Kepribadian

10 Alasan Manusia Butuh Percaya Tuhan Secara Fundamental – Tanpa Allah Kita Menuhankan Diri Sendiri, Terjebak Dalam Arogansi, Manipulasi & Keserakahan


Alasan Manusia Butuh Percaya Tuhan – Tanpa Allah Kita Menuhankan Diri Sendiri, Terjebak Dalam Arogansi, Manipulasi & Keserakahan

Kembali mempelajari Kitab Suci, tepatnya diawal-awal masa penciptaan, kitab Kejadian akan menemukan bahwa sesungguhnya manusia dianugerahkan karunia ilahi. Jika matahari mendapatkan sinar kemuliaan Allah yang menyilaukan, bumi mendapatkan kekuatan yang tak tergoyahkan. Air memperoleh kesejukan Allah yang menyegarkan dahaga sedang angin sepoi-sepoi mewarisi kelembutan-Nya. Masih banyak bagian-bagian lain di bumi dan seluruh alam semesta yang menunjukkan kedahsyatan Yang Maha Kuasa. Amatilah alam sekitar kita dengan seksama maka akan menemukan berbagai macam kekuatan yang datang dari Sang Pencipta dan ditunjukkan oleh masing-masing karya-Nya yang berbeda.

Perlu dipahami bahwa alam semesta adalah karya seni terindah sepanjang masa yang mencerminkan betapa besar dan dahsyat Yang Maha Kuasa. Anda akan menemukan berbagai kekuatan yang melebihi manusia itu sendiri dimana masing-masing saling terhubung dan membutuhkan satu-sama lain. Semua komponen tersebut melakukan pola-pola aktivitas yang teratur dalam suatu siklus kehidupan yang kontinue. Artinya, mereka adalah mesin teknologi Tuhan yang tidak memiliki kesadaran. Jadi dari seluruh bagian-bagian alam semesta, yang memiliki kesadaran dan kehendak bebas hanyalah manusia saja. Saat anda melihat bintang-bintang di langit, di atas sana juga ada manusia seperti kita.

Kita mampu berpikir, bertindak dan berkata-kata dalam pola yang bewarna-warni. Tingginya tingkat kecerdasan manusia telah terbukti dalam keanekaragaman bahasa yang tersebar di seluruh dunia. Ini hanyalah bahasa, belum lagi ilmu pengetahuan lainnya yang menunjukkan betapa luasnya kemampuan berpikir manusia. Semua hal yang ada di dalam diri kita adalah suatu kemampuan Allah yang bertugas penting untuk mengelola (memanajemen) semua ciptaan. Jadi, manusia ada bukan untuk sekedar memanfaatkan atau mengeksploitasi lingkungan sekitarnya. Melainkan tugas kita adalah mengelola dan mengatur segala sesuatu agar semuanya bisa hidup sesuai pada tempatnya.

Sayang, kehendak bebas dalam diri manusia telah menjadi awal pembangkangan yang memicu ketidaktaatan dan berujung pada dosa hingga kutukan. Bukankah semuanya itu demi hawa nafsu agar beroleh posisi yang lebih tinggi (arogansi). Keinginan yang kuat untuk melebihi orang lain akan ditempuh lewat praktek manipulasi. Jika sikap ini terus saja dipelihara, akan memasuki tahapan keserakahan yang kemudian menjadi bencana alam sampai merugikan manusia itu sendiri. Jadi, bisa dikatakan bahwa kehendak bebas yang telah dianugerahkan Tuhan akan membuat manusia merugikan alam (lingkungan) sekitarnya bahkan sesama manusia lainnya. Semuanya ini terjadi karena kita mengabaikan firman yang disampaikan oleh Allah dan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Faktor fundamental yang menyebabkan kita membutuhkan kepercayaan kepada Tuhan

Manusia dengan pikirannya yang sadar dan merasa bebas terus saja digiring dalam berbagai persoalan yang awalnya berasal dari dalam hatinya sendiri. Jadi bisa dikatakan bahwa tanpa kehadiran Sang Pencipta, karunia kesadaran yang telah diberikannya akan berubah fungsi mendatangkan bencana. Satu-satunya cara untuk mengendalikan otak adalah dengan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Tanpa hal tersebut maka besar kemungkinan, kita justru menjadi liar akibat pikiran yang selalu salah menuhankan diri sendiri. Keadaan inilah yang akan menggiring kehidupan kita menjadi syarat dengan arogansi, manipulasi dan keserakahan. Pada akhirnya, masing-masing orang akan saling menyerang untuk meraih kemenangan yang juga menggiring dalam degradasi lingkungan.

