Konflik Vertikal

10 Golput Yang Benar, Cara Menjadi Golput Cerdas, Baik & Sudah Sepantasnya

Golput Yang Benar, Cara Menjadi Golput Cerdas, Baik & Sudah Sepantasnya

Demokrasi seharusnya menjadi solusi terbaik yang mempersatukan di tengah masyarakat yang plural. Awalnya paham yang ciri khas utamanya bertemakan pemilihan umum tersebut dimanfaatkan untuk mencari kader-kader pemimpin terbaik yang pantas menduduki posisi penting dalam masyarakat. Memelihara dengan baik sistem multipartai yang sangat fleksibel di dalam berpolitik. Masing-masing memiliki visi sendiri sehingga mereka bergerak dengan caranya masing-masing untuk mencari lebih banyak dukungan di dalam masyarakat. Hanya saja yang diharapkan, setiap pergerakan tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila yang termuat dalam setiap bagian-bagiannya tanpa ada satupun yang terabaikan.

Saat partai-partai sibuk mencari sukarelawan merong-rong pemerintah dari dalam (memiskinkan negara dan memperkaya dirinya sendiri)

Sayang, paket kombo kekuasaan telah menganugerahkan kekayaan (gaji, fasilitas mewah) dan kekuasaan secara berlebih-lebihan kepada para politikus. Akibatnya, semua kekuatan (power) tersebut berpotensi besar untuk diselewengkan baik secara perorangan maupun secara kelompok. Praktek korupsi yang semakin merajalela menunjukkan bahwa fokus para petinggi partai sudah tidak lagi bertujuan untuk mencari kader yang berkualitas dan layak dicontoh. Melainkan masing-masing lebih fokus kepada pendapatan, fasilitas dan kekuasaan yang diperoleh sesaat setelah memenangkan pemilu. Sebab dengan semua sumber daya itulah setiap partai yang berjaya akan beroleh pendanaan untuk menjalankan kepentingannya di tengah masyarakat.

Sistem partai mandiri mengharuskan pejabat melakukan KKN untuk melunasi “utang bayangan” kepada partai

Pelaksanaan yang merusak dalam sistem partai adalah saat kader-kadernya dijadikan sebagai sumber-sumber pendanaan. Orang yang menduduki posisi strategis di dalam masyarakat ternyata dibebankan dengan biaya kampanye yang tinggi-tinggi. Sedang kita tahu sendiri bahwa sekalipun para pejabat tersebut mengumpulkan seluruh gajinya yang diperoleh selama menjabat, mustahil mampu memenuhi mahar kampanye berbiaya tinggi. Jadi dari mana lagi pejabat tersebut beroleh uang sebesar itu kalau bukan dengan menggelapkan ini-itu alias (KKN – korupsi, kolusi, nepotisme)? Jaman sekarang mustahil seorang pemimpin cerdas mengorbankan uangnya tanpa tahu untuk mengambil keuntungan yang lebih dari sistem lewat penggelapan dana proyek sana-sini.

Seharusnya negara menyediakan biaya kampanye gratis untuk mencari kader-kader terbaiknya dengan demikian para petingginya tidak terjerat dengan utang budi yang besar saat memimpin. Sehingga niat untuk korupsi tidak ada dan pemerintahan bebas dari berbagai proyek fiktif yang merugikan negara. Tetapi, saat masing-masing partai di suruh untuk berjuang mencari pendanaannya sendiri-sendiri, jelaslah bahwa mereka akan malakin kadernya yang duduk di pemerintahan. Sebab kampanye dengan biaya tinggi pastilah menyisakan utang yang luar biasa. Secara diam-diam para pejabat negeri dituntut untuk melunasi utang tersebut setelah mereka beroleh kekuasaan. Melakukan nepotisme, memberikan proyek kepada pihak tertentu, dan menggelembungkan dana proyek tersebut sedang dia sendiri (pejabat itu) beroleh jatah (fee) dari aksi kotor tersebut

Pengertian

Golput adalah akronim dari golongan putih. Golput adalah orang yang ragu-ragu memilih pemimpin karena jalannya pemerintahan masih belum dapat diterima dengan akal sehat (tidak rasional). Bisa dikatakan bahwa pesta demokrasi adalah sarana bagi setiap masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya. Di Indonesia, pemilu dilaksanakan lima tahun sekali baik untuk memilih para eksekutif (presiden, gubernur, walikota, bupati, kades) maupun untuk memilih anggota dewan (legislatif: DPR, DPD, DPRD). Mereka yang memilih untuk menjadi golongan putih yang benar tidak peduli dengan demokrasi, bukan pula karena apatis terhadap penyelenggara negara. Melainkan melakukannya semata-mata karena pertentangan prinsip hidup dengan calon pemimpin yang sedang bertarung. Beberapa orang juga menilai bahwa sistem kepartaian yang saat ini ada masih cenderung menciptakan koruptor oleh karena biaya kampanye super elit dan mewah yang terkesan syarat dengan foya-foya.

Macam bentuk golongan putih yang benar/ baik/ rasional/ pantas

Pemilihan para pemimpin bangsa ini seharusnya tidak sampai menyita cukup banyak energi, waktu dan materi asalkan hadiah yang ditawarkan bagi para pemenang tergolong adil (setara dengan rakyat pada umumnya). Kenyataannya kekayaan terlebih-lebih kekuasaan yang ditawarkan bagi para pemenang pemilu berada di atas angin. Megapaket yang dianugerahkan kepada setiap pemenangnya membuat orang tergiur dan beramai-ramai untuk memperebutkannya. Sudah otomatis, hadiah yang besar menuntut pengorbanan yang besar pula. Mereka akan menghambur-hamburkan uang lewat pagelaran kampanye berbiaya besar. Terlebih-lebih ketika masyarakat setempat kurang cerdas, dibom-bardirlah rakyat dengan uang sogokan atau pembagian sembako, baik secara diam-diam maupun yang nyata-nyata. Jelaslah bahwa kampanye semacam ini cenderung meningkatkan jumlah orang-orang yang memilih untuk golput.

Berikut selengkapnya akan kami berikan beberapa alasan untuk membenarkan (merasionalkan) tindakan golongan putih.

  1. Sedang dihukum dan dicabut hak politiknya.

    Baru-baru ini KPK memberikan sanksi kepada koruptor dengan dicabut hak politiknya. Ini dipandang sudah setimpal dengan kesalahan yang diperbuatnya yang mendatangkan kerugian kepada semua pihak. Uang yang digelapkan jelas-jelas dicuri dari kas negara. Seharusnya uang tersebut digunakan untuk mensejahterakan seluruh masyarakat tetapi telah diselewengkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Menurut kami, mencabut hak politik seseorang masih belum sebanding dengan perilaku merusak yang ditimbulkannya. Dalam arti diperlukan juga hukuman lain untuk melengkapinya berdasarkan keputusan majelis hakim.

  2. Sedang dalam bencana alam.

    Misal-misalnya saja, kita berspekulasi tentang keadaan terburuk di dalam masyarakat. Mungkin saja di hari H atau H-1,H-2 dan seterusnya telah terjadi bencana alam di wilayah tertentu dimana kelengkapan pemilu rusak total/ sebagian. Sedang sulit sekali untuk mengalokasikan perangkat pemilu ke daerah tersebut. Terlebih ketika akses jalan menuju wilayah tersebut masih belum ada atau sudah ada tetapi telah rusak berat. Dapat dipastikan bahwa orang-orang tersebut akan menjadi golput. Terkecuali jika pemerintah telah menyedikan biaya tambahan untuk pengiriman surat suara ekstra agar bisa segera dilakukan pemilu susulan.

  3. Sedang dalam keadaan sakit.

    Seseorang sakit bisa jadi karena luka dalam yang disebabkan oleh mikroorganisme dan penyakit metabolisme lainnya. Di sisi lain ada juga orang yang sakit karena luka fisik (luka luar) yang disebabkan oleh karena kesalahan kerja, terjatuh, kecelakaan transportasi dan berbagai-bagai nasib yang kurang menguntungkan lainnya. Sakit yang parah membuat seseorang tidak dapat bangun dari pembaringannya. Keadaan mereka yang cenderung lemah membuatnya tidak dimungkinkan untuk datang ke TPS melakukan pencoblosan. Otomatis, tindakan menjadi golput dibenarkan dalam situasi yang memilukan ini. Terkecuali jika ada orang lain yang dapat melakukan pencoblosan dengan membawa surat kuasa.

