Kesetaraan Manusia

10 Belajar Dari Peristiwa G30 S PKI (Gerakan Sosialis Kuno) – Pelajaran Bagi Kaum Sosialis Masa Kini

Belajar Dari Peristiwa G30 S PKI (Gerakan Sosialis Kuno) - Pelajaran Bagi Kaum Sosialis Masa Kini

Kaum sosialistis ramaipedang negeri ini

Paham sosialis pernah menginjakkan kaki di tanah indonesia. Keberadaannya sebagai suatu organisasi politik telah ada semenjak dari awal negara ini terbentuk. Kekuatannya semakin dipertegas oleh dukungan Uni Soviet (Rusia) dan RRC (Republik Rakyat China) dalam lingkup pembangunan. Ada dua partai yang menganut sosialisme di masa lampau, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Partasi Sosialis Indonesia (PSI). Pada awalnya, kedua organisasi politik ini hidup dalam satu atap secara rukun tetapi oleh karena berbagai faktor, kedua kubu memisahkan diri untuk berjalan dalam asumsinya masing-masing. Sekali pun demikian, kedua kekuatan yang sesungguhnya luar biasa ini, kandas di tengah jalan bahkan hilang dari peredaran.

Kita perlu bersyukur sebab Indonesia adalah bangsa yang dibangun oleh tangan-tangan sosialis di masa lampau. Katakan saja Presiden Soekarno ternyata seorang sosialis di zamannya. Slogannya yang sangat terkenal adalah marhaenisme. Kenyataan ini diikuti dengan dukungannya terhadap PKI (Partai Komunis Indonesia). Ditambah lagi dengan dukungan negara-negara komunis lainnya atas negeri kita. Sekalipun demikian, ini agak bertentangan dengan paham politik Indonesia yang kala itu dikenal sebagai gerakan “Non Blok.” Artinya, kita tidak berpihak dengan blok mana pun yang sedang bersitegang dalam perang dingin. Akan tetapi, ada kesan kurang konsisten karena kita cenderung memilih untuk berkawan dengan para komunis (blok timur), yaitu Uni Soviet dan RRC.

Bung Karno dan komunis

Salah satu tokoh penting di Indonesia sangat kental dengan paham sosialis. Gerakan sosialis ala Indonesia ini disebut dengan nama marhaenisme. Menurut KBBI Luar Jaringan (Luring) marhaenisme adalah  (1) paham yang bertujuan memperjuangkan nasib kaum kecil untuk mendapatkan kebahagiaan hidup; (2) ideologi politik yang tumbuh dan berkembang di Indonesia berdasarkan keadaan dan keinginan masyarakat Indonesia dengan asas sosionasional, sosiodemokrasi, gotong royong, kebangsaan, kemerdekaan beragama, dan kerakyatan.” Yang menjadi tokoh utama pembawa paham ini adalah Presiden Soekarno. Dia dikenal sebagai salah satu sosialis garis keras yang ditunjukkan oleh kenekatannya untuk mendekat dengan PKI. Sebab Presiden kita menyukai partai komunis dan sebaliknya, partai tersebut pun menjadi pendukung aktif sang junjungan tertinggi. Sayang, nasib paguyuban ini jadi terkatung-katung bahkan sempat dianggap sebagai musuh negara di zamannya walau status tersebut sat ini telah dipulihkan.

Apa yang dapat kita pelajari dari kejatuhan kaum sosialis pada peristiwa G30 S PKI?

Sekitar satu-dua minggu (atau lebih) yang lalu, sebuah komentar panas mendatangi blog kami. Singkatnya, pesan yang disampaikannya bermakna demikian, “apa yang kamu sampaikan telah terjadi di tahun 1965, kamu bodoh jika berpikir ini akan kembali berhasil.”  [Lihat sendiri penampakannya, Pancasila] Memang apa yang dimaksudkan komentator tersebtu adalah benar adanya. Kegagalan abang sulung kita, PKI mengubah negara ini menjadi komunis merupakan petunjuk besar yang menandakan bahwa bangsa ini telah dikuasai secara terstruktur oleh kaum kapitalis. Karena sudah pernah kalah pertama dengan dilabeli buruk oleh segelintir orang maka perjuangan kita untuk bangkit kembali cukup rumit tapi tidak mustahil. “asalkan kaum sosialis masa kini belajar dari kejadian yang lalu-lalu, niscaya ajarannya bisa merasuk bukan saja dipermukaan demi power yang tinggi (kekayaan dan kekuasaan). Melainkan semata-mata demi jaminan keberadaaan umat manusia di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

Berikut hal-hal yang dapat kita pelajari dari perjuangan komunis di masa lampau.

