Cerpen

10 Manfaat Menginjak Karya Sendiri – Alasan Menyangkal Diri & Merendahkan Karya Seni Yang Dihasilkan Untuk Membuat Hati Lega

Manfaat Menginjak Karya Sendiri - Alasan Menyangkal Diri & Merendahkan Karya Seni Yang Dihasilkan Untuk Membuat Hati Lega

Suasana hati harus selalu datar asalkan tidak fokus kepada dunia tetapi kepada kebenaran hakiki

Salah satu hal yang sangat kita butuhkan di dalam dunia ini adalah kemampuan untuk mendatarkan suasana hati. Jiwa tanpa emosi yang meledak-ledak dan mati rasa dari kegalauan yang menenggelamkan hari. Sikap yang mampu menerima kenyataan yang terjadi tanpa harus memberontak atau melakukan paksaaan. Hati yang telah dingin dari keceriaan duniawi yang hanya sesaat saja. Hati yang selalu datar tidak lagi fokus kepada kemelut dan kenikmatan duniawi yang bertebaran di sekitar. Mereka memang menjalani semuanya itu dengan tabah sembari tetap santun dan berbagi kasih terhadap orang-orang di sekitarnya. Sebab yang timbul di dalam jiwanya, yang selalu diusahakan dan masih terus dikejar olehnya adalah kebenaran yang sejati (kasih kepada Allah dan sesama manusia).

Mustahil gemerlapan duniawi yang fana mampu memuaskan lubang dalam hati

Memang nyatalah bahwa dunia ini memberikan apa yang kita butuhkan sehari-hari. Hanya saja, itu hanyalah kebutuhan jasmani saja. Namun orang-orang yang gila materi sangat konsumtif sehingga membuat dirinya berlumuran kenikmatan dan kemuliaan setiap waktu. Padahal dengan berlaku demikian, mereka membuat dirinya ketergantungan sekaligus bosan dengan semua yang dimiliki. Sehingga di sisi lain di dalam jiwanya mulailah timbul maksud hati yang ingin sesuatu yang lebih bernilai dan lebih berharga dari sebelumnya. Sayang, sekalipun mereka telah mencapai seluruh keinginan hatinya yang berniilai lebih tersebut, jiwanya tetap terasa hampa. Sebab uang dan semua hal yang berharga di dunia ini hanya mampu mengisi kekosongan jiwa sementara saja tetapi kebenaran yang hakikilah yang memenuhinya dari waktu ke waktu.

Hidup setara dengan rakyat biasa adalah jalan untuk merendahkan hati dan memperjuangkan kebenaran sejati

Dalam hidup ini, penting sekali untuk menjadi pribadi yang mampu hidup bersama dalam kesetaraan dengan orang lain. Tanpa perasaan yang selalu ingin setara dengan sesama, besar kemungkinan suasana hati cenderung melayang-layang di atas angin sehingga mudah sekali jatuh. Terkadang jatuhnya orang-orang sombong tidak disebabkan oleh orang lain. Tetapi tiba-tiba saja ada rasa tertekan yang muncul dari dalam hati lalu mencengkram dan menghimpit perasaan ini sehingga menjadi galau sendiri tanpa sebab. Pahamilah bahwa kegelisahan semacam ini lebih banyak ditimbulkan oleh kebanggaan terhadap hal duniawi padahal cita rasa yang paling lama bertahan adalah saat kita berjalan dalam kebenaran sejati. Sebab di sisi lain kehidupan, kita bukanlah apa-apa dan di luar sana masih sangat banyak potensi yang luar biasa alias “masih ada burung di atas monyet.”

