Kepribadian

7 Cara Mengunyah Makanan Yang Baik Untuk Kesehatan, Apakah Sebanyak 33 Kali Atau 32 Kali?

Cara Mengunyah Makanan Yang Baik Untuk Kesehatan, Apakah Sebanyak 33 Kali Atau 32 Kali

Menyepelekan sesuatu itu tidaklah baik

Terkadang kita suka menyepelekan hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup ini. Memandangnya dari arah yang sinis sebab aktivitas tersebut terlihat sangat kecil untuk diberi perhatian. Kita mulai merasa bahwa hal-hal yang terlihat sederhana patut juga untuk diperlakukan secara abai bahkan besar kecenderungan menginjak-injak butiran tersebut. Nilai kecil yang kita labeli pada suatu aktivitas membuat diri sendiri lebih banyak menganggap sepele kegiatan tersebut. Malahan lebih suka menaruh perhatian kepada praktek yang melibatkan energi, waktu dan materi lebih gede. Misalnya saja aktivitas yang disukai banyak orang adalah mandi, berpakaian, menonton, bermain, belajar, bekerja dan lain sebagainya karena hal-hal tersebut cukup seru.

Suka menindihnya dengan aktivitas lain

Ada satu aktivitas yang mungkin saja diabaikan oleh kebanyakan makhluk yang berkeriapan di seluruh dunia. Bahkan kami sendiri harus berkata jujur, memang aktivitas ini menjadi salah satu hal yang paling dipandang sebelah mata. Saking abainya dengan praktek tersebut, kami gemar sekali menimpakannya dengan hal lainnya. Seperti seorang yang suka doble job multitasking, mengerjakan dua hal yang berbeda di dalam satu waktu. Akhirnya, kami menyadari kekeliruan tersebut lewat suatu peristiwa yang memilukan, melibatkan sakit fisik sekaligus sakit mental. Kami benar-benar sedih karena sakitnya dada ini teramat mengganggu sedang di sisi lain, kepala begitu pusing hingga stres karena kekuatiran memuncak melebih ubun-ubun.

Awal yang baik memberikan akhir yang baik

Kami merasa beruntung karena menyadari satu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu aktivitas mengunyah makanan. Ini merupakan salah satu yang dibutuhkan untuk menginisiasi proses pencernaan. Sebab setiap kunyahan sangat menentukan kualitas pemecahan makanan secara mekanis dan kimiawi. Tanpa proses pengunyahan yang baik, kemungkinan besar bahan pangan yang kita konsumsi akan memasuki saluran cerna namun nutrisinya rusak dan tidak habis tercerna karena penyimpangan awal. Jadi, proses pencernaan perlu tanjakan awal yang terpimpin agar hasilnya maksimal menuju tahapan selanjutnya. Bila proses ini bisa dilalui dengan sukahati niscaya hidup sehat menjadi milik kita terus-menerus.

Mengunyah makanan diabaikan oleh banyak makhluk hidup

Perhatikan makhluk hidup lain di bumi ini. Kebanyakan mereka “kunyah sedikit lalu telan!” bahkan beberapa diantaranya tidak mengunyah hanya mencabik lalu ditelan. Misalnya saja kucing, anjing, harimau, jaguar, hiu, paus dan lain sebagainya. Memang beberapa dari hewan-hewan tersebut tidak memiliki gigi geraham melainkan hanya memiliki pisau potong saja yang mencabik-cabik (gigi taring). Rata-rata hewan laut tidak memiliki gigi pengunyah (gigi geraham) sehingga mereka tidak perlu melakukannya melainkan, “cabik-cabik langsung telan!” Hewan air tawar juga rata-rata demikian, mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab hewan air tidak memiliki kelenjar ludah untuk membasahi makanannya, airlah yang membuatnya basah, lembut dan dapat langsung  di telan. Sedang hewan darat (termasuk mamalia) yang sebagian besar memiliki gigi geraham yang difungsikan untuk melakukan kunyahan.

Untuk beberapa kelas binatang yang berperan sebagai pemburu, yang tidak memiliki geraham, mereka akan membunuh dan malahap mangsanya sekaligus. Makhluk yang menelan bulat-bulat ini adalah ular dan segala jenisnya. Predator (karnivora) biasanya kurang melakukan kunyahan, itu jugalah yang membuat umur mereka lebih pendek di alam rimba. Akan tetapi, pihak yang banyak menjadi mangsa (herbivora) memiliki banyak bentuk gigi berkepala palu (geraham) sehingga selalu rajin melakukannya. Bahkan beberapa di antaranya memamah biak, menyimpan sesaat dalam kantong tubuh lalu mengeluarkannya kembali ke mulut untuk dikunyah ketika sedang beristirahat. Kebiasaan ini jugalah yang membuat hewan herbivora lebih panjang umurnya dibandingkan karnivora.

