Kepribadian

+10 Belas Kasihan Kepada Sesama – Tuhan Tidak Menghendaki Kita Saling Menghakimi Tetapi Pertobatan Orang Berdosa

Belas Kasihan Kepada Sesama – Tuhan Tidak Menghendaki Agar Kita Saling Menghakimi Tetapi Pertobatan Orang Berdosa

Arogansi menistakan kasih sehingga kehidupan menjadi liar

Semua tentang hidup ini adalah kasih. Tanpanya, keberadaan umat manusia di bumi ini tak ubahnya kehidupan binatang liar. Bukankah sifat-sifat daging itu telah melekat dalam diri sendiri sampai kepada tingkat sel? Jadi, tidak ada orang yang tidak jahat, itu sudah tertanam di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Tanpa diajari sekali pun, hal-hal buruk itu dapat terekspresikan secara tidak sengaja. Bahkan orang-orang yang tidak memiliki Tuhan di dalam hatinya cenderung melakukan kefasikan secara sengaja. Semuanya itu, semata-mata  demi hawa nafsu yang berbual-bual membasahi sana-sini relung hati manusia. Saat seseorang sudah mematenkan tujuan yang arogan di dalam hatinya, niscaya segala cara akan dihalalkan untuk mencapainya.

Jangan bersandar pada mimpimu tetap bersandarlah pada Tuhan yang memberi pengertian yang benar

Sikap-sikap manusia yang berlebihan dan sesat disebabkan oleh dirinya sendiri yang terlalu fokus kepada kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Mereka mengira bahwa dunia ini dengan segala kemewahan, kemegahan, kenyamanan dan kemudahan yang ditawarkannya adalah yang menjadi impian hati. Padahal mimpi tidak saja berbicara tentang hal-hal yang nyata. Terkadang semua yang ditampilkannya hanyalah imajinasi kosong yang tidak realistis. Lalu kita berharap bahwa hal tersebut akan segera dapat diwujudnyatakan sehingga ada rasa aman, damai dan bahagia. Sayang, ujung-ujungnya semuanya itu omong kosong belaka. Harapan pun pupus sudah dan semangat patah terkulai saat yang dimimpikan tidak kunjung terwujud. Malahan hari-hari hidup jatuh dalam kemabukan duniawi yang tidak ada faedahnya.

Manusia dikodratkan untuk hidup bersama seperti bumi dan bulan berjalan seiringan

Manusia rusak, bukan karena luka fisik atau serangan dari luar tetapi kerusakan yang berangsur-angsur nyata berawal dari pemahaman yang kurang tepat. Indra yang terbatas dan pengertian yang sempit membuat kita merasa seorang diri saja di dunia ini. Padahal, sedari awal manusia diciptakan sebagai tim dimana tim terkecil itulah keluarga. Sedang di alam semesta tim sekerja itu seperti bumi dan bulan. Tuhan menciptakan planet berjalan beriringan sepasang-sepasang untuk mengitari matahari. “Harap diketahui bahwa bulan tidak mengorbit mengelilingi bumi tetapi bareng-bareng keduanya mengelilingi matahari.” Jadi bisa dikatakan bahwa keluarga pertama yang diciptakan Tuhan adalah “Adam dan Hawa.” Sedangkan komunitas yang jauh lebih besar yang diciptakan sebelum manusia adalah bumi yang berpasangan dengan bulan selama mengitari matahari (berevolusi).

Semuanya karena ikatan cinta yang mengikat dan sambung-menyambung

Ikatan kasih antara sepasang makhluk ini telah menjadi awal dari suatu keturunan yang dibangun Tuhan untuk memuliakan nama-Nya di muka bumi. Pula dari rentetan panjang ikatan tersebutlah lahir bapa Abraham, bangsa Israel, Daud, Elia, Yesus Kristus dan lain sebagainya termasuk kita sampai saat ini. Tanpa cinta, semua yang kami sebut itu tidak akan ada sama sekali. Tetapi hati mereka digerakkan oleh kasih untuk melakukan perkara-perkara kecil sampai besar bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan bagi masyarakat luas bahkan demi seluruh umat manusia. Rasa kasihan yang begitu besar tersebut mencapai puncaknya di zaman Yesus Kristus. Tuhan menyatakan karya penebusan yang luar biasa bagi seluruh bumi dengan menanggung hukuman atas dosa-dosa manusia di atas kayu salib. Tidak ada Allah lain yang begitu mengasihi makhluk ciptaan-Nya sampai mengorbankan diri-Nya sendiri demi menyelamatkan mereka.

