Kepribadian

7 Hubungan Dosa & Kutuk – Penyembahan Berhala Menyebabkan Malapetaka


Hubungan Dosa & Kutuk – Alasan Penyembahan Berhala Menyebabkan Bencana

Otak sadar adalah kemampuan dasar manusia

Di antara semua ciptaan Tuhan hanya manusialah yang dianugerahkan kesadaran untuk mampu membedakan mana yang baik dan apa yang jahat. Tidak ada yang berusaha mengendalikannya dan tidak ada pula yang mengikatnya sebab pikirannya telah terbuka oleh ilmu pengetahuan yang asalnya dari Allah. Kehendak bebas ini memang menguntungkan tetapi dapat pula merugikan. Menguntungkan saat menggunakan potensinya untuk mengejar kebenaran dan merugikan ketika memanfaatkan kemampuannya untuk melakukan dosa. Karena itulah Yang Maha Kuasa menegaskan batas antara dosa dan kebenaran lewat hukum Taurat yang diberikan-Nya melalui perantaraan nabi Musa.

Bagian lain di alam semesta diberikan Tuhan kekuatan yang mengagumkan

Matahari dianugerahkan panas dan cahaya yang daripada Allah. Bumi diberikan ketegaran layaknya Tuhan yang selalu sabar menghadapi manusia. Pepohonan dikaruniai kekuatan perlindungan layaknya Sang Pencipta yang selalu melindungi umat-Nya. Buah-buahan, padi-padian dan tanaman kecil lainnya diberikan berkat sebagai bahan makanan layaknya Yang Maha Mulia yang senantiasa memberi makan orang percaya lewat firman. Udara dititipkan bakat yang memberi kesejukan layaknya Yang Maha Agung yang selalu menyejukkan hati dalam setiap hembusan nafas ini. Air diberikan kemampuan yang melegakan dahaga layaknya Yang Maha Kuasa memberi kelegaan di dalam kesesakan.

Sekalipun ciptaan lain tidak sadar tetapi mereka justru bisa menguji dan menghukum manusia

Harap dipahami bahwa sekalipun kekuatan (power) ciptaan lainnya luar biasa, mereka bisa mengatur diri sendiri sehingga tetap berputar mengikuti siklus kehidupan. Keberadaan mereka selain memberikan manfaat positif bagi kehidupan umat manusia dapat juga bertindak sebagai pemberi pelajaran/ hukuman/ kutuk atas tindakan kita yang salah. Hanya saja, reaksi alam semesta terhadap kesalahan kita sifatnya menimbun. Artinya, ciptaan lainnya tidak serta-merta menghukum saat kita melakukan satu-dua dosa saja (awalnya menimbulkan rasa segan dan takut dalam pikiran sendiri). Tetapi ketika kesalahan itu melimpah berjamaah, tepat di saat itulah tindakan alam menjadi nyata. Seperti kata Tuhan Yesus Kristus: “hal-hal kecil mengawali hal besar;” demikian juga dengan “dosa kecil  yang berulang lama kelamaan akan menjadi besar juga.”

Manusia lebih doyan menggunakan pikirannya untuk beroleh kebanggaan duniawi

Sekarang, manusia sebagai ciptaan yang dianugerahkan kemampuan untuk berpikir, harus menggunakannya layaknya Tuhan. Sedang kita semua tahu bahwa Tuhan adalah kebenaran itu sendiri. Jadi, jika ada kebenaran yang layak dikejar oleh umat manusia, itu adalah kehendak Sang Pencipta (dasar dari firman). Gunakanlah potensi pikiran yang kita miliki untuk mengasihi Allah seutuhnya dan sesama manusia sama seperti diri sendiri. Ilmu pengetahuan dan segala perkembangan teknologi yang kita miliki semata-mata ditujukan untuk mengasihi Allah dan sesama. Sayang, manusia lebih suka mendedikasikan hal tersebut untuk menyembah ilah-ilah duniawi yang terhampar di sekitarnya dalam bentuk kekayaan, kemewahan, kenyamanan, ketenaran, kehormatan dan lain sebagainya.

