Kepribadian

7 Sikap Sepele Dengan Dosa & Kasih Karunia Tuhan

Sikap Sepele Terhadap Dosa Dan Kasih Karunia Tuhan

Sejarah panjang kekristenan memang sangat bermanfaat bagi generasi kita. Mereka yang lahir dan telah meninggal sebelum kita ada telah melakukan hal-hal yang baik dan buruk dimana semuanya itu memberi kita informasi yang sangat berharga. Informasi tentang sikap-sikap manusia di zaman dahulu kala telah menjadi kekuatan yang mengisi pengetahuan bagi kita dan bagi generasi yang berikutnya. Catatan kehidupan itu diawali dari Alkitab, suatu informasi yang sangat bernilai tinggi tetapi bukan berarti semua yang ada di sana adalah benar. Setiap orang harus membaca, mempelajari dan memilah-milah dan menyeleksi mana yang pantas dan tidak pantas untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, hal tersebut tidak boleh bertentangan dengan dua dasar kebenaran sejati.

Bagaimana bisa pengampunan yang  dianugerahkan Allah disejajarkan dengan lembaran kertas yang fana?

Di samping sejarah yang baik tentang kehidupan, ada pula pengalaman masa lalu yang sangat mencolok tetapi nyatanya tidak benar. Sebab keputusan tersebut diambil oleh seorang pemimpin besar yang sangat berpengaruh bagi masa depan kekristenan. Bagaimana mungkin “pengampunan bisa dibeli dengan selembar surat yang dibuat oleh manusia?” Memang kita bisa saling mengampuni satu sama lain tetapi bukan dengan cara “membelinya!” Jadi, masing-masing orang bisa saling memaafkan sebab dosanya telah lebih dahulu dihapus Allah namun salah besar jika pengampunan itu bisa diperdagangkan. Ini seperti perilaku Simon si tukang sihir yang ingin membeli kuat-kuasa Roh Kudus yang dimiliki oleh rasul-rasul.

Contoh dalam Alkitab yang menyamakan anugerah Allah dengan materi duniawi

Simon si tukan sihir ini memang dari kelihatannya sudah bertobat dari keduniawiannya. Ia menjadi percaya kepada Ajaran Kekristenan yang didengarnya bahkan sampai memberi dirinya dibaptis oleh rasul Filipus. Sayang, dia gagal fokus karena hatinya lebih berat kepada kenikmatan duniawi (uang) dan kemuliaan duniawi (kuasa Paulus). Simon si tukang sihir ini menginginkan kuat kuasa yang menyertai para rasul dan siap membayar dengan sejumlah uang yang besar. Akan tetapi, pemikirannya ini sesat sebab dia beranggapan bahwa kasih karunia Allah bisa diperjual-belikan semudah itu. Oleh karenanya, rasul Petrus menghardiknya sebab jahat maksud hatinya walau dari luar tampak antusias dengan ajaran kristen. Seperti kata firman

(Kisah Para Rasul 8:20-23) Tetapi Petrus berkata kepadanya: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.  Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.”

Megamateri membuat manusia lebih bersandar kepada kertas pahlawan daripada Tuhannya

Harap diketahui bahwa di zaman sekarang uang adalah saingan berat bagi perkembangan rohani setiap orang percaya. Sebab kekuatan uang bisa saja membuat seseorang melupakan Tuhan. Materi yang memberikan kenikmatan dan kemuliaan duniawi memang lebih menggoda hati terlebih kalau jumlahnya besar melimpah. Megamateri ini membuat manusia lebih cinta terhadap dunia sehingga menggeser posisi Tuhan dari dalam kehidupannya. Istilahnya, seseorang bisa lebih mempercayai indranya yang telah menyaksikan hal-hal yang menakjubkan yang bisa dibeli dengan segepok duit. Ia tidak lagi melihat kebenaran sebagai kebutuhan yang utama melainkan lebih terpikat hatinya oleh kemewahan, kenyamanan, kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Bahkan dirinya sendiri rela menghalalkan segala cara demi meraih dan mempertahankan semuanya itu.

