anak

+10 Alasan Sorga Adalah Matahari, Dimana Letak Firdaus? Jangan Menyembah Matahari! Tetapi Sembahlah Tuhan Dalam Roh & Kebenaran

Alasan Sorga Adalah Matahari, Dimana Letak Firdaus Jangan Menyembah Matahari Tetapi Sembahlah Tuhan Dalam Roh & Kebenaran

Firdaus letaknya di matahari tetapi jangan menyembah sang mentari!

Allah adalah segalanya sebab ada nafas hidup yang telah dianugerahkan dalam diri setiap ciptaan. Nafas hidup itulah yang sampai sekarang membuat matahari, bintang (planet salah satunya bumi), bulan dan segala makhluk yang berkeriapan termasuk kita. Karena nafas-Nya ada di dalam diri ini, bukan berarti manusia bisa disembah; karena nafas-Nya ada di bumi, bukan berarti bisa menyembah bumi; saat nafas-Nya ada di pohon, bukan berarti kita bisa sujud menyembah pohon. Ketika kita memahami bahwa nafas-Nya ada dalam diri hewan, bukan berarti hewan tertentu disembah. Saat melihat guntur bersahut-sahutan, bukan berarti kita menyembahnya; sewaktu kami mengatakan bahwa matahari adalah sorga bukan berarti kita bisa menyembah matahari.

Mentari tempat paling ideal yang menjadi sumber segala kekuatan (power) di alam raya

Mengapa kami yakin bahwa sang mentari adalah tempat kediaman kita berikutnya? Sebab segala sesuatu yang ada di jagad raya terhubung dan diikat oleh energi satu-sama lain. Sedang sumber segala energi tersebut adalah matahari yang kita lihat hanya di siang hari saja. Pusaran energi dalam baskara memancarkan kekuatan yang sangat besar sehingga mampu menarik berbagai planet untuk berotasi secara dinamis. Sedang planet itu sendiri (termasuk bumi) berusaha bertahan dari sengatan panas yang ditimbulkannya dengan mengandalkan uap air (umumnya berasal dari lautan) dan atmosfer (umumnya dari tanaman hijau). Jadi, tanamlah pohon dan hiduplah bersama makhluk lainnya sebab mereka adalah penyeimbang kekuatan alam sehingga kita tetap bertahan hidup di bumi.

Makhluk firdaus kecepatan metabolismenya setara kecepatan cahaya dan tidak membutuhkan makanan duniawi

Masalah utama yang muncul di bumi adalah persoalan energi yang ketersediaannya cukup terbatas. Semua makhluk hidup di bumi juga memproses energi foton secara lambat bahkan terlalu lambat. Sebab prosesnya harus melalui beberapa tahapan, yaitu tumbuhan harus menyerap energi matahari terlebih dahulu lalu mengubahnya menjadi buah atau umbi. Beberapa buah memang bisa langsung dimakan tetapi ada juga buah yang perlu dimasak terlebih dahulu baru bisa konsumsi. Yang lainnya justru tahapannya lebih panjang, misalnya rumput mengubah matahari menjadi daun yang hijau. Lalu dikonsumsi oleh oleh hewan pemakan rumput (herbivora). Hingga akhirnya daging hewan tersebut bisa dikonsumsi oleh manusia dalam santapan lezat. Tetapi makhluk sorgawi mampu membuat makanan dari udara. Seperti waktu Tuhan mendatangkan manna bagi Israel (Keluaran 16:31) serta roti dan minyak kepada janda di Sarfat (I Raja-Raja 17:16). Di balik semuanya itu, harap dicamkan bahwa semuanya itu bukanlah makanan dan minuman makhluk sorgawi. Tetapi yang menjadi makanan dan minuman kita kelak adalah firman (kebenaran) yang keluar dari mulut Allah.

Di bumi kecepatan itu sangat rendah, terlalu cepat juga justru semua bisa jadi berantakan. Sedang kecepatan cahaya berlangsung dalam sekejap mata, seharusnya kita pun bisa berlaku demikian. Sayang kita bukanlah malaikat sebab manusia dan seluruh makhluk bumi terjebak dalam mesin yang dikenal sebagai sel yang sangat lambat sehingga cenderung membuang/ meloloskan energi matahari yang sampai kepadanya. Sedang saat kita sudah menjadi makhluk sorgawi, kecepatan metabolisme tubuh melesat sangat kencang mengimbangi kecepatan cahaya. Saat berpindah tempat sekalipun dapat dilakukan sekejap mata saja. Oleh karena itu, berusahalah mencapai sorga dengan memperjuangkan kebenaran hakiki sebab ada hal yang luar biasa saat kita hidup dalam cahaya bersama-sama dengan Allah.

Mengikuti jejak malaikat yang menampakkan diri

Untuk mengetahui keberadaan sorga, kita perlu menelusuri jejak para malaikat yang sempat menampakkan diri kepada manusia. Perlu dipahami bahwa malaikat bisa berada dimana saja tetapi kita tidak bisa selalu dapat mengamati keberadaan mereka. Kisah ini nyata seperti yang dialami oleh Bileam saat makhluk sorgawi menghalangi jalannya tetapi tidak melihat dan menyadari keberadaannya. Yang mengetahui persis keberadaan malaikat itu adalah keledainya, sampai tiga kali keledai itu menyimpang untuk menghindari sang malaikat tersebut. Namun, Bileam memukul keledainya hanya karena perilaku yang aneh. Akhirnya, ia menyadari keberadaan malaikat tersebut setelah matanya dibuka oleh Allah (Bilangan 22:31). Jadi jagalah sikap dimana pun berada, sebab bisa saja ada malaikat di sekitar kita, kiranya hal tersebut mendatangkan keuntungan bukan membawa pedang terhunus (kabar bencana).

Mengikuti api Tuhan

Muzizat yang yang terjadi di zaman dahulu kala ada hubungannya dengan gambaran dari kehidupan ke dua di sorga yang kekal. Petunjuk yang dibawa para malaikat ke bumi tidak pernah jauh dari tempat tinggal mereka. Ada ciri khas tersendiri yang sekaligus memberikan keterangan tentang firdaus yang tidak jauh-jauh dari cahaya dan api. Misalnya saat nabi Musa melihat api di semak duri tetapi sama sekali tidak ada yang terbakar. Dari sini bisa kita pahami bahwa api sorgawi itu ramah dan berbeda sekali dengan api yang biasa kita temui di bumi. Sebab rata-rata api yang berasal dari bumi membakar dan menghanguskan. Atau mungkin juga ini terjadi karena tempat tersebut kudus (Keluaran 3:5) sehingga tidak mampu dihanguskan oleh api sekalipun (sama halnya seperti yang terjadi kepada Daniel dan sahabat-sahabatnya).

