Kepribadian

7 Alasan Keinginan Adalah Penghancur, Hawa Nafsu Yang Menghancurkan Hidup Ini

Alasan Keinginan Adalah Penghancur – Hawa Nafsu Yang Menghancurkan Hidup Ini

Di seluruh alam semesta ada beraneka rupa kekuatan Tuhan yang diekspresikan oleh masing-masing ciptaan. Pohon menunjukkan keringanan yang sangat kokoh tak terpatahkan (kecuali anda mengkapak/ menggergaji). Tanah adalah pribadi yang tak tergoyahkan, sekalipun kita menginjak-injak mukanya tanpa henti. Air senyawa fleksibel yang dapat mengikuti segala bentuk dimana dia ditempatkan. Angin sebagai kekuatan invisibel yang dapat memberikan sentuhan terlembut ke seluruh tubuh ini. Matahari yang selalu hadir secara berkala untuk memberi kehangatan bagi semua makhluk di seluruh permukaan bumi. Sedang manusia beroleh karunia Allah di bidang kecerdasan, kesadaran, penalaran, analisis dan berbagai-bagai kemampuan berpikir lainnya.

Di balik kemampuan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia, kita harus menyadari bahwa kekuatan otak adalah sumber masalah terbesar dalam kehidupan ini. Memang sebuah ironi yang sangat dramatis, sisi positifnya pikiran bermanfaat luar biasa bagi kehidupan sedangkan bagian negatifnya otak berpotensi merusak sampai menghancurkan sistem itu sendiri. Artinya, “kebaikan dan keburukan yang berpotensi didatangkan oleh pikiran adalah setara.” Masalahnya sekarang adalah, “anda mengembangkan bagian yang mana? Ketahuilah bahwa apa yang selalu dibahas-bahas dalam hati sama dengan arah pergerakan hidup anda selama di bumi!” Jadi, berhati-hatilah dengan apa yang terus-menerus dipikirkan dari waktu ke waktu.

Sadarilah bahwa yang namanya hawa nafsu dapat timbul dari dua arah. Keinginan dapat muncul dengan sendirinya dari dalam hati dan bisa jua dipicu setelah mengamati sesuatu lewat panca indra. Kebanyakan hawa nafsu memang muncul setelah melihat, mendengar, membaui, meraba dan mengecap sesuatu. Sedang di sisi lain bisa saja timbul dengan sendirinya dari dalam hati berdasarkan apa yang selalu diselidiki di dalam otak masing-masing. Oleh karena itu, berhati-hatilah mengisi pikiran sendiri, selalu pastikan bahwa apa yang dimasukkan di sana tidak jauh-jauh dari kebenaran hakiki. Yakni fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian juga berbuat baiklah kepada sesama di sela-sela pekerjaan dan pelajaran yang digeluti.

Faktor penyebab hawa nafsu akan menghancurkan anda

Hawa nafsu adalah kelebihan umat manusia dari ciptaan lainnya. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa keinginan selalu satu paket dengan kemampuan otak. Semakin mahir seorang manusia untuk berpikir maka semakin besar pula kemungkinan untuk mahir melakukan kejahatan. Ketika manfaat otak telah dinyatakan dalam kehidupan anda ketahuilah bahwa kerugian yang ditimbulkannya akan sebesar itu pula. Orang berotak kerdil, kalau jahat pasti sederhana tetapi semakin cendikia manusia kian besar pula pelanggarannya (jika itu terjadi). Berikut akan kami jelaskan baik-baik alasan mengapa keinginan beresiko melemahkan, memperburuk bahkan menghancurkan diri sendiri.

  1. Hawa nafsu yang salah.

    Baca-bacalah firman, di sana dituliskan banyak hal tentang kebenaran. Sebab tanpa membaca, bagaimana anda dapat mengenal kebenaran itu? Jelaslah bahwa pengenalan akan Allah dimulai dari membaca, mendengar dan mempelajari firman yang telah dititipkan kepada kita. Kenali baik-baik hawa nafsu yang ada di dalam dirimu, lebih tepatnya yang terngiang di dalam otak kita pribadi lepas pribadi. Nilai dan pertimbangkanlah itu sehingga tidak sampai bertentangan dengan hukum Taurat. Penilaian yang lebih luas dan mendalam lagi adalah saat apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan kasih kepada Allah yang totalitas dan kasih kepada sesama manusia seperti diri sendiri. Sadarilah bahwa hasrat yang salah sekalipun di dalam hati, itu masih tetap dikategorikan sebagai dosa, dimana setiap dosa pastilah ada ganjarannya. Jadi hindarilah dosa yang dimulai dari dalam hati dengan senantiasa menyibukkan pikiran pada perkara positif, yaitu fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja.

