Ekonomi

10 Alasan Jadi Manusia Boneka Dikendalikan Pihak Lain – Mengapa Kebebasan Kita Berada Di Bawah Tangan Orang Lain?


Alasan Jadi Manusia Boneka Dikendalikan Pihak Lain – Mengapa Kebebasan Kita Berada Di Bawah Di Tangan Orang Lain

Bebas itu dibatasi oleh kebenaran hakiki dan hukum yang berlaku

Masing-masing orang diberikan kebebasan untuk melakukan apa yang dipandangnya baik. Tentu saja kewenangan tersebut tidak pernah berada di luar dasar negara kita, Pancasila. Mereka yang merasa bebas tidak saja berhak melakukan ini-itu melainkan harus juga memperhatikan tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Sebab setiap hak selalu diiringi dengan kewajiban, artinya setiap kehendak bebas yang dipraktekkan, wajib dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu setiap hal yang kita perbuat dalam dunia ini sebaiknya dipertimbangkan baik-baik. Apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang hakiki? Dan adakah sikap tersebut tidak bertentangan secara hukum yang berlaku di negara ini?

Uang pengotor dan perusak kebebasan

Pada satu sisi, kebebasan memang bermanfaat memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedang di sisi lain, mereka yang memiliki gelontoran dana yang super gede menjadi terlalu bebas memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sebab uang adalah simbol kekuasaan, oknum konglomerat tersebut bisa saja memanfaatkan dana yang dimiliki untuk menekan kehidupan sesamanya. Sedang materi dalam jumlah besar tersebut turut pula menimbulkan kerusakan lingkungan akibat hobi konsumtif, bermewah-mewahan dan foya-foya. Sehingga bisa dikatakan bahwa uang yang sangat besar jumlahnya beresiko tinggi merusak kebebasan setiap manusia.

Kebebasan kapitalisme membuat sekelompok orang ajlok sedang kelompok yang lainnya meroket

Oknum yang benar-benar menikmati kebebasannya adalah, golongan manusia tajir dengan sumber pendanaan besar. Sedangkan kaum yang termarginalkan cenderung kurang mampu menikmati indahnya hal tersebut. Buruknya keadaan manusia ekonomi lemah disebabkan oleh karena minimnya keuangan. Keadaan ini semakin parah tatkala ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimiliki juga sangat minim. Akibatnya, hari-hari yang mereka lalui hanya dihabiskan untuk menjadi hamba yang ketergantungan terhadap kekuatan kapitalisme. Sialnya hubungan tersebut justru membuat mereka (masyarakat kurang cerdas dan kurang penghasilan) berjalan di tempat sedang para pemilik modal di sekitarnya semakin bertambah-tambah kaya saja (meroket).

Pendapatan yang tidak setara mengganggu keseimbangan

Mengapa masih banyak orang yang miskin dan bodoh? Bukankah semuanya ini dikarenakan oleh sistem yang mengedepankan kelas sosial lewat pembayaran gaji dan fasilitas yang diterima masing-masing keluarga? Memang secara umum dan dari penampilan luarnya tidak ada yang membedakan antara masyarakat biasa dan pejabat/ pemimpin. Akan tetapi, secara diam-diam di atas kertas, mereka yang duduk sebagai petinggi negeri dipuas-puaskan oleh pendapatan dan fasilitas yang serba mewah. Bahkan bisa dikatakan bahwa gaji yang mereka terima setiap bulannya tidak akan habis pada bulan berikutnya saking besarnya jumlah yang diterima. Sedang di luar sana, masih ada masyarakat yang belum dicerdaskan otaknya dan belum disejahterakan kehidupannya.

