Kata-Kata Bijak & Motivasi Kehidupan

Hormat-Menghormati Antar Sesama Menurut Iman Kristen Berdasarkan Firman

Hormat-Menghormati Antar Sesama Manusia Menurut Iman Kristen Berdasarkan Firman

Hidup adalah aktivitas

Ada sebuah lagu dalam bahasa kami yang menganjurkan setiap orang agar meniru “ilmu padi, semakin berisi makin merunduk.” Ini adalah salah satu yang menginspiasikan kami untuk menundukkan kepala dalam banyak kesempatan termasuk membungkuk sedikit dan memiringkan kepala saat memberi salam kepada orang lain. Kami sendiri meyakini bahwa sesungguhnya salah satu hakekat keberadaan manusia di bumi adalah beraktivitas. Perwujudan dari setiap pergerakan tersebut seharusnya diluapkan dalam bentuk kebenaran. Aktivitas yang ditujukan untuk hal-hal yang benar bisa mendatangkan kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman di hati saat itu juga. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa di antara semuanya itu, ada-ada saja kekhilafan yang timbul, semoga dapat dimaklumi.

Apa yang kamu lakukan, itulah yang mendewasakanmu

Banyak orang yang mengomentari, “mengapa sih kamu sedikit membungkuk saat menyalam seseorang?” Sejenak, kami katakan bahwa itu adalah bagian dari hormat-menghormati sesama. Tetapi masih banyak yang tidak puas lalu kami ingin menegaskannya bahwa itu adalah bagian dari aktivitas. “Pemula sukanya diam-diam saja, orang cerdas suka beraktivitas sedang mereka yang bijak melakukan aktivitas pada waktu yang tepat.” Kami menikmati aktivitas tersebut, rasa-rasanya seperti sedang mendengarkan lagu-lagu metal yang membuat kepala ngangguk-ngangguk. Bukankah gerakan semacam ini akan meningkatkan kecerdasan kita masing-masing? Adalah sudah seharusnya setiap pergerakan yang digiatkan tiap-tiap waktu menjadi bahan untuk melatih diri dalam hal kedewasaan.

Hidup kita berkembang tetapi jangan melupakan kerendahan hati masa kanak-kanak

Beberapa hari yang lalu kami diinspirasikan tentang alasan menunduk simpul tersebut karena kelemahan indra tetapi hal tersebut kurang pas dan tidak elegan. Sampai akhirnya di malam listrik padam yang hitam pekat, Roh membawa pikiran kami pada kenangan masa lalu saat bersalaman dengan anak-anak. Dua orang anak tersebut lucu dan imut lalu mereka menyalam kami dengan meletakkan punggung tangan ini ke keningnya. Kejadian ini langsung konek saat “salah seorang kerabat seumuran dengan sengaja mendorong tangannya ke atas ketika kami menyalamnya (sengaja main-main karena kami suka nunduk-nunduk saat salaman).” Pada akhirnya kesimpulannya adalah, “menundukkan kepala saat menyalam seseorang merupakan perkembangan dari masa kecil silam.”

Saat kecil kita menghormati orang lain dengan merendahkan diri lalu meletakkan tangannya ke kening karena tinggi badan lebih pendek. Namun setelah sama-sama besarnya, kita tidak lagi meletakkan tangan orang lain di kening karena tingginya hampir bersamaan. Orang lain juga jadi segan bila tangannya diangkat-angkat lebih tinggi, “ntar bulu keteknya kelihatan lagi, wkwkwkkkkk….” Oleh sebab itu, angkat-mengangkat tangan disingkirkan sedang yang tersisa adalah membungkukkan atau memiringkan badan atau menundukkan kepala saja sebagai upaya merendahkan diri. Jadi, ramah kepada sesama sambil menganggukkan kepala, membungkukkan dan memiringkan badan sangat baik untuk melengkapi daftar aktivitas cerdas yang dimiliki. Yang kita bahas ini hanya dalam hal salam-menyalam, sedang ramah itu sendiri masih banyak bentuknya, yaitu senyum, sapa, salam, mengatakan terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik.