Pengertian

Menurut KBBI Luar Jaringan (luring), berbelas kasihan adalah menaruh belas kasihan. Frase ini identik dengan kata “kasihan” yaitu  (1) rasa iba hati; rasa belas kasih; (2) seruan menyatakan rasa belas (karena melihat dan sebagainya). Menurut kami, “belas kasihan adalah suatu rasa sayang dan pengertian yang tinggi terhadap kemanusiaan yang syarat dengan kekhilafan, kekurangan dan ketidaksempurnaan duniawi.” Manusia bawaannya memiliki sifat-sifat binatang sama seperti hewan liar di alam rimba. Akan tetapi dengan adanya kepercayaan kepada Sang Pencipta, kita dididik untuk saling mengasihi satu sama lain. Jadi, jelaslah bahwa sikap yang penuh dengan rasa belas kasih murni merupakan bagian dari latihan dan belajar tanpa henti.

Harap pula diketahui bahwa mustahil ada rasa saling mengasihi bila kita tidak terlebih dahulu mencintai Tuhan. Sebab Allahlah yang mempersatukan kita oleh kasih-Nya dalam kebersamaan dan persatuan yang kekal. Bahkan perlu kami tegaskan bahwa “cinta kita kepada Tuhanlah yang membuat suasana hati menjadi baik, bahagia dan tenteram sehingga ada kerinduan untuk membagikan kebaikan itu kepada sesama manusia.” Suasana hati yang bagus inilah yang menjadi energi kebaikan dan siap dibagikan kepada sesama manusia lainnya. Oleh karena itu, kenalilah Penciptamu dengan hidup tetap fokus kepada-Nya dalam doa, membaca-mendengar-mempelajari firman dan bernyanyi memuliakan nama-Nya. Semakin intim kita dengan Sang Khalik maka makin baik hubungan dengan sesama walau ada-ada saja dinamika kehidupan yang mengganggu.

Belas kasihan berdasarkan pandangan Alkitab

Tuhan Yesus Kristus pernah berpesan.

(Matius  9:13) Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Lagi Ia berfirman demikian.

(Matius  12:7) Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.

Dari firman di atas digambarkan dengan jelas bahwa yang dikehendaki Tuhan adalah saat ada rasa saling mengasihi antar sesama. Suatu kasih yang benar-benar murni dan tulus untuk menyayangi seseorang seperti diri sendiri. Allah tidak mengehendaki korban dari daging hewan atau persembahan berupa uang sebab semuanya itu penuh kejijikan (bnd Yesaya 1:13). Manusia saling berkonspirasi untuk memperebutkan uang dan kekuasaan dengan mengadakan sandiwara penuh jebakan (manipulasi). Lalu sekonyong-konyong, setelah melakukan semua kejahatan itu, mereka datang pula ke Bait Sucinya untuk meminta maaf dan beroleh berkat. Sedang uang hasil kejahatannya dimasukkan ke dalam tempat kolekte dan persepuluhan. Sadarilah bahwa Allah tidak mengehendaki persembahan yang nilainya selangit tetapi milikilah belas kasih di dalam hati masing-masing.

Wujud dari niat hati yang berbelas kasih kepada sesama ditunjukkan dengan tidak menghakimi orang berdosa apalagi menjauhi mereka. Sebab yang dikehendaki Tuhan adalah agar mereka bertobat. Sama halnya seperti kisah hidup Yesus Kristus yang menjadi sahabat pemungut cukai dan perempuan sundal. Demikianlah seharusnya setiap orang percaya harus mampu menjadi sahabat bagi musang berbulu domba namun tidak terpengaruh dengan kejahatan mereka. Sehingga sebisa mungkin kehadiran kita dapat membantu mereka untuk melihat ke arah jalan yang benar itu. Kita memberi pengaruh lewat ide dan sikap tetapi tidak memaksakan kehendak. Di tengah-tengah semua hubungan yang menantang itu, kita harus tetap cerdik dalam bersikap dan tulus (lurus hati) berbuat baik kepada mereka.

