Ekonomi

10 Alasan Rumah Bukan Investasi, Apalagi Rumah Mewah

Alasan Rumah Bukan Investasi, Apalagi Rumah Mewah

Tempat tinggal ideal yang sedang-sedang saja

Rumah itu apa adanya saja. Terlalu besar justru menjauhkan kita dari teman-teman dan terlalu kecil juga bisa membuat terhambat aktivitas normal. Sebab lahan luas yang digunakan menggeser hunian penduduk lainnya terlalu jauh dari jangkauan indra. Memang sebagian orang mengatakan bahwa gedung yang saling jauh-jauhan bagus adanya sebab tidak terjangkau oleh gangguan. Tetapi bagi kami, itu justru kelemahan karena zona nyaman tersebut justru membuat otak kurang berkembang (khususnya kecerdasan mengendalikan emosi). [Lihat juga dimari, Efek samping hidup menyendiri] Hunian yang terlalu kecil juga membuat kita tidak tenang di rumah, seperti anak kos yang hanya memiliki satu kamar saja sehingga saat beraktivitas lebih banyak dilakukan di luar kos (kampus, kedai, rumah makan dan lain-lain).

Adalah lebih baik jika tempat kita biasa saja tetapi ruang publiklah yang mewah

Rumah yang terlalu mewah tidaklah baik untuk ditempati sehari-hari. Alangkah lebih baik jikalau kemewahan itu tersimpan di tempat-tempat umum saja sedang hunian yang kita miliki biasa-biasa seperti yang lainnya. Sebab saat tempat tinggal anda lebih galamour dibandingkan dengan fasilitas publik (public space) niscaya tidak akan pernah mau berkunjung ke area publik tersebut. Sekalipun ada niat tetapi tetap saja enggan untuk berlama-lama dan cenderung suka mengeluh di sana kerena lebih suka ngadem di kamar sendiri. Namun saat hunian yang kita miliki biasa saja tetapi ruang publik di sekitar sangat asri, nyaman dan mewah; besar kemungkinan menjadi betah berlama-lama untuk bersantai di sana sembari bercanda gurau dengan teman-teman.

Benarkah memiliki banyak rumah adalah investasi?

Sempat mendengarkan beberapa argumen di salah satu stasiun televisi yang menyatakan bahwa memiliki hunian merupakan suatu investasi masa depan. Mereka yakin sekali bahwa harga suatu hunian akan terus naik dari tahun ke tahun seiring dengan peningkatan nilai barang mewah lainnya seperti emas. Sugesti semacam ini mungkin saja akan ditanggapi dengan serius oleh orang yang tidak tahu-menahu tentang pemborosan yang dikeluarkan untuk merawat hunian mewah tersebut. Tetapi bagi keluarga yang paham betul dengan berbagai pengeluaran yang terkadang mubazir untuk pengurusan gedung, pastilah akan membatasi diri untuk memperbanyak koleksi properti yang berkelas.

Tempat tinggal kebanggaan sesaat dan tanggungan seumur hidup

Memiliki rumah yang glamour memang bisa menjadi suatu kebanggaan sesaat sekaligus beban seumur hidup. Orang-orang membanggakan dirinya di dalam hati sebab tempat tinggal yang mereka miliki lebih seperti istana kediaman raja-raja masa lalu sedang milik warga lainnya masih sangat jauh lebih kecil. Sayang, semuanya itu hanya berlangsung sesaat saja, dimana setelah itu, akhirnya terasa biasa saja. Sedang beban listrik, biaya kebersihan dan perawatan lainnya telah meningkat dengan tajam seiring dengan peningkatan harga barang dan jasa. Termasuk dalam hal ini adalah beban pajak bumi dan bangunannya yang tetap ada dan harus dibayarkan dari waktu ke waktu. Jadi, berhenti membeli lebih banyak hunian karena sama saja dengan meningkatkan pemborosan anggaran belanja rumah tangga. Saksikanlah kawan, Bahaya kemewahan dalam hidup.

