Ekonomi

Memurnikan Bahan Bakar Minyak (BBM) Dari Pengotor – Bensin Bahan Bakar Kualitas Rendah Tidak Ramah Lingkungan

Cara Memurnikan Bahan Bakar Minyak (BBM) Dari Zat Pengotor – Bensin Bahan Bakar Kualitas Rendah

Kebutuhan manusia akan mesin-mesin berteknologi canggih sepertinya tak dapat dihindarkan lagi. Selain bermanfaat untuk untuk menunjang aktivitas manusia, diberdayakan juga untuk mencerdaskan, hiburan sesaat, penerangan (khususnya di malam hari) dan lain sebagainya. Ini adalah anugerah langsung dari Tuhan untuk meningkatkan kesejahteraan fisik, mental dan sosial. Masalahnya sekarang adalah apakah buah pengetahuan tersebut sudah semuanya dinikmati oleh masyarakat? Atau jangan-jangan hanya segelintir orang saja yang mencicipinya? Sadarilah bahwa kebiasaan semacam ini jelas tidak mendatangkan kedamaian. Sebab Pancasila telah menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat, artinya keluarga yang satu mendapatkan hal yang adil (sama) dengan keluarga yang lain.

Sayang, beberapa orang yang memiliki pendanaan berlebihan berpotensi besar menggunakannya secara mubazir. Berpikir bahwa segala sesuatu yang sifatnya otomatis adalah sebuah keuntungan. Dimana manusia hanya berperan sebagai operator sedang pekerjaannya tinggi colok, tekan, putar, klik dan ketik. Hal-hal otomat semacam ini memang diperlukan dalam kadar yang standar. Namun bila segala sesuatu bisa berjalan dengan sendirinya jelas merupakan sebuah kemunduran. Sebab sebagai manusia yang dianugerahkan dengan alat gerak aktif (otot, tulang, sendiri), sudah seharusnya kitapun senantiasa aktif memfokuskan pikiran kepada Tuhan, mempelajari sesuatu dan mengerjakan hal-hal yang diperlukan dari waktu ke waktu.

Mesin diperlukan untuk hal-hal yang penting saja. Bisa juga digunakan untuk pekerjaan yang lebih besar, banyak dan beragam sehingga tidak bisa dilakukan oleh satu-dua orang/ sekelompok orang saja. Adalah baik jika pendayagunaan mesin ditujukan untuk aktivitas bersama atau dipakai secara bareng-bareng, seperti penggunaan transportasi masal. Penggunaan teknologi yang lebay dan semata-mata demi hidup bermewah-mewahan jelas tidak akan pernah membawa keuntungan bagi sistem. Justru besar kemungkinan pemakaian barang elektronik yang mubazir dan serakah ini akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Polutan yang dihasilkan dan bahan bakar minyak yang dikonsumsinya merupakan dua pertanda yang membawa dunia dalam bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Bahan bakar minyak

Komponen sangat penting dalam dunia ini adalah energi. Itulah yang membuat segala sesuatu terhubung di seluruh alam semesta sehingga gabungan semuanya membentuk sistem yang berputar. Bumi membutuhkan matahari, khususnya tumbuhan berklorofil memerlukannya untuk proses fotosintesis. Binatang membutuhkan tanaman untuk sumber energi. Manusia juga membutuhkan tanaman sebagai sumber pangan dan bangunan. Pula manusia membutuhkan hewan sebagai sumber protein. Sedang matahari membutuhkan tanaman dan mikroorganisme (pengurai) untuk menghasilkan berbagai gas yang dapat digunakannya sebagai bahan bakar untuk tetap bersinar. Berkat perkembangan ilmu pengetahuan, manusia bisa menemukan energi bahan bakar dari berbagai sumber di antaranya adalah dari hewan, tumbuhan, fermentasi mikroorganisme, sel surya (energi matahari) dan minyak bumi juga yang terakhir adalah nuklir.