Sikap yang cerdik tapi tulus jelas tidak mudah untuk diekspresikan. Cerdik identik dengan kemampuan berpikir dan menganalisis situasi serta memberi ide dan masukan. Sedang tulus atau lurus hati maksudnya agar tetap waspada tetapi tidak menaruh curiga berlebihan apalagi menghakimi sesama. Artinya, ide-ide yang kita berikan jelas menentang yang salah itu namun tidak menyudutkan siapa pun dan tidak membawa-bawa nama terang melainkan hanya oknum. Saat ada tantangan yang menguji kebaikan kita, harus sanggup bertahan sambil tetap santun bahkan kepada lawan-lawan di sekitar sekali pun. Hindari menghakimi mereka di dalam hati tetapi berbelas kasihlah dan doakan semoga bertobat bahkan bila perlu berkatilah musuhmu. Saat penentsng di sekitar kita banyak, satu-satunya kekuatan yang harus dimiliki adalah ketenangan dalam bersikap. Sempat saja ketenangan hati mengacau niscaya mereka akan memanfaatkan hal tersebut untuk menggalaukan anda. Jadi pandai-pandailah beradaptasi dan berimprovisasi.

Kumpulan contoh rasa belas kasihan kepada sesama

Selama ini, mungkin ada yang kurang paham atau sepele dengan rasa belas kasih kepada sesama. Sesungguhnya perasaan semacam ini sangatlah langka sebab hanya dimiliki dari proses belajar menahan diri, memberi toleransi dan pengertian terhadap segala sesuatu. Sehingga hal-hal yang terlihat dan terdengar negatif dapat ditanggapi secara positif. Tentunya tidak mudah memungkiri hati sendiri yang cenderung suka menghakimi sesama dengan sembarangan. Namun, latihan yang tekun dan kemauan (tekad) yang kuat dapat membuat suasana hati ini menjadi lebih manusiawi. Oleh karena itu, pelajarilah cara-cara berbelas kasih seperti yang kami contohkan di bawah ini.

  1. Berbelas kasihan terhadap orang-orang terlantar (janda, duda, anak yatim dan yatim piatu).

    Ada orang yang matanya sombong saat melihat orang-orang terlantar di sekitarnya. Mereka seperti tidak memiliki kelemahan karena dimanjakan oleh kemewahan yang lebay. Orang semacam ini, malah lebih suka menyindir orang terlantar sebagai beban bagi lingkungan sekitar. Saking sombongnya, sempat pula dirinya meledek keterbatasan mereka. Seharusnya mata yang memandang dengan sombong kita jauhkan dari kehidupan sehari-hari. Melainkan tunjukkan belas kasihan kepada mereka dimulai dari dalam hati. Jangan merampas hak-haknya, hargailah seperti diri sendiri, bantu secara materi atau setidaknya bantu dalam doa.

  2. Berbelas kasihan terhadap orang-orang yang miskin ekonomi.

    Saat hidup kita mapan sedangkan beberapa orang di sekitar kita kurang beruntung secara materi, pantaslah mereka iri dengan kita yang mapan. Kedengkian itu akan diluapkan dengan menjadi pengganggu. Janganlah menghakimi mereka di dalam hati tetapi berupaya untuk mengasihaninya. Sekali pun ada kelakuannya yang kurang-kurang, hindari kata-kata makian walau hanya di dalam hati. Jagalah kelurusan hatimu terhadap orang-orang disekitarmu dengan senantiasa fokus kepada Tuhan dan berbuat baiklah.

  3. Berbelas kasihan terhadap orang-orang yang kekurangan fisik.

    memiliki disabilitas merupakan suatu hal yang menyebabkan seseorang tidak dapat beraktivitas secara maksimal. Keadaan ini mungkin saja membuat mereka tidak mampu mencari nafkah sehingga membutuhkan santunan orang lain. Tunjukkanlah belas kasihan anda dengan menyantuni semampunya atau setidaknya doakan kebaikannya di dalam hati. Berupayalah untuk tidak merasa ilfil dengan kehadiran mereka yang kurang-kurang tetapi sambutlah mereka dengan keramahan seperti orang biasa pada umumnya.

  4. Berbelas kasihan terhadap lawan kita.

    Di sinilah banyak orang terjebak karena pikirannya penuh dengan kesemerautan saat melirik kepada musuh-musuhnya. Akan muncullah kenangan masa lalu, timbullah ingatan terhadap rasa sakit ini-itu dan berbagai hal lainnya. Semakin dibahas-bahas, rasa benci makin diperkaya. Bahkan sikap yang baik menjadi salah karena bengkok hati untuk menjebaknya. Sadarilah bahwa hal-hal semacam ini cenderung memperberat beban anda di hari penghakiman. Satu-satunya cara untuk menangkal pikiran macam ini yaitu dengan senantiasa bernyanyi memuji Tuhan di dalam hati. Bisa juga dengan berdoa dan membaca firman. Kasihanilah mereka: berkati dan berbuat baiklah kepada mereka.

  5. Berbelas kasihan terhadap para pengganggu.

    Saat kamu suka diganggu orang lain, berhentilah menghakiminya di dalam hati. Tetapi selalu berupaya untuk menyesuaikan diri, sibuk dengan memuji-muji Tuhan, belajar dan bekerja positif. Hindari memarahi apalagi mengutuki mereka tetapi tunjukkan belas kasihan seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Jangan membalas kelakuaannya yang tidak baik, langsung maafkan, berbuat baiklah dimulai dengan memohonkan pertobatan sekaligus keberkatan mereka. Mungkin anda bisa mengatakan di dalam hati, “ya Tuhan, tidak ada yang berdosa di sini. Kasihanilah mereka agar mampu melihat kebenaran-Mu.” Ketahuilah saat kita mampu memaafkan orang lain, menyadari bahwa kehadirannya bermanfaat dan memahami ajakan firman tentang ujian kehidupan, lega rasanya hati ini.

  6. Berbelas kasihan terhadap orang yang melakukan kesalahan.

    Ketahuilah bahwa kita juga pernah salah. Mungkin tidak sama seperti yang dilakukannya hanya dalam mode yang lain tapi tetap saja itu juga dosa.

    Saat ada orang yang salah sana-sini, apa yang anda lakukan? Jangan-jangan timbul ledekan, kata-kata menyudutkan, merendahkan, menyepelekan dan lain sebagainya. Sikap hati yang menghakimi semacam ini jelas semakin menjauhkan kita dari kasih sebagai dasar kekristenan. Sadarilah bahwa sifat-sifat ini tidaklah menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak kasih seperti Allah adalah kasih. Oleh sebab itu tunjukkanlah rasa belas kasihan dengan mendoakan agar mereka dicerdaskan dan diberkati lagi sehingga ke depannya tidak khilaf lagi.

  7. Berbelas kasihan terhadap orang yang egois.

    Sadrilah bahwa dahulu kita juga merupakan atau pernah menjadi orang yang egois, hanya sifat yang ditunjukkan dalam bentuk lain.

    Sewaktu ada orang yang berlaku egois di sekitar, jagalah hatimu dari niat menghakimi. Jangan ilfil dengan mereka sekali pun di dalam hati. Berupayalah untuk tidak terlalu fokus kepada perilakunya melainkan bersihkan hati dengan senantiasa memuji-muji Tuhan di dalam hati. Bila perlu untuk membuat pikiran tidak lari pada keburukan kawan, silahkan bacalah firman atau berdoalah kepada Sang Khalik langit dan bumi.