Atasi dinamika yang datang tanpa sebab maka diberi kesanggupan menjalani himpitan yang berasal dari luar

Menjaga keseimbangan suasana hati adalah salah satu usaha yang membutuhkan kecerdasan. Saat ditinggikan, kita berusaha merendahkannya dan sebaliknya, saat direndahkan, kita berusaha untuk menyemangatinya. Tanpa suatu proses netralisasi jiwa, ketidakseimbangan pikiran berpotensi besar mendestruksi kehidupan yang dimulai dari dalam diri sendiri. Oleh karena itu, berusaha untuk mempelajari setiap peristiwa yang kita alami. Ambillah makna positif dari setiap pengalaman pahit yang diderita. Cermati baik-baik, apa saja suasana yang tiba-tiba membuat hati sedih tanpa alasan. “Ketika kita mampu mengatasi kegalauan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh diri sendiri (tanpa sebab yang pasti) niscaya menghadapi tekanan memilukan yang datang dari luar juga akan dimampukan!”

Faktor penyebab menghinakan karya seni yang dihasilkan sendiri agar hati terasa lega

Ada banyak seniman di luar sana yang membenci setiap karya yang dihasilkannya. Sudah disusun dengan sepenuh hati tetapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi yang selama ini diidam-idamkan. Sehingga menjadi putus asa lalu muncullah usaha untuk melenyapkan apa yang dibuatnya sendiri akibat banyaknya rasa ketidakpuasan yang muncul di sana dan di sini. Beberapa dari seniman tersebut justru ada yang membakar semua karya dan tulisan yang dihasilkannya oleh karena satu kegagalan pemahaman yang tidak mampu ditoleransi.  Padahal yang namanya kegagalan pemahaman adalah hal biasa bagi seorang manusia sebab kita bukanlah Tuhan yang harus benar dalam segala hal. Melainkan sobekan kecil maupun besar adalah sesuatu yang harus dimaafkan dan disikapi dengan rendah hati sebagai manusia yang penuh keterbatasan.

Berikut ini akan kami jelaskan secara singkat tentang alasan mengapa seorang seniman harus menginjak dan merendahkan karya yang dihasilkannya.

  1. Bermanfaat meninggikan kebenaran hakiki di atas segala-galanya.

    Yakin sama kami bahwa apapun karya yang kita susun dengan susah payah selama hidup di dunia hanyalah sesuatu yang bersifat sementara saja. Mustahil juga kalau setiap saat selalu ada penemuan baru. Mendewakan hasil ciptaan sendiri sama saja dengan menempatkan hati pada posisi yang semakin rapuh dan mudah terguncang. Sebab nikmatnya pemujaan terhadap hasil kerja kita sifatnya sementara saja sedang yang terbaik untuk kita lakukan adalah terus berkarya.

    Justru yang terjadi adalah orang lain akan menemukan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita miliki selama ini. Saat hal tersebut terjadi, apa jadinya kebanggaan itu di dalam hati? Pastilah akan hancur berantakan hingga jiwa tenggelam dalam kegalauan yang tidak ada akhirnya. Oleh sebab itu, jangan tinggikan karya seni yang kita hasilkan yang suatu saat bisa menimbulkan stres. Melainkan satu-satunya hal yang tidak pernah berakhir untuk dilakukan hingga menimbulkan kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman adalah mengasihi Allah seutuhnya dan sesama manusia sama seperti diri sendiri.

  2. Manfaatnya untuk menepis kebanggaan akan hal-hal duniawi.

    Rasa bangga terhadap karya seni yang kita hasilkan membuat diri ini merasa lebih hebat dari orang lain. Sadar atau tidak kebanggaan yang berlebihan inilah yang mendorong seorang seniman untuk hidup dalam kemewahan yang berlebih-lebihan. Berpikir bahwa menikmati kesendirian yang mewah merupakan suatu usaha untuk menghargai diri sendiri atas semua perjuangan yang dilakukan. Padahal kemewahan yang mendorong kita untuk menyendiri justru memisahkan diri ini dari lingkungan sosial yang alot. Sebab situasi masyarakat yang seru penuh dinamika justru menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk melatih kecerdasan otak sekaligus menemukan kreasi baru atau kreasi improvisasi lainnya.