  4. Sedang dalam perjalanan.

    Mereka yang sedang melakukan perjalanan yang jauh dari kampung halaman memilih untuk tidak mengikuti pemilu karena faktor jarak yang sangat jauh. Mungkinkan mereka adalah orang yang sering berwisata ke luar daerah atau profesinya sebagai pengantar turis. Jika momen pesta demokrasi dilakukan di hari yang dekat dengan liburan anak sekolah, akan ada keluarga yang ke luar kota (setidak-tidaknya pulang kampung). Mungkin juga mereka adalah seorang pegawai yang bekerja di bidang transportasi, sebab bisnis antar-mengantar orang maupun barang tidak pernah berhenti di masa pemilu. Jadilah orang-orang ini golput tulen.

  5. Seorang perantauan yang baru pindah.

    Pemutakhiran data pemilih tetap, telah selesai dilakukan oleh KPU/ KPUD setempat hingga ke desa dan dusun-dusun di seluruh wilayah kerjanya. Secara tidak disangka-sangka, ada-ada saja orang yang merantau dengan meninggalkan daerah kelahirannya untuk menuju ke wilayah lain yang cukup jauh. Perjalanan yang dibutuhkan berjam-jam untuk kembali lagi ke daerah asal ketika pesta demokrasi berlangsung. Sedang namanya sendiri belum tercatat sebagai peserta pemilih di lokasi yang baru dimana dia tinggal. Pindah mendadak semacam ini secara sah membenarkan pilihannya untuk golput. Terkecuali ia melapor ke RT/ RW setempat untuk dibuatkan surat keterangan sehingga dapat mengikuti proses pemilu tersebut.

  6. Sistem kepartaian yang dinilai masih belum baik

    Kurang adil, Sistem yang mengelola partai-partai yang tidak menjunjung tinggi paham kesamaan hak (adil) dalam organisasi jelas bertentangan dengan Pancasila Khususnya sila ke lima. Dasar negara saja telah menjamin persamaan hak tersebut tetapi partai yang tidak menjalankannya telah melakukan penyimpangan halus sampai kasar. Kenyataan ini bisa saja membuat seorang idealis tidak memilih siapapun akibat partai yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila secara utuh.

    Sentralisasi, hierarki keluarga. Aneh juga rasanya, Indonesia sebagai negara demokrasi masih menjunjung tinggi sistem raja-raja masa lampau dalam menjalankan partai. Anak-anak mewarisi kekuasaan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka demikian selanjutnya. Orang-orang yang menduduki posisi stragegis dapat mewariskan posisi yang sama kepada keturunannya. Indonesia negara demokrasi atau monarki absolut kah?

    Tidak menampung aspirasi rakyat, Sistem partai yang kaku dan selalu berada di bawah bayang-bayang kekuasaan petingginya tidak mampu mencerna ide-ide baru di dalam masyarakat. Mereka justru terlena dalam politik bagi-bagi jatah saat kekuasaan sudah dimenangkan. Melakukan blusukan di berbagai wilayah pedalaman tetapi tidak mampu dan tidak mau meresapi aspirasi yang Pancasilai. Otomatis perilaku politikus yang enggan berjalan di jalur terbuka yang lurus tersebut kurang menarik bagi para pemilih revolusioner. Mereka akan menjadi golput karena paham di dalam berpolitik yang berlawanan dengan falsafah partai tertentu.

    Mematok mahar bagi kadernya, Jelaslah bahwa biaya kampanye yang tinggi-tinggi TIDAK GRATIS. Hanya orang idiot saja yang memberikan uangnya banyak-banyak tetapi tidak mengambil apa-apa kelak saat menduduki tampuk kekuasaan. Mahar yang ditabur pastilah akan dituai juga kelak sekalipun dengan melakukan KKN. Proyek fiktif, pengelembungan dana, kedekatan dengan oknum pengusaha dan berbagai tanda-tanda politik kotor lainnya menjadi hal yang biasa. Ketahuilah bahwa KEUNTUNGAN PASTI LEBIH BESAR DARI PADA MODAL. Mahal bernilai tinggi tersebut pastilah akan diperoleh penggantinya dalam jumlah lipat kali ganda.

