Ekonomi

Pengertian Kaya & Batas Kekayaan, Standar Saja Agar Tidak Cepat Bosan & Konsumtif

Pengertian & Batas Kekayaan, Standar Saja Agar Tidak Cepat Bosan & Konsumtif

Manusia selalu ingin kaya. Hasrat ini adalah suatu keuntungan sedang di sisi lain bisa menyebabkan terjadinya kerugian. Dengan materi yang mencukupi, seseorang tidak harus lagi melakukan kejahatan untuk bisa sejahtera. Namun mereka yang terlalu kaya raya justru berpotensi besar menyebabkan kerugian bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Keadaan inilah yang membuat kepemilikan harta harus benar-benar dikendalikan oleh pemerintah. Terlebih saat kesewenang-wenangan menjadi alat bagi oknum konglomerat untuk menghasilkan uang yang melimpah-limpah. Mereka juga bisa saja memanfaatkan uang tersebut untuk mendatangkan kerugian bagi sesamanya, baik secara halus maupun secara kasar.

Kebanggaan akan materi awal dari penyalahgunaan

Pada dasarnya, harta benda yang kita miliki adalah suatu anugerah yang telah diberikan Allah bagi umat manusia pribadi lepas pribadi. Tentu saja hal ini diperoleh lewat perjuangan yang keras sehingga dihasilkan suatu tindakan yang familiar demi kebaikan semua kalangan. Sayang, tepat saat perasaan kaya tersebut dbanggakan, kemungkinan mulai menyebabkan riak kecil dalam kehidupan bermasyarakat. Belum lagi ketika hal tersebut ditempuh dengan cara-cara yang manipulatif lembut, pastilah cukup banyak orang yang dibohongi demi terkumpulnya harta benda sebanyak itu. Pada tahapan ini, akibat uang yang berlebihan memang belum kentara, sebab proses pembodohan publik hanya berlangsung secara tersembunyi.

Kebenaran dibelokkan agar orang terjatuh lalu diselamatkan dengan harga tinggi

Seiring dengan berkembangnya sistem, semakin banyak juga jumlah manusia. Usaha cenderung akan berkembang seiring dengan semakin banyaknya jumlah penduduk yang bekerja di berbagai bidang. Mulailah timbul kecemburuan sosial yang memicu persaingan di tengah masyarakat. Orang-orang akan dimotivasi untuk memperoleh nilai kekayaan yang lebih tinggi sehingga kaum cendikia mulai berpikir untuk menyebarkan tipu muslihat secara luas & mendalam. Ada banyak orang yang terjebak dalam politik yang syarat penyelewengan informasi, mereka epik mendatangkan kerugian secara diam-diam. Lalu oknum yang merasa dirinya pintar-pintar akan memberikan solusi teknologi tercanggih, tentu saja mengharuskan orang lain (korban) membayarkan sejumlah besar uang, baik secara tunai maupun lewat angsuran (kredit).

Fokus materi membuat eksplorasi lebay mendatangkan kerugian materi & nyawa melayang

Saat manusia hanya fokus kepada kekayaan, hatinya hanya dipenuhi dengan keinginan untuk beroleh lebih banyak uang. Entah itu dilakukan dengan cara-cara baik maupun lewat menghalalkan segala cara. Hampir tidak ada orang yang hidup tenang jika uang yang banyak tidak ada di dalam tangannya. Mereka akan saling mengorbankan demi mencapai tujuan yang dikehendaki. Tentu saja keadaan ini akan diiringi dengan pamer kemewahan, kemegahan, kenyamanan, kebanggaan, kesuksesan dan pujian duniawi. Secara otomatis, konversi sumber daya alam menjadi barang dan jasa semakin meningkat tajam. Akibatnya, lingkungan mengalami kerusakan: sampah membengkak, polutan menimbun dan hutan menggundul yang membawa sistem bermasyarakat ke dalam bencana alam.

