Kepribadian

7 Penyebab Hewan Semakin Buas (Liar) & Jahat – Mengapa Binatang Menjadi Ganas

Penyebab Hewan Semakin Buas (Liar) & Jahat – Mengapa Binatang Menjadi Ganas

Seluruh alam semesta sempurna kalau kita mampu mempersatukannya

Segala yang dibentuk Allah sempurna adanya. Tertata dalam ikatan satu sistem yang saling berpautan dalam keseimbangan. Kita sempurna karena kita bersama. Bukan hanya satu spesies saja tetapi saat kita mampu hidup bersama dengan makhluk hidup lainnya. Mampu bersimbiosis mutualisme: melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan melakukan yang terbaik bagi kelompok masyarakat, sama seperti diri sendiri. Sebab semua yang ada di bumi ini saling membutuhkan. Demikian juga dalam skala besar, alam semesta memang memiliki bagian yang terpisah-pisah tetapi saling bekerja sama untuk mewujudkan keseimbangan yang menguntungkan bagi semuanya. Saksikan juga, Teori persatuan.

Tugas kita bukan untuk merenovasi bumi sesuai kehendak pribadi tetapi hidup bersamanya dari generasi ke generasi

Allah menciptakan segala sesuatu bukan untuk dihancurkan oleh manusia. Seolah-olah kita adalah musuh dunia ini dan spesies lainnya yang ada di bumi juga seolah-olah menentang kita. Membabat habis berbagai tanaman namun membuang-buangnya begitu saja. Menebang pepohonan yang rimbun semata-mata demi kemewahan, kemegahan dan kenyamanan yang dibanggakan di dalam hati. Membunuh sebanyak-banyaknya hewan semata-mata demi melaksanakan pesta yang syarat dengan foya-foya. Akhirnya, semua aktivitas yang terkesan berlebih-lebihan ini hanya akan menggiring ekosistem lingkungan dalam ketidakseimbangan yang lambat laun mendatangkan bencana alam.

Apa yang kita timbun akan menjadi angin karena diperoleh dengan cara yang ilegal

Arogansi membuat hawa nafsu manusia berlipat-lipat. Tentu saja untuk membiayai semuanya itu dibutuhkan harga yang tidak sederhana melainkan memerlukan pendanaan besar. Mencoba meraihnya dengan cara jujur tetapi terkumpulnya lambat. Jadi ditempuhlan jalan yang syarat dengan tipu muslihat (picik, kotor, korup) tetapi memberikan hasil yang bombastis. Hanya dalam hitungan bulan saja hasilnya berlipat ganda, “bak jamur di musim hujan, menggunung sekejap mata.” Sayang kesemua modal itu sifatnya panas yang cenderung menimbulkan ketidaktenangan saat disimpan sehingga terus-menerus dibelanjakan memuaskan ketamakan jiwa. Itulah dikatakan, “uang yang datangnya cepat, hilangnya juga cepat.”

Merenggut kesejahteraan hewan berarti merenggut keramahannya

Di antara sesama manusia, dampak sifat arogan memang sangatlah tinggi. Bisa sampai mendatangkan kerugian mental, fisik bahkan sosial terhadap korban. Tetapi hal tersebut bisa menjadi sebuah acuan untuk melakukan berbagai-bagai penelitian lainnya. Di sisi lain, keserakahan sifat konsumtif juga cenderung menciptakan kerusakan alam yang nyata. Akibatnya, berbagai hewan yang terdapat di dalam hutan terganggu hidupnya. Kenyamanan sumber daya yang awalnya diperolehnya justru berangsur hilang secara perlahan. Hidup pun menjadi sangat keras sehingga mau tidak mau sikapnya juga harus keras dan jahat. Akibat, kejahatannya itu terbawa-bawa saat bertemu dengan manusia sehingga seolah-olah mereka terlihat buas karena menyerang dengan agresif.

Pengertian

Binatang bisa saja liar tetapi mereka tidak selalu buas apalagi terhadap manusia. Serangan makhluk-makhluk tersebut merupakan suatu pertanda yang menunjukkan bahwa telah terjadi gangguan keseimbangan alam. Penyebab utama hewan berubah buas adalah saat kita merenggut kenyamanan hidupnya sehingga mengajarinya untuk menjadi pribadi yang keras demi mengisi perut. Masalah kerusakan hutan membuat perolehan makanan dan minuman jarang terjadi. Akibatnya, dia harus berjuang dengan keras bahkan sangat keras untuk hidup sehingga mental berani terbentuk di dalam dirinya. Keberanian itu muncul terlebih lagi saat dirinya pernah mengalami kesesakan yang menyebabkan pertarungan hidup dan mati (no’I tðrð sagi/ hidup di ujung tanduk).

