Menata Ulang Ilmu Pengetahuan

10 Alasan Matahari Pusat Alam Semesta (Heliosentris) – Mengapa Matahari Menjadi Inti Tata Surya?


Alasan Matahari Pusat Alam Semesta (Heliosentris) – Mengapa Matahari Menjadi Pusat Tata Surya

Segala sesuatu telah tertata dengan sangat rapi di seluruh alam semesta. Semuanya menemukan kekuatannya sendiri-sendiri untuk dibagikan kepada yang lainnya. Tidak ada yang egois lalu berusaha sendiri-sendiri melainkan masing-masing memiliki peranan untuk kebaikan yang lainnya. Inilah yang melibatkan masing-masing pihak dalam perputaran yang saling memberi satu-sama lain. Sebuah lingkaran kasih dalam wujud nyata yang saling memberi dan menerima. Jikalau komponen alam semesta yang besar dan luarbiasa itu mengaplikasikan kasih dalam aktivitas mereka, mengapa kita lantas tidak menirukan hal tersebut?

Ada nilai-nilai kasih di alam semesta

Manusia bisa memahami dengan pasti tentang pola-pola di alam semesta sebab telah diberikan akal budi oleh Yang Maha Murah Hati itu. Sudah seharusnya kita selalu mempraktekkan kasih yang mau berkorban untuk orang lain. Allah memberikan berkat sinar yang berapi-api kepada matahari, dengan itulah dia berbagi ke seluruh alam semesta. Bumi dianurgrahkan pepohonan untuk menghasilkan gas aktif, dengan itulah planet kita berbagi mengembalikan kekuatan yang diterimanya dari sang mentari selama ini. Di sini ada proses saling memberi dan menerima satu-sama lain sehingga hubungan baik antara sahabat sejati, bumi dan matahari terjalin erat dari masa ke masa.

Hubungan alam semesta seperti aktifitas fokus kepada Tuhan

Diperkirakan bahwa saat alam semesta mengembang unsur-unsur yang memiliki tingkat energi yang tinggi terpusat dalam beberapa titik. Bagian yang memiliki ukuran yang lebih besar menarik lebih banyak energi ke arahnya, sehingga terkumpullah dalam satu pusat yang disebut dengan matahari. Sedangkan bagian-bagian lain yang lemah akan terus berputar mengelilingi yang besar tersebut karena sebagian unsur di dalamnya telah tersuspensi dan diliputi oleh berbagai elemen yang menyerap energi yang dipancarkan itu. Berangsur-angsur materi lain yang menyerap energi tersebut akan menebal dan menutupi komponen yang menghasilkan energi kecil yang telah tersebar secara sendiri-sendiri, itulah yang disebut dengan planet. Jadi, inti planet adalah sebagian dari komponen matahari sehingga bumi ditarik terus olehnya tetapi lempeng planet (terdiri dari batuan, tanah dan mineral lainnya) memberikan gaya yang berbeda untuk mengimbangi gaya tarik matahari.

Bila diumpamakan supaya alam semesta bisa merasuk lebih dekat ke dalam kehidupan manusia, kita akan menemukan bahwa sesungguhnya matahari itu seperti Allah sendiri. Lantas, selurh umat manusia yang percaya kepada-Nya adalah planet-planet yang selalu mengitari sang mentari tersebut dari waktu ke waktu. Berputar-putar dalam pola khusus, menikmati setiap aktivitas yang digelutinya semata-mata untuk mengikuti Sang Mentari. Demikianlah juga keberadaan kita di muka bumi ini, ketika pikiran tertuju kepada Tuhan niscaya semua aktivitas yang dilakukan akan membuat bahagia dan tenteram menjadi milik selamanya. Tetapi ketika kita mulai meninggikan diri mencoba untuk sejajar dengan Sang Mentari Sejati, niscaya hidup ini akan terbakar oleh kebodohan sendiri.

Baskara seperti Allah tetapi mentari tidak untuk disembah. Melainkan sembahlah Tuhan dalam roh dan kebenaran.

Faktor penyebab matahari adalah pusat alam semesta (heliosentris)

Tidak ada satupun yang berjalan sendiri-sendiri di seluruh jagad raya. Sebab satu komponen tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri melainkan membutuhkan peran aktif dari yang lainnya. Aktivitas saling berbagi yang terjadi merupakan suatu jalinan kasih yang berlangsung secara simultan. Apa yang diberikan oleh satu bagian berbeda dengan apa yang diberikan oleh yangg lainnya. Jika matahari membagikan sinarnya maka masing-masing planet akan memberikan berbagai-bagai gas aktif ke luar angkasa dimana pusat energi tersebut berada.

Berikut ini akan kami ajukan beberapa alasan mengapa matahari adalah pusat alam semesta.