Kehidupan yang berkelas-kelas menciptakan manusia kelas rendah yang dapat dikendalikan oleh kelas atas

Masyarakat kelas bawah yang banyak sekali menjadi sasaran empuk untuk dijadikan boneka oleh oknum yang merasa memiliki kekuasaan besar. Penguasaan sumber daya yang tinggi menjadi suatu komoditas politik sehingga mereka mampu mengendalikan lebih banyak orang. Dengan sumber pendanaan yang besar itu, mereka dapat mengendalikan siapapun dengan mudahnya, terlebih orang-orang yang gila uang. Sedang di sisi lain, mereka akan menjadikan uangnya sebagai pemikat untuk diarahkan kepada masyarakat dengan kecerdasan rendah dan miskin ekonominya. Merasa hidup ini sudah lebih baik karena memiliki bawahan yang siap melakukan apapun demi kepentingan junjungan yang mulia. Manusia boneka inilah yang akan menjadi bujangnya untuk melakukan pekerjaan kotor.

Faktor penyebab menjadi manusia boneka yang dikendalikan orang lain – Saat kebebasan kita berada di tangan pihak lain

Kebebasan adalah hak semua orang asalkan masing-masing sikap yang ditempuh tersebut bisa dipertanggung jawabkan. Di balik semua itu, harap juga diperhatikan bahwa ruang bebas yang kita miliki dibatasi oleh kebebasan orang lain dan dipolakan oleh Kitab Suci serta dipagari oleh undang-undang (hukum) yang berlaku dalam negera. [Jalan juga kemari, Kegunaan dan bahaya kebebasan] Sebenarnya, manusia mencari pembebasan untuk menemukan solusi masalah mental, fisik dan sosial yang dihadapinya. Saat para kapitalis mampu memecahkan setiap masalah tersebut, mereka akan menuhankan dirinya sendiri. Lalu mengarahkan orang-orang yang telah disembuhkannya tersebut untuk melaksanakan dan mewujudkan keinginannya. Ini adalah dasar kekuatan para pengendali manusia kelas berat.

Pada skala kecil (kelas ringan), menjadikan orang lain sebagai manusia boneka tidaklah susah asalkan anda tahu apa hal-hal yang mampu memancing dan menarik hatinya sehingga lengket terus. Berikut ini, beberapa alasan mengapa seseorang sangat mudah menjadi manusia boneka bagi yang lainnyaa.

  1. Diatur oleh sistem (kekuasaan).

    Pada dasarnya, tidak ada yang namanya manusia boneka sebab masing-masing orang bergerak bebas berdasarkan kewenangan yang diberikan kepadanya. Selama masih berada dalam batas-batas tupoksinya, selama itu juga hidupnya sudah berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Saat mereka berada dalam posisi di luar kewenangan, tepat saat itu jugalah ada ganjaran yang menjadi sanksi terhadap tindakan tersebut. Dalam hal ini, setiap manusia seolah-olah menjadi boneka sebab ada aturan yang membatasi pekerjaannya. Akan tetapi semua itu sebenarnya semu belaka asalkan aturan yang ada sudah benar dan adil adanya.

    Pada bagian lain kehidupan, anggapan tentang manusia boneka semakin jelas ketika peraturan yang ada terlalu melebarkan kekuasaan kepada satu pihak sedang menyempitkannya kepada pihak lain. Peraturan semacam ini jelaslah memiliki ciri khas diktatorial yang menghasilkan kesewenang-wenangan. Terlebih ketika orang-orang tersebut memiliki banyak harta kekayaan karena gajinya begitu tinggi. Mereka bisa saja memanfaatkan gaji tersebut untuk membayar dan mengendalikan pihak lainnya (terutama mereka yang haus uang). Orang yang kurang cerdas dan miskin ekonominya akan menjadi objek boneka para konglomerat tersebut.

  2. Dikendalikan oleh uang.

    Alasan utama, kehidupan seseorang bisa dikendalikan dengan mudah oleh pihak lainnya adalah karena uang. Sadar atau tidak, uang merupakan salah satu komoditas paling berpengaruh di dunia ini. Selama seseorang memilikinya dalam jumlah banyak, selama itu pula dirinya bisa mengontrol sesama manusia sesuka hati. Situasi ini akan diperparah oleh karena pengaruh pendidikan masyarakat yang sangat rendah sedang pendapatannya (gaji) termarginalkan. Ditambah lagi dengan kepercayaan yang rendah terhadap Yang Maha Kuasa.

