Ekonomi

Keadilan Sosial & Hidup Yang Berputar-Putar

Keadilan Sosial Hidup Yang Berputar-Putar

Argansi adalah dosa nenek moyang kita (Adam dan Hawa)

Sejak dari awal penciptaan, Tuhan telah mencekal kita untuk tidak mengambil pengetahuan-Nya. Tetapi, kita dan semua yang ada di dalam diri ini telah tenggelam jauh dalam iming-iming iblis, yaitu mejadi lebih dan lebih lagi (arogan). Manusia terjebak dalam rayuan hewan yang diperalat si jahat untuk menjadi mulia seperti Allah sehingga mencuri ilmu-Nya. Padahal, kita sudah diberi amanat untuk berkuasa di bumi tetapi masih kurang juga sebab hasrat hati rasa-rasanya masih kurang puas. Itulah yang terjadi kepada generasi kita sampai saat ini, arogansi telah mengacak-acak sistem dalam masyarakat sebab semuanya ingin beruang banyak dan berjabatan tinggi. Lantas memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk memanipulasi banyak hal demi tercapainya tujuan sempit, yaitu menjadi mulia.

Materi dan kemuliaan duniawi dijadikan pancingan sehingga banyak pihak berlomba memanipulasi sistem dan sesamanya.

Ilmu pengetahuan yang dimiliki memang baik adanya, namun di sisi lain, kita juga menggunakannya untuk memajukan tujuan yang egois. Kita tidak peduli dengan orang lain, yang penting diri ini untung besar: uang melimpah dan pujian berdatangan. Lantas memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk meluruskan kelicikan dalam berbagai bidang sehingga dihasilkanlah sesuatu yang seolah-olah baru padahal hanya dikembangkan dari bahan alami. Bahan-bahan yang alami yang awalnya dianugerahkan Tuhan kepada kita, kini telah dirubah-rubah menjadi sesuatu yang lain, yang sebelumnya tidak ada. Lantas dari konspirasi tersebut bisa kita pahami bahwa “semua hal bisa dimanipulasi  karena dipicu oleh uang dan kekuasaan.”

Ketika dua hal ini diperebutkan oleh manusia maka mereka memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk melakukan manipulasi. Di media-media dilakukan banyak hal-hal yang menakjubkan semata-mata untuk membuat rakyat terkesima. Masyarakat yang terlena akan “nurut aja sama peraturan yang ada.” Padahal sesungguhnya yang namanya keadilan sosial adalah hak seluruh masyarakat. Lantas uang menumpuk kepada satu-dua pihak saja yang bawaannya pintar-pintar. Keadaan ini mendorong banyak orang cerdas yang semakin manipulatif semata-mata untuk berebut keuntungan. sedangkan masyarakat lainnya menjadi lahan panen untuk meraup lebih banyak fulus. Demikianlah seseorang yang banyak uangnya besar kekuasaannya sehingga beresiko menipu dan merugikan orang lain secara diam-diam. Praktek manipulasi semacam ini akan meluas hingga memakan korban di antara orang-orang kecil.

Kita mencuri hak cipta Tuhan lalu menjadikannya sebagai temuaan dan ciptaan sendiri

Sudah saatnya kaum intelektual tahu diri, sudah waktunya orang-orang kreatif menyadari keberadaan mereka. Semua kepintaran yang kita bangga-banggakan sesungguhnya hanya kesia-siaan belaka. Kita mengubah hal-hal alami dengan memberikan sentuhan kreatif lalu berteriak hore karena telah menghasilkan hal baru. Padahal, apa yang dilakukan hanyalah menyusupi komponen lain ke dalam bahab alami sehingga tampak berbeda namun sesungguhnya itu hanya kamuflase kelicikan untuk mengaburkan anugerah Tuhan. Kita tidak menyadari bahwa yang sedang dilakukan saat ini adalah pengambil-alihan karunia titipan Sang Pencipta lalu membuat nama & mereknya sendiri. Seolah-olah kitalah penemu dan penciptanya tetapi sesungguhnya semuanya itu tersedia secara alami melimpah di alam. Ini jelas sebagai sebuah aksi manipulatif yang berusaha mengkaburkan kebesaran kasih Allah kepada umat manusia lalu mengambil uang dan pujiannya sehingga lebih unggul dari orang banyak.