  2. Nafsu yang tidak terarah.

    Masing-masing orang memiliki minat yang berbeda-beda. Biasanya kepada hobi tersebutlah kita mengarahkan kecerdasan yang dimiliki. Saat kecerdasan seseorang semakin mumpuni maka pekerjaannya akan terfokus kepada hal-hal yang diminatinya. Seperti yang kami lakukan adalah menulis, baik puisi, cerpen dan lain sebagainya. Beberapa orang juga memiliki bakat seni di bidang musik, menggambar (melukis) dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa bakat semacam ini (di bidang seni) sifatnya murah meriah. Sebab tidak membutuhkan biaya yang besar untuk melakukannya, yang dibutuhkan hanyalah peralatan dasar dan akses yang luas ke informasi dan ilmu pengetahuan (seperti Alkitab, perpustakaan, internet, pusat data ilmu pengetahuan lainnya). Alkitab adalah sumber kekuatan paling mendasar dari semua bakat di bidang seni. Gunakan tangan ini sesuai dengan suara-suara yang berbicara di dalam pikiran sendiri. Cari informasi tentang bakat anda dan bagaimana cara mengembangkannya.

    Bagi mereka yang pikirannya tenang dan tidak lari kemana-mana berarti cukup lega. Sebab tidak perlu lagi melakukan penggalian akan bakat yang dimiliki. Tetapi bagi anda yang pikirannya tidak tenang karena mau aktif terus-menerus, silahkan arahkan aktivitas tersebut kepada hal yang positif. Sadarilah bahwa aktivitas otak tinggi yang tidak disalurkan cenderung membuat kita melakukan hal-hal yang negatif. Ada banyak hawa nafsu yang salah yang bisa dilakukan saat seorang diri, tidak ada orang lain yang mengenalinya. Perilaku jahat yang kita lakukan sembunyi-sembunyi sangatlah rahasia. Misalnya saja berkhayal menelanjangi seseorang dalam pikiran, pornografi, kata-kata kotor, menghakimi dan lain sebagainya. Tetapi sadarilah bahwa di atas semuanya itu TUHAN tahu segala sesuatu, bahkan maksud hatimu yang paling dalam sekalipun, sudah diketahui-Nya.

  3. Memaksakan kehendak.

    Dalam hidup ini, terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan orang lain. “Ada kalanya kita perlu mengalah bukan untuk kalah tetapi agar rasa kebersamaan di antara sesama tetap solid dan harmonis.” Dalam kebersamaan ada kalanya kita perlu mendengarkan suara terbanyak. Juga ada kalanya harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh pemimpin yang ditempatkan di sekitar kita. Di dalam setiap persimpangan hawa nafsu, perhatikan kembali peraturan yang kita tinggikan di antara kita. Sebab satu-satunya yang dapat memaksakan kehendak adalah peraturan. Hindari menjadikan diri sendiri sebagai aturan karena beban yang ditanggung cukup berat. Jika masih ada yang belum masuk ke dalam poin-poin penting harap untuk kembali disusun ulang dalam rapat bersama.

    Di balik semuanya itu, hindari peraturan yang terlalu detail mengurus hal yang kecil-kecil. Kekhilafan kecil adalah pertanda bahwa kita masih manusia biasa yang sekaligus menjadi bahan ujian kehidupan untuk membentuk kita menjadi orang dewasa yang berpengalaman.

    Memaksakan hawa nafsu kita kepada orang lain adalah wujud sikap diktator yang berpotensi melemahkan bahkan menghancurkan tatanan sosial. Kita sebaiknya tidak bersikap diktator sebab Allah yang menciptakan kita juga memberi kehendak bebas bagi umat-Nya. Dia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya. Allah telah memberikan kepada umat-Nya aturan dan pelajaran paling mendasar, yaitu Alkitab. Silahkan baca-baca Kitab Suci yang anda yakini masing-masing sebab di sanalah terletak dasar-dasar tentang kehidupan umat manusia. Tuhan mengarahkan kita untuk belajar dari pengalaman sehingga lewat kejadian-kejadian pahit di dalamnya, kita dapat membentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik dengan rasa kebersamaan yang kental.

