Ekonomi

7 Arti Kasihilah Sesamamu Manusia Seperti Dirimu Sendiri


Arti Kasihilah Sesamamu Manusia Seperti Dirimu Sendiri

Seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah. Sejak dari semula meletakkan dasarnya semata-mata untuk memuliakan nama-Nya. Sungguh apa yang telah dirancang Allah ditujukan bukan untuk mengabdi kepada pihak lain tetapi untuk melayani Dia, menurut setiap fungsi-fungsi yang dijalankan oleh masing-masing ciptaan. Setiap komponen Alam semesta memuliakan-Nya menurut peran yang mereka bawakan sejak dari semula. Matahari memuliakan Allah dengan terang kehangatan sinarnya, Tumbuhan memuji-Nya dengan menghasilkan berbagai buah, umbi dan kayu yang baik. Bumi menyatakan kemuliaannya lewat pondasinya yang kokoh tak tergoyahkan. Hewan di padang memuliakan-Nya lewat suara yang beraneka rupa. Sedangkan kita, manusia memuji Tuhan lewat pikiran dan sikap (tutur kata dan perbuatannya).

Penting untuk diketahui bahwa semua ciptaan yang ada di bumi dan seluruh alam semesta berasal dari satu sumber, yaitu Allah sendiri. Pada mulanya, segala sesuatu kosong adanya lalu Allah berfirman maka yang tidak ada menjadi ada. Nafas kehidupan yang dihembuskan-Nya dalam hidung manusia ternyata turut keluar dari dalam diri-Nya saat menciptakan komponen alam semesta lainnya. Masing-masing bagian di seluruh jagad raya memiliki kekuatan Allah itu sendiri. Setiap komponen saling terhubung dengan yang lainnya sehingga tercipta pola hubungan timbal balik yang membentuk ikatan sejati yang tidak akan pernah berakhir kecuali Tuhan Yesus datang kembali di akhir zaman. Jadi, bisa disimpulkan bahwa manusia, tumbuhan dan hewan juga komponen alamiah lainnya adalah satu, sebab kita semua diaktifkan oleh nafas hidup yang daripada Allah. Baca-baca juga teman, Benarkah segala sesuatu hidup di alam semesta?

Sesungguhnya, manusia dan alam semesta adalah satu sebab segala sesuatu yang ada di sekitar dan diluar sana memiliki sebagian dari diri Sang Pencipta. Adalah sudah sepantasnya, kita hidup memanfaatkan sambil memelihara seluruh ciptaan yang ada. Menghindarkan diri dari berbagai praktek eksplorasi alam yang berlebihan. Juga tidak memperbudak orang lain dengan mengeksploitasi kehadiran mereka secara berlebihan. Jika ciptaan lainnya saja harus turut dirawat dengan penuh tanggung jawab terlebih lagi dengan sesama manusia itu sendiri. Sudah selayaknya kita memperlakukan semua orang seperti diri sendiri tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan dan lain sebagainya. Semuanya itu dilakukan sebab dari awal kita adalah satu nenek moyang, yaitu Adam & Hawa.

Mereka yang hidup membeda-bedakan kasih kepada yang satu dengan yang lain tidak layak dihadapan Allah. Sebab sudah seharusnya, kita berlaku adil satu sama lain, yang berarti bahwa “apa yang kita lakukan bagi diri sendiri, diperbuat pula sama halnya kepada sesama manusia lainnya.” Sebab dari Awal, maksud dan tujuan Allah sudahlah jelas, yaitu hendak memberlakukan kesetaraan di antara seluruh umat manusia. Mengapa kesetaraan itu penting? Untuk memberi kelegaan di dalam hati masing-masing orang sehingga manusia tidak terjebak dalam arogansi, persaingan, manipulasi dan keserakahan. Sebab sadar atau tidak, keempat hal inilah yang terus saja menggiring kehidupan kita dalam bencana alam (misal banjir, kekeringan, longsor, badai) dan bencana kemanusiaan (kelaparan, wabah penyakit, peperangan dan lainnya)