Tidak ada masalah soal materi, itu kebutuhan tetapi yang banyaknya kebangetan akan berdampak negatif

Harap diketahui bahwa uang tidak pernah salah dalam kehidupan kita. Sebab lembaran kertas itu hanyalah materi yang bahkan tidak mampu bergerak sendiri tanpa dipindahkan oleh seseorang. Letak kesalahannya adalah pada jumlah yang diberikan kepada masing-masing manusia. Pemerintah seharusnya membagikannya secara adil kepada seluruh masyarakat. Keadilan sosial di sini identik dengan pemerataan pendapatan yang diterima oleh masing-masing keluarga. Tanpa pemerataan orang-orang tertentu mendapat jumlah uang yang berlebihan. Akibatnya, mereka yang memiliki materi yang sangat besar mengalami gangguan kepribadian dan meninggalkan imannya kepada Tuhan.

Uang adalah kekuasaan yang berpotensi menentang kebenaran lalu membuat manusia menjadi arogan, manipulatif dan serakah

Manusia yang hidup dalam kemewahan cenderung berada dalam zona nyaman terus-menerus sehingga melupakan sisi kehidupan yang menawarkan gejolak. Saat ada masalah yang menghampirinya, tindakan mereka menjadi sangat agresif melampiaskan dendam yang terselubung. Tipu muslihat akan disebarkannya untuk mencapai keinginan hatinya yang sangat angkuh. Orang-orang sombong ini sangat tidak bisa dihentikan karena harta benda dan kekuasaan yang dimilikinya luar biasa tinggi. Fisiknya bisa saja datang ke Gereja tetapi hatinya dipenuhi oleh rancangan kejahatan untuk lebih unggul dari sesama, melakukan manipulasi dan tamak terhadap sumber daya. Dengan besarnya kuasa, membuatnya merasa tidak masalah untuk membawa lari hak dan merugikan sesama serta lingkungan sekitar. Bagaimana lagi bisa ada Tuhan dalam diri oknum kapitalis tersebut? Sedang tujuan hidup yang direka-rekakannya jahat dan bertentangan dengan kebenaran hakiki (kasihilah Tuhan sepenuhnya dan sesama secara adil – sama seperti dirimu sendiri).

Jadi, sudah jelaslah bahwa uang tidak bertentangan dengan kekristenan tetapi jumlahnya yang terlalu besar membuat manusia ketergantungan sehingga melupakan Tuhannya. Sudah otomatislah bahwa saat seseorang tidak lagi memiliki Tuhan di dalam hatinya berarti kasihnya kepada sesama pun telah memudar. Artinya, orang yang menggilai kuasa materi pastilah akan merasa tidak bersalah kalau dirinya mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri dan kelompoknya. Sekonyong-konyongnya, setelah semua kekejian tersebut, mereka akan membenarkan dirinya dengan mengutip beberapa ayat di dalam Alkitab. Intinya, tujuan mereka adalah untuk merasa diampuni dari dosanya dengan mengutip ayat Alkitab tertentu. Padahal dengan berlaku demikian, mereka menyepelekan kasih karunia Allah.

Fulus gede-gedean bukan saja ancaman bagi kekristenan tetapi bagi sistem/ negara

Uang yang sangat besar tidak hanya merusak keyakinan manusia terhadap kebenaran melainkan turut pula melemahkan sistem/ organisasi/ negara. Sebab negara yang memberi umpan materi kepada penduduknya agar mereka semangat bekerja justru akan membuat rakyatnya cinta hal-hal duniawi. Kecintaan terhadap hal duniawi ini membuat masyarakat sangat konsumtif. Sedang di sisi lain sejumlah orang melakukan manipulasi data untuk mengarahkan rakyat agar mengkonsumsi berbagai produk (barang dan jasa) yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Iklan akan digembar-gemborkan lewat berbagai media untuk memaksakan produk tertentu dibeli oleh khalayak. Perusahaan tersebut akan tenar dengan omset miliaran rupiah dan memanjakan karyawannya dalam kemewahan, foya-foya, pesta pora dan lain sebagainya. Semua aktivitas ini berpotensi merusak lingkungan dan menimbulkan bencana alam sehingga infrastruktur rusak dan banyak yang akan kehilangan nyawa. Bukankah ini kerugian besar buat sistem/ organisasi/ negara?