  8. Berbelas kasihan terhadap orang yang sombong.

    Kami juga pernah sombong, anda juga pernah sombong. Mengertilah dengan situasi yang sedang dihadapinya…

    Ketika menghadapi orang yang angkuh, cobalah untuk tidak membencinya. Biarkan mereka menang dalam permainannya sendiri. Berupayalah menyesuaikan tanpa kehilangan jati diri. Sadarilah bahwa dahulu juga anda pernah sombong, hanya dalam bentuk lain. Oleh karena itu, kasihanilah mereka, mohonkan agar bertobat dan berkati bahkan bila anda mampu jadilah sekawan dengannya. Anda adalah orang yang luar biasa jika bisa berteman dengan musang berbulu domba hanya jangan sampai keburukannya merasukimu. Cerdiklah beradaptasi tapi tuluslah bersikap baik.

  9. Berbelas kasihan terhadap orang yang iri hati.

    Siapa sih yang tidak pernah mendengki? Kami pernah memilikinya, anda pun demikian, hanya diekspresikan dalam bentuk lain.

    Orang yang dengki suka mengganggu orang lain. Tanpa kesetaraan iri hati mengakar dengan subur sehingga susah melihat orang lain senang dan senang melihat orang lain susah. Akan tetapi, hindari memaki atau mencaci mereka sekalipun di dalam hati. Baiklah kita menjadi orang yang selalu mengasihi walau kasih itu tak terbalaskan. Berupaya untuk menaruh hati yang berbelas kasih kepada mereka sehingga tidak ada kebencian. Lakukan permohonan singkat di dalam hati agar Tuhan menyadarkan dan mempertemukan mereka dengan kebahagiaan sejati.

  10. Berbelas kasihan terhadap orang yang sedang bertengkar.

    Mereka yang sedang bertengkar karena masalah keluarga mungkin saja sedang dalam suasana panas. Tidak perlu bersungut-sungut, terganggu inilah, terganggu itulah. Hindari juga menghakimi mereka di dalam hati sebab Yesus Kristus datang ke dunia bukan untuk menghakimi orang berdosa tetapi memanggil mereka untuk bertobat. Maka demikianlah juga seharusnya kita sebagai kristus-kristus kecil, tidak menghukum mereka walau di dalam hati. Tetapi mari mendoakan agar Tuhan mengasihani mereka lalu mencurahkan keikhlasan dan kesabaran dalam hati masing-masing. Semoga kehidupannya diubahkan

  11. Berbelas kasihan terhadap orang yang tersakiti.

    Hati orang yang telah disentuh oleh kasih Kristus peka terhadap kejadian yang berputar di sekitarnya. Saat kita melihat orang yang tersakiti, mungkin karena perkataan atau perilaku orang lain, jangan lantas menilainya dengan sinis. Hati berkata “ahh… itu karena kesalahannya, si ini dan si itu.” Daripada sibuknya hati tidak berfaedah karena menghakimi orang lain, lebih baik berbelas kasihlah kepadanya. Mohonkan agar Sang Pencipta memperkayanya dengan kekuatan hati, keikhlasan dan hikmat yang pantas. Agar di waktu berikutnya, dia tidak lelah, lemah, lesu dan lunglai menghadapi penderitaan melainkan tetap semangat.

  12. Berbelas kasihan terhadap orang yang arogan.

    Mengapa manusia masih dijerat oleh dosa Adam dan Hawa? Karena kita terus saja menginginkan hal-hal yang jauh lebih baik lagi. Andai saja umat manusia hidup dalam kesetaraan maka sikap arogan itu akan ditekan dengan meniadakan pertandingan yang mempertaruhkan nilai besar. Pertandingan tetap ada tetapi bukan untuk berebut hadiah megamateri dan megakekuasaan. Tetapi, ada-ada saja orang yang merasa bahwa kalau semua sama, hidup ini tidak seru. Baiklah, kejar semuanya itu jika memang bisa mendatangkan kelegaan, silahkan tekuni…. Berebutlah dan bersaing dengan penuh kesungguhan. Harap jangan lupa kembali jika menyadari bahwa semuanya sama saja, semuanya palsu dan semuanya melelahkan hingga akhirnya menyadari bahwa semuanya itu sia-sia.