Secara fundamental, manusia harus percaya kepada Tuhan sebab Allah adalah kebutuhan paling mendasar yang harus selalu ada di dalam hati setiap manusia. Tanpa hadirat-Nya, kita akan akan menjadi liar dan saling menyerang satu sama lain. Besar kemungkinan akan memicu kerusakan lingkungan sebab hampir semua sumber daya akan dieksploitasi semata-mata untuk menunjukkan bahwa kitalah yang terhebat. Berikut ini akan kami ungkapkan beberapa alasan fundamental manusia membutuhkan Allah di sisinya.

  1. Tanpa Sang Pencipta manusia bodoh atau liar.

    Mereka yang tidak memiliki Tuhan (ateis) dan kurang memiliki hubungan yang erat (intim) dengan-Nya, cenderung menjadi manusia yang “otaknya lemah” atau “terlalu aktif tetapi suka sembarangan.” Manusia dengan pikiran yang lemah, tidak memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang memadai untuk memperbaiki kehidupannya. Mereka terjebak dalam kehidupan yang sempit dan penuh dengan kekurangan akibat otak yang kurang cerdas.

    Di sisi lain, orang juga mampu menjadi pintar hanya dengan mempelajari ilmu-ilmu duniawi, baik secara formal (sekolah) maupun informal (kursus). Mereka yang memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang tinggi telah terjebak dalam hawa nafsu yang mengada-ada. Pemikiran yang terlalu tinggi secara tidak langsung membuat hawa nafsunya turut menjadi liar. Menginginkan hampir segala sesuatu yang dapat diamati dengan indranya sekalipun dengan menghalalkan segala cara.

    Keinginan sesat yang dimilikinya semata-mata karena pikiran tidak pernah tenang selama menjalani hidup. Allah adalah satu-satunya pribadi yang mampu menenangkan hawa nafsu kita menjadi lebih tenang sehingga nggak suka neko-neko.

  2. Tanpa Yang Maha Kuasa manusia memuji diri sendiri.

    Manusia yang memiliki kesadaran yang lebih baik dari hewan, mempunyai kecenderungan untuk menjadi pribadi yang suka memuji dirinya sendiri. Saat puji-pujian kepada Allah Sang Pencipta tidak ada di dalam dirinya, kekuatan otak tersebut akan diarahkan untuk memuliakan diri sendiri. Ia menggunakan kecerdasannya untuk membanggakan diri sendiri dengan demikian ada kesempatan untuk merasa senang. Ia akan mencari dengan lebih keras lagi tentang apa-apa saja yang dapat dibanggakan di dalam kehidupan ini.

    Pada satu titik kebiasaan ini akan membuatnya patah semangat saat menyadari masih banyak pencapaian keinginan yang belum terealisasi. Padahal belum tentu semua hawa nafsu tersebut adalah baik untuk diwujudkan. Apakah orang ini juga akan melegalkan segala cara demi sesuatu untuk dibanggakan?

  3. Tanpa Yang Maha Agung, manusia menjadi sombong.

    Mereka menyombongkan diri semata-mata untuk menemukan kesenangan hidup. Menilai sesamanya dari sudut pandang sempit lalu merendahkan mereka di dalam hati sendiri. Terdorong dalam menghina orang lain untuk memberi kesan di dalam dirinyalah ada sesuatu yang hebat. Kesombongan sering juga digunakan manusia untuk bertahan dari masalah. Melatih dirinya untuk lebih sabar bertahan dalam penderitaan (tekanan hidup) dengan bersikap angkuh dan acuh tak acuh.

    Masalah yang kemudian muncul adalah, bagaimana jadinya ketika ia menyedari bahwa “masih ada burung di atas monyet?” Betapa stresnya pikiran karena apa yang selama ini disombongkan ternyata bukan apa-apa dibandingkan dengan orang-orang di luar sana. Lagi pula biaya untuk menjalani hidup yang serba tinggi, luar biasa besar alias menghambur-hamburkan uang (boros).

  4. Tanpa Yang Maha Mulia kesenangan manusia hilang timbul.

    Orang yang mengejar kesenangan materi dan kemuliaan duniawi pasti akan menyadari bahwa semua itu hanyalah sesaat saja. Sebab untuk memenuhi kebutuhan akan materi, ada waktunya untuk habis dan ada masa pakainya. Kita harus membeli hal tersebut lagi agar dapat menikmatinya, bukankah ini menandakan betapa hal-hal duniawi sifatnya sementara saja? Anda harus membelinya lagi untuk mengkonsumsi hal yang sama. Sayang, terlalu sering mengkonsumsi sesuatu justru tidak sehat, bisa memicu kebosanan bahkan overdosis (menyebabkan penyakit).

