anak

+10 Manfaat Masalah Untuk Meningkatkan Nilai Hidup – Biasakanlah itu!

Manfaat Masalah Untuk Meningkatkan Nilai Hidup – Biasakanlah itu

Hidup tanpa masalah adalah awal kejenuhan

Banyak orang yang salah persepsi tentang kehidupan di bumi yang indah ini. Bahkan ada juga yang menegaskan bahwa kehidupan ini tidak ada artinya, semua hal sia-sia dan tidak ada sedikitpun hal yang indah. Melainkan hari-hari yang kita jalani tidak akan lepas dari tekanan, penderitaan, rasa sakit dan kepahitan hidup. Tidak sedikit mereka yang pesimis akan melakukan berbagai hal yang diinginkan hatinya, entah itu baik atau buruk, semata-mata untuk membuat dirinya senang tetapi tidak pernah mampu merasakan ketenangan. Mereka digiring dalam rasa yang sia-sia karena menganggap bahwa segala sesuatu adalah tidak ada artinya. Merasa bahwa tidak ada yang indah di dunia ini namun kenyataannya, merekalah yang selalu menghindari indahnya suatu persoalan hidup. Sadarilah bahwa keindahan itu terasa karena hidup fluktuatif: ada saat bersuka – ada saat berduka, ada waktu tertawa – ada waktu termenung, ada yang enak – ada yang pahit. Orang bijak selalu energik (semangat) melihat kebaikan di tengah keburukan.

Cendikia menghadapi permasalahan bukan menghindar sama sekali

Lika-liku kehidupan seperti momok yang sulit untuk dikelupas. Ada orang yang mencoba untuk terbebas dari peliknya persoalan, padahal itu sudah duluan ada sebelum kita dilahirkan ke dunia yang fana ini. Selalu berusaha untuk mencari jalan pintas, bagaimana supaya dapat dihindari bila perlu dicegah sama sekali. Karena terlalu waspada terhadap dinamika kehidupan, kita justru kehilangan esensi yang paling penting dan berharga, yaitu kebenaran hakiki. Sikap hati-hati yang berlebihan justru membuat kita terlalu suudzon dan menjauhkan diri dari kesempatan untuk berbuat mengasihi Allah juga sesama manusia.   Kita meliuk untuk keluar dari masalah tetapi yang terjadi justru jalan yang dtempuh terlalu melenceng dari yang sebenarnya. Aksi menghindar yang terkesan kurang bijak malahan semakin menakutkan tulang, daging dan hati ini.

Persoalan meningkatkan dosa  saat kita melupakan kebenaran sejati

Jangan pernah menggerutu saat persoalan menerpa kehidupan kita. Jika anda bijak maka keadaan yang tidak menyenangkan tersebut akan mampu diubah lebih ke arah positif asalkan dihadapi dengan penuh tanggung jawab. Banyak orang yang bermasalah menjadi semakin liar perilakunya oleh karena melepaskan diri dari tanggung jawab yang benar, yaitu mengasih Allah seutuhnya dan sesama manusia sama dengan diri sendiri. Jadi, apapun kemelut hidup yang sedang dihadapi saat ini, jangan pernah menyerahkan diri pada sisi gelap kehidupan. Sebab saat hal tersebut terjadi, kebiasaan baik untuk memperjuangkan kebenaran sejati akan memudar seiring dengan semakin bertambahnya dosa yang kita lakukan.

Pelarian dari badai hidup kian meningkat saat kasih kepada Tuhan & sesama lenyap

Dosa hanya akan menghampiri saat manusia kehilangan aktivitas positif (fokus Tuhan, belajar dan bekerja) lalu tenggelam dalam masalahnya sendiri-sendiri. Selama ini, mereka terlalu fokus kepada hal-hal yang memukau indra. Tepat saat terjadi guncangan atau  hal-hal duniawi tersebut hilang, saat itu jugalah kemampuan mengendalikan diri terlepas, pikiran amburadul, kata-kata sembarangan dan tindakan mulai menggila. Pikiran yang tidak lagi bernyanyi untuk memuji-muji Tuhan akan dikuasai oleh kedagingan yang syarat dengan kebencian, dendam dan amarah. Terlalu fokus kepada masalah bukannya membuat hati ini lega dan menemukan jalan keluar. Melainkan pelarian dari gejolak yang dihadapi yaitu menonton televisi, main game, makan-minum bahkan narkoba, seks bebas, miras, judi, rokok dan lain sebagainya.