Bersalaman sambil membungkukkan badan untuk menghancurkan harga diri yang dibangga-banggakan

Apakah ini kebetulan atau terhubung? Menara Pisa di Italia merupakan pertanda alam bahwa sebaiknya ada momen dalam hidup kita dimana perlu sedikit memiringkan badan, memangkas keangkuhan dan membuang harga diri yang tidak penting. Dari yang kami pahami, aktivitas menundukkan kepala sambil menyalam orang lain merupakan bagian dari kebaikan, yaitu mengasihi sesama seperti diri sendiri. Salah satu manfaat termanis di atas semuanya itu adalah menghancurkan harga diri yang menjadi sifat kedagingan kita. Mengapa harga diri perlu dihancurkan? Sebab faktor inilah laki-laki merendahkan perempuan dan sebaliknya, orang dewasa merendahkan yang muda dan sebaliknya.

Harga diri inilah yang membuat hati tersakiti saat ditegur, diejek, diabaikan, dikecewakan orang lain. Ini lebih dekat kepada keangkuhan yang selalu ingin diperlakukan lebih tetapi enggan untuk memperlakukan orang lain lebih baik. Harga diri yang kebangetan justru lebih parah lagi, masyarakat mengenalnya dengan istilah “gengsi gede-gedean.” Padahal dalam kehidupan ini, yang terpenting adalah kebermanfaatan hidup. Selama kita bisa memberi faedah kepada sesama maka selama itu pula dimungkinkan untuk menempatkan diri pada segala posisi tanpa sibuk memikirkan masalah jenis kelamin, umur, kekerabatan dan lain-lain. Salah satu caranya menghancurkan harga diri yang terlalu angkuh adalah dengan menyalam orang sambil membungkukkan, memiringkan badan dan menganggukkan kepala. Seperti kata firman

(Ayub  22:29) Karena Allah merendahkan orang yang angkuh tetapi menyelamatkan orang yang menundukkan kepala!

Berjalan sambil menundukkan kepala juga kerap kami lakukan, terutama di jalan yang tidak rata, itu ada di sekitar tempat tinggal. Jadi, saat kepala tertunduk kita lebih hati-hati bila melangkahkan kaki. Mungkin saja di depan ada pertanda “awas jalan licin” tetapi tidak memperhatikannya karena mata melihat ke depan terlalu jauh. Namun saat jalanan benar-benar mulus tanpa jebakan lubang, licin, sampah, kotoran dan keburukan lainnya, pasti kami akan melihat ke depan. Sekali pun demikian perlu juga lebih sering/ lebih banyak menunduk untuk memperhatikan hal-hal kecil yang penting tapi sering terlupakan di bawah, terlebih kami ini cakupan matanya cukup sempit. Salah satu “perwujudan kerendahan hati dengan menundukkan kepala membungkukkan badan sambil bersalaman plus tersenyum simpul.”

Menara Miring Pisa Italia

Cara luwes memiringkan badan Menara Pisa Italia

Cara terbaik untuk menundukkan sedikit badan saat salaman adalah dengan kembali ke masa kecil kita dulu. Anak kecil yang melakukan ini biasanya fokus ke tangan yang sedang dipegangnya. Demikianlah kita “saat bersalaman, lihatlah (fokus) pada tangannya” bukan melihat lantai, kaki, dada dan lain sebagainya. Saat anda mampu menyentuh tangan seseorang dengan sedikit membungkukkan badan, itu sudah merupakan niat yang baik untuk hormat-menghormati antar sesama. Selain itu, kebiasaan ini sebagai pertanda aktivitas sebab ada banyak tulang, otot dan sendi yang bergerak saat melakukannya. Bila anda bisa memahaminya maka akan menemukan bahwa kebiasaan baik tersebut melatih kelenturan punggung sehingga lebih sehat dan fleksibel dalam bergerak. Terkecuali bila jarak kita dan orang lain sangat dekat sehingga tidak memungkinkan untuk membungkuk sedikit tetapi cukup dengan menganggukkan kepala.

