Konflik Horizontal

10 Hubungan Manusia Dengan Alam – Kita Adalah Satu Dengan Lingkungan Sekitarnya

Hubungan Manusia Dengan Alam – Kita Adalah Satu Dengan Lingkungan Sekitarnya

Harap dipahami bahwa seluruh alam semesta telah diciptakan di dalam kesempurnaan karya Sang Pencipta segala masa. Setiap bagian yang ada di dalamnya saling kait-mengait dalam ikatan energi yang saling membutuhkan satu sama lain. Memang masing-masing berdiri sendiri pada tempatnya namun secara langsung membutuhkan peran bagian lainnya untuk membuatnya tetap hidup. Jadi, bisa dikatakan bahwa tanpa ikatan yang saling terhubung ini, bagian tertentu akan terbuang, tidak bisa menjalankan fungsinya bahkan hidupnya hingga punah. Bumi atau lebih tepatnya kita sebagai manusia yang ada di dalamnya bisa merasakan kasih-Nya yang begitu besar di dalam keutuhan ikatan antara diri ini dengan seluruh alam semesta. Ikatan energi yang saling memberi dan saling menerima itulah yang sampai sekarang membuat manusia masih bisa bertahan. Sayang, kadang-kadang sikap arogan, licik dan serakah memotong semua ikatan tersebut sehingga tanpa sadar kehidupan kita berada di ujung tanduk.

Terkadang pikiran yang kerdil penuh egois menguasai hati ini. Kita merasa bahwa sebagai satu spesies yang memiliki kepintaran selangit, kita bisa hidup sendiri tanpa peran yang lainnya. Terlebih ketika power (keilmuan, kekayaan dan kekuasaan) yang dikuasai sangatlah besar semakin rendah di mata ini orang-orang kecil di sekitar terlebih lagi dengan lingkungan alamiah. Tingginya keangkuhan hati membuat kita malah menjadi semena-mena kepada orang lemah terlebih kepada ciptaan Tuhan lainnya yang lebih rendah. Mengeksploitasi hewan untuk diambil dagingnya demi acara-acara besar yang syarat foya-foya selama berhari-hari. Menghancurkan hutan demi hunian elit yang sangat mewah dengan fasilitas yang super lengkap. Kita berpikir bahwa semuanya itu adalah keuntungan padahal lama kelamaan mendatangkan keburukan bagi diri sendiri, orang lain maupun terhadap lingkungan alamiah di sekitar.

Kemanusiaan yang hanya difokuskan pada  kenikmatan dan kemuliaan duniawi telah mengantarkan kita pada sikap arogansi tinggi. Masing-masing orang terbakar oleh nafsu penuh kedengkian terhadap sesama dan lingkungannya demi mencapai titik unggul yang memukau. Pengetahuan yang dimiliki dimanfaatkan untuk megeksploitasi sumber daya yang tersedia semata-mata demi nama besar dan kehormatan. Kita terjebak dalam kemewahan, kemegahan, kenyamanan dan kemudahan yang lebay dimana semuanya itu telah mengeksploitasi alam secara besar-besaran. Tanpa sadar, nafsu besar terhadap gemerlapan duniawi yang serba elit dan syarat foya-foya telah memutuskan hubungan kita dengan sesama manusia dan lingkungan sekitar. Semua yang kita bangun dengan susah payah dalam biaya besar tersebut cenderung memanjakan diri sendiri sehingga tidak pernah dewasa dan berkepribadian kerdil.

Harap diingat bahwa kita harus hidup sebagai manusia normal seperti yang lainnya, yaitu memiliki tetangga dan hidup menyatu dengan alam. Akan tetapi, pemukiman elit nan mewah justru telah memangkas hubungan antara orang per orang. Hidup malah lebih mirip seperti “burung dalam sangkar emas” yang tidak bersosialisasi dengan sesamanya dan tidak bersentuhan dengan lingkungan alamiah. Sebab gedung, tembok dan pagar yang ekstra besar telah menjauhkan kita dari gangguan sosial sehingga hidup dalam kenyamanan indra yang lebay. Kepribadian kita tidak berkembang, tidak mampu menyesuaikan diri dengan keberadaan orang lain dan kurang mampu beradaptasi dengan fluktuasi lingkungan alamiah. Semuanya ini justru membuat tingkat kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual tidak dapat berkembang. Sebab masalahlah yang meningkatkan kapasitas kecerdasan kita, dimana semuanya itu terakumulasi saat kita berbaur dengan sesama dan hidup menyatu dengan alam.

Pengertian

Manusia dengan alam adalah satu. Ada jalinan erat antara kehidupan kita sebagai pribadi dengan sesama manusia lainnya dan lingkungan sekitar. Jangan sampai ada sekat-sekat duniawi yang terlalu besar dan luas sehingga memisahkan kita dari sesama maupun makhluk hidup lainnya. Sebab saat kita hidup secara bersama-sama, terdapat yang namanya politik kepentingan berbeda yang saling beradu dalam satu momen yang cenderung menciptakan ketidaktenangan dan kekurangnyamanan. Akan tetapi, setiap manusia yang mau belajar menyesuaikan diri pastilah akan dituntun dalam kecerdasan pikiran bahkan lebih lagi yaitu kebijaksanaan sikap. Sehingga pada satu titik mampu hidup mandiri tanpa ketergantungan dengan kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang berlebihan. Artinya, kita secara bawaan hanya butuh Tuhan saja sebab telah mampu melepaskan diri dari kecanduan akan gemerlapan duniawi. Memang hal-hal duniawi tersebut masih ada hanya apa adanya, tidak berlebihan dan tidak dipaksakan.

Hubungan manusia dengan alam adalah suatu ikatan tanpa jarak dimana alam menjadi penopang, pelindung, pemelihara sekaligus menjadi penguji kehidupan kita. Semuanya ini bertujuan semata-mata agar kita melepaskan sikap kekanak-kanakan yang sangat ketagihan dengan kenikmatan dan kemuliaan duniawi. Lalu menjadi pribadi yang dewasa yang hanya bergantung pada Tuhan saja sambil memberi manfaat kepada sesama dan lingkungan sekitar. Sedang hal-hal materi dan penghormatan apa adanya saja sudah cukup tanpa mencari yang lebih lagi dalam kemewahan dan foya-foya.

Hubungan manusia dengan alam sekitarnya

Alam terdiri dari dua komponen besar yakni, abiotik dan biotik. Komponen biotik adalah segala jenis tanaman dan hewan sedang abiotik adalah tanah, udara, air dan sinar matahari. Sekali pun kami menyebut komponen abiotