

    Orang yang cerdas biasanya memiliki banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan, keadaan inilah yang seakan-akan membuatnya terkesan kurang pergaulan. Padahal mungkin semuanya itu tidak seperti kelihatannya. Intinya adalah kesibukan jangan sampai membuat kebaikan kita menjadi kendur. Saat seseorang terlalu ketagihan bekerja, sumuanya akan terlupakan bahkan keluarga sekalipun akan terlantar hanya demi urusan ngantor. Pekerjaan yang dilakukan memang perlu dinikmati bahkan dicintai tetapi berilah juga waktu untuk bersantai (break) bersama keluarga dan teman-teman di sekitar.

  6. Mereka tertawan oleh iri hati.

    Semakin pintar seseorang maka semakin besar pula rasa dengki di dalam hatinya. Penting sekali bagi orang-orang cerdas untuk mengendalikan rasa cemburu di dalam hatinya. Orang yang mau mau merendahkan hati, mengucapkan selamat, mengakui keunggulan lawan dan tetap fokus kepada Tuhan akan dimampukan untuk mengatasi rasa iri hati.

    Demikian juga saat seseorang pintar pasti ada begitu banyak cobaan yang datang mengujinya. Orang yang dewasa akan menghadapi semua dengan lapang dada, memaafkan pihak yang terlibat bahkan berbuat baik kepada mereka. Tetapi si intelek yang masih belum dewasa cenderung sangat dendam dan suatu saat akan membalaskan hal tersebut dengan memamerkan kesuksesannya.

    Volume kecemburan ini semakin kental ketika sistem bermasyarakat memelihara ketidakadilan sosial. Sehingga saat orang-orang cerdas tersebut diuji, mereka akan melakukan tindakan berlebihan lewat aksi balasan. Lagipula saat harta benda semakin melimpah-limpah jumlah orang yang ramai-ramai menguji akan semakin tinggi sebab kecemburuan mereka terhadap hidupmu sangat besar.

    Harap diingat bahwa rasa dengki di dalam hati manusia sangatlah tinggi seiring dengan semakin tingginya perbedaan di antara pihak-pihak terkait. Semua rasa iri tersebut membuat orang pintar yang tidak tahan uji, mental tempe dan tidak dewasa cenderung memiliki sedikit sekali teman bahkan menjauhi (acuh tak acuh kepada) hampir semua orang di sekitarnya.

  7. Mereka diseret dalam persaingan.

    Politik persaingan adalah suatu ancaman bagi sistem bermasyarakat. Di dalam persaingan inilah ada banyak tersembunyi orang-orang munafik. Bahkan budaya persaingan yang tidak sehat dengan sengaja mengarahkan manusia untuk menjadi musang berbulu domba yang licin dari luar tetapi hatinya busuk dan tujuannya bobrok.

    Semua situasi tersebut akan berakumulasi pada semakin banyaknya orang yang bersandiwara dalam kehidupannya. Sehingga tidak ada yang benar-benar menjadi teman sejati, melainkan kawan lengah pasti diterkam! Jelaslah bahwa semua keadaan ini membuat masyarakat terpetak-petak dimana rasa kebersamaan sangat rendah sehingga mudah sekali terseret dalam konflik horizontal.

  8. Mereka dimanjakan sistem.

    Coba amati bagaimana cara sistem di tempat anda memperlakukan orang-orang pintar. Bukankah mereka disedikan ruangan khusus untuk ditempati demi kenyamanan? Sadarilah bahwa kebiasaan ini jugalah yang membuat si kawan yang pintar ini semakin terpetak-petakkan kehidupannya sehingga semakin jauh dari pergaulan yang sehat. Terbiasa sendiri di dalam ruangan bisa saja membuat seseorang menjadi individualis lalu muncullah sifat-sifat yang hanya mementingkan diri sendiri.

    Sistem juga memanjakan orang-orang cerdas dengan memberikan kepada mereka berbagai fasilitas mewah, megah dan nyaman serta gaji yang sangat besar ketimbang yang lainnya. Padahal rumah mewah yang besar itu semakin membuat kehidupannya menjauh dari rasa kebersamaan sekaligus memupuk rasa egois dan sangat rapuh ketika diperhadapkan dengan berbagai dinamika sosial.

    Uang mereka yang banyak akan digunakan untuk membeli mesin-mesin berteknologi tinggi menempatkan dirinya sebagai peminat yang candu. Dia membuat segala sesuatunya menjadi otomatis sehingga cenderung tidak membutuhkan orang lain di sekitar. Bahkan istri sekalipun tidak sebab selama ini barang-barang elektronik tersebutlah yang menjadi istrinya. Bukankah itu tinggal tekan, putar dan klik lalu semuanya selesai?

