Keluarga

7 Ciri Khas Penyembahan Berhala, Awal Semua Dosa Adalah Penyembahan Berhala


Ciri Khas Penyembahan Berhala – Awal Semua Dosa Adalah Penyembahan Berhala

Pemujaan terhadap dunia adalah penyembahan berhala

Tergiur akan pesona indra adalah awal dari memberhalakan dunia ini. Manusia terpesona oleh harta benda yang banyak menggunung. Matanya berbinar-binar melihat perhiasan yang mahal lalu hanyut oleh kemewahan materi. Telinganya bak cendawan mengembang saat mendengar jabatan di atas angin kemudian terlena oleh kekuasaan yang merajai. Kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang menggerayangi indra telah membius manusia. Mata hatinya tidak lagi cemerlang melainkan redup dan cenderung mengarah kepada hitam pekatnya kejahatan. Boleh saja penampilan terlihat rohani tetapi hatinya dekil karena penuh pemujaan akan hal-hal duniawi. Hal duniawi itulah yang dipuji-pujinya, semata-mata untuk membuatnya senang.

Tidak bisa terus-menerus memuja dunia sehingga hati kurang puas, bosan dan hampa

Sayang, manusia melupakan esensi dasar kepuasan hatinya. Kita membutuhkan sesuatu yang sifatnya terus-menerus untuk membuat diri sendiri terus berpuas hati. Sedang hal-hal duniawi hanya bisa dikonsumsi sesekali saja. Saat kita terlalu serakah lalu mengkonsumsi hal tersebut secara terus-menerus, tepat saat itulah rasa bosan mulai bertunas. Mereka yang kurang bijak akan terjatuh lebih dalam lagi, ketika memilih opsi untuk meningkatkan nilai materi yang hendak dikonsumsi. Membeli barang dan jasa yang nilainya lebih tinggi dari semula kemudian berpikir bahwa hal tersebut mampu mendatangkan kebahagiaan. Padahal semuanya  itu hanya sesaat saja, adalah mustahil dikonsumsi lebih sering secara berkelanjutan.

Berhala duniawi wujudnya sifat konsumtif, mengarahkan manusia dalam kejahatan

Materi dan kemuliaan tidak bisa terus-menerus ada. Akan tiba waktunya dimana hal tersebut habis juga pada waktunya. Orang yang serakah akan melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sekitarnya dan menggiatkan eksploitasi terhadap sesama manusia. Pada tahapan inilah, keberadaan kita telah merusak tatanan lingkungan alamiah dan situasi sosial di dalam masyarakat menjadi keruh. Sedang di sisi lain, penyakit iri hati semakin berkembang luas sehingga terjadilah persaingan ketat dalam berbagai lini kehidupan. Ada yang menang, ada yang kalah dan lebih banyak lagi orang-orang yang menyimpang dari jalan yang benar. Mereka kehilangan arah dan melakukan kejahatan karena hawa nafsu yang terlalu berlebihan terhadap berbagai kemilau duniawi.

Sistem yang ada mengarahkan manusia untuk cinta terhadap hal-hal duniawi

Sadar atau tidak, semua dosa adalah perwujudan dari aktivitas penyembahan berhala. Manusia melupakan Tuhan saat hidupnya difokuskan kepada hal-hal duniawi. Kita menciptakan sistem yang berjenjang di dalam masyarakat, yang membentuk semacam strata sosial. Suatu pengorganisasian yang telah terlepas dari sendi-sendi dasar kehidupan yang disebut sebagai dasar negara (Pancasila khususnya sila ke lima). Tanpa sadar, beberapa kalangan terlanjur cinta dengan pengorganisasian semacam itu sehingga mereka berusaha untuk meraihnya. Menorehkan perjuangan yang lebih besar semata-mata untuk menempati posisi terbaik di dalam masyarakat. Berusaha meraih puncak-puncak kehidupan sekalipun menghalalkan segala cara.

