Ekonomi

7 Penyebab Pejabat Suka Rakyat Bodoh & Miskin – Teganya Oknum Pemimpin Yang Tidak Manusiawi Akibat Tamak Terhadap Kekayaan & Kekuasaan


Penyebab Pejabat Suka Rakyat Bodoh & Miskin - Teganya Oknum Pemimpin Yang Tidak Manusiawi Akibat Tamak Terhadap Kekayaan & Kekuasaan

Perebutan hadiah yang besar mengorbankan banyak hal baik

Manusia hidup dalam lingkaran persaingan seumur hidupnya. Kami pun merasakan hal tersebut dari waktu ke waktu. Suatu perilaku yang memang membuat kita terus bergerak sekaligus melakukan usaha yang terkesan lebay. Semakin besar hadiah yang diperebutkan maka makin besar pula usaha yang dikeluarkan untuk memperebutkannya. Hal ini sudah sesuai dengan hukum aksi-reaksi: dimana ada aksi selalu disertai oleh reaksi yang setara. Oleh karena itu, sebaiknya keadilan sosial diberlakukan di seluruh negeri sebab tanpanya pertandingan di dalam masyarakat hanya berujung pada sesuatu yang buruk, merugikan sistem/ organisasi, diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.

Kecerdasan membuat keserakahan semakin menjadi-jadi

Masalah utama manusia di bumi ini adalah kecintaan akan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Nafsu ini terus didorong oleh ilmu pengetahuan yang dimiliki masing-masing. Sebab di luar sana juga hewan memiliki kecintaan tersendiri terhadap hal-hal duniawi tetapi karena kecerdasannya kurang, apa yang mereka ambil dari lingkungan hanya sebutuhnya saja. Andaikan mereka mengenal yang namanya kulkas, pastilah juga akan berburu sebanyak-banyaknya. Namun, mereka terbatas pengertiannya sehingga yang diambil dari lingkungan juga hanya apa yang dibutuhkan saja untuk hari itu. Sedang manusia dengan segala kepintaran yang dimiliki membuatnya dimungkinkan untuk melakukan eksploitasi alam sebesar-besarnya.

Manusia terbuat memuaskan hatinya dengan gemerlapan materi yang sementara saja

Di samping itu, jumlah orang-orang cerdas juga turut bertambah di dalam masyarakat. Sedang semakin banyak sumber daya alam yang ada telah dikonversi menjadi uang sehingga jumlah orang kaya raya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Keadaan ini secara tidak langsung mendorong kebutuhan akan barang konsumsi meningkat. Sampai di sini saja perkembangan kehidupan manusia memang sudah normal adanya. Namun, semua itu masih belum cukup bagi kalangan yang memiliki tingkat kekayaan selangit. Mereka masih harus membangun kemewahan, kemegahan, kenyamanan dan berbagai-bagai bentuk kelimpahan lainnya untuk memuaskan hati. Padahal semuanya itu hanyalah berlaku untuk sesaat saja.

Dari dulu sampai sekarang manusia selalu memperebutkan kekuasaan dan kekayaan sumber daya

Setiap persoalan yang terjadi di bumi ini disebabkan oleh karena perebutan terhadap hal-hal yang tinggi. Semenjak Adam dan Hawa manusia pertama, yang adalah nenek moyang kita sendiri. Mereka hidup bersama Allah tetapi tergiur dengan kemuliaan dan kebesaran yang dimiliki oleh Sang Pencipta. Keduanyapun jatuh ke dalam dosa. Demikian jugalah yang terjadi kepada kita sampai saat ini, kita terus hidup bersaing dengan orang/ kelompok lain semata-mata untuk beroleh kekayaan, kehormatan, kekuasaan, ketenaran dan berbagai keunggulan lainnya. Bukankah kita sendiri yang menyukai dan mendukung sistem bermasyarakat yang semacam ini? Kita jugalah yang menjalankan aturannya. Padahal hal tersebut sebenarnya bisa diubah tetapi enggan melakukannya semata-mata demi keuntungan pribadi dan kelompok.

Pengertian

Mengapa ada oknum pemimpin atau pejabat yang tidak menginginkan rakyatnya maju? Mengapa seorang ayah tidak mengehendaki agar anak-anaknya cerdas dan makmur? Kami sendiri heran kalau ada seorang oknum petinggiyang bisa sampai dengan tega hati melakukan konspirasi terselubung demi menciderai rakyatnya sendiri. Perilaku semacam ini jelas sebagai suatu tindakan yang tidak berperikemanusiaan yang mungkin saja disebabkan oleh perasaan takut dan terlalu cemas terhadap masa depan. Sebab bagi beberapa orang masa depan begitu suram sehingga diperlukan seleksi alam untuk membuat bumi tidak menyesakkan hati. Lalu dengan sengaja melakukan praktek tipu muslihat demi melenyapkan beberapa saingannya (bahkan sampai membunuh juga).