Awalnya terlihat aman-aman saja tetapi ujung-ujungnya malapetaka

Memang di awal-awal, mengejar kenikmatan dan kemuliaan duniawi tidak menjauhkan kita dari kasih terhadap Tuhan dan sesama. Akan tetapi, seiring dengan semakin tingginya kedengkian makin panas juga persaingan; sejalan dengan semakin banyaknya orang makin banyak juga tantangan/ cobaannya. Selaras dengan semakin besarnya hadiah makin besar pula pengorbanan bahkan orang lain pun dikorbankan demi mencapainya. Sehubungan dengan semakin kerasnya usaha, makin banyak pula kekerasan yang dilakukan kepada sesama. Setara dengan semakin banyaknya kesalahan makin banyak pihak yang dirugikan oleh sikap kita termasuk di dalamnya adalah lingkungan sekitar (kehidupan hayati).

Saat kita  memforsir seluruh kekuatan hanya untuk mencari uang besar kemungkinan pada permulaannya tidak menyebabkan dosa. Tetapi sewaktu rasa arogan sangat tinggi dalam hati seseorang, besar kemungkinan timbul kesombongan. Saat jumlah manusia semakin banyak, kecepatan konversi sumber daya alam menjadi barang dan jasa kian tinggi. Ketidakadilan yang merajalela membuat iri hati diwujudkan dalam bentuk kejahatan yang nyata. Sumber daya alam menipis sedang orang yang berusaha untuk meraihnya sangat banyak sekali. Akibatnya tidak cukup untuk semua sehingga manusia mulai melakukan cara-cara licik yang kejam tetapi tersembunyi untuk menaklukkan sesama demi beroleh apa yang diinginkan. Orang-orang tamak semakin merusak lingkungan dan sangat boros menggunakan energi (BBM). Akhirnya, bencana alam meluap dalam berbagai bentuk dan bencana kemanusian terjadi dimana-mana. Orang kuat akan menyeleksi yang lemah. Mereka yang pintar akan menjebak dan mengalahkan yang kurang cerdas. Oknum yang kaya raya akan membunuh yang miskin. Pihak yang menjadi penguasa memanfaatkan pengikutnya untuk dijadikan tameng, diinjak bahkan dikorbankan demi kepentingan pribadi.

Hubungan dosa manusa dan kutukan secara logika

Kita kadang berpikir “Tuhan itu egois sekali sih, masakan kita disuruh untuk selalu memuji-muji-Nya setiap waktu. Jangan-jangan Dia gila hormat kali ya…. Atau mungkinkah kekuatan-Nya semakin melemah saat kita tidak lagi percaya, taat, menghormati dan menyembah kepada-Nya?” Sadarilah bahwa Tuhan nggak akan pernah rugi satu sen pun walau seluruh manusia tidak lagi percaya kepada-Nya setelah mereka mengabaikan panggilan-Nya. Tanpa ditujukan kepada-Nya anugerah otak yang dari Allah itu hanya akan menjadi liar yang merusak, menggiring manusia dalam sifat arogan, sombong, iri hati, kelicikan, penipuan, keserakahan dan masih banyak lagi kejahatan lainnya. Ketidakpercayaan kepada Tuhan murni akan mengarahkan manusia pada dosa penyembahan berhala. Saat seseorang mulai menyembah kenikmatan dan kemuliaan duniawi, besar kemungkinan perbuatan daging akan timbul dari dalam alam bawah sadarnya. Kedagingan yang berkuasa atas dunia ini hanya akan menimbulkan kekacauan: amarah, konflik, peperangan, agresi (seleksi sosial) serta seleksi alam: bencana alam, gagal panen, kelaparan, wabah penyakit, serangan binatang buas dan lain-lain. Itulah kutukan yang akan semakin nyata akibat sikap membangkang dari nilai-nilai kebenaran. Simak juga, Pelanggaran manusia yang pertama-tama.

