Kepribadian

10 Jalan Hidup Yang Ditempuh Manusia, Anda Di Sisi Yang Benar Atau Yang Jahat?


Jalan Hidup Yang Ditempuh Manusia, Anda Disisi Yang Benar Atau Yang Jahat

Ayo beraktivitas, ayo bergerak dan ayo berjalan bersama

Semua makhluk yang pernah hidup di dunia ini sanggup berjalan terkecuali mereka yang berjenis tumbuhan. Sekalipun demikian, tanaman tetap mampu melakukan gerak pasif melalui pertumbuhannya. Makhluk yang lebih kecil juga mampu berjalan jauh dari tempatnya berada. Mikroorganisme adalah kekuatan paling sederhana yang termasuk mampu berjalan kemana saja oleh karena pengaruh gerakan alamiah (angin, air) maupun gerak semu menurut langkah kaki hewan lainnya (manusia, binatang). Aktivitas ini mampu mengubah suasana yang terpapar oleh indra (pemandangan). Orang yang mampu berpikir kreatif menimbang-nimbang apa yang dapat diamatinya lewat indra akan menemukan berbagai pengalaman.

Informasi selalu bercabang dua, waspadalah!

Selama menjalani kehidupan yang susah-susah gampang ini, ada segudang kejadian yang terpapar oleh indra. Perbedaan sikap manusia saat terpapar oleh informasi yang ditangkap oleh panca indra: yang bijak akan menimbang-nimbang sedang yang kurang cerdas terus saja mempercayainya. Informasi yang memberikan hasil konsisten saat diterapkan bisa jadi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan. Yang tidak memberikan hasil konsisten bisa jadi sebagai informasi yang salah kaprah sehingga perlu ditinjau ulang secara berkesinambungan. Biasanya, setiap informasi yang disebarkan melalui jaringan internet perlu diteliti baik-baik (selektif dan kritis) sehingga diperoleh nilai-nilai yang konstan.

Berhati-hati dengan sandiwara

Zaman sekarang segala sesuatu adalah sandiwara. Terlebih ketika anda melirik ke dalam layar kaca yang disebut sebagai televisi. Di sana bukan sinetron dan komedian saja yang berupa kepura-puraan. Bahkan berita yang dihasilkan pun bisa jadi sebagai salah satu aksi yang disandiwarakan. Dari luar kita saksikan konflik yang begitu seru, kriminalitas yang merajalela, tangkapan yang luar biasa dan lain-lain. Padahal semua itu hanyalah adegan yang dibuat-buat dengan skenario rapi yang melibatkan banyak pihak. Jalan hidup orang-orang ini pun sepertinya lancar-lancar saja bahkan mereka makmur dengan semuanya itu. Tetapi ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan selama hidup dipertanggung jawabkan di akhir zaman kelak. Kala itu hanya ada dua tujuan, sorga dan neraka!

Pengertian Jalan Hidup

Jalan adalah  (1) tempat untuk lalu lintas orang (kendaraan dan sebagainya); (2) perlintasan (dari suatu tempat ke tempat lain); (3) yang dilalui atau dipakai untuk keluar masuk; (4) lintasan; orbit (tentang benda di ruang angkasa); (5) gerak maju atau mundur (tentang kendaraan); (6) putaran jarum; (7) perkembangan atau berlangsungnya (tentang perundingan, rapat, cerita, dan sebagainya) dari awal sampai akhir; (8) cara (akal, syarat, ikhtiar, dan sebagainya) untuk melakukan (mengerjakan, mencapai, mencari) sesuatu; dan masih banyak lagi silahkan lihat sendiri dalam KBBI Luar Jaringan. Menurut kami jalan adalah berbagai cara yang ditempuh seseorang dalam menjalani hidup dari waktu ke waktu.

Apa yang kami bahas pada bagian ini bukanlah aspal hitam, tapak tanah, berbatu, berpasir. Jalanan di sini adalah jalan hidup yaitu berbagai pola-pola yang ditempuh oleh masing-masing orang agar dimampukan untuk mencapai akhir yang baik. Akhir yang baik bukanlah kesuksesan melainkan sorga yang kekal. Sebab yang namanya kesuksesan tiada pernah berakhir: saat satu sukses telah dicapai maka akan muncullah rencana sukses lainnya. Persoalannya sekarang adalah apakah semua hasil yang kita peroleh tersebut sudah berada tepat di jalan yang benar. Atau jangan-jangan kelihatannya saja benar tetapi sesungguhnya syarat dengan tipu daya karena bertujuan membuat diri sendiri semakin unggul dari orang lain?

