Konflik Horizontal

10 Alasan Tidak Ada Benda Mati, Allah Adalah Segalanya, Semua Telah Dianugerahkan Kehidupan


Selama ini, kita mencari-cari dimanakah keberadaan Allah? Mungkin ada orang yang sempat berpikir untuk berjumpa dengan Sang Pencipta barulah rasa kepercayaan itu tumbuh. Seperti kata Thomas, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Ini diutarakan sehubungan dengan ketidakpercayaannya terhadap kabar kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Tetapi Tuhan datang untuk menyatakan diri kepadanya dan mengucapkan kata-kata bahagia yakni “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (bnd. Yohanes 24:24-29).”

Selama ini banyak yang tidak menyadari bahwa Tuhan ada di sekitar kita. Merasa bahwa kita telah dibiarkan terlantar oleh Sang Pencipta, menjalani hidup yang terbuang di sudut galaksi yang tak bertuan. Melihat masalah di sekitar begitu besar sehingga makin membuat kita patah semangat. Padahal sesungguhnya segala berkat-berkat Abraham, Ishak dan Yakub telah dianugerahkan kepada setiap orang percaya. Satu saja yang menjadi masalah adalah saat karunia yang dianugerahkan Tuhan kian bertambah-tambah besarnya. Tepat saat itulah hati menyeleweng, kita lebih fokus kepada kenikmatan dan kemuliaan duniawi sedang Tuhan diabaikan. Pada titik ini, berkat yang besar tersebut beresiko menjadi berhala sedang sikap kepada sesama semakin congkak bahkan menindas orang lain semata-mata demi keuntungan yang lebih besar.

Ilmu pengetahuan lama mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu di alam semesta terdiri dari dua komponen besar, yaitu makhluk hidup dan benda mati. Pahamilah bahwa pandangan semacam ini jelas salah total sebab tidak ada yang namanya organik maupun anorganik. Melainkan semua yang asalnya dari Tuhan pastilah mengandung nafas Allah di dalamnya. Sedang dari penjelasan kitab suci telah kita kenali seutuhnya bahwa segala sesuatu yang ada di jagad raya ini, diciptakan oleh Allah lewat firman yang terucap dari bibir-Nya. Nafas kehidupan itulah yang membuat segala sesuatu yang ada di alam semesta beraktivitas memberi manfaat satu-sama lain masing-masing menurut fungsinya.

Pengertian

Harap dipahami bahwa kehidupan itu membuat sesuatu tidak pernah diam. Ketika anda melihat robot sekalipun, akan meyakini bahwa mesin tersebut hidup oleh karena melakukan pergerakan tertentu. Demikian juga saat kita menonton televisi atau mendengarkan radio, tentu saja harus dihidupkan terlebih dahulu barulah dapat menikmatinya. Jadi, pada bagian ini, kehidupan sangat identik dengan aktivitas yang dijalani dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, bagi anda yang saat ini masih merasa bahwa “diam-diaman seharian sambil duduk santai tidak ada kerjaan adalah keuntungan,” bertobatlah! Sebab justru saat kita diam saja seharian beresiko menyebabkan menurunnya kemampuan otak (kecerdasan dan kesadaran) termasuk kemampuan mengendalikan diri.

Segala sesuatu hidup atau tidak ada benda mati adalah “suatu keadaan dimana masing-masing komponen di alam semesta selalu aktif melakukan suatu rutinitas yang bertujuan untuk memberi manfaat sekaligus menyerap faedah dari sistem yang berputar.” Masing-masing komponen memiliki peran sendiri-sediri yang menghasilkan sesuatu untuk dipakai oleh komponen lainnya sebagai sumber daya dan demikian sebaliknya. Siklus yang terus-menerus berputar ini tidak berawal dan tidak berakhir sebab segalanya didasarkan pada prinsip penciptaan yang sistematis. Keadaan ini sesuai dengan apa yang difirmankan oleh “Tuhan sebagai Alfa dan Omega” dari segala sesuatu yang ada di seantero negeri, bahkan lebih lagi yakni di seluruh jagad raya. Baca-baca teman, Mengapa alam semesta tidak memiliki awal dan akhir?

