Kepribadian

7 Alasan Hawa Nafsu Latihan Ujian Kedewasaan, Keinginan Yang Mengasah Kemampuan Anda

Alasan Hawa Nafsu Latihan Ujian Kedewasaan – Keinginan Yang Mengasah Kemampuan Anda

Hasrat yang berbeda menimbulkan gesekan kepentingan

Manusia hidup sendiri-sendiri, dilahirkan satu per satu kecuali bayi kembar (fenomena langka). Artinya sifat individualis itu sudah tertanam sejak dari dalam kanddungan. Itulah mengapa ada begitu banyak orang yang lebih suka hidup menyendiri, membuat rumah yang mewah-mewah di wilayah entah berantah yang sangat jauh dari pemukiman warga lainnya. Namun, mereka yang sudah dewasa akan memilih untuk hidup bertetangga bersama orang lain. Sebab di sanalah terjadi dinamika kehidupan yang menciptakan gesekan kepentingan. Di saat seperti inilah hawa nafsu yang berbeda bertemu satu sama lain: (1) ada yang mampu menerimanya apa adanya, (2) ada yang merasa risih-bingung, (3) ada yang menghadapinya dengan tenang sambil berbagi senyuman/ keramahan dan (4) ada pula yang terlibat dalam dendam saling ganggu-mengganggu satu sama lain.

Persaingan kehendak semakin membara saat hadiahnya semakin besar.

Di sisi lain kehidupan, ada penawaran tinggi yang sedang dilakukan oleh sistem dimana banyak orang berbondong-bondong ke sana. Pertandingan antar manusia memang baik dan menarik untuk dilihat-lihat. Tetapi perlombaan dengan hadiah terbesar beresiko menimbulkan rasa sombong yang memicu iri hati. Keangkuhan dan kedengkian adalah momok yang terus-menerus menciptakan pusaran kebencian di dalam masyarakat. Tentu saja, badai yang timbul akan semakin besar saja seiring dengan semakin tingginya nilai hadiah yang diperebutkan. Hadiah yang besar secara tidak langsung memicu hawa nafsu yang besar pula. Keadaan ini secara otomatis memicu penyimpangan yang juga semakin tinggi. Tentulah pertarungan yang intens beresiko membuat kalangan berduit mempertahankan dirinya dengan mengandalkan materi. Jadi, jangan tanya mengapa ada orang yang suka menyendiri hidup mewah

Bisakah anda bayangkan sedikit saja. Bagaimana jadinya ketika mereka yang sama-sama “ingin berdiri di puncak tertinggi” bertetangga? Pasti persaingan dan wujud gangguan yang terjadi di antara mereka sangatlah tinggi. Sebab apa yang hendak mereka perebutkan adalah komoditas paket kombo yang berada di atas angin (setidaknya di antara masyarakat satu desa). Secara tidak langsung, perebutan ini menyita cukup banyak energi, waktu dan materi. Yang menjadi masalah selanjutnya adalah bagaimana jadinya ketika semua pengorbanan yang diberikan ternyata sia-sia? Dalam arti, pihak yang kalah akan menanggung kerugian yang besar sedang yang menang berpesta pora di atas gelimangan harta dan kemuliaan yang disanjung-sanjung? Otomatis, pengorbanan yang besar menyisakan luka yang besar sehingga itulah yang menjadi dasar kekuatannya untuk merong-rong masa-masa kemenangan lawannya.

Manusia saling bersinggungan lewat hawa nafsunya

Dari perumpaam yang kami tampilkan di atas, bisa dikatakan bahwa sesungguhnya hasrat kitalah yang sering sekali menibulkan masalah dalam hidup ini. Ada dua jenis keinginan yang selalu bisa menciptakan konflik di antara manusia, yaitu saat hawa nafsu yang berbeda saling bertemu dan yang saling bersaing untuk memperebutkan sesuatu. Dua hal ini jelas tidaklah bisa dihindari di antara masyarakat. Orang dapat memandangnya sebagai suatu hambatan yang harus dijauhi atau sebagai tantangan yang patut dibiasakan. Mereka yang kurang kuat namun memiliki pendanaan yang cukup akan mengungsikan diri sambil membangun hunian mewah bagi dirinya sendiri. Sedang orang yang tegar tapi santun akan berkembang kecerdasannya sehingga masalah tersebut mendatangkan faedah yang berkesan dalam kehidupannya dari waktu ke waktu.