Bensin bahan bakar kualitas rendah

Bahan bakar minyak (BBM) yang diperoleh dari dalam perut bumi merupakan  bentuk energi yang paling banyak digunakan sampai saat ini. Ketersediaannya yang cukup melimpah membuat banyak negara mengandalkan energi fosil sebagai pemasok listrik utama, termasuk Indonesia. Ada banyak bentuk bahan bakar yang beredar di dalam masyarakat di antaranya adalah BBG, solar, bensin (premium), pertamax dan lain sebagainya. Sedang yang dominan beredar di kalangan masyarakat Indonesia adalah bensin dan solar. Dari yang kami ketahui, di dalam bensin (RON88) hanya terdapat sekitar 20% saja bahan yang adalah asli sebagai bahan bakar (rumus kimianya CnH2n+2). Jadi bisa dikatakan bahwa bahan bakar pada hakekatnya hanya terdiri dari molekul karbon dan hidrogen yang saling berikatan membentuk rantai.

Bahan bakar minyak adalah salah satu komponen penting penghasil energi, memiliki bentuk cair yang mudah disimpan dan dibawa-bawa.

Bensin (RON88) adalah bahan bakar minyak kualitas rendah yang paling banyak dipasarkan di Indonesia. Hanya terkandung 20% saja bahan bakar asli di dalam setiap tetesnya sedangkan yang 80% adalah zat pengotor dan pewarna. Setiap kali anda membeli bensin dengan volume 10 L, hanya 2 L saja yang benar-benar terdiri dari Cn­H2n+2 sedangkan yang 8 L sisanya adalah pencemar dan zat warna. Itulah sebabnya mengapa setiap kali menggunakan BBM jenis ini lingkungan mudah sekali tercemar. Sebab 80% dari jumlahnya berpotensi sebagai polutan yang mengotori atmosfer. Terlebih ketika penggunaan kendaraan mencapai ratusan bahkan ribuan setiap harinya (malahan di kota metropolitan mencapai jutaan). Bisa dibayangkan polusi yang dihasilkannya sanggup menyelubungi satu kota dalam zona pemanasan global.

Cara memurnikan bahan bakar dari pengotor

Pernah ada yang melakukan pengujian dengan memurnikan bensin untuk mengetahui berapa kadar bahan bakar asli yang terkandung di dalamnya. Dengan cara destilasi, mereka menemukan bahwa di dalam BBM jenis ini hanya terdapat 19,07% bahan bakar dari rantai karbon dan hidrogen sedang sisanya adalah zat pencemar dan zat pewarna. Tentu saja saat bensin digunakan untuk menghidupkan mesin-mesin, yang dipakai secara nyata untuk menjalankan perangkat hanya 20% saja yang terdiri dari bahan bakar sedangkan yang 80% sisanya akan dibuang ke udara sebagai polutan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana usaha kita untuk setidak-tidaknya memurnikan bahan bakar tersebut dari polutan? Berikut akan kami berikan beberapa petunjuknya.

  • Mengusulkan aturan tentang penyediaan BBM dengan kualitas yang baik.

    Kita tidak menyangka, ternyata mutu BBM yang selama ini di perjual-belikan oleh pemerintah sangatlah rendah. 20%-nya saja yang bermanfaat sebagai bahan bakar sedang yang 80% adalah junk alias sampah yang berpotensi besar merusak lingkungan. Padahal Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang juga aktif melakukan ekspor minyak ke luar negeri. Yang kami takutkan adalah “BBM yang berkualitas dgadai ke luar negeri sedang sisa-sisanya diperjual-belikan di dalam negeri.”

    Ini salah satu bentuk kemunduran koorporasi sebab pemerintah ada untuk mensejahterakan rakyat bukan untuk melayani kebutuhan konglomerat dari luar negeri. Seolah-olah pemerintah adalah sebuah perusahaan pribadi yang ada untuk melayani dan mengabdikan diri demi menyuplai kebutuhan orang-orang kaya. Sedang oknum yang tidak memiliki uang diberikan bensin bersubsidi yang kebanyakan kandungannya (80%) adalah zat pencemar yang berpotensi mengotori atmosfer. Pantaslah negeri kita terus-menerus berada diujung kerusakan lingkungan dan bencana alam sebab bahan bakarnya murahan.

    Diperlukan sebuah aturan yang mengatur tentang bahan bakar yang layak diperjual belikan di tengah masyarakat. Harus ada standar yang tidak hanya memperhatikan harga yang terjangkau melainkan juga resiko pencemaran lingkungan yang dihasilkannya harus lebih kecil. Jangan hanya menawarkan yang murah meriah saja tetapi dampak lingkungannya besar. Jika terjadi bencana alam kan yang dirugikan rakyat dimana semua ganti ruginya akan disediakan oleh negara. Penggunaan bahan bakar yang sifatnya murah meriah ini sama saja dengan menimbun bencana yang akan membuat repot pemerintah di kemudian hari.