    Jadi, saran kami adalah berhenti hidup mewah-mewahan, sekalipun uang yang dihasilkan dengan berkarya berkoper-koper. Ingat, “kebanggaan akan dunia inilah yang mendorong seorang seniman hidup dalam kemewahan lebay.” Tetapi hiduplah biasa saja, menabung untuk masa depan (saat hidup tidak produktif lagi) dan beramallah lebih banyak. Siapa tahu Sang Pencipta masih mempercayakan kita untuk menghasilkan beberapa karya lagi demi kemuliaan nama-Nya dan agar kita pun bisa tetap berbuat baik kepada sesama.

  3. Berguna untuk persiapan menghadapi dan menerima kelemahan karya yang diciptakan.

    Ketika kita dipuji orang lalu menerima sanjungan tersebut tanpa tindakan netralisasi beresiko menarik keluar sifat sombong sehingga menganggap bahwa karya yang kita hasilkan adalah sempurna adanya. Padahal, diri ini hanyalah manusia biasa yang error di sana-sini sehingga fenomena timbulnya kekhilafan dan kegagalan bisa saja terjadi. Saat kesalahan kita dikoreksi oleh orang lain, terlebih saat kritikus tersebut memberi tekanan dan intonasi bernada pedas, mulailah rasa kesal beserta amarah muncul menguasai diri ini. Bisa juga kritik panas tersebut malah membuah hati sedih dan galau bahkan menjadi stres.

    Oleh karena itu, rajin-rajinlah menyangkal diri sendiri di dalam hati. Tetapi saat dipuji orang lain, injaklah dirimu juga lewat kata-kata sehingga impas (netral/ imbang) jadinya.

  4. Ilmu terus-menerus berubah, mungkin saja ada yang lebih OK di masa depan.

    Seperti yang kami yakini sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan memang selalu berkembang dan karya baru yang luar biasa terus bermunculan dari waktu ke waktu. Kitab Suci juga telah menegaskan bahwa pengetahuan manusia terus bergerak maju dari tahun ke tahun semakin mendekat dengan kebenaran. Bagaimana jadinya, ketika karya dan teori yang sudah disusun dengan susah payah ternyata hanyalah sebuah kebohongan belaka? Sebab di luar sana ada sesuatu yang lebih masuk akal untuk dilakukan. Atau bisa juga untuk saat ini karya tersebut adalah masterpiece tetapi selang beberapa waktu lamanya muncullah sesuatu yang lebih baik dari yang istimewa tersebut. Oleh karena itu, penting sekali untuk menyangkal diri lalu merendahkan apa yang kita hasilkan setidaknya di dalam hati. Akan tetapi, jika mulai muncul pengakuan dari luar, sebaiknya kita menginjak diri sendiri dengan kata-kata yang sopan.

  5. Persiapan untuk menanggung bully dan penghinaan dari pihak lain.

    Karya yang diejek tidak hanya dialami oleh satu dua orang seniman saja. Ada banyak orang di berbagai belahan dunia yang mendapatkan kritikan yang tidak senonoh seputar pekerjaan yang dilakukannya. Orang yang tidak tahan hanya akan berakhir stres di kamar yang penuh dengan kepahitan. Tetapi mereka yang telah menyangkal dirinya diawal-awal mampu memahami dan mengertikan hal tersebut bahkan memaafkannya juga. Jadi bisa dikatakan bahwa “ketabahan seorang seniman dalam menghadapi bully sangat tergantung dari rutinitas merendahkan diri di tengah gencarnya pujian.”

  6. Tidak terbuai dan lemah oleh pujian.

    Ada orang yang terlena sampai tidur karena begitu banyaknya pujian yang mendatanginya. Tetapi orang yang selalu sadar betapa pentingnya mendatarkan suasana hati akan menghentakkan semuanya itu dengan mengimbanginya lewat kata-kata yang merendahkan diri sendiri. Sayang beberapa ada yang terbuai hingga mabuk kepayang dengan semua kata-kata pujian yang didengarkannya dari timur, barat, utara dan selatan.

