Kepribadian

7 Alasan Suka Diam Tidak Ada Kerjaan – Berdiam Diri Yang Ditiru Dari Baal Tidak Selamanya Baik


Alasan Suka Diam Tidak Ada Kerjaan – Berdiam Diri Yang Ditiru Dari Pohon Tidak Selamanya Baik

Hawa nafsu setara dengan pengetahuan (Semakin luas wawasan maka semakin tinggi hasrat)

Setiap makhluk hidup di bumi ini memiliki keinginan. Hawa nafsu tersebut berawal dari kebutuhan biologis, seperti tentang makanan, minuman, tempat tinggal dan pasangan hidup. Hewan hanya berkutat pada kebutuhan semacam itu sebab hanya itulah yang mampu mereka fahami dengan nalar yang dianugerahkan Tuhan. Akan tetapi, lain halnya dengan kita manusia, seiring dengan semakin banyaknya hal yang mampu kita mengerti, sejak saat itu jugalah keinginan di dalam hati ini kian hari kian mengganda. Jika itu bisa dicapai, timbullah niat untuk mengeksploitasinya secara besar-besaran namun jika tidak, akan timbul berbagai-bagai aksi pelarian yang bisa berujung pada perilaku amoral, kekerasan dan pengrusakan.

Segala nafsu yang kita miliki diawali dari pengetahuan akan berbagai hal yang ada di bumi ini. Wawasan itulah yang secara tidak langsung mengarahkan hati untuk berandai-andai membayangkan diri sendiri berada dalam posisi yang sama. Hasrat untuk mengimajinasikan ini-itu sepertinya timbul begitu saja terutama dikala sedang santai berdiam diri. Memang yang namanya pikiran manusia tidak pernah tenang, terus berputar dan mereka-rekakan banyak hal. Indra akan beroleh informasi dari segala arah yang ada di luar diri ini lalu otak mengubahnya menjadi sebuah pengertian tentang sesuatu. Inilah yang secara tidak langsung menggiring kita untuk menginginkan berbagai hal. Jadi manusia menginginkan sesuatu karena mampu memahami hal tersebut.

Sayang, terkadang ilmu itu belum totalitas

Dalam beberapa hal, kita terkadang salah kaprah. Bukan karena bodoh tetapi oleh sebab pengetahuan yang dimiliki belum lengkap. Berputar dalam pola-pola lama, entah itu timbul dari mana. Hanya memandang sesuatu dari luarnya saja, menggantungkan semua opini pada penelaahan indra. Padahal tidak semua hal seperti yang terlihat, terkadang ada udang di balik batu, entah itu baik ataupun buruk. Kita terlalu terburu-buru mengagung-agungkan sisi yang satu sedang di sisi lain sama sekali dilupakan. Keadaan ini secara otomatis menciptakan ketidakseimbangan yang pada awalnya tidak menimbulkan sesuatu yang mencolok. Tetapi secara perlahan-lahan keburukan itupun mulai menimpa diri sendiri dan lingkungan sekitar bahkan sesama manusia ikut terkena dampaknya.

Membawa diri dalam tradisi lama yang disusun berdasarkan penelaahan indra

Polosnya kita, justru mengikuti berbagai-bagai aktivitas yang dihasilkan oleh tradisi lama yang diwariskan secara otomatis. Mengapa otomatis sebab keadaan tersebut sering kita saksikan dengan mata kepala sendiri sedang manusia adalah imitator ulung sejak dari kecilnya. Artinya, tradisi tersebut kita simpulkan secara kasat mata sebab rata-rata hal yang ada tercetak (tersusun) seperti itu. Pada tahapan inilah penilaian yang dilakukan terkesan dangkal sehingga bisa dikatakan bahwa secara tidak langsung manusia telah ditipu oleh indranya. Secara berangsur-angsur hal tersebut melemahkan bahkan menghancurkan berbagai kebaikan yang terdapat di dalam diri ini.

Keinginan manusia yang diawali dari pencitraan indra

Akan kami tampilkan beberapa contoh pola peniruan segelintir hal yang umumnya ada di sekitar kita sehingga menjadi tradisi yang menguntungkan maupun merugikan. Saat manusia memperhatikan dengan seksama betapa kuatnya batu, mereka menjadikan batu sebagai senjata untuk melakukan banyak hal. Sewaktu kita memahami betapa kuat dan ringannya kayu, lantas menjadikan hal tersebut sebagai senjata untuk membantu menyelesaikan pekerjaan. Ketika manusia menyaksikan betapa tinggi, besar, kokoh dan megahnya pohon, langsung saja membuat rumah yang juga besar, megah dan mewah. Saat manusia menyaksikan betapa cepatnya kuda & kijang berlari, manusia menciptakan sepeda, sepeda motor, mobil, bus dan lain-lain. Sewaktu menyaksikan burung terbang tinggi di angkasa, para peneliti membuat pesawat terbang.