Ada tiga opsi yang kami berikan saat salaman, yaitu menundukkan sedikit badan, memiringkan sedikit badan dan menganggukkan kepala. Menundukkan badan sama dengan membungkuk dimana punggung bengkok saat melakukannya. Tetapi kita tidak bisa membungkuk berulang-ulang saat orang yang di salam banyak. Bisa-bisa encok tuh tulang sehingga punggung sakit karenanya. Oleh sebab itu, kami memberi pilihan memiringkan sedikit badan ala Menara Pisa. Rahasia memiringkan badan layaknya Menara Pisa secara berulang-ulang tanpa harus menderita nyeri punggung adalah dengan menggunakan berat kepala untuk mendorong ke depan dan ke bawah. Artinya, ada keselarasan saat kepala dianggukkan dengan badan yang agak miring.  Jika badan lentur seharusnya saat “mendorong kepala ke depan lalu mengangguk ke bawah maka punggung otomatis miring (bukan bengkok).” Gaya mendorong kepala ini lebih ringan dan elegan untuk dilakukan. Hanya saja, jangan terlalu kuat agar tidak bertubrukan dengan kepala kawan, perhitungkan juga jaraknya. Teknik punggung miring inilah yang bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan apa saja yang sedang dialami bahkan saat jarak dekat dengan orang lain masih memungkinkan.

Ada tiga cara bersalaman yaitu sambil membungkukkan punggung, memiringkan badan dan menganggukkan kepala. Masing-masing bisa dipraktekkan pada momen yang tepat sambil tersenyum mungil.

Pengertian (defenisi)

Hormat adalah (1) menghargai (takzim, khidmat, sopan); (2) perbuatan yang menandakan rasa khidmat atau takzim (seperti menyembah, menunduk – KBBI Luar Jaringan). Menurut kami hormat-menghormati merupakan sikap saling menghargai antar sesama tanpa pandang bulu di dalam masyarakat yang majemuk. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menghormati orang lain, yang paling sederhana adalah ramah tamah (memberi senyum, menyalam, menyapa, mengucapkan terimakasih, tolong, maaf dan menjadi pendengar yang baik). Selain itu, dapat berupa mematuhi perintah orang tua, mendahulukan orang yang lebih tua, tidak menyela saat orang lain bicara, menghargai hak orang lain dan melakukan kebaikan lainnya. “Pemula kerap mengabaikan sesama, orang cerdas menghormati sesama dan mereka yang bijak mendahulukan dirinya untuk memberi hormat.”

Sesungguhnya, cara kita menghormati orang lain tidak pernah jauh dari mematuhi peraturan dalam masyarakat dan menghargai hak-hak sesama manusia. Dua poin ini saja, bila rutin kita lakukan sudah termasuk dalam sikap inti hormat-menghormati. Sedang yang lain-lainnya itu adalah tambahan yang menyempurnakan tingkat kecerdasan dan kebijaksanaan manusia. Sebab anak bayi yang masih unyu-unyu tidak mampu beramah-tamah tapi bisanya dibujuk-bujuk sama orang dewasa. Sebab menjadi orang yang ramah memerlukan latihan langsung, diuji dan bertahan agar mampu melakukannya secara terus menerus. Sikap yang santun adalah tambahan yang membuat penghormatan kepada orang lain bernilai sempurna.

Kita bisa berbuat baik kepada orang lain, itu sudah cukup. Tapi kebaikan yang disertai dengan keramahan lebih terasa tulusnya hati dalam memberi. Sedang semua orang tahu bahwa kebaikan yang paling sederhana adalah ramah-tamah. Jadi bisa dikatakan bahwa keramahanlah yang menyempurnakan kebaikan hati.

Hormat-menghormati adalah upaya saling merendahkan hati untuk menekan sisi arogan yang kerap menghamili bencana

Pada hakekatnya, saat kita menghormati orang lain sama artinya dengan merendahkan hati. Bukankah saat kita membungkuk, memiringkan badan dan menganggukkan kepala, posisi kita lebih rendah dari sebelumnya? Tingginya badan menurun karena proses tersebut sehingga tergolong posisi merendahkan diri. Sikap yang rendah hati sungguh banyak manfaatnya, misal memperluas kesabaran, memperluas keikhlasan, memperluas memaafkan dan lain sebagainya. Merendahkan hati identik dengan sikap menyangkal diri yaitu menginjak ego sendiri. Ego keakuan yang syarat dengan arogansi selalu saja mencari cari cara bagaimana biar dirinya kelihatan lebih unggul dari orang lain sekali pun dengan menipu (manipulatif) dan menghalalkan segala cara kotor lainnya. Sekali pun hasratnya telah tercapai, keinginan lainnya akan terus lahir menjadi serakah. Semakin banyak orang seperti ini di sekitar kita, makin cepat pula kerusakan lingkungan hingga bencana alam.