    Masyarakat berpenghasilan rendah selalu bisa dikendalikan oleh oknum kaya raya. Dalam dunia kejahatan, para konglomerat tersebut disebut sebagai mafia sedang anak buahnya adalah para pengangguran dan orang miskin lainnya. Semakin tinggi angka kemiskinan di dalam suatu daerah, makin besar pengaruh mafia yang mendatangkan manfaat sekaligus bencana bagi orang banyak. Sedang masyarakat di sekitar situ tidak punya pilihan lain selain menjadi preman (anak buah mafia) yang melakukan aksi kriminal atau siap-siap hidup menganggur dan miskin.

    Berhati-hatilah dengan sifat konsumtif yang anda miliki. Biasanya, semakin boros seseorang dalam menggunakan uang, semakin mudah dikendalikan oleh para konglomerat kelas kakap. Sifat konsumtif biasanya membuat seseorang sangat membutuhkan uang seperti seorang yang meminum air. Padahal yang namanya kertas ajaib, terbatas adanya. Justru dana yang terkesan unlimited pantas untuk dicurigai, siapa tahu diperoleh dengan cara-cara licik. Sedang anda sendiri telah ikut serta dalam aksi manipulatif tersebut. Sebab segala sesutu yang datangnya cepat dan besar biasanya diperoleh dengan cara-cara ilegal (menipu sesama atau menipu sistem/ organisasi).

    Jangan tanya, mengapa pertandingan yang melibatkan uang banyak sangat rentan dengan kerusuhan dan konflik berkepanjangan. Sebab uang yang banyak itulah yang menjadi modal bagi mereka untuk mengendalikan lebih banyak masa sesuai yang dikehendakinya. Terlebih ketika orang-orang di daerah tersebut sangat melarat perekonomiannya. Saat ada orang yang membebaskan mereka dari himpitan ekonomi tersebut langsung saja dianggap sebagai tuhan sehingga menurut saja pada perintahnya, entah itu benar atau salah.

  3. Diberikan keinginannya (Utang budi).

    Ada juga orang yang mau menjadi boneka orang lain karena apa yang diinginkannya telah dipenuhi oleh orang tersebut. Ini semacam politik balas budi, “kau tau yang ku suka, ku mau jadi yang kau suka.” Banyak orang menjadi suruhan orang lain tetapi mereka tidak merasa sebagai manusia boneka karena masing-masing menjalin hubungan yang saling menguntungkan. Bahasa ilmiahnya untuk hubungan yang sangat langgeng ini adalah “simbiosis mutualisme.”

    Sayang, politik utang budi ini malah menjadi salah adanya ketika orang yang memegang kendali menyuruh bawahannya untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Misalnya saja, memerintahkannya untuk melakukan kejahatan, melancarkan penipuan, menimbulkan gangguan dan membantu mewujudkan perkara negatif lainnya. Hubungan semacam ini tidak lagi menyehatkan dan mengarah kepada membonekakan diri sendiri demi kepentingan sempit orang lain. Jadi, bisa dikatakan bahwa “membonekakan diri/ menghambakan diri bagi orang lain sama dengan membiarkan diri sendiri menuruti kehendak sesama yang tidak sesuai dengan kebenaran hakiki.”

  4. Diketahui kelemahannya.

    Alasan lainnya, mengapa seseorang mudah sekali dikendalikan oleh orang lain adalah karena dirinya telah dikenali kelemahannya. Mereka yang masih malu-malu dengan kekurangan yang dimiliki cenderung menyembunyikan hal tersebut dari orang lain (publik pada umumnya). Padahal keadaan tersebut membuatnya semakin rentan terhadap kontrol dari pihak lain. Mereka bisa saja memanfaatkan informasi tentang kelemahan tersebut untuk dijadikan sebagai umpan sekaligus tali kekang agar bisa diarahkan sesuai kehendak si pengendali. Oleh karena itu, belajarlah untuk menerima kekurangan sendiri agar dibebaskan dari kontrol oknum yang ingin memanfaatkan anda.