Faktor penyebab hawa nafsu melatih kedewasaan setiap manusia

Semakin banyak orang di sekitar kita, makin tinggi konflik kepentingan yang akan terjadi. Masalahnya sekarang adalah sebesar apa kekuatan (power) seseorang dan setinggi apa hadiah yang akan diperoleh? Sadarilah bahwa setiap pergesekan sosial yang gemulai pastilah menghasilkan nada-nada indah yang mencerdaskan setiap orang. Akan tetapi bila kita tidak mampu menyesuaikan diri, kurang tabah bertahan dan terlalu keras (tidak lembut) menghadapi gesekan sosial, bunyi yang dihasilkan akan memekakkan telinga hingga menggelisahkan jiwa. Oleh karena itu, persiapkan diri dari sekarang untuk menghadapi dinamika kehidupan. Berikut akan kami utarakan beberapa alasan mengapa keinginan menjadi latihan yang mendewasakan anda.

  1. Hawa nafsu untuk mengasihi Tuhan secara totalitas.

    Manusia memiliki lubang menganga di hatinya masing-masing. “Suatu saluran tak berujung yang terus-menerus meminta untuk diisi lagi dan lagi.” Sebanyak apakah materi & kemuliaan yang dimiliki untuk dimasukkan ke dalam black hole tersebut? Seberapa banyak pekerjaan yang dapat dilakukan tiap hari untuk memutar blender tanpa tutup itu? Cukup banyakkah pelajaran yang hendak dibahas-bahas untuk tetap mengoperasikan juicer tanpa dasar tersebut? Nyatanya sekalipun kita memiliki semua aktivitas positif di atas, tetap saja masih banyak waktu yang lowong dimana sedang istirahat dan menikmati hidup.

    Bila dalam waktu-waktu istirahat tersebut, kita membiarkan pikiran kosong alhasil berbagai hal yang buruk-buruk akan menguasai hati ini. Mulai dari iri hati, sombong, dendam, kebencian, sungut-sungut, kekerasan, penyesalan, kekecewaan, umpatan dan lain sebagainya. Otomatis, aktivitas yang jelek tersebut beresiko membuat suasana hati menjadi buruk dan ketenteraman hati hilang.

    Lubang di hati manusia adalah perwujudan dari anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada kita. Ciptaan lain diberikan kekuatan-Nya yang berbeda-beda sedangkan manusia dianugerahkan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Besarnya manfaat yang dihasilkan oleh pikiran sama dengan tingginya resiko penyimpangan yang mungkin terjadi. Satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan otak yang menuntut kepadatan aktivitas adalah dengan memfokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Sekali lagi kami tegaskan, memang hal-hal duniawi mampu membuat otak tetap berputar aktif tetapi hal tersebut hanyalah sementara saja. Sedang yang sifatnya berkelanjutan tanpa henti, memuaskan, mendamaikan, membahagiakan, dan menenteramkan hati adalah dengan fokus kepada Tuhan.

  2. Hawa nafsu untuk mengasihi sesama serupa diri sendiri.

    Ini adalah kebenaran kedua untuk mengimbangi yang pertama. Hanya fokus kepada Tuhan saja bisa-bisa membuat kita individualis dan menjadi penyendiri. Kita juga butuh mengasihi sesama, sama halnya seperti diri sendiri. Ini bisa kita tunjukkan di sela-sela pekerjaan dan pelajaran yang ditekuni dari hari ke hari. Sebab pada dasarnya saat kita berbuat baik sekecil apapun terhadap sesama, secara tidak langsung telah melakukannya kepada Tuhan. Seperti ada tertulis.