Ada hubungan yang erat antara dosa yang dilakukan manusia dengan kutuk sebagai akibatnya. Inti dari semua dosa adalah menghambakan diri terhadap kebanggaan: kesuksesan, kekayaan, ketenaran, kemewahan, kenyamanan, pujian yang berlebih-lebihan. Bukankah semuanya itu kita lakukan demi mendapatkan pengakuan dari orang lain? Lalu berpikir bahwa hal tersebut bisa memuaskan hati selamanya? Jawabannya adalah mustahil, sebab hati ini akan selalu kosong ketika kita tidak selalu menujukannya kepada kebenaran. Berikut akan kami utarakan hubungan erat antara dosa penyembahan berhala dengan kejadian bencana (kutukan).

  1. Dosa membuat hubungan dengan Tuhan renggang.

    Anugerah terhebat dalam kehidupan manusia adalah pikiran yang berkembang dan maju melampaui batasan yang pernah diamati oleh panca indra. Kemampuan otak yang sangat tinggi bila lepas kendali maka akan dikuasai oleh hawa nafsu yang selalu ingin lebih (arogan) dalam hal kelimpahan akan kebanggaan duniawi. Keinginan untuk menipu orang demi mencari keuntungan yang membuat kaya raya. Hasrat lebay sehingga cenderung serakah memanfaatkan alam misalnya berfoya-foya dan hidup mewah-mewahan. Menghalalkan segala cara agar nafsu yang menggebu-gebu untuk menjadi pejabat kaya yang terpandang. Dan masih banyak lagi perilaku lainnya yang menunjukkan bahwa hasrat yang kuat terhadap materi semakin membuat kita berdosa yang dimulai dari dalam hati.

    Mungkin saat pertama-tama hubungan dengan Tuhan renggang seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, lama kelamaan kehidupan yang selalu fokus kepada materi yang memberhalakan ilah-ilah duniawi dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya yang sempit akan mendestruksi dirinya dimulai dari dalam keluarga sendiri. Mungkinkah itu seputar masalah pasangan (suami/ istri) terlalu sering cek-cok, anak yang tidak mampu bersosialisasi atau anggota keluarga lainnya yang suka manja, cengeng, tidak ramah dan lain sebagainya. Karena kita lebih memilih untuk menyembah berhala duniawi daripada fokus kepada Tuhan maka bencana itu akan dimulai dari dalam kehidupan pribadi dan keluarga sendiri.

  2. Dosa membuat hubungan dengan sesama terlalu melebar jaraknya.

    Kita suka dengan ketidakadilan sosial sebab diri ini diuntungkan oleh karena keadaan tersebut. Gelimangan harta benda menumpuk-numpuk dikantong sedang jabatan yang dimiliki membuat kehadiran anda disambut layaknya dewa-dewi yang baru turun dari kayangan. Kita menikmati semua kesenangan sesaat tersebut denga sukaria bersama keluarga dan teman-teman lainnya.

    Sayang, di balik semuanya itu, hubungan dengan orang lain sangat rentan. Kita terlalu takut sama orang lain sampai over protektif bahkan bisa berubah menjadi paranoid. Mencoba melarikan diri dari masalah yang terpancing lewat kelimpahan yang diperoleh. Kita merasa tertekan karena terlalu banyak orang yang iri hati dengan diri ini. Seolah kita dihimpit oleh ujian kehidupan yang bertubi-tubi karena orang lain sakit mata melihat kekayaan, kemewahan, kenyamanan, ketenaran dan masih banyak lagi kebanggaan lainnya. Hampir-hampir saja kita stres bahkan depresi karena semua situasi tersebut; tetapi cermati keuntungan yang diterima, “bukankan anda dibayar dengan gaji dan fasilitas yang sangat-sangat tinggi untuk menanggung semuanya itu?” Jadi, senangnya minta ampun menjadi kaya raya dan terhormat tetapi cobaannya juga minta ampun: bukankah itu sudah setara/ seimbang?

  3. Dosa melenyapkan kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati.

    Sesungguhnya untuk menjadi bahagia itu sangat sederhana yaitu beraktivitaslah setiap hari. Mulai dari fokus kepada Tuhan, bekerja dan belajar. Tekuni semuanya itu dalam kerendahan hati niscaya rasa bahagia selalu ada.

