Cerpen

+10 Cara & Contoh Kata-Kata Merendahkan Hati & Menyangkal Diri Dengan Kreatif


Cara & Contoh Kata-Kata Merendahkan Hati & Menyangkal Diri Secara Kreatif

Apa yang kita lakukan untuk mengusir rasa minder?

Roda kehidupan senantiasa berputar-putar seperti roda sepeda. Jika roda kehidupan tidak berputar maka hal tersebut sama saja dengan kiamat. Selama manusia terus beraktivitas, selama itu pula kita akan menemukan perpindahan posisi dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas. Saat kita berada di bawah, jangan menyesal lalu merasa minder. Tetapi pandanglah kepada Allah, pandanglah kepada surga-Nya, tempat dimana rasa sakit, tangisan, kepahitan, kekecewaan, kemiskinan dan berbagai kelemahan lainnya tidak memiliki tempat. Pada saat itu, kita akan hidup bersama-sama dengan Allah, memandang wajah-Nya dalam kerajaan yang penuh cahaya abadi dan tidak pernah padam. Bahkan kulit kita pun memancarkan cahaya yang telah melenyapkan segala kefanaan duniawi. Jadi, tetap bersemangat menjalani hidup saudaraku! Usahakan dan kejarlah kebenaran yang hakiki dari waktu ke waktu. Fokuskan pikiran kepada Tuhan (doa, firman dan nyanyian pujian) juga berbuat baiklah kepada sesama (lewat pekerjaan dan pelajaran yang digeluti).

Apa yang kita lakukan saat mulai ada orang yang memberi pujian?

Lain halnya ketika kita sedang ditinggikan dalam suatu rasa yang berpotensi menghasilkan kebanggaan akibat pujian dan pengakuan. Di tengah-tengah semuanya itu, tetaplah sadar dan jangan sampai terbuai oleh kesombongan yang cenderung melebih-lebihkan. Rasa ini cenderung menurunkan tingkat kesadaran kita sehingga pikiran liar mulai berkuasa. Perkataan kepada sesama mulai penuh dengan kebencian sambil mengucapkan hinaan. Perilaku turut pula menjadi bias sehingga pekerjaan berantakan dan benda-benda di sekitar pecah-rusak akibat tindakan yang lebay. Ketahuilah bahwa semua keadaan ini disebabkan oleh kemampuan mengendalikan diri yang menurun akibat terbuai hanyut oleh pujian, baik yang diperkatakan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain.

Kebanggaan menuntut hasil yang hebat luar biasa

Semakin tinggi animo seseorang terhadap pujian dan pengakuan maka semakin besar pula tuntutan untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Padahal kita hanyalah manusia biasa yang mengawali hidup dalam kadar biasa-biasa saja. Bila ada sesuatu yang luar biasa, itu hanya terjadi karena kita beruntung. Sedang di berbagai sisi, kita penuh dengan kekurangan sama seperti manusia lainnya. Ketika rasa bangga itu memenuhi jiwa tanpa suatu netralisasi, muncullah tuntutan untuk memberikan/ menghasilkan sesuatu yang besar (masterpiece). Dorongan ini muncul bersamaan dengan kesombongan yang timbul. Saat kita tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut, perasaan jadi kalut dan jiwa tertekan. Pikiran jadi stres, sehingga kita berhenti untuk melakukan yang benar dan berhenti pula menghasilkan karya.

Kebanggaan membentuk mental yang menuntut kesempurnaan

Sadar atau tidak, rasa bangga di dalam hati membentuk mental perfeksionis yang selalu menuntut agar segala sesuatu sempurna adanya. Perasaan semacam ini jelas tidak manusiawi sebab kesempurnaan hanya milik makhluk sorgawi. Semakin banyak menuntut rasa sempurna, makin tinggi potensi mengalami benturan dengan sesama manusia. Ini bisa menimbulkan kebencian, dendam dan perselisihan hingga konflik/ pertengkaran yang berkepanjangan. Oleh karena itu, mulailah latihan untuk merendah bahkan menyangkal diri sendiri. Semakin tinggi tingkat pujian yang dilakukan oleh hati, semakin tinggi pula intensitas menyangkal diri. Saat orang-orang di sekitar mulai memberikan sanjungan, mulailah merendahkan diri di hadapan mereka dengan kata-kata.