Kekayaan yang berlebihan memicu konflik kepentingan hingga peperangan

Pada tahapan selanjutnya, kerusakan lingkungan mampu ditanggung seluruhnya oleh kapitalis dengan memanfaatkan energi yang bersumber dari minyak bumi. Sekalipun alam telah luluh lantak dan lingkungan porak-poranda oleh kebiasaan membuang limbah beracun sembarangan. Tetap saja, oknum yang kaya raya mampu bertahan dari semuanya itu. Paling juga yang mengalami kerugiaan adalah mereka yang hidup miskin dan terlantar disudut-sudut negeri. Hingga suatu saat kelak, oknum kapitalis tersebut kehabisan minyak bumi. Mulai dari sinilah situasi di antara para konglomerat semakin memanas, akan terjadi konflik bahkan perang antar kapitalis semata-mata demi memperebutkan ladang minyak yang tersisa (predator vs predator). Lihat juga kemari teman, Kerugian fokus memajukan hal-hal materi.

Pengertian

Kaya adalah (1) mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya); (2) mempunyai banyak (mengandung banyak dan sebagainya); (3) (ber)kuasa (KBBI Luring). Jadi bisa dikatakan bahwa kaya adalah materi yang mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari bahkan lebih lagi, yang juga dapat dimanfaatkan untuk membeli keperluan lainnya. Sampai di sini, kepemilikan uang berada dalam taraf wajar. Tetapi ketika seseorang terlalu kaya raya sehingga memberinya kebebasan untuk melampiaskan hawa nafsu dengan merusak lingkungan sekitar bahkan sampai merugikan manusia. Pada tahapan inilah materi yang dimiliki oleh seseorang menjadi perusak sistem bermasyarakat. Bahkan besar kemungkinan akan menciptakan lebih banyak faksi yang saling menyinggung karena memiliki kepentingan yang berbeda-beda (anti kebersamaan).

Batas tepian kekayaan

Pemerintah sebagai pemangku kekuasaan, pembuat-pelaksana undang-undang dan yang melakukan pengawasan perlu menyusun suatu regulasi untuk membatasi kekayaan seseorang atau suatu keluarga. Sebab, sadar atau tidak hal-hal yang berlebihan justru tidak akan mendatangkan kedewasaan bagi masyarakat. Justru yang terjadi adalah potensi keterpurukan secara lambat dan bertahap yang dimulai dengan pemakaian sumber daya dan minyak yang mubazir. Keadaan ini, akan memicu terjadinya inflasi yang sangat tinggi hingga membuat negara tersebut bangkrut secara ekonomi. Berikut selengkapnya, batas tepi kepemilikan materi agar tidak sampai merugikan negara.

  1. Tidak menjauhkan manusia dari sesamanya.

    Keadaan ini sangatlah penting untuk di garis bawahi. Sebab manusia yang hidup menyendiri karena dipetak-petakkan oleh tembok-tembok kemewahan cenderung bersikap individualis, egois, anti sosial bahkan bisa jadi anarkis. Kebiasaan ini semakin buruk saja ketika dukungan untuk membeli mesin-mesin dimungkinkan. sehingga segala sesuatu tinggal klik maka semuanya beres. Orang akan lebih senang hidup dengan mesin yang selalu patuh dari pada hidup bersama manusia yang mungkin saja kerap melibatkan ketidakpatuhan, membangkang, perselisihan hingga percek-cokan.

    Jadi materi yang terlalu banyak beresiko membuat manusia semakin jauh dari sesamanya. Secara berangsur-angsur keadaan ini melahirkan sikap individualis, egois, temperamen buruk dan suka kekerasan bahkan berpotensi pula menjadi seorang pembunuh (teroris).

  2. Tidak menjauhkan manusia dari fasilitas umum.

    Fasilitas umum adalah milik bersama sehingga harus digunakan secara bersama-sama. Saat seorang kaya raya berlimpah-limpah hartanya, ada kemungkinan untuk mengabaikan fasilitas umum. Mereka tidak membutuhkannya lagi sebab dengan uang di tangan dapat membeli sesuatu yang lebih mewah dari fasilitas umum tersebut. Akibatnya, kendaraan akan membludak di jalanan dan polusi udara semakin tinggi saja. Jika keadaan ini terus berlanjut, mereka yang naik angkutan pribadi bisa menjadi individualis, tidak peduli dengan kebutuhan sesama dan memiliki temperamen yang buruk sama sekali.