    Hindari sikap mendengki terhadap orang-orang yang masih berusaha mengejar kebanggaan duniawi. Mengharapkan hal yang besar-besar memang membuat semangat meninggi. Persoalannya adalah berhasilkah anda mencapai semuanya itu? Baiklah, katakan saja bahwa itu akan tercapai, lalu anda pun akan merindui kesuksesan lainnya. Sebab yang namanya keinginan tidak akan pernah berakhir. Berjalan dari satu kesuksesan kepada keinginan lainnya pastilah rasanya sangat melelahkan. Terlebih ketika ada kekecewaan yang mewarnai, sesungguhnya itu adalah kesempatan baik untuk melupakan arogansi dan menjalani hidup yang biasa saja.

    Terkadang saat orang-orang semacam ini ada banyak di sekitar kita, yang harus dilakukan adalah hanya mengabaikan. Sebab mendoakan mereka satu per satu di dalam hati butuh waktu lama. Dari pada pusing, lebih baik lanjutkan aktivitas bernyanyi memuliakan Tuhan (baca firman, bernyanyi memuliakan-Nya), belajar dan bekerja. Aktivitas positif semacam ini tidak memberikan kesempatan di dalam hati untuk suudzon dan menghakimi orang-orang arogan tersebut.

  13. Berbelas kasihan terhadap orang yang manipulatif (suka bersandiwara).

    Menyadari bahwa ada orang yang suka manipulatif, jangan kesal hati. Mereka melakukan tipu muslihat untuk mendapatkan yang diinginkannya tanpa ketahuan membuat kebanggaannya mengembang. Sempat kita dengki dengan orang-orang ini, maka mulailah hati menghakimi mereka. Dengan alasan kebencian, kita cerca dan hinakan aktivitas mereka. Ketahuilah bahwa “iri hati cenderung membuat manusia suka menghakimi.” Oleh karena itu, santai saja kawan… tidak perlu terlalu membahas di dalam hati tipu muslihat yang mereka lakukan tetapi fokuslah kepada Tuhan (dalam doa, membaca-mempelajari firman, bernyanyi kreatif) serta lanjutkan pelajaran dan pekerjaan positif yang kita tekuni. Bila perlu, mohon belas kasihan atas mereka agar segera disadarkan dan bertobat.

  14. Berbelas kasihan terhadap orang yang serakah.

    Anda melihat orang-orang serakah di sekitar kita? Tidak perlu menghakimi mereka dengan mengumbar ejekan, sebab hal seperti ini malah membuat mereka kian tamak. Kalau memang kita tidak suka dengan sikapnya yang suka bermewah-mewahan, “katakan saja tetapi jangan memaksakan kehendak. Biarkan mereka tenggelam ke dalamnya, pasti Tuhan menyadarkan mereka suatu saat nanti. Sedang kita, tunjukkan sikap hidup yang sederhana dan bersahabat. Jadilah kawan bagi musang berbulu domba itu. Secara diam-diam, doakanlah agar mereka mendapat belas kasihan Tuhan sehingga disadarkan dari sifat yang jahat itu. Jangan suka menghakimi, itu malah menambah dosa kita; agar pikiran jernih, usahakan selalu bernyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati atau baca-bacalah Alkitab.

    Rasa iri kita karena kehidupan seseorang lebih mewah dan glamour membuat hati semakin giat menghakimi mereka. Oleh karena itu, “lepaskan kedengkian, beri mereka pujian, beri pengakuan, katakan betapa takjubnya dirimu dan jadilah sahabatnya.” Ingatlah bahwa kita diutus Tuhan Yesus Kristus untuk berkawan dengan musang berbulu domba yang ada di sekitar. Keberadaan orang-orang seperti itu akan melatih kecerdikan dan ketulusan hati kita. Hanya, kiranya kita mampu bertahan dan tidak ikut-ikutan serakah seperti mereka!

  15. Berbelas kasihan terhadap orang yang memfitnah.

    Semakin kesal hati terhadap fitnah yang dilemparkan orang, makin tidak ada damai di dalam hati. Berupayalah untuk mengikhlaskan apa adanya semuanya itu, maafkan kesalahan yang dilakukannya. Katakan di dalam hati, “kasihanilah orang-orang ini Tuhan agar mereka sadar dan bertobat kembali ke jalan yang benar.” Sadarilah, semakin kita menghakimi mereka di dalam hati maka secara otomatis timbullah niat untuk membela diri. Proses membela diri inilah yang membuat hidup semakin ruwet. Oleh karena itu, lebih baik di diamkan saja dan biarkan waktu yang membuktikannya. Lanjutkan aktivitas positif yang anda lakukan agar hati selalu bahagia.