Berapa kalikah kita harus mengunyah makanan? Tiga puluh dua atau tiga puluh tiga kali?

Tahapan mengunyah makanan sangatlah penting, khususnya dalam bidang kesehatan dan kehidupan manusia pada umumnya. Saking pentingnya proses ini, beberapa ahli menetapkannya dalam jumlah yang konstan setiap waktu. Ada yang meyakini bahwa 33 kunyahan itu adalah yang terbaik, ada juga yang mengatakan bahwa 32 adalah kuncinya. Dimanakah yang anda pilih di antara kedua hal ini? Memang semuanya itu terserah keputusan anda, sebab masing-masing baik dan selisihnya juga hanya satu saja. Di balik semuanya itu kami ingin mengajak para pembaca sekalian untuk melupakan angka-angka tersebut!

Mengapa kita harus melupakan angka 33 dan 32 saat mengunyah makanan? Sebab saat menghitung seperti inilah konsentrasi mudah pecah dan kunyahan yang dilakukan tidak maksimal. Kita terlalu fokus menghitung sedang melupakan teknik mengatur makanan dengan lidah agar dihasilkan butiran bahan pangan yang benar-benar kecil. Lagipula tidak semua bahan makanan yang dikonsumsi memiliki struktur dan kepadatan yang sama. Misalnya saja, saat mengkonsumsi agar-agar masakan kita harus mengunyah 33 kali? Sewaktu mengkonsumsi roti masakan kita butuh kunyahan 32 kali? Mana mungkin juga jumlah kunyahan saat mengkonsumsi nasi tok sama dengan saat mengkonsumsi daging tok, yaitu sama-sama 33 atau 32 kali? Angka-angka jelas kurang akurat karena hanya mengeneralisasi kunyahan tetapi nyatanya tidak semua struktur dan kepadatan bahan pangan sama.

Cara mengunyah makanan

Defenisi – Mengunyah makanan adalah proses memotong, mencabik dan menggiling makanan di dalam mulut dengan tujuan untuk mengecilkan, menghaluskan, meremas dan membasahkannya sehingga memudahkan pada tahapan pencernaan selanjutnya. Basah yang kami maksudkan disini bukan sekedar lembab dan lembek saja melainkan berair. Kami tidak menganjurkan anda untuk mengikat proses ini dengan angka-angka tertentu melainkan kunyahlah segala sesuatu berdasarkan kebutuhan untuk mencapai tujuan yang seharusnya. Artinya, jangan fokus pada jumlah tetapi fokuslah pada tujuan kita melakukan sesuatu (mengecilkan dan menghaluskan ukurannya, meremas agar sarinya keluar dan membasahkannya dengan air liur). Berikut ini, beberapa cara mengunyah yang kami anjurkan bagi seluruh pembaca.

  1. Ambil posisi duduk yang baik dan santai.

    Saat makan sebaiknya dilakukan dengan posisi duduk. Ambillah situasi yang tenang dan santai saat melakukannya. Menjalankan aktivitas ini sambil melakukan hal lainnya (misal bekerja, belajar, bermain) sebaiknya dihindari. Terkecuali pada situasi tertentu, makan sambil jalan saat ngemil bon-bon, snack, gulali, minuman bersoda dan makanan ringan lainnya. Ada baiknya jika menikmati waktu-waktu seperti ini bersama-sama dengan orang yang dicintai, misalhnya keluarga, sahabat, kerabat dan lain sebagainya.

    Cedok ke mulut sambil cuap-cuap dengan rekan bisa saja, hanya jangan sampai kualitas kunyahan menurun karena ingin cepat-cepat ngomong untuk menjawab/ menanyakan sesuatu. Tentulah harus mengedepankan kesabaran untuk menghidupi kerumitannya. Aktivitas yang multitasking ini biasanya membutuhkan kehati-hatian dan waktu makan yang lebih panjang dari biasanya.

  2. Menyajikan dan memotong makanan dengan ukuran standar.

    Saaya menyuguhkan makanan, sebaiknya dilakukan dengan menyajikannya sesederhana mungkin. Sederhana itu ditentukan oleh jumlah, ukuran dan porsi yang dihidangkan. Biasanya kesederhanaan itu tidak terlihat dalam kondisi tertentu sebab panganan yang disajikan berukuran besar untuk semua orang. Pada kesempatan ini, alangkah lebih baik jika mengambilnya (memotongnya) dalam ukuran yang standar saja sesuai dengan porsi masing-masing.