Kian fokus terhadap kesulitan, makin besar kesulitan tersebut; lepaskan ikatan hitamnya lewat aktivitas positif

Pergumulan hidup yang kita hadapi berpotensi besar untuk mengacaukan hari-hari yang dijalani. Keadaan tersebut dipicu oleh satu-dua pertanyaan kecil saja, “mengapa harus saya yang mengalaminya Tuhan? Mengapa orang lain santai-santai saja?” Mulai dari pertanyaan sederhana semacam inilah, rasa penyesalan sekaligus sungut-sungut semakin menggelapkan hati manusia. Kita mulai kehilangan rasa damai, bahagia dan tenteram yang digantikan dengan suasana hati yang semakin tidak tenang. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk tidak fokus terhadap persoalan yang dihadapi. Memang hal tersebut terngiang-ngiang di dalam pikiran masing-masing tetapi tepislah itu dengan memfokuskan pikiran untuk memuji Tuhan (bisa juga dengan membaca firman, berdoa), menyelesaikan pekerjaan dan mempelajari hal-hal positif lainnya.

Persepsikan pergumulan hidup pada ranah yang baik agar dihadapi dengan sukahati

Harap diketahui bahwa segala sesuatu di dunia ini sangat tergantung dari persepsi yang dicapkan pada setiap peristiwa yang terjadi. Ketika anda dibohongi oleh orang lain lalu mengecap peristiwa tersebut sebagai “kisah pilu,” makin sedihlah hati ini. Saat mengkategorikan suatu kejadian mengesalkan, maka kian “meningkatlah sisi emosional” di dalam hati. Akan tetapi, saat anda mempersepsikan masalah sebagai rupa-rupa kehidupan yang biasa terjadi, pasti “legalah hati ini menghadapi setiap gonjang-ganjing kehidupan.” Oleh karena itu, hindari memandang suatu insiden sebagai kutukan melainkan aggaplah itu sebagai tantangan yang harus dibiasakan. Sebab cita rasa kehidupan selalu saja bergonta-ganti tetapi konsistensi kita untuk memperjuangkan kebenaran harus senantiasa dijaga.

Pengertian

Masalah adalah sisi gelap kehidupan yang membutuhkan penyelesaian namun kadang juga hanya perlu dibiarkan berlalu begitu saja. Ada banyak orang yang membicarakan kemelut hidup yang dijalaninya dan tidak sedikit pula yang memendam hal tersebut untuk dikonsumsi sendiri. Persoalan hidup yang dibuka atau tidak, sangat tergantung dari kemampuan menghadapinya dan pengalaman hidup yang dimiliki. Orang yang merasa dirinya tidak mampu menghadapi sesuatu, pastilah akan menceritakannya kepada keluarga/ sahabatnya. Sedang saat seseorang pernah memiliki pengalaman buruk akibat menceritakan masalahnya kepada orang lain, pastilah tidak akan mengulangi hal yang sama dikemudian hari. Keputusan untuk menceritakan hal yang dialami sangat tergantung dengan pribadi masing-masing, pastikan bahwa anda menemukan ketenangan dan kelegaan hati saat melakukannya.

Khasiat nyata, di balik soal-soal kehidupan yang kita hadapi

Dalam dunia ini, ada sisi gelap dan terang. Tidak bisa dipungkiri oleh siapapun juga bahwa ada bagian hari-hari kita ditawan oleh kesuraman dan ada pula bagian lainnya yang ditaburi dengan cahaya. Percaya atau tidak, inilah takdir manusia, tidak ada seorang pun yang dapat memungkiri hal tersebut. Justru ketika kita mengupas hidup terlalu ekstrim kemudian menyisihkan persoalan bahkan membuangnya sama sekali, tepat saat itulah hari-hari yang dilalui terasa hambar. Sama halnya seperti pelangi yang indah karena terdiri dari aneka warna. Demikianlah kehidupan yang diselingi oleh aneka penderitaan, asal saja derita tersebut ditanggung demi kebenaran, pastilah hati tetap semangat menapaki setiap langkah kaki. Berikut akan kami jelaskan, apa-apa saja faedah di balik semua tekanan yang terjadi.

  1. Mendekatkan diri kepada Tuhan.

    Terkadang kita merasa mampu berjalan sendiri mengarungi dunia yang kelam-pekat. Memang tidak selamanya kekelaman itu mengiringi hari-hari kita. Salah satu faedah penting penderitaan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat ditawari yang enak-enak saja, justru sikap cenderung melupakan Yang Maha Mulia. Rasa sakit mendorong kita agar selalu dekat kepada Allah, sebab di dalam-Nya, tekanan sekalipun mampu dihadapi dengan penuh kelegaan.