    Tidak perlu ribet untuk menjadi puas dalam segala sesuatu yang telah dimiliki. Berusahalah untuk melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin. Berikan usaha terbaik anda saat mengemban suatu tanggung jawab. Belajarlah menerima kekurangan diri dan mengakui keunggulan orang lain. Kemudian terimalah setiap hasil yang diperoleh apa adanya. Niscaya kepuasan itu menjadi milik dimanapun berada.

    Damai erat kaitannya dengan kemampuan melupakan masa lalu yang buruk. Tetapi memaknai semuanya itu dalam suatu lingkaran perumpamaan yang perlu diambil makna positifnya sebagai pengalaman hidup. Bisa dikatakan bahwa orang yang damai hatinya adalah yang telah memaafkan musuh-musuhnya bahkan sudah rajin berbuat baik kepada mereka (ramah).

    Tenteram tidak didapatkan dengan mudah melainkan butuh latihan untuk melakukannya. Suasana hati yang tenteram terbukti nyata saat dinamika kehidupan melanda tetapi diri ini tetap mampu menghadapinya dengan tenang. Mungkin di sekitar ada beberapa orang yang mulai gelisah dan bimbang hatinya akibat kekacauan di dalam masyarakat tetapi hati ini bisa menghadapinya dengan ketenteraman. Menjadi tenteram adalah petunjuk bahwa seseorang telah mempasrahkan kehidupannya kepada Tuhan seutuhnya. Bahkan sekalipun ajal menjemput secara tiba-tiba, ia sudah sangat siap menghadapi hal tersebut dengan bijaksana dan tetap tenang.

    Saat dosa telah meradang dalam kehidupan anda, ketahuilah bahwa keadaan tersebut adalah awalnya saja. Sebab memelihara dan menutup rapat-rapat kesalahan sama dengan merawat kehamilan dosa yang lebih besar. Akan tiba saatnya nanti, diri ini akan melahirkan kesalahan besar yang diketahui oleh semua orang, hanya menunggu waktu saja. Kesalahan yang masih dirahasiakan merupakan sumber utama penghancur kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati. Memang segala kebanggaan: kelimpahan harta, kesuksesan, kemewahan, kenyamanan, ketenaran dan pujian tidak henti-hentinya datang. Sayang, semuanya itu masih terasa kurang. Anda sudah berusaha untuk memenuhi kekurangan itu dengan meraih lebih banyak gemerlapan duniawi tetapi tetap tidak bisa. Akuilah dosa-dosamu secara rendah hati (bukan untuk dipuji) dan tebus kesalahanmu dengan mengembalikan setiap materi yang telah dirampas dari orang lain. Niscaya, setelah semua pengakuan ini, sekalipun materi yang dimiliki apa adanya saja, pasti mendatangkan rasa puas, damai, bahagia dan tenteram asalkan kita hidup dalam kebenaran hakiki.

  4. Dosa menyebabkan ketakutan.

    Hukuman pertama-tama setelah kita melakukan dosa adalah ketakutan. Ini mungkin saja tidak dapat diamati oleh orang lain tetapi diri sendirilah yang bisa merasakan tekanan batin tersebut. Setelah rasa takut akan muncul berbagai-bagai konsekuensi dari kesalahan yang kita perbuat, tergantung dari kecil besarnya kerugiaan yang kita timbulkan yang bisa saja timbul cepat/ segera atau lambat.

    Kesalahan yang kami maksudkan di sini adalah sikap yang terlalu cinta terhadap gemerlapan duniawi sehingga membuat sistem yang tidak adil terhadap sesama. Saat ini jarang sekali bahkan mungkin tidak ada lagi orang yang mau menumpuk-numpuk dosanya kepada sesama. Dari pada menabur kesalahan adalah lebih baik bagi dirinya untuk menebar kebaikan. Bukankah dengan senyuman dan sapaan dengan suara pelan saja juga merupakan kebaikan yang bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun berada?