Pengertian : “Menganggap rendah kasih karunia Allah”

Sepele adalah remeh, enteng, tidak penting; menurut KBBI Luar Jaringan. Sedang yang dimaksud dengan menyepelekan kasih karunia Allah adalah sikap yang abai dan menganggap remeh bahkan terkesan mempermainkan kasih karunia yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Ini biasanya dilakukan oleh kalangan intelektual kristiani yang mendukung kapitalisasi perseorangan/ kelompok dalam masyarakat. Mereka akan menjajakan anugerah Allah untuk diobral murah agar dosa-dosa orang yang tebal duitnya dapat diampuni sekali pun dilakukan secara sengaja dengan perencanaan matang. Kejahatan tersistem yang mengorbankan orang lain akan disahkan saja demi kepentingan masyarakat kelas atas dengan memandang firman Tuhan dari sudut sempit.

Tuhan sudah jelas tidak akan membiarkan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya disejajarkan dengan nilai materi yang fana hasil ciptaan kecerdasan manusia. Sebab bila anugerah tersebut setara dengan uang maka hanya orang-orang kayalah yang beroleh selamat sebab uangnyalah yang menyelematkan kehidupannya. Padahal, dirinya bisa saja mengusahakan semuanya itu dengan cara yang kurang benar lewat aksi penipuan dan membohongi sesama. Lalu dengan senang hati datang ke hadirat Tuhan sembari menaruh segopok uang maka dosa-dosanya pun terbayarkan. Sadarilah bahwa Allah yang kita sembah kudus adanya dan tidak mau menajiskan diri-Nya dengan berbagai kedegilan hati yang disengajai. Seperti ada tertulis.

(I Petrus 1:16) sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Lagi firman-Nya berkata demikian.

(Yesaya 48:11) Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!”

Hindari mengaplikasikan nilai-nilai Alkitab yang bertentangan dengan “kasih yang utuh kepada Pencipta” dan “kasih yang sama dengan diri sendiri kepada sesama

Para cendikianwan ini memang jago dan pintar-pintar mengambil  ayat tertentu dalam Alkitab tanpa memperhatikan standar kekristenan. Segala nilai yang diambil di dalam Alkitab seharusnya tidak bertentangan dengan kasih kepada Tuhan yang seutuhnya dan kasih kepada sesama seperti diri sendiri. Masakan diperbolehkan mencuri (menyerobot) hak, merugikan dan membunuh orang lain agar uang & jabatan yang dikuasai semakin meluap? Apakah kita diperbolehkan untuk melenyapkan orang yang tidak bersalah agar kehidupan yang lainnya tetap mewah, nyaman dan mulia? Allah menuntut kita untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Artinya apa yang kita lakukan untuk diri sendiri, kita lakukan sama kepada orang lain. Hak-hak yang kita terima harusnya sama dengan sesama. Jika anda berhak hidup maka anda pun tidak boleh merugikan apalagi membunuh seseorang.

Jangan pernah terbesit dalam pikiran anda untuk membenarkan dosa (melanggar hukum Taurat)

Sikap hati yang mengabaikan dosa dan acuh tak acuh terhadap akibat yang ditimbulkannya merupakan suatu bentuk meremehkan kebijaksanaan Tuhan. Kita bisa saja menguji seseorang untuk tujuan tertentu tetapi tidak sampai merugikannya secara fisik/ materi apalagi membunuhnya. Tindakan berlebihan yang disengaja dan direncanakan semacam ini jelas merupakan dosa besar. Lantas, beberapa orang berusaha mencari alibi dengan menganggap bahwa kesalahan yang tersistem itu bisa diampuni. Mereka memanfaatkan karya penyaliban Yesus Kristus yang menyatakan bahwa semua dosa kemarin, sekarang dan di masa depan yang kita lakukan telah dimaafkan. Padahal dengan berbuat demikian, mereka menganggap bahwa kejahatan itu baik sebab pelanggaran tersebut telah diampuni lewat salib Kristus.

(Yesaya  5:20) Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.

Sikap sepele terhadap kesalahan & kasih karunia Bapa

Secerdas apapun manusia di dunia ini, mana mungkin kita lebih bijaksana dari Sang Khalik? Selicin dan selihai apapun alibi yang kita utarakan untuk membela diri dari pelanggaran yang dilakukan, ganjaran dari dosa itu tetap ada. Akibat kesalahan ini akan dituai dalam bentuk bencana dan di akhirat kelak, siap-siap masuk ke liang neraka dimana ratap, tangis dan kertak gigi tidak akan pernah berhenti. Menyepelekan kasih karunia Yang Maha Kuasa sama saja dengan merendahkan Tuhan. Seolah-olah kita yang adalah manusia hina saja mampu mengakali berbagai firman yang keluar dari mulut-Nya. Sadarilah bahwa Allah yang kita sembah membalas sikap yang mempermainkan firman-Nya dengan mempermainkan orang-orang yang menekuni hal tersebut. Seperti kata firman.