  2. Memantapkan fokus kepada Tuhan.

    Selama ini, mungkin kehidupan kita hanya ditujukan untuk menikmati materi. Kita sangat berbahagia karena berbagai pesona gemerlapan duniawi di sekitar. Tepat saat terjadi dinamika, semuanya itu hambar sedang hati dipenuhi oleh kekalutan. Pada titik ini kita sadar betul bahwa tidak bisa terus-menerus/ selamanya fokus kepada dunia, justru hal ini membuat kita rapuh. Sehingga kita mulai mengembangkan kemampuan otak untuk senantiasa fokus kepada Tuhan, karena di dalam-Nya terdapat kelegaan sejati.

  3. Melihat kuasa Tuhan.

    Bagi anda yang belum pernah melihat penyertaan Tuhan berarti selama ini masih menempuh jalan aman menghindari rasa sakit. Kita terlalu over protektif terhadap diri sendiri sehingga hidup jauh dari derita. Padahal, sekiranya kita mau merendahkan hati untuk merasakan pengabaian setelah mengasihi seseorang, pasti akan menemukan hadirat Tuhan. Sadarilah bahwa tidak ada penyertaan Tuhan saat kita hidup di bawah logika sendiri. Tetapi saat kita memperjuangkan kebenaran sejati, ada kemungkinan mengalami guncangan; tepat di saat itulah kita melihat kuasa Tuhan dimana hati tetap tenteram. Tidak ada manusia yang bisa menganugerahkan ketenteraman di tengah tekanan, hanya Tuhan saja yang mampu melakukannya, berharaplah kepada-Nya kawanku….

  4. Mendekatkan anda dengan orang lain.

    Pada awalnya, persoalan hidup menjauhkan kita dengan sesama. Ini adalah pertanda bahwa kita pemula kehidupan yang baru-baru saja disudutkan oleh tekanan hidup. Tetapi, ketika sudah mampu menerima kenyataan apa adanya, alhasil gejolak tersebut mampu dihadapi dengan lapang dada. Secara tidak langsung keadaan ini melatih kita menjadi pribadi yang tegar namun tetap santun di tengah peliknya himpitan hidup. Mereka yang sudah terbiasa menghadapi masalah cenderung tidak menjadi hal tersebut sebagai penghalang hubungan baik dengan sesama melainkan sebagai perekat yang meningkatkan rasa kebersamaan.

  5. Merendahkan hati.

    Kerendahan hati tidak diperoleh secara alami. Tabiat alami manusia pada dasarnya sombong. Tetapi lewat pergumulan hidup yang menerpa kehidupan, kita dilatih untuk merendahkan hati. Tanpanya, soal-soal yang kita hadapi akan semakin tajam, menusuk dan menjatuhkan. Kerendahan hati adalah sebuah cara untuk menyangkal diri sendiri sebelum orang lain menyangkalnya. Merupakan suatu upaya untuk tidak mengakui diri sendiri sebelum orang lain tidak mengakuinya. Atau lebih tepatnya, kerendahan hati adalah menghinakan diri sendiri sebelum orang lain menghina kita, bukankah ini sama dengan simulasi untuk menghadapi bully, ejekan, penghinaan dan fitnah?

  6. Membantu menghilangkan arogansi.

    Hanya orang-orang yang mau mengecilkan egonya yang mampu hidup dengan tenang. Arogansi dalam diri kita merupakan pencipta masalah terbesar dalam hati sendiri. Kita berusaha menggapai materi dan kemuliaan yang sesungguhnya tidak ada faedahnya. Semuanya itu hanyalah hal-hal sesaat yang tidak di bawa mati. Justru hasrat untuk meraih hal-hal yang tinggi membuat hidup kita tersudutkan dan batin pun tertekan. Dari sinilah seseorang belajar untuk menepis setiap arogansi sebab dia telah merasakan betapa buruknya suasana hati akibat mengejar hal yang tinggi-tinggi.

  7. Membantu meredupkan hawa nafsu yang tidak cocok.

    Sejak kita dilahirkan di dunia ini sampai sekarang, ada begitu banyak keinginan yang diikrarkan di dalam hati. Tidak apa, ikutilah semua keinginan tersebut asalkan tidak bertentangan dengan kebenaran hakiki. Seiring berlangsungnya proses-proses kehidupan, kita mulai memahami apa-apa saja hasrat yang cocok untuk diri ini dan apa pula yang tidak pas. Pengetahuan semacam ini baru diperoleh saat kita mengalami kekecewaan setelah mencoba meraih sesuatu. Tentu saja, apa yang membuat kita patah hati, cenderung tidak akan lagi menginginkan hal tersebut di waktu-waktu yang akan datang.