Sistem kapitalisme mengarahkan manusia untuk saling melemahkan agar beroleh keuntungan

Di sisi lain kehidupan, manusia-manusia cerdas menyembunyikan rahasia ilmu pengetahuan. Menyimpan sangat rapi untuk diri sendiri, berbagai informasi penting yang mendatangkan kemakmuran. Membiarkan orang lain terhempas dalam kebodohan dan kemiskinannya. Lalu datang sebagai pahlawan menawarkan solusi yang dapat diperjual-belikan. Mengiklankan berbagai produk seolah-olah masyarakat membutuhkannya. Menawarkan solusi yang menciptakan ketergantungan terhadap orang lain. Mencari cara-cara licik agar semakin banyak orang yang meminati produk tersebut. Membiarkan produk sampah beredar di tengah masyarakat, semata-mata demi keuntungan besar dan agar kian banyak warga yang sakit sehingga semakin ketergantungan kepada kapitalis.

Ciri-ciri penyembahan berhala

Penyembahan berhala adalah praktek menjadikan hal-hal duniawi (materi & kemuliaan) sebagai tujuan hidup utama di bumi ini. Praktek semacam ini sangat dekat dengan sifat konsumtif, gila akan kemewahan, candu terhadap kenyamanan, sakau oleh pujian, mabuk dalam penghargaan dan bangga terhadap penghormatan. Padahal semuanya itu, tidak terus-menerus ada, mulailah melakukan berbagai aksi sensasional, manipulatif dan konspiratif demi mengadakan semuanya itu. Namun tetap saja hal tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hati yang sifatnya terus-menerus (continue). Keadaan ini akan berimbas kepada kehampaan, kegalauan, kepiluan, kepalsuan dan tekanan hidup yang berkepanjangan. Rasa stres inilah yang bisa mengarahkan manusia dalam berbagai perilaku kotor yang menyimpang.

Berikut akan kami sebutkan beberapa ciri khas dari praktek penyembahan berhala yang sering sekali tidak kita sadari namun kerap kali dilakukan dalam hidup sehari-hari.

  1. Bangga terhadap diri sendiri (potensi).

    Khas dengan kebiasaan memuji diri sendiri. Seperti yang kami sampaikan pada paragraf sebelumnya bahwa manusia mencari kepuasan selama hidup di dunia yang fana ini. Ada banyak cara seseorang untuk merasakan kesenangan sehingga rasa sedih diusir dari dalam hati. Manusia juga cenderung mencari kesenangan yang sama untuk menghibur hati ketika masalah menerpa hidupnya.

    Memuji diri sendiri di dalam hati merupakan salah satu kebiasaan yang sering dipraktekkan manusia. Mereka hendak melenyapkan berbagai kegelisahan yang meradang dengan membanggakan diri sendiri di dalam hati. Seolah-olah memiliki potensi yang berada di atas orang lain, padahal semua itu hanya berasa dua-tiga kali hembusan nafas saja. Tepat saat mereka melihat orang yang lebih baik darinya, rasa dengki meradang di dalam hati sehingga kegelisahan itu muncul kembali.

    Orang yang selalu merasa bisa sendiri menjalani kehidupan. Merasa bahwa semua yang dimiliki berasal dari hasil usaha sendiri. Otak, tangan dan kakinyalah yang berjuang dengan sekuat-kuatnya sehingga semua hal yang luar biasa tersebut dapat diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Bahkan dia juga sering sekali bertutur kata membanggakan diri sendiri di antara sesamanya.

    Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana jadinya rasa bangga tersebut ketika menyadari bahwa di luar sana masih banyak orang yang lebih baik dari diri ini? Bagaimana jadinya kebiasaan memuji diri tersebut saat bertemu dengan orang yang lebih hebat dan lebih tenar dari diri ini? Jangan-jangan rasa cemburu meradang di dalam hati. Timbul pula niat untuk menjatuhkan dan menjebak orang tersebut agar sekiranya mungkin pamornya berada di bawah kita….

  2. Meninggikan seseorang di antara manusia.

    Meninggikan manusia jelas sesat. Ini sama saja dengan memberhalakan orang tersebut dalam kehidupan kita. Seperti kita sujud menyembah kepada Tuhan, demikianlah kita sujud menyembah kepada orang tersebut. Memperlakukan dia seperti dewa yang baru saja turun dari kayangan. Memenuhi semua keinginannya semata-mata agar kita ditempatkan di sisinya. Atau setidak-tidaknya menjadi salah satu kaki tangan, pengikut, bawahan atau suruhannya.