    Perlakuan spesial ini juga bisa saja membuat orang-orang intelek tersebut menjadi sombong sehingga semakin menjauhi diri dari kehidupan masyarakat umum. Pada akhirnya, orang-orang yang terlalu disanjung-sanjung oleh sistem hanya cerdas memanipulasi data-data belaka sehingga menggiring mereka untuk menjadi korup. Bahkan oknum yang cerdas itu akan mengarahkan organisasi agar hanya menguntungkan dirinya sendiri sedang orang lain dijatahin remeh-remeh saja.

    Pada akhirnya semua keadaan ini semakin membuat kehidupan orang-orang tersebut semakin jauh dari orang lain sehingga jumlah teman yang dimiliki pun sedikit saja (terbatas). Baca juga kawan, Keadilan sosial antar profesi.

  9. Mereka ketakutan.

    Orang cerdas yang melakukan aksi manipulatif di dalam masyarakat cenderung di persalahkan oleh Roh yang ada di dalam hatinya sendiri. Dosa-dosanya bersaksi melawan dia di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Otomatis dosa yang semakin tinggi inilah yang membuat dirinya semakin ketakutan untuk bertemu dengan orang lain.

    Biasanya, mereka yang otaknya encer akan ditempatkan di lahan-lahan strategis yang dikenal juga sebagai lahan basah. Jika tidak mampu mengendalikan diri, niscaya kejahatan kerah putih akan menyebar dan melemahkan organisasi secara perlahan-lahan (misalnya korupsi). Jadi harap diingat kawan: “Bukan orang bodoh yang merusak sistem bermasyarakat tetapi orang-orang pintarlah yang mempelopori pelemahan, kebobrokan dan kehancuran (perpecahan) suatu organisasi.”

    Jangan ditanya, mengapa seorang oknum politikus tertentu sangat welcome kepada masyarakat ketika pertama sekali terpilih. Akan tetapi, saat memasuki masa pertengahan hingga akhir mereka sudah jarang kelihatan lagi bertemu dengan masyarakat luas. Keadaan ini turut pula dipicu oleh dosanya yang semakin menumpuk melebihi batu kepalanya sehingga ketakutan bahkan gemetaran saat bertemu dengan masyarakat luas. Simaklah kawan, Apa yang tidak bisa dilakukan orang pintar?

  10. Itu hanya persepsi masyarakat saja.

    Sebenarnya anggapan tersebut tergantung sudut pandang yang digunakan oleh masing-masing orang. Orang yang berkata demikian pasti tidak mengenal dengan dekat sehingga muncullah berbagai-bagai argumen yang dangkal. Mungkin beberapa orang menilai secara kasat mata dan belum secara mendalam melakukan penelaahan. Bisa juga keadaan ini turut dipicu karena kita tidak dekat dengan kehidupannya atau tidak sering bertemu dengan orang pintar itu.

    Sebenarnya soal pertemanan itu hanyalah tentang sikap yang ramah tamah. Banyak atau sedikit teman itu relatif: mereka yang sombong secara otomatis dicap sebagai orang yang memiliki sedikit teman sedangkan orang yang ramah & santun dicap memiliki banyak kawan. Ngomong-ngomong, daripada sibuk menilai orang lain sebaiknya fokuslah terus untuk memuji-muji Tuhan di dalam hati agar tidak suudzon terus.

Kecerdasan sejati membuat seseorang dekat dengan Tuhannya dan dekat dengan sesama manusia. Tetapi kepintaran yang dangkal hanya sebatas pengenalan, pengoperasian dan pengelolaan yang baik terhadap huruf dan angka. Orang yang sejatinya pintar pastilah tidak hanya fokus untuk membangun kekuatan akademik (intelektual) melainkan turut pula memantapkan kedekatan kepada Sang Khalik (spiritual) dan melayani sesama lewat potensi yang dimilikinya (sosial-emosional). Ketahuilah bahwa menjadi orang cerdas itu tidak mudah, selain harus menahan dan mengendalikan kedagingan yang semakin kuat dari dalam hati sendiri. Juga harus mampu untuk mengantisipasi dan mengelola dinamika sosial yang berlangsung di sekitar. Sadari betul bahwa dunia ini tidak memberi kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman yang utuh. Melainkan semuanya itu hanya diperoleh lewat aktivitas mengasihi Tuhan sepenuhnya dan orang lain sama halnya diri sendiri. Bahas juga, Orang pintar biasa melakukan ini.

Salam, Kecerdasan justru menyesatkan bila tanggung,
Mampu totalitas akan beroleh tenteram yang selalu terang!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.