Mengikuti cahaya Tuhan

Menelusuri keberadaan sorga memang gampang-gampang susah. Kita perlu memfokuskan perhatian pada cahaya yang menyertainya. Hampir setiap malaikat yang mendatangi manusia memiliki penampilan yang bercahaya dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Memang tidak selalu disebutkan bahwa mereka menampakkan diri dalam kemilau kemuliaan yang tampak jelas. Tetapi kemilau yang terang ini hampir sama seperti sang mentari yang hadir berseri-seri dari pagi hingga sore hari (tergantung cuaca). Bila makhluk sorgawi yang menampakkan diri kepada manusia bisa memancarkan cahaya terlebih lagi dengan tempatnya berasal. Artinya, cahaya yang terpancar dari tubuh hamba Allah tersebut menunjukkan lokasinya berasal.

Letak cahaya yang aktif sepanjang masa adalah matahari. Ketika orang-orang percaya di zaman dulu menyaksikan kemilau cahaya malaikat seperti matahari yang bersinar. Bisa jadi, keadaan tersebut dipengaruhi oleh tempat dari mana makhluk tersebut berasal. Misalnya saja, orang yang tinggal di daerah berlumpur pasti kakinya dipenuhi lumpur (setidaknya pada sandalnya). Demikian dengan mereka yang tinggal di wilayah berdebu, pasti badannya penuh dengan debu. Sama halnya ketika manusia tinggal dipemukiman yang bersih, asri dan terawat; sudah tentu orangnya juga berpenampilan bersih dan rapi. Lalu bagaimana jadinya jika mereka yang tinggal di dalam matahari berkunjung ke bumi? Pastilah sifat-sifat matahari akan terbawa-bawa dalam dirinya, salah satunya pancaran cahaya yang keluar dari badannya.

Matahari dan hari penciptaan.

(Kejadian 1:14-16) Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.

Memang menurut kitab Kejadian penciptaan matahari terjadi di hari ke tiga. Tetapi mari pahami baik-baik lalu arahkan sudut pandang kepada situasi yang dahulu kala dialami oleh nabi Musa. Seperti kita ketahui semua bahwa baskara adalah sumber dari semua cahaya. Saat tidak ada cahaya, mustahil kita dapat melihat. Sama halnya dengan nabi Musa, mustahil mampu menjelaskan apa yang terjadi di hari pertama dan hari ke dua, bagaimana matanya bisa melihat peristiwa tersebut jikalau memang tidak ada cahaya sama sekali? Jadi yang pertama dibangun Allah adalah matahari (sorga kediaman-Nya), ini sudah sesuai dengan firman yang berkata, “Jadilah terang (Kejadian 1:3).” Jadi Allah menciptakan sorga pertama sekali sedang planet-planet (termasuk bumi) baru dibentuk setelahnya.

Matahari dan hari kiamat.

(II Petrus  3:10) Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

Lagi katanya demikian.

(Wahyu 20:11) Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.

Kedua firman ini menjelaskan bahwa bumi ini akan lenyap. Tetapi kalau bumi lenyap lalu dimanakah dicampakkan orang-orang berdosa yang masuk neraka? Sebab dunia orang mati berada di dalam perut bumi! Jadi, sewaktu tiba saatnya hari penghakiman sesungguhnya planet tidak lenyap tetapi penglihatan pengamat yang menjauh meninggalkan bumi. Jadi, nubuatan di atas terjadi diawali dari bumi kemudian dia dibawa ke sorga sehingga seolah-olah planet agak kecil sewaktu ditinggalkan. Semakin jauh nabi tersebut dari planet (bumi tempat tinggalnya) dan semakin dekat dengan sorga (matahari) makin kecil bahkan hilang planet tersebut dari penglihatannya. Jadi, sekali lagi bumi tidak benar-benar lenyap, hanya saja saat kita meninggalkan (menjauh dari) bumi menuju ke sorga, ukurannya menjadi sangat mungil bahkan hilang sama sekali karena faktor jarak yang sangat jauh.

Apa yang lebih baik ketimbang berada dalam sumber cahaya abadi?

Bila saat ini anda merasa bahwa tubuh ini sangat lemah, rapuh, tertekan dan penuh derita: lihatlah kepada sorga dimana kita beroleh kehidupan ke dua kelak. Di sana tidak ada penderitaan dan rasa sakit malahan kita hidup dalam kelimpahan bahkan mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Sebab kebutuhan utama kita adalah cahaya dan sinar itu sudah mengalir dalam setiap darah, daging dan tulang bahkan sel-sel anda pun dari cahaya. Jadi, jika anda melihat film super hero yang dibuat oleh orang luar negeri atau dalam negeri, sadarilah bahwa di sorga kelak, keadaan orang percaya melebihi dari semuanya itu. Dan yang paling istimewa di sana adalah semua gangguan indra yang selama ini terkadang menghalangi kita untuk fokus kepada Tuhan, akan lenyap. Sebab pekerjaan manusia sorgawi dari waktu ke waktu adalah untuk memuji-muji Allah.

Jangan bangga sedikit pun akan dunia ini tetapi semangatlah tujukan hati ke sorga

Jangan patah semangatmu kawanku menjalani hidup yang penuh gonjang-ganjing. Melainkan teguhkanlah hatimu, hiduplah tulus di dunia, jangan berharap apa pun yang ditawarkannya, “kalau ada ya tetapi kalau tidak ada maka berterimakasihlah!” Visi kita adalah sorga tempat kediaman Yesus Kristus dan Allah. Kerajaan yang kekal sampai selama-lamanya dan penghuninya juga makhluk abadi. Api, pisau, parang, panah, pistol dan berbagai senjata duniawi yang fana tidak lagi dapat melukai kita. Sebab setiap sel dalam tubuh kita terdiri dari energi foton yang bergerak sangat cepat. Makanan kita bukan lagi nasi, ikan, daging, sayur, buah dan lain-lain hal yang sementara tetapi makanan kita adalah doa, firman dan nyanyian pujian terhadap Sang Pencipta.