    Orang yang terbuai dengan pujian biasanya akan ketergantungan dengan hal tersebut sehingga menghendakinya lagi dan lagi. Ketika mereka tidak memperolehnya, mulailah muncul aksi mencari sensasi dengan menghasilkan berbagai karya yang absurd untuk mendapatkan perhatian publik. Mereka yang terlena dengan sanjungan fans juga cenderung stay di situ terus (berjalan di tempat) dan malas untuk menghasilkan karya lainnya. Mungkin ini juga disebabkan oleh karena terlalu takut, siapa tahu karya yang dihasilkannya lebih buruk dari sebelumnya.

  7. Menjaga kewaspadaan.

    Rata-rata manusia yang dipuja-puji oleh orang lain, merasakan kesenangan yang berlebihan. Seolah mereka terbang dan hanyut terbawa suasana hati yang meletup-letup kegirangan, fungsi indra terus menurun sehingga kurang memperhatikan apa yang dihadapannya. Mereka menjadi kurang hati-hati dalam beraktivitas sehingga beresiko tinggi tersandung, jatuh, salah tingkah dan mengalami kesalahan kerja lainnya.

    Rasa senang yang melambung tinggi bisa membuat seorang seniman lupa diri sehingga kerap kali melakukan ketelodoran yang merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, jangan mabuk dengan pujian tetapi injak dan sangkal diri sendiri setara dengan sanjungan yang dihaturkan orang lain. Jika hati memuji dan membanggakan diri sendiri maka sangkallah dirimu di dalam hati saja. Tetapi saat orang lain mulai memuji lewat kata-kata, mulailah menyangkal diri juga lewat perkataan yang dihaturkan. Semuanya ini semata-mata demi menjaga keseimbangan.

  8. Menepis ketidakmampuan menerima kenyataan hidup.

    Perlu dipahami bahwa tidak semua hal yang kita inginkan dapat tercapai. Jangankan dalam lingkup besar, dalam lingkup kecil sekalipun, kita tidak mampu mengendalikan semuanya. Rasa sombong yang melebar ke atas akibat pujian yang berasal dari orang lain maupun berdasarkan pujian dari dalam diri sendiri (kebanggaan) bisa membuat kita menolak kenyataan. Sebab kebanggaan adalah suatu perasaan yang merasa hidupnya sudah sempurna. Saat ada ketidakcocokan atau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pesanan (request), hati mulai kesal yang akan diluapkan lewat kemarahan (kekerasan verbal dan fisik). Atau bisa juga muncul dendam lalu melakukan pelampiasan pada berbagai-bagai hiburan lainnya (misal makan banyak-banyak, jalan sepanjang hari, miras, rokok, seks bebas, narkoba, perjudian dan lain-lain).

    Jadi, mengimbangi pujian dari orang lain adalah sangat penting untuk membuat hati tidak terlalu menuntut keharusan yang mutlak dalam setiap hal yang kita inginkan. Perlu ada fleksibilitas terhadap hawa nafsu tetapi jangan pernah mengabaikan hak-hak yang sudah seharusnya kita terima. Bukankah semuanya ini kembali lagi kepada aturan yang berlaku? “Hak dan kewajiban itu tetap, namun keinginan yang tidak terpenuhi adalah hal yang biasa.” Baca-baca teman, Sejengkal tips menjadi orang yang selalu ikhlas.

  9. Terus semangat berkarya.

    Yang paling parah efek sanjungan adalah ketergantungan yang ditimbulkannya. Keadaan ini akan semakin buruk saja ketika kita merasa bahwa sumber kepuasan, kebahagiaan dan kehebatan kita berasal dari kata-kata manis tersebut. Terlebih ketika mulai mengumbar kata-kata yang syarat dengan ungkapan membangga-banggakan karya seni hasil ciptaan sendiri. Kita terlena dan tenggelam dalam rasa sombong sedang pikiran sibuk terus-menerus memuji diri sendiri. Akhirnya, otak mandek karena berkutat pada kebanggaan sehingga lupa untuk menghasilkan karya yang lainnya.