Alasan mengapa binatang berubah buas memasuki pemukiman & menyerang manusia

Saat kita hanya berpikir tentang bagaimana caranya membuat hidup ini menjadi mewah, megah, ternama dan terhormat. Kita tidak menyadari bahwa di sisi lain banyak yang menderita karena mengejar berbagai kebanggaan tersebut. Hidup mereka terhempas menjadi bulan-bulanan yang tak tentu arah tetapi mereka selalu mencoba bertahan dengan mengambil berbagai langkah nekad, salah satunya dengan memasuki pemukiman masyarakat. Saat kita melihat hewan memasuki pemukiman bahkan sudah sampai diambang pintu rumah sendiri, mungkin beberapa hal di bawah inilah yang menjadi penyebabnya.

  1. Manusia tanpa Tuhan dan melanggar titah Allah.

    Saat Sang Pencipta tidak lagi menyertai kita, dimana-mana menghadapi kutuk karena banyaknya dosa penyembahan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Memang awalnya kenikmatan indra tersebut seolah-olah asyik menyenangkan hati. Sekalipun demikian, ketahuilah kawan bahwa semuanya itu hanya sesaat saja. Justru saat kita kehilangan Allah, tepat saat itu juga hidup ini dirundung celaka, salah satunya lewat serangan hewan liar.

    Di dalam Alkitab ada juga contoh serangan binatang hutan terhadap manusia tetapi jelas bahwa HEWAN TIDAK MEMAKAN MANUSIA. Memang Tuhan bisa saja menyuruh mereka untuk menyerang manusia tetapi tidak untuk memakannya. Terkecuali untuk pemakan bangkai atau dimasa kelaparan yang sangat panjang. Seperti kata firman.

    (I Raja-Raja 13:28) Kemudian ia pergi dan menemukan mayat orang itu tercampak di jalan, sedang keledai dan singa berdiri di sampingnya. Singa itu tidak memakan mayat itu dan tidak mencabik keledai itu.

  2. Hutan sebagai hunian telah di rusak.

    Apa yang anda lakukan saat rumah yang telah rusak parah karena bencana alam (misal banjir, angin puting beliung, gempa, kebakaran dan lain-lain)? Tentu yang diperbuat adalah pindah, mengangkut barang-barang lalu mencari hunian yang lain. Sadarilah bahwa binatang yang telah kehilangan pohon atau lubang tanah atau gua tempat tinggalnya cenderung aktif berjalan lebih lama dan lebih jauh untuk menemukan hunian baru yang baik bagi dirinya sendiri. Tentu saja aktivitas keluar sarang dan berjalan jauh ini memiliki resiko kelelahan dan berpapasan dengan manusia yang notabene juga sedang aktif di kebun mencari nafkah. Pertemuan yang terjadi secara tiba-tiba ini bisa saja menjadi buruk tatkala masing-masing pihak berusaha mempertahankan ego keakuannya (tidak mau kalah).

  3. Pasokan makanan kurang.

    Taman Eden (bumi) yang telah rusak merupakan dasar yang memaksa suatu makhluk yang awalnya lembut dan tenang, kini malah menjadi keras dan kasar. Lingkungan yang tidak lagi bersahabat membuatnya tidak merasa nyaman tetapi harus berjuang untuk melepaskan dirinya dari cengkraman kelaparan yang merajalela tersebut. Sadar atau tidak, keadaan ini membuat mereka lebih lama di luar sarang semata-mata demi mencari buruan/ mangsa sehingga besar kemungkinan melakukan kontak dengan manusia. Kontak yang terjadi secara tiba-tiba sedang pikiran sedang tertekan (stres) bisa membuat hewan yang biasanya baik-baik akan mengganas lalu beresiko melakukan gigitan.

    Pada dasarnya hewan tidak memakan manusia terkecuali untuk jenis pemakan bangkai. Bagi mereka, kita adalah monster terkecuali bila manusia adalah pilihan terakhir dan satu-satunya (tidak ada lagi makhluk hidup lain untuk diterkam).

  4. Halusinasi yang buruk.

    Air hujan yang selalu turun merupakan salah satu cara terbaik bagi alam untuk mengangkut garam dari lautan menuju ke tanah/ daratan. Saat hewan tidak makan selama berminggu-minggu sedang minum air belum dilakukan selama berhari-hari ada kemungkinan dehidrasi sehingga otak tertekan. Keadaan ini bisa saja membuat hewan tersebut menyaksikan fatamorgana di tengah siang bolong sehingga melihat manusia sebagai salah satu jenis makanan kesukaannya. Halusinasi semacam ini bisa membuat binatang tersebut menjadi buas sehingga menyerang apa saja yang sebenarnya hanyalah ilusi. Di matanya, manusia tidak dilihat sebagai manusia tetapi sebagai makanan yang pantas diterkam.