    (Matius 25:40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

    Kita perlu berhasrat untuk berbagi kasih kepada sesama. Ingatlah bahwa dari awal memang manusia dilahirkan sendiri-sendiri sehingga sikap individualis sangat kental dalam dirinya. Berbuat baik kepada orang lain adalah cara terbaik untuk mengikis sikap individualis tersebut. Lewat kebaikan kita jugalah diri ini dilatih untuk menghadapi masalah-masalah yang sebenarnya sederhana. Terkecuali persoalan yang melibatkan orang-orang berkekuatan super (pengetahuan, kekayaan dan kekuasaannya tinggi) pastilah kerusakan yang ditimbulkannya juga sangat besar (layaknya peperangan).

    Mulailah dengan beramah-tamah terhadap setiap orang yang ada di sekitarmu. Ini bisa diwujudkan dengan senyum, salam, sapa, mengucapkan terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik. Keluarga adalah tempat yang tepat untuk berbagi kebaikan dimulai dari yang sederahana (melayani dengan kata-kata, ramah) sampai yang besar (melayani lewat tindakan nyata, materi, potensi dan lainnya).

  3. Dalam bentuk pilihan-pilihan hidup.

    Sebagai manusia normal, kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan dalam hidup ini. Secara tidak langsung, semua pilihan tersebut sangat bermanfaat untuk diri sendiri tetapi belum tentu disukai. Secara tidak langsung opsi-opsi yang terhampar di depan kita menjadi ujian untuk melatih kekuatan hati dan ketekunan masing-masing saat mengejar semuanya itu.

    Misalnya saja hawa nafsu tentang cita-cita di masa depan. Kami sendiri ada harapan di masa depan tetapi tidak terus-menerus memikirkan hal tersebut melainkan mulai menjalankan rencana demi pelaksanaannya. Memang hal itu terngiang di dalam hati tetapi diabaikan lalu lebih memilih untuk menyenangkan dan menyemangati hati lewat aktivitas fokus kepada Tuhan.

    Bagi anda kawula muda, jangan mengabaikan cita-cita yang terkadang timbul di dalam hati masing-masing. Namun jangan juga terus-menerus berkhayal seolah-olah sedang hidup dalam kebesaran harapan tersebut. Melainkan (a) jalankan rencana yang sudah disusun, (b) persiapkan kebutuhan yang diperlukan dan (c) persiapkan mental-kepribadian, fisik juga sosial untuk mewujudkannya. Selanjutnya yang anda butuhkan adalah berharap dan pasrah kepada Tuhan, apapun masa depan yang dianugerahkan-Nya, syukuri hal tersebut; sesuai atau tidak sesuai dengan cita-citamu! Yang penting anda sudah berusaha! Sebab “nikmatnya perjuangan maksimal membuat manusia terampil secara personal dalam menghadapi lika-liku kehidupan.”

    Satu lagi pilihan-pilihan yang cukup menantang seumur hidup adalah saat mencari pasangan hidup. Pilihan yang satu ini sangat panas hingga berpotensi meluluh lantakkan kehidupan kita. Terlebih saat anda menyatakannya sendiri kepada orang yang disukai. Apa jawabannya diterima atau tidak? Tidak ada yang tahu, silahkan cari tahu sendiri itu sebab masing-masing orang punya jodohnya. Terkecuali anda memilih untuk menjadi bohemian yang sudi menjomblo. Tapi serius nih, “Begitu anda mengungkapkan isi hati, lega rasanya hingga kepala jadi dingin kembali.” Terserah jawabannya ya atau tidak! Ini salah satu tantangan yang membutuhkan (a) keberanian, (b) perhitungan dan (c) momentum yang pas. Tentu saja ini hanya berlaku bagi mereka yang sudah dewasa, memiliki pekerjaan, mampu hidup mandiri dan sudah siap untuk menikah. Kalau hanya sekedar pacaran tidak jelas, sebaiknya tidak usah: Pacaran tanpa seks lebih baik menikah!