  5. Ditemukan dosanya.

    Kesalahan yang kita lakukan merupakan salah satu alat bagi para penguasa untuk mengendalikan diri ini. Terlebih ketika dosa tersebut merupakan salah satu yang terparah sepanjang masa. Semakin banyak menyembunyikan kesalahan, semakin buruk keadaan kita. Sebab dosa yang disembunyikan menunjukkan bahwa kita masih belum bisa jujur kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Saat ada orang tertentu yang mengetahui rahasia ini, besar kemungkinan akan memanfaatkannya untuk dijadikan tali kekang mengendalikan kita.

  6. Dikenali kekesalan hatinya.

    Orang-orang yang mau mengendalikan sesamanya perlu mengenali apa-apa saja hal yang membuat orang tersebut kesal. Ketika mereka telah mengenali sisi kebencian di dalam diri orang tersebut, mulailah mengganggunya sehingga hidupnya tidak tenang. Saat orang tersebut tidak mampu mampu lagi menahan hatinya, mulailah melakukan pelanggaran memperlihatkan tabiat buruknya yang keras dan jahat. Ketika hendak mengambil keputusan dan menentukan pilihan, orang lain yang mengetahui kekesalannya akan berusaha untuk mengganggu agar konsentrasinya pecah dan maksud hatinya diselewengkan dari jalan yang benar.

    Jadi, bisa dikatakan bahwa kita hanya akan menjadi manusia boneka saat tidak mampu mengendalikan diri dari rasa kesal yang menimbulkan amarah. Kemarahan ini bisa berwujud pada dua hal, yaitu kekerasan verbal dan kekerasan fisik. Keadaan yang syarat dengan amarah yang tidak terkendali bisa saja mengacaukan situasi sosial dan tentunya lebih parahnya lagi mengacaukan pikiran sendiri. Akibatnya, tindakan yang kita lakukan untuk menanggapi sesuatu lebih cenderung mengalami bias dari yang seharusnya. Kita dikendalikan oleh orang lain karena mereka mampu mengacaukan pikiran ini sehingga apa yang benar dan sedang kita usahakan tidak kunjung terwujud.

  7. Diketemukan ketakutannya.

    Orang yang takut terhadap sesuatu menjadi alat bagi orang lain untuk mengendalikan orang tersebut. Mereka akan berusaha mencari tahu, apa jenis fobia yang anda derita sehingga lewat hal tersebut dapat melakukan gertakan agar anda bertindak sesuai dengan yang diinginkannya. Orang yang kurang cerdas akan takut pada hal-hal sepele. Sedang orang yang terlalu cerdas akan takut kehilangan nyawanya. Namun, mereka yang bijaksana tidak gentar terhadap apapun juga asalkan dirinya berjalan dalam kebenaran sejati.

    Mereka bijaksana karena mampu memahami apa yang menjadi haknya dan apa juga yang menjadi kewajibannya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedang melakukan semuanya itu dengan melandaskannya kepada kebenaran yang hakiki. Jika ada sesuatu yang terjadi di luar kendalinya yang membuatnya sampai kehilangan nyawa; itu tidak masalah sebab selama ini telah sepenuh hati melalui jalan yang benar itu.

    Orang yang kurang cerdas atau terlalu pintar, ditakuti sedikit pasti sudah surut nyalinya. Padahal, kita berada di negara dengan wilayah hukum yang menjamin setiap warganya aman sentosa. Mereka mau-mau saja dikendalikan oleh orang lain karena enggan menerima sedikit tekanan dari gangguan sosial. Artinya, orang-orang tersebut diganggu suara yang meraung-raung saja, nyalinya sudah ciut sehingga mau menjadi boneka orang lain.

  8. Dicirikan sifatnya terhadap seks bebas.

    Salah satu pihak yang mudah dikendalikan adalah mereka penyuka praktek seks bebas. Disuguhkan saja dengan lawan jenis yang bodinya ashoy pasti ngiler, klepek-klepek, bak orang lagi mabuk. Mereka cukup dikendalikan dengan menyodorkan beberapa artis terkenal untuk menjadi teman tidur semalam, alhasil hidupnya berada dalam genggaman pihak lain. Oknum petinggi penyuka seks dengan birahi tinggi ini biasanya tidak kuat diranjang sebab justru karena mereka impoten makanya nafsunya besar. Semua deal-deal politik pasti akan disetujui, terserah itu menguntungkan bagi rakyat atau tidak. Sedang mereka sendiri tidak bisa berkutat sebab aktivitasnya yang liar dengan kupu-kupu malam telah diabadikan lewat kamera tersembunyi.