Hanya ada dua jalan kehidupan

Sadarilah bahwa untuk mencapai perhentian terakhir, manusia membutuhkan yang namanya kebulatan tekad dan perjuangan juga ketulusan. Terkecuali bila anda berasal dari golongan ateis yang tidak mempercayai tentang adanya Sang Pencipta Abadi. Tentu bagi orang-orang seperti ini, sorga dan neraka itu tidak penting. Yang dikejar-kejarnya adalah kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang lebih baik lagi dan lagi sampai bosan, berkarat dan membusuk dalam dosa-dosanya. Tetapi, jalan orang-orang percaya jauh berbeda dari para penjahat. Kita yang meyakini tentang detik-detik penghakiman akhir akan menempuh perjalanan yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta Yang Agung.

Perjalanan yang ditempuh oleh tiap-tiap manusia

Sadar atau tidak, bumi ini merupakan lahan ujian yang tidak pernah lelah menekan setiap manusia di dalamnya. Allah tidak menjanjikan kepada kita hadiah uang yang besar di akhir zaman tetapi yang dijanjikan-Nya adalah evolusi tingkat tinggi. Ternyata evolusi yang dibicarakan oleh para ilmuan dari luar negeri memang benar adanya, hanya selama hidup di dunia yang terjadi adalah evolusi mental kepribadian. Setiap manusia yang mencapai kekuatan mental dan keteguhan hati di jalan yang benar akan dianggap pantas unuk mengalami evolusi fisik, yaitu hidup dalam cahaya bersama-sama dengan Sang Khalik. Tentu saja, patutlah kita sadari bahwa kalau pun kita mampu mencapai sorga, “semuanya itu hanyalah karena kasih karunia Allah, bukan karena kehebatan kita.”

Bagian pertama – Jalan kebenaran.

Yang Sulung dari Allah telah menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya menempuh langkah-langkah yang benar selama menjalani hidup di dunia ini. Ajaran yang dianjurkannya sangatlah jelas, semuanya tertulis di dalam Kitab Suci. Kita harus mampu membedakan antara Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama: pernyataan, keselamatan dan berkat hanya dikhususkan bagi bangsa Israel saja. Tetapi, di dalam Perjanjian Baru: pernyataan, keselamatan dan berkat dianugerahkan kepada segala bangsa, yakni setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Ada banyak ajaran Tuhan Yesus Kristus selama berada di dalam dunia ini, silahkan baca dan temukan sendiri dalam Alkitab masing-masing. Yang kami tampilkan pada bagian ini hanyalah “tiga syarat mengikut Yesus (Matius 16:24)” dan “tiga pencobaan yang dialami Yesus di padang Gurun (Matius 4:1-11).” Menurut kami, hal-hal tersebut adalah bagian terpenting agar kita dilayakkan untuk hidup di sorga yang kekal. Bagi pihak lain mungkin saja ada hal-hal lainnya, silahkan saja asalkan kedua topik ini tidak dihilangkan. Berikut akan kami jelaskan semampunya saja.

  1. Jalan kasih kepada Tuhan.

    Bagaimana mungkin kita ingin menuju ke sorga tetapi tidak mencintai Allah Yang Esa? Sebab satu-satunya kesukaan besar yang kita miliki di sorga hanyalah memandang wajah-Nya dan memuliakan-Nya dari waktu ke waktu. Kita memang masih memiliki indra tetapi kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri lewat kontrol penuh oleh pikiran masing-masing. Jadi, perbedaan orang-orang sorgawi dengan duniawi adalah manusia sorgawi tidak lagi tergoda oleh pesona indra sebab pikirannya mampu mengendalikan dan memenuhi kebutuhan indra sendiri dari waktu ke waktu. Jadi, kita tidak lagi bergantung dengan orang lain sebab mampu memenuhi kebutuhan sendiri (mandiri). Itulah mengapa di sorga tidak ada istilah menikah (bandingkan dengan Matius 22:30). Sedang manusia duniawi, pengaruh indra sangat kuat dalam tubuh ini sehingga besar kemungkinan untuk tergoda. Lagi pula kita masih membutuhkan hal-hal lahiriah, baik melalui sesama maupun lingkungan sekitar (materi & makhluk hidup lainnya).