  4. Dalam perbedaan keinginan.

    Perbedaan hawa nafsu juga cukup menantang di antara manusia. Latihan yang satu ini sangat membutuhkan (a) pengertian, (b) kerendahan hati dan (c) kesabaran. Ciri khas dari perbedaan ini adalah persinggungan kepentingan. Setiap dinamika yang timbul di antara manusia perlu ditanggapi dengan kepala dingin, ini dimulai dari dalam keluarga.

    Misalnya ada perbedaan antara kesukaan anak pertama dengan yang kedua. Bagaimana orang tua mampu mempertemukan keduanya? Apa yang terjadi ketika minat si abang saja yang dituruti? Juga apa pula yang terjadi saat keinginan si adek saja yang dituruti? Mampukah mereka saling merendahkan hati, mengalah, sabar dan tetap akur? Demikian juga saat ada perbedaan hasrat antara Ayah dan Ibu, butuh penyelesaian yang sebenarnya sederhana asalkan ada rasa saling melayani dengan penuh ketulusan satu sama lain.

    Sama halnya ketika ada perbedaan pendapat yang terjadi di kantor atau dalam organisasi tertentu. Mampukah peserta rapat tersebut saling mengerti, memahami dan merendahkan hati satu sama lain? Ketika masing-masing menonjolkan kesombongannya atau menonjolkan pengaruh yang diberikannya, alhasil jejak pendapat tersebut tidak akan mencapai titik temu. Bahkan organisasi berada diujung perpecahan. Dalam situasi seperti ini, semua pihak sebaiknya kembali berpedoman pada peraturan, mendengar suara terbanyak dan menerima bimbingan-arahan dari pembina/ pemimpin.

  5. Dalam persaingan keinginan.

    Panasnya persaingan sangat ditentukan oleh besarnya hadiah yang diperebutkan. Manusia yang mampu memahami dengan baik betapa besarnya tropi yang diperoleh, bisa panen beberapa kali dan syarat dengan lahan basah. Pastilah akan melakukan perjuangan terbaiknya untuk memenuhi hasratnya yang juga besar. Dalam situasi semacam ini, tinggi pula potensi penyimpangan yang terjadi bahkan cenderung menghalalkan segala cara.

    Terlebih ketika ada pihak-pihak yang dikalahkan dari pertarungan tersebut. Perjuangan besar yang mereka galakkan pastilah menyisakan kerugian fisik, mental dan materi. Mereka akan menjadi pengganggu abadi yang senantiasa merong-rong pihak yang menang. Oleh karena itu, pertandingan sengit yang melibatkan hadiah besar sebaiknya dihindari. Sebab momen berebut semacam ini syarat dengan perang dingin (berlangsung sembunyi-sembunyi) dan perang panas (konflik yang nyata-nyata).

    Persaingan keinginan ini juga kerap kali mempertontonkan keunggulan dalam hal kemewahan, kenyamanan, popularitas, pujian dan potensi yang dimiliki. Semuanya ini semata-mata untuk menggoyahkan hati lawan-lawannya sebab posisi yang diperebutkan amatlah strategis.

  6. Hawa nafsu kenikmatan duniawi.

    Hal-hal duniawi yang kita inginkan juga merupakan latihan bagi kedewasaan masing-masing. Orang yang mampu mengendalikan nafsunya pada kadar biasa saja (normal) akan terbebas dari tekanan mental saat hal-hal yang nikmat itu sedang tidak ada. Mereka yang pintar-pintar melakukan aktivitas tarik ulur terhadap kenikmatan duniawi dimampukan untuk tetap menikmati keindahannya.

    Sayang, orang yang kurang waspada dan sering termakan oleh keinginannya sendiri akan diseret dalam sifat kecanduan. Mereka mudah terjebak dalam pola-pola kejahatan akibat hasrat yang merajalela.