    Masalahnya sekarang adalah bagaimana jadinya saat kita menyadari bahwa orang yang selama ini kita puja-puja ternyata memiliki kelemahan juga? Dia bahkan pernah juga melakukan kesalahan di depan umum. Sikapnya juga terbilang kurang sopan dan kurang ramah dibandingkan dengan manusia lainnya. Belakangan ini kita malah mendengar beberapa skandal yang melibatkan dirinya. Terlebih lagi saat kita mendengarkan bahwa dirinya terlibat dengan aksi pencucian uang, penggelapan dan korupsi (KKN) juga berbagai perilaku menyimpang lainnya.

    Jika ada yang harus ditinggikan di antara manusia, itu adalah peraturan. Manusia tidak layak diberikan kekuasaan dan ditempatkan pada posisi yang tinggi. Melainkan biarlah peraturan di antara masyarakat yang ditinggikan agar setiap orangg mematuhi dan mentaatinya. Tentu saja aturan yang kami maksudkan di sini adalah peraturan yang adil dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran yang hakiki.

  3. Memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki untuk memanipulasi orang.

    Ilmu yang dimiliki kita simpan baik-baik untuk diri sendiri. Sedang kita tahu bahwa di luar sana masih banyak orang yang dapat diselamatkan dengan pengetahuan tersebut. Saat ada kesempatan untuk memberitahu solusinya kepada mereka, kita enggan melakukannya. Sebab besar keinginan di hati agar orang-orang tersebut jatuh tak berdaya. Tepat saat mereka sudah tak berdaya, kita datang sebagai pahlawan kesiangan untuk memberitahukan jalan keluar berbayar sebagai solusi. Lewat aksi penyelamatan heroik tersebut kita pun bangga, memuji diri sendiri sebab lewat kejadian tersebut harta yang dimiliki semakin berjibun.

    Masalahnya sekarang adalah bagaimana jadinya kehidupan kita saat lahan usaha yang syarat manipulasi tersebut beroleh saingan? Masihkah kita tersenyum senang saat mengetahui bahwa ternyata ada orang yang lebih pintar dari diri ini meracik resep yang lebih ampuh. Mungkinkan kita masih bertahan dalam persaingan ketika produk kuliner atau obat herbal yang lain lebih laris-manis dari yang dimiliki? Jangan-jangan kita stres, membanting stir, menciptakan masalah baru di masyarakat, menimbulkan penyakit baru, memicu sifat konsumtif yang lebih gila hanya untuk memperdagangkan produk yang dimiliki?

  4. Menjadikan kenikmatan duniawi sebagai tumpuan dan tujuan hidup.

    Kita juga kerap menjadikan kenikmatan materi sebagai sumber kesenangan hidup. Membanggakan harta benda yang dimiliki di antara teman-teman untuk beroleh pujian dan pengakuan. Melakukan berbagai aksi manipulasi demi memperoleh nilai kekayaan yang lebih tinggi. Menipu lebih banyak orang agar uang yang dimiliki semakin tinggi. Membungakan lebih banyak uang agar keuntungan yang didapatkan semakin berlipat ganda. Menjadikan uang sebagai tujuan hidup utama di atas segala-galanya bahkan melebihi hasrat kita terhadap surga.

    Hidup menyendiri dalam tembok-tembok indah dan mewah lalu berpikir bahwa itu adalah kesenangan abadi. Berlindung dari berbagai kebisingan duniawi dengan membangun residen yang jauh dari pemukiman penduduk dan tidak dekat dengan jalan raya juga jauh dari keramaian hiruk-pikuk tetangga dengan kepentingan yang berbeda.

    Setiap orang percaya bukan tidak boleh kaya. Hanya saja, masalah yang kemudian muncul setelah kita kaya raya adalah kenikmatan duniawi yang dirasakan menggantikan posisi Tuhan di dalam hati. Saat masalah besar atau kecil, larinya bukan kepada Tuhan melainkan kepada berbagai nikmat duniawi yang fana itu. Seolah-olah materi menjadi sandaran ketika hal-hal sulit terjadi selama hidup ini.

    Persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana jadinya ketika ada orang-orang yang lebih baik dari diri ini? Apakah rasa bangga itu masih menyenangkan? Kemudian bagaimana pula jadinya ketika diperhadapkan dengan situasi yang penuh gangguan? Mampukah orang angkuh tersebut bertahan di tengah aneka kepentingan yang saling bersinggungan satu sama lain? Masih bisakah kita terus tenang dan tersenyum sewaktu diperhadapkan dengan situasi yang penuh dinamika?

  5. Menjadikan kemuliaan duniawi sebagai sandaran dan visi ke depan.

    Kegemaran manusia adalah suka meraih yang tinggi-tinggi. Saat sistem menawarkan sebuah posisi strategis dimana seseorang dimungkinkan untuk menjadi pusat perhatian. Beroleh segala pujian, pengakuan, penghargaan dan penghormatan sebagai yang petama dari semua orang. Menempati posisi terbaik di dalam masyarakat untuk dianugerahkan jabatan dewa yang kehadirannya selalu disambut dengan tari-tarian kegirangan.

    Bagaimana jadinya reaksi manusia ketika terjadi pertarungan untuk memperebutkan jabatan tertinggi? Sudah siapkah anda mempertaruhkan nilai uang yang lebih banyak untuk mengejar posisi terbaik itu? Apa sudah tahu resiko yang harus ditanggung untuk memiliki gaji super tinggi dan fasilitas super megah tersebut? Semakin tinggi hadiahnya, makin banyak orang yang bertaruh untuk mendapatkannya. Kian besar pula pengorbanan yang dilakukan bahkan cara-cara kotor pun dilegalkan demi beroleh paket kombo kekuasaan.

    Mengejar posisi terbaik di dalam masyarakat hanya untuk beroleh pangkat yang lebih baik dari orang lain. Mencari kemuliaan lewat torehan berbagai prestasi agar beroleh gelar ternama. Semuanya ini dicari cuma untuk membuat hati senang seketika lalu semuanya terlupakan. Kenyataannya, segala kemuliaan yang kita impi-impikan hanya sebentar saja menyisakan kesenangan, kemudian dengan apa anda mengisi hati ini agar kesenangan yang dangkal itu tetap ada?

  6. Menjadikan mesin berteknologi sebagai harapan dan tujuan hidup kita.

    Manusia begitu bangga dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Lewat semuanya itu, ditemukan berbagai mesin untuk menciptakan rasa nyaman di antara manusia. Semua serba otomatis dimana pemilknya tidak perlu lagi aktif. Tinggal colok, tekan, klik dan ketik maka semuanya akan bekerja sendiri sesuai dengan yang kita perintahkan. Kita berjalan dengan manis di atas roda-roda santai hingga sampai ke tempat tujuan masing-masing. Kita begitu menyanjung berhala teknologi tersebut lalu berharap bahwa ini adalah solusi masa depan yang modern.

    Bisakah kita memahami akibat dari pemanfaatan mesin secara berlebihan oleh masyarakat? Bahan bakar minyak yang digunakannya, asap-asap yang di buangnya ke udara dan sperepart mesin yang bertebaran di lingkungan akan menyebabkan pencemaran. Pada satu titik, semuanya itu menimbulkan kerusakan lingkungan. Keadaan ini diawali dengan meningkatnya tekanan atmosfer sehingga suhu udara semakin tinggi dari tahun ke tahun (disebut juga pemanasan global). Lalu keadaan ini akan dinetralisir oleh alam yang diiringi dengan terjadinya berbagai bencana alam. Mulai dari banjir, tanah longsor, banjir bandang, badai (angin kencang, topan, puting beliung), kekeringan, gelombang panas, badai matahari, gagal panen dan lain sebagainya.