  1. Kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

    Entah ini sudah bawaan kaum komunis atau hanya sekedar lambangnya saja yang angker karena menunjukkan gambar “palu & arit.” Budaya kekerasan yang dibawa-bawa oleh kaum palu-arit merah ini memang sangat tidak manusiawi. Jelas sangat bertentangan dengan Pancasila khususnya sila ke dua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradap.” Aksi pukul-memukul, luka-melukai dan bunuh-membunuh jelas tidak beradab. Perilaku yang tidak manusiawi semacam ini perlu kita tinggalkan sebab masyarakat bukan binatang. Bisa jadi “satu nyawa yang kita hilangkan selama hidup di bumi (hanya satu saja) sudah menghambat langkah kaki memasuki tahapan evolusi tingkat tinggi menuju sorga yang kekal.”

    Adalah baik bagi kita untuk meninggalkan budaya memaksakan kehendak kepada siapa pun. Sebab sesuatu yang dipaksakan tidak akan bertahan lama dan justru menjadi bumerang yang balik membinasakan kita. Oleh karena itu, mari beralih misi seperti kawan-kawan kita dari berbagai negara dimana mereka memperjuangkan faham keadilan sosial dengan memberi pengertian. Menjelaskan kepada para pemimpin bahwa sesungguhnya hal tersebut telah tercantum dengan jelas dalam dasar negara (Pancasila). Sehingga mereka terdorong hatinya untuk membuat aturan tentang keadilan sosial.

  2. Tidak perlu merusak atau memusuhi atau membunuh siapa pun.

    Saat kaum komunis mulai melancarkan aksinya untuk menundukkan para kapitalis yang berkuasa, rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa digerakkan untuk merusak fasilitas kapital dan membenci para pengusaha bahkan sampai membunuh pula. Ini sama seperti yang terjadi pada peristiwa G30 S PKI yang mengorbankan jendral-jendral yang berkuasa.

    (Matius 26:52) Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

    Ini adalah perkataan Tuhan Yesus Kristus secara langsung kepada murid-murid-Nya. Perkataan tersebut nyata dalam peristiwa naas di tahun 65 sebab pembersihan PKI dan antek-anteknya langsung dilakukan setelah peristiwa tersebut. Bahkan bisa kami katakan bahwa PKI hanya membunuh beberapa jendral tetapi nyatanya hal tersebut membuat mereka dibantai tanpa persidangan terlebih dahulu. Mereka difitnah telah melakukan ini dan itu, mereka dituduh membunuh Ulama dan menyerang pesantren. Padahal semua informasi hoax ini semata-mata demi memusnahkan ajaran komunis di tanah air yang berujung pada GENOSIDA PENGIKUT PARTAI KOMUNIS.

    Sadarilah bahwa oknum kapitalis adalah penguasa informasi, oknum tertentu yang bersalah tetapi yang dipersalahkan adalah organisasinya. Kejadian ini turut didukung oleh perseteruan sengit antara Blok barat dan Blog timur. Perang dingin yang terjadi antara kedua seteru tersebut berujung pada dendam kesumat yang menunjukkan ketidakadilan dan pelanggaran HAM.

    Padahal, semua aksi membabi buta kepada pengikut PKI semata-mata untuk menutupi mata rakyat seputar “siapa kaum intelektual yang memerintahkan penculikan dan pembunuhan para jendral.” Mereka dikorbankan demi memenuhi nafsu besar oknum yang memimpinnya.

  3. Cermati konspirasi manipulasi di sekitar.

    Sungguh ironis partai sebesar PKI digunakan untuk memenuhi hasrat besar oknum pemimpinnya. Kami sendiri heran, apa urusannya PKI dengan para jendral tingkat tinggi? Seharusnya jika partai ini memiliki musuh maka lawan yang pantas untuk itu adalah para pengusaha yang memanen secara besar-besaran pada suatu daerah. Akan tetapi, nyatanya mereka diarahkan untuk membunuh para jendral Angkata Darat yang terkemuka. Ini murni persepakatan jahat yang terselubung. Naasnya lagi, oknum AD yang digunakan pemimpin untuk memusnahkan pengikut PKI kembali menyerang dan menaklukkan si memberi perintah. Istilahnya adalah “senjata makan tuan.” Oknum pemimpin tersebut ditaklukkan oleh bawahannya sendiri lewat Supersemar yang ditandatanganinya. Inilah yang kami sebut-sebut sebagai ironi di atas ironi.