    Kasih kepada Tuhan kita wujud nyatakan dalam bentuk doa, membaca/ mendengar/ mempelajari firman dan bernyanyi memuliakan Allah. Doa bisa dilakukan seorang diri, bersama-sama, lewat kata-kata dan di dalam hati saja. Firman didalami dengan membaca, mendengar dan mempelajarinya secara rutin. Bernyanyi dilakukan dengan suara, di dalam hati, menggunakan alat musik dan sambil menari memuliakan Allah. Semua aktivitas yang sangat membahagiakan ini dapat dilakukan kapan saja, dimana saja dan apa saja yang sedang digeluti.

    Membaca, mendengar dan mempelajar firman mungkin saja hanya bisa dilakukan di waktu-waktu khusus dan di waktu senggang saja. Tetapi saat berdoa, kita bisa melakukannya dimana saja dan kapan saja. Sebab aktivitas ini bisa dilakukan dengan mengeluarkan suara dan dapat pula diperbuat di dalam hati saja sehingga dimungkinkan untuk multitasking. Sedang bernyanyi memuliakan Tuhan, dapat ditekuni secara khusus (hanya menyanyi saja) maupun secara multitasking (sambil melakukan pekerjaan/ aktivitas lainnya). Dari sekian banyak kebahagiaan, inilah salah satu cara mandiri mencapainya.

    Di sisi lain ada juga yang namanya persekutuan antara orang-orang percaya, baik lewat ibadah maupun PA. Jika anda mampu mengikutinya silahkan digeluti terkecuali jika fisik/ kesehatan kurang memadai dan karena faktor lainnya (misal transportasi terlalu jauh). Kita membutuhkan persekutuan bersama orang lain sebagai bagian dari upaya untuk saling mendukung satu sama lain, sebab saat bersama kita mampu menyelesaikan perkara yang pelik.

  2. Jalan kasih kepada sesama.

    Saat aktivitas fokus kepada Tuhan telah membuat kita bahagia, sekaranglah waktunya untuk membagikannya kepada sesama. Aktivitas mengasihi Tuhan memberikan semacam energi dari dalam yang mendorong kita untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kasih kepada sesama inilah juga yang membuat rasa kebersamaan di antara orang per orang semakin akrab-dekat.

    Dari sekian banyak cara untuk berbuat baik, mulailah dengan hal-hal yang sederhana. Kita bisa melayani orang lain lewat perilaku dan harta yang dimiliki namun yang paling sederhana adalah melayani dengan kata-kata. Perkataan yang ramah dan santun merupakan perbuatan yang sangat simple yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan apa saja yang sedang dikerjakan. Lebih dari itu, silahkan kasihi sesama lewat potensi/ materi yang dimiliki di sela-sela pekerjaan dan pelajaran yang digeluti.

    Untuk kita yang duduk bersama sebagai rakyat biasa, mudah untuk melakukan kasih. Tetapi bagi mereka yang diposisikan sebagai pemimpin, perlu memperhatikan keadilan sosial bagi semua pihak bahkan dirinya sendiri. Keadilan sosial sama dengan mengasihi orang lain seperti diri sendiri; jatah keluarga kita harusnya sama dengan yang lainnya. Bukankah kita juga sama di mata Tuhan? Tetapi, semuanya itu tergantung dari peraturan, di sanalah para pemimpin kita bekerja.

  3. Jalan pencobaan.

    Jangan mengeluh saat pencobaan datang menghimpit kehidupan anda. Aktivitas bersungut-sungut merupakan cara tercepat mengacaukan pikiran. Kami kemarin pernah bersungut-sungut karena menginginkan sesuatu tetapi tidak diberikan. Ini malah membuat kata-kata kami mulai jorok yang diiringi dengan dosa lainnya. Saat semuanya berakhir, kami pun menyadarinya, itu memang lebay dan kami minta maaf…. Jadi, bisa dikatakan bahwa sungut-sungut hanya membuat kita semakin depresi.

    Hadapilah tantangan hidup dengan berani tetapi tetap tenang. Berani tetapi kalau ribut-ribut juga bisa membuat kita stres. Pertahankan konsentrasi (fokus Tuhan, bekerja dan belajar) walau suasana di luar sana masih ada yang kurang tenang. Jadilah berani tetapi tetap rendah hati dalam menghadapi persoalan. Sebab kesombongan malah membuat kita cenderung mudah kesal & melawan saat diuji oleh orang lain.

