Ekonomi

7 Penyebab & Pengertian Ujaran Kebencian – Tidak Ada Rasa Benci Kalau Tidak Ada Yang Diperebutkan


Alasan & Pengertian Ujaran Kebencian – Tidak Ada Rasa Benci Kalau Tidak Ada Yang Diperebutkan

Suatu ketika dalam situasi sosial yang sedang tidak kondusif, dua kelompok sedang berselisih satu sama lain. Mereka memperebutkan sesuatu yang disebut sebagai “pintu tahta,” Ini adalah salah satu pintu paling ajaib di seantero negeri. Akses luas menuju harta, kekuasaan, kehormatan dan derajat yang tinggi. Keuntungan “pintu tahta” yang besar membuat banyak orang merelakan berbagai-bagai sumber daya yang dimilikinya demi mencapai kemenangan. Konflik besar sampai kecil terus berlangsung untuk memperebutkan semuanya itu. Bahkan sekalipun salah satu dari mereka telah memenangkan posisi idaman, tetap saja ombak besar terus menghantam “tahta” tersebut. Sebab “besar kapal, besar gelombang.”

Dari perumpamaan di atas, kita bisa mencermati dengan cepat bahwa ujaran kebencian semakin tinggi seiring dengan posisi manusia yang diperhadapkan dalam perebutan sumber-sumber kekuatan stategis yang dimiliki suatu sistem. Sadar atau tidak, menjual power/ kekuatan yang besar di antara manusia sama seperti menjual makanan di masa kelaparan. Orang-orang akan memperjuangkan dan memperebutkannya secara besar-besaran sebab keuntungan yang mereka akan mereka peroleh kelak tergolong besar. Kita ambil saja contoh usaha seseorang saat bersaing meraih hadiah satu juta dan satu miliar, kira-kira dimana yang lebih bombastis? Tentu saja tenaga, pikiran dan materi yang dikorbankan untuk merebut uang satu miliar itu lebih besar. Sadarilah bahwa kekuasaan pada suatu negara lebih tinggi nilainya dari satu miliar.

Manusia Yang Fokus Kepada Gemerlapan Duniawi Akan Dikuasai Oleh Alam Bawah Sadarnya Yang Penuh Kedagingan

Pada dasarnya, kebencian selalu ada di dalam hati manusia. Suatu kekuatan negatif yang telah tertidur di dalam alam bawah masing-masing orang. Kekuatan kotor ini disebut dengan “perbuatan daging.” Istilah ini pertama sekali diperkenalkan oleh rasul Paulus dalam suratnya yang dikirimkan kepada jemaat di Galatia. Ini adalah sifat default (alamiah) tiap-tiap orang memilikinya. Tepatnya di dalam alam bawah sadar pada pikiran masing-masing. Terutama akan mencuat/ timbul ke permukaan saat seseorang kehilangan aktivitas positif (fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja). Keburukan ini juga akan muncul ke permukaan saat keinginan melambung melebihi ubun-ubun. Hasrat yang kuat akan membuat perbuatan daging seseorang meningkat ke level sadar semata-mata demi mewujudkan cita-citanya. Untuk menggapai hawa nafsu berlebihan yang tak tertahankan inilah manusia jahat cenderung menghalalkan segala cara.

Fokus Berpikir Manusia Agar Hidup Lebih Berkualitas

 

Pengertian

Ujaran kebencian adalah perkataan yang dilisankan maupun yang dituliskan dengan maksud untuk memfitnah, memalsukan dan menghasut (memprovokasi) seseorang atau sekelompok orang untuk membenci yang lainnya. Bahkan provokator menghendaki agar korbannya sebagai barisan sakit hati yang dapat mencari keadilan secara sepihak mengedepankan kekerasan. Banyak yang menduga bahwa ujaran semacam ini dilayangkan untuk menekan pihak-pihak tertentu demi memperebutkan atau mempertahankan suatu tampuk kepemimpinan (perebutan power/ tahta). Sebab pada hakekatnya, semakin tinggi iri hati dalam hidup manusia maka semakin tinggi pula rasa benci di dalam hati.

