Kata-Kata Bijak & Motivasi Kehidupan

+7 Tujuan Berbuat Baik Yang Salah & Benar – Apa Balasan Kebaikan Yang Pantas Kita Harapkan?

Kebaikan adalah nafas kehidupan kita. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah berlaku baik, melainkan semua manusia adalah pembuat kebaikan (the good maker). Jangankan manusia, setiap komponen di alam semesta juga saling berbuat apa yang terbaik untuk dirinya sendiri dan untuk komponen lainnya. Misalnya saja matahari mengirimkan sinarnya dari jauh sedangkan bumi mengirimkan unsur hidrogen ke atas sana. Demikian juga dengan tanaman yang memberikan oksigen dan kesejukan bagi manusia; sedang kita berutang pemeliharaan, penjagaan dan sumbangsih kotoran ke tanaman. Tumbuhan menyediakan makanan bagi herbivora lalu menyediakan daging bagi karnivora. Mangsa ada untuk menyediakan makanan bagi predator (pemangsa).

Setiap bagian di alam semesta terhubung dengan yang lainnya lewat rantai energi. Itulah sampai saat ini, mustahil jika kita merasa mampu hidup sendiri di dunia ini. Sekalipun hanya satu spesies saja makhluk hidup yang ada, yaitu manusia dengan segala kecerdasannya, tidak mungkin bisa bertahan jenisnya. Sebab pertukaran energi kebaikan antar seluruh makhluk hidup di bumi berputar terus-menerus dari waktu ke waktu. Justru hubungan timbal balik inilah yang membuat alam semesta seimbang adanya. Memang terlihat saling merugikan tetapi sesungguhnya semua itu sifatnya saling menguntungkan hanya terlambat disadari. Terkecuali jika manusia mulai hidup mewah dan nyaman berlebihan (serakah) sehingga sumber daya tereksploitasi yang membuat lingkungan rusak, terjadi bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Persepsi yang kurang tepat atas balasan kebaikan

Apa yang dijanjikan orang tua kepada anda saat disuruh untuk berbuat kebajikan? Atau apa yang dijanjikan guru/ dosen kepada anda saat diarahkan untuk berbuat baik? Pula apa petunjuk yang diberikan pemuka agama kepada anda saat diperintahkan untuk melakukan yang benar? Mungkin saja dijanjikan agar memperoleh hal-hal baik yang lain, harta, penghargaan, penghormatan, jabatan dan berbagai kelimpahan lainnya. Memang semuanya ini adalah benar adanya sebab saat di sorga nanti, setiap orang percaya adalah manusia super yang hidup dalam cahaya bersama-sama Allah. Tahukah anda apa pekerjaan kita saat di firdaus? (4) Menonton film kehidupan tanpa skenario. Saat itu kita sebagai malaikat kelak, tidak hanya seperti menonton televisi yang monoton melihat saja. Melainkan para malaikat yang menyaksikan kehidupan manusia biasa (di bintang = di planet = di bumi yang lain) akan mampu (5) mempengaruhi, (6) menghasut juga (7) mendatangkan bencana atas seseorang atau suatu daerah (baca Alkitab anda dan peran malaikat di dalamnya).

Kebaikan yang dibalas dengan kelimpahan kurang tepat bila kita terima di bumi ini sebab kelimpahan harta benda justru akan menyebabkan gangguan kepribadian, kerusakan lingkungan dan bencana. Melainkan lebih tepatnya kelimpahan itu akan kita peroleh saat di sorga. Sebab (1) tanah di atas matahari terbuat dari emas murni dengan batu yang mahal-mahal, (2) kita mampu melakukan apa saja (sendiri layaknya manusia super), mendatangkan keajaiban yang nyata dan yang lebih berharga dari semuanya itu adalah (3) kita melihat wajah Allah yang sebelumnya dipuja-puji saat kita masih dalam dunia yang fana. Di atas semuanya itu, jangan sesat lalu menyembah matahari seperti firaun dan rakyatnya tempo dulu tetapi sembahlah Tuhan dalam roh dan kebenaran.

Para pengajar memfokuskan pikiran kita kepada sorga dan janganlah mengharapkan hal tersebut di bumi. Sebab kekayaan yang terlalu besar di bumi hanya mendatangkan petaka bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Tujukan pengharapan anda di kehidupan kita yang akan datang di sorga kelak agar selalu ada semangat saat melakukan kebaikan. Jangan berputus asa melakukannya walau terkadang tidak mendapat apa-apa. Di atas semuanya itu lakukanlah dengan bijaksana, belajar dari pengalaman sendiri, pelajari juga orang di sekitar tanpa kehilangan nilai yang benar itu.