    Memang kita tidak berdosa secara langsung tetapi bersalah karena setuju dengan sistem yang tidak adil. Saat mengungkapkan pendapat pribadi tentang betapa pentingnya strata sosial seputar penggajian, kita tidak mampu mempertahankannya. Sebab keadaan tersebut justru menyebabkan ketidakseimbangan, kekacauan dan pertengkaran di dalam masyarakat. Dalam perdebatan saja kita sudah rapuh dan menjadi gentar karena yang dipertahankan selama ini jelas-jelas kurang tepat.

    Ketakutan karena melakukan dosa juga bisa timbul oleh karena janji yang tidak ditepati. Ada baiknya tidak usah berjanji dari awal jika tahu kemampuan diri masih belum mencukupi. Tidak perlu memberi harapan palsu kepada orang lain agar mereka tertarik dan peduli kepada diri ini. Jadilah orang yang realistis dan hadapi kenyataan sebagaimana adanya. Ketakutan selalu timbul karena kita bersalah kepada orang lain. Segera meminta maaf kepadanya agar hati ini tidak dihantui kecemasan dan hidup pun lega. Semakin banyak kesalahan kita kepada seorang yang benar makin gentar diri ini terhadap orang tersebut.

  5. Dosa menyebabkan manusia keluar dari siklus kehidupan.

    Inti dari segala sesuatu di bumi ini adalah sistem yang berputar sempurna. Demikianlah seluruh alam semesta terus berputar satu-sama lain menjalin keseimbangan yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Sadar atau tidak, kita tidak lebih hebat dari matahari, juga tidak lebih hebat dari bumi dimana keduanya berputar-putar pada pola-pola tertentu sehingga kehidupan tetap berjalan dari waktu ke waktu.

    Saat manusia lebih mencintai materi daripada nyawanya, nyawa keluarganya, nyawa anak-anaknya dan nyawa keturunannya yang kemudian. Mereka mulai berlaku tidak senonoh demi mewujudkan kecintaannya terhadap berhala tua yang suda ada sejak zaman purba kala. Selalu berusaha untuk memperebutkan posisi tertinggi “the one” yang dipuja-puja. Padahal dengan berlaku demikian, mereka menumpuk harta duniawi kepada satu-satu orang yang dianggap layak ditunjuk sebagai penguasa kapitalisme.

    Sistem kapitalisme menentang keseimbangan siklus kehidupan. Sebab sumber daya hanya ditumpuk kepada orang-orang tertentu saja. Akibatnya, mereka bersikap semena-mena terhadap orang lain. Menggunakan harta benda yang dimiliki sebagai kekuasaan untuk menekan orang yang tidak disukainya. Kekayaan dijadikan sebagai dasar hak untuk mengeksploitasi alam sesuka hati. Keadaan ini berangsur-angsur akan menimbulkan malapetaka di dalam masyrakat sehingga terjadilah seleksi alam yang memusnahkan ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan umat manusia.

  6. Dosa menyebabkan bencana kemanusiaan.

    Kita cenderung menganggap bahwa materi adalah pemuas hati yang sejati. Memberhalakan hal tersebut lalu menciptakan sistem bermasyarakat ala kapitalisme yang berjenjang. Keadaan ini membuat manusia beramai-ramai untuk rebutan hadiah-hadiah besar yang digelar oleh sistem (pemerintah). Perlombaan semacam ini secara tidak langsung menciptakan ketegangan di antara penduduk. Instabilitas sosial mudah sekali menyebabkan perselisihan. Terlebih ketika para pemodal swasta yang terlibat memiliki uang banyak untuk memobilisasi masa bahkan mengatur mereka sesuai dengan yang dikehendaki.

    Bencana kemanusiaan lahir dari dosa yang sudah menjadi besar. Memang pada awalnya kita hanya melakukan kekhilafan kecil tetapi terlalu abai, sombong dan gengsi untuk meminta maaf. Sadarilah bahwa hal-hal kecil selalu bisa menjadi latihan untuk mendatangkan sesuatu yang besar. Artinya, kesalahan kecil yang dipelihara bisa menjadi dosa besar yang jelas-jelas merugikan orang lain juga lingkungan sekitarnya.