Alasan mengapa ada oknum pejabat atau pemimpin yang tidak mau rakyat cerdas dan makmur.

Oknum yang tidak menginginkan agar temannya maju merupakan sebuah pertanda betapa buruknya suatu sistem dalam bermasyarakat. Persaingan yang tinggi membuat beberapa orang kehilangan rasa kemanusiaan di dalam hatinya sehingga terkesan membiarkan orang lain digilas oleh bencana kemanusiaan dan bencana alam. Lebih dari itu, keadaan ini cenderung dipicu oleh faktor kegagalan sistem yang membuat minimnya sumber daya yang tersedia sehingga masing-masing orang berebutan untuk beroleh hak untuk hidup. Kegagalan semacam ini cenderung disebabkan oleh perilaku para petingginya yang serakah terhadap sumber daya alam sampai berpikir bahwa hal tersebut bisa memuaskan hatinya. Berikut selengkapnya beberapa faktor penyebab minimnya rasa cinta pemimpin kepada bawahan/ rakyatnya.

  1. Sistem kapitalisme (kegagalan sistem).

    Jelaslah bahwa sistem ekonomi yang dikuasai oleh sekelompok oknum swasta merupakan sebuah bencana bagi masyarakat. Sebab memberikan hak pengelolaan sumber daya kepada perorangan membuat mereka berlaku sebebas-bebasnya terhadap sumber daya yang ada. Bahkan terkesan memboroskannya semata-mata demi kelimpahan harta benda yang lebih luar biasa dari sesamanya. Mengkonversi sumber daya alam menjadi barang dan jasa dengan kecepatan yang tidak terukur. Akibatnya alam rusak sedang ketergantungan terhadap minyak luar biasa sehingga menimbulkan bencana alam yang diawali oleh pemanasan global. Tingginya tingkat pemanasan global mengakibatnya manusia semakin rajin berlindung di bawah kekuatan teknologi yang dilapisi oleh tembok beton, besi dan baja. Pemanfaatan mesin yang telah terjadi secara berlebihan membuat konsumsi BBM semakin cepat sehingga volume hamil minyak bumi jauh lebih rendah daripada volume yang dibutuhkan sistem untuk menjalankan aktivitasnya.

    Sistem kapitalisme secara tidak langsung menciptakan rakyat yang bodoh dan miskin untuk dikorbankan tatkala bencana kemanusiaan dan bencana alam melanda suatu wilayah. Orang yang miskin cenderung tidak mampu mempertahankan dirinya dan digilas oleh kerasnya tuntutan keseimbangan lingkungan yang berputar dan mengguncang suatu daerah.

  2. Mudah dikendalikan/ dikontrol.

    Mengapa ada oknum pemimpin dan pejabat yang mengehendaki agar rakyat tetap kurang cerdas dan cenderung melarat? Sebab orang yang tidak memiliki wawasan berpikir yang jauh ke depan mudah saja dikendalikan oleh pejabatnya. Mereka cukup membayarkan sejumlah uang kepada masyarakat semacam itu sehingga klepek-klepek di depannya dan mau-mau saja disuruh ini itu untuk menjalankan rencana busuk. Tentu saja tanpa orang-orang bodoh dan kurang makmur ini, tidak ada yang mau jadi babu mereka. Padahal keluarganya dan dirinya sendiri butuh budak yang disuruh-suruh untuk melakukan pekerjaan kotornya.

  3. Mudah ditakuti.

    Memanglah oknum yang benar-benar tidak memiliki perasaan para pejabat tersebut jika mereka tidak menginginkan agar rakyat cerdas dan kaya sama seperti dirinya (setara dengan dirinya). Sebab seperti kebanyakan orang yang kurang pintar lainnya, mereka digertak dikit saja keok, digas garang dikit pasti gelisah dan digalakin sesekali sudah undur nyalinya. Mereka suka dengan orang semacam itu sehingga dirinya tetap mampu menjalankan segala rencana bisnis jahatnya tanpa ada yang mengganggu-gugat sekalipun itu dilakukan di depan umum.

  4. Agar terus ketergantungan membeli (motif ekonomi).

    Mengapa oknum kapitalis tertentu menyukai orang-orang yang kurang pengalaman? Sebab mereka cenderung hanya berharap pada apa yang sudah disediakan oleh sistem. Mereka bukan tipe manusia penemu yang suka belajar dari masa lalunya tetapi hanya menggunakan apa yang sudah disediakan oleh sistem. Sifat masyarakat semacam ini adalah tipe konsumtif tulan dan malas untuk menggali ilmu pengetahuan dari pengalamannya sehari-hari. Akibatnya, manusia yang kurang cerdas tersebut hanyalah peluang yang berpotensi membuat kapitalis semakin kaya raya.