Pengertian secara umum

Kasih adalah beri, memberi juga diartikan sebagai perasaan sayang (cinta, suka kepada). Sedangkan kata seperti diartikan sebagai (1) serupa dengan; sebagai; semacam; (2) sama halnya dengan; tidak ubahnya; (3) sebagaimana; sesuai dengan; menurut; (4) seakan-akan; seolah-olah; (5) misalnya; umpamanya; (6) adapun yang sebagai; akan hal (KBBI Luring). Jadi berdasarkan paparan di atas, kita baru paham betul apa yang dimaksud dengan  “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Secara umum diartikan sebagai “suatu sikap yang menyayangi sesama manusia sebagaimana/ sesuai dengan/ serupa dengan menyayangi diri sendiri.” Jadi, pada bagian ini kita memahami dengan benar bahwa ada nilai kesetaraan antara rasa kasih kepada diri sendiri dan kasih kepada sesama. Atau lebih tepatnya, cara kita memperlakukan diri sendiri harus sama dengan cara memperlakukan orang lain. Hal ini seiras dengan firman yang berkata demikian.

(Matius  7:12) “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Arti “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri

Hukum Taurat memiliki inti kebenaran yang menjadi landasan seluruh firman yang termuat dalam Kitab Suci. Kedua dasar inilah yang menjadi patokan dari setiap nilai-nilai yang termuat di dalam Alkitab. Artinya, jika ada nilai yang bertentangan dengan kedua hukum tersebut maka pelaksanaannya patut dipertanyakan. Sebab mungkin saja keadaan tersebut terjadi karena suatu alasan historis atau sebagai sebuah kebiasaan dalam budaya masyarakat setempat. Mungkin saja hal tersebut benar di zamannya tetapi tidak lagi relevan saat diterapkan di zaman sekarang. Anggaplah nilai-nilai yang termuat dan tidak sesuai dengan patokan tersebut, merupakan suatu perumpamaan  yang harus diekstrak makna positif yang dikandungnya bukan dikopi-pastekan seluruhnya dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini dua hal yang menjadi tolak ukur kebenaran dalam kehidupan orang percaya.

(Matius 22:37-40) Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Berikut selengkapnya, apa-apa saja makna yang terkandung di balik kebenaran yang ke dua, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

  1. Pikiran – Menganggap orang lain adalah diri sendiri.

    Mengasihi itu dimulai dari dalam pikiran sendiri. Kita perlu kasih kepada sesama lewat berbagai buah-buah pemikiran yang mungkin saja hanya diketahui diri sendiri dan tidak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini dimulai dari doa, apa yang kita mohonkan kepada Tuhan untuk diri sendiri, sudah selayaknya kita mohonkan juga agar terjadi dalam kehidupan orang lain. Jika kita tidak mau orang lain berprasangka buruk tentang diri ini, janganlah juga berprasangka buruk kepada sesama. Apa yang anda harapkan untuk diri sendiri, harapkan jugalah bagi sesama manusia, itulah yang namanya kesetaraan.

  2. Tutur sapa – Menegur orang lain seperti berkata-kata kepada diri sendiri.

    Kebaikan yang kita perbuat dimulai dari tutur kata yang terucap baik melalui tulisan (lewat media) maupun secara lisan (langsung). Apa yang ingin diperkatakan orang lain seputar diri sendiri, harus kita perkatakan hal yang sama kepada sesama. Jika tidak ingin diabaikan oleh orang lain, jangan mengabaikan seorangpun. Bila tidak mau difitnah oleh siapapun, jangan memfitnah siapapun. Saat tidak suka dimarahi oleh orang lain, hindari memarahi sesama.

    Setelah mendoakan kebaikan sesama, tutur kata yang terucap adalah cara sederhana untuk melayani sesama. Anda dapat melakukannya dimulai dari dalam keluarga sendiri lewat ramah-tamah (senyum, sapa, salam, mengucapkan terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik). Ini adalah dasar pengorbanan sekaligus latihan pertama untuk sabar bertahan menjalani rumitnya dinamika kehidupan.

  3. Perbuatan – Memperlakukan sesama seperti memperlakukan diri sendiri.

    Rasa sayang bisa diwujudkan lewat tindakan nyata yang bisa dilaksanakan di sela-sela kesibukan belajar dan bekerja. Ini suatu kebiasaan yang membutuhkan nilai pengorbanan yang sifatnya lebih nyata. Pada berbagai kesempatan ada banyak tindakan nyata yang bisa kita wujudkan untuk menyatakan kebaikan kepada sesama. Misalnya, membantunya menyelesaikan pekerjaan ketika bagian kewajiban kita telah selesai, melakukan pekerjaan secara bersama, belajar bareng dan masih banyak hal lainnya. Termasuk di dalam hal ini adalah bekerja lebih keras dari gaji yang diberikan kepada kita. Berbuat baik lewat tindakan nyata dilakukan dengan memberi, baik berupa materi maupun tenaga. Pada satu sisi kehidupan kita juga bisa bermanfaat kepada sesama lewat bakat dan potensi yang kita miliki.