    Pada akhirnya, puncak dari setiap masalah kita adalah mengasihi musuh. Yang satu ini lumayan berat ya, namun teruslah mencoba sampai bisa. Awal yang diperlukan untuk mengasihi musuh adalah menekan dendam dan jangan membalas keburukan ganti keburukan. Saat diperlakukan tidak baik cobalah untuk merelakannya sambil tetap diam. Jika level kekuatan hati anda sudah membaik maka akan dimampukan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan yang dimulai dari sikap yang ramah. Saat diejek orang, ramahin aja lah….

  4. Jalan kesederhanaan.

    Materi di dunia ini tidak akan pernah cukup untuk memenuhi hati anda yang kecil. Berapa cc-lah ukuran otak manusia, sekalipun anda mengisi ukuran cc tersebut dengan berton-ton materi, tidak akan pernah terpenuhi apalagi terpuaskan. Sebab kebutuhan pikiran hanya mampu diisi oleh kebenaran saja, yaitu kasihilah Tuhan dengan seutuhnya dan sesama manusia seperti diri sendiri.

    Memenuhi hidup dengan kemewahan justru membuat kita terkesan merusak lingkungan dan menimbulkan cemburuan dari orang lain. Lagi pula kerendahan hati mengajarkan kita untuk menggantungkan hidup kepada dunia ini seminimal mungkin. Saat merendah, ada banyak ketenangan hati yang kita temukan di bawah sana.

    Bangga terhadap diri sendiri dan menyombongkan potensi yang kita miliki merupakan kebiasaan buruk mengangkat diri sendiri ke atas. Saat kita merasa sudah berada di awang-awang, besar kemungkinan semakin mudah untuk dijatuhkan oleh pihak lain. Kesombongan adalah jalan pembuka pada kejahatan namun kerendahan hati adalah jalan untuk meraih kebenaran.

  5. Jalan membatasi kenikmatan materi.

    Materi yang berseliweran di sekitar kita merupakan kebutuhan pada taraf tertentu sekaligus sebagai cobaan pada taraf yang berlebihan. Kita hidup di dunia ini dalam darah dan daging sehingga sudah pastilah membutuhkan materi. Manusia, siapapun dia di dunia ini mustahil mampu mengabaikan keperluannya akan kenikmatan duniawi. Hanya saja semua itu ada batas-batasnya. Justru saat kita mengkonsumsinya secara berlebihan yang terjadi adalah kejemuan yang tidak mendatangkan kebahagiaan.

    Sesungguhnya variasi kenikmatan duniawi adalah fatamorgana indra. Misalnya saja, ada ikan yang harganya murah, sedang-sedang, mahal dan mahal sekali. Kedengarannya memang berbeda dari segi nilainya tetapi saat dikonsumsi sama-sama membuat kenyang dan sehat. Justru saat kita mengkonsumsi yang mahal-mahal saja maka akan menjadi bosan rasanya sehingga muncullah niatan untuk membeli  yang lebih mahal lagi. Pertanyaannya adalah “apakah ada yang lebih mahal lagi?” Lalu, “apa keuangan kita selalu mencukupi untuk memenuhi belanja yang lebih mahal lagi?” Jangan-jangan kita melakukan penggelapan untuk meraih semua gengsi itu? Oleh karena itu, jangan biasakan menyombongkan barang dan jasa yang dikonsumsi. Hindari membanggakan kenikmatan duniawi yang dicicipi untuk merasa lebih baik dari orang lain.

    Jalan yang kita tempuh dalam menikmati hidup sebaiknya fluktuatif. Tidak melulu yang manis-manis saja, kadang juga yang asin, pahit, asam, tawar dan lain sebagainya. Tidak melulu yang mahal-mahal saja, kadang juga yang murah, menengah dan yang harganya recehan. Kita juga kadang memerlukan puasa untuk menata ulang (kalibrasi) rasa di indra sehingga makanan sesederhana apapun itu tetap dapat dinikmati dengan sukacita dan rasa syukur.

    Harap diingat bahwa yang fluktuatif itu adalah pola menikmati hidup namun dalam bersikap sebaiknya dilakukan secara konsisten. Orang yang masih belum dewasa dalam iman dan penuh kebimbangan biasanya masih kurang konsisten sehingga sikapnya ini menguji kesabaran pihak lainnya. Akan tetapi, mereka yang sudah dewasa di dalam Kristus akan berlaku tekun melakukan dan memperjuangkan kebenaran.