Mereka yang hatinya merendah
telah sekaligus memperluas kebahagiaannya.
Sebab ia tidak butuh hal besar (arogan)
yang jauh di sana (belum dimiliki) untuk senang.
Tetapi apa adanya hidup ini bisa disyukuri
sehingga bahagia itu mengembang
walau yang dimiliki hanya hal-hal sederhana
.”

Hormat menghormati menurut iman kristen berdasarkan Alkitab

Di dalam ajaran kristen, kebiasaan saling menghormati telah dibina sejak dini. Bentuk pertama dari kebiasaan baik ini adalah ramah. Namun dicatatkan dalam kisah yang berlatarbelakang negatif yaitu sikap anak-anak Yakub yang tidak ramah menyapa saudara mereka, Yusuf karena iri hati (baca lagi Kejadian 37:1-11). Dalam perjanjian baru, keramahan itu malah sangat jelas, seperti kata rasul Paulus dalam Efesus 4:32 yang berbunyi “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Jadi sudah seharusnya kita melakukan aktivitas yang sangat melatih tingkat kecerdasan otak ini.

Tuhan Yesus Kristus adalah pribadi yang ramah dan lemah lembut

Timbul satu pertanyaan di dalam hati kita, bagaimana dengan Tuhan Yesus Kristus, apakah dia tidak memiliki sikap yang santun ini? Sama halnya seperti yang ditunjukkan di film-film?. Menurut anda, masuk akalkah bila orang secerdas, sebijaksana dan sebaik Yesus Kristus tidak ramah sama sekali seperti yang kita tonton di film-film zaman dulu? Bagi kami, hal ini mustahil! Tingginya kepintaran dan hikmat yang dimiliki oleh Sang Penebus adalah saat Dia lagi-lagi melakukan hal yang paling tidak masuk akal, yaitu membasuh kaki murid-murid-Nya. Kaki budak-budak-Nya saja dicuci & dilap-Nya, masakan sikap-Nya tidak ramah terhadap sesama? (Selengkapnya baca “Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya” Yohanes 13:1-20)

Jadi kesantunan sikap Kristus Yesus tidak perlu lagi diragukan apalagi dipertanyakan. Sebab pekerjaan yang dilakukan-Nya dari awal hingga kembali ke sorga mencerminkan kerendahan hati yang adalah dasar dari sikap hormat-menghormati. Pastilah pribadi Sang Mesias itu santun juga ramah terhadap sesama hanya injil kurang mengeksposnya. Para penulis injil lebih fokus pada mukzizat, didikan dan perumpamaan luar biasa yang diberikan-Nya. Namun beruntunglah kita, ada rasul Paulus yang secara gamblang menyatakan hal ini, berikut pesannya.

(II Korintus  10:1) Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.

Jalaslah bahwa Allah yang kita sembah adalah Tuhan yang ramah bahkan lebih lagi, yakni lemah lembut. Oleh karena itu, jadilah pribadi yang santun dimana pun berada. Inilah salah satu ciri khas dari orang yang percaya kepada Sang Pencipta.

Hormat-menghormati di dalam hukum Taurat

Ternyata, anjuran untuk saling memberi hormat ada di dalam Alkitab, bahkan hukum Taurat sangat gamblang memerintahkan hal tersebut, seperti firman yang berbunyi.

(Keluaran  20:12) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Lalu pertanyaannya sekarang adalah siapakah ayah dan siapakah ibu yang pantas untuk dihormati itu? Lagi-lagi Tuhan Yesus Kristus telah menegaskan siapakah orang-orang yang dimaksudkan dalam hukum Taurat tersebut, seperti firman-Nya yang berbunyi demikian.