Faktor yang menyebabkan tidak ada benda mati, Allah yang menganugerahkan kehidupan bagi seluruh bumi

Mengapa dari SD kita diajarkan bahwa ini makhluk hidup dan itu benda mati? Sebab keadaan ini sama persis dengan kasus yang dinyatakan oleh rasul Paulus. Ia perpesan bahwa “Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna (I Korintus 13:9).” Artinya, ilmu pengetahuan manusia senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Sifat dinamis inilah yang membuat segala sesuatu yang kita ungkapkan maupun tuliskan berdasarkan logika, bisa saja ditemukan yang terbaru dan berbeda oleh orang lain di waktu-waktu yang akan datang. Satu-satunya yang abadi adalah pengetahuan tentang kebenaran, yaitu kasihilah Allah seutuhnya dan sesama manusia layaknya diri sendiri.

Berikut akan kami paparkan alasan mengapa tidak ada benda mati, di seluruh jagad raya telah dianugerahkan kehidupan oleh Sang Pencipta.

  1. Alam semesta diaktifkan oleh nafas hidup Allah.

    Kita jangan ke-GR-an lalu merasa bahwa hanya manusialah yang beroleh nafas Allah. Dahulu, kami juga sempat berpikir demikian tetapi setelah Tuhan menjelaskan semuanya dengan seksama di dalam firman-Nya, kami akhirnya menyadari kesalahan ini. Saat Allah berfirman maka segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Tutur kata yang Ia ungkapkan setiap kali berfirman bersamaan dengan itu keluarlah nafas-Nya yang memberi kehidupan sama seperti kehidupan yang diberikan-Nya kepada manusia. Jadi, pada dasarnya tidak ada benda mati di seluruh alam semesta karena semuanya diaktifkan oleh nafas-Nya.

  2. Alam semesta sempurna adanya.

    Camkanlah selalu bahwa manusia tidaklah sempurna tetapi kesempurnaan itu dapat kita raih jika hidup bersama dan menyatu dengan ciptaan lainnya. Jadi kesempurnaan Alam semesta adalah mutlak. Ini terbukti ketika manusia mencoba sikap egois dengan menimbun dirinya dengan kekayaan yang penuh kemewahan. Memakai mesin-mesin berteknologi canggih untuk membuat segala sesuatu “sekali tekan/ sekali klik” maka semuanya beres. Bukankah semua keadaan ini dipicu oleh kepemilikan mesin dan uang yang semakin banyak?

    Tetapi amatilah hasilnya, manusia menjadi individualis, egois, sombong hingga menyepelekan Tuhannya. Semua ini berimbas kepada hubungan sosial dengan sesama manusia makin amburadul. Sedang di sisi lain, penggunaan sumber daya secara besar-besaran sangat merusak lingkungan oleh karena kian banyaknya polutan dan sampah yang dihasilkan. Pada satu titik, cepat atau pun lambat, bencana alam pastilah akan terjadi juga menggilas kehidupan di wilayah tertentu. Sedang pemakaian energi (BBM) yang boros telah membuat cadangan minyak bumi hampir habis. Negara yang kehabisan minyak akan meneror dan memerangi negara lain yang dikenalnya memiliki sumur minyak yang besar (bencana kemanusiaan).

  3. Segala sesuatu di alam semesta baik adanya.

    Allah telah menegaskan bahwa segala sesuatu yang dijadikannya dari awal sampai akhir penciptaan adalah baik adanya. Sebab semuanya diberi nafas hidup yang berasal dari mulut yang sama, yaitu Mulut Allah sendiri. Jadi, masakah Allah mengeluarkan hal-hal yang jahat dari dalam dirinya? Tentu saja hanya yang baik saja yang ada pada-Nya sebab Dialah sumber dari segala kebenaran di dunia ini.

    Lagi-lagi pada satu titik, manusia bisa saja terjebak pula dalam hawa nafsunya yang tinggi akan berbagai kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Terlebih ketika rasa arogan berkembang cukup kuat di dalam kehidupan umat manusia. Kecemburuan akan menimbulkan persaingan kecil sampai besar untuk menunjukkan bahwa “sayalah yang terhebat!” Otomatis keadaan ini memicu konversi sumber daya alam menjadi barang dan jasa semakin tinggi. Akibatnya, hutan khususnya pepohonan yang ada didalamnya akan ditebang habis-habisan. Padahal hutan-hutanlah yang menjadi pelindung bagi bumi ini dari sengatan sinar matahari yang membakar dan dari berbagai cuaca buruk juga dari bencana alam lainnya. Semua keadaan ini menyebabkan manusia semakin candu dengan teknologi mesin untuk melindungi dirinya dari bencana sehingga pemakaian BBM sangatlah boros. Jika keadaan tersebut semakin berlanjut, besar kemungkinan akan terjadi bencana alam dan bencana kemanusiaan pada suatu wilayah yang membersihkan kehidupan seperti membersihkan tahi (hingga tak bersisa kehidupan maupun infrastruktur). Mengapa semua yang ada itu baik.