  1. Jalan tidak menginginkan kemuliaan.

    Ini penting sekali untuk mencapai kesetaraan. Sebab ada beberapa orang yang merasa bahwa orang lain harus menghormatinya sampai sujud menyembah kepadanya. Padahal kita sama-sama manusia biasa saja, seperti kata rasul Petrus.

    (Kisah Para Rasul 10:26) Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: “Bangunlah, aku hanya manusia saja.”

    Kita harus saling menghargai dan menghormati sekedarnya saja. Membungkuk, menunduk, mengangguk dan mengeluarkan kata-kata yang sopan adalah cara saling menghargai yang wajar. Akan tetapi jangan sampai ketergantungan dengan hal itu. Salah satu ciri khas yang membuktikan bahwa kita candu dengan kemuliaan adalah saat tidak di sapa orang lain, kita jadi kesal hati sekaligus mendendam. Ini menandakan bahwa kita tidak menerima diri sebagai manusia biasa, melainkan lebih tinggi dari orang lain.

    Dalam paham kesetaraan, kita menghargai orang bukan karena dia lebih tinggi/ lebih pejabat/ lebih berkuasa dari diri ini. Melainkan kita menghargai siapapun untuk menabur kebaikan yang kelak bisa dituai di sorga yang kekal. Jadi bukan masalah saat yang lebih dewasa memperhatikan mereka yang lebih muda dan anak-anak. Ingat-ingatlah bahwa menghargai dan menghormati orang lain merupakan salah satu cara paling sederhana untuk mengasihi sesama. Lakukanlah itu dengan tulus hati dimulai dari diri sendiri tanpa mengharapkan balasan dari orang lain.

    Sikap yang hanya mau perhatian dan menghargai sesama tanpa mengharapkan balasan adalah ujian kehidupan yang mampu meningkatkan level kekuatan hati dan kecerdasan otak. Tentu saja semua ini harus dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan. Sampai kadar mana sesuatu tidak lebay? Silahkan beranikan diri untuk mencoba dan mencicipi sendiri agar anda bisa mengenalinya. Pekalah dengan bisikan Roh Kudus di dalam hati anda. Ini bukan jalan yang mudah, semua butuh latihan dan ketekunan.

  1. Jalan keikhlasan.

    Tidak memaksakan kehendak kepada Tuhan dan tidak mencobai Yang Maha Kuasa. Kita hidup pasrah kepada Tuhan dalam setiap tindakan yang ditempuh. Tidak terlalu memaksakan kehendak sendiri dalam menunggu jawaban dari setiap harapan yang dibawa ke hadapan-Nya. Saat apa yang kita inginkan tidak terpenuhi, harus mengikhlaskannya, yang penting adalah semuanya sudah berjalan sesuai dengan aturannya.

    Pertanyaannya sekarang, bagaimana pula kalau aturannya yang salah, apa yang harus kita lakukan? Tidak ada. Satu-satunya jalan adalah mengajukan perubahan aturan atau memilih pemimpin yang memiliki visi untuk mengubah aturan tersebut. Yang penting adalah kita bisa hidup dan damai di dunia ini. Sedang dosa-dosa para pemimpin kita yang “tidak mengasihi sesama seperti diri sendiri” alias tidak menjunjung keadilan sosial, pasti akan dituntut di akhir zaman. Kita sebagai masyarakat biasa perlu menjalankan kewajiban masing-masing.

    Kita sebagai rakyat biasa hanya bisa memberi masukan kepada para pemimpin sekalian. Diaksanakan/ direalisasikan atau tidak, itu adalah keputusan mereka, bukankah semuanya itu akan dipertanggung jawabkan di akhir kelak? Simak juga, Defenisi Keadilan Sosial.

    Bagian kedua – Jalan kejahatan.

    Pada kenyataannya, zaman sekarang tidak ada orang yang merasa dirinya jahat. Mereka selalu merasa benar dengan semua tindak-tanduk yang dilakukan dari waktu ke waktu. Padahal lewat semua aksi yang kita lakukan telah melanggar hukum Tuhan yaitu hukum Taurat secara sadar.

    (Yeremia 7:9-10) Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!