Mulai dari sekarang, berusahalah mencapai sorga. Sebab segala keterbatasan tidak berlaku di sana melainkan kehidupan kita telah berevolusi lipat kali ganda. Kebenaran yang hakiki, mari perjuangkan selama hidup, fokuslah kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta kasihilah sesama seperti diri sendiri dalam setiap pekerjaan dan pelajaran yang ditekuni. Berkorbanlah saudaraku! Bertahanlah dalam penderitaan sebab tempat kita kelak di sorga sungguh luar biasa. Tidak ada bandingannya dengan dunia yang fana ini. Korbankanlah apa yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada anda. Mulailah dari hal-hal kecil, yaitu beramah-tamah (senyum, sapa, salam, mengucapkan terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik). Rendah hatilah dalam bersikap bahkan sangkal diri sendiri ketika kelebihan yang dimiliki banyak. Terakhir, selalu persiapkan diri menghadapi ujian kehidupan karena proses tersebutlah yang semakin mendekatkan kita dengan Allah. Ketahuilah bahwa “di dalam Yesus Kristus, sorga adalah sebuah kepastian!”

Faktor penyebab sorga adalah matahari, Dimanakah letak firdaus kediaman Allah?

Pada suatu sore dengan cuaca yang ramah, kami berjalan kaki menuju ke suatu tempat yang agak jauh dari rumah. Di jalan ada satu orang kakek yang menjadi teman, menyusuri jalan yang tidak begitu lebar menuju ke rumah salah satu dari rekan tempat pelaksanaan PA kelompok. Saat ibadah dimulai, tiba-tiba saja ada yang membisikkan di dalam hati kami tentang nubuatan ini. Kita tanggungkan dulu tentang bisikan Roh Kudus lalu sejenak mari fokus pada kegiatan berjalan kaki. Aktivitas ini memang sederhana adanya tetapi manfaatnya banyak. Sering-seringlah berjalan menggunakan kaki sendiri agar tubuh sehat dan otak jadi lancar. Berupayalah untuk memakai kaki sendiri ketika hendak berangkat kemana-mana untuk menghemat bahan bakar sehingga lingkungan turut dipelihara. Jika jarak yang ditempuh cukup jauh, silahkan menggunakan angkutan umum.

Baiklah langsung saja kita identifikasi bagaimana tanda-tanda sorgawi yang menyertai para malaikat dan hamba Allah lainnya bahkan Anak-Nya yang tunggal dahulu selama di bumi menunjukkan bahwa sorga itu nyata dan letaknya berada di dalam matahari, itulah sinar yang terus terpancar, menarik dan menghidupi kita dari zaman purba kala hingga saat ini. Berikut beberapa alasan, tanda sekaligus bukti dari argumen yang kami ajukan ini.

  1. Habel mempersembahkan korban.

    (Kejadian 4:4) Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,

    Harap disadari bahwa saat orang israel mempersembahkan korban kepada Allah di atas mezbah, yang dibakar hanyalah lemak-lemaknya (kecuali persembahan berupa burung). Sedang bagian yang lainnya dimakan bersama dengan para imam (orang lewi/ hamba Tuhan) dan kaum keluarga yang membawa persembahan persepuluhan tersebut (Ulangan 12:12). Orang yang memberikan dengan setulus hati pastilah akan beroleh upahnya di sorga kelak. Inilah yang kita nanti-nantikan seumur hidup, yaitu tempat yang tidak ada bandingannya dari semua tempat di muka bumi.

  2. Nuh mempersembahkan korban.

    (Kejadian 8:20) Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.

    Saat mempersembahkan korban di atas mezbah asapnya akan menuju ke atas. Ini menandakan bahwa Kerajaan Allah berada jauh di atas kita. Masalahnya sekarang adalah apakah itu terletak di bulan, bintang atau matahari? Berdasarkan petunjuk ilmu pengetahuan, sinar bulan berasal dari pantulan cahaya matahari. Sedang cahaya bintang-bintang yang adalah planet juga berasal dari cahaya sang surya yang dipantulkan oleh atmosfer permukaan masing-masing planet.

    Jadi, dari seluruh alam semesta tidak mungkin kerajaan Allah sama seperti bumi ini sebab kekuatan yang sangat besar (kekuatan Allah) jika ditempatkan seutuhnya di bumi, tidak akan sanggup menahannya. Justru tempat tersebut akan menjadi luluh lantak dibuatnya. Keadaan ini layaknya ketika Tuhan Allah Semesta Alam mendatangi bangsa Israel di gunung Sinai (Keluaran 19:1-25). Dimana asap, api, sangkakala bersahut-sahutan dan guruh melanda seluruh gunung tersebut sehingga bangsa Israel sangat gemetaran karenanya. Jadi kerajaan sorga sudah seharusnya lebih megah dan ajaib dibandingkan dengan bumi yang kita tempati ini.

  3. Mimpi Yakub di Betel.

    (Kejadian 28:12) Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.

    Dari sini tampak jelas sekali bahwa kerajaan Allah bukanlah di bumi melainkan di tempat terkuat di seluruh alam semesta. Dimana lagi tempat terkuat di seantero jagad raya selain di dalam matahari sebagai pusat dari cahaya abadi itu? Sebab kekuatan pengendalian seluruh planet dan satelit berada di bawah kontrol penuh energi foton. Sedang di sisi lain mustahil kerajaan sorga sama dengan bumi yang hanya bisa ditempati oleh makhluk fana seperti manusia, hewan dan tumbuhan.

  4. Musa melihat api di antara semak duri.

    (Keluaran 3:2) Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.

    Perlu diketahui bahwa bagi makhluk sorgawi tidak ada yang mustahil dimana mukzizat setiap saat bisa terjadi. Api tidak lagi mampu membakarnya, justru api itu akan bersikap ramah terhadapnya. Ini juga turut disebabkan oleh karena setiap anak Allah suci perilaku, perkataan dan hatinya. Sama halnya ketika Tuhan berkata.

    (Keluaran 3:5) Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

    Jadi, apa yang benar-benar kudus di hadapan Allah pastilah tidak akan dilahap oleh api sebesar dan sepanas apapun. Apa yang terjadi di antara semak duri tersebut merupakan bagian dari kehidupan kita kelak setelah akhir zaman. Oleh karena itu, jangan berhenti berbuat baik dan jangan berhenti fokus kepada Tuhan. Kuatkan hatimu menghadapi cobaan dan rendahkan hati menjalani hidup niscaya sorga menjadi milik anda kelak, yang tidak bisa diambil oleh siapapun.

  5. Kemuliaan Allah di gunung Sinai.

    (Keluaran 19:18) Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat.