Upah (hasil) Kebaikan - Tujuan Berbuat Baik Yang Salah & Benar – Apa Balasan Kebaikan Yang Pantas Kita Harapkan

Selalu lakukan lebih

(Matius 5:40-42) Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Semua firman yang diucapkan Tuhan Yesus Kristus bagi orang-orang duniawi tidak masuk akal. Termasuk firman yang satu ini dan tentang mengasihi musuh, siapakah yang mau melakukan semuanya hal yang jelas merepotkan itu? Tetapi dari sini kita bisa paham, apa yang dikatakan-Nya adalah benar sebab semuanya itu bersoal tentang aktivitas positif, keadilan, kecerdikan dan pengorbanan yang tulus. Orang yang aktif pastilah selalu bisa melakukan hal-hal baik kepada sesamanya. Saat tidak ada keadilan sosial maka lebihnya harta berpotensi dipinjam/ diminta oleh orang lain, jika tidak memberikannya berarti hati kurang mengasihi sesama seperti diri sendiri. Saat berbuat baik, kita perlu cerdik mengorbankan hal-hal yang telah dianugerahkan Allah kepada diri ini. Berikan apa yang lebih itu kepada sesama agar kita setara dan lakukanlah dengan tulus hati tanpa menuntut balasan apa-apa.

Dalam hal berbuat baik inilah banyak kapitalis yang terjebak. Sebab mereka tidak mungkin memberikan hartanya yang puluhan, ratusan bahkan miliaran rupiah itu kepada sesama. Padahal Tuhan telah menganjurkan hal tersebut (Bacalah kisah tentang “Orang muda yang kaya – Matius 19:16-26). Secara berangsur-angsur keadaan inilah yang membuat mereka lebih cinta kepada kekayaannya dibandingkan melakukan kebajikan. Sebab berbaik hati otomatis merugikannya sehingga terbentuklah mental pelit yang enggan berkorban kepada sesama.

Dalam ujian kehidupan juga, lakukanlah lebih

(Matius 5:39) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Memang “Yesus Kristus jelas adalah Tuhan.” Sebab ajaran-Nya mewartakan hal-hal yang menakjubkan dalam kehidupan kita. Awalnya memang kita menganggap bahwa hal tersebut tidak masuk akal tetapi sesungguhnya tersimpan makna yang mendalam dibaliknya. Seperti kata-Nya, “Dan siapa pun yang yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Ajakan ini adalah suatu niat hati yang berupaya membiarkan lawan kita untuk menang dalam masalah yang sedang dihadapi. Sebab semakin kita pertahankan apa yang menjadi ego makin rumit hubungan kita dengan musuh. Akan tetapi, saat membiarkan ego tersebut hancur niscaya akan melebur menjadi rasa kebersamaan yang setara.

Mengasihi musuh adalah taktik terhebat dalam menghadapi ujian sosial. Terlebih saat berhadapan dengan musuh yang sudah bertahun-tahun membuat kita saling bertikai. Yakinlah bahwa semakin pelit berbuat baik kepada lawan-lawan kita maka drama pertikaian makin panjang sedang hati pun jadi gelisah, galau dan gundah terutama saat bertemu dengan mereka. Akan tetapi, lepaskan saja kebaikanmu kepada mereka walau pun diabaikan, beri perhatian yang bijak walau pun dicuekin. Memang awalnya menyakitkan tetapi orang yang melakukan lebih akan menjadi terbiasa sedang hati pun lega sebab kita telah melaksanakan kewajiban seperti yang diperintahkan Tuhan. Jangan pernah kikir berbuat baik walau di tengah ujian kehidupan sembari fokuskanlah pikiran memuliakan Tuhan di dalam hati.

Misalnya saja, dalam ujian komunikasi, saat kita cuek dipermain-mainkan orang maka kedamaian itu rasanya lenyap. Akan tetapi, ketika mampu menjawabnya dengan cara konsisten (jawaban sama) dan kreatif (jawaban berkembang, kreatif layaknya bercerita) niscaya semua akan mampu terbiasa dan mendatangkan kebahagiaan. Akan kami berikan beberapa contohnya.

a. Teknik kreatif (bercerita)

Si A : Mau kemana?
Si B : Ke pasar…
Si A : aaa…
Si B : Membeli ikan…
Si A : aaa…
Si B : Untuk lauk nanti malam…
Si A : aaa…
Si B : Ayok  ya…
Si A : aaa…
Si B : Mau ikut nggak?
Si A : …..
Si B : (pergi meninggalkannya)

b. Teknik konsisten

Si C : Lagi ngapain?
Si D : Belajar…
Si C : aaa…
Si D : Sedang belajar…
Si C : aaa…
Si D : Belajar…
Si C : ….

Dua teknik di atas bisa digunakan kapan saja. Buka pikiran fokus kepada Tuhan (doa, firman & nyanyian pujian) juga kembangkan kosa kata yang dikusai agar lewat ujian komunikasi, kecerdasan kita tumbuh. Harap dipahami bahwa semuanya ini tidak semudah membalikkan telapak tangan melainkan terbiasalah sehingga lama-lama menjadi luwes. Sikap fleksibel (teknik konsisten atau kreatif) dalam menjawab ujian komunikasi tidak hanya meningkatkan kecerdasan intelektual melainkan kecerdasan mengendalikan emosi juga. Di atas semuanya itu, jangan terlalu perhitungan di dalam hidup ini, lepaskan apa yang yang bisa dilepaskan, lepaskan keramahan, lepaskan kesantunan dan hal-hal baik lainnya. Tentunya semua ini harus dilakukan secara bijaksana pada momen yang tepat.

