Konflik Vertikal

10 Sogokan & Pemborosan Kampanye Partai Politik (Parpol) – Suap Pencalonan Pemimpin (Pejabat) Terlebih Saat Sudah Menjabat Kelak!


Intro – Keseimbangan hidup rusak akibat arogansi, manipuasi dan keserakahan

Dari awal kehidupan, alam semesta telah diciptakan pada takaran yang seimbang satu-sama lain. Kerapihan dan keteraturan setiap ciptaan sangat detail dari yang terbesar sampai menyangkut hal-hal sangat kecil yang tidak dapat diamati oleh indra manusia. Setiap tatanan yang terbentuk saling membutuhkan, menekan dan mengendalikan satu-sama lain sehingga tercipta suatu hierarki yang saling terhubung. Suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain yang melakukan aktivitas yang beragam tapi stagnan. Sebab masing-masing ciptaan tersebut bergerak dalam pola-pola variasi yang tetap karena tidak memiliki kesadaran. Satu-satunya makhluk yang memiliki kesadaran dan mampu bergerak secara terorganisir adalah umat manusia, kita.

Naasnya, rupa-rupa pergerakan yang kita lakukan terlalu egois, arogan, manipulatif dan serakah sehingga besar kecenderungan menghancurkan tatanan alamiah. Manusia yang terlalu fokus kepada dunia ini berpikir bahwa segala sesuatu bisa memuaskan hatinya namun yang terjadi adalah kekurangan secara terus-menerus. Padahal, hati bagaikan lubang hitam yang terus menganga meminta untuk diisi lagi dan lagi, sedang hal-hal duniawi itu hanya dapat dikonsumsi sesekali saja. Menggunakan materi secara cepat seperti menghembuskan napas justru akan merusak dunia ini. Sebab material yang ada di dunia ini akan habis juga akibat tingginya konsumsi (sifat konsumtif yang lebay). Akibatnya, malapetakan bencana alam dan bencana kemanusiaan mengancam kehidupan masyarakat, cepat atau lambat.

Kampanye parpol menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting

Salah satu sifat konsumtif yang terjadi secara nyata, yaitu pada proses kampanye politik. Jelaslah bahwa biaya yang sangat tinggi akan digelontorkan untuk memperebutkan kursi kekuasaan dan jabatan yang penuh dengan lahan basah. Uang yang totalnya selangit itu menjadi bahan bakar untuk menggerakkan mesin partai demi mempopulerkan dan memenangkan calon-calon yang diusungnya. Secara otomatis, keadaan ini tidak berbicara tentang uang jutaan rupiah saja melainkan mengkisahkan tentang pemborosan miliaran rupiah yang menguap dalam waktu dua-tiga bulan saja (masa kampanye). Aktivitas yang serakah ini beresiko menyebabkan kerusakan lingkungan: tapi tidak masalah teknologi bisa mengantisipasinya. Persoalannya sekarang adalah semuanya itu diambil dari dana pribadi.

Ongkos politik besar mau tidak mau mengharuskan pejabat untuk KKN-ria!

Pertanyaan kami yang paling mendasar adalah apakah orang-orang ini mengorbankan uangnya dengan setulus hati? Apakah para pengusaha itu menggelontorkan dana jutaan bahkan miliaran rupiah itu secara gratis? Kami rasa mereka tidak sebodoh itu sebab setiap yang menabur pasti akan menuai. Jika memang demikian, darimana para pejabat itu kelak beroleh uang tebusan untuk melunasi utang kampanye? Padahal kita tahu bersama bahwa sekalipun gaji mereka dikumpulkan selama menjabat satu periode tidak akan cukup untuk melunasi semunya itu. Jadi dari mana lagikah itu kalau bukan lewat proyek-proyek gendut yang dihibakan kepada para pengusaha secara terstruktur dan rapih?

Apa urusan swasta saat pemerintah mencari pegawainya?