    Pemazmur juga menggambarkan Allah dalam bentuk api.

    (Mazmur 18:9) Asap membubung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya.

    Apa jadinya dunia ini kalau Allah menempatinya dalam tahta yang berapi-api? Manusia hanya akan dirundung rasa takut bahkan kami sendiri pun akan menyembunyikan diri di dalam kolong tempat tidur/ lubang. Sebab kami menyadari bahwa diri ini hanyalah manusia biasa yang penuh dengan dosa yang pasti akan mati terbakar oleh karena penglihatan tersebut.

    Beruntunglah kita, Allah tidak mendatangkan kemuliaan yang begitu gilang gemilang untuk menyadarkan umat manusia. Justru menyederhanakan diri untuk mengutus Anak-Nya yang sama seperti manusia demi menunjukkan jalan yang harus ditempuh kepada kebenaran sejati. Bahkan telah mengirimkan Roh Kudus ke dalam hati setiap orang sehingga kita beroleh kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati dalam setiap hembusan nafas ini. Syukur kepada Sang Pencipta yang telah menganugerahkan kepada kita petunjuk yang benar menuju sorga.

  6. Allah menitahkan kepada musa untuk membuat membuat mezbah persembahan.

    (Keluaran 20:24) Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau.

    Harap dipahami bahwa Yang Maha Kuasa hadir dimana saja, kapan saja dan apa saja yang sedang kita lakukan. Sebab nafasnyalah yang menghidupkan matahari, bumi serta planet (bintang) lainnya, satelit dan segala makhluk hidup yang berkeriapan di dalamnya. Sedang pusat dari semua energi yang berada di seluruh jagad raya berpusat di atas tepatnya pada baskara. Saat korban dipersembahkan di atas mezbah, asapnya akan membumbung tinggi kembali ke baskara (kecuali unsur O, C, N dan unsur bumi lainnya).

    Membakar sesuatu di bumi akan membumbung asapnya sampai ke langit. Oleh karena itu, hati-hatilah membakar sesuatu sebab membakar hal-hal yang kotor seperti sampah sama saja dengan mengangkat kotoran di hadapan Allah. Jadi STOP MEMBAKAR SAMPAH SECARA LIAR!

  7. Persembahan yang diberikan Gideon dilahap api.

    (Hakim-hakim 6:21) Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya.

    Dari sini kita ketahui bahwa malaikat sendiripun tidak makan dan minum. Sebab kebenaran yang hakikilah yang menjadi roti dan minuman orang-orang sorgawi. Makhluk sorgawi memang tidak pernah lepas dari api.  Ini menandakan bahwa tempatnya berasal penuh dengan kedahsyatan. Mereka tidak perlu lagi membawa korek api atau mancis untuk menghidupkan api melainkan hanya lewat sentuhan dan firman Allah semuanya akan terjadi. Oleh karena itu, persiapkanlah hati, perkataan dan perbuatan agar semakin layak di dalam kebenaran. Sehingga kehidupan kita di akhir zaman kelak pasti masuk sorga.

  8. Orang tua Simson mempersembahkan korban.

    (Hakim-Hakim 13:16-20) Tetapi jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: “Sekalipun engkau menahan Aku di sini, hidanganmu itu tidak akan Kumakan. Tetapi jika engkau hendak mengolahnya menjadi korban bakaran, persembahkanlah itu kepada TUHAN.” Sebab Manoah tidak mengetahui, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN. Kemudian berkatalah Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: “Siapakah nama-Mu, sebab apabila terjadi yang Kaukatakan itu, maka kami hendak memuliakan Engkau.” Tetapi jawab malaikat TUHAN itu kepadanya: “Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?” Sesudah itu Manoah mengambil seekor anak kambing dan korban sajian, lalu mempersembahkannya kepada TUHAN di atas batu. Lalu diperbuat-Nya keajaiban, sementara Manoah dan isterinya memandanginya. Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah Malaikat TUHAN dalam nyala api mezbah itu. Ketika Manoah dan isterinya melihat hal ini, sujudlah mereka dengan mukanya sampai ke tanah.

    Kami memang yakin sekali bahwa matahari adalah sorga tetapi bukan berarti kita menyembah matahari. Sebab keberadaan Allah tidak terkungkung dalam satu objek di alam semesta. Menyembah baskara sama saja dengan membatasi keberadaan Allah hanya di atas itu saja. Padahal Dia ada dimana-mana, termasuk saat anda sedang membaca artikel inipun, Bapa memperhatikan pekerjaanmu!

    Dari kejadian yang dialami oleh keluarga Manoah dapat kita simpulkan bahwa malaikat hidup di dalam api. Sebab dalam keterangannya, malaikat tersebut naik ke sorga bersamaan dengan nyala api korban yang mereka persembahkan di mezbah tersebut. Jadi, bersukacitalah saudaraku, sebab di firdaus kelak api adalah sahabat kita dan Allah bersemayam hidup bersama kita. Kuatkan hatimu & santunlah kawan menjalani setiap masalah yang anda temui dari hari ke hari sebab lewat soal-soal tersebutlah, hidup kita semakin dekat dengan Yang Maha Mulia.

  9. Daud mempersembahkan korban bakaran.

    (I Tawarikh 21:26) Lalu Daud mendirikan di sana mezbah bagi TUHAN, mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan dan memanggil TUHAN. Maka TUHAN menjawab dia dengan menurunkan api dari langit ke atas mezbah korban bakaran itu.

    Api dan api, sorga tidak pernah jauh dari api bahkan api itu sendiri turun dari langit melahap korban yang dipersembahkan oleh Daud. Sungguh kejadian yang tidak biasa, bagaimana mungkin api yang berasal dari matahari yang sangat besar di atas kita hanya membakar korban? Dari sini kita bisa mengetahui bahwa api yang berasal dari Tuhan sangat terkendali dan tidak merusak sama sekali. Bukankah semuanya itu tergantung dari manusia itu sendiri? Api juga bisa jadi sangat liar akibat gangguan keseimbangan alam akibat ulah manusia yang semakin merusak sehingga turunlah hujan api dan belerang dari langit membakar seisi kota (seperti yang menimpa Sodom dan Gomora).

  10. Elia naik ke sorga.

    (II Raja-Raja 2:11) Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.