    Salah satu hasrat kenikmatan yang paling epik adalah seksualitas. Hampir semua kalangan akan terpukau terhadap seks tetapi mereka yang cendikia mampu mengendalikan pikirannya dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dan mencari-cari kesibukan positif. Ini salah satu pergumulan terbesar dalam kehidupan setiap umat manusia terutama bagi mereka yang masih melajang.

  7. Hawa nafsu kemuliaan duniawi.

    Latihan hidup lainnya berasal dari hasrat yang tinggi terhadap pujian, penghargaan, penghormatan dan popularitas juga termasuk di dalamnya adalah jabatan/ kekuasaan. Godaan akan kemuliaan cukup ampuh untuk membuat seseorang tergelincir. Terutama mereka yang sudah dewasa dan berumur juga telah sejahtera secara materi dimana kemudian yang dicarinya adalah jabatan.

    Ada orang yang menjadikan kekuasaan yang dimiliki sebagai salah satu cara untuk mengukir nama abadi di antara tokoh-tokoh penting di zamannya. Mereka berusaha mengejar prestasi, mencari-cari masalah untuk diselesaikan, over protektif terhadap rakyat dan menghasilkan berbagai ide nyeleneh lainnya. Semua hal tersebut dilakukan demi mengejar prestasi agar namanya diukir dalam jajaran pahlawan padahal masalah yang diselesaikannya merupakan reaksi atas pancingan yang sengaja dimunculkan ke permukaan.

    Ketahuilah bahwa semua hal ini sifatnya sementara saja. Jika kita memaksakannya abadi di dalam hati niscaya jadi jemu sendiri sebab semuanya itu masih wacana dan belum tercapai. Alangkah lebih baik jika kita mengisi lubang yang selalu lapar di dalam hati dengan senantiasa menujukan hati kepada Yang Maha Mulia lewat doa, firman dan nyanyian pujian. Juga tidak lupa untuk mengasihi sesama layaknya diri sendiri di setiap pekerjaan dan pelajaran yang ditekuni dalam setiap hembusan nafas ini.

    Adalah lebih baik bagi kita untuk mulai memberikan penghargaan, penghormatan dan pujian kepada setiap orang yang layak menerimanya. Bukankah ini salah satu wujud dari kebaikan hati? Ketahuilah juga bahwa aktivitas tersebut membantu menepis IRI HATI dari dalam pikiran anda. Lakukanlah semuanya itu dengan tulus terhadap sesama tetapi tujukan kepada Tuhan. Artinya, berbuat baiklah kepada siapapun dia tetapi harapkan balasannya dari Allah ketika di sorga kelak.

Sadar atau tidak, hawa nafsu kita adalah sumber masalah. Tetapi jangan takut, justru lewat keinginan tersebutlah kita diuji hari lepas hari. Tanpa sadar hasrat yang menggebu-gebu di dalam hati menjadi salah satu bahan kuliah untuk menambah pengalaman pribadi lepas pribadi. Pula nafsulah yang kerap kali menimbulkan berbagai pergesekan di dalam masyarakat. Persoalannya sekarang adalah maukah kita merendahkan hati, saling mengerti dan selalu sabar (tegar) namun tetap santun di tengah semua gesekan tersebut? Orang yang berlatih mengelola keinginannya sambil-sambil beradaptasi dan berimprovisasi akan dimampukan untuk menjadikan gesekan sosial layaknya biola yang mencerdaskan dan memperindah suasana hati. Sebab demikianlah hidup senantiasa bergonta-ganti, bagai siang dan malam yang selalu tukaran. Tidak ada yang salah di sana tetapi dua-duanya bermanfaat untuk membuat manusia semakin dekat dengan Allahnya juga semakin akrab dengan sesama.

Salam, Si bijak mencerna masalah sebagai manfaat,
Orang bebal jalani persoalan dengan hati berat,
Sedang kata-katanya penuh sungut-sungut
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.