  1. Yang terkuat selalu menjadi pusat perhatian.

    Kekuatan sinar matahari dirasakan di seluruh bagian bumi ini. Kuatnya sama dengan panas yang kita rasakan tetapi jarak yang cukup jauh telah mengurangi kehangatan tersebut. Keberadaan atmosfer yang dihasilkan oleh tumbuhan hijau, telah ikut menurunkan kekuatan tersebut sehingga sengatannya tidak sampai membakar kulit. Dengan kekuatan yang sangat besar inilah sang mentari menjadi pusat alam semesta.

  2. Matahari memancarkan gelombang super aktif – Bumi tidak memancarkan apa-apa.

    Pernahkah anda berada di samping api? Apa yang anda rasakan? Yes, ada cahaya yang menerangi dan panas yang cukup meriang-riang membelai kulit ini. Pernahkah anda berada di samping batu atau air? Apa yang anda rasakan? Ya, kami juga merasakan seolah tidak terjadi apa-apa. Artinya, secara keseluruhan mentari selalu bersinar memancarkan gelombang elektromagnetik aktif sedangkan bumi tidak memancarkan apa-apa. Keaktifan dan kekuatan pancaran sinar matahari inilah yang membuatnya menjadi pusat alam semesta.

    Harap dicamkan bahwa matahari bukan api yang merah menyala-nyala. Sebab pembakaran yang terjadi di sana sangatlah sempurna sehingga cahaya yang dihasilkan putih adanya (bukan merah). Pembakaran yang menghasilkan cahaya yang merah seperti saat kita membakar sesuatu atau pada lava dari perut bumi menghasilkan polutan (gas buangan yang menyebabkan udara kotor/ polusi). Sedang cahaya matahari bukan berasal dari api merah yang memiliki lidah-lidah melainkan api sempurna yang tidak berwarna (putih bening) dan memancarkan cahaya yang sangat terang.

  3. Matahari selalu mengirim sesuatu – Bumi adalah penerima/ menyerap.

    Dengan sinarnya yang bergerak lurus, demikianlah setengah dari permukaan bumi dihangatkan. Sebaran pengiriman sinar itu terjadi secara merata diseparuh permukaan bumi. Hanya saja sinar tersebut tidak seluruhnya jatuh di atas permukaan planet. Ada yang terhalang oleh atmosfer, awan dan pepohonan sehingga panasnya bisa saja lebih tinggi atau lebih rendah jika dibandingkan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Karena bola energi ini selalu mengirimkan sesuatu secara terus-menerus, simultan dalam jumlah yang sama sehingga sangat besar kemampuannya untuk menjadi pusat jagad raya.

    Bumi jelas sebagai salah satu bidak di alam semesta, demikian halnya juga dengan seluruh bintang-bintang di langit. Kita hanyalah penerima pancaran energi dari pusat tata surya. Lautan menyerap sinar surya dengan sangat banyak lalu menyimpannya di dalam perut yang terdalam. Tumbuh-tumbuhan dari berbagai jenis memanfaatkan cahaya mentari untuk mengisi perutnya sehingga semakin lama makin besar ukuran dan tinggi batangnya. Juga ada banyak daun, bunga dan buah yang dihasilkannya sedang yang memiliki umbi akan semakin tebal bobotnya. Atmosfer sendiri yang semakin tebal dan kaya dengan kandungan air akan seperti kristal kaca yang memancarkan kembali cahaya yang diterimanya. Akan tetapi atmosfer yang tipis dimana awan-awan tidak menutupi permukaan planet akan terlihat bersegi banyak (bersudut banyak) saat diamati dari luar angkasa.

  4. Permukaan matahari seragam – Permukaan bumi tidak seragam.

    Keseragaman yang kami maksudkan di sini adalah permukaannya yang tidak berbeda jikalau ditinjau dari sudut pandang manapun. Saat kita mengamati baik-baik apa yang ada di pusat tata surya, sungguh tidak ada perbedaan signifikan antara bagian per bagian. Dari dulu, sekarang dan di waktu mendatang, terang yang terpancar dari sana tetaplah sinar cahaya putih yang berkilau-kilauan. Tidak ada bagian yang berbeda melainkan di seluruh permukaannya terpancar kemilau yang sama. Kesamaan permukaan ini menunjukkan bahwa pusat kekuatan matahari tersebar merata di seluruh permukaannya. Energi foton yang tersebar inilah yang menunjukkan bahwa baskara adalah sentral dari seluruh alam semesta.

    Lain halnya dengan bulan yang berbelang-belang atau bintang-bintang yang menunjukkan sinar yang tidak sewarna di seluruh permukaannya. Termasuk di bumi itu sendiri, warnanya akan cenderung berbeda-beda saat diamati dari jauh. Ada yang kemilau putih, biru sampai hitam yang terbaca dari permukaan planet tersebut oleh karena perbedaan cuaca di tiap-tiap wilayah.