    Seandainya kereta Elia berlumpur maka kita menduga bahwa asalnya dari rawa-rawa. Andai itu berdebu maka kita menduga bahwa asalnya kereta tersebut pastilah di tempat yang penuh debu dan polutan. Tetapi, bagaimana jadinya ketika kereta tersebut berapi bahkan kudannya pun berapi-api? Ini jelas menandakan bahwa kereta yang menjemput Hamba Tuhan tersebut berasal dari dalam api. Sedang kita semuanya sudah tahu bahwa sumber dari segala api abadi asalnya dalam pusat energi seluruh alam semesta, yaitu baskara.

  11. Ujian kehidupan sebagai dapur peleburan.

    (Yeremia 9:7) Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: “Sesungguhnya, Aku mau melebur dan menguji mereka, sebab apakah lagi yang dapat Kulakukan terhadap puteri umat-Ku?

    Lebih tegas lagi kitab Markus mengatakan bahwa.

    (Markus 9:49) Karena setiap orang akan digarami dengan api.

    Ujian kehidupan yang kita alami dari waktu ke waktu adalah api yang membuat kita semakin layak menempati sorga-Nya. Memang Yesus Kristus telah mengorbankan dirinya untuk menebus dosa-dosa manusia tetapi bukan dalam artian kita bisa dengan semena-mena melakukan dosa. Setiap orang percaya memang sudah layak menempati sorga tepat saat kita mengakui bahwa Yesus Kristuslah Tuhan dan jalan menuju kebenaran sorga. Namun kita harus mempertahankan kebenaran sikap termasuk saat sedang menghadapi pergumulan hidup.

    Ingatlah bahwa saat kita sanggup menghadapi api ujian pemurnian hidup di dunia ini dengan tegar berpegang kepada Tuhan sambil tetap santun bersikap dan berbuat baik kepada sesama. Niscaya kita pun akan dimampukan untuk menghadapi api sorgawi bahkan menjadikannya sahabat dan hidup di dalamnya (di dalam matahari). Memang tidak ada seorang pun yang lupun dari kesalahan, hanya saja JANGAN PERNAH MERENCANAKAN DOSA. Apapun dosa-dosa anda pastikan itu merupakan suatu kekhilafan dan bukan karena menentang teguran Roh Kudus di dalam hati masing-masing. Saksikan juga, Kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.

  12. Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak tewas di dalam perapian.

    (Daniel 3:25-27) Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.

    Gambaran kehidupan sorgawi telah dinyatakan Tuhan dalam beberapa mukzizat yang dialami oleh hamba-hamba-Nya. Salah satu dari kisah hidup manusia yang menegaskan kehidupan sorgawi adalah seperti yang dialami oleh nabi Daniel dan teman-temannya. Tidak ada yang mampu menghanguskan mereka sebab Allah yang berada di sisinya. Sebaliknya, mereka terbukti setia kepada Tuhan dan kepada raja, mereka bukanlah seperti orang yang difitnahkan itu. Kekudusan hidupnyalah yang membuat mereka selamat dengan demikian kemuliaan Allah dinyatakan di antara bangsa-bangsa lain.

  13. Penglihatan nabi Daniel.

    (Daniel 7:9-10) Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab.

    Kita semua percaya dan setuju bahwa penglihatan yang dikisahkan oleh nabi Daniel adalah suatu kebenaran di hadapan Allah dan kesaksian di hadapan manusia. Bila tahta Allah saja terbuat dari api tetapi itu tidak membakarnya, bisa kita pahami bahwa sesungguhnya tempat yang terdiri dari api diseluruh alam semesta letaknya di pusat. Bahkan sungai yang asalnya dari tahta itu juga terbuat dari api. Hanya ada dua sumber api abadi dalam semesta raya yaitu di atas matahari dan di bawah bumi (di dalam intinya). Seperti kita ketahui bersama bahwa di akhir zaman yang dicampakkan di dalam bumi adalah orang berdosa. Sedang yang akan diajak Allah untuk menempati sorgannya di atas matahari adalah orang benar.

  14. Penglihatan nabi Daniel.

    (Daniel 12:3) Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

    Sejauh pemandangan kita, tidak ada benda yang bercahaya di bumi ini selain daripada api. Itupun perapian yang tidak sempurna yang menghasilkan nyala api merah dan net-netnya biru. Sedang perapian sorga adalah perapian yang sempurna dimana tidak menghasilkan polutan atau gas sisa lainnya. Perapian ini sama persis seperti matahari yaitu cahaya yang ditimbulkannya putih bening. Itulah yang menghinggapi setiap orang yang percaya di sorga kelak, suatu cahaya putih yang berkilau. Bahkan penyair sering menyebut “makhluk sorgawi berkulit dan berjubahkan sinar matahari.”

  15. Penglihatan nabi Zakharia.

    (Zakharia 2:5) Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya.”

    Lagi-lagi keterangan penyertaan sorga disebutkan sebagai api terhadap umat yang dikasihi-Nya. Memang Allah kita tidak pernah jauh dari api tetapi janganlah pernah menyembah api sebab Allah ada dimana saja mengisi ruang dan waktu. Bahkan seluruh alam semesta ini pun berada di bawah pengawasannya. Oleh karena itu, sembahlah Yang Maha Agung dalam roh dan kebenaran. Roh berada di dalam hati masing-masing, saat kita bercakap-cakap dengan suara hati sendiri, itulah roh. Sedang kebenaran yang hakiki adalah kasihilah Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian serta sesama manusia setara dengan diri sendiri (lewat pekerjaan, pelajaran dan aktivitas yang kita lakukan).

  16. Malaikat sorgawi saat Tuhan Yesus Kristus lahir ke dunia.

    (Lukas 2:9) Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

    Sinar cahaya para malaikat menandakan bahwa tempat mereka berasal terdapat di wilayah yang dipenuhi oleh cahaya sepanjang waktu. Sama seperti saat kita menggunakan senter, cahayanya akan sampai kemanapun kita mengarahkan kepalanya. Demikian juga saat kita kelak hidup di sorga, kemanapun kita pergi cahaya tersebut mengikuti bahkan ada dan terpancar dari dalam diri kita yang lebih terang daripada bintang dan bulan.

  17. Sewaktu menjala ikan.

    (Lukas 5:5-6) Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

    Dari sini bisa kita pahami bahwa Yesus Kristus sendiri disertai oleh para malaikat. Pernyataan ini terbukti karena ikan-ikan yang mendekat kepada-Nya. Sebab kita semua paham betul dengan kecenderungan hewan di lautan yang sama seperti laron. Mereka sangat suka dengan cahaya dan mengeruminya secara bergerombol. Cahaya malaikat itulah yang dilihat oleh ikan di danau tersebut sehingga mereka ramai-ramai mendatangai perahun Simon: tangkapannya pun luar biasa banyak sampai perahu lainnya dipanggil untuk mengangkutnya ke daratan.