Macam-macam contoh menyangkal diri – Cara merendahkan hati saat dipuji dan diakui orang lain

Menyangkal diri adalah suatu ajaran dari Yesus Kristus yang menjadi salah satu syarat untuk mengikut jalan kekristenan sejati yang seturut kehendak Allah. Kapasitas pengakalan yang diperkatakan perlu disesuaikan dengan intensitas pujian yang berasal dari luar. Jikalau sanjungan tersebut hanya ditimbulkan oleh hati, sangkallah diri di dalam hati saja. Akan tetapi, saat orang-orang mulai memberikan pungakuan lewat kata-kata, silahkan menyangkal diri melalui ucapan yang dihaturkan secara langsung. Semuanya ini semata-mata demi menjaga keseimbangan mindset sehingga terciptalah kehidupan yang harmonis bersama orang-orang di sekitar kita. Berikut akan kami paparkan secara langsung contoh kata dan kalimat untuk menyangkal/ merendahkan diri sendiri, baik di dalam hati maupun lewat bibir masing-masing.

  1. Semua ini terwujud karena anugerah Tuhan.

    Salah satu cara yang paling digemari untuk merendahkan diri adalah dengan meninggikan Tuhan sebagai sumber segala kebaikan. Tahapan menyangkal diri semacam ini merupakan salah satu yang paling umum dilakukan oleh banyak kalangan dari berbagai bidang.

  2. Keberhasilan ini bukan pekerjaan satu orang saja tetapi karena kita mengusahakannya secara bersama-sama.

    Biasanya proses menyangkal diri macam ini timbul saat kita bekerja sama dalam tim untuk mencapai suatu tujuan bersama. Ketika pencapaian yang kita peroleh sangat baik, hindari memuji diri sendiri tetapi kembalikan segala sanjungan kepada seluruh anggota kelompok yang telah bekerja sama.

  3. Kami ini hanyalah omong kosong yang tidak bisa apa-apa tanpa kalian. Yang kami lakukan hanya berpikir dan berkata-kata sedang yang melaksanakannya di lapangan adalah kalian. Jadi sesungguhnya kalianlah yang luar biasa itu.

    Untuk menetralisir pujian yang sengaja diarahkan oleh bawahan kepada atasan, perlu melakukan penyangkalan diri agar rasa sombong tidak memperkeruh kerja sama di dalam tim. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa hati yang menyombong cenderung menuntut segalanya sempurna. Jadi sangkallah kesombongan itu sebelum berbuah kejahatan.

  4. Kami ini hanya kesek kaki yang digunakan untuk membersihkan rakyat.

    Seorang petinggi yang berusaha untuk merendahkan diri sendiri di hadapan orang lain. Kata-kata yang timbul karena sudah banyak sekali pujian yang datang dari utara, selatan, timur dan barat negeri. Suatu usaha untuk membuat pikiran tidak mabuk dan tertidur hingga kehilangan kesadaran. Situasi semacam ini justru membuat kita semakin rentan dengan kebencian, amarah, kekerasan verbal dan kekerasan fisik (hancurkan barang ini-itu).

  5. Kami hanyalah karpet yang diinjak-injak untuk membuat rakyat nyaman.

    Seorang petugas yang menyadari betapa banyaknya sanjungan yang diterima sehingga muncullah niat untuk bertutur merendahkan diri untuk mengimbanginya. Terlena dengan pengakuan yang datang dari luar hanya membuat pikiran tertidur sehingga lupa dengan perjuangan awal yakni menegakkan kebenaran yang hakiki seumur hidup.

  6. Apa yang kami berikan hanyalah remeh-remeh yang tidak ada harganya.

    Pemberian kepada sesama, terkadang disanjung secara berlebihan oleh orang lain. Adalah lebih baik memberi secara sembunyi-sembunyi agar kebaikan kita dibalaskan oleh Tuhan dan bukannya lewat pujian dari manusia. Mereka yang tersanjung apa adanya akan terbuai dengan kata-kata tersebut. Padahal suasana hati semacam ini beresiko mengurangi kehati-hatian dalam bertindak yang cenderung melakukan kekhilafan (human error).