Semua yang dilakukan seniman hanyalah berputar-putar (terutama kami)

Industri kreatif lainnya seperti kami dan semua seniman sejati di luar sana, memanfaatkan kecerdasannya untuk memilah-milah, mencampur, meracik dan memasak berbagai hal sehingga jadilah sebuah karya seni luar biasa. Lantas kita merasa berhak dibayar tinggi-tinggi lewat semuanya itu. Demikian di hari-hari berikutnya, kita sangat lihai mengkonversi dan menyulam berbagai titik, garis, lengkungan, zig-zag, sketsa, gambar, kata, frase, kalimat dan lainnya. Lewat semuanya itu memuji diri sendiri, demikian pula di hari-hari lainnya. Sadarkah anda bahwa sesungguhnya yang kita lakukan hanyalah mengacak-acak kata doang? Istilah kasarnya “futa-futa bakha mbawamo ba o’sondra gefe sebua!” Kita berjalan berkeliling lalu memutar-mutar kata yang sama, hanya menempatkannya pada posisi dan konteks yang berbeda-beda.

Kami sendiri sangat tahu diri bahwa karya yang kami hasilkan “hanya mutar-mutar di situ saja.” Apa yang sudah kami katakan dahulu maka dikatakan saat ini lalu dikatakan lagi ke depannya. Sedang para pembaca tidak menyadari hal tersebut sebab mereka sudah lupa tulisan yang dulu sehingga seolah-olah apa yang kami ungkapkan terasa baru padahal semuanya itu berita lama. Bukankah yang kita lakukan ini merupakan salah satu cara terpicik? Dimana lagi-lagi hal yang jahat tersebut telah memberi kita banyak fulus yang bisa dikonversi menjadi kekuasaan. Lantas saja, kita hidup mewah, megah, nyaman dan mudah yang lebay lalu merasa hebat dengan semuanya itu. Padahal gelimangan materi tersebut terlebih dahulu mengkerdilkan mental ini dan membuat kita semakin menjauh dari orang-orang di sekitar. Materi yang berlebihan hanyalah perusak masif yang membuat kita semakin jauh dari kemanusiawiaan.

Orang cerdas itu tidak hebat kalinya… mereka hanya mengulang-ngulang banyak hal lalu menambah bumbunya agar berasa beda lalu diputar-putar

Sudah saatnya kita menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh masyarakat. Sebab semua yang kita lakukan pasti ada masanya hanya berputar di situ-situ saja sama halnya seperti pekerjaan lainnya. Bukankah ini adalah takdir dari Sang Pencipta, sama halnya seperti  Ibu Pertiwi yang sejak dari dalam kandungan melawat, memelihara dan menjaga kehidupan ini. Ibu Pertiwi atau tanah air atau bumi ini berputar-putar sampai waktu yang tidak ditentukan (hanya Tuhan yang tahu). Seperti halnya ibu kita, demikianlah juga semua aktivitas yang kita lakukan tanpa terkecuali. Sekalipun ada yang berubah, itu hanyalah inovasi dan improvisasi sedikit saja. Bahkan kita cenderung mengulang apa yang lalu pernah dibuat (baik oleh diri sendiri maupun seniman yang lain). Jadi, mengapa kita tidak mau setara dengan orang lain? Dengan mereka yang pekerjaannya berdasarkan otot serbaguna? Jalan juga ya, Ternyata orang cerdas tidak bisa melakukan ini.

Kepintaran yang menginginkan arogansi, bangganya sesaat tapi rapuhnya/ retaknya seumur hidup

Sudah saatnya kita menekan arogansi ini. Justru sikap inilah yang melahirkan kesombongan lalu mensuplai harga diri menjadi sangat tinggi di awang-awang. Padahal dengan bersikap demikian gangguan kecil saja sudah dapat menggalaukan kehidupan kita. Ejekan atas khilaf sendiri saja sudah bisa memicu rasa kesal. Ketidakcocokan dalam beberapa hal sudah membuat perselisihan tajam. Ketidaksesuaian keinginan dengan kenyataan bisa membuat cemberut berhari-hari. Semua ini terjadi karena kita terlalu tinggi hati plus tinggi harga dirinya sehingga merasa perfek (sempurna) dan merasa segala-galanya. Oleh karena itu, kenali bahaya sikap arogan tersebut lalu undurlah daripadanya dan perjuangkanlah kesetaraan (keadilan sosial).