(Ayub  5:13) Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya sendiri, sehingga rancangan orang yang belat-belit digagalkan.

Lagi katanya demikian.

(Mazmur  18:27) terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

Berikut akan kami ajukan beberapa contoh dari kebiasaan buruk mempreteli firman Yang Maha Kudus agar dosa yang disengaja, direncanakan dan terorganisir seolah-olah ditolerir Allah.

Cara licik mempermainkan kemurahan hati Tuhan

  1. Merasa bebas melakukan kejahatan dan saat beribadah ke Gereja pasti diampuni.

    (I Raja-raja 8:30) Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya di tempat kediaman-Mu di sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.

    Pencipta yang kita sembah adalah maha tahu dan maha mengerti segala sesuatu. Semua manusia paham betul akan hal ini, kita juga memahami bahwa Allah yang kita sembah adalah murah hati. Seperti tertulis dalam firman-Nya.

    (Yeremia 3:12b) Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman TUHAN, tidak akan murka untuk selama-lamanya.

    Beberapa orang yang merasa bijaksana, akan memanfaatkan firman tersebut untuk melegalkan kesalahannya yang jelas-jelas dilakukan secara terstruktur, terencanan dan disengaja. Mereka merasa bahwa hikmatnya sangat tinggi dalam memahami firman Allah. Berpikir dalam keangkuhannya bahwa dirinya bisa mengkibuli Penciptanya. Apakah Allah yang sungguh bijaksana dalam setiap keputusan-Nya membiarkan orang-orang ini merajalela dalam pelanggarannya. Saking Pdnya mereka berkata dengan congkak “kita selamat! Padahal tangannya penuh dengan kejahatan yang disengaja dan direncanakan matang-matang.”

    (Yeremia 7:9-11) Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini! Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Aku sendiri melihat semuanya,

  2. Merasa bebas melakukan dosa disengaja setelah memberi persembahan.

    (Yesaya 1:11) “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusuka

    Lagi Allah berpesan.

    (Yesaya 1:15-17) Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

    Ada segelintir oknum bermodal tebal (kapitalis) yang berpikir bahwa dengan memberi persembahan yang jumlahnya besar maka dosanya sudah otomatis diampuni. Saat persepuluhannya lebih gede dari yang seharusnya (lebih dari sepuluh persen pendapatan) maka firman yang dilangkahinya akan sertama merta dimaafkan. Mereka menganggap enteng kejahatannya sehingga hal tersebut terus-menerus diulang-ulang. Sebab dalam hatinya tersirat pemahaman “Ahh…. Nanti juga kasih persembahan persepuluhan dan ucapan syukur pasti semua dihapuskan.”

    Apakah menurut anda, Yang Maha Kuasa seperti manusia yang bisa disogok? Karena memiliki modal yang sangat tebal maka dengan mudah meletakkannya di dalam kolekte dan berharap setiap kejahatan yang disengajai walau sudah diingatkan Roh Kudus (suara hati) akan mendapatkan kasih karunia pengampunan dari Tuhan. Anggapan seperti ini jelas mengejek ketetapan Allah, khususnya tentang dasar firman yang kedua, yaitu “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan kebijaksanaan bohong dimana semata-mata dimanfaatkan agar kejahatan itu seolah sah-sah saja. Seperti ada tertulis.

    (Yesaya 47:10) Engkau tadinya merasa aman dalam kejahatanmu, katamu: “Tiada yang melihat aku!” Kebijaksanaanmu dan pengetahuanmu itulah yang menyesatkan engkau, sehingga engkau berkata dalam hatimu: “Tiada yang lain di sampingku!”

  3. Merasa bebas melakukan dosa setelah melakukan kebaikan kepada sesama.

    (Lukas 7:47a) Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

    Senyatanya perkataan Yesus Kristus ini benar bisa diterapkan oleh orang-orang yang berdosa. Mereka yang berbuat banyak kesalahan di masa lalu lantas memforsir dirinya untuk sebanyak-banyaknya berbuat kebaikan kepada sesama sehingga dimaafkan Tuhan.