    Bisa dikatakan bahwa nilai materi yang anda berikan untuk diri sendiri haruslah sama dengan nilai materi yang diberikan kepada sesama. Terkeculi jikalau memang, orang tersebut tidak membutuhkannya. Bila kita tidak mampu memberi kepada sesama seperti apa yang diberikan bagi diri sendiri, akan timbullah yang namanya rasa cemburu. Sedang saat kita pilih-pilih kasih kepada sesama, pasti ada rasa dengki di antara yang menerimanya, demikian jugalah halnya ketika kita lebih mencintai diri sendiri dibandingkan orang lain. Sifat egois adalah awal dari tindakan destruktif di dalam masyarakat.

  4. Persamaan hak walau berbeda kewajiban.

    Persamaan hak telah dijamin oleh Pancasila tepatnya sila ke lima tentang keadilan sosial di dalam masyarakat. Kewajiban boleh saja berbeda tetapi hak kita sama. Sistem bermasyarakat layaknya tubuh seorang manusia. Anggota-anggotanya berbeda fungsi tetapi masing-masing beroleh hak yang sama. Artinya saat tangan menggemuk, bagian tubuh lainnya juga ikut merasakan kemakmuran yang sama. Tidak pernah terjadi kesejahteraan yang dialami oleh tangan dan badan (bobot meningkat) tidak dialami oleh kaki (tetap kurus). Keadaan ini justru akan menimbulkan ketimpangan sehingga tubuh kehilangan keseimbangan dan mudah tersandung, terjatuh, tergeletak dan luka-luka.

    Sama halnya dalam profesi yang berbeda-beda di dalam masyarakat. Masing-masing menjalankan fungsi yang berlainan agar sistem dapat berjalan dengan semestinya. Sekalipun demikian, kemakmuran tetap akan dibagikan secara merata. Sebab tanpa pemerataan pendapatan, orang-orang tertentu justru memboroskan sumber daya demi kepentingan pribadi, boros teknologi, boros BBM, suka malas-malasan dan cenderung merusak lingkungan demi kemewahan yang berlebihan. Sedangkan di sisi lain di antara sebagian masyarakat hidup serba hemat bahkan jauh dari kata sejahtera. Ketidakadilan inilah yang cenderung menyebabkan ketidakseimbangan yang bisa saja dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mengadu domba pemerintah dan masyarakat. Aksi terorisme adalah contoh nyata ketidakadilan yang berpotensi menyebabkan kerugian materil dan korban jiwa.

  5. Kesetaraan ilmu pengetahuan.

    Kekuatan ilmu pengetahuan yang beredar luas di dalam masyarakat perlu disamakan. Apa hal baik yang kita ketahui seharusnya kita beritahukan juga kepada sesama. Wawasan umum (bukan ilmu profesi) yang diperoleh seharusnya sejajar dengan apa yang didapatkan oleh orang lain. Ini bertujuan agar tidak ada lagi orang yang menipu sesamanya demi mencari nafkah. Tipu muslihat hanyalah suatu beban yang membuat rasa persaudaraan di antara manusia melonggar. Sebab yang ada di dalam hatinya hanyalah keinginan buruk sekalipun mukanya mulus, datar dan halus (hipokrit).

  6. Persamaan pendapatan (gaji).

    Manusia telah dianugerahkan dengan fasilitas penyokong kehidupan yang mencukupi untuk digunakan dari generasi ke generasi. Seharusnya, keadaan ini membuat kita bisa hidup makmur secara bersama-sama. Di satu sisi, kita juga harus menjalankan tugas dan fungsi menurut kemampuan yang dianugerahkan Allah. Tetapi bukan berarti orang yang bertugas dengan otot lebih sejahtera daripada orang yang bertugas dengan otak.