    Kami sarankan bagi siapa pun kaum sosialis di negeri ini, agar tidak memanipulasi siapa pun dan apa pun yang ada di bawah kekuasaan anda. Melainkan gunakan landasan yang benar dalam bersikap dan berlogika tanpa mengabaikan hak dan kewajiban sendiri maupun orang lain. Tragedi panjang pelanggaran HAM semata-mata untuk menutupi kesalahan junjungan maha tinggi berujung kwalat. Senjata yang awalnya diam dengan tenang dalam sarungnya malah menyerang balik dan menggeser singgasana sang junjungan. Senjata makan tuan alias konspirasi yang ditelan oleh konspirasi yang lebih besar (skala internasional). Oleh karena itu, bertindaklah jujur, setia dan benar agar diri ini bebas dari sikap manipulatif.

  4. Berhati-hati dengan dunia politik.

    Politik sangat menantang karena melibatkan banyak sumber daya. Rupiah yang mengalir bagai topan badai ke kantong para pejabat selain bisa dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan bisa juga untuk kejahatan. Dua manfaat ini beda tipis saja, dimana masing-masing oknum politikus mungkin mengekspresikan yang baik-baiknya untuk diri sendiri. Sedang yang buruknya akan dilampiaskan utamanya terhadap musuh-musuhnya. Oleh karena itu, sebaiknya oknum sosialis membatasi diri di dunia politik selama parpol masih didalangi oleh swasta. Uang panas dari swasta ini lebih banyak mengubah kita yang sosialistis menjadi kapitalis yang serakah.

    Ada jalan lain untuk melawan politikus lewat jalur yang berdasarkan konstitusi yang berlaku di Indonesia. Berusahalah untuk mengajukan perubahan undang-undang tanpa terlibat dalam pola-pola kapitalisme. Hiduplah apa adanya saja, bukankah hidup ini lebih berharga dari kenikmatan dan kemuliaan duniawi? Jadi, pasrahkanlah hidup kita untuk melakukan dan memperjuangkan apa yang benar saja.

  5. Hindari mengincar kekuasaan.

    Kesalahan kaum komunis lainnya adalah dengan menobatkan dirinya sebagai penguasa abadi turun-temurun. Beberapa penguasa yang menyukai paham ini dinobatkan sebagai penguasa turun-temurun sehingga menarik hati para pemimpin di belahan dunia lainnya. Kehausan pejabat agar dirinya terus memimpin adalah salah satu faktor penting dari kegagalan PKI. Sebab jika demikian jadinya, mayarakat yang berkelas-kelas seperti halnya di zaman raja-raja kuno akan kembali terbentuk. Jelas sekali bahwa kepemimpinan semacam ini hanya kembali mengulang kebobrokan sistem dimana rakyat terlantar sedang para pejabat negeri hidup mewah-mewahan di dalam istananya.

    Oleh karena itu, sebagai pejuang sosialis sejati, hindari melakukannya demi tampuk kepemimpinan. Motivasi semacam ini hanya menambah pilu hati saja sebab belum tentu hal tersebut tercapai. Sedang kita pun secara otomatis akan berubah menjadi salah satu anggota kapitalis karena sistem partai yang sangat mengandalkan mesin pendorong pribadi/ kelompok (membiayai diri sendiri – swasta). Sudah otomatis orang yang memakai biaya sendiri atau bantuan dari orang lain (pinjaman) untuk menjadi calon pejabat dan pemimpin (legislatif & eksekutif) yang suatu saat harus ditagih dari rakyat dengan melakukan manipulasi dan konspirasi. Oleh karena itu, bersihkan hati dari nafsu semacam ini tetapi perjuangkan sosialis oleh karena Pancasila secara jelas mengesahkannya dalam sila ke lima. Lagi keadilan sosial sangat sesuai dengan prinsip kebenaran hakiki, yaitu “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (kasihi sesama seadil-adilnya).”