  7. Kami hanya memberikan sisa-sisa yang tidak terpakai lagi, mohon dimaklumi.

    Terkadang ucapan terimakasih dari penerima santunan membuat kita berasa melayang di awan-awan. Untuk menghentakkan jiwa yang terbuai dalam kebanggaan, sebaiknya sangkal diri dan injaklah kebaikan yang dilakukan. Agar pikiran segera sadar dan tetap aktif untuk fokus kepada Tuhan, belajar juga dengan bekerja.

  8. Apa yang kami hasilkan adalah kotoran yang suatu saat tidak ada harganya lagi.

    Memang saat kita menyadari bahwa hidup ini terus berputar, maka paham betul bahwa apa yang kita hasilkan saat ini mungkin saja hanya akan menjadi kotoran yang dibuang-buangi orang di masa depan. Ini adalah salah satu usaha untuk menginjak diri sendiri dalam kata-kata yang keras karena pujian datang terus.

  9. Semua karya itu hanyalah daun-daunan kering yang kelak akan dibakar dan hilang. Tetapi jika anda mau memakainya sebagai pupuk, silahkan saja!

    Seorang seniman yang kreatif mampu menyangkal diri dengan cara yang otentik. Kita juga bisa merendahkan diri sendiri sembari menimbulkan sensasi humoris di antara para penikmat karya tersebut. Kebiasaan ini salah satu cara agar tidak terlalu memaksakan diri untuk menghasilkan karya yang selalu sempurna sebab kita hanyalah manusia biasa saja.

  10. Setiap hal yang kami hasilkan hanya sampah. Bila anda merasa bahwa hal itu bisa didaur ulang dan dimanfaatkan lagi, silahkan kawan!

    Memahami bahwa segala sesuatu yang kita hasilkan hanyalah sandiwara karena kepandaian berkata-kata, membuat kita perlu menyangkal diri di dalam hati. Terlebih ketika berbagai penghargaan mulai berdatangan, mulailah bertutur sapa menegaskan penyangkalan diri. Sebab menerima pengakuan apa adanya beresiko membuat tinggi hati dan cenderung menjauhkan kita dari sesama juga sangat tinggi nafsunya terhadap kemewahan.

  11. Kami ini hanyalah babu yang seharusnya bekerja sesuai aturan.

    Sewaktu hasil kerja kita diakui baik dan sangat memuaskan oleh orang lain, perlu tindakan menekan diri sendiri demi mengimbangi suasana hati yang melambung tinggi. Sebaiknya, melakukan semuanya ini untuk membuat kita tetap bekerja dengan akal sehat dan menjauhi diri dari ujaran kebencian dan anarkisme.

  12. Dan lain sebagainya, silahkan cari dan temukan sendiri kreasimu kawan!

Rasa sombong sudah ada secara default (bakat alami) di dalam hati masing-masing orang. Bersama-sama dengannya, ada perbuatan daging yang syarat dengan kejahatan lainnya. Saat keangkuhan menguasai dirimu, alam bawah sadar ini juga turut dibangkitkan sehingga pikiran dan sikap lebih condong kepada keburukan yang beresiko merugikan orang lain, diri sendiri dan lingkungan sekitar. Biasanya, manusia semakin dipuja-puji, suasana hatinya melambung tinggi sehingga beresiko hilang kesadaran. Mereka yang terbuai oleh sanjungan bisa kehilangan akal sehatnya terlebih ketika telah ketergantungan dengan hal tersebut. Oleh karena itu, biasakan diri terhadap fluktuasi kehidupan dan rajinlah menyangkal diri saat sanjungan semakin intens didengarkan. Sangkal diri di dalam hati saat kebanggaan tersebut muncul di dalam pikiran. Rendahkanlah diri lewat kata-kata saat pujian tersebut diucapkan oleh orang lain. Lebih daripada itu, sibukkan hidup dengan fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian serta berbuat baiklah kepada sesama lewat pekerjaan juga lewat pelajaran yang ditekuni.

Salam, Hidup ini butuh keseimbangan,
Pikiran juga membutuhkan keseimbangan,
Sangkallah diri saat diberi pujian,
Agar analisis logis menjaga kesadaran
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.