Berbagai investasi yang masih mungkin sebagai persiapan di masa depan

Adalah baik bagi kita untuk mengarahkan investasi dalam bentuk lain seperti produk asuransi. Sebab tabungan jenis ini memang lambat tetapi hasilnya jelas. Bisa juga dengan jenis deposito jangka panjang lainnya. Silahkan membuat pilihan dengan menanyakan hal tersebut kepada ahlinya (jasa keuangan/ bank). Kami sendiri lebih suka menyimpan semuanya di bank, asalkannya rajin menabung pasti bunganya akan membaik juga. Menabung sedikit-sedikit asal dilakukan dengan tekun lama-lama jadi bukit. Tetapi, kami sarankan jika uang anda di bawah sepuluh juta, sebaiknya jangan menabung di bank sebab pajaknya lebih tinggi dari bunga yang dihasilkan. Akibatnya, uang kita terus berkurang dari waktu ke waktu (bukannya bertambah). Lebih baik simpan dalam rumah di tempat yang aman dan tidak terduga oleh siapapun.

Faktor penyebab memiliki banyak tempat tinggal adalah salah satu bentuk kemubaziran (pemborosan)

Membeli banyak-banyak rumah adalah sebuah tindakan yang awalnya terkesan hebat. Merasa hebat karena saat berkunjung kemana-mana, kita selalu berasa tidak pernah jauh dari tempat tinggal sehari-hari. Sebab tidak ada ongkos hotel/ penginapan dan suasananya pun selalu bisa ditata sesuka hati. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya kita menyadari bahwa memiliki properti di berbagai daerah adalah beban yang memperberat perekonomian keluarga. Memang awalnya santai saja saat hari-hari sedang produktif, namun ketika masa pensiun tiba, lengkungan pengeluaran yang tidak penting cukup mengganggu setiap mata yang menganalisisnya? Berikut ini akan kami berikan beberapa alasan mengapa membeli banyak-banyak aset di berbagai daerah bukanlah suatu investasi

  1. Gaji penjaganya.

    Anda yakin mau meninggalkan rumah yang begitu bagus itu tanpa dijaga oleh siapa pun? Meninggalkan hunian tanpa penjagaan dari pihak lain membuatnya rentan dengan praktek pencurian. Bahkan mungkin menjadi salah satu sasaran empuk dari para maling yang haus akan barang-barang mewah dan berharga lainnya. Jangankan televisi dan kursi; pagar yang terbuat dari besi juga bisa saja dijual untuk dijadikan uang. Jadi memiliki hunian lain di luar daerah wajib ada penjaganya terkecuali jika properti tersebut berada di kompleks mewah yang selalu dijaga ketat oleh satpam.

  2. Pajak bumi dan bangunannya.

    Setiap properti memiliki pajak yang berbeda-beda sesuai dengan luas lahan dan jenis bangunan yang didirikan di atasnya. Bagi gedung yang bentuknya sederhana, cenderung memiliki nilai pajak yang rendah. Tentulah semakin banyak dan mewah aset yang dimiliki, makin tinggi juga pajak yang dibayarkan setiap tahunnya.

  3. Tukang kebun dan kebersihannya.

    Hunian yang sederhana jelas tidak membutuhkan tukang kebun yang disibukkan mengurus taman dengan berbagai tanaman yang memadatinya. Biasanya, berisikan tanaman hias dari yang paling sederhana (rumput-rumputan) hingga yang berpohon (ukurannya besar dan berkayu). Biasanya semakin berkelas suatu rumah, makin luas juga bagian yang hijau-hijaunya. Tentu saja yang namanya mengurus taman harus dilakukan secara rutin sebab dedaunan kering berjatuhan setiap hari.

  4. Uang listrik yang terpasang.

    Pengeluaran biaya listrik tentu saja terjadi setiap hari sebab hunian tanpa lampu di malam hari bisa jadi tempat penjahat melakukan aksinya. Hunian yang tidak ditempati tentu saja ongkos rekeningnya lebih rendah dari tempat tinggal pada umummnya. Terkecuali jika properti tak berpenghuni tersebut memiliki luas yang cukup besar yang membuat tunggakan listriknya tetap saja sama dengan hunian yang berpenghuni.

  5. Perawatan gedungnya.

    Merawat gedung yang mewah jauh berbeda dari pemeliharaan rumah sederhana yang minimalis. Mungkinkah itu soal biaya polesan cat yang selalu diperbaharui setiap tahun. Bisa juga biaya properti dari bahan kayu yang usang dimakan rayap. Atau pembiayaan genteng yang perlu diganti baru akibat kebocoran karena cahaya matahari & hujan. Dan masih banyak biaya perawatan lainnya terlebih ketika di derah tersebut kerap terjadi bencana alam, semisalnya banjir dan badai (angin kencang, puting beliung, badai tropis dan lain-lain).