    Kita harus sadar betul bahwa Allah yang kita sembah bukan Tuhan yang bisa disogok. Sudah jelas-jelas jahat, kata hati pun bersuara menegur kita tetapi masih saja dilakukan. Di dalam hati kita sepele lalu mengatakan, “ahh nantikan aku minta maaf pasti diampuni, ahh nantikan kasih persepuluhan pasti dimaafkan, ahh nantikan melayani jemaat pasti diampuni….” Ingatlah kawan bahwa Tuhan tidak ingin kasih karunia yang diberikan-Nya dipermainkan!

    (Galatia 6:7) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

    Berikut ini, akan kami jelaskan beberapa hal penting yang cenderung membuat kita berdosa walau pun sampai sekarang masih merasa benar.

  1. Jalan arogansi.

    Sikap yang arogan merupakan suatu pemikiran yang bertentangan dengan “mengasihi sesama manusia sepert diri sendiri” alias menolak keadilan sosial. Mereka ingin selalu lebih dari orang lain khususnya dalam hal pengetahuan, pendapatan/ gaji dan kekuasaan.

    Arogansi itu salah karena kita menjadikan sikap yang ingin lebih unggul dari orang lain sebagai penghiburan. Merasa senang yang berujung kepada sikap bangga terhadap kelebihan yang dimiliki.

    Masalahnya sekarang, apa kita tidak boleh memiliki kelebihan selama hidup? Tentu kita bisa memiliki kelebihan asalkan tidak membanggakan hal tersebut dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber kesenangan hidup. Sedang di sisi lain, kelebihan power atau kekuatan (ilmu, harta dan jabatan) beresiko menyebabkan kerugian bagi orang lain. Jelas-jelas bahwa orang yang memiliki ekstra-power berpeluang besar untuk berlaku jahat terhadap sesama manusia. Ini bisa berupa kejahatan langsung (menjebak, melukai, membunuh baik lewat tangan sendiri maupun lewat perantara). Serta bisa juga secara tidak langsung yaitu lewat sikap konsumtif, pemborosan sumber daya dan kerusakan lingkungan yang terus menerus sehingga menyebabkan bencana alam yang merugikan masyarakat luas.

  1. Jalan penipuan (manipulasi).

    Tipu daya adalah suatu dusta yang dilarang keras oleh hukum Taurat. Orang-orang berdusta semata-mata karena mereka mengingini hal-hal yang waw… Mereka ingin lebih dari orang lain: gaji yang lebih besar dan jabatan yang lebih tinggi sehingga membuat dirinya terpaksa berdusta demi memenuhi hasrat tersebut. Seperti ada tertulis.

    (Yesaya 5:18) Celakalah mereka yang memancing kesalahan dengan tali kedustaan dan dosa seperti dengan tali gerobak,

    Lagi katanya,

    (Yesaya 59:3) Sebab tanganmu cemar oleh darah dan jarimu oleh kejahatan; mulutmu mengucapkan dusta, lidahmu menyebut-nyebut kecurangan.

    Jalan manipulasi merupakan suatu langkah untuk mencapai kemakmuran pribadi atau kelompok dengan mengurangi hak orang lain. Mereka mendapat keuntungan yang besar lewat penipuan yang dilakukannya. Orang yang pintar memanipulasi sesama sudah pasti lebih kaya raya dan lebih berkuasa. Pertanyaannya sekarang, apakah orang-orang kaya dan berkuasa itu salah? Coba tanyakan pada mereka apakah pekerjaan yang dilakukannya sudah dikerjakan sejujur-jujurnya atau jangan-jangan mereka hanya berkutak pada sandiwara untuk memperoleh semuanya itu?

    Manusia menyembunyikan kebenaran dari sesamanya semata-mata agar memperoleh keuntungan yang lebih besar. Misalnya soal manfaat garam dan lain sebagainya. Berbagai rahasia yang berlangsung dalam suatu organisasi yang semata-mata ditutup rapat-rapat agar petingginya tetap beroleh laba besar. Semua bentuk ketidakjujuran yang bertujuan untuk beroleh keuntungan yang lebih besar dari orang lain (arogan) adalah manipulasi.

    Orang yang bersandiwara untuk memperoleh lebih banyak harta benda dan jabatan jelaslah tidak lagi melakukannya dengan benar. Sebab ketidakadilan semacam itu secara tidak langsung mengurangi hak-hak orang lain. Mereka bersandiwara untuk menina bobokan dan mengintimidasi orang lain agar posisinya di puncak tertinggi selalu terjamin adanya. Ini jelas-jelas sebagai sebuah kejahatan besar.