    Ini bukan patah hati soal kebenaran sebab hal yang benar haruslah diperjuangkan. Tetapi kekecewaan yang kami maksudkan adalah rasa yang timbul karena pilihan hidup yang kurang tepat. Pilihan tersebut tidak cocok kepada diri ini sehingga perlu membuat pilihan lain yang pas di hati.

  8. Menghindari sifat serakah.

    Awalnya beberapa orang akan mencari kenyamanan hidup dengan menaburi dirinya lewat berbagai-bagai kemewahan duniawi. Kebiasaan ini secara tidak langsung membuatnya sangat konsumtif terhadap materi sehingga menyebabkan over dosis. Kenyamanan yang dicarinya malah berubah menjadi racun yang mengganggu kesehatan fisik dan mental. Otomatis dengan merasakan penderitaan lewat penyakit (fisik) dan keresahan hati akibat ketamakan. Membuat orang tersebut tidak akan lagi mengulang kebiasaan buruk yang sama di hari-hari yang akan datang.

  9. Belajar menjadi ikhlas.

    Kita tidak mampu mengatur segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebab kita tidak dapat hidup sendiri di dalam dunia ini, ada peran orang lain, peran alam sekitar dan peran Tuhan yang ikut mempengaruhi kenyataan. Saat suatu persoalan timbul, besar rasa penolakan itu dari dalam hati. Namun mereka yang sudah melatih diri bersikap ikhlas akan dimampukan untuk menerima kenyataan tanpa menyisakan rasa gelisah. Simak juga, Tips agar ikhlas menjalani hidup.

  10. Melatih kemampuan melupakan dendam.

    Dendam adalah rasa benci yang dipendam. Ini bisa saja meluap dalam berbagai bentuk di kemudian hari, bisa berupa amarah dalam bentuk kata-kata maupun lewat tindakan yang keras. Orang yang pernah merasakan betapa jelek dan hancurnya hidup ini akibat melampiaskan dendam kepada sesama, pasti tidak akan lagi mengulangi hal yang sama di waktu mendatang.

  11. Melatih kemampuan menekan amarah yang membabi buta.

    Manusia tidak akan pernah bisa menjauh dari suatu kebiasaan sebelum hal tersebut membawa efek buruk bagi kehidupannya. Seorang pemarah akan terus-menerus marah selama hal tersebut tidak mendatangkan masalah di dalam hatinya. Akan tetapi, tepat saat kemarahan kita membuat hati jauh dari kedamaian, besar kemungkinan di waktu yang akan datang berusaha mencegah hal yang sama terulang lagi.

  12. Melatih kemampuan memaafkan dan meminta maaf.

    Suasana hati terganggu saat kita belum mampu memaafkan orang-orang tertentu. Saat ketemu dengan mereka, kita menjadi kurang luwes bersikap. Begitu mereka dilebihkan kehidupannya, kita enggan untuk mengucapkan selamat. Sewaktu mereka ditimpa kesialan, kita malah berucap “syukurin loe….” Keadaan ini jelas membuat hari-hari yang dijalani semakin jauh dari hati yang tenteram. Satu-satunya jalan untuk melepaskan suasana hati yang buruk ini dengan maafkan orang yang bersalah kepada kita.

    Saat kita bermasalah dengan orang lain, ada kemungkinan hati menjadi tidak tenang. Suara hati berusaha mengarahkan kita untuk meminta maaf. Kita berlambat-lambat untuk meminta maaf sehingga hatipun semakin berat rasanya. Akhirnya mau juga menyampaikan kata maaf kepada si kawan itu, terserah dia mau berkata apa; yang penting hati menjadi lega karena beban hidup terlepas.

  13. Menepis ketakutan di dalam hati.

    Mereka yang sudah sering didera oleh masalah lebih berani menghadapinya di waktu yang akan datang dibandingkan dengan mereka yang baru-baru pertama. Orang yang menghadapi persoalan hidup secara bertubi-tubi akan dididik untuk memperoleh keberanian untuk menghadapi pahitnya persoalan. Tentu saja keadaan ini turut dipengaruhi karena mereka tidak fokus kepada kesesakan yang sedang terjadi tetapi terus memusatkan pikiran untuk memuji-muji Tuhan di dalam hati masing-masing.