Pengertian

Berdiam diri adalah seseorang yang berada dalam posisi santai dan sedang tidak ada kerjaan. Bukan hanya manusia saja yang suka diam melainkan ada berbagai hal di sekitar kita yang secara kasat mata sedang dalam posisi diam. Namun sadarilah bahwa di balik kediaman tersebut sesungguhnya mereka senantiasa aktif hanya saja kita tidak dapat mengamati hal itu secara langsung. Bukti konkrit bahwa hal-hal diam yang  kita amati tersebut selalu aktif adalah pertumbuhan dan perkembangan yang mereka alami. Misalnya saja pepohonan hijau yang tampak tenang-tenang saja dari tahun ke tahun tetapi sesungguhnya selalu aktif memakan udara dan menggabungkannya dengan unsur hara di dalam tanah untuk menjadi umbi, buah, batang, dahan dan daun yang bermanfaat.

Faktor penyebab banyak manusia yang suka diam-diaman tidak ada kerjaan

Tanpa kita sadari, diri ini telah banyak mengabaikan Tuhan Yesus Kristus yang menjadi pedoman sejati tentang bagaimana melakukan kebenaran yang sejati. Sewaktu masih di bumi, Dia selalu aktif melakukan pelayanan dengan berkunjung ke berbagai-bagai tempat di Israel untuk mewartakan bahwa kerajaan sorga sudah dekat. Sayang, kita telah banyak melupakan kebenaran tersebut tetapi lebih terpana dengan berbagai kemolekan yang menggerayangi indra (baal peor, baal berit). Hal-hal duniawi ini secara tidak langsung menjadi berhala di dalam hati masing-masing sehingga posisi Tuhan telah tergeser jauh. Justru yang terjadi adalah, kita membanggakan hal-hal duniawi tersebut sebagai sumber inspirasi. Pada akhirnya, inilah yang akan menggiring kita pada kesesatan hidup. Saksikanlah kawan, Mengapa menyembah berhala disebut zinah?

Berikut ini beberapa alasan mengapa manusia cenderung suka berdiam diri tidak ada kerjaan.

  1. Meniru tanaman yang ada di sekitarnya.

    Kita melihat tumbuh-tumbuhan di padang terus-menerus berdiam diri seumur hidupnya, bukannya malah tersiksa melainkan kian hari tanaman tersebut semakin subur, besar, tinggi hingga menghasilkan berbagai-bagai buah. Lantas, hal tersebut kita pandang baik sehingga ikut-ikutan melakukan yang sama. Apakah ini pantas bagi seorang manusia untuk meniru tumbuhan? Tidak selamanya diam itu baik justru saat terdiam sekalipun, pikiran harus senantiasa fokus kepada Tuhan.

  2. Meniru perilaku hewan buas.

    Saat melayangkan mata ke arah padang belantara, kita sempatkan untuk melihat kehidupan hewan buas: raja hutan, singa, beruang, harimau, chita, jaguar dan lain sebagainya. Di saat hewan pemakan rumput lagi sibuk-sibuknya memamah biak, binatang buas ini cenderung lebih banyak tiduran berleha-leha. Beberapa orang memandang bahwa keadaan tersebut baik adanya lalu mempraktekkan hal yang sama ke dalam hidupnya masing-masing. Padahal terus-menerus tiduran atau duduk itu jelas sangat mengganggu kesehatan mental/ psikhis, fisik dan sosial.

  3. Meniru batu, gunung, tanah.

    Manusia adalah peniru ulung sejak dari masa mudanya, memang hal tersebut tidak dilakukan dengan sadar melainkan oleh karena lebih banyak mengamati pola-pola tertentu. Pola diam ini tidak hanya dicermati dari satu atau dua bentuk saja melainkan dalam berbagai bentuk baik organik (hidup: tumbuhan, hewan) maupun anorganik (batu, gunung dan tanah). Padahal, sesungguhnya tanah yang kita injak ini senantiasa melakukan rotasi dan revolusi membawa segenap komponen yang ada di dalamnya (bumi) untuk mengelilingi matahari. Jadi nyatalah bahwa tidak ada sesuatu di alam semesta yang benar-benar diam.