(Markus 3:33-35) Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Ibu dan Ayah yang pantas untuk kita hormati adalah “orang yang melakukan kehendak Allah.” Sekarang cakupannya sudah lebih meluas, tidak hanya orang tua biologis saja melainkan semua orang yang ada di sekitar kita. Sebab semua manusia melakukan kehendak Allah, yaitu kebenaran hakiki (kasihilah Tuhan sepenuh hidup ini dan sesama manusia sama seperti diri sendiri). Jadi, tidak perlu ragu lagi untuk hormat-menghormati kepada orang lain, bukankah itu diperintahkan langsung oleh Yang Maha Mulia (hukum Taurat)? Hanya saja, lakukanlah semuanya itu tidak demi materi, uang dan kenikmatan duniawi lainnya serta bukan pula demi mengharapkan dihormati balik (kemuliaan duniawi). Melainkan lakukanlah segala sesuatu kepada sesama tetapi bertujuan mengharapkan balasannya kepada Tuhan, tepat seperti kata firman. [Lirik juga kawan, Mengapa kita berbuat baik?]

(Kolose  3:23) Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Apa yang dimaksud dengan mendahulukan diri untuk memberi hormat?

(Roma  12:10) Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Saling mendahuli berarti tidak menunggu orang lain melainkan bertindak sebagai yang pertama. Menunggu bisa saja berarti menunggu nasib baik, nasib mujur, waktu indah dan lain-lain tetapi menghormati sesama pada momen yang tepat. Tidak menunggu orang lain tersenyum tetapi tersenyum lebih dahulu sebelum mereka melakukannya. Juga tidak menunggu orang lain untuk menyapa dengan anggukan/ dengan suara tetapi menyapa setiap orang yang memandang ke arah anda. Tidak menunggu orang lain di sekitar untuk menatap anda tetapi mendahulukan diri sendiri untuk meminta izin atau sekedar menyapa saat hendak melakukan sesuatu, mau pergi dan saat kembali pulang. Tidak menuntut dan tidak menunggu pujian dari orang lain baru kita aktif hormat-menghormati melainkan saat sedang dicobai sekali pun kita tetap ramah terhadap lawan di sekitar.

Hindari hitung-hitungan saat hormat-menghormati

Saat kita kanak-kanak, mungkin rasa hormat itu hanya dibina di dalam keluarga saja tetapi ketika muda, dewasa dan tua pastilah rasa hormat-menghormati itu telah berkembang baik. Jangan sampai terjadi dimana diri ini lebih banyak menghormati orang lain saat masih anak-anak sedang setelah dewasa menjadi sangat sedikit karena pelit memberikannya. Padahal Tuhan Yesus Kristus telah menganjurkan kita untuk berani memberi lebih, seperti kata firman-Nya.

(Matius 5:40-42) Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Kebiasaan yang kurang baik ini terjadi karena kita terlalu perhitungan saat menghormati sesama sehingga timbullah rasa kikir. Bukankah ini semua berakar dari kesombongan hati? Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa “mereka yang menghormati sesamanya adalah ciri khas pribadi yang rendah hatinya.” Seorang percaya yang luar biasa adalah “suka memberi sekalipun orang lain tidak memberi apa-apa dan mengasihi musuh-musuhnya.” Mereka yang rendah hati dan suka berkorban adalah pribadi yang sangat disayangi oleh Tuhan. Saat kebiasaan ini terus menerus dilakukan niscaya akan menjadi budaya yang mendatangkan kebahagiaan sejati. “Bukan tanggapan orang lain setelah kita hormati yang membahagiakan tetapi saat memberi hormat, secara otomatis saat itu juga kebahagiaan ada sekali pun respon dari teman kurang-kurang.”