  6. Perawatan perabotannya.

    Biaya pembelian perabot yang usang dimakan waktu perlu disediakan. Terlebih ketika cuaca sangat lembab sehingga perabotan tersebut mudah melapuk. Suasana lembab ini juga cenderung disebabkan oleh penghuninya tidak ada atau jarang sekali menempatinya. Semakin banyak perabotan yang ada maka semakin tinggi pula biaya perawatannya. Terlebih yang asalnya dari barang elektronik, semakin canggih alat tersebut biasanya makin mahal biaya pemeliharaannya (tergantung sperepart yang rusak).

  7. Ongkos fasilitas air.

    Tentu saja, perawatan tanaman selalu membutuhkan air. Terlebih ketika anda mengizinkan seseorang untuk tinggal menjaga tempat tersebut. Mau kebelakang, mandi dan mencuci pastilah membutuhkan air. Jadi mau tidak mau harus selalu mengaktifkan saluran air PAM atau aliran air swasta lainnya dimana rekeningnya tetap ditagihkan dalam daftar belanja bulanan keluarga.

  8. Waktu tunggu yang lama.

    Anda yakin kalau rumah mewah adalah investasi jangka panjang? Sampai selama apa hal tersebut bisa meningkat satu, dua atau tiga tahun? Tentulah perlu menunggu pembeli lain yang merasa membutuhkan tempat tinggal di lokasi yang sama. Saat tidak ada yang mau menawarnya, biaya perawatan gedung tersebut akan terus menjadi tanggungan keluarga.

  9. Tempat yang tidak selalu strategis.

    Membeli sembarangan rumah hanya karena bentuknya yang megah tidak selalu meningkatkan nilai jualnya di masa depan. Sebab strategis tidaknya suatu wilayah tidak ditentukan oleh kemewahan gedung di dalamnya tetapi ditentukan oleh jumlah manusia yang menempati daerah tersebut. Biasanya, suatu hunian harganya semakin naik saat semakin padat penduduknya. Jika memang menurut perkiraan anda, tempat tersebut akan semakin ramai di masa depan, silahkan membeli tanah kosongnya saja tanpa gedung di dalamnya. Sebab membeli lahan yang memiliki gedung menimbulkan kerugian masif walau sifatnya sedikit-sedikit namun lama kelamaan bisa juga menjadi bukit.

  10. Rupiah dan dolar makin murah.

    Sadarkah anda bahwa sesungguhnya nilai uang terus-menerus merosot dari tahun ke tahun? Pergerakan ekonomi semacam ini bagus adanya agar manusia jauh dari kemalasan yang merusak tetapi terus bekerja dari hari ke hari. Mungkin saja harga rumah terus naik dari tahun ke tahun tetapi bandingkan juga dengan nilai rupiah yang semakin murah. Dahulu beli susu sashet hanya Rp. 1.000,- tetapi sekarang sudah Rp. 1.500,-. Jadi, kenaikan harga properti sudah sebanding dengan tingkat kemahalan barang dan jasa yang juga kian melonjak dari tahun ke tahun. Artinya, keuntungan yang kita peroleh dari investasi tersebut fiktif adanya sebab hanya nominalnya saja yang meningkat tetapi nilainya sama.

Memiliki properti mewah sama halnya dengan memiliki mobil dan kendaraan mewah lainnya. Harganya akan terus turun dari tahun ke tahun, sekalipun naik, hal tersebut sudah setara dengan biaya perawatan yang telah dikeluarkan selama pemakaiannya. Semua barang yang sudah dipakai pasti akan usang juga sehingga harganya pun cenderung menukik ke bawah (tergantung sudah berapa tahun dibangun). Lebih baik berinvestasi lewat asuransi, deposito, emas batangan berlisensi dan membeli lahan kosong yang tidak membutuhkan biaya pemeliharaan di sana-sini (sebenarnya masih banyak lagi, investasi lainnya silahkan dicari di Google). Memiliki banyak hunian yang berkelas sama dengan memiliki anak manja yang hobi belanja boros-borosin uang orang tua. Simak juga kawan, Dampak negatif hunian berkelas.

Salam, Investasi yang sehat,
memberi hasil yang bermanfaat.
Bukan membuat kas keluarga susut
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.