  6. Akar sosialis masih dangkal.

    Nilai-nilai sosialis kala itu masih sangat dangkal di antara masyarakat. Bahkan mungkin saja oknum partai yang melibatkan diri dalam gerakan 30 september 1965 tidak paham betul dengan ideologi yang dianutnya alias masyarakat yang terlibat hanya sekedar ikut-ikutan saja. Keikut-sertaan semacam ini justru kesetiaannya diragukan sebab nilai keadilan sosial belum tertanam rapi di dalam hidupnya. Artinya, saat ada orang lain menawarkannya materi dan kenyamanan yang lebih baik pasti langsung pindah posisi lalu menjadi pengkhianat.

    Sebaiknya, memberi pengertian kepada masyarakat adalah tugas kaum sosialistis yang sesungguhnya. Kita perlu menjelaskan mengapa faham politik ini baik untuk dianut oleh setiap orang di seluruh dunia. Apa dampaknya bagi orang lain dan lingkungan sekitar? Perlu juga menjelaskan apa-apa saja akibat nyata dari keberadaan oknum kapitalistis yang memiliki sumber daya besar. Lebih daripada itu, biarkan masyarakat luas menilainya, apakah baginya lebih baik berada di sisi sosialisme membela kemanusiaan yang setara atau malah berada di sisi kapitalisme membela keberadaan predator di tengah-tengah rakyat banyak.

  7. Siap menaggung tekanan dari para kapitalis.

    Ini adalah masalah yang kompleks yang ditimbulkan para pemilik modal. Jika sudah menegaskan keberadaanmu sebagai sosialis maka siap-siaplah menanggung tekanan dari para kapitalis. Sosialis sejati harus tabah dan melatih ketabahannya itu lewat beramah tamah. Salah satu manfaat jitu dari beramah tamah adalah menghancurkan harga diri sendiri. Sebab mereka yang merasa memiliki harga diri tinggi sulit sekali memaafkan, mudah kesal hati, marah-marah bahkan bersikap kasar kepada sesama dan lain sebagainya. Oleh karena itu, jangan pernah bermusuhan kepada siapapun tetapi bagikanlah kebaikan yang santun itu dengan setulus hati. Di atas semuanya itu, tetap waspada tetapi jangan takut berlebihan melainkan gunakan kepintaran yang dimiliki untuk berbagi kepada sesama.

  8. Mengajukan usulan hak-hak masyarakat yang harus ditanggung negara yang adil.

    Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa “saat PKI melancarkan konspirasinya ternyata ditunggangi oleh kepentingan politik oknum petingginya.” Mereka mengalami konspirasi di atas konspirasi (perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur). Multikonspirasi yang sudah melibatkan ranah internasional ini telah menyudutkan mereka dalam kesalahannya sendiri. Sehingga petingginya membuang bawahannya sendiri lalu menganggap mereka sebagai musuh negara kala itu.

    Oleh karenanya, berhenti berkonspirasi sebab kita bisa terjebak dalam kelicikan sendiri. Ketahuilah bahwa yang kita lawan adalah oknum kapitalistis bermodal besar yang dapat melakukan apa saja. Jadi, jangan biarkan mereka memanfaatkan kesalahan kita untuk menghancurkan kita bahkan sampai menghancurkan ide-ide yang kita hasilkan. Tempuhlah jalur yang sah, yaitu jalur hukum untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat (hak asasi manusia) yang semestinya disediakan oleh negara. Sebab bangsa ini hidup di bawah ideologi yang menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat termasuk dalam hal perolehan hak yang sama dengan oknum pegawai pemerintahan di dalamnya.

  9. Mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi.

    Sama seperti usulan hak, uji materi undang-undang juga diajukan ke Mahkamah Konstitusi. Ini adalah jalur yang paling sah untuk memulai perubahan. Hanya saja, prosesnya tidaklah semudah yang dibayangkan. Modal seorang sosialis sejati adalah ilmu pengetahuan dan wawasan kebangsaan yang luas. Jika anda kalah pintar dengan oknum kapitalis maka semua yang kita bicarakan ini hanya akan menjadi isapan jempol yang hilang dimakan waktu.