    Sinar yang mungkin tidak bisa kita lihat tetapi bisa dilihat oleh hewan lain menunjukkan keberadaan makhluk sorgawi. Jadi, berjaga-jagalah dalam setiap langkah kaki anda, jangan sampai SENGAJA melakukan dosa melainkan teruslah usahakan kebenaran sejati.

  18. Malaikat sorgawi saat Tuhan Yesus Kristus bangkit.

    (Matius 28:2-3) Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.

    Dan ada pula tertulis.

    (Lukas 28:2-3) Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.

    Para malaikat berkulitkan sinar matahari, apa lagi argumen yang bisa membantah keberadaan mereka di dalam baskara? Kulit mereka sendiri seperti matahari maka sudah pastilah bahwa makhluk tersebut berasal dari tempat yang paling terang di seluruh alam semesta raya. Jadi, ketika iman anda mulai goyah karena kerasnya persoalan kehidupan, mulailah pandang kepada sorga tempat anda berdiam selamanya di dalam kemuliaan, melihat wajah Allah dan memuji-muji nama-Nya!

  19. Tuhan Yesus Kristus naik ke sorga.

    (Markus 16:19) Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

    Kristus yang naik ke sorga menunjukkan bahwa dunia ini terlalu fana untuk menampung orang-orang kudus yang dari Allah. Saat kita dibangkitkan di akhir zaman, proses evolusi akan dilepas sehingga tubuh kita yang baru lebih tinggi levelnya dari tubuh yang lama. Mereka yang berdosa akan ditinggalkan di dunia ini bahkan dicampakkan dan disorong hingga ke dalam perut bumi dimana api, rasa sakit, tangisan, kertak gigi dan ketakutan tidak akan pernah berhenti selama-lamanya. Orang-orang yang percaya kepada Allah akan meninggalkan bumi ini lalu dibawa-Nyalah kita ke sorga wilayah kerajaan-Nya bertahta, yaitu di matahari.

  20. Pentakosta (hari turunnya Roh Kudus).

    (Kisah Para Rasul 2:2-3) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

    Harap di pahami bahwa di dalam matahari tidak ada api/ bara yang merah menjilat seperti di dalam bumi tetapi api mentari berwarna putih bening karena pembakaran yang terjadi sempurna adanya (tanpa polusi). Saat sebagian dari diri Allah (Roh Kudus) merasuk di dalam diri orang percaya, perwujudannya adalah lidah api kecil yang tidak menghanguskan di atas kepala. Mukzizat yang terjadi di antara para murid dahulu merupakan suatu simbol bagi kita yang memberi petunjuk bahwa di dalam kerajaan Allah setiap orang akan mendapatkan cahaya kebenaran sehingga mereka akan bersinar sama seperti tempatnya berasal (matahari) yang memancarkan sinarnya ke segala penjuru semesta.

  21. Sewaktu Paulus diajak bertobat.

    (Kisah Para Rasul 9:3-6) Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

    Lagi kesaksian Paulus.

    (Kisah Para Rasul 22:6) Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damsyik, yaitu waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit mengelilingi aku.

    Lagi kesaksian Paulus.

    (Kisah Para Rasul  26:13) tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku.

    Apa yang dialami oleh rasul Paulus juga merupakan suatu pertanda keberadaan sorga. Dari keterangan di atas bisa kita ketahui bahwa makhluk sorgawi tidak membutuhkan matahari tetapi dialah yang menjadi matahari untuk menerangi segala sesuatu termasuk dalam hal ini adalah Paulus yang melihat cahaya menyilaukan hingga matanya buta.

    Peristiwa ini seperti saat di tikungan, kita melihat lampu mobil di malam hari yang membuat mata sakit dan tidak bisa melihat sesaat saja. Tetapi beberapa detik kemudian penglihatan kita pulih setelah pupil mampu menyesuaikan diri sehingga dapat mengamati objek yang berada di belakang lampu tersebut. Demikianlah kita merasa silau saat memandang matahari tetapi di akhir zaman kelak bila kita sudah membuktikan kebenaran diri ini melalui berbagai ujian kehidupan. Niscaya rasa silau itu tidak ada lagi sebab mata kita yang fana telah digantikan oleh mata yang baru yang mampu menyesuaikan diri di segala medan termasuk saat berada di dalam matahari itu sendiri.

  22. Saat Petrus dibebebaskan dari penjara.

    (Kisah Para Rasul 12:7) Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.

    Mengingat-ngingat berbagai keajaiban yang didatangkan malaikat yang menyertai para murid di zaman dahulu kala membuat kita semakin tegar menjalani dinamika kehidupan. Sebab sedemikian kuatnyalah kita saat hidup bersama-sama dengan Allah di dalam firdaus. Oleh karena itu, percayalah bahwa sorga itu nyata hanya kita tidak mampu mengamatinya lebih detail lagi akibat keterbatasan indra. Namun jangankan melihat isinya, menyaksikan matahari saja kita sudah puas sebab ternyata apa yang selama ini dibicarakan oleh Alkitab dapat kita rasakan kekuatannya setiap harinya.

  23. Bergerak dalam kecepatan cahaya.

    (Yohanes 8:59) Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

    Lagi firman-Nya demikian.

    (Lukas 24:31) Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

    Lagi firman berpesan.

    (Kisah Para Rasul 8:39) Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

    Lagi kata firman.

    (Kisah Para Rasul 12:10) Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia.

    Selama hidup di dunia ini, kami sendiri tidak setuju kalau ada evolusi fisik yang terjadi di antara umat manusia. Sebab evolusi yang menimbulkan kekuatan yang berbeda bisa membuat kita saling berperang satu-sama lain untuk memperebutkan siapa yang berkuasa. Adalah lebih baik jikalau kekuatan yang kita miliki sama dengan manusia lainnya sehingga ada keseimbangan di dalam masyarakat. Justru kekuatan yang berbeda-beda membuat seseorang bisa semena-mena memperlakukan orang lain.

    Akan tetapi, lain halnya ketika kita dibangkitkan dari antara orang mati. Mulai dari sel, darah, tulang dan daging yang kita miliki tidak lagi tersusun dari bahan-bahan duniawi yang fana. Melainkan sel kita sendiri bisa menjadi bagian dari cahaya kebenaran itu sendiri. Kita bisa bergerak dengan kecepatan cahaya dan menghilang dalam sekejap mata. Jika sel-sel saja memancarkan cahaya berarti proses metabolisme tubuh juga bisa jadi seefektif dan seefisien sinar matahari itu sendiri.