Biaya kampanye tinggi memang hal yang biasa asalkan digunakan untuk aktivitas yang jelas (teraudit). Tetapi ketika para pengusaha pasang badan untuk mempelopori pembiayaan tersebut, rasanya janggal! Mengapa kami berkata demikian? Sebab yang mencari dan membutuhkan pemimpin/ pejabat adalah negara, masakan yang membiayainya pihak swasta? Ini seolah-olah berkisah tentang “pemerintah yang membutuhkan pegawai negeri sipis (PNS) tetapi yang membiayai setiap tahapan seleksi adalah oknum pengusaha swasta.” Bukankah hubungan hubungan yang terjalin ini berpotensi besar menjadi sasaran praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)?

Pengusaha pasti menuntut ganti rugi berlipat ganda

Terlebih ketika kita mengamati berbagai praktek sogok yang berlangsung di antara masyarakat. Suatu kebiasaan yang awalnya dianggap lumrah namun sesungguhnya praktek tersebut merupakan cikal-bakal perilaku korup di dalam pemerintahan.  Atau anda berpikir bahwa setiap praktek tersebut gratis adanya? Ketahuilah bahwa setiap sen uang, barang dan fasilitas yang kita dapatkan di masa kampanye akan diambil bayarannya secara lunas. Bahkan menyisakan surplus yang sangat tinggi untuk dihambur-hamburkan membeli berbagai kemewahan, kemegahan dan kenyamanan duniawi. Sebab di balik gelontoran dana yang besar itu ada pebisnis sebagai motornya. Businisman tidak pernah berpikir untuk merugikan dirinya secara mutlak melainkan memastikan bahwa apa yang ditaburnya adalah investasi yang akan menelurkan keuntungan emas bernilai selangit.

Pengertian

Praktek sogok adalah memberikan sesuatu (segala jenis materi) dengan tujuan untuk mempengaruhi pilihan seseorang terhadap suatu proses. Seharusnya suap-menyuap  tidak berlaku saat kampanye sedang berlangsung sebab masing-masing rakyat tanpa disuruh sekalipun akan datang meramaikan pesta demokrasi. Terlebih ketika mereka merasakan peran negara yang sangat besar mengayomi, menopang, mensejahterahkan dan mengamankan kehidupannya. Akan tetapi, saat susu kemakmuran dari pemerintah tidak menyentuh masyarakat tertentu, alhasil niatnya untuk meramaikan pemilu turun drastis bahkan berpeluang besar menjadi apatis.

Macam bentuk penyuapan di masa kampanye parpol (partai politik)

Kebersiahan suatu proses dimulai dari dasarnya. Bila awalnya baik dipastikan ujung-ujungnya juga akan positif adanya, sedikit guncangan tidak berarti destruktif. Akan tetapi saat suatu pekerjaan didasarkan pada praktek yang syarat dengan tindakan sogok-menyogok niscaya pelaksanaan untuk seterusnya pastilah syarat dengan korupsi. Sebab apa yang sudah dimulai di awal-awal cenderung terbawa-bawa hingga periode jabatan yang diemban berakhir. Sadarilah bahwa pebisnis mustahil membagikan uangnya secara gratis jika tidak beroleh keuntungan berlipat lewat semua proses tersebut. Setiap materi yang anda terima dari tangan politikus akan diambil gantinya secara diam-diam lewat berbagai aksi korup yang tersistem.

Berikut ini akan kami tampilkan beberapa contoh praktek penyuapan yang dilakukan oleh parpol di masa-masa kampanye.

  1. Membagikan selebaran (poster).

    Kebiasaan ini termasuk salah satu tindakan pemborosan yang dilakukan oleh oknum parpol. Rasa-rasanya poster yang dibagikan kepada orang-per orang, itu cenderung dibuang-buangi tidak karuan. Sebab kebanyakan masyarakat merasa tidak penting dengan semua pencitraan yang didokumentasikan itu. Mahasiswa jurusan komputer yang pandai desain grafis juga dapat membuatnya dengan nada yang lebih berapi-api dari yang tertulis dalam selebaran tersebut.