Jauhkan keinginan dari kebaikan anda

Pengotor dari setiap sikap baik adalah keinginan dibaliknya. Ketahuilah bahwa semakin banyak keinginan maka makin besar pula harapan. Saat harapan yang berlebihan tidak terpenuhi maka muncullah rasa kecewa. Perasaan sakit hati setelah dikecewakan  dapat mengakar dalam jiwa sehingga kurang semangat dan enggan melakukan kebaikan lainnya. Oleh sebab itu, minimalisir yang namanya keinginan tetapi jangan lupa dengan kebutuhan dan hak anda. Semakin tulus hati ini saat berbuat kebajikan maka ekspresinya seperti terlepas tanpa beban. Biasanya saat ada banyak keinginan yang belum tercapai, kita bersusah hati dan lebih suka malas-malasan untuk melakukan apa pun. Tetapi orang yang mampu mengabaikan keinginan yang aneh-aneh sambil fokus pada hal positif tanpa melupakan kebutuhan dan haknya akan hidup tenteram dalam setiap sikap benar yang diekspresikan.

Kita gila oleh keinginan yang tak terwujud – untuk menolkan keinginan saat berbuat baik bernyanyilah memuji Tuhan di dalam hati

Sadarilah dalam berbagai aspek kehidupan bahwa “bukan orang lain yang membuat kita gila melainkan keinginan sendirilah yang menggilakanmu!” Karena kita menginginkan sesuatu lalu keinginan tersebut tidak terwujud sehingga menjadi kecewa dan sakit hati. Pihak yang mengecewakan anda hanyalah faktor sekunder (faktor penunjang/ pemicu). Sedang faktor utamanya adalah pikiranlah yang menginginkan sehingga terlalu mengharapkannya. Tetapi nyatanya apa yang dinantikan tidak ada alias nihil. Kita telah mematok sesuatu di masa depan tetapi tidak mendapatkannya, perasaan inilah yang membuat kecewa. Jadi, semuanya jelas bahwa sakit hati yang membuat galau dan stres bahkan gila merupakan akibat dari diri sendiri (terlalu mengingini sesuatu).

Sungguh tidak ada yang lebih baik daripada memuji-muji Tuhan di dalam hati. Bila tidak ada aktivitas ini entah bagaimana kita mengalihkan konsentrasi sambil mengubur masa lalu yang lebih banyak suramnya. Kami sendiri masih dapat mengingat hal-hal pahit tersebut tetapi diikhlaskan lalu hati diarahkan untuk meraih rasa bahagia dari Yang Maha Kuasa. Sadarilah bahwa kita bisa membentuk kebahagiaan sendiri di dalam hati dengan menyelami hati, bersyukur dan tersenyum mungil. Bahkkan kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati otomatis ada saat fokus kepada Tuhan (doa, firman, nyanyian pujian), belajar dan bekerja. Semuanya ini adalah hasil dari manajemen pola pikir sambil mengasihi Allah dan sesama manusia, merendahkan hati dan mengikuti ujian lewat kebaikan yang diekspresikan. Sedang di sisi lain ada cobaan yang merintangi yaitu kecanduan akan materi, kemuliaan duniawi dan sikap yang tidak mencobai Allah/ selalu ikhlas (menerima apa adanya).

Upah (hasil) Kebaikan - Tujuan Berbuat Baik Yang Salah & Benar – Apa Balasan Kebaikan Yang Pantas Kita Harapkan

Tujuan yang salah melakukan kebaikan

Keinginan tidak sama dengan kebutuhan. Sebab apa yang kita butuhkan biasanya sudah kebiasaan sedangkan keinginan adalah hasil dari menyimak informasi di sekitar kita.  Misalnya, kita menonton televisi, melihat sinetron, membaca majalah, novel dan lain sebagaiinya lalu menginginkan hal-hal yang dimuat di dalamnya. Hawa nafsu dari melihat hal-hal yang mewah-mewah ini kemudian menguasai kehidupan kita lalu mengharapkannya sehingga ada semangat sesaat. Akan tetapi, tidak berapa lama kemudian, kita menyadari bahwa semuanya itu hanyalah khayalan sebab segala sesuatu yang ada di televisi hanyalah sandiwara belaka. Kisah nyata di dalamnya hanya nol koma saja, lebih dari itu adalah kebohongan (hoax). Bagaimana mungkin anda bisa berharap pada suatu angan-angan manusia? Berikut ini beberapa angan-angan yang sering sekali mengintimidasi kita untuk berbuat baik.

  1. Moga-moga orang tersebut membalasnya.

    Harapan kepada dunia sama saja dengan menggantungkan nasib kepada manusia. Memang masing-masing orang menginginkan sesuatu tetapi saat apa yang kita ingini adalah kepunyaan orang lain, itu dosa! Seperti orang yang sedang memancing dengan umpan yang dirancangnya sendiri, berharap dengan segara dapat tangkapan besar. Sayang, semua itu sia-sia, jangankan yang besar, yang kecil pun tidak dapat. Situasi ini, jelas menimbulkan kekalahan telak di dalam hati orang yang mengharapkannya. Gelombang kekalahan yang menyebabkan rasa sakit ini justru membuat semangat kebaikan memudar.

  2. Demi uang.

    Semua orang butuh uang tetapi tidak semua uang membuat orang bahagia.” Memang jelas bahwa saat bekerja, kita selalu berharap untuk digaji oleh organisasi/ unit usaha/ perusahaan/ pemerintah. Akan tetapi saat kita melandaskan pekerjaan yang digeluti demi gaji niscaya tidak ada niatan untuk melakukan lebih. Kita menjadi orang yang kurang semangat atau bad mood saat bekerja terutama di bulan tua. Bahkan saat di kantong tidak ada lagi uang, rasa kesal di dalam hati mulai menggunung hingga menjadi agresif dalam menyikapi gejolak sosial di sekitar (masalah kehidupan).

  3. Beroleh barang & jasa tertentu.

    Bukan orang lain tetapi diri kita sendirilah yang menjanjikan hal-hal yang luar biasa di dalam hati. Seperti orang yang berikrar. Kita mengatakan di dalam hati untuk melakukan lebih banyak hal baik lalu mengiming-imingi diri sendiri dengan barang & jasa yang mewah-mewah. Menjanjikan kepada diri sendiri bahwa saat melakukan semua kebajikan itu pasti ada upahnya, yaitu sesuatu yang sangat diinginkan selama ini.

    Melakukan hal yang baik dan mengharapkan upah yang lebih baik justru semakin menjauhkan hati dari ketulusan.” Iming-iming yang kita buat sendiri telah melepaskan nilai-nilai kelurusan hati. Kita bukannya memikul sesuatu untuk dibawa kepada sesama melainkan menginjak-injaknya lalu memberikannya pula. Ketika kebajikan yang hambar itu tidak terwujud, lantas menjadi kesal sampai menyesal sampai berhenti melakukan kebaikan.

  4. Mendapatkan hadiah.

    Ada orang entah-berantah yang menjanjikan suatu hal yang besar di masa depan. Mereka mengatakan kepada anda bahwa saat melakukan semua hal-hal yang baik yang terdapat dalam daftar tersebut niscaya akan datang hadiah besar dari Santa Claus. Orang yang masih polos, percaya saja dengan kabar tersebut dan langsung melakukan apa yang tertulis dalam daftar. Ia pun mendapatkan hadiahnya sesuai dengan yang diharapkan karena kebetulan saat itu natal.

    Lantas, ia mencoba berbagai kiat yang ada untuk menggapai hadiah lainnya yang diinginkannya. Melakukan berbagai cara yang pantas sesuai petunjuk lalu berharap hadiah tersebut menghamirinya. Namun semua itu hanyalah bualan belaka yang tidak pernah menjadi nyata. Orang itu pun akhirnya kecewa besar setelah menyadari bahwa kebaikan yang dilakukannya tidak membuahkan hadiah yang diharapkan. Pengharapannya pupus di tengah jalan sehingga menjadi manusia yang hidupnya penuh penyesalan dan enggan untuk berbaik hati lagi kepada sesama.

  5. Agar disayang/ disukai.

    Kita kerap berbuat baik kepada sesama agar mereka balik menyukai diri ini. Terlebih bagi muda-mudi yang menyukai lawan jenisnya. Dia berbuat hal-hal yang waw dengan membeli barang-barang glamour untuk dibungkus dalam kertas kado. Semua ini diberikan kepada lawan jenisnya lalu berharap doi menyukainya. Tetapi apa jadinya ketika hal tersebut tidak dianggap bahkan dia dipermalukan? Mungkin saja ada yang berpikir untuk mengakhiri hidupnya seperti kisah-kisah dalam telenovela/ sinetron/ film. Tetapi, “orang bijak menjadi kuat karena memandang bahwa hidup yang dianugerahkan Tuhan kepadanya lebih berharga dari masalah yang dihadapi.” Simak juga, Nyatanya hidup lebih berharga dari hal-hal duniawi.

    Seorang pasangan melakukan berbagai hal baik agar disayang oleh pasangannya. Saat kebaikan itu diresponi secara positif, dia makin bersemangat melakukannya. Tetapi saat kebajikan yang dilakukan kepada sesama diabaikan; semangat drop, harapan  kempes dan kekuatannya seperti hilang. Pikirannya tertekan sendiri oleh karena sikap yang tidak tulus dan apa yang diharapkannya telah gugur.

  6. Supaya diperhatikan.

    Ada yang cari-cari perhatian dengan melakukan berbagai kebaikan yang terkesan lebay. Memang hal tersebut yang mereka lakukan pantas dan layak untuk diacungi jempol. Tetapi hati kecilnya tidak fokus pada hal yang baik itu melainkan fokus pada jempol yang diberikan orang lain. Ini sama halnya seperti saat kita sedang memamerkan kebajikan apa saja yang dilakukan hari ini kepada orang-orang di dunia maya. Semua yang diunggah di sana ternyata hanya untuk mendapatkan jempol dan komentar (perhatian teman di jagad nirkabel). Seorang yang kurang cerdas saat mendapati perhatian yang ditujukan kepadanya memiskin akan terus saja frustasi akibat tingginya kesusahan hati yang tidak tulus.

  7. Untuk dipuji.

    Ada orang yang melakukan hal-hal yang benar semata-mata agar dipuji oleh sesamanya. Penyakit kurangnya kelurusan hati macam ini jelas sebagai sebuah beban di dalam hati. Sebab saat tujuan kita terwujud, hati menjadi gembira tetapi saat yang dinantikan tidak kunjung mekar, besar rasa kesal di dalam hati. Hidup seperti ini dimana terjadi inkonsistensi suasana hati, sungguh tidak mengenakkan jiwa. Apa pun yang ada di sekitar kita bisa saja fluktuatif tetapi hati dan sikap ini harus konsisten. Sebab saat kita mampu konsisten, penuhlah rasa puas di dalam hati yang selama ini telah berjuang maksimal.

  8. Dimaksud untuk unggul dari yang lainnya.

    Arogansi adalah dosa nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Jika di dalam hati anda masih ada nafsu semacam ini, berarti dosa Adam dan Hawa masih melekat di dalammu sampai sekarang (belum diampuni karena masih diingini dan dilakukan sampai sekarang). Akan tetapi, manusia yang sudah mampu menghilangkan nafsunya untuk lebih dari orang lain lalu mengejar kesetaraan, hatinya sudah dibersihkan dari dosa Adam dan Hawa.

    Saat kita melakukan banyak kebaikan semata-mata untuk lebih baik dari orang lain, tujuan semacam ini jelas telah keluar dari niat hati yang tulus-ikhlas. Memang setiap manusia saat diberi iming-iming tentang sesuatu yang besar, animonya dalam menggapai sesuatu menjadi sangat tinggi. Animo yang tinggi ini bila terjawab/ dikabulkan pasti senangnya luar biasa tetapi saat tidak terwujud, kecewanya sampai buat nangis-nangis.

    Bagaimana cara menghadapi dunia ini, saat di sana-sini penuh dengan tawaran untuk hasil yang lebih baik? Kita juga tidak mungkin mengikuti hal tersebut sebab aturan mainnya demikian. Lagi pula kita berada di zaman kapitalisme bukan sosialisme yang menjunjung kesetaraan. Akan tetapi cegahlah hatimu untuk terus memikirkan tujuan yang arogan tersebut melainkan lakukan kebaikan sambil fokus kepada Tuhan.

  9. Sehingga dihargai.

    Tinggi nafsu di dalam hati untuk dihargai orang sehingga memasang taruhan di dalam pikiran sendiri agar kita terus semangat berbuat kebaikan. Padahal dengan berlaku demikian, sangat besar harapan kita kepada dunia ini. Saat tujuan yang kita pikirkan terwujud memang rasanya sangatlah enak tetapi ketika orang tidak menghargai kita, hati menjadi pahit rasanya. Semakin besar nafsu untuk beroleh penghargaan, makin keras bantingan rasa sakit saat apa yang dituju tidak tercapai. Oleh karena itu bebaskan pikiran dari nafsu yang besar yang bertujuan agar dihargai oleh sesama melainkan sibukkan pikiran dengan hal-hal positif.

  10. Ujungnya dihormati.

    Adakah yang mengatakan kepada anda, “ayo berbuat baik agar kita jadi orang terhormat.” Motivasi semacam ini memang awalnya begitu menggairahkan sebab tentu saja semua orang ingin menjadi pribadi yang dihormati. Tetapi saat tujuan yang diharapkan dari orang lain tidak dihasilkan, besar kemungkinan hati tercabik-cabik. Sadarilah bahwa sakit hati terjadi bukan karena orang tidak menghormati anda tetapi karena anda membuat harapan tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Salahnya dimana? Kesalahannya bukan pada orang yang tidak menghargai anda melainkan terletak pada hati yang bengkok saat melakukan hal yang baik (ingin dihormati).

  11. Mendapatkan jabatan.

    Kita berbuat baik kepada sesama cuman buat diberikan jabatan hebat oleh atasan. Seperti dikatakan pepatah, “asal bapak senang!” Banyak-banyak melakukan hal-hal yang enak dilihat oleh si oknum pemimpin, keluarganya dan kerabatnya. Berpikir bahwa semuanya itu akan menyentuh perasaan pemimpin anda sehingga mengikhlaskan beberapa kursi yang dimilikinya di dalam pemerintahan. Sayang, semuanya itu, tidak akan berjalan dengan lancar sebab hasilnya bisa saja nihil. Keadaan ini membuat pikiran kacau balau sehingga menjadi frustasi dan sikap kepada orang lain pun amburadul.

    Sadarilah bahwa semakin besar keinginan di dalam hati, makin besar angka pengorbanan yang dapat kita berikan untuk mewujudkannya. Kita melakukan kebaikan yang besar sekali agar kelak dihadiahkan jabatan tinggi. Padahal di masa depan, kita tidak dipilih untuk menempati posisi tersebut melainkan orang lainlah yang di sana. Kekecewaan yang dirasakan pasti berat sekali terlebih karena pengorbanan yang ditebarkan juga sangatlah besar sekali. Kerugian sangat besar sedang hasil nihil pastilah menyebabkan tekanan batin yang kuat. Ini bisa saja mengacaukan pikiran sehingga sikap kepada sesama, diri sendiri dan lingkungan sekitar turut menjadi jahat bahkan keji.