  14. Belajar melepaskan ketergantungan terhadap kenikmatan duniawi – FOKUS MATERI MENGUAP.

    Kita menjadikan materi sebagai sumber kesenangan hidup. Mencarinya dengan sungguh-sungguh agar jumlahnya semakin bertambah lagi dan lagi. Sayang, begitu materi yang dimiliki lebih kecil dari kepunyaan orang lain, rasa senang di dalam hati menciut. Kita justru menjadi jemu karena semua itu hanyalah pengejaran yang hampa. Mustahil untuk mengkonsumsi materi terus-menerus bisa menimbulkan penyakit. Lalu kitapun beralih untuk mencari kebahagiaan lewat aktivitas positif yang dijalani, yaitu fokus kepada Tuhan, bekerja dan belajar.

  15. Belajar merelakan ketagihan dari kemuliaan duniawi – FOKUS KEMULIAAN BERAKHIR.

    Manusia terlalu fokus kepada apa yang dilihat dan didengarnya. Berpikir bahwa saat dirinya dipuji, dihormati dan dipopulerkan maka akan ada kesenangan yang selama ini dicarinya. Sayang semua itu hanya berlangsung dalam hitungan jam, selama beberapa menit bahkan ada yang hanya terjadi selama beberapa detik saja (pujian). Keadaan ini, secara otomatis membuatnya tidak puas lalu mencari kebahagiaan sejati yang hanya bisa ditemukan dengan mengasihi Allah seutuhnya dan sesama manusia seperti diri sendiri.

  16. Mulai membiasakan diri dengan fluktuasi kehidupan.

    Setiap orang harus menyadari bahwa kehidupan ini tidak datar-datar saja. Sama halnya seperti permukaan bumi, ada gunung, lereng, lembah, perbukitan, dataran tinggi dan dataran rendah. Lekak-lekuk bumi sama seperti gonjang-ganjing dinamika kehidupan yang tidak melulu bercerita tentang yang baik-baik saja melainkan ada pula yang mendatangkan duka lara. Di atas semuanya itu, baiklah kita membiasakan diri dengan pola-pola tersebut, hindari menolak dan melawannya melainkan bersihkan niat saat bersikap agar mampu mengarahkannya demi kebaikan.

  17. Mengasah kemampuan bersikap sabar.

    Masalah membuat kita menunggu atau menungu bisa mendatangkan permasalahan dalam kehidupan ini. Semakin banyak proses menunggu yang kita hadapi, kian terlatih juga sikap sabar di dalam hati. Tentu saja di tengah-tengah proses tersebut kita tidak berdiam diri melainkan senantiasa memusatkan pikiran untuk memuji-muji nama Tuhan di dalam hati ini. Ketika kita telah belajar untuk keluar dari kebiasaan menunggu yang membosankan melainkan mampu menikmati semuanya itu sebagai suatu kesempatan untuk bersikap dewasa. Tepat saat itulah, sikap penyabar menjadi milik kita selamanya.

  18. Mengasah kemampuan bersikap tenang dalam berbagai situasi.

    Pergumulan hidup cenderung membuat hati tidak tenang. Muncul kegelisahan ketika kita tidak lagi mampu memandang hidup dari persepsi positif. Terlebih ketika hal tersebut terjadi secara bertubi-tubi. Orang yang melepaskan kesenangan mengejar arogansi dan hawa nafsu lalu mengarahkan hidup untuk memperjuangkan kebenaran, pasti akan menemukan ketenangan di dalam hatinya. Sebab semakin bergantung pada hal-hal duniawi malahan hati makin jauh dari kedamaian sejati.

  19. Mengasah kebahagiaan sejati dalam diri masing-masing.

    Materi selalu saja menimbulkan persoalan, cepat atau lambat. Pada satu titik kehidupan, anda akan mengetahui bahwa kesenangan yang diberikan oleh materi sifatnya sesaat saja. Rasa bahagia yang dinikmati bagaikan kelap-kelip yang tidak stabil. Keadaan ini secara otomatis menciptakan ketidakpuasan yang semakin dalam. Satu-satunya cara untuk menemukan rasa bahagia yang sejati adalah dengan mengejar kebenaran yang hakiki. Fokuskan hidup kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Lalu janganlah lupa untuk berbuat baik kepada sesama di sela-sela pelajaran dan pekerjaan yang ditekuni.