    Hanya karena oknum parpol memiliki dana besar maka berbagai selebaran disebar, dimana semua aksi itu hanya menambah-nambah semak kehidupan, menyakiti pohon dan merusak estetika lingkungan. Andai paket kombo yang ditawarkan oleh jabatan yang diperebutkan disetarakan dengan profesi lainnya pastila dana yang digelontorkan oleh partai tidak difoya-foyakan untuk sesuatu yang tidak penting.

  2. Memberikan pin.

    Jika anda bukan anggota partai, berarti pin yang dibagikan oleh oknum parpol ditujukan untuk mempengaruhi anda? Sebab parpol itu ormas yang berhak membagikan apa saja kepada anggotanya. Sedang saat mereka membagikan barang dan jasa apapun kepada masyarakat luas, itu adalah upaya menyogok agar kliennya dipilih oleh masyarakat pemilih.

  3. Memberikan kalender.

    Kami heran, di masa pemilu ada begitu banyak partai yang boros-boroskan anggaran. Sebab membagi-bagikan kalender adalah suatu hal yang terkesan mubazir. Setiap orang sudah memiliki kalender di rumah, bahkan kalender kader parpol yang ada di tempat kami nambah-nambah semak di rumah. Itu kalender mau digantung di mana? Toh kami sudah punya kalender yang dibeli di awal Tahun. Ini jelas pemborosan yang ujung-ujungnya nambahin sampah rumah tangga.

  4. Memberikan topi.

    Anda yakin mau mengambil topi parpol sedang diri sendiri bukan anggota partai? Mau dipakai dimana topi tersebut? Itukan topi cuma cocok dipakai oleh orang parpol yang sering kumpul bareng dengan anggotanya. Sedang pemberian hal itu kepada masyarakat biasa adalah suatu pemborosan. Ujung-ujungnya topi tersebut akan di buang tempat sampah, masak dipakai terus dalam kehidupan sehari-hari? (kecuali anda adalah anggota parpol)

  5. Memberikan kaos.

    Pemberian kaos kepada masyarakat biasa memang salah satu bentuk sogokan agar orang tersebut menjatuhkan pilihannya kepada oknum partai politik atau pejabat tertentu. Namun anda yakin menggunakan kaos berlogo tertentu dalam kehidupan sehari? Padahal anda bukanlah seorang fans fanatik partai tertentu. Mungkin ada-ada saja orang yang menggunakan kaos bersablon wajah partai walau bukan pendukung asli. Tetapi orang yang cerdas pasti akan menaruh kain tersebut untuk disimpan di lemari saja. Ujung-ujungnya “kaos tersebut hanya dipakai sehari tetapi digudangkan selamanya:” bukankah ini salah satu bentuk kemubaziran?

  6. Mengasih payung.

    Anda yakin menggunakan payung parpol dalam aktivitas kehidupan sehari-hari? Apa mata ini nggak semak rasanya bila memandang sablon yang terkesan lebay tersebut? Terlebih ketika foto orang entah berantah terpang-pang dengan jelas di sana. Kami sendiri merasa nggak enakan untuk menggunakannya terlebih ketika kami bukanlah fans fanatik organisasi manapun.

  7. Mengasih makanan.

    Di sinilah parpol berdana besar berkesempatan untuk menjalankan jurusnya yang mematikan kepada rakyat ekonomi menengah ke bawah. Karena masyarakat tersebut miskin dan belum sekolah mau-mau saja disogok dengan diberi satu piring nasi bungkus (nasbung 😀 😀 😀 ) agar mereka memilih kadernya dalam pemilu. Penyuapan semacam ini jelas diikuti saja oleh masyarakat yang kurang berpengalaman, mereka akan memasuki bilik suara lalu memilih orang yang jelas-jelas korup tersebut.

    Sedang masyarakat yang cerdas tidak mau dikendalikan oleh orang lain dan akan memilih sesuai dengan kata hatinya sendiri. Terkecuali jika orang cerdas tersebut kelaparan, mungkinkah dia bimbang lalu memilih penyogok itu? Kembali lagi ke masalah kesejahteraan, mereka yang miskin ekonominya mudah ditokoh-tokohi oleh orang yang pintar-pintar.