    Lantas beberapa orang yang licin dan sombong beranggapan bahwa dirinya bebas melanggar perintah Tuhan. Mereka berusaha mencapai tujuan hidupnya dengan menghalalkan segala cara. Tidak merasa terbeban melakukan dosa sekalipun ditegur berulang kali oleh Roh Kudus. Mudah saja pikirnya untuk menebus kesalahan tersebut saat maksud hatinya sudah tercapai, yaitu dengan banyak-banyak berbuat baik. Mereka beramal dan sedekah kepada sesama sebanyak-banyaknya, membagi-bagikan sembako kepada sejumlah besar keluarga yang tidak mampu. Padahal dosa yang disengaja dengan menentang bisikan Roh Allah tidak bisa diampuni baik sekarang maupun akhirat kelak. Seperti ada tertulis.

    (Lukas 12:10) Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.

    Orang kristen adalah kristus-kristus kecil, konteks anak manusia bisa juga disetarakan dengan setiap orang percaya. Jadi, di antara sesama orang percaya kita boleh berlawanan dalam berbagai hal. Kesalahan karena berbagai pertentangan tersebut pastilah akan diampuni lewat karya penebusan Yesus Kristus. Akan tetapi, saat kita melawan Roh Kudus yang notabene ada di dalam diri masing-masing, dosa itulah yang tidak akan ditolerir. Harap diketahui bahwa bisikan Roh Kudus adalah Allah sendiri, masakan Dia membiarkan orang-orang yang mengabaikan titah yang langsung disampaikan-Nya?

    Sadarilah bahwa Allah tidaklah bodoh sehingga kita bisa menutupi berbagai ketidaktaatan yang disadari plus disengajai tersebut dengan melakukan kebaikan. Tuhan maha adil sehingga tidak bisa dikibuli oleh manusia hina seperti kita. Ia akan membalaskan berbagai dosa yang kita perbuat karena sudah berulang kali membangkang sekalipun telah diingatkan oleh suara hati (Roh Kudus) sendiri.

  4. Merasa bebas mengorbankan orang lain demi kepentingan orang banyak.

    (Lukas 11:49-50) Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”

    Ini adalah ayat favorit, idola para kapitalis. Bagi mereka membunuh seseorang atau beberapa orang demi kepentingan orang banyak merupakan suatu hal yang lumrah. Mereka memakai dasar firman yang diucapkan oleh imam Kayafas, yang notabena adalah orang jahat yang bersekongkol (berkonspirasi) untuk menyalibkan Yesus Kristus.

    Oknum pemimpin kapitalis biasanya akan menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakannya dalam hal mengurangi jumlah penduduk. Mereka bisa saja melenyapkan sekelompok orang, baik lewat kecelakaan disengaja dan bencana alam yang dibiarkan. Di sisi lain pembunuhan masal secara terang-terangan dilakukan (misal terorisme) untuk dijadikan sebagai dasar alibi balas dendam demi menyerang bahkan melenyapkan kelompok lain. Padahal semuanya itu dilakukan untuk menyerobot sumber daya yang ada dalam satu wilayah.

    Apakah menurut anda Tuhan akan membiarkan hal ini begitu saja? Ingatlah bahwa Tuhan sedikit pun tidak akan pernah membiarkan orang-orang yang percaya kepada-Nya dikorbankan demi kepentingan yang lainnya. Sebab Ia sangat menyayangi umat-Nya sampai mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Masakan Allah akan membiarkan tindakan yang keji ini? Seperti yang termuat dalam firman-Nya.

    (Zakharia 11:17) Celakalah gembala-Ku yang pandir, yang meninggalkan domba-domba! Biarlah pedang menimpa lengannya dan menimpa mata kanannya! Biarlah lengannya kering sekering-keringnya, dan mata kanannya menjadi pudar sepudar-pudarnya!”

    Firman di atas menjelaskan hukuman bagi para pemimpin yang meninggalkan umatnya/ rakyatnya begitu saja. Meninggalkan atau menelantarkan masyarakat saja hukumnya mengerikan apalagi kalau sampai membunuh dengan sengaja yang direncanakan secara matang. Sadarilah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kehilangan wibawa di antara manusia.