    Secara tidak langsung, fasilitas umum bermanfaat pula untuk meningkatkan intensitas sosialisasi di antara masyarakat. Juga berguna untuk menghemat bahan bakar dan menurunkan angka kemacetan (misal di bidang transportasi).

  3. Tidak berlebihan membuat seseorang tidak bekerja (kecuali lansia).

    Dalam banyak momen, ada orang yang menganggap bahwa meninggalkan harta kekayaan sampai tujuh turunan adalah suatu keuntungan. Padahal dengan berlaku demikian mereka mendidik anaknya untuk tidak usah lagi bekerja. Cukup dengan membungakan hartanya, kebutuhan sehari-hari sudah puas-puas dinikmati. Apakah ini suatu keuntungan atau kerugian? Tentu saja, orang yang tidak aktif bekerja sama sekali mengakibatkan turunnya tingkat kecerdasan dan kesadaran turut anjlok. Pada tahapan ini, manusia akan menjadi sombong, egois dan lemah terhadap gangguan hingga kurang mampu mengendalikan diri sendiri.

    Orang yang malas bekerja, tidak hanya otaknya yang lemah tetapi mentalnya juga kurang kuat saat menghadapi berbagai tekanan. Ketergantungan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi membuatnya manja, tidak mampu mandiri dan tidak pernah dewasa. Badannya memang besar tetapi kecerdasan dan kemampuan mengendalikan emosi sangatlah rendah.

  4. Tidak sampai membuat seseorang mampu menyogok demi kepentingan sempit.

    Aset yang terlalu besar membuat manusia mampu mempioni orang lain untuk mewujudkan keinginannya. Mereka membayar orang tertentu untuk melakukan pekerjaan kotor agar rencana jahatnya terwujud. Keadaan ini cenderung membuat sistem bermasyarakat semakin jauh dari kata damai sebab pribadi pengganggu dan pengacau tersebar dimana-mana. Terlebih ketika oknum kapitalis sedang memperebutkan lahan usaha (sumber daya) dan kekuasaan/ jabatan; hal-hal tersebut semakin intens saja.

  5. Tidak sampai memiskinkan orang lain.

    Harta yang diperoleh dengan memiskinkan orang lain adalah suatu pertanda kegagalan sistem di dalam masyarakat. Kaum intelektual telah memanipulasi informasi dan menciptakan berbagai aturan yang hanya menguntungkan bagi dirinya sendiri. Masyarakat yang kurang cerdas akan dipreteli oleh aturan yang telah dikebiri demi kepentingan kalangan tertentu. Misalnya saja dalam hal membungakan uang, saat seseorang tidak bisa membayar, bunganya terus naik hingga harta benda orang tersebut menjadi milik si pemberi pinjaman. Praktek ini disebut juga sebagai lintah darat yang jelas-jelas mendatangkan kerugian bagi masyarakat menengah ke bawah. Sistem yang melegalkan perolehan kekayaan secara tidak halal hanya menunggu waktu hingga kebobrokan tersebut menimbulkan petaka.

  6. Tidak sampai membuat seseorang mengabaikan kepentingan umum.

    Kebiasaan buruk para konglomerat kelas atas adalah mengorbankan segala sesuatu agar keinginannya terwujud. Entah keinginan itu penting atau tidak, mereka akan meraihnya sekalipun membutuhkan biaya operasional yang tinggi. Sebab, mereka paham betul bahwa keuntungan yang diterimanya juga lebih besa kelak, sekalipun itu hanya dinikmati sendiri.

    Manusia yang sudah tidak lagi memiliki akal sehat akibat dikuasai oleh birahi akan materi dan kemuliaan duniawi, tidak mampu lagi berempati terhadap sesamanya. Mereka melihat orang lain dan sistem bermasyarakat sebagai penghalang yang harus didestruksi secara perlahan tetapi pasti. Oknum kapitalis yang tidak memiliki perikemanusian berusaha main belakang dan bergerak di area negatif untuk meraup lebih banyak keuntungan. Mereka akan melegalkan narkoba, prostitusi, miras, perjudian (kasino) online maupun offline dan masih banyak kejahatan lainnya yang dilegalkan.