  20. Meningkatkan kecerdasan.

    Kita memang menerima masalah apa adanya tetapi bukan berarti terjebak dalam permasalahan yang sama terus-menerus. Melainkan cerdaslah menghadapi pergumulan hidup. Berusaha untuk tidak terjebak dalam kesalahan sendiri, mencicipinya sesekali sudah cukup untuk dijadikan pengalaman. Agar di hari-hari yang akan datang tidak lagi terjatuh dalam persoalan yang serupa. Semakin sering menghadapi kesulitan, makin lihai pula kemampuan kita untuk mengantisipasinya sejak dari awal. Agar akibatnya lebih minimal bahwkan bila perlu tidak ada sama sekali (semua sudah dibiasakan).

  21. Memajukan kesadaran.

    Otak kita tertidur oleh karena terus terlena dengan gemerlapan duniawi. Dengan munculnya suatu persoalan, setidak-tidaknya kita selalu fokus bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati. Agar sekiranya bisa, Tuhan menganugerahkan pencerahan untuk menginspirasikan kepada kita, bagaimana seharusnya kiat-kiat mengatasi peliknya pergumulan tersebut.

  22. Mengasah kemampuan mengendalikan diri.

    Saat suatu tekanan menghimpit kehidupan kita, banyak teriakan emosional yang berdendang di dalam hati. Sekarang, tergantung pilihan masing-masing orang, mau mengikuti hasutan yang penuh emosional atau memilih mencari ketenteraman hati untuk menempuh jalan tengah yang tidak merugikan orang lain dan juga diri sendiri. Bahkan terkadang kita harus mengalah agar cek-cok tersebut tidak semakin buruk yang menggiring kita ke jalan-jalan menyimpang.

  23. Belajar menjadi waspada.

    Kita perlu berjaga-jaga dalam setiap hembusan nafas ini. Selalu berupaya untuk memprediksi persoalan yang sedang berlangsung tetapi tidak melakukannya secara berlebihan. Orang yang terlalu waspada cenderung melupakan nilai-nilai kebenaran saat bertindak. Terlalu hati-hati juga bisa membuat kita suudzon.

    Cara waspada yang paling standar adalah dengan senantiasa memfokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk kemuliaan nama-Nya. Juga turut mengambil bagian untuk berbuat baik kepada sesama di sela-sela pelajaran dan pekerjaan yang digeluti. Aktivitas positif semacam ini sudah cukup membuat kita waspada. Sekalipun ada prasangka hindari terus-menerus fokus kepada hal tersebut. Tetepi berusahalah mengeluarkan hal-hal yang baik dari dalam perbendaharaan hati sembari melakukan tindakan pencegahan sewajarnya saja.

  24. Melatih kemampuan menyesuaikan diri.

    Kemampuan menyesuaikan diri tidak sampai menggiring manusia untuk menjadi abai terhadap kebenaran hakiki. Artinya, bila kemampuan beradaptasi yang kita lakukan menjauhkan diri ini dari Tuhan dan sesama, tepat saat itu juga adaptasi yang digembar-gemborkan salah total. Beradaptasilah tanpa harus meninggalkan kebaikan hatimu, justru kebaikan hati itulah yang membuat kita diterima dimana-mana. Artinya, orang yangg baik hatinya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dibandingkan mereka yang sombong.

    Kita perlu menyesuaikan diri karena paham betul bahwa hati tidak lagi tenang karena sifat yang jauh dari hal-hal yang benar. Orang yang kuat/ tegar tapi lembut adalah puncak adaptasi manusia. Anda akan diterima dimana saja saat selalu tabah menghadapi pencobaan dan tetap santun kepada setiap orang yang ada di sekitar kita.

  25. Melatih kebijaksanaan.

    Sumber kebijaksanaan utama berasal dari dalam Kitab Suci yang dipercayai. Salah satu saat tepat untuk menjadi bijak adalah saat kita menerapkan nilai-nilai kebenaran ketika menghadapi pergumulan hidup. Secara berangsur-angsur, kita akan dilatih untuk menemukan momen yang tepat untuk berbagi. Juga dipertemukan dengan intonasi kehidupan yang membuat kita mampu mengikuti arus dunia ini tanpa kehilangan jati diri yang sesungguhnya. Pada akhirnya, kita akan menemukan manfaat di balik semua kesulitan yang terjadi sehingga dapat dihadapi dengan lapang dada.