  4. Matahari itu hidup.

    Ada nafas Allah sehingga membuat matahari aktif memancarkan sinarnya. Tetapi bukan berarti kita menyembah matahari. Sama halnya dengan manusia, ada nafas Allah dalam setiap manusia yang kemudian dikenal sebagai Roh Kudus. Namun bukan berarti bahwa kita harus menyembah orang tertentu. Melainkan segala kemuliaan, pujian dan hormat hanya bagi TUHAN Allah Semesta Langit layak dipanjatkan. Kita belum melihat rupa-Nya tetapi pekerjaan tangan-Nya telah nyata dalam setiap hembusan nafas ini.

  5. Air itu hidup.

    Mengapa bisa ada air di atas gunung? Atau mengapa air selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah? Juga mengapa bisa ada air di atas langit? Pula mengapa air laut terus bergerak dan tidak pernah tenang? Memang hal-hal ini bisa dijelaskan secara sains tetapi di balik semuanya itu nyatalah kepada kita bahwa air bukanlah benda mati. Perputaran air yang disebut juga sebagai siklus hidrologi telah menjadi bukti konkrit bahwa pengaturan keberadaannya di bumi ini sangatlah sistematis.

    Akan tetapi, air bisa berubah menjadi ganas oleh karena pengaruh kerusakan lingkungan. Keberadaan hutan yang telah dipangkas seperti menggundulkan kepala, membuat daya serap tanah sangat rendah terhadap cairan. Pada musim hujan, situasinya akan semakin parah sebab debit air permukaan yang sangat besar dapat menyebabkan banjir hingga banjir bandang.

  6. Udara itu hidup.

    Saking kecil dan tipisnya molekul udara, mata kepala ini tidak dapat mengamatinya. Namun sesekali dalam kehidupan, muka atau badan kita diterpa oleh semilir angin sepoi-sepoi yang begitu lembut menyentuh kulit. Siklus angin memberikan keuntungan bagi manusia sebagai salah satu cara untuk mendinginkan lingkungan, membantu suspensi udara hampir rata di semua wilayah, membantu penyerbukan dan lain sebagainya.

    Pada kesempatan lain, saat arogansi, manipulasi dan ketamakan menguasai manusia. Mesin-mesin yang berhamburan di jalanan membuat polutan semakin tinggi di udara sekitar kita. Jika keadaan ini berlangsung selama berbulan-bulan bahkan menahun, besar kemungkinan masa jenis udara di sekitar kita lebih berat dari biasanya. Hal ini turut pula meningkatkan tekanan dan kerapatannya yang membuat cuaca semakin panas menyengat di siang hari. Sedang di sisi lain akan timbullah berbagai jenis badai (topan, tornado, puting beliung, badai tropis dan lainnya) sebagai usaha alam untuk menetralisir berbagai bentuk polutan tersebut.

  7. Tanah itu hidup.

    Mungkin ada yang berpikir, “masa sih tanah hidup?” Dari SD juga kita sudah diajarkan bahwa tanah adalah salah satu jenis benda mati. Tapi tunggu dulu, apakah benar bahwa bagian yang begitu tangguh ini tidak melakukan apa-apa? Harap dipahami bahwa tanah dan batuan yang ada di bawah kita adalah bumi itu sendiri. Di beberapa tempat berhutan lebat yang di dalamnya terdapat pepohonan besar yang telah hidup ratusan Tahun, besar kemungkinan di dalamnya terdapat berbagai logam mulia. Artinya, hutan yang lebat secara tidak langsung akan menjadi sumber kekayaan setelah melewati beberapa masa. Keadaan ini dipengaruhi karena area tersebut selalu basah (hujan selalu turun), kaya mikroorganisme dan berat (pepohonan yang besar menciptakan tekanan tinggi).

    Sayang, keserakahan umat manusia menggundulkan hutan seperti “mencabut bulu ketek” hingga tak bersisa. Entah apa yang terjadi kepada mereka, seolah-olah pepohonan adalah musuhnya. Padahal selama ini, yang membuat udara begitu sejuk dihirup dan tanah sangat kokoh ditempati adalah tanaman. Pembalakan liar yang berlangsung secara terus-menerus membuat struktur tanah seperti “piring retak” hujan sebentar saja membuat semuanya amblas (tanah longsor).