  • Menggunakan bahan bakar lainnya dari fermentasi.

    Seperti kita ketahui bersama, salah satu cara memperoleh ikatan cantik antara rantai karbon dan hidrogen adalah lewat proses fermentasi. Perlu diadakan suatu penelitian tentang cara dan bahan terbaik proses fermentasi agar dihasilkan bahan bakar dengan kadar oktan yang lebih baik sedang kandungan zat kimia berbahaya lebih minimalis. Ada beberapa katergori yang biasa dipakai dalam masyarakat di antaranya dari gula aren dan ubi kayu.

  • Menggunakan bahan bakar minyak berharga tinggi.

    Sebaiknya masyarakat yang memiliki penghasilan yang lebih baik, dianjurkan untuk menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Selain penggunaanya tidak mencemari udara juga membuat mesin kendaraan tetap terawat dan awet selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pemerintah perlu merealisasikan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan bagi alat transportasi masal (misalnya bus kota) secara bersubsidi. Sedang untuk kendaraan pribadi yang merasa dirinya kaya raya, diharuskan membeli pertamax. Sudah saatnya kita menggalakkan budaya ramah lingkungan yang dimulai dari penjualan energi yang tidak berpotensi mencemari atmosfer (tidak seperti bensin yang adalah 80% zat pengotor).

  • Manambahkan garam dalam BBM.

    Kami hendak menyatakan bahwa ini hanyalah sekedar spekulasi. Sebab kami sendiri belum pernah mencoba hal ini jadi sebaiknya pemirsa di rumah juga JANGAN SAMPAI MENCOBANYA! Para peneliti di Pertamina sebaiknya melakukan percobaan sederhana sampai yang sifatnya berkelanjutan untuk mengetahui pengaruh penambahan garam pada bahan bakar jenis bensin. Apakah penambahan garam tersebut mampu mengurangi bahan pencemar yang terkandung di dalamnya atau tidak? Juga apakah dengan penambahan garam tersebut secara berkelanjutan tidak merusak mesin? Terus bagusnya ditambahkan selama proses pembuatannya atau selama pemakaiannya?

    Seperti kita ketahui bersama bahwa garam adalah salah satu mineral ajaib untuk membersihkan lingkungan. Siapa tahu juga dengan penambahan garam pada bensin akan mengurangi sifat pencemar yang dibawanya. Sehingga saat digunakan polutan yang dihasilkannya lebih mudah dicerna oleh lingkungan. Ini seperti konsep dalam menghasilkan produk yang ramah lingkungan, yang perlu dilakukan adalah menjadikan produk tersebut serupa seperti makhluk hidup yang mengandung 0,9% sodium. Kita berharap dengan demikian segala bentuk bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya dapat ditekan seminimal mungkin.

Penggunaan mesin-mesin berteknologi tinggi yang semakin karib mengharuskan sistem untuk menyediakan bahan bakar yang benar-benar ramah lingkungan. Tanpa sifat ramah lingkungan, kita sama saja memperdagangkan racun di antara masyarakat. Memang yang rusak dan terdegradasi adalah lingkungan tetapi bukankan manusia bermukim di sekitarnya? Jadi saat atmosfer tidak sehat: tekanan, kerapatan, kepadatan dan masa jenisnya tinggi, pastilah manusia yang hidup di dalamnya akan sakit juga, cepat ataupun lambat. Oleh karena itu, berhenti memperdagangkan bensin yang 80% adalah zat pencemar melainkan mulailah suplai masyarakat dengan bahan bakar minyak yang ramah lingkungan. Bukankah saat masyarakatnya sehat, kuat dan cerdas; pemerintah turut merasa lega? Kecuali mereka adalah kapitalis sempit yang sengaja membiarkan akar masalah agar bisa tampil sebagai solusi man bergaji tinggi yang pantas didewakan.

Salam, BBM ramah lingkungan itu harus,
Demi masyarakat harmonis,
Dari tahun ke tahun tetap minimalis,
dan jauh dari petaka yang buat histeris
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.