  4. Tradisi keluarga kerajaan & bangsawan jaman dahulu.

    Kami suka mempelajari kisah sejarah, mungkin anda juga demikian. Banyak film dan sinetron di luar sana yang mengangkat kisah sejarah masa lalu sebagai landasan ceritanya (background). Saat melihat kehidupan para raja dan bangsawan di masa lalu, kita tergiur juga untuk mempraktekkan beberapa kebiasaan mereka dimana kebanyakan aktivitasnya dihabiskan di atas kursi. Pertama-tama, kebiasaan ini memang membuat hidup benar-benar nyaman tetapi lama kelamaan berubah menjadi overdosis yang membuat tumit sakit (nyeri sendi), diabetes, asam urat, kolesterol tinggi, ginjal, obesitas, darah tinggi dan penyakit jantung juga lemah syahwat.

  5. Benda-benda yang kita sukai (berhala) diam-diaman semuanya dan ada pula orang yang melakukannya.

    Tuhan Yesus Kristus tidak pernah mengajari kita untuk diam tetapi manusia cenderung hobi sekali melakukan hal tersebut selama seharian penuh. Mungkin karena faktor ini jugalah Tuhan turun ke dunia untuk mengedukasi umat manusia bagaimana sebenarnya menjadi pribadi yang luar biasa. Ini tidak ditempuh dengan cara berdiam diri seperti kebiasaan raja, iman dan kalangan bangsawan di masa lampau tetapi dengan selalu aktif menyatakan kebenaran sejati yaitu mengasihi Allah seutuhnya dan orang lain sama dengan dirinya sendiri.

    Sayang manusia lebih fokus kepada benda-benda yang digemari dan orang-orang yang disukainya. Hal-hal tersebutlah yang menjadi berhala bagi tiap-tiap orang yang secara tidak langsung mengajari kita untuk berdiam diri. Bukankah baal itu juga patung yang kerjanya diam sepanjang waktu?

  6. Bawaannya malas.

    Kebiasaan malas jelas tidak baik untuk dipelihara. Sadarilah bahwa semakin banyak makanan yang kita konsumsi maka kian banyak pula aktivitas yang dilakukan. Akan tetapi saat aktivitas yang dilakukan tidak seberapa, untuk apa makan banyak-banyak? Mubazir tau!

    Orang yang malas hendaknya mampu mengarahkan hal tersebut pada hal-hal yang buruk saja, misalnya malas melakukan kejahatan, malas berbohong, malas mengejek, malas marah, malas menghina dan lain sebagainya. Namun, sebisa mungkin hindari diri untuk malas melakukan hal-hal yang baik. Jangan malas untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan, belajar dan bekerja sebab hal-hal tersebut membuat suasana hati lebih baik, yaitu dipenuhi kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan kelegaan.

  7. Sekedar bersantai saja.

    Santai tidak selalu berarti diam sebab saat fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja sekalipun, kita tetap dapat santai asalkan menikmati bahkan mencintai apa yang ditekuni itu. Sewaktu kita mampu meresapi berbagai kebermanfaatan di balik semua aktivitas yang dilakukan tepat saat itu jugalah ada rasa nikmat menggema di dalam hati. Orang yang mampu bertahan memperjuangkan segenap aktivitas positif tersebut walau ujian kehidupan merasuki pastilah sungguh-sungguh mencintai kegiatannya. Kita juga bisa bersantai bersama keluarga sambil bercengkrama (berkomunikasi) satu sama lain, sekedar berbagi pengalaman dan berbagi rasa.

    Bersantai sambil berdiam diri itu baik asalkan semua urusan sudah beres. Bahkan suasana santai itupun bisa kita nikmati saat beraktivitas asalkan dijalani dengan ikhlas.

Manusia adalah imitator ulung seumur hidupnya. Tetapi bukan dalam arti kita bisa meniru segala sesuatu yang ada di bumi ini sebab tidak semuanya itu baik untuk mendukung perjuangan diri terhadap kebenaran sejati. Justru saat mencontohkan hal-hal yang kelihatannya baik namun lambat-laun menggiring kita dalam keterpurukan fisik, mental dan sosial. Oleh karena itu, pahamilah segala sesuatu dengan baik, lakukan penelaahan yang mendalam selama beberapa waktu dan gunakan analisis yang kritis juga selektif. Pastikan bahwa segala ilmu pengetahuan yang kita ambil dari lingkungan sekitar tidak bertentangan dengan aktivitas fokus kepada Tuhan (doa, firman dan nyanyian pujian) dan kasih kepada sesama lewat pelajaran dan pekerjaan yang digeluti hari demi hari. Pelajari juga kawan, Bahaya pesona indra melemahkan manusia.

Salam, Tidak ada kerjaan itu biasa,
diam-diaman seharian penuh bisa celaka,
temukan hal positif yang buat hidup menyala!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s