    Jika memang mereka yang bekerja duduk dibelakang meja merasa lebih berhak untuk mencicipi kemakmuran bernilai tinggi karena merasa bahwa pekerjaannya unik dan tidak ada bandingnya dengan yang lain. Baiklah orang yang merasa hebat tersebut bekerja di sawah, menyadap karet, memetik buah kelapa dan lain sebagainya. Jika mereka memang hebat, pasti hebat juga melakukan semuanya itu. Sayang, mereka tidak mampu melakukannya, sebab masing-masing orang telah dianugerahkan telenta yang berbeda-beda untuk menjalankan sistem. Jika memang para pekerja otak yang duduk di dalam ruangan mewah ini merasa bahwa pekerjaannya terlalu berat. Baiklah diangkat beberapa orang lagi karyawan untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut. Dengan demikian ada kesejajaran antara buruh dan karyawan. Tanpa keseteraan pikiran tidak tenang dan gelisah karena kita merenggut kemakmuran sesama lewat aturan-aturan yang tidak adil.

  7. Kesejajaran kekuasaan.

    Sudah sepatutnya, manusia tidak diposisikan sebagai dewa di antara manusia. Ini sama saja dengan memberhalakan orang lain. Adalah lebih baik jika yang kita hormati dan patuhi adalah aturan yang hidup di dalam hati masing-masing orang. Peraturan dan undang-undang layak ditinggikan agar semua manusia mematuhinya tanpa terkecuali. Dengan demikian konstitusi yang berlaku di dalam masyarakat dapat mendatangkan kesejahteraan dan kedamaian di segala penjuru bumi.

    Pemerataan kekuasaan juga ditemput dengan cara pemilihan umum (demokrasi). Dengan melaksanakan dan mengikuti pesta demokrasi, kekuasan senantiasa berputar dan disegarkan sehingga praktek KKN dapat ditekan seminimal mungkin. Bila perlu kekuasaan dijalankan secara bergilir, kelompok yang berkuasa pada zaman yang satu tidak boloh lagi berkuasa di era berikutnya (setelah dua periode).

    Sat hal lagi yang sangat cocok untuk menyetarakan kekuasaan adalah dengan diberlakukannya demokrasi Tuhan. Bukankah Indonesia adalah bangsa yang percaya kepada Tuhan? Itu termuat jelas dalam sila pertama Pancasila. Pada titik ini perlu diadakan suatu undian agar kita tahu bahwa orang tersebut yang dipilih oleh Tuhan. Dengan melakukan pengundian di akhir setiap pesta demokrasi (pemilu), sehingga menyatakan bahwa Tuhanlah yang berkuasa dan berhak menentukan siapa pemimpin dan pejabat yang layak. Pengundian ini juga merupakan salah satu usaha untuk meredakan konflik di antara masyarakat, sehingga tidak ada lagi orang yang merasa dicurangi, menimbulkan huru-hara dan kekacauan di dalam masyarakat.

Mengasihi sesama seperti diri sendiri mencakup tiga dimensi kehidupan, dimulai dari pikiran, perkataan dan perbuatan. Ini adalah ajakan kesetaraan di antara manusia agar situasi masyarakat tetap kondusif bahkan kian maju dari generasi ke generasi. Ketika kekuatan (power) yang dimiliki oleh tiap-tiap orang berbeda-beda, muncullah ketimpangan dalam sistem yang beresiko memicu arogansi, persaingan, manipulasi dan ketamakan. Keadaan ini membuat rasa kebersamaan di antara manusia terus menipis sebab sifat-sifat baik hanya diekspresikan demi tujuan-tujuan sempit. Artinya, manusia hanya terlihat baik dari luarnya saja sedangkan hati penuh dengan tipu muslihat (munafik). Dimulai dari sinilai proses destruksi itu berlangsung yang dipelopori oleh rasa cemburu sehingga muncullah persaingan ketat demi kekayaan, kesuksesan, kebanggaan, kemewahan, kehormatan dan jabatan yang lebih tinggi. Sumber daya alam akan dieksploitasi secara besar-besaran untuk dijadikan sebagai barang dan jasa yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Semua ini akan berakumulasi pada bencana alam (banjir, longsor, badai, kekeringan, gagal panen) dan bencana kemanusiaan (sumber daya habis, BBM tipis, kelaparan, wabah penyakit, peperangan). Saksikan teman, Keadilan sosial menurut Kristen.

Salam, kasih kepada sesama yang serupa,
jaminan bebasnya sistem dari bencana
arogansi, persaingan, manipulasi & keserakahan.
Agar kehidupan dijauhkan dari ketidakadilan,
yang membawa kepada kemakmuran dan perdamaian,
juga kebersamaan di berbagai lini lahirkan kemajuan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.