Pada dasarnya, terdapat dua jenis ujaran kebencian, yaitu yang dilisankan dan yang dituliskan. Yang diungkapkan dengan kata-kata sifatnya langsung dan lebih fokus kepada orang tertentu (lisan). Akan tetapi rasa benci yang disebarkan melalui tulisan sifatnya umum dan dapat dipantau siapa saja. Oleh sebab itu, kekuatan penyebaran rasa kesal terhadap oknum tertentu yang dilakukan lewat media tulisan bisa terjadi secara berulang-ulang. Kata-kata yang jorok itu akan menetap secara konstan di dalam internet lewat berbagai akun sosial media bahkan bisa juga kopi-paste (menggandakan) konten terjadi antar blog (website).

Biasanya, dalam bermasyarakat, rasa tidak senang terhadap kalangan tertentu sering sekali dianulir oleh beberapa kalangan agar menguntungkan bagi dirinya sendiri. Terlebih ketika kita menyadari bahwa butuh biaya besar untuk membuat suatu website lalu mempopulerkannya (dengan iklan) lewat media sosial agar ramai pengunjung. Jadi bisa dikatakan bahwa berbagai tulisan yang memuat ujaran tertentu di internet tidak kebetulan ada melainkan telah disusun sedemikian rupa, menarik, rapi dan terstruktur (sistematis). Sehingga ada potensi untuk memalsukan data, memfitnah oknum dan mengakomodasi berbagai paham kekerasan di antara para pengikutnya. Ini juga dikenal sebagai aksi main hakim sendiri, termasuk di dalamnya adalah terorisme.

Faktor Penyebab timbulnya ujaran kebencian di sekitar kita

Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa kebencian di dalam hati manusia sangat tergantung oleh rasa cemburu juga dendam. Dua kedagingan ini adalah suatu katalisator yang semakin meningkatkan rasa benci di dalam hati. Sudah seharunya kita mulai bersikap cerdas lalu meminimalisir kemungkinan timbulnya faktor-faktor yang mempengaruhi suatu ujaran kebencian. Ketika kita mampu menekan bahkan menyingkirkan faktor-faktor yang menyebabkannya niscaya keberadaan tabiat jongkok ini akan tersisih dari dalam masyarakat. Sekalipun masih ada tinggal sisa-sisanya, itu hanyalah kibasan ekor yang tidak akan merusak sistem bermasyarakat.

Berikut ini akan kami ajukan beberapa alasan mengapa ujaran kebencian semakin mengakar di dalam suatu masyarakat.

  1. Dipicu iri hati.

    Ayo mari jujur satu sama lain, mengapa beberapa oknum begitu membenci oknum lainnya? Sudah pasti salah satu pemicu awal rasa kesal ini adalah kedengkian. Saat kalangan tertentu beroleh susu manis APBN sedangkan yang lainnya nihil, menurut anda apa yang akan terjadi? Ya rasa cemburu di antara masyarakat semakin melejit ke puncak pegunungan.

    Padahal Pancasila, khususnya sila ke lima telah menjamin keadilan sosial alias pemerataan kehidupan sosial di antara seluruh masyarakat. Apa yang bisa kita lakukan? Tidak banyak yang bisa kita perbuat sebab para pemegang kekuasaan tidak peduli dengan keadilan sosial. (pilih pemimpin yang memperjuangkan keadilan sosial dan mau menandatangani sertifikat akan mengajukan uji materi undang-undang tentang penerapan sila ke lima tentang keadilan sosial) Resikonya apa? Ya resikonya itu tadi, rasa cemburu di dalam hati manusia semakin tinggi. Lagipula seperti kata pepatah, “besar kapal, besar gelombang.” Artinya, sah-sah saja menguasai lebih banyak harta benda dan kekuasaan hanya saja siap-siap dengan pencobaan yang menyertainya juga “nggak bisa dianggap enteng!”