  7. Tidak sampai membuat seseorang merusak lingkungan.

    Oknum yang bergelimangan harta benda memiliki kekuatan buldozer untuk menghancurkan lingkungan (serakah). Mereka memanfaatkan sumber daya melebihi batu kepalanya semata-mata demi kemewahan, kenyamanan, kebanggaan, kekuasaan, penghargaan dan popularitas yang lebih dari yang lain (arogansi). Segala yang mereka datangkan dengan uangnya yang banyak adalah pemanasan global di sisi yang satu dan konflik bekerpanjangan di sisi yang lain. Simak juga kawan, Bahaya kemewahan yang lebay.

    Uang yang banya turut pula meningkatkan penyimpangan dalam hal pemanfaatan sumber daya alam. Tingkat konversi SDA yang sangat tinggi, tidak hanya menyebabkan bencana alam tetapi turut pula memicu bencana kemanusiaan (kelaparan, wabah penyakit dan peperangan).

Menjadi kaya raya justru beresiko membuat seseorang lebih cepat jenuh terhadap materi. Karena uangnya banyak, mereka lebih sering mengkonsumsi materi dan berpikir bahwa hal tersebut bisa membuatnya puas dan bahagia. Padahal semuanya itu hanya sesaat lalu dikonsumsi lagi dan lagi bahkan semakin sering hingga membuat indranya jemu. Kejemuan ini secara nyata akan membuat seseorang kehilangan rasa terhadap kenikmatan dan kemuliaan duniawi tersebut lalu menginginkan sesuatu yang lebih. Masalahnya sekarang adalah, apakah ada barang yang lebih bernilai itu? Dan sekalipun ada, bagaimanakah ia mampu menutupi kebiasaan konsumtif yang makin hari kian menggunung? Jangan-jangan dilakukan dengan menghalalkan segala cara? Saksikan juga, Kebosanan orang berduit tebal.

Kekayaan yang sejati mencukupi kebutuhan manusia setara dengan orang lain. Sebab tanpa kesejajaran harta benda, manusia cenderung kurang puas lalu berpikir untuk meraih yang lebih layaknya orang yang diidolakannya. Mereka memfokuskan kehidupan pada pencarian kenikmatan dan kemuliaan duniawi sekalipun dengan menjungkir balikkan kebenaran lalu melegalkan kejahatan. Akan tetapi saat materi yang dimiliki masing-masing orang disejajarkan, kemakmuran itu akan menjadi milik bersama. Sebab gemerlapan duniawi hanyalah kebutuhan jasmani yang fana; kaya pun kita kalau semakin sering dikonsumsi pasti jenuh juga hingga rasa puas dan bahagia menguap. Oleh karena itu, kayanya kita biasa saja agar jauh dari perilaku konsumtif yang beresiko menyebabkan bencana alam dan bencana kemanusiaan. Satu-satunya kebutuhan yang sifatnya terus menerus adalah  kasih kepada Tuhan yang seutuhnya dan kasih kepada sesama yang serupa dengan diri sendiri. Simak teman, Manfaat kesetaraan.

Salam, Kekayaan standar dan secukupnya saja,
agar lingkungan sekitar tetap terjaga,
& hidup bersama orang lain terpelihara,
dari generasi ke generas penuh cinta
!

5 replies »

  1. I loved as much as you’ll receive carried out right here. The sketch is tasteful, your authored material stylish. nonetheless, you command get bought an impatience over that you wish be delivering the following. unwell unquestionably come more formerly again since exactly the same nearly very often inside case you shield this increase. thepetulantpoetess.com

    Suka

    • Sepertinya, itu yang terjadi sampai sekarang. Ini jugalah yang membuat seseorang menimbun secara berlebihan padahal apa yang ada saja tidak habis digunakan. Mungkin ke depannya pemerintah akan mengatur tentang hal ini.
      salam.

      Suka

    • Sepertinya, itu yang terjadi sampai sekarang. Ini jugalah yang membuat seseorang menimbun secara berlebihan padahal apa yang ada saja tidak habis digunakan. Mungkin ke depannya pemerintah akan mengatur tentang hal ini.
      salam.

      Suka

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.