    Kemewahan, kenyamanan, kemudahan, pujian, kebanggaan, penghormatan dan popularitas (kesombongan) adalah hal-hal yang sifatnya terlalu fana. Kita harus berupaya keras untuk mencarinya lagi agar hal tersebut ada lagi. Bahkan beberapa orang yang ketagihan akan melakukannya dengan menggelapkan ini-itu dengan memalsukan kebenaran. Sedang pada satu titik, akan timbul rasa jenuh yang memaksa seseorang untuk membeli sesuatu yang lebih bernilai. Kebutuhan akan uang yang tinggi, bisa saja dipenuhi dengan melakukan penipuan, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap sisem. Simak juga, perbandingan antara kesenangan dan kebahagiaan.

  5. Tanpa Yang Maha Kudus, kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati hilang.

    Segala rasa puas, damai, bahagia dan tenteram akan berlalu dengan sangat cepat karena hidup seseorang telah kehilangan arah sehingga jatuh dalam celah-celah dosa. Mereka memang datang beribadah ke rumah Tuhan, berdoa, membaca-mendengar firman dan bernyanyi memuliakan nama Tuhan dari waktu ke waktu. Sayang, kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati itu tidak lagi dirasakan sebab mereka hanya melakukan rutinitas agar dilihat orang. Sedang perilakunya sehari-hari penuh dengan dosa yang membuatnya semakin jauh meninggalkan Tuhan. Orang semacam ini baru akan bertobat dari kemunafikannya setelah mencicipi akibat dari kesalahan yang diperbuatnya.

  6. Tanpa Allah, manusia menjadi arogan.

    Selain sifat bangga dan sombong, kebiasaan mewujudkan arogansi juga menimbulkan sensasi rasa senang di dalam hati. Jadi, bisa dikatakan bahwa kebanggaan, kesombongan dan arogansi tidak terjadi begitu saja, tanpa alasan/ dorongan yang pasti. Melainkan semua hal-hal tersebut terjadi agar hati senang selama menjalani kehidupan di bumi ini. Orang-orang akan berusaha mencapai posisi puncak kehidupan, semata-mata untuk membuat hatinya senang. Agar dia setidak-tidaknya bisa tersenyum lebar di dalam hatinya sendiri karena menyadari kekayaan dan jabatannya lebih tinggi dari sesamanya. Hanya saja, itu hanyalah sesaat, begitu menyadari bahwasanya masih banyak yang lebih unggul dari dirinya, rasa kecewa dan kepahitan akan menyelimuti hati

  7. Tanpa Tuhan, manusia menjadi manipulatif.

    Mengapa manusia menjadi manipulatif? Sifat ini erat kaitannya dengan arogansi, mereka ingin lebih sukses dari orang lain. Dia akan berusaha melakukan tipu muslihat demi menciptakan keberuntungannya sendiri. Manusia akan merindukan rasa senang dengan berusaha menggapai keuntungan yang sebesar-besarnya. Tepat saat menyadari bahwa masih ada orang yang lebih beruntung darinya, saat itu jugalah kesenangannya hanya membawa kehampaan yang memilukan hati.

  8. Tanpa Yesus Kristus, manusia menjadi serakah.

    Sifat serakah juga masih erat hubungannya dengan arogansi. Ini semata-mata diwujudkan untuk membuat diri sendiri terkesan lebih bombastis dari orang lain. Manusia akan melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap sesamanya sedang alam sekitar akan dieksplorasi secara berlebihan. Semuanya ini demi mencapai kekayaan, kemewahan, kenyaman, kemudahan, pujian, kebanggan, penghormatan, popularitas (nama baik, kesombongan) yang jauh lebih tinggi. Semuanya ini semata-mata hanya diwujudkan demi kesenangan sesaat yang sangat dangkal.

  9. Tanpa Allah Semesta Alam, manusia dirundung perselisihan, konflik dan peperangan.

    Bapa Yang Ajaib adalah sumber kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati yang tidak terbatas. Saat kita tidak memili-Nya dalam hati, akan beralih kepada hal-hal duniawi yang membawa hidup dalam hawa nafsu lebay, kebanggaan, kesombongan dan arogansi. Jalur mencapai rasa senang tersebut, mengharuskan manusia untuk menekan sesamanya (agar dirinya lebih kaya, sukses, terhormat dan berkedudukan tinggi).  Sikap semacam ini berangsur-angsur menjadi bom waktu yang beresiko menimbulkan perpecahan (menenggelamkan rasa kebersamaan).