  24. Di sorga tidak ada laut.

    (Wahyu 21:1) Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.

    Tahukah anda mengapa cuaca selalu berubah-ubah? Semua itu dipengaruhi oleh lautan yang sebagian (½) disinari oleh matahari. Pergerakan air di bumi dalam tiga wujud (beku, cair dan uap) mempengaruhi perbedaan cuaca di tiap-tiap wilayah. Jadi, saat di bumi ini kita harus rajin minum air (2 liter per hari) agar selalu sehat lain halnya dengan di sorga. Kita tidak butuh air atau garam saat sudah berdiam bersama-sama Yesus Kristus (Raja segala raja) di dalam kerajaan kekal. Sebab air dan garam adalah kebutuhan duniawi sedang kita bisa hidup terus bersama di dalam kerajaan-Nya hanya dengan mengkonsumsi firman yang adalah kebenaran itu sendiri.

  25. Tidak ada kematian dan dukacita.

    (Wahyu 21:4) Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

    Hanya ada tampik sorak kegirangan yang memenuhi hati dan mulut ini. Kita telah melupakan masa-masa yang sukar saat hidup di bumi. Sebab di sanalah masing-masing orang percaya diuji dalam berbagai-bagai dukacita yang menimpanya. Orang yang mengabaikan firman Allah tetapi terus-menerus berpaling kepada penghiburan duniawi (rokok, narkoba, miras, pergaulan bebas, kejahatan dan lain-lain) akan menemukan dirinya di sisi kiri dan siap dicampakkan ke dalam neraka. Tetapi mereka yang mampu bertahan dan tetap benar di tengah tekanan kehidupan yang menimpanya akan diletakkan di sisi kanan, meninggalkan bumi dan menuju kerajaan Allah, matahari.

  26. Sorga sepenuhnya terdiri dari emas dan permata.

    (Wahyu 21:18) Tembok itu terbuat dari permata yaspis; dan kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni.

    Yang jelas sorga jauh berbeda dari bumi yang kita tempati. Di sana lantainya saja terdiri dari emas dan berbagai-bagai batu berharga lainnya. Mungkin saja di sana ada pohon tetapi tidak seperti pepohonan yang ada di bumi ini. Benda-benda yang dahulu kita anggap sebagai sesuatu yang sangat berharga, mahal dan diburu oleh siapa saja, kelak hanya akan menjadi pijakan belaka.

    Silahkan lihat ke arah matahari, bukankah bentuknya berkilau-kilauan seperti kaca murni? Ke sanalah anda dan kami akan tertuju ketika iman yang kita miliki terbukti tahan uji tetap benar di tengah kemelut hidup yang meraung-raung di sekitar. Oleh karena itu, hadapi tantangan apapun dengan sukacita sambil tetap bertahan fokus kepada Tuhan dan santun berbuat baik kepada siapa pun. Sebab upah yang kita peroleh kelak sungguh jauh lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di bumi ini. Anda bisa melihat betapa kayanya seorang manusia di bumi? Camkanlah bahwa kekayaan di sorga melebihi semuanya itu: kejarlah kebenaran seumur hidupmu saudaraku!

  27. Tidak memiliki bulan dan matahari.

    (Wahyu 21:23) Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.

    Jelaslah bahwa firdaus tidak memiliki bulan dan bintang, bahkan planet-planet sekalipun tidak dapat dilihat dari dalamnya terkecuali anda diperintahkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya di salah satu planet primitif (seperti bumi). Bagaimana mungkin kita melihat bulan dan bintang sebab cahaya keduanya berasal dari matahari. Itu jugalah yang membuat rasul yang bernubuat tersebut tidak dapat melihat mentari terbit sebab yang diinjaknya adalah matahari itu sendiri.

  28. Tidak ada malam hari.

    (Wahyu 21:24-26) Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana; dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya.

    Lagi firman berkata demikian.

    (Wahyu 22:5) Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

    Di seluruh alam semesta setiap planet (misalnya bumi) dan satelit (misalnya bulan) hanya mendapatkan sinar matahari ½ dari seluruh permukaannya. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya perputaran waktu antara siang dan malam. Satu-satunya tempat dimana tidak ada malam hari di seluruh jagad raya adalah di dalam mentari itu sendiri. Jadi 100% benar bahwa baskara adalah sorga!

  29. Sungainya bercahaya.

    (Wahyu 22:1) Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.

    Pada penglihatan sebelumnya dikatakan bahwa sungai itu berapi dan sekarang dikatakan lagi bahwa sungai di sorga berkilau-kilauan. Sadarilah bahwa kata berapi semakna/ setara dengan bercahaya sehingga bisa diartikan bahwa aliran air di sana tidak lagi menyerap sinar matahari seperti lautan yang suka memakan cahaya dan menyimpannya dalam jumlah banyak. Tetapi di kediaman Allah, sungai berlaku sebaliknya, yaitu memancarkan cahaya sehingga kita melihatnya dari bumi sebagai sinar putih di atas langit yang sangat cemerlang. Adalah mustahil bagi kita untuk mengamati aktivitas orang-orang surgawi sebab saat mereka di samping kita, banyak yang tidak menyadari dan memahaminya.

  30. Surga sejati bukanlah di bumi.

    (Lukas 24:50-51) Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.

    Jelas sekali bahwa sorga bukanlah di bumi. Sebab kekayaan sorga miliaran kali lebih besar dari harta yang ada di bumi. Jadi, lebih baik bagi kita untuk miskin di bumi tetapi memperjuangkan kebenaran hakiki (mengasihi Tuhan seutuhnya dan sesama seperti diri sendiri). Sebab upah mengusahakan kebenaran sejati sesuai dengan titah Allah sejak zaman purba kala. Lakukanlah dengan rendah hati dan bersiaplah menghadapi halangan yang menyertainya. Ketahuilah bahwa “upah yang akan kita terima kelak di akhir zaman lebih bernilai dari harta termahal yang ada di dunia ini!”