    Jelaslah bahwa penting sekali tahapan menginjak diri sendiri, sebab tanpanya kita terbuai dan sibuk menyanjung diri sendiri dalam hati sehingga lupa untuk kembali berkarya. Oleh karena itu, berhenti membanggakan diri dan teruslah menghasilkan sesuatu untuk kemuliaan nama Tuhan dan demi berbagi kasih kepada sesama.

    Harap dipahami juga bahwa ada titik balik di dalam hidup ini dimana ide-ide yang biasanya lancar terbentuk malah menghilang. Semangat untuk berkarya juga tidak ada lagi. Sedang di sisi lain, ada begitu banyak hal yang telah kita temukan. Inilah pertanda bahwa sudah saatnya kita berhenti berkarya dan melatih kawula muda lainnya untuk menjadi sama seperti diri sendiri bahkan lebih hebat lagi. Sudah saatnya membuka tabungan yang kita simpan dan menikmati hidup seperti orang lain pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa dari awal tidak memanfaatkan uang yang dimiliki untuk membeli kemewahan lebay dalam kesendirian. Melainkan memanfaatkan sumber daya tersebut untuk ditabung demi menjamin hari tua tetap sejahtera sekalipun sudah tidak lagi menciptakan sesuatu. Bagi kami “ukuran kemakmuran (kelimpahan) adalah saat kita masih mampu untuk berbagi dengan sesama dari hari ke hari.”

  10. Mencegah depresi.

    Sifat ketergantungan terhadap pujian, kepiluan/ kesedihan karena kurang ditanggapi/ digubris orang lain, rasa kesal yang muncul bersamaan dengan keangkuhan, kekerasan yang timbul akibat memaksakan kehendak dan berbagai-bagai bentuk kemalangan lainnya. Bisa saja membuat anda stres, berhenti bangkit dan menyudahi semangat hidup sehingga timbullah depresi. Orang yang depresi telah kehilangan akal sehatnya sehingga tidak bisa lagi melakukan apa-apa. Jangankan berkarya, mengurus diri sendiri saja sudah tidak dipedulikan: lupa makan, lupa tidur, lupa bersih-bersih dan masih banyak hal lagi yang dilupakan. Jika keadaan ini terus berlanjut dapat membuat seorang seniman beroleh sakit mental (gangguan psikologis), penyakit fisik (gangguan kesehatan) dan sakit sosial (hubungan dengan orang-orang di sekitar jadi berantakan). Oleh karena itu, hentikan kebanggaan terhadap semua karya yang dihasilkan lalu mulailah merendahkan diri. Simak juga Tips mengatasi stres berat.

Manusia terus hidup dalam dunia yang selalu berputar. Tidak ada sesuatu yang patut kita banggakan selama hidup di dunia ini sebab segala sesuatu pasti diperbaharui dari tahun ke tahun. Membanggakan karya yang dihasilkan hanya akan membuat kita terbuai dan terpetak-petak dalam kolom keterbatasan yang semakin menyesakkan jiwa dan membuat stres bahkan berujung depresi. Oleh karena itu, seimbangkan sanjungan yang diberikan kepadamu; saat pujian tersebut timbul sendiri di dalam hati, injaklah diri ini di dalam hati tetapi saat pujian datang lewat kata-kata orang lain, aktiflah juga menyangkal diri lewat kata-kata. Semua aktivitas ini semata-mata demi menjaga keseimbangan suasana hati. Sebab saat pikiran melayang dalam buaian yang menggebu-gebu, ada banyak kekuatan negatif bermunculan yang merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Selalu camkan bahwa “pujian dan kebanggaan akan usang dimakan waktu tetapi mengusahakan kebenaran abadi sepanjang waktu.” Lihatlah kawan, Mungkin ini sebabnya kita kurang berprestasi.

Salam, Kebanggaan duniawi pasti akan berakhir,
Tetapi berjuang demi kebenaran tak berkesudahan,
Fokus kepada Tuhan & berbagi kasih penuh syukur
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.