  12. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

(Matius  6:1) “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Juga Tuhan berkata demikian,

(Matius  6:2) Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Ketahuilah bahwa upah kebajikan yang telah diperoleh di dunia ini tidak akan lagi diperoleh di sorga kelak. Artinya saat setiap hal baik yang kita lakukan dapat dibalaskan oleh orang lain maka kebaikan tersebut tidak lagi dibalaskan saat Tuhan menghakimi kita kelak. Jadi, semua yang benar jika ditujukan untuk kenikmatan dan kemuliaan duniawi, dipastikan telah beroleh upah yang sepadan selama hidup di bumi.  Tujuan atau upah kebajikan yang sudah tercapai inilah yang biasanya memperkaya (materi) & mempermuliakan (jabatan) seseorang sehingga upahnya tidak akan lagi dituai saat di akhir zaman (hari penghakiman). Satu-satunya hal yang akan dituai kelak (di sorga) adalah hal-hal yang tidak dibalas dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama hidup di dunia ini. “Saat tujuan kebaikan yang dicita-citakan telah terwujud selama hidup di bumi maka upah anda di sorga hangus!”

Tujuan yang benar saat melakukan kebaikan

Ada orang yang salah persepsi saat melakukan hal-hal yang baik. Sadarilah bahwa “Bukan hasil berbuat baik yang membuat bahagia tetapi saat melakukan kebaikan itulah hati bahagia.” Jangan salah sangka lalu menganggap bahwa kebahagiaan dari aktivitas yang benar ini baru diperoleh nanti. Melainkan kapan pun anda berbuat kebajikan, saat itu jugalah kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman akan memenuhi hati ini. Oleh karena itu, saran kami adalah jangan fokus kepada tujuannya melainkan kepada hal-hal yang positif saja (fokus Tuhan, bekerja dan belajar). Manusia yang dikit-dikit berharap, goncangan sedikit saja bisa membuatnya kecewa berat (stres). Berikut ini beberapa

  1. Demi kebenaran.

    Ada dua inti dari seluruh Kitab Suci dan kitab para nabi yaitu:

    (Markus 12:29-32) Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

    Melakukan kebaikan kepada sesama adalah salah satu kebenaran hakiki, yaitu hukum kebenaran yang kedua. Kita pun berasa puas karena mampu mengikuti apa yang dititahkan oleh Sang Pencipta. Sebab kebenaran adalah nafas hidup yang telah digariskan Allah kepada seluruh umat manusia. Mampu mengasihi sesama merupakan suatu tindakan yang mendatangkan kebahagiaan. Seorang ciptaan akan sangat terpuaskan saat mampu memenuhi kehendak Penciptanya.

    Tidak ada yang lebih baik di bumi ini selain melakukan kebaikan kepada sesama. Selama kita mampu melakukannya maka perbuatlah itu dimulai dari hal-hal kecil, misalnya ramah-tamah. Santunlah kepada sesama sambil fokuskan pikiran kepada Tuhan. Selebihnya, lakukanlah hal-hal baik lainnya di sela-sela pelajaran dan pekerjaan yang digeluti dari waktu ke waktu.

    Bagi para pemimpin, beban tentang “mengasihi sesama seperti diri sendiri” adalah suatu tantangan besar. Sebab seorang yang kaya-raya, berilmu tinggi dan berkuasa; bagaimana caranya agar bisa berlaku adil kepada sesama? Tentu saja perlu mencari jalan tengah kesetaraan kekuatan (power) lewat peraturan yang dibuat. “Hanya pemimpin yang berjiwa besar lagi bijaksana yang memperjuangkan keadilan sosial.” Seperti ada tertulis.

    (II Samuel 23:2-4) Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku; Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.

  2. Menanti pintu sorga.

    (Yohanes 14:6) Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

    Yesus Kristus adalah jalan hidup menuju ke sorga. Orang yang percaya kepada-Nya pasti akan sampai ke tempat-Nya, yaitu kediaman Bapa dalam firdaus. Tentu saja kepercayaan kita seturut dengan apa yang kita pahami tentang kebenaran. “Apa yang dimengerti, itu pula yang dilakukan selama kita mampu maka kerjakanlah!” Bukankah Tuhan telah menetapkan tiga “syarat mengikut Dia (Markus 8:34)” dan mengajarkan bagaimana menghadapi peliknya “padang gurun kehidupan (Lukas 4:1-13)?” Mereka yang mengerti tentang perkara ini lalu menyambutnya dengan sukacita untuk dilakukan/ diterapkan/ diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah layak melewati pintu sorga.

    Salah satu dari syarat-syarat di atas menyebutkan tentang “kasih kepada sesama seadil-adilnya.” Bagaimana mengasihi orang lain dengan adil? Yaitu mengasihinya seperti mengasihi diri sendiri. Orang yang kasih kepada yang lain pastilah melakukan kebaikan. Anda bisa menjadikan sorga sebagai penyemangat untuk terus berbuat baik sebab di masa depan ke sanalah semua orang percaya tertuju.