    Kami juga dalam blog ini menampilkan beberapa adegan sandiwara. Kami pun mengakui dosa ini. Tetapi bukankah kami memberikan klarifikasi pada bagian-bagian tertentu bahwa hal itu hanyalah perumpamaan dan bukan sesuatu hal yang selalu berhubungan dengan kenyataan? Lagi pula di akhir setiap tulisan yang kami terbitkan selalu memberikan kesimpulan yang mengarahkan manusia untuk berlaku positif. Harap diketahui bahwa sampai sekarang kami belum beroleh keuntungan materi sehinga lebih kaya raya dari sesama. Kami juga selalu berusaha meminimalisir kebanggaan terhadap tulisan ini kepada siapa pun….

  1. Jalan keserakahan.

    Nafsu yang berlebihan adalah awal dari sikap tamak. Orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya dari kenikmatan duniawi bisa saja mengkonsumsi segala sesuatu sampai merusak diri sendiri (sakit), merusak lingkungan (tercemar) dan merugikan orang lain (merampas hak sesama). Orang yang tamak menimbun secara berlebihan sampai sumber daya yang tersisa tinggal sedikit. Akibatnya, orang lain harus membayar lebih mahal untuk memperoleh (membeli) hal tersebut. Pada hakekatnya ketamakan berkaitan erat dengan habisnya sumber daya sehingga membuat masyarakat merana.

    Pengetahuan, kekayaan dan kekuasaan yang sangat besar jelas-jelas berpotensi membuat manusia menjadi serakah. Power yang sangat gede membuat seseorang dapat menggunakan sumber daya yang tersedia secara besar-besaran. Padahal, yang semacam itu tidak diperlukan tetapi masih diadakan. Ini seperti saat kita makan tetapi masih banyak yang sisa lalu dibuang begitu saja. Membangun rumah tetapi sangat banyak ruangan yang kosong. Menggunakan kendaraan pribadi sendiri padahal sebenarnya bisa memuat lebih banyak orang, lagi pula ada angkutan umum yang bisa dimanfaatkan. Menebang pohon lebih dari apa yang dibutuhkan. Membunuh hewan tapi tidak dikonsumsi. Dan masih banyak lagi bentuk ketamakan lainnya.

    Keserakahan selalu menghasilkan sisa yang hanya akan dibuang begitu saja padahal di luar sana masih banyak pihak yang membutuhkan hal tersebut. Biasanya orang yang serakah menjadikan materi dan kenikmatan duniawi sebagai sumber utama penghiburan dan kebahagiaannya sehingga cenderung lebay saat mengkonsumsi sesuatu. Ketamakan juga sangat identik dengan kemewahan (gaya hidup glamour).

Tampaknya, jalan kepada kejahatan itu cukup mudah & simple (cuma 3 tahap langsung joss & jebol) sedang jalan menuju kebenaran cukup rumit. Memang benar, hal-hal yang salah itu sangat mudah untuk dilakukan sebab sifat tersebut sudah tertanam di dalam setiap sel-sel kita sejak dari dalam kandungan (perbuatan daging). Sadarilah bahwa kejahatan yang kita sebabkan selalu ada akibatnya baik sekarang (hukum pidana, perdata) maupun di masa yang akan datang (hukum Taurat, hukum Allah). Sayang, zaman sekarang ada segelintir orang yang pintar-pintar sehingga mereka bisa meliuk dalam celah-celah hukum negara dengan meraup keuntungan besar. Di balik semuanya itu, sadarilah bahwa serapi apa pun seseorang/ sekelompok orang menyembunyikan kesalahan/ manipulasi/ konspirasi, Tuhan selalu tahu sebab di mata-Nya tidak ada hal yang tersembunyi (Mazmur 69:6). Setiap kejahatan yang ditabur akan dituai lewat bencana di dunia ini dan di akhir zaman kelak. Tujuanmu kemana kawan? Persiapkan hati, perkataan & perbuatan (pikiran dan sikap) untuk menyambut sorga atau neraka mulai dari sekarang!

Salam, Jalan kebenaran atau kejahatan,
Hidup adalah pilihan ditentukan oleh tujuan.
Lakukan semua itu dari sekarang dengan tekun
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.