    Kejadian ini sama halnya seperti saat seseorang terjebak di padang gurun sehingga mengalami dehidrasi tatkala matahari bersinar terang. Lalu menyaksikan fatamorgana. Mereka melihat air atau oase terhampar di depannya padahal tidak ada apa-apa.

  5. Kegilaan yang tak terkendali.

    Rabias merupakan salah satu jenis kegilaan hewan yang bisa terjadi dengan binatang manapun. Perilaku yang menggila semacam ini disebabkan oleh karena tubuhnya kekurangan garam. Sedang natrium itu sendiri diperoleh dari hujan yang selalu turun dan daging yang dikonsumsinya. Tetapi akibat kerusakan ekosistem lingkungan, tidak ada lagi hujan dan binatang buruan hanya terdapat jarang-jarang. Hewan semacam ini terlihat kurus dan rentan terkena rabies yang bisa saja membuatnya menggila lalu menyerang apa saja yang di sekitarnya termasuk kita.

  6. Bau anda tidak tercium sebagai manusia.

    Berhati-hatilah dengan bau yang suka anda siramkan ke baju dan badan sebab bisa jadi wangi-wangian tersebut mengaburkan penciuman hewan buas. Kita yang adalah manusia dan memiliki bau khas bisa dicium dan dikenalinya dari jauh sehingga beberapa dari mereka mulai menjaga jarak. Tetapi saat bau yang kita bawa adalah sesuatu yang lain dimana wangi tersebut terbawa oleh angin dan menarik perhatian binatang tertentu. Bisa jadi dia datang mendekat bahkan menerkam tatkala halusinasi turut mempertegas.

  7. Dipanas-panasi.

    Sesungguhnya saat manusia mendekat beberapa dari hewan buas akan menjauh. Akan tetapi, saat kita tidak tenang dan mulai mempermain-mainkan, reaksi mereka bisa saja menyerang. Kejadian ini seperti saat ayam dipanas-panasi dengan ayam lainnya dengan cara ditarik ulur keberadaannya sehingga langsung bertanding, melayang dan menendang.

    Binatang buas yang sudah duduk tenang, kita lewat pun dia tetap tenang. Tetapi saat menjolok atau memegangnya, pasti tindakannya agresif lalu menggigit tangan atau kayu yang kita dekatkan. Oleh karena itu, jangan memegang sembarang hewan sekalipun itu peliharaan orang. Mungkin saja pemiliknya tidak sering memegangnya sehingga saat kita melakukan sentuhan, langsung menggigit atau melakukan tindakan agresif lainnya.

    Beberapa hewan juga dipanas-panasi dengan memberinya minuman tertentu yang membuat dia semakin galak. Lebih dari itu, saat menakuti atau membunuh hewan buas, jangan lakukan tanggung. Lebih baik tidak usah dimatikan kalau memang bukan untuk dikonsumsi. Sebab saat dirinya sembuh dari luka tersebut bisa jadi dendam dan bersikap agresif terhadap kehadiran manusia.

Ketamakan kita merampas kenyamanan makhluk hidup lainnya sehingga mendidik mereka untuk lebih agresif dan kejam saat mencari mangsa. Keadaan ini, turut terbawa-bawa saat kita bertemu dengan si kawan, ekspresinya sangat agresif menyerang di luar dugaan.

Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran dan kehendak bebas terkadang menggunakan kemampuannya untuk sesuatu yang tidak penting sama sekali. Bahkan cenderung menekan dan menghancurkan ciptaan lainnya secara perlahan tapi pasti. Memanfaatkan kehendak bebas yang dimiliki untuk merusak hutan sama saja dengan menjadikan lingkungan sebagai musuh kita. Pada dasarnya, kerusakan lingkungan akan mengganggu keseimbangan alam sehingga timbullah bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, badai (angin kencang, angin puting beliung, angin topan, badai tropis), kekeringan, gagal panen, gelombang panas hingga badai matahari. Di sisi lain, hewan buas yang awalnya bermental tempe saat menghadapi kita di masa kemakmuran justru menjadi lebih ganas karena lingkungan yang rusak telah mengubah mentalnya menjadi keras. Dari sini bisa kita pahami bahwa sesungguhnya cobaan hidup yang keras juga beresiko membuat sifat manusia bermental anarkis. Oleh karena itu, tetap bertahan (tabah) di tengah ujian tetapi santunlah bersikap terhadap sesama: ini menjauhkan kita dari perilaku anarkis! Saksikan teman, Serangga adalah binatang paling buas.

Salam, Lingkungan keras,
hewan bisa galak,
lingkungan bagus,
binatang bisa lunak.
Hidup yang keras
hadapi dengan
tegar tapi tetap santun
agar menjauhi kekerasan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.