  5. Agar bisa terus memimpin atau menjabat (motif kekuasaan).

    Manusia yang terus-menerus haus kekuasaan turut pula menginginkan kekayaan yang melimpah-limpah. Mereka menimbun harta untuk diri mereka sendiri sedang di luar sana masih banyak rakyat yang hidup serba kekurangan. Karena kekurangan kebutuhan sehari-hari, pikiran tidak lancar dan kesehatannya juga pas-pasan. Akibatnya, masyarakat semacam ini tidak memiliki kehendak lain selain mengharapkan bantuan dari pemerintah. Saat pemerintah membantu perekonomiannya sedikit-sedikit, langsung saja dianggap sebagai dewa yang pantas dipuja dan dipuji. Kalangan pemerintah pun suka membanggakan dirinya sendiri karena bantuan tersebut padahal itu adalah HAK RAKYAT dari kas negara dan SAMA SEKALI BUKAN BANTUAN!

    Keserakahan oknum pejabat terhadap kelimpahan materi membuatnya tertarik untuk terus-menerus menjabat. Di sinilah mereka memanfaatkan orang yang bodoh dan miskin untuk membuatnya terpilih secara berulang-ulang. Cukup dengan membayarkan segepok uang di dalam amplop dan membayar masyarakat yang kurang sejahtera, mereka mau-mau saja diarahkan untuk memilih oknum pejabat tersebut dalam pesta demokrasi (pemilu). Simak juga, Berbagai bentuk sogokan dalam pemilu?

  6. Agar masyarakat mudah terlena dan melupakan hak-haknya.

    Oknum pejabat tertentu memang lihai menggunakan jurus membutakan mata rakyat lewat berbagai media masa. Mereka membuat berita-berita yang menghebohkan sehingga orang-orang melupakan haknya terhadap negara ini. Bahkan tidak tertutup kemungkinan mengedarkan narkoba, miras, seks bebas, perjudian dan berbagai-bagai kenikmatan duniawi lainnya untuk membuat rakyat mabuk. Jelaslah bahwa orang yang sudah terlena dengan semuanya itu mudah sekali diatur-atur sesuai kehendaknya. Sedang berbagai-bagai praktek penggelapan, korupsi, penyalahgunaan hak dan kejahatan kerah putih lainnya seolah tidak tersentuh karena sangat terkoordinasi.

  7. Agar semakin sedikit orang yang mengakses informasi.

    Ilmu pengetahuan itu mahal, itulah slogan yang biasanya dipakai oleh oknum penguasa agar rakyatnya tetap berada di bawah garis kebodohan. Sedang berbagai jenis pengetahuan yang berkualitas hanya dinikmati oleh orang kaya raya saja. Namun di pihak lain, mereka yang kurang sejahtera malah disodorkan dengan ilmu yang terkesan murahan dan cenderung menggiring manusia untuk ketergantungan terhadap oknum kapitalis tertentu. Akses pengetahuan asli disembunyikan rapi-rapi. Sedang berbagai ilmu komersial disiarkan secara besar-besaran melalui media elektronik, cetak, baliho dan lain sebagainya sehingga oknum tertentu semakin makmur sedang rakyat tetap miskin.

Perdagangan yang dikendalikan oleh pihak swasta jelas hanya menguntungkan segelintir orang saja. Keadaan ini membuat sumber daya dan kesejahteraan hanya terkumpul di tangan pihak tertentu saja. Sedang masih sangat banyak pihak yang kekurangan di luar sana yang dompet, otak dan perutnya kosong, bukan karena berpuasa tetapi karena tidak ada biaya untuk membeli kebutuhan yang seharusnya. Masyarakat semacam ini mudah ditokoh-tokohi oleh oknum pemimpin dan pejabat yang sedang berkuasa sehingga posisinya lancar, aman dan terkendali. Sekalipun dia dan komplotannya melakukan berbagai aksi penggelapan, korupsi, penyalahgunaan jabatan, proyek fiktif, penggemplangan proyek, hierarki keluarga (nepotisme) dan berbagai-bagai praktek KKN lainnya. Semua kejahatan mereka tersembunyi, terstruktur dan terkoordinasi dengan baik sebab semua bekerja sama melegalkan ketidakadilan. Bahkan pers juga mereka kuasai sebab seluruh pemasukan wartawan dibayarkan oleh oknum penguasa. Kebobrokan sistem semacam ini jelas tidak mudah terbongkar dalam waktu dekat, tetapi di masa depan siapa yang tahu? Bukankah kebenaran akan disingkapkan juga indah pada waktunya? Saksikanlah, Alasan kemiskinan masih ada.

Salam, Sistem kapitalisme jelas
menciptakan orang bodoh dan miskin.
Sebab tanpa semuanya itu
mustahil kekuasaan mereka
terus menerus langgeng
dalam ketidakadilan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.