    Menyogok masyarakat memilih kadernya, Ini jelas sebagai praktek demokrasi paling menyimpang. Sayang politikus kotor mampu mengenali kalangan masyarakat yang mau menerima sogokan dengan rela hati sehingga mencoblos balon (bakal calon) yang dikaderkannya. Masyarakat yang hidupnya dibiarkan terlantar, pendidikan rendah, kesehatan terganggu dan keuangan melarat akan menjadi sasaran empuk praktek suap. Kalangan intelektual yang menyadari kejadian tersebut pastilah tidak akan pernah mau mencoblos kader partai dimaksud. Lha, kalau semuanya menyogok berarti tidak milih siapa-siapa alias golput.

  7. Tidak ada pemimpin yang menurutnya sepaham (prinsipnya sama).

    Masyarakat cerdas yang mampu memahami betul tentang prinsip-prinsip demokrasi yang dipegang oleh seorang pemimpin akan memberikan dukungan sepenuhnya. Tetapi jika ada yang bertentangan dengan falsafah yang diyakini pasti tidak akan memberikan dukungan apapun. Pemimpin yang pengetahuannya kerdil tentang demokrasi yang benar membuat para konstituen enggan untuk menentukan pilihan di ruang rahasia bilik suara. Perbedaan pemahaman semacam ini jelas mengesahkan seseorang untuk tidak memilih siapa-siapa (golput). Terlebih ketika calon-calon yang dikaderkan tidak memenuhi kualifikasi/ standar yang dipakai untuk diri sendiri.

  8. Tidak ada pemimpin yang menurutnya berkepribadian baik (Good track record).

    Beberapa orang mungkin pernah berpapasan langsung dengan calon yang diunggulkan oleh partai. Mereka malah kerap menemui atau pernah berbincang dengan calon pejabat tersebut di masa lalu. Tetapi rasa-rasanya, kepribadiannya masih labil, kurang tabah dan kurang ramah. Otomatis, memilih orang seperti ini tidak ada semangat di dalam hati. Terlebih ketika diisukan bahwa dulunya calon pejabat tersebut terlibat skandal ini-itu. Track record kader yang kurang pas di hati pemilih membuatnya menjadi golongan putih dan hal tersebut tidak salah dalam paham berdemokrasi. Seperti kata teman kami di forum.detik.com yang berkata bahwa “masakan kita harus memilih yang baik di antara yang buruk?”

  9. Pemilih merasa bahwa oknum politikus hanya tebar sensasi & ketakutan.

    Bila pekerjaan oknum politikus (pemimpin & pejabat) terus bersandiwara untuk menakut-nakuti masyarakat “seolah-olah ada ancaman besar padahal semuanya aman-damai-terkendali.” Pekerjaan macam apa yang dilakukan oleh orang-orang ini? Mereka pikir kehidupan itu film/ sinetron apa? Dimana dirinya dan kelompoknya bisa tebar pesona di televisi hanya untuk menyebar isu-isu yang tidak mendidik. Malahan mereka menggiring pengetahuan masyarakat untuk berputar di situ-situ saja. Sungguh bukan contoh pemimpin yang baik, sebab sumber daya besar yang ada dalam kekuasaannya dijadikan sebagai kekuatan untuk menyebar ketakutan.

    Orang-orang cerdas yang menyadari kekangan informasi yang diciptakan oknum pemerintah untuk mengendalikan kekuatan persepsi masa akan mengundurkan diri dari pemilu. Mereka memang datang ke TPS tetapi mencoblos semuanya.