    Masing-masing orang mementingkan dirinya sendiri, mereka tidak peduli lagi kepada sesamanya apalagi terhadap alam sekitar. Yang terpenting adalah ambisi mereka terwujud, sehingga ada rasa bangga yang bisa disombongkan di antara manusia. Padahal dengan berlaku demikian, situasi masyarakat selalu berada dalam zona perang dingin yang melelahkan. Sehingga tidak ada kesempatan baik untuk mengembangkan bakat/ potensi dan kreativitas di antara anak bangsa. Sebab masing-masing terlena dalam persaingan dan konflik untuk membuktikan bahwa dirinyalah “the one.”

    Harap diketahui bahwa di sekitar kita ada begitu banyak manusia yang kaya raya, sukses dan berpangkat tinggi. Mereka disebut sebagai oknum kapitalis yang akan berjuang dengan keras untuk mencapai kekayaan, kesuksesan dan kedudukan yang lebih tinggi di dalam masyarakat. Sumber daya yang besar di tangan membuatnya, leluasa melakukan apa saja demi kepentingan pribadi dan kelompok. Sedang di luar sana, ada juga orang yang tertarik ingin memperebutkan hal yang sama dengannya. Timbullah perselisihan antara pihak-pihak yang terkait sehingga berujung pada konflik berkepanjangan. Bahkan keadaan ini beresiko juga menyebabkan peperangan.

  10. Tanpa TUHAN Allah Semesta Langit, manusia diujung bencana alam.

    Agar hatinya merasa senang dan tabah menghadapi cobaan, manusia akan memperbanyak materi yang dimilikinya. Mereka dengan sengaja mengejar kemuliaan lewat berbagai prestasi dan jabatan semata-mata untuk membuat hati senang meski hanya sesaat. Orang-orang ini menggunakan hal-hal duniawi untuk bertahan melawan tekanan/ penderitaan duniawi. Sedang orang lain yang melihat turut pula merasa cemburu. Rasa dengki ini membuatnya ingin mencapai hal yang sama seperti yang dimiliki oleh sesamanya. Rasa iri hati tersebut bisa berujung pada eksplitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Pada akhirnya, segala sesuatu yang sifatnya lebay tersebut, berujung membawa kerugian terhadap sesama manusia dan kerusakan bagi lingkungan alamiah (alam sekitar). Lihat-lihatlah kawan, Macam-macam sikap bersyukur yang tidak benar.

  11. Dan lain sebagainya, bukankah semuanya tertulis dalam Kitab Suci masing-masing?

Tanpa sadar, manusia merusak dirinya sendiri saat meninggalkan kebenaran sejati; hanya menunggu waktu saja hingga semuanya menjadi nyata

Tuhan adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental dalam kehidupan umat manusia. Tanpa hadir-Nya di dalam hati, kita akan mencari kesengan dengan membanggakan diri (memuji diri sendiri), menyombongkan diri (merendahkan sesama) dan mencapai puncak tertinggi kehidupan (arogansi). Padahal dengan berlaku demikian, kita melawan firman karena menggiring manusia menjadi orang yang sangat picik (manipulatif) dan tamak memanfaatkan segala sesuatu. Jadi bisa dikatakan bahwa kecerdasan manusia yang tidak diarahkan untuk mengasihi Allah seutuhnya dan sesama seperti diri sendiri, cenderung tidak akan mendatangkan ketenangan hati. Justru pikiran akan dipenuhi dengan rasa bersalah, gelisah dan ketakutan lalu kita berusaha menguranginya dengan meraih kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Sayang, sekalipun bisa, efeknya hanya sesaat dan suasana hati yang tidak mengenakkan itu akan kembali lagi. Satu-satunya cara abadi untuk beroleh rasa puas, damai, bahagia dan tenteram adalah dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dan mengasihi sesama di setia pekerjaan dan pelajaran yang digeluti. Saksikanlah, Contoh kesempatan bahagia yang salah.

Salam, Hal-hal duniawi senang sesaat,
semakin dicari, dahaga kian kelaparan.
Hubungan dengan sesama terus ribut,
alam sekitar mengalami kerusakan.
Kejar kebenaran awal ketenangan,
Fokus Tuhan adalah kebutuhan,
mengasihi Allah, kasih terhadap semua ciptaan,
termasuk sesama dan komponen lingkungan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.