    Sebaiknya, hindari memasukkan makanan dalam ukuran terlalu besar ke dalam mulut. Memang kita masih bisa mengunyahnya selama mungkin untuk menghaluskan, meremas dan membasahkannya (membuatnya berair). Akan tetapi, memasukkan sesuatu yang besar-besar ke dalam mulut bisa secara tidak sengaja terdorong ke bawah sehingga membuat anda batuk-batuk bahkan tersedak. Potong bahan-bahan berukuran besar tersebut menggunakan pisau, sendok dan garpu terlebih dahulu sebelum memasukkannya dengan ukuran lebih kecil dalam mulut.

  3. Mengunyah seadanya saja.

    Merealisasikan angka pasti saat mengunyah menunjukkan bahwa aktivitas ini sangatlah penting selama hidup di bumi ini. Kami sendiri menganjurkan para pembaca yang budiman untuk tidak perlu menghitung saat melakukan kunyahan. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa bukan angkanya yang penting melainkan tujuannya yang utama. Sebab struktur dan kepadatan bahan pangan berbeda-beda adanya, semakin padat makanan tersebut, makin lama juga kunyahan yang kita lakukan.

    Sewaktu mengunyah, rasakanlah baik-baik struktur makanan di dalam mulut anda. Yang berukuran lebih besar arahkan untuk ke depan sedang yang agak besar tolak ke samping dengan menggunakan lidah. Saat menurut pengertian sendiri panganan tersebut sudah lebih kecil, halus dan lembab; silahkan ditelan.

  4. Mencabik makanan yang lebih besar.

    Gigi bisa juga dijadikan sebagai alat untuk mengecilkan panganan yang dikonsumsi. Manfaatkanlah gigi seri untuk mencabik dan memotongnya berdasarkan ukuran yang sesuai dengan keadaan rongga mulut anda. Menurut pemahaman kami sendiri, ukuran makanan yang dimasukkan di dalam mulut sebaiknya tidak lebih gede dari seruas jempol anda. Jika ukurannya lebih besar dari itu silahkan gunting dengan gigi kira-kira seruas jempol lalu kunyahlah itu dengan baik. Setelah selesai baru lakukan gigitan lainnya dengan ukuran yang lebih kurang sama.

    Mengkonsumsi sesuatu yang terlalu besar beresiko membuat keselek. Mungkin awalnya anda tidak menduga keadaan ini tapi bagaimana jika tiba-tiba ada yang memanggil nama atau mengajak ngobrol. Apabila menyahut terburu-buru dengan mulut yang hampir tersumbat karena dipenuhi daging/ kue, bisa saja didorong jatuh ke kerongkongan sehingga tersendat. Orang yang keselek butuh tekanan dada dari orang lain untuk mengeluarkan butirang yang nyangkut dalam persimpangan kerongkongan.

  5. Menghaluskan makanan lembut.

    Saat mengonsumsi es krim, agar-agar dan mie sebenarnya bisa tidak dikunyah, langsung ditelan pun dimungkinkan. Tetapi jangan biasakan dirimu dengan kebiasaan ini sebab kenikmatannya akan lari dengan cepat. Bukankah kita butuh waktu yang agak lama untuk makan agar pikiran memutuskan untuk menjadi kenyang? Perlu waktu lebih dari 15 menit agar otak memberi sinyal positif tentang rasa kenyang agar anda tidak makan melulu sehingga badan tidak melar. Tetap upayakan untuk memperlama waktu yang dihabiskan mengkonsumsi makanan agar pikiran bisa merespon aktivitas tersebut dengan baik sedang rasa bosan atau serakah dijauhkan.

    Ada dua cara untuk mengunyah makanan lembut, yaitu mengisapnya atau memotongnya. Saat melakukan hal ini selalu arahkan panganan tersebut ke seluruh permukaan dalam mulut, biasanya ke samping kanan dan kiri.

    Aktivitas konsumsi es krim yang asal telan saja bisa mengurangi kepuasan kita sehingga ingin membelnya lagi. Cobalah untuk mengarahkannya ke samping kir dan kanan agar waktu konsumsi lebih lama sehingga ada rasa puas nikmat dan tidak membelinya lagi.

    Saat mengkonsumsi agar-agar, beberapa orang tidak menyukainya sebab hanya mengemutnya sesaat dan langsung asal telan saja. Untuk menikmati makanan lembut semacam ini, sebaiknya dikunyah/ diemut lalu arahkan ke samping kanan dan kiri. Kebiasaan ini membuat lamanya waktu konsumsi meningkat sehingga ada kesempatan besar bagi impuls syaraf untuk merasai nikmatnya dan menjadi puas juga merasa kenyang (tidak dikonsumsi berlebihan).