  8. Mengasih minuman.

    Dahulu kami pernah sekali menerima sogokan dari salah satu calon legislatif. Kami dibawa ke rumah salah satu pendukungnya lalu di ajak makan dan minum. Kejadian itu sudah lama memang ya, namanya anak kos-kosan yang makan & minum biasanya pas-pasan. Di sogok dengan sepiring nasi dan minuman (bukan nasbung wkwkwkkkkk) kami mau-mau saja nyoblos anggota dewan tersebut.

    Sesampai di kosan, “teman kami bertanya: Kamu tadi milih apa? Kami: Milih orang itulah? Teman: Memang bodoh kau, ngapain kau pilih orang itu? Uang yang akan dikorupsikannya bakal lebih besar kelak dari nasbung yang kau makan!” Saksikanlah, Jadilah golput yang benar!

    Kamipun sadar sendiri, betul juga ya? Ngapain pulak awak tadi milih koruptor penghancur negara ini? Sejak dari itu, kami tidak lagi mau menerima apa-apa dari kader partai politik. Sebab uang yang mereka bagi-bagikan jelas sebagai uang haram dan makanan juga minuman yang mereka berikan jelas haram adanya. Sebab jumlah yang akan mereka korupsikan kelak pastilah jauh lebih besar dari itu. Lagipula menggelontorkan uang sebesar itu untuk memberi makan banyak orang, apakah dicari dengan cara-cara jujur?

  9. Mengasih ongkos.

    Jangan terima apapun yang diberikan oknum parpol saat pemilu berlangsung. Sadarilah bahwa dana tersebut berasal dari uang panas sebab hal-hal yang panas lebih mudah dilemparkan dan dibagikan ke orang lain. Mencoblos mereka sama saja dengan merestuinya untuk menduduki jabatan tersebut. Sehingga kesalahan yang dilakukannya secara tidak langsung ditanggungkan juga kepada anda. Terlebih ketika telah menerima uang suap darinya, ikut-ikutan berdosa jugalah kita selama dia menjabat sekalipun hal tersebut tidak disadari. Tetap saja kitapun telah mencicipinya dahulu! Simak juga, Mengapa menjadi golput?

  10. Mengasih amplop/ uang.

    Money politik semacam ini jelas sebagai bentuk pelanggaran nyata. Anda bisa memfoto (kamerakan) pelaku yang memberikan uang tersebut dan rekam pembicaraan yang dilakukan dengannya. Lalu laporkan ke KPU/ KPUD setempat. Ini salah satu cara terbaik untuk membuat orang yang gemar melakukan praktek rendahan tersebut menjadi kapok.

  11. Dan lain sebagainya.

Seharusnya animo politikus untuk menjadi pemimpin atau pejabat tidak gila sampai menghalalkan segala cara. Akan tetapi, manusia bisa menggila akibat uang yang sangan luar biasa jumlahnya. Sebab uang yang gede adalah kekuasaan, itu bisa saja dipakai untuk menekan, memprovokasi dan mengintimidasi kehidupan lawan-lawannya. Semua itu dilakukan semata-mata demi memperebutkan megapaket yang angkanya berada diluar hitungan (miliaran hingga triliunan). Karena itu jugalah para pengusaha rame-rame memberikan sumbangsihnya agar kelak jika berkuasa beroleh jatah proyek yang dibesar-besarkan, padahal penerapannya tipis-kempis. Lagipula, apa kepentingan oknum swasta menyumbang besar dalam kampanye kalau tidak tahu bahwa dananya tersebut akan kembali dalam jumlah berlipat? Seharusnya, negara berani mengeluarkan dana lebih untuk mencari para petinggi dengan kualitas terbaik dan bukannya menyerahkannya kepada pihak swasta. Sebab hubungan yang terjalin antara penguasa dan pengusaha berpotensi memperanakkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Salam, Pemilu yang bersih,
Jaminan dasar pejabat yang amanah
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.