  4. Mengharap terlalu tinggi.

    Saat kita mengutarakan keinginan kepada orang lain, terkadang berpikir bahwa mereka mampu mewujudkannya atau setidak-tidaknya mampu membantu kita untuk mencapainya. Padahal dengan berlaku demikian, kita menaruh harapan kepada sesama manusia. Memang tidak ada yang salah saat mengharapkan sesuatu dari seseorang, hanya saja “harapan yang terlalu tinggi beresiko menyebabkan kekecewaan yang tinggi pula.” Oleh karena itu, ikat perjanjian dengan sesama tetapi hindari sikap yang terlalu berharap kepada manusia. Sadarilah bahwa bersandar kepada orang lain secara otomatis membuat anda dikendalikan olehnya. Artinya, saat kita menaruh pengharapan kepada pihak tertentu, cenderung berada di bawah ketiaknya. Camkanlah, “lebih baik hidup di bawah tekanan hukum Allah dari pada merangkak di bawah ketiak manusia.”

  5. Nafsu yang terlalu banyak (serakah).

    Maunya ini, maunya itu, suka yang sini, suka yang sana dan masih banyak lagi hobi lainnya yang terkesan lebay. Saat keinginan kita terlalu banyak melebihi batu kepala ini, besar kemungkinan bersinggungan dengan kebutuhan sesama dan alam sekitar. Resikonya akan menghasilkan konflik pendek maupun berkepanjangan. Yang dirugikan bisa jadi lingkungan dan orang di sekitar bahkan diri sendiri.

    Keinginan yang banyak juga bisa muncul karena terlalu sering menikmati uang yang dimiliki. Mungkin kita juga kerap menikmati yang mahal-mahal saja sedang panca indra memerlukan fluktuasi rasa. Mereka yang mengkonsumsi sesuatu terlalu sering besar kemungkinan akan menjadi bosan lalu menginginkan sesuatu yang lebih bernilai. Saat yang bernilai itu tidak ada lagi atau tidak sanggup untuk dibeli, mereka justru menggali kekayaan lebih dalam lagi (serakah). Malahan setelah penemuan hal-hal yang berharga sekalipun , masih saja belum mampu memuaskan relung hatinya. Ini disebabkan oleh kebiasaan terlalu fokus kepada materi. Sadarilah bahwa hasrat yang terpuaskan oleh materi hanyalah sesaat saja, tidak lebih. Justru ketika kita mengulangi konsumsi menjadi semakin sering akan berubah menjadi boring. Kebosanan inilah yang kerap kali membuat orang yang kaya raya semakin serakah di dalam hidupnya.

    Oleh karena itu, terima kenyataan bahwa materi & kemuliaan duniawi hanya memuaskan manusia sesaat saja. Batasi keseringan konsumsi dan lakukanlah secara fluktuatif. Juga bila perlu berpuasalah sesekali agar hasrat tersebut tidak terlepas lalu menjadi berlebihan (serakah) membabi buta.

  6. Nafsu yang tidak terkendali.

    Memiliki keinginan itu biasa, tetapi terjebak dalam keinginan yang kurang tepat perlu dihindari. Setiap manusia perlu mengendalikan keinginan di dalam hatinya. Agar sekalipun jumlah uang yang dimiliki sangat besar, tetap saja hawa nafsu tidak liar.

    Inilah sebenarnya dasar ketakutan kami terhadap jumlah materi yang sangat besar. “Saat uang yang ada di tangan melebihi batas, seseorang berkesempatan melampiaskan keinginannya sebebas-bebasnya.” Jadi bisa dikatakan bahwa nilai materi yang sangat besar di tangan beresiko memicu penyimpangan perilaku yang semakin besar pula.

    Di sinilah kami menganjurkan agar anak-anak tidak diberikan uang yang terlalu banyak. “Sebab uang adalah simbol kebebasan, semakin banyak uanganya semakin manja perilakunya.” Jadi salah satu cara mengendalikan hawa nafsu anak adalah dengan membatasi jumlah uang di tangannya. Sama halnya juga di dalam masyrakata, “salah satu cara membatasi hasrat yang liar adalah dengan membatasi jumlah uang yang diberikan.”