    Pemimpin harus bertanggung jawab terhadap nasib bawahannya. Terlebih saat pendapatan dan permasur yang diterima puluhan juta. Artinya, penghasilan besar maka tanggung jawab juga besar. Bukankah gaji segede itu sudah ikut berkewajiban menjamin kelangsungan hidup seluruh anak buahnya? Simak juga teman, Bahaya penghasilan yang tinggi-tinggi. Sayang, betapa bebalnya oknum pemimpin ini, sudah digaji tinggi-tinggi tetapi masih saja memanfaatkan pengikutnya sebagai tumbal untuk mencapai tujuannya yang sangat sempit. Bahkan mereka pikir dirinya bijak dengan mencaplok firman yang diucapkan oleh musuh Yesus Kristus. Padahal dengan berlaku demikian, mereka pun dan kelompoknya telah menjadi lawan Tuhan di dunia ini dan di akhirat kelak.

  5. Merasa bebas berbuat jahat karena Yesus Kristus telah mati di kayu salib menebus dosa manusia.

    (Ibrani 9:28) demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

    Apakah ada keselamatan di dalam Yesus Kristus? Ya. Apakah sorga itu pasti kalau kita percaya kepada-Nya? Ya. Tapi masakan Allah akan membiarkan orang-orang yang sengaja melakukan dosa lalu memaafkannya pula? Apakah Allah sebodoh itu sehingga kita bisa mengakali keselamatan yang dianugerahkan-Nya? Sadarilah saudara bahwa Tuhan tidak akan membiarkan karya penebusan yang dianugerahkan oleh Yesus Kristus kehilangan integritas di bumi ini. Masakan Dia mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar segelintir orang bebas dalam kedegilan hatinya yang disengajai? Yang Maha Kuasa adalah hakim yang adil, jangan pernah berpikir bahwa anda dapat merendahkan kebenaran firman-Nya. Seperti kata firman.

    (Ibrani 10:26) Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

  6. Merasa bebas berlaku keji dan baru bertobat nanti saat sudah tua/ kalau hampir mati.

    (Lukas 23:43) Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

    Ini adalah ayat favorit yang digunakan oleh segelintir anak muda untuk melakukan dosa sebebas-bebasnya. Pikirnya masa muda adalah sesuatu yang harus dinikmati tanpa memperhatikan firman dan mengabaikan aturan yang dibuat oleh orang dewasa (orang tua). Ada pemuda yang merasa bahwa masa hidupnya adalah kesempatan untuk mengkonsumsi narkoba, melakukan seks bebas, mabuk-mabukan dengan miras, terjun dalam perjudian, mencuri secara diam-diam dan mencelakakan teman bahkan membunuh juga. Ia merasa berhak menikmati semuanya itu dan pasti diampuni sebab rencananya di masa tua nanti barulah benar-benar bertobat dan menjadi kristen sejati.

    Perilaku semacam ini merupakan salah satu upaya manusia untuk mencurangi firman Allah. Merasa bahwa kita lebih bijaksana dari Yang Maha Mulia sehingga dapat pula mempermain-mainkan kebenaran sejati? Hari ini bisa jadi orang benar tapi besok tidak, saat di rumah baik-baik tetapi waktu jalan-jalan suka nakal. Saat masih muda jadi berandalan tetapi waktu tua nanti akan jadi orang alim dan berbagai bentuk inkonsistensi yang disengaja lainnya. Pikirmukah Tuhan tidak memahami tujuan hatimu yang keji itu? Jangan sepele dengan penghakiman-Nya kelak akan mengupas seluruh sisi kehidupan. Artinya, suatu kejahatan tidak dilihat dari satu sisi saja melainkan akan dinilai dari berbagai sudut pandang, apakah itu murni kekhilafan yang tidak direncanakan atau malah dibuat-buat untuk mengambil untung demi diri sendiri (secara duniawi).

    Kami juga pernah muda, itu penuh dengan kesalahan bahkan beberapa kekhilafan dilakukan di depan umum. Selama itu tidak disengajai dan hati tidak mengingatkan sebelumnya, selama itu pula kesalahan kita diampuni. Kita pun bisa menguji diri sendiri dalam hal pornografi tetapi tidak kecanduan melihatnya selama setengah jam sampai berjam-jam. Banyak-banyaklah menginjak diri sendiri agar dapat bertahan saat diejek/ diledek teman.