    Oleh karena itu, sebelum melakukan pengajuan uji materi undang-undang yang berkaitan dengan keadilan sosial, pastikan memiliki modal yang besar dan tetap ada (tetap mengalir). Sebab mungkin saja para kapitalis tersebut akan melengserkan mu dari pekerjaan sehingga niat yang baik itu pun kandas karena tidak ada modal. Siapa pun anda yang akan melakukannya, ketahuilah bahwa tantangan dan tekanan selama melakukannya sangat besar. Berawas-awaslah dengan hawa nafsu dan kecanduan yang dimiliki sebab pemodal besar bisa saja mempermainkan dan mengendalikan anda lewat semuanya itu. Namun jangan takut, melainkan bersahabatlah dengan para musang berbulu domba itu. Jadilah akrab dan ramah kepada mereka dan bagikan kebaikan dengan tulus. Sambil tetap memutar pikiran untuk berkarya memberi manfaat kepada sesama.

  10. Menegaskan status kita bukan komunis dan lebih kepada oposisi.

    Tidak ada niat sedikit pun untuk memaksakan kehendak seperti yang dilakukan abang sulung kita dahulu (PKI). Kita perlu menempuh cara-cara cerdas dan terpelajar untuk menyampaikan niat baik ini. Di atas semuanya itu, tidak perlu terlalu menanggapi berbagai pemberiataan di berbagai media termasuk di televisi sebab oknum kapitalis ini doyan bersandiwara. Artinya, mereka seolah-olah sedang cek-cok tetapi nyatanya semua itu pura-pura. Dalam kasus ini, tidak ada kawan dan tidak ada lawan sebab masing-masing adalah dibayar oleh oknum pemodal untuk melakukan perannya. Jelilah menghadapi sekitar mu, soal-soal kecil jangan terlalu digubris (anggap itu cobaan), siap diuji mereka, tetap rendah hati (bahkan rendah diri) lalu fokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta nikmatilah pelajaran dan pekerjaan yang dipercayakan pada diri ini, selesaikan sampai tuntas.

    Jika memang gagasan kita kurang diterima oleh para pemimpin dan pejabat, janganlah menjadi kecewa. Melainkan setidak-tidaknya imbangilah keinginannya yang arogan dengan senantiasa menyiarkan semangat kebersamaan. Semuanya ini, setidak-tidaknya demi menjaga keseimbangan agar mereka tidak terlalu liar menggunakan power yang dimiliki (pengetahuan, uang, jabatan).

Menghadapi musang berbulu domba, santai aja bro… yang penting dia menghormati hak-hakmu sebagai manusia. Di atas semuanya itu jangan pernah merasa punya musuh. Berbagilah kepada mereka dengan tulus hati dimulai dari sikap yang ramah dan santun. Berupaya untuk menggali kecerdasan yang dimiliki dengan mempelajari banyak buku (Yang terbaik Kitab Suci), mempelajari undang-undang, mempelajar penegakan dan pembaharuan hukum di negara lain dan lain sebagainya. Anda harus lebih cerdik dari mereka tetapi hindari praktek konspirasi manipulasi seperti kesukaan mereka (jalan yang suka ditempuh kapitalis).

Jangan lawan kapitalis dengan otot, mereka punya otot terbesar. Hindari melawan dengan pedang, mereka punya yang lebih tajam dari itu. Jangan lawan dengan tembak, gudangnya penuh dengan senjata otomatis. Apalagi melawan mereka lewat persaingan uang, kita tidak akan menang sebab brangkasnya penuh emas permata dan dolar. Akan tetapi, lawanlah kapitalistis lewat teori-teori yang memberi pengertian. Pertimbangkan lagi untuk berdebat tidak karu-karuan dengan mereka pada ranah yang tidak jelas. Melainkan tantanglah mereka di muka hukum, ayo beradu gagasan dengan mereka untuk menunjukkan bahwa jalan yang ditempuhnya selama ini kurang tepat. Sebab jalan kapitalisme syarat dengan perampasan, pembodohan, penindasan, penipuan dan lain sebagainya. Semua tindakan jahat ini dilakukan demi kekayaan dan kekuasaan yang melimpah ruah. Kasih tahu mereka tentang dampak kemewahan yang menjadi kebanggaannya tetapi jangan menyudutkan orang, katakan saja sebagai “oknum.” Di atas semuanya itu, jadilah karib dengan mereka, bukankah Tuhan Yesus Kristus juga dikenal sebagai sahabat pemungut cukai dan orang berdosa (bnd Lukas 7:34)?

Salam, Masa lalu memang pahit,
Jadikan modal hari esok yang hangat
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.