    Di sisi lain, keinginan yang liar bisa juga muncul akibat kurangnya kemampuan mengendalikan diri. Hal tersebut didasari oleh tingkat kesadaran yang kurang. Ini disebabkan oleh tingkat kecerdasan yang juga telah menurun drastis dimana penyebab utamanya adalah kurangnya aktivitas positif. Oleh karena itu, kendalikan hawa nafsu dengan senantiasa fokus kepada Tuhan, belajar dan bekerja hari lepas hari. Lebih dari itu, silahkan berpuasalah secara berkala untuk melatih kemampuan mengendalikan diri.

  7. Nafsu yang tidak terwujud.

    Harap diketahui bahwa “bukan anda saja yang keinginan hatinya tidak terwujud, kami sendiri kerap kali keinginannya tidak terwujud.” Saat berbicara saja sama orang lain acap kali maksud hati kita tidak terjawab olehnya. “Jika jawaban dari keinginan kecil saja tidak terpenuhi namun mampu ditanggapi dengan sabar, terlebih lagi rasa kecewa kita pada hal-hal yang lebih besar.” Sebab perkara-perkara kecil melatih kita untuk dapat menangani perkara yang jauh lebih besar lagi.

    Sadarilah bahwa kekecewaan adalah awal yang tepat untuk menghilangkan hasrat terhadap sesuatu. Jangan jadikan rasa kecewa itu sebagai sumber kesedihan hati melainkan menjadi dasar kekuatan untuk semakin bersandar kepada Tuhan. Hindari kebiasaan melampiaskan kekecewaan dengan melakukan pelarian: membalas dendam, marah-marah, makan-minum sebanyak-banyaknya, mengkonsumsi miras, merokok dan lain sebagainya. Pelarian dengan menikmati hidup cenderung mengantarkan kita ke pintu over dosis. Ini sama saja dengan menghancurkan kesehatan fisik, mental dan sosial secara perlahan tapi pasti.

    Bagaimana pula saat kita kecewa karena seseorang tidak menepati janjinya? Kami sendiri menganjurkan anda untuk tidak bernjanji dengan siapapun sebab satu janji yang tidak terpenuhi, satu dosa tercatat. Berapa orang yang merasa kecewa dari janjimu, sebanyak itulah dosa anda. Bagi kami selama janji tersebut belum disahkan menggunakan hitam di atas putih yang diberi cap, selama itu pula ada resiko tidak dipatuhi. Tetapi “orang yang banyak mengingkari janjinya akan menjadi orang yang paling tidak bisa dipercayai di tengah masyarakat.”

    Di balik semuanya itu, jangan juga putus asa karena sering dikecewakan. Harus semangat menjalani hidup ini dengan menjadikan surga sebagai tujuan utama hidup kita. Katakan dalam hatimu “hari Tuhan sudah dekat! Kuatkan kami menjalani hidup ini ya Tuhan dan mohon berilah kami semangat untuk berpacu mengasihi Engkau sepenuhnya dan sesama seperti diri sendiri!”

Sudah terlalu banyak manusia yang jatuh karena hawa nafsu yang tidak mampu didinginkan. Seperti kekuatan yang dikumpulkan, ditimbun dan ditahan yang suatu saat bisa meledak, menghantam lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Memaksakan kehendak berpotensi menciptakan gunung berapi yang akan memuntahkan lahar amarah dalam berbagai bentuk yang merugikan orang lain, diri sendiri dan juga makhluk hidup lainnya. Adalah cerita lama, ketika ada keinginan yang tidak terpenuhi, kami juga pernah/ sering merasakannya dan orang lain juga bahkan semua orang pernah merasakan kekecewaan. Masalahnya sekarang, maukah kita memberi diri dilemahkan dan dihancurkan oleh rasa tersebut atau malah memilih untuk belajar menjadikannya sebagai pengalaman? Agar di waktu mendatang kita mampu mengendalikan hasrat yang dimiliki dengan mengarahkannya di jalan-jalan yang benar. Lebih dari itu, fokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian juga kasihilah sesama dalam setiap pelajaran dan pekerjaan yang digeluti. “Kebenaran hakiki adalah cara terbaik menekan hawa nafsu!”

Salam, Keinginan bisa berupa-rupa,
Pengamatan indra buatnya merajalela,
Pikiranlah yang mengendalikannya,
Rasa kecewa yang mengguncangnya,
Aktivitas positiflah yang mengarahkannya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.