  9. Dicirikan kebiasaannya sebagai homo atau lesbian atau pedofil.

    Mudah sekali menjebak sekaligus mengendalikan orang-orang yang memiliki penyimpangan seksual di dalam masyarakat. Penyuka sesama jenis (homo/ lesbian) & pedofil (penyuka anak di bawah umur) akan disodorkan dengan orang tidak dikenal yang melayani nafsu bejatnya. Sedang kamera tersembunyi telah dipasang dengan seksama di salah satu sudut terbaik dalam ruangan tersebut. Mereka memvideokan (merekam) adegan mesum yang menyimpang ini sekaligus sebagai jaminan agar oknum tersebut berada di bawah & takluk dalam kendalinya.

    Tokoh-tokoh yang dikamerakan biasanya orang penting yang berhubungan dengan pengambilan keputusan. Mereka bisa saja berasal dari kalangan pemimpin perusahaan, pejabat negara (pegawai negeri, anggota dewan) dan pemimpin pemerintahan. Penyimpangan seks orang-orang tersebut (homo, lesbian, pedofil) akan dijadikan sebagai kartu as agar pergerakan mereka selalu terarah menurut kehendak pemegang kartu (pengendali).

  10. Dikendalikan karena bodoh.

    Mereka yang kurang cerdas jelas dapat dikendalikan dengan mudah oleh orang lain. Apalagi ketika orang-orang tersebut memiliki tingkat ekonomi yang sangat rendah. Terlebih lagi ketika jalan keyakinan yang mereka tempuh kurang kuat (lemah imannya). Tentu saja oknum yang sudah menciptakan manusia semacam ini adalah pemerintah setempat. Pembagian sumber daya yang tidak adil, pemerataan pengetahuan yang kurang digalakkan dan penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya, merupakan sumber kegagalan sistem yang menghasilkan orang-orang yang kurang cerdas.

    Ada aknum pejabat yang suka kalau rakyat bodoh agar dirinya tetap terus berjaya dalam kekuasaan turun-temurun. Padahal keadaan ini justru merusak keseimbangan dimana membuat manusia otak pintar terkesan liar dan manja sehingga tidak kunjung dewasa. Kesewenang-wenangan orang cerdas akan merajalela dan sistem hanya akan berjalan di tempat (tidak berkembang/ kurang maju). Orang pintar memang bisa mengendalikan orang bodoh tetapi keadaan ini justru menjadi awal yang lambat laun akan mendestruksis sistem bermasyarakat (negara).

Hanya orang bodoh dan miskin yang hidupnya bisa dikendalikan oleh oknum kapitalis licik. Sistem yang tidak benar cenderung menciptakan lebih banyak manusia yang bisa dikendalikan dengan mudah oleh konglomerat yang gila akan kekuasaan dan kelimpahan harta benda. Padahal dengan berlaku demikian, mereka menciptakan masyarakat yang berjalan di tempat bahkan lama-kelamaan mundur ke belakang akibat praktek politik kotor dan syarat ketidakadilan. Semakin banyak manusia boneka berarti makin tinggi jumlah orang-orang konsumtif yang menjauhkan sistem dari manusia produktif. Sebab manusia dengan kemampuan otak yang produktif tidak hanya menemukan sesuatu yang baru dan inovatif tetapi turut pula menciptakan karya seni yang membuat kehidupan lebih artistik. Jadi, tidak mengendalikan siapapun berarti semakin meningkatkan potensi masyarakat untuk mencapai taraf hidup yang lebih berkembang dari sebelumnya. Tetapi sistem yang menghasilkan manusia boneka membuatnya berjalan mundur: syarat manipulasi, dimana-mana serakah, terpecah-pecah, rentan bencana, terlibat dalam konflik dan berbagai keadaan buruk lainnya.

Salam, Mengendalikan orang sama dengan mengekang kreativitas!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.