  6. Mengkonsumsi air sekedarnya saja.

    Ingatlah bahwa salah satu tujuan mengunyah adalah untuk melapisi antibodi kemakanan. Antibodi itu terdapat dalam kelenjar ludah, setiap kali melakukan ekskresi, kita mencampurkan setiap panganan dengan air liur sehingga aman dan siap dicerna pada bagian selanjutnya. Kekuatan air liur adalah kemampuan elektrolit layaknya garam yang mampu melakukan detoksifikasi awal terhadap setiap bahan pangan.

    Bila kita makan secara terburu-buru lalu melapisi makanan dengan air tawar agar mudah di telan, ketahuilah bahwa kebiasaan ini jelas tidak sehat. Melapisi panganan dengan air tidak sama dengan melapisinya dengan air liur elektrolit. Bisa saja meminum air saat makan tetapi jangan terlalu sering, misalnya “setiap satu sendok meminum seteguk air, ini namanya tergesa-gesa!”

    Meminum air memang baik, salah satu manfaatnya adalah untuk mempertahankan pH cairan tubuh. Bila tubuh kekurangan air maka keasaman tubuh akan terguncang sehingga timbullah jantung berdebar. Tetapi saat anda mengkonsumsi H2O akan membantu menetralkannya sehingga rasa berdebar itu bisa dicegah. Oleh karena itu, konsumsilah air satu sampai dua gelas setiap kali makan hanya jangan sekaligus dan jangan setiap menelan. Melainkan kunyahlah makanan sebaik mungkin lalu telan, saat mulut sudah kosong air pun konsumsilah. Lakukan secara berkala di sela-sela aktivitas makan. Mereka yang sedang diet mengkonsumsi dua gelas air putih hangat sebelum sarapan/ makan siang/ malam untuk menambah rasa kenyang sehingga jumlah konsumsi berkurang. Harap perhatikan juga kebutuhan cairan tubuh per hari yakni minimal dua liter untuk orang dewasa.

  7. Melakukannya sambil fokus kepada Tuhan.

    Kami suka menikmati hidup sambil memfokuskan pikiran kepada Tuhan. Ini salah satu aktivitas yang sederhana sehingga bisa dilakukan secara multitasking. Kadang juga makan sambil melakukan gerakan sederhana dan sambil fokus menyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati. Aktivitas ini merupakan salah satu cara meningkatkan kinerja otak ke taraf yang lebih sulit. Bagi yang belum terbiasa, boleh dicoba dibiasakan tetapi jangan dipaksakan.  Simak juga, Kiat fokus kepada Tuhan dengan bernyanyi.

    Fokus menyanyi kepada Tuhan sambil memasukkan sesuatu ke dalam mulut jelas butuh konsentrasi ganda. Di sinilah anda akan dilatih untuk mulai membagi kinerja otak. Mereka yang mampu multitasking biasanya tetap keren saat menghadapi gangguan sosial. Kebisingan di sekitarnya tidak akan mengganggu sebab kemampuan otak telah dilatih agar mengabaikan suara yang lain dan memfokuskannya kepada hal positif (misal fokus Tuhan, bekerja dan belajar atau berkomunikasi dengan sesama).

Mengunyah makanan itu penting tetapi tidak perlu dihitung sebab masing-masing makanan yang dikonsumsi memiliki struktur dan kepadatan yang berbeda-beda. Sesuaikan saja semua dengan tujuannya yaitu untuk mengecilkan, menghaluskan dan membasahi (membuatnya berair) panganan; jika tujuan ini sudah tercapai anda bisa menelannya tanpa harus menunggu hingga 33 atau 32 kali. Ketahuilah bahwa mengunyah adalah tahapan inisiasi awal yang mempersiapkan bahan pangan untuk dicerna pada proses selanjutnya. Aktivitas ini melibatkan tahapan mekanik dan kimiawi yang membutuhkan waktu selama beberapa menit (tergantung jumlah dan jenisnya). Makan lama karena kunyahan banyak tidak hanya bermanfaat untuk mengefektifkan dan mengefisienkan proses cerna melainkan membantu anda kenyang dan puas melakukannya. Justru saat waktunya terlalu cepat berakhir, ada kecenderungan untuk menambah dan mengkonsumsinya lagi dan lagi. Jalan juga ke mari, Kegunaan melumat panganan.

Salam, Kunyahlah makanan,
demi kesehatan pencernaan,
cita rasanya pun ada kenikmatan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.