  3. Beroleh kasih karunia Allah.

    (Roma 9:15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.”

    Setiap orang percaya sedang dalam rangka memohon belas kasihan yang daripada Allah selama hidupnya di dunia ini. Sebab, sesungguhnya kita penuh dengan dosa, mulai dari pikiran, perkataan dan perbuatan yang dilakukan. Kejahatan kita terus saja ada, menetes seperti hujan dimulai dari dalam pikiran tiap-tiap orang. Satu-satunya jalan keselamatan kepada Allah adalah lewat kasih karunia di dalam Yesus Kristus,

    Sekalipun Tuhan telah menebus dosa-dosa kita, jangan pernah menganggap enteng karya penebusan itu. Kiranya kita jauh dari kebiasaan yang menjadi mempermain-mainkan keselamatan itu dengan sengaja berbuat dosa. Orang bijak berhati sombong bisa saja menganggap bahwa keselamatan dari Tuhan membuatnya bebas melakukan dosa. Padahal dengan berlaku demikian, orang tersebut menginjak-injak kebenaran yang adalah Allah sendiri.

  4. Beroleh pengampunan.

    (Lukas 7:47) Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

    Orang yang menyadari bahwa dirinya memiliki banyak dosa pada masa-masa yang telah lalu, tentulah akan melakukan banyak kebaikan agar Allah kiranya berkenan mengampuninya. Mereka yang bertobat dengan lurus hati pastilah akan menemukan kekuatan untuk melakukan lebih banyak kebaikan agar dirinya layak di hadapan Allah. Harap disadari bahwa “sorga itu lebih penting dari segala sesuatu yang ada di bumi ini.” Atau bisa juga dikatakan bahwa “sorga itu lebih indah dari keindahan apa pun yang ada di bumi ini.” Itulah banyak manusia yang ramai-ramai berbuat kebaikan agar beroleh kasih karunia dan pengampunan dari Allah agar dilayakkan memasuki pintu firdaus.

    Berbuat baik kepada sesama agar beroleh pengampunan dari dosa yang terencana pasti menyisakan kejanggalan di dalam hati. Rasanya, kita nggak enak melakukannya seolah-olah kita menyogok Yang Maha Kaya lewat berbuat baik. Terlebih ketika kita melakukannya dengan menganggap remeh sambil berkata, “ahh gampangnya itu, nanti juga berbuat baik pasti diampuni.” Sadarilah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang congkak mempermain-mainkan diri-Nya. Sebab orang yang kaya raya bisa saja melakukan dosa disengaja secara semena-mena lalu sekonyong-konyong melakukan banyak kebaikan untuk menebusnya, apakah Allah akan membiarkan ini? Jalas Sang Pencipta tidak akan mengotori (menajiskan) kediaman-Nya yang kudus dengan orang-orang yang penuh dengan kejahatan disengaja & terencana! [Baca teman, Stop! Berhenti menyepelekan dosa!] Seperti kata firman-Nya.

    (I Petrus 1:16) sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

    Lagi kata-Nya,

    (Yesaya  48:11) Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!”

    Jangan sangka kebijaksanaanmu yang penuh tipu muslihat tidak diketahui Allah.

    (Yesaya  47:10) Engkau tadinya merasa aman dalam kejahatanmu, katamu: “Tiada yang melihat aku!” Kebijaksanaanmu dan pengetahuanmu itulah yang menyesatkan engkau, sehingga engkau berkata dalam hatimu: “Tiada yang lain di sampingku!”

  5. Memenuhi tanggung jawab – Tidak menjadi batu sandungan.

    (Matius 17:27) Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.”

    Tuhan Yesus Kristus memang luar biasa. Sebab sekalipun di zaman-Nya keadilan sosial itu belum diterapkan oleh pemerintah dan gereja tetapi Ia mau membayar pajak, baik kepada kaisar mau pun kepada gereja. Ini menyatakan bahwa “pemahaman mengasihi sesama seperti diri sendiri tidak bisa dipaksakan!” Sebab justru kalau kita memaksakannya, kita menentang ajaran Tuhan yaitu kasih. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menegaskan betapa pentingnya keadilan sosial adalah dengan “memberi pengertian.” Selebihnya, biarkan para pemimpin kita menempuh jalan terbaik untuk melakukannya dan doakanlah mereka agar diberikan pengertian dan hikmat oleh Yang Maha Kuasa. Sebab tanpa keadilan sosial, situasi masyarakat seperti alam rimba yang penuh konspirasi manipulasi (sandiwara) semata-mata untuk meraih power (kekayaan, kekuasaan) dan melenyapkan masyarakat tertentu. Seperti ada tertulis.

    (Matius  23:23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

    Adalah baik bagi kita juga untuk membayarkan apa yang menjadi tanggung jawab kita kepada negara dan gereja. Kita harus hidup seperti Tuhan Yesus Kristus, sekali pun sistem sedang kacau dan jauh dari kehendak Allah, Dia tetap memenuhi kewajiban-Nya membayar pajak. Jadi berbuat baiklah dengan membayar pajak kepada pemerintah dan gereja.

  6. Menggenapi firman.

    (Matius 3:15) Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.