  5. Pencaran sinar matahari rata – Pancaran sinar di bumi tidak merata.

    Perhatikan baik-baik rupa sang mentari di pagi, siang dan sore hari. Bentuk dan permukaannya selalu sama dari waktu ke waktu, memancarkan sinar yang seragam. Hanya saja kekuatannya cenderung berbeda-beda dari pagi – melemah, siang – sangat kuat dan sore – kembali melemah akibat rotasi dan revolusi bumi.

    Tetapi, tahukah anda bahwa pancaran permukaan sinar yang merata tersebut hanya terjadi pada matahari saja? Sedang bintang-bintang (planet lain seperti bumi) di langit memiliki pancaran permukaan yang tidak bulat persis? Oleh karena itu, banyak orang yang menggambarkan bintang dengan banyak sudut, ada yang bersudut tiga, empat, lima, enam, tujuh dan seterusnya. Perbedaan ini terjadi karena pengaruh cuaca pada planet tersebut sehingga menimbulkan sudut-sudut khas bintang saat kita menatapnya di malam hari. Demikianlah juga dengan bumi saat dilihat dari luar angkasa pastilah memiliki banyak sudut seiring dengan pebedaan cuaca dan ketebalan atmosfer di masing-masing wilayah.

  6. Keberadaan energi di matahari stabil – Energi di bumi tidak stabil.

    Konsistensi energi foton yang terlepas dari sang surya sifatnya tetap dari waktu ke waktu. Hanya saja seluruh sinar tersebut tidak sampai pada permukaan bumi karena terhalang oleh atmosfer (udara), awan dan pepohonan hijau. Sehingga intensitas energi foton yang sampai dipermukaan bumi berbeda-beda. Keseragaman energi surya bisa diamati dengan jelas saat langit cerah di gurun pasir. Sekalipun panasnya sinar matahari di gurun sangat stabil, tetap saja intensitasnya telah berkurang drastis karena dihalangi oleh atmosfer (udara).

    Keberadaan energi di bumi cenderung tidak stabil, anda bisa mengamati keadaan ini dengan jelas pada permukaan laut. Tidak semua pantai yang kita kunjungi memiliki kekuatan dan ketinggian gelombang yang sama. Demikian juga saat kita mengamati daerah rawan letusan gunung berapi. Energi geothermal yang muncul dari permukaan bumi juga sangat beragam, tidak hadir di setiap daerah tetapi hanya muncul di wilayah tertentu saja.

  7. Matahari tidak memiliki kutub – bumi memiliki kutub.

    Harap diketahui bahwa kutub-kutub di bumi sangat tebal dengan es karena pengaruh atmosfer dan kemiringan tempat. Ketebalan atmosfer di kedua kutub bumi lebih banyak karena pengaruh rotasi. Sedang daerah yang lebih dekat dengan khatulistiwa memiliki kemiringan dan atmosfer yang lebih tipis dibandingkan dengan kedua kutub bumi. Karena itulah kedua kutub bumi hanya dipenuhi oleh dataran es yang tebal bahkan sampai membentuk tebing dinding es yang sangat tinggi.

    Sedang stabilitas energi di permukaan matahari sangat kompleks dan hampir tidak bisa dibedakan antara satu sisi dengan sisi yang lain karena semuanya terlihat sama saja. Keseragaman permukaannya yang terlihat dari jauh, sangat menguatkan fakta bahwa bola energi yang satu ini adalah pusat alam semesta yang tidak memiliki kutub.

  8. Mentari tidak memiliki cuaca – bumi dan planet lainnya dipengaruhi iklim.

    Seandainya saja di dalam sang surya terdapat uap air, lautan dan udara; pastilah rupa sinar yang terpancar dari dalamnya berbeda-beda. Seperti saat kita melihat bulan, terdapat bagian yang terang dan agak gelap karena memang satelit tersebut tidak memancarkan sinar tetapi memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari.

    Bintang-bintang sama halnya seperti bumi. Mereka memiliki banyak sudut gelap dan ujung yang bercahaya karena pengaruh cuaca dan atmosfer pada planet yang bersangkutan. Saat anda melihat bintang berwarna keemas-emasan, jangan senang karena hal tersebut. Sebab bisa jadi warna keemas-emasan tersebut dipancarkan oleh karena atmosfernya dipenuhi dengan polutan dan logam berat.

    Cuaca di bumi dipengaruhi oleh keberadaan pepohonan yang mampu menjaga molekul air tetap bertahan di udara sebagai tabir surya. Seolah klorofil menghasilkan dan melepas lebih banyak udara di atas permukaan bumi sehingga atmosfernya tebal dan mampu menghalangi intensitas matahari yang terlalu berlebihan. Udara ini jugalah yang menyimpan panas sehingga membuat sebagian besar permukaan bumi tidak membeku sekalipun ½ dari planet tersebut tidak disinari oleh mentari.