    Jangan keraskan kapalamu saat suara hati mulai berkata untuk mengubah haluan hidup lebih dekat pada kebenaran. Beranikan diri untuk beramah tamah dan memberi perhatian kepada sesama. Jawab permainan komunikasi tanpa mengabaikannya sama sekali. Menderita dan bertahanlah oleh karena anda berada di jalan yang benar. Suatu saat nanti, anda akan terbiasa dengan yang namanya rasa sakit sebab fokus selalu mampu diarahkan kepada Tuhan (misalnya memuji-muji nama-Nya, berdoa dan membaca firman). Sadarilah bahwa penghiburan dan kebahagiaan sejati itu hanya diperoleh dengan cara mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Semuanya ini hanyalah awal saja sebab sebagai orang muda yang masih belum memiliki penghasilan sendiri agak susah untuk mengasihis sesama lewat materi. Kita melakukan kebaikan lewat sikap yang santun dan potensi (jasa) yang dimiliki saja. Jika memang anda sudah mampu memberi lewat uang atau barang atau jasa, silahkan saja.

  7. Merasa bahwa kuasa Roh bisa dibeli dengan sejumlah uang.

    (Kisah Para Rasu 8:18) Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka,

    Masing-masing orang memiliki karunia berbeda-beda. Hal tersebut dianugerahkan oleh Allah dan digali oleh masing-masing pribadi. Benih-benih talenta tersebut telah ditanamkan dalam diri setiap manusia. Akan tetapi untuk mengembangkannya perlu digali, ditekuni dan dikerjakan dengan sepenuh hati juga harus mampu melewati berbagai rintangan/ penderitaan yang ada. Namun karunia ini tidak bisa diperdagangkan. Jangan berpikir bahwa harta yang banyak itu adalah jaminan untuk beroleh kuasa Roh.

    Justru yang terjadi adalah sebaliknya, harta duniawi yang terlalu berlebihan dimana menawarkan kesenangan sesaat bisa menjauhkan kita dari Allah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kenikmatan, kemuliaan, kenyamanan, kemewahan dan kemudahan yang lebay telah menguasai indra sehingga menjadi kecanduan. Lantas hal-hal tersebut menciptakan zona nyaman yang menina bobokan kekuatan iman sehingga kuasa yang dianugerahkan oleh kasih karunia Allah meredup bahkan hilang sama sekali. Lagi pula dengan gelimangan kekayaan dan kekuasaan, seseorang berpotensi mencelakakan sesamanya, baik secara langsung (merampas hak, merugikan, melukai, membunuh dengan tangan sendiri atau lewat perantara) maupun secara tidak langsung (sifat konsumtif menumpuk sampah-polutan sehingga lingkungan tercemar dan menyebabkan bencana alam yang merugikan orang lain).

    Kuasa Roh hanya diperoleh berdasarkan kasih karunia Allah. Biasanya, ada tantangan yang besar dan panjang sampai seseorang mampu mengasahnya untuk digunakan memuliakan nama Tuhan dan bukan untuk mencari nama (kemuliaan) bagi dirinya sendiri. Berpikir untuk membeli kuasa Roh dengan kertas ajaib atau harta benda yang fana sama saja dengan memandang sebelah mata kehendak Allah. Seperti ada tertulis.

    (Roma 9:15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia  6:7). Masakan Tuhan mau wibawa kebenaran yang hendak ditegakkan-Nya di atas bumi ini diinjak-injak oleh cendikiawan licik? Orang-orang sesat yang mempermainkan anugerah keselamatan demi uang dan kekuasaan akan mendapatkan hukuman yang setimpal selama hidupnya di dunia ini maupun di akhirat kelak. Mulai sekarang, marilah kita konsistem mengasihi Tuhan seutuhnya dan mengasihi sesama dengan adil. Jika ada kesalahan yang terjadi tanpa sepengatahuan kita, tanpa direncanakan dan tanpa sengaja, pastilah diampuni-Nya. Akan tetapi sekalipun kita melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi dan merancangnya dalam lubuk hati paling dalam lalu melakukannya seolah-olah tanpa sengaja: pelanggaran apa pun itu tidak akan dimaafkan lagi. Sang Pencipta Adalah hakim yang sangat adil dan tidak ada yang dapat dirahasiakan dihadapan-Nya, baik dulu, sekarang maupun yang akan datang.

Salam,
Manfaatkan kasih karunia dengan bijak,
Jangan berpikir firman bisa dipreteli
melegalkan kesalahan yang dilakukan
Jangan pernah terbesit dalam pikiran,
untuk menyepelekan dosa dan
menginjak-injak wibawa kebenaran
yang adalah Allah sendiri!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.