    Tidak ada rakyat jelata menyerang kapitalis tetapi jaman sekarang oknum kapitalis tertentu akan berhadapan dengan oknum kapitalis lain (predator VS predator bukan alien VS predator 😀 😀 😀 ) untuk memperebutkan kekuasaan dan sumber daya yang tersedia. Jadi, teori kami bukan rakyat biasa yang mendanai penyebaran ujaran kebencian di dalam masyarakat. Melainkan oknum kapitalis yang hendak menguasai sumber daya tertentu atau hendak menduduki jabatan khusus. Semata-mata demi menekan kelompok lainnya agar pihaknya diuntungkan dan dimenangkan lewat proses pencalonan/ usulan/ pemilu yang akan berlangsung.

  2. Diawali dendam.

    Rasa dendam yang telah dipendam dan ditumpuk-tumpuk cukup lama pastilah akan membesar hingga bocor keluar lewat ujaran kebencian. Mereka akan menuntut balasan terhadap sesuatu yang mungkin telah lama berlalu bahkan mungkin saja sebagian besar orang telah melupakan peristiwa tersebut. Saking tidak masuk akalnya rasa dendam itu adalah yang bermusuhan berada di daerah yang jauh tetapi karena kesamaan identitas, kita ikut-ikutan membela mereka hanya bermodalkan informasi tidak jelas. Membenci oknum tertentu yang identitasnya berseberangan dengan diri ini, padahal mereka tidak tahu apa-apa. Terutama informasi konyol tersebut, semakin meresap di dalam hati masyarakat yang masih belum mampu bersikap kritis dan selektif yang diterimanya.

    Adalah baik bagi kita untuk tidak ikut serta dalam politik luar negeri yang penuh manipulasi. Bisa saja negeri A dan B buat perjanjian seolah-olah terjadi penembakan dan pemboman tetapi tidak ada orang di wilayah tersebut. Atau bisa juga informasi tersebut adalah berita tentang masa lalu yang telah lama lewat. Kita sama sekali buta tentang kejadian di luar negeri, sedang di dalam negeri saja masalah masih banyak, boro-boro mau mengurus konflik di luar negeri. Saksikanlah kawan, Cara oknum kapitalis mengadu domba Islam dan Kristen.

    Orang yang hatinya dipenuhi dengan dendam tidak dapat memberikan komentar yang akurat dengan pertimbangan yang logis. Sekalipun beropini, hati mereka cenderung berat sebelah dan terlalu menekan oknum yang sepihak dengannya sedang yang lain akan di sindir habis-habisan. Oleh karena itu, bersihkan hati dari kebencian maka sudut pandang (persepsi) akan dibersihkan dari sikap yang tidak adil.

  3. Kesengajaan kapitalis.

    Ini suatu kisah di negeri x yang bisa saja dekat dan bisa juga jauh (tergantung penilaian anda). Mengapa oknum kapitalis melepaskan ujaran kebencian di tengah masyarakat? Sebab mereka hendak mencari-cari masalah. Mengapa soal-soal murahan dicari-cari? Sebab sesungguhnya di kantor mereka tidak ada kerjaan sama sekali sedangkan biaya operasional tidak akan cair kalau tidak ada suatu kejadian khusus (persoalan pelik). Jadi, untuk mencairkan biaya operasional dan membuat diri mereka seolah-olah berguna sebagai PAHLAWAN yang disibukkan dengan masalah-masalah yang pantas di bayar mahal.

    Ini dipicu oleh kelesuan ekonomi sedang masyarakat menuntut para petinggi negeri tidak duduk-duduk saja di kantornya sebab gaji yang diterima luar biasa besarnya (fasilitasnya juga amazing). Jadi untuk membuat masalah, mengapa tidak dipancing dengan ujaran kebencian? Gejolak yang timbul di dalam masyarakat kemudian akan diatasi seolah-olah mereka adalah oknum multitalen dengan anugerah dewa.

  4. Perebutan lahan usaha (sumber daya).

    Persaingan untuk merebut lahan usaha menjadi semakin tajam ketika keuntungan yang dikandungnya juga besar. Salah satu cara pengusaha untuk mencemari nama baik usaha orang lain adalah dengan menyebarkan ujaran kebencian tentang isu-isu sensitif di dalam masyarakat. Tentu saja ini tidak membutuhkan biaya sedikit, tetapi tidak masalah sebab kekayaan para konglomerat tersebut berjibun, berapapun bisa didanai asalkan saingannya jatuh pamor sampai pelanggannya sepi dan akhirnya bangkrut.