  9. Matahari lebih besar dari planet manapun.

    Seperti yang diyakini oleh para peneliti lainnya, energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dihilangkan sama sekali. Melainkan yang terjadi hanyalah perubahan bentuk belaka. Kami yakin bahwa intensitas cahaya yang sampai di permukaan setiap planet adalah sama karena di luar angkasa tidak ada udara yang menghalangi hantaran energi tersebut. Artinya, tidak ada planet panas dan dingin juga tidak ada planet beku karena masing-masing bintang beroleh intensitas sinar yang sama satu sama lain.

    Berdasarkan pemandangan kami, matahari sebagai pusat alam semesta merupakan komponen terbesar. Dia berperan sebagai inti tata surya yang ukurannya sangat besar dibandingkan dengan bagian lainnya. Sama seperti bola mata dimana bagian yang gelapnya lebih tebal dan dominan daripada bagian yang putihnya. Bagian yang gelap (bewarna) itulah matahari sedangkan yang putihnya tertata rapi seperti planet-planet yang hampir tak bisa diamati (saking kecilnya). Jarak planet dengan matahari sangatlah jauh sehingga kita melihatnya terbit sampai tenggelam dengan ukuran yang lebih kecil. Di balik keterbatasan indra manusia, sadarilah bahwa “sesuatu yang pantas diikuti di seluruh semesta pastilah memiliki kekuatan, stabilitas dan ukuran yang lebih besar dari pengikutnya.” Planet-planet hanya seperti titik-titik kecil yang berada jauh di sekeliling sang surya.

  10. Susunan planet akan terlihat merata dari dalam matahari– Susunan planet (bintang) akan terlihat tidak merata dari atas bumi.

    Bila anda memiliki keyakinan yang serupa dengan kami tentang keseimbangan alam semesta, maka percaya bahwa seluruh planet tersuspensi merata di seluruh bagian matahari dalam jarak yang sangat jauh. Sebab mentari tidak seperti bumi yang memiliki kutub pada kedua ujungnya sehingga susunan lintasan elektromagnetik di sekitarnya tersebar sama rata. Kami sendiri tidak meyakini bentuk tata surya yang elips atau semacamnya. Melainkan lebih suka menganggap bentuk alam semesta seperti atom yang memiliki inti proton dan neutron sedangkan elektron tersuspensi merata di sekelilingnya.

    Saat kita menyaksikan bintang-bintang di malam hari, susunannya terkesan acak dan tidak merata di seluruh langit. Pada satu sisi terlihat sangat padat tetapi pada bagian lain tampak longgar dan jarang-jarang. Memang fenomena macam ini sangat dipengaruhi oleh atmosfer namun di sisi lain bisa menjadi dasar heliosentris. Penyebaran bintang di malam hari yang tidak sama pada setiap sisinya adalah dasar kuat yang menyatakan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta (geosentris). Seandainya pengamatan seluruh alam semesta dilakukan di pusatnya, yaitu mentari maka akan kelihatan susunan bintang-bintang yang sama di setiap sisinya. Tetapi, tentu saja mustahil bisa melihat bintang di dalam sang surya, bukankah itu sudah dinyatakan dalam Kitab Suci? Saksikanlah, Dimanakah letak surga itu?

Yang terkuat adalah pusat sekaligus pengendali seluruh bagian lainnya. Stabilitas energi foton yang terpancar dari dalam baskara menjadi salah satu bukti otentik yang menandakan bahwa titik pusaran seluruh alam semesta berada di dalamnya. Tidak ada kutub sebab seluruh bagiannya memancarkan cahaya dengan intensitas yang sama. Hanya saja cahaya tersebut tidak sampai semuanya ke bumi akibat pengaruh udara (atmosfer), awan (uap air) dan pepohonan yang lebih tinggi. Semua yang kita lakukan di bumi ini hanyalah menyerap energi yang terpancar tersebut, apakah mungkin seorang konsumtif dapat menjadi pusat alam semesta? Pantaslah kita menganggap bahwa sesungguhnya setiap orang percaya akan masuk dan hidup di dalam cahaya tersebut sebagai tempat tinggal abadi di akhir zaman. Sedang orang-orang berdosa yang enggan untuk bertobat akan tetap dalam kefanaan dan didorong masuk ke dalam perut bumi (planet) untuk merasakan bara api yang tidak pernah padam selamanya.

Salam, Api neraka merah dan membakar,
Cahaya surga ramah dan memberi kekuatan,
Lakukan kebenaran, kelak anda layak menempatinya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.