    Ada banyak kehendak Tuhan di dalam Alkitab. Sebaiknya dalam menggenapi firman selalu memperhatian dua nilai kebenaran hakiki. Selama hal tersebut tidak bertentangan dengan kasih yang utuh kepada Allah dan kasih kepada sesama seperti diri sendiri, maka selama itu pulalah kita wajib menggenapinya. Kita perlu mempelajari baik-baik setiap firman yang terdapat di dalam Alkitab agar tidak menyimpang dari kehendak Tuhan. Sesungguhnya tujuan akhir dari semua firman yang ada adalah “menjadi seperti Yesus Kristus” atau “hidup seperti Yesus Kristus.” Sebab orang kristen adalah Kristus-Kristus kecil.

    Kita melakukan hal-hal baik kepada sesama bukan saja karena kebetulan melainkan untuk menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya, jauh-jauh hari sebelumnya (bahkan sebelum generasi kita hadir di bumi ini). Firman adalah alasan yang kuat tepat untuk semakin menguatkan kita sehingga terus menebar kebaikan kepada siapa pun. Selebihnya, silahkan baca Alkitab masing-masing maka anda akan menemukan banyak kebajikan yang perlu kita perbuat untuk menggenapi firman Allah.

  7. Tidak ada tujuan selalu fokus Tuhan.

    Harap diketahui bahwa sebaiknya kebaikan yang kita lakukan dari waktu ke waktu adalah “suatu spontanitas.” Jangan pernah merencanakan untuk berbuat baik di saat ini-itu dan kepada ini-itu juga di tempat ini-itu. Memang ada juga kebaikan yang sifatnya terencana tetapi semuanya itu berupa kewajiban. Perbedaan antara kewajiban dengan kebajikan, yaitu “hal-hal yang wajib adalah keharusan” sedangkan “hal-hal yang baik bisa dilakukan dan bisa juga tidak.”

    Biasanya, saat kita merencanakan untuk berbuat baik maka ada harapan duniawi terbesit di dalam otak (tujuan materi & kemuliaan). Oleh karena itu, selalu lakukan kebaikan secara spontan tanpa terlebih dahulu memikirkan tujuannya. Bagi kita yang tidak memiliki apa-apa memang mudah untuk membuat kebajikan spontan tetapi bagi mereka yang memiliki sangat banyak harta, pastilah hal ini tidak mudah. Terlebih ketika orang kaya tersebut sangat mencintai harta benda dan kekuasaan yang dimilikinya. Di sinilah betapa pentingnya keadilan sosial itu.

    Adalah baik bagi kita untuk membebaskan pikiran dari keinginan untuk melakukan kasih agar dilihat orang. Sebab hal-hal semacam ini telah di cela oleh Tuhan Yesus sejak dari awal. Ketika kasih yang kita ekspresikan dipamerkan kepada orang lain berarti ada maksud-maksud tertentu di balik semuanya itu yang tidak jauh-jauh dari uang, pujian, penghormatan dan popularitas. Seperti ada tertulis.

    (Matius 23:5-7) Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

    Sebaliknya, dalam setiap kali mengasihi sesama, baiklah kita melakukannya dengan setulus hati seperti melakukannya kepada Allah. Artinya, berbuat baiklah kepada siapa saja tetapi tujukanlah itu kepada Allah. Sebab saat semua kasih ditujukan kepada Allah berarti kita melakukannya sembari fokus memuji-muji nama-Nya di dalam hati. Seperti ada tertulis.

    (Kolose 3:23) Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Kosongkan pikiranmu dari keduniawian kawan saat melakukan kebaikan! Sekalipun tujuan-tujuan duniawi tersebut sesekali bergeming di dalam hatimu, jangan biarkan ia mengakar karena terus-menerus dibahas-bahas di dalam hati. Sadarilah bahwa saat harapan kita terhadap dunia ini sangatlah besar maka hati juga menjadi sangat terbeban saat melaluinya. Beban yang berat itu memang akan menjadi ringan saat tujunnya terpenuhi tetapi bagaimana jadinya ketika apa yang dituju tidak kunjung terwujud? Animo yang sangat tinggi namun tidak terpenuhi pasti akan sangat mengecewakan. Tingginya rasa kesal di dalam hati turut membuat pikiran tertekan lalu menjadi frustasi, merugikan orang lain, melukai diri sendiri dan merusak lingkungan sekitar. Oleh karena itu, saran kami, kosongkanlah pikiran dari hal-hal duniawi saat berbuat baik melainkan lakukanlah semuanya itu sambil fokus bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati (bisa sambil berdoa & membaca firman). Serta bisa juga sambil menyelesaikan pelajaran (sesuai minat/ bidang studi) dan pekerjaan (sesuai tanggung jawab, potensi, bakat) yang digeluti. Sikap yang datar saja saat melakukan kebajikan, menaruh harap agar Tuhan yang membalasnya dan tidak keberatan saat sesama kurang menanggapi kebaikan tersebut.

Salam, Berbaik hatilah kepada manusia duniawi,
tetapi jangan demi kenikmatan & kemuliaan duniawi,
melainkan tujukanlah kepada Tuhan yang hakiki!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.