  16. Berbelas kasihan terhadap orang yang mengejek (menghina).

    Menghakimi orang yang mengejek sama artinya dengan mengejek mereka kembali. Kebiasaan ini justru menghancurkan ketenteraman hati. Akan tetapi, orang yang menanggapi ejekan dengan sabar, segera beri pengampunan, “biarkan mereka menang, iyakan saja, tersenyumlah, ramahlah.” Niscaya ada kelegaan di dalam hati. Sedang anda, berbelas kasihanlah kepada mereka, pandang mereka sebagai mana Tuhan memandang domba-dombanya yang hilang dan hendak menyelamatkan mereka. Doakan agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka sehingga segera disadarkan dan bertobat.

  17. Berbelas kasihan terhadap informasi hoax di internet dan berbagai media lainnya.

    Apa yang anda lakukan saat menyadari bahwa di internet bertebaran berbagai omong kosong yang tidak benar? “Tidak perlu menghakimi semuanya itu, justru aktivitas ini malah menghabiskan waktu kita pada kesia-siaan.” Adalah lebih baik bagi kita untuk melatih sikap selektif dan kritis menanggapi segala sesuatu sehingga menjadi pribadi yang lebih cerdas dan bijak dalam menjalani hidup. Dalam doa-doa anda, mohonkan agar Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya sehingga orang-orang tersebut tidak menipu terus-menerus dalam kehidupannya, semoga saja konten itu hanya untuk mencobai pengunjung di dunia maya.

  18. Berbelas kasihan terhadap berbagai hal yang tidak sempurna lainnya dalam diri kita.

    Ada banyak ketidaksempurnaan di dalam kehidupan kita. Jika tidak ikhlas menghadapinya, pasti akan muncul keluh-kesah dan sungut-sungut. Adalah baik bagi anda untuk menjaga sikap ikhlas. Selama bisa mengendalikannya dalam arti hal tersebut adalah milik kita, maka perbaikilah sebisanya. Akan tetapi saat hal yang kurang sempurna itu tidak berada di bawah kuasa kita, “berikan saran yang tidak memaksa, bersabarlah, maafkanlah, ikhlaslah, bertoleransilah.” Lalu lebih baik arahkan suara hati agar mulai berbelas kasih terhadap situasi tersebut, moga-moga Tuhan segera menyadarkan mereka.

  19. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Belas kasihan adalah ciri khas sifat manusiawi

Tolong orang-orang ini ya Tuhan…. Kasihanilah mereka…. Berikan apa yang mereka butuhkan hari demi hari…. Sadarkanlah mereka saat salah…. Semoga mereka bertobat kembali ke jalan-Mu…. Kiranya Tuhan memberkati mereka setiap waktu…. Hati yang selalu berbelas kasihan adalah aktivitas multitasking manusia yang sudah dewasa iman. Kita tidak lagi melihat situasi/ seseorang dari luarnya saja tetapi kita pun mampu memahami maksud-maksud mereka. Daripada sibuk menghakimi sikap mereka yang salah, lebih baik mohonkan agar Tuhan menunjukkan belas kasih-Nya demi menyadarkan dan membuat mereka bertobat. Camkanlah bahwa “menghakimi hanya membuat kita pusing dan pikiran terbeban.” Oleh karena itu, jadilah sahabat bagi musang berbulu domba itu dan lanjutkan hidupmu kawan!” Silahkan fokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta manfaatkan waktu kita untuk belajar dan bekerja positif sambil-sambil berbuat baik kepada sesama.

Salam, Tuhan tidak menghendaki,
Agar anak-anak-Nya saling menghakimi.
Menjadi hakim membuat hidup iritasi.
Fokus lari, bahagia dan damai pun pergi.
Berbelas kasihlah penuh simpati,
Pertobatan merekalah yang Tuhan kehendaki
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.