Jangan memaksa orang lain untuk menghormati kita

Sikap hormat-menghormati di dalam kehidupan ini syarat dengan dualisme. Tuhan memang memerintahkan hal tersebut. Artinya ayah dan ibu kandungnya bisa mengarahkan anak-anaknya untuk hormat terhadap orang tua. Namun sebagai sesama yang setara, kita tidak boleh memerintahkan orang lain untuk selalu berlaku ramah terhadap diri ini. Cukup dengan mematuhi peraturan dan menghargai hak-hak kita, itu mutlak dan sudah bagian dari penghormatan. Tetapi, sebagai saudara seiman, sebaiknya kita tidak memaksakan kehendak agar selalu diramahin oleh seseorang. Sebab perilaku ini sama saja dengan menciderai kebaikan itu dengan mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Hal tersebut sudah sama seperti iblis yang memerintahkan Yesus Kristus untuk sujud menyembah demi menghormatinya, seperti kata firman.

(Lukas 4:6-8) Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Bagian dari ujian kehidupan

Di sisi lain, saat kita beramah-tamah kepada sesama, sama saja dengan memberi kesempatan baginya untuk mencobai kita. Artinya, sikap santun ini walau sangat sederhana namun sangat berpengaruh terhadap kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual setiap orang. Tidak perlu sampai berkelahi bahkan tembak-menembak untuk mendewasakan diri seperti yang ditunjukkan dalam film-film hollywood. Melainkan cukup dengan bersikap santun dan ikutilah ujian yang menyertainya. Harus diakui bahwa kami sendiri yang sudah sejak SMP beramah-ramahan dengan sesama masih saja suka khilaf melakukan dan menerimanya. Malahan kerap kali rawan salah, lupa dan lebay dalam meluapkan juga menyerapnya. Artinya, sampai detik ini, sikap tersebut terus mendatangkan ujian untuk melatih kesabaran, kesigapan, kejelian, kerendahan hati dan banyak nilai positif lainnya di dalam hati.

Bagaimana bisa ramah? Situasinya buruk dan lagi galau (bad mood)

Harap diketahui bahwa keramahan sikap erat kaitannya dengan suasana hati. Hanya saat suasana hati baik sajalah, sikap ini bisa diekspresikan dengan luwes. Kemampuan tiap-tiap pribadi untuk menjaga pikiran tetap bahagia sangat menentukan ekspresinya. Saran kami, fokuskanlah pikiran kepada Tuhan untuk senantiasa memuji-memuliakan nama-Nya di dalam hati masing-masing. Ini adalah energi dasar yang membuat kebaikan hati kita meluap. Semangat yang membantu kita untuk mengelola suasana hati tetap bagus. Semangat ini juga bisa muncul saat bekerja (sesuai bakat, potensi, tupoksi) dan belajar positif. Lakukanlah semuanya itu dengan setulus hati dan mohonkan hikmat Tuhan agar bisa melakukannya dengan cerdik. Saat sedang bad mood tahan dulu, sebaiknya segarkan pikiran dengan bernyanyi-nyanyi memuliakan Allah sampai pikiran bagus pulih kembali, baru ramah lagi aja! Bukankah semuanya ini tentang manajemen pola pikir?

Kesimpulan

Cara terbaik untuk memberi hormat adalah dengan mematuhi peraturan dan hak-hak orang lain. Sedang untuk menyempurnakan rasa penghormatan, perlu melatih kesantunan dalam bersikap. Jika anda adalah manusia yang aktif, cerdas lagi bijak maka silahkan beramah-tamah pada waktu yang tepat. Tidak perlu memikirkan harga diri, justru dengan mempertahankannya, sikap hati semakin tidak santun terhadap sesama. Bila bahagia kita terletak pada harga diri yang tinggi, itu adalah arogansi. Salah satu cara terbaik menaklukkan sikap yang arogan ini adalah dengan beramah-tamah agar hal-hal yang baik di dalam diri ini diperluas. Hanya bebaskan hati dari tujuan duniawi saat melakukannya, lakukanlah itu “secara spontanitas.” Apa pun hasilnya dan apa pun tanggapan sesama, ikhlaskan saja dan sambut dengan suka cita sambil menyibukkan diri dengan menyanyi-nyanyi memuji Tuhan (bisa juga dalam doa dan firman) serta fokus belajar dan bekerja positif.

Salam, Memberi hormat
adalah perintah hukum Taurat.
Agar kasih antar sesama kian erat!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.