  26. Mengasah kreativitas.

    Tahukah anda bahwa sebagian besar dari tulisan yang kami muat dalam blog ini didasarkan dari pengalaman hidup? Bagi anda yang hendak melakukan hal yang sama, silahkan atasi masalahmu lalu bagikan cara untuk menyelesaikannya kepada sesama. Bukankah itu bagian dari kreativitas juga?

    Di atas semuanya itu, harap berhati-hati! Jangan sampai solusi yang kita berikan hanyalah sebuah pelarian dalam upaya membela diri dari kesalahan yang dilakukan sendiri. Jangan sampai, tulisan yang kita publikasikan hanya bermuatan emosional yang cenderung mencari pembelaan.

  27. Belajar menjadi mandiri.

    Saat kita terlalu ketergantungan dengan orang lain, ada banyak masalah yang dihadapi. Kita terpaksa hidup di bawah kendali mereka sebab kebutuhan dipenuhi mereka. Karena semuanya itu, kita mulai belajar memisahkan diri secara perlahan tetapi pasti. Walaupun hal tersebut tidak terjadi secara totalitas, setidak-tidaknya kita tidak ingin merepotkan orang lain lewat kehadiran diri ini. Kita mulai belajar mandiri dan menerima apa adanya tanpa memaksakan kehendak sebab hidup ini masih di bawah kendali orang tersebut.

  28. Membentuk kepercayaan diri.

    Sadar atau tidak, keberhasilan menemukan solusi dari persoalan yang dihadapi dapat meningkatkan nilai kepercayaan diri sendiri. Orang yang mampu menemukan kelegaan di tengah tekanan hidup akan lebih percaya diri ketimbang mereka yang tidak mengalami kesulitan. Oleh karena itu, berbahagialah saat kesulitan mulai meremukkan kehidupan lalu temukan ketenangan di tengah tekanan tersebut bahkan peroleh jawaban atas pergumulan itu niscaya rasa percaya diri akan tumbuh dengan subur.

    Saat ujian kehidupan menerpa diri sendiri, bertahanlah dari setiap goncangannya dan temukan ketenteraman hati bahkan berbuat baiklah kepada para pengujimu. Alhasil nilai kepecayaan diri akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Di atas semuanya itu, janganlah juga lupa untuk menyangkal diri sebab kesombongan justru membuat sifat kepedean berubah menjadi tindakan serampangan yang terlalu tergesa-gesa.

  29. Terbiasa dengan rasa sakit.

    Kebaikan hati yang diabaikan terus-menerus akan menimbulkan rasa kecewa. Mereka yang menghidupi rasa kekecewaannya dengan terus fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja akan dimampukan untuk terbiasa dengan rasa sakit. Ketika keramahan yang kita lakukan dibalas dengan sikap acuh tak acuh, tidak ada lagi penyesalan dan sungut-sungut sebab hati senantiasa memuji-muji Tuhan dari waktu ke waktu.

  30. Melatih kemampuan berpikir positif.

    Masyarakat mengartikan pergumulan hidup sebagai suatu beban yang menyakitkan. Ada orang yang cenderung menghindarinya bahkan mereka kehilangan kesempatan untuk melakukan kebaikan karena terlalu waspada. Keadaan ini jelas merugikan walau menurut pemikiran seseorang menghindar adalah sebuah keuntungan. Memang tidak selamanya menghindar itu diperlukan dan tidak selamanya juga pergumulan hidup harus dijejaki. Orang yang bijak akan mampu menemukan titik temu antara kedua hal tersebut.

    Khusus untuk persoalan yang timbul akibat kebaikan yang diabaikan orang lain, kita perlu berpikiran positif untuk tetap semangat melakukannya. Sebab saat momen diabaikan itu terlalu besar akan memunculkan sifat apatis yang juga membuat kita semakin cuek kepada kebutuhan orang lain. Bahkan besar kemungkinan tidak peduli lagi dengan sesama, yang penting keinginan tercapai sekalipun dengan menghalalkan segala cara.

    Orang yang mampu berpikir positif di tengah persoalan akan menjadikan masalah tersebut sebagai sahabatnya. Mereka menganggapnya sebagai kesempatan untuk melatih kemampuan mengendalikan emosi sehingga terhindari dari tindakan yang menyimpang. Pikiran yang tetap positif juga memampukan kita untuk tetap bahagia di tengah peliknya persoalan hidup. Simak juga, Cara berpikir positif.