    Belum lagi masalah kebobrokan moral yang terjadi akibat efek samping kemewahan yang ditawarkan mesin-mesin tersebut. Manusia terus saja digiring dalam praktek yang serba diam tanpa melakukan sesuatu. Akibatnya tingkat kecerdasan terkikis dan kesadaran terus anjlok. Kemampuan mengendalikan diri semakin berdampak pada temperamen yang kurang sabar, suka sembarangan, cari sensasi dan amburadul.

    Efek samping paling nyata dari berhala yang satu ini adalah ketika kita menjadi pengetahuan sebagai penghancur kehidupan orang lain. Menembak, membom, meracuni dan melumpuhkan orang lain lewat perang nyata dan perang gerilya. Perang dingin persaingan teknologi telah menciptakan banyak jebakan yang menimbulkan kericuhan secara diam-diam. Semua ini akibat barang-barang elektronik yang pada awalnya dibangga-banggakan.

  7. Menciptakan sistem yang tidak adil.

    Manusia memang berkembang dalam kesetaraan secara kasat mata tetapi sistem bermasyarakat masih menerapkan kekuatan pengorganisasian yang berjenjang. Strata sosial tidak nampak dalam cara berpakaian tetapi struk gaji dan jaminan fasilitas sangat nyata perbedaannya di antara keluarga yang satu dengan yang lain.

    Akibatnya, orang yang merasa dirinya berada di atas bisa saja bersika semena-mena terhadap orang yang ada di bawahnya. Bahkan mereka memerintahkan agar para anak buahnya selalu memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Salah-salah sedikit memperlakukan dirinya, mereka akan dilengserkan posisinya. Dia menjadikan kewenangan yang dimiliki untuk mengendalikan orang lain sesuka hati. Saat terjadi praktek penggelapan (KKN), semuanya bekerja sama dengan lancar agar kejahatan tersebut tidak terbongkar ke publik.

    Kesombongan kalangan yang berada pada strata (pangkat) tinggi telah memberhalakan diri sendiri. Mereka hadir dalam berbagai rupa kemegahan hidup yang melebihi orang lain semata-mata untuk menyatakan bahwa dialah yang utama bahkan terutama dibandingkan dengan yang lainnya. Untuk mempertahankan posisinya, entah sudah berapa kantong uang yang dijadikan sogokan. Bahkan tidak terhitung lagi praktek suap-menyuap agar kelicikannya tetap tertutup dengan rapi. Saksikan juga, Apa sebabnya menyembah berhala dikatakan berzinah?

KETIDAKADILAN AKAR DARI SEGALA KEJAHATAN

Sadar atau tidak sistem yang berkembang di dalam masyarakat mengarahkan manusia untuk fokus kepada kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Secara berangsur-angsur, banyak orang yang akan digiring untuk menjadi konsumtif: hidup dalam  kemewahan, suka foya-foya, gemar kenyamanan, mau dipuji-puja, cinta penghargaan, gila-gila hormat dan berbagai hal duniawi lainnya. Padahal semuanya itu sesaat saja sedang hati manusia membutuhkan kepuasan, kebahagiaan dan ketenteraman yang kontinue. Masyarakat pun mengkonsumsi materi secara brutal untuk memenuhi kekosongan dalam hatinya. Keadaan ini menyebabkan kecepatan konversi sumber daya alam menjadi barang dan jasa menjadi sangat tinggi sehingga tekanan atmosfer meninggi, sampah menumpuk dimana-mana sedang pemakaian BBM sangat boros. Kerusakan lingkungan akan terjadi yang diawali dengan pemanasan global disusul oleh bencana alam dan diakhiri dengan perebutan sumber daya yang tersisa (peperangan – bencana kemanusiaan). “Awal dari semua dosa adalah penyembahan berhala yang mengantarkan umat manusia ke dalam bencana alam dan bencana kemanusiaan.” Saksikanlah Macam bentuk berhala jaman naw!

Salam, Fokus duniawi cinta materi,
Sikap konsumtif mendominasi,
Bencana alam menjadi sanksi,
Masyarakat dirundung agresi,
Hati butuh sesuatu yang tak henti-henti,
Arahkan hidup pada kebenaran sejati,
Niscaya hari-hari sejahtera penuh damai
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.