  5. Perebutan uang dan harta benda.

    Kecemburuan manusia terhadap harta benda yang kita miliki cenderung menciptakan pusaran rasa kesal di dalam hati masing-masing orang. Terlebih ketika berada dalam suatu persaingan untuk memperebutkan nilai materi yang lebih tinggi. Ujaran kebencian akan digunakan untuk menciptakan sentiman yang kuat terhadap kalangan tertentu. Informasi yang tidak sehat bisa saja disampaikan dari mulut ke mulut sehingga semakin menyudutkan oknum tertentu. Ini bisa dilakukan secara perorangan dan dapat pula koorporasi sengaja menganulir informasi palsu demi kepentingan kelompoknya.

  6. Perebutan kekuasaan.

    Sepertinya, hal ini cukup jelas. Misalnya saja dalam pilkada, pileg, pilpres yang telah, sedang dan akan berlangsung. Kekuasaan bernilai miliaran rupiah siap dikorbankan nilai yang hampir setara (setidaknya 25%) demi memenangkan tampuk kepemimpinan tertinggi di dalam masyarakat. Seperti kami katakan sebelumnya, “besar kapal, besar gelombang.” Perilaku menghalalkan segala cara untuk beroleh derajat para dewa pastilah akan dilepaskan oleh beberapa oknum, salah satunya dengan melepaskan ujaran kebencian terhadap oknum tertentu.

    Sedang kesombongan berkembang pesat di antara para penguasa, intensitas kecemburuan itu berubah menjadi ujian sosial yang semakin pelik dan membuat kepala pusing. Ya pantas sajalah, “mereka mengejar derajat dewa maka seharusnya cobaannya juga dewa!”

  7. Bagian dari ujian kehidupan.

    Ujaran kebencian di media sosial dan internet adalah salah satu ujian bagi masyarakat. Terserah, apapun namanya, ada yang mengatakan bahwa informasi semacam ini disebut sebagai informasi hoax. Sedang yang lain berusaha menghapus berbagai konten negatif tersebut, kita bisa menilai diri sendiri sejauh mana pengendalian emosi dalam diri masing-masing. Saat terpapar dengan konten yang penuh fitnah dan penuh kepalsuan, apa yang anda lakukan? Turut menghakimi, memaki, membela diri atau kira-kira apa? Orang yang cerdas jelas tidak akan terpengaruh dengan mudah tetapi menanggapinya dengan santai. Menganggap bahwa hal tersebut adalah bagian dari kerikil kehidupan yang bermanfaat agar semakin terampil mengontrol emosi. Informasi semacam ini juga bermanfaat untuk mencerdaskan hingga mendewasan anda.

Ujaran kebencian laris-manis di antara orang-orang yang tidak berpendidikan. Mereka mudah menghakimi dan mendakwa oknum atau kelompok tertentu tanpa pertimbangan. Tetapi semakin bijak seseorang, makin mahir pula bersikap kritis dan selektif terhadap umpan yang dilemparkan ke hadapannya. Ada orang yang sengaja memancing pusaran rasa kesal di dalam hati tetapi yang berpengalaman pandai mengendalikan diri. Di sisi lain kehidupan ujaran kebencian digunakan oleh beberapa oknum demi keuntungan pribadi dan kelompoknya. Biasanya semakin besar hadiah yang diperoleh dari suatu pertandingan, semakin besar pula tingkat persaingan. Artinya, sudah tabiat manusia ingin menduduki posisi dewa di dalam masyarakat? Sayang dia tidak menyadari “besar kapal, besar gelombang.” Jadi, siap-siap aja menghadapi tantangan yang besar, bukankah anda dibayar mahal untuk itu?

Salam, Kecemburuaan adalah kesetaraan pemicu,
jika anda dewa, bersiaplah mempertahankan kedewaan itu!
bukankah anda dibayar mahal untuk itu
?

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.