  8. Apakah manusia yang telah meninggal tidak mati?

    Ini adalah pertanyaan yang cukup menggelitik kalbu. Bagaimana bisa manusia yang sudah meninggal, tidak dianggap mati? Atau bagaimana bisa hewan yang sudah menjadi bangkai, tidak dianggap mati? Pula bagaimana mungkin pepohonan yang sudah menjadi rumah dan gedung bisa dianggap masih hidup? Manusia hewan dan tumbuhan saat sudah tidak bernyawa lagi, bagian-bagiannya yang besar akan dihancurkan menjadi lebih kecil alias di mineralisasi oleh kuman. Artinya, saat nafas kehidupan telah kembali kepada Allah, selanjutnya setiap tubuh (kasarnya bangkai) tidak mampu lagi mempertahankan keutuhannya. Nafas hidup yang dari Allah itulah yang membuat kita tetap hidup dan utuh hingga saat ini. Lagipula hal tersebut melibatkan mikroorganisme, bukankah itu bagian dari tanah (mineral) yang juga hidup?

     

  9. Apakah rumah dan gedung-gedung juga hidup?

    Sedang pepohonan yang telah dibuat menjadi papan, balok, kursi, meja, lemari, tangga dan lain sebagainya juga tetap aktif bergerak. Sekalipun pergerakan itu termasuk gerak pasif sebab sesungguhnya yang bergerak (berotasi dan berevolusi) adalah bumi. Jadi jelaslah bahwa tidak ada yang benar-benar diam di alam semesta sebab semuanya hidup.

  10. Apakah barang elektronik dan hasil teknologi lainnya juga hidup?

    Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa tanda-tanda kehidupan adalah bergerak (beraktivitas). Jadi segala sesuatu yang beraktivitas bisa dikategorikan dalam kondisi hidup. Sedang kita semuanya tahu bahwa barang hasil besutan teknologi dan peralatan elektronik tidak ada begitu saja (disihir, simsalabim). Melainkan semuanya itu digali, ditempa, diolah dan disusun dari bahan-bahan alamiah yang ada di bumi ini. Kita juga mengaktifkan semua mesin berteknologi tersebut menggunakan listrik, baik lewat PLTD, PLTA, PLTN dan lain sebagainya. Bukankah semuanya itu berasal dari alam yang dihidupkan-Nya lewat nafas yang keluar saat berfirman dahulu di masa penciptaan?

    Seharusnya, tidak ada teknologi yang jahat. Hanya saja beberapa orang menjadikannya sebagai kekuatan untuk menyatakan betapa hebat dirinya dari orang lain (arogan). Mesin elektronik juga kerap dijadikan sebagai sarana tipu-tipu (manipulasi). Bahkan teknologi tinggi juga dimanfaatkan untuk menyedot sumber daya dan memborbardir suatu wilayah (perang) karena keserakahan umat manusia. Oleh karena itu, gunakan teknologi untuk kepentingan bersama (bukan demi gengsi dan kemewahan).

Allah adalah semuanya sebab segala sesuatu yang ada di alam semesta memiliki nafas Allah. Hanya saja masing-masing ciptaan mengekspresikan kekuatan yang berbeda dari Sang Pencipta. Jadi tidak ada benda yang tak bernyawa di seluruh jagad raya, semuanya telah disalurkan nafas hidup oleh Allah. Sekalipun beberapa komponen di lingkungan sekitar kita tidak memiliki rasa sakit, bahkan bumi yang selalu diinjak tidak pernah berteriak. Air yang dibuang akan selalu muncul lagi dari atas langit sedang udara yang bahkan tidak dapat digenggam, menyentuh kulit dengan lembut dan terkadang lebih menggemaskan dari sentuhan pasangan anda di rumah. Semua yang ada di bumi ini akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan umat manusia asalkan dikelola dengan penuh tanggung jawab dalam rasa kebersamaan yang setara. Akan tetapi, hal-hal baik tersebut bisa menentang dan menendang dari tempat kita berdiri saat ini, bila sistem bermasyarakat hanya dipenuhi oleh arogansi, manipulasi dan ketamakan. Simak juga teman, Kita adalah satu dengan alam semesta.

Salam, Tidak ada benda mati di alam semesta,
Semua baik asalkan dikelola bersama,
Tegakkan keadilan sosial agar semua terpelihara
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.