  10. Pemilih merasa tidak diayomi oleh negara.

    Untuk apa memilih pemimpin/ pejabat? Apa mereka sudah mendatangkan kebaikan dalam kehidupan kita? Toh masyarakat tetap saja berada di bawah garis kemiskinan, pengangguran, persaingan tidak sehat, kriminalitas, terorisme dan berbagai masalah lainnya. Seharusnya, jika kita memiliki pemerintah maka tidak ada lagi orang yang melarat dan terlantar kehidupannya. Bahkan kriminalitas bisa ditekan hingga titik nol jika seluruh aparatur negara dapat bekerja jujur dan terbuka. Jika kami sebagai masyarakat biasa tidak ditopang kehidupannya, untuk apa ada negara? Untuk apa orang pemerintah makmur dan kaya raya sedang rakyat masih melarat? Rasa dengki akibat perlakuan yang tidak adil bisa saja membuat seseorang memilih untuk menjadi golput yang bijak.

Cara menjadi golput yang sepantasnya (tidak inkonstitusional)

Ketika anda merasa bahwa ada hal-hal mendasar yang telah diabaikan oleh oknum petinggi negeri dalam menjalankan kekuasaannya, anda berhak tidak memilihnya pada periode selanjutnya. Apabila menurut nilai-nila Pancasila belum seutuhnya dianut oleh suatu partai dalam visi misinya, anda berhak untuk tidak memilih kader partai tersebut. Tetapi kita tidak berhak berdemonstrasi untuk menolak pemimpin terpilih yang konstitusional. Jika menginginkan perubahan, carilah orang yang mampu mengubah aturan tersebut kepada jalan yang sebenarnya. Bila perlu minta calon pejabat tersebut untuk menandatangani “deklarasi perjuangan bahwa dia akan mengusulkan perubahan undang-undang agar sesuai dengan dasar negara Pancasila.” Jika anda merasa bahwa di antara semua orang yang dicalonkan tidak ada yang mengemban tanggung jawab tersebut, silahkan berada di sisi golongan putih cerdas yang memiliki dasar yang teguh (rasional) dan bukan apatis.

Berikut ini akan kami jelaskan tata cara menjadi golput yang benar karena tidak ada calon pemimpin (presiden, kepala daerah, anggota dewan) yang cocok dengan kualifikasi anda secara pribadi.

  1. Tidak baik menjadi golongan putih apatis yang tidak datang ke TPS.
  2. Tolong jangan jadi golongan putih hanya karena alasan malas untuk datang ke TPS.
  3. Hindari menjadi golput yang enggan untuk mendatangi TPS karena alasan sepele lainnya.
  4. Datanglah ke TPS seperti warga masyarakat pada umumnya.
  5. Silahkan mendaftar dan tunggu nomor antrian anda.
  6. Masuklah ke dalam bilik suara dengan tertib.
  7. Buatlah coblosan yang lebih dari satu pilihan (coblos lebih dari satu partai/ orang/ pasangan).
  8. Keluarlah dari bilik suara dengan tertib dan hindari buat gaduh untuk mempengaruhi orang lain.
  9. Siapapun pemimpin yang keluar sebagai pemenang, terima saja dan hindari demonstarasi.
  10. Dengan demikian anda adalah golput yang cerdas.

Kalau golput itu tidak sah secara demokrasi, berarti dari dulu atau setidak-tidaknya lima tahun sebelumnya tidak ada orang yang melakukan hal tersebut. Buktinya, para golongan putih terus saja berseliweran dalam setiap pemilu yang dilaksanakan baik dalam skala nasional-daerah maupun dalam pemilihan eksekutif juga legislatif. Rendahnya kalangan ini merupakan salah satu indikator kesuksesan demokrasi yang diadakan dalam suatu negara. Di atas semuanya itu, jadilah golput yang cerdas, bukan pemalas dan tidak apatis atau karena alasan sepele lainnya. Di sinilah terbukti seberapa besar peran pemerintah dalam mensejahterakan seluruh rakyat seadil-adilnya. Jika masyarakat merasa bahwa pemerintah telah melakukan tupoksinya dengan sebenar-benarnya, tanpa diingatkan sekalipun mereka akan turut berpesta dalam merayakan demokrasi (pemilihan umum). Saksikan kawan, Saya ingin jadi golput, apa alasan & dasar yang tepat?

Salam, Jadilah golput bukan apatis,
Tidak memilih karena prinsip jelas,
Bukan karena malas tetapi tegas
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.