Hati-hati resiko ketergantungan

Megamateri yang bisa dikonversi menjadi megakekuasaan tidak serta merta ada seumur hidup. Saat jumlahnya besar dan sangat tinggi, kita bebas melakukan apa saja, lebih bebas dari burung layang-layang. Membeli ini-itu, jalan ke sana-ke mari dan melakukan apa saja yang kita inginkan. Bahkan bisa dikatakan bahwa tidak ada satu pun hal yang tidak bisa dilakukan, semua tempat pernah dikunjungi, semua makanan pernah dicicipi dan berbagai-bagai hal menakjubkan lainnya. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya keadaan tersebut telah membuat kita candu. Lantas saat umur bertambah, pekerjaan bergeser dan jabatan hilang; sumber daya yang besar itu sudah tidak ada lagi. Lalu kita jadi raja tega yang menghalalkan segala cara untuk meraih nafsu lebaynya dan mengorbankan nilai-nilai kebenaran bahkan sampai merugikan, melukai dan membunuh juga.

Orang yang telah kecanduan tidak lagi bisa membedakan mana tindakan manusiawi dan mana yang mencirikan kebinatangan. Mereka bermain di tempat-tempat gelap untuk memperebutkan sumber daya, merampas hak-hak orang lain dan melakukan tipu muslihat sehingga nafsunya terealisasi. Orang-orang ini buta mata rohaninya sebab mereka rela membayar, menyogok dan mengintimidasi siapa saja yang mencoba untuk menghalang-halanginya. Pada tahapan ini, kehausan kita akan harta benda dan penghormatan tidak lagi terkontrol bahkan telah menggila, merusak orang lain, mencemari lingkungan dan merugikan diri sendiri. Sehingga lambat laun yang namanya bencana alam akan melanda daerah/ wilayah kita. Sedang bencana kemanusiaan tinggal menunggu waktu saja.

Mari dukung kesejajaran manusia, kita memang berbeda tetapi hakikatnya berputar-putar di situ saja.

Semua pekerjaan berputar-putar. Bahkan orang kreatif sekali pun keliling-keliling dengan sedikit menambahi bumbu. Sehingga terlihat, terdengar dan terasa baru namun sesungguhnya berotasi di situ-situ saja. Lihat juga, Dasar keadilan sosial.

Seharusnya, kita tidak memandang sebelah mata orang yang bekerja dengan otot. Pekerjaan mereka memang cuma sedikit jenisnya tetapi melelahkan. Sedangkan para pekerja otak yang kreatif dan inovatif memang jenis pekerjaannya macam-macam tetapi tergolong ringan (kurang melelahkan. Sesungguhnya jika memang kerja kita berat, bukankah masih banyak orang yang menganggur di luar sana untuk ditraining dan dijadikan rekan? Padahal yang kita lakukan adalah aktivitas yang berputar-putar hanya lebihnya karena variasi banyak sehingga besar kemungkinan orang lain lupa yang terdahulu dan menganggapnya baru. Sedang yang kita terbitkan/ hasilkan sekarang dianggap luar biasa, nyatanya hal tersebut dikembangkan dengan mengotak-atik sedikit karya sebelumnya. Oleh karena itu, semua orang sama dan semua profesi sama sekalipun memiliki ragam keunikan masing-masing namun tetap berkeliling sama seperti ibu kita, yaitu bumi ini. Jadi, apa salahnya menerapkan kesetaraan untuk seluruh rakyat? Bukankah pekerjaan yang kita lakukan sama-sama berputar-putar? Simak juga, Ketidakadilan menjadi akar masalah.

Salam Ada tiga kesetaraan:
Pengetahuan umum, penggajian dan kekuasaan.
Masyarakat berkeadilan sosial tanda kemajuan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.