    Pada skala kecil bencana kemanusiaan bisa berupa konflik antar pribadi hingga kelompok. Kelaparan dan wabah penyakit merupakan bagian dari kegagalan sistem dalam mengelola perputaran sumber daya alam. Peperangan mungkin saja terjadi akibat perebutan kekuasaan skala besar. Perang bisa juga ditimbulkan oleh perebutan wilayah strategis dan sumber daya alam (minyak bumi – BBM). Jalan juga kemari, Mereka yang wajib gemetaran karena minyak bumi habis.

  7. Dosa menyebabkan bencana alam.

    Bencana alam adalah perwujudan dari dosa kelompok yang telah menggunung-gunung. Ketahuilah bahwa dosa sama dengan rokok/ alkohol/ narkoba yang bisa membuat manusia candu. Anda mengatakan di dalam hati “satu kali ini saja, tidak apa-apa ya Tuhan? Lain kali lð sa’ae….” Sadarilah bahwa cukup satu saja kesalahan yang dilakukan secara diam-diam akan menggiring diri ini untuk melakukannya lagi dan lagi. Korupsi satu kali akan menjadi pijakan empuk untuk melakukan kesalahan berikutnya.

    Manusia bisa saja memungkiri Tuhannya tetapi tidak bisa memungkiri kebutuhan hatinya. Tepat saat kita mulai berpikir bahwa sesungguhnya tujuan hidup ini didedikasikan demi menumpuk uang dan harta benda untuk diri sendiri, saat itu jugalah tindakan yang kita tempuh cenderung berlebihan. Demi mencapai kelimpahan materi, kita mengorek bumi lebih dalam untuk beroleh batu yang mahal-mahal. Kemudian menukarnya dengan uang yang dipakai untuk membangun hunian mewah yang berkelas, membeli barang elektronik super kece, kendaraan sport tak ternilai dan mengadakan pesta yang syarat dengan foya-foya.

    Uang banyak yang diberikan pemerintah menjadi alat bagi rakyat untuk melampiaskan keserakahannya terhadap alam sekitar. Manusia semakin merusak kehidupan hayati sehingga keseimbangan alam terganggu. Akibatnya, lingkungan yang awalnya menjadi penopang dan penunjang kehidupan umat manusia berbalik arah menendang dengan badainya, menghancurkan lewat longsornya, menghanyutkan lewat banjirnya. Kekeringan pun terjadi sehingga tanah-tanah pertanian gersang dan tandus. Panasnya matahari membakar kulit, tidak ada yang berani keluar rumah tanpa menggunakan pelindung radiasi: gelombang panas membuat siang menjadi panas. Dan masih banyak lagi bencana alam lainnya yang menunjukkan bahwa alam bukan lagi sahabat setia.

Refleksi untuk berhenti menumpuk kebanggaan duniawi

Manusia mungkin saja bisa mengabaikan Tuhan tetapi mustahil mampu mengabaikan kekosongan di dalam hatinya. Kita bisa saja sibuk dengan aktivitas bekerja mengabdikan diri kepada sebuah perusahaan (koorporasi pemerintah atau swasta), melatih diri demi membantu menjelaskan masalah sesama dan mengembangkan bakat untuk menghibur hati seseorang. Setiah hari belajar dengan giat demi mengembangkan pola pikir untuk meraih masa depan yang cemerlang. Di atas semuanya itu, ingatlah dengan kebutuhan hatimu! Bukan kenikmatan duniawi yang lebih hebat dari orang lain dan bukan kemuliaan duniawi untuk dibanggakan di antara teman-teman. Tetapi pusaran kosong di dalam jiwa ini, “mau tidak mau harus” diisi dengan kebenaran yang sejati: itulah sumber kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati. Usahakanlah untuk selalu mengasihi Allah seutuhnya dan perjuangkanlah kasih yang menjunjung tinggi keadilan sosial (sama seperti diri sendiri).

Salam, Dosa menyebabkan bencana,
Inti dosa adalah penyembahan berhala,
Hidup terlalu fokus pada hal duniawi,
hanya menggiring dalam tragedi,
Lubang di hati butuh kebenaran,
Raihlah itu penuh perjuangan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.