  31. Menghindari kesalahan yang sama dikemudian hari.

    Mereka yang pernah bermasalah akibat dari kesalahan yang dibuatnya akan menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman berharga. Tidak akan lagi mengulangi hal yang sama dikemudian hari sebab rasa malu karena dosa yang dahulu masih terngiang di dalam hati. Pengalaman masa lalu yang menyakitkan bisa membuat seseorang lebih waspada agar tidak terjebak dalam kesalahan yang sama.

    Harap juga diingat bahwa saat melakukan kebenaran dibutuhkan pengorbanan. Ada juga rasa sakit ketika kita mengasihi sesama seperti diri sendiri. Itulah pengorbanan yang baunya menyenangkan hati Tuhan. Jangan pernah menyerah untuk melakukan kebenaran karena dari sanalah muncul semangat yang sejati. Tetapi kapoklah saat melakukan dosa sebab hal tersebut memperkeruh suasana hati.

  32. Melatih konsistensi melakukan yang benar.

    Hidup ini seperti gelombang lautan yang tidak pernah datar. Sebab kita berhadapan dengan orang yang berbeda setiap hari, ada yang sudah dewasa dan ada yang tidak, ada yang serius dan ada yang main-main, ada kepahitan dan ada madu kehidupan. Semua hal-hal tersebut berlangsung secara fluktuatif tetapi bukan demikian dengan perjuangan kita saat melakukan kebenaran. Kita perlu menjaga konsistensi saat mengasihi Allah seutuhnya dan sesama manusia seperti diri sendiri. Dengan sikap konsisten itulah, kita beroleh keberkahan yang utuh dari Sang Pencipta. Saat kita tidak mampu menjaga integritas, besar kemungkinan berkat yang kita rasakan juga sifatnya tanggung.

  33. Memfokuskan pengharapan kepada surga.

    Pertengkaran demi pertengkaran terjadi karena kita terus memperebutkan hal-hal duniawi. Bukannya malah menemukan kelegaan di setiap nafas ini melainkan terbesit kehampaan karena kita berjuang untuk hal-hal yang fana. Gonjang-ganjing kehidupan akhirnya membuat kita mengerti bahwa segala pengejaran akan materi adalah sia-sia. Dari sinilah kita mulai meninggalkan kebiasaan lama menaruh pengharapan kepada dunia ini lalu akan mengarahkan pencapaian hidup ke arah sorga yang kekal.

Kesulitan hidup tidak ada saat kita sudah memahami bahwa dunia ini seperti hitam dan putih. Tidak ada yang salah dengan si hitam dan tidak ada yang salah dengan si putih. Persolannya adalah hati kita telah mengecap hal tersebut sebagai beban hidup. Padahal semuanya itu bermanfaat adanya untuk meningkatkan nilai hidup anda (perhatikan judul sebelumnya). Jikalau membiasakan diri terhadap fluktuasi kehidupan sambil-sambil menyibukkan diri dengan aktivitas positif (fokus Tuhan dan mengasihi sesama lewat pelajaran juga melalui pekerjaan) niscaya semua itu bisa menjadi budaya yang mendatangkan kebahagiaan sejati.

Seperti siang dan malam yang terus berganti, demikianlah kita selalu diperhadapkan dengan masalah. Seandainya kekuatan/ power disetarakan di antara manusia (keadilan sosial) tidak ada persoalan yang begitu besar untuk di atasi oleh masing-masing orang, melainkan semua itu soal-soal sederhana yang tidak sampai menimbulkan kehilangan nyawa bahkan materi sekalipun. Akan tetapi, saat para kapitalis berkuasa, ada banyak masalah yang timbul di dalam masyarakat sebab masing-masing berebut kekayaan, sumber daya dan kekuasaan. Mereka yang memiliki kekuatan lebih besar makin tinggi juga potensinya untuk menimbulkan kericuhan di tengah masyarakat luas. Hadapi pergumulan hidup sehari-hari dengan cerdas dan tetap waspada tetapi jangan sampai kebiasaan itu melenyapkan kebiasaan fokus kepada Tuhan dan kebaikan hati ini. Biasakan diri bermasalah lewat kebaikan yang kita tebarkan dengan murah hati kepada sesama (ramah-tamah). Ini adalah latihan awal untuk membiasakan diri dengan kesulitan yang adalah bagian dari kehidupan setiap insan di muka bumi.

Salam, gonjang-ganjing kehidupan perlu dibiasakan,
Temukan kesejukan di tengah peliknya persoalan,
asah kemampuan untuk selalu berpikir positif,
bina kebiasaan fokus kepada Tuhan selalu aktif,
latih kebaikan hati pada sesama secara intensif
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.