  31. Sorga lebih besar daripada bumi.

    (Yohanes 14:2-3) Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

    Jika kita mendasarkan teori pada sistem tata surya tunggal dimana galaksi bimasaki adalah satu-satunya di alam semesta maka akan memahami bahwa matahari itu sangatlah besar sedangkan planet di sekelilingnya begitu kecil, bagaikan titik-titik yang tidak ada bandingannya. Jadi terbuktilah apa yang dikatakan Tuhan Yesus Kristus yang menyatakan bahwa “banyak tempat tinggal di rumah Bapa-Ku.” Kata “banyak” dalam pernyataan tersebut setara/ sepadan/ semakna dengan kata “besar.” Sehingga bisa kita tarik kesimpulan bahwa sesungguhnya firdaus lebih luas dan lebih besar daripada bumi dan planet manapun di alam semesta. Oleh sebab itulah tempat yang sangat cocok untuk menjadi sorga adalah matahari, bukankah itu yang pertama sekali diciptakan oleh Allah ketika berfirman “Jadilah terang.”

  32. Saat nabi Elia mempersembahkan korban di gunung Karmel.

    (I Raja-Raja 18:24) Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan aku pun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” Seluruh rakyat menyahut, katanya: “Baiklah demikian!”

    Lagi firman Tuhan berkata demikian.

    (I Raja-Raja 18:37-38) Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.” Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

    Kisah pernyataan Yang Maha Agung dihadapan seluruh umat Israel di gunung Karmel merupakan salah satu pertanda kekuatan sorga. Allah menyatakan kehadiran-Nya kepada seluruh jemaah itu dalam bentuk api yang sekaligus membakar korban yang dipersembahkan di atasnya. Kekuatan ini dinyatakan untuk menegaskan bahwa baal yang disembah oleh sebagian besar orang kala itu hanyalah patung yang tidak bisa berbuat sesuatu yang lebih. Artinya, berhala yang mereka sembah tersebut hanyalah sesuatu yang hampa dan penuh dengan omong kosong.

    Kehadirang Yang Maha Mulia dalam bentuk api telah menjadi suatu pertanda dari dari keberadaan sorga. Dari kekuatannya, bisa kita pahami bahwa api yang turun dari firdaus tersebut lebih panas dari perapian yang ada di dunia ini. Bacalah baik-baik ayat tiga puluh delapan tersebut, dikatakan di sana bahwa “korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air:” semuanya itu terbakar habis. Jadi, kalau api tersebut berasal dari dunia ini, sudah pasti segala sesuatu yang ada di bumi akan hangus terbakar olehnya. Sehingga bisa kita katakan bahwa sesungguhnya perapian tersebut berasal dari sorga dimana suhunya sangat tinggi sehingga air, tanah bahkan batu sekalipun akan lenyap dibuatnya.

    Kejadian tersebut menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya suhu yang dipancarkan oleh matahari sangatlah panas. Melampaui semua suhu perapian yang pernah ada di bumi ini. Api yang menjilat di sana berasal dari pembakaran yang sempurna sehingga warnanya bukan merah atau pinang masak atau biru melainkan bewarna putih bening. Jadi, perapian tersebut tidak menghasilkan gas buangan atau polutan sehingga bisa dikatakan bahwa kemilau sorgawi sifatnya sangat bersih tanpa ampas. Mereka yang tinggal di sorga tidak lagi mengenal sampah, kotoran dan polusi sebab metabolisme makhluk sorgawi sempurna adanya.

  33. Berdasarkan nyanyian pujian imam Zakharia.

    (Lukas 1:77-79) untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

    Perlu dipahami bahwa Allah adalah segalanya, artinya segala sesuatu yang berada di seluruh alam semesta memiliki sebagian dari diri-Nya. Bumi, bulan dan bintang-bintang bisa kita anggap sebagai Tuhan sebab masing-masing memiliki nafas hidup-Nya. Namun bukan dalam arti kita bisa menyembah bumi, planet lain, bintang, bulan dan matahari. Melainkan sembahlah Tuhan dalam roh dan kebenaran.

    Sama halnya seperti manusia yang dikaruniai dengan nafas hidup dan juga dianugerahkan kecerdasan. Bukan berarti bahwa kita bisa menyembah sesama manusia lainnya melainkan semua orang setara/ sejajar satu sama lainnya. Demikian segala sesuatu dapat kita anggap sebagai Allah sendiri yang memberikan manfaat positif dalam kehidupan kita. Satu-satunya ketidakbermanfaatan alam semesta terjadi akibat arogansi, manipulasi dan keserakahan yang kita lakukan sendiri.

    Jadi, saat imam Zakharia mengumpamakan bahwa Allah itu seperti “Surya pagi dari tempat yang tinggi” adalah sudah tepat benar. Sebab di sorga kelak, kita bersemayam bersama-sama dengan-Nya di dalam sang surya. Ini tidak hanya berlangsung dalam jangka waktu satu, seratus dan seribu tahun saja. Melainkan akan hidup memandang wajah-Nya sampai selama-lamanya (berumur tanpa batas/ makhluk abadi).

  34. Bala tentara sorga yang bersama nabi Elisa.

    (II Raja-raja 6:17) Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

  35. Baptisan Yesus Kristus dari roh dan api.

    (Lukas 3:16) Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Berharaplah kepada sorga, tempat yang indah dan permai, sumber segala cahaya kehidupan terpancar. Segala kekayaan jasmani, rohani dan sosial ada di sana. Tidak ada bandingannya dengan apapun yang ada di bumi yang fana ini. Di sana tidak ada lagi pribadi pengganggu, rasa sakit, kecewa, kepahitan, penyakit dan berbagai hal buruk lainnya. Tidak ada lagi perut kosong, bibir kering, bau badan, kulit kotor, pakaian kotor dan berbagai bagai hal yang butuh dicuci lainnya. Juga tidak ada panas membakar kulit, dingin menggigil, banjir, longsor, badai, kekeringan, kelaparan dan lain sebagainya. Termasuk tidak ada kaya dan miskin melainkan orang yang lebih banyak berkorban dan menderita akan lebih dekat dengan orang-orang kudus yang terkemuka (seperti Lazarus di pangkuan Abraham). Oleh karena itu berjuanglah saudara-saudara: fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta lakukan kebaikan kepada sebanyak-banyaknya orang (dalam pekerjaan dan pelajaran yang digeluti) dimulai dari dalam keluarga masing-masing.

Salam, Materi duniawi hanyalah angin,
pakailah untuk melakukan kebaikan.
Sebab harta di bumi pasti akan habis,
lenyap dimakan rayap dan dirampas.
Tetapi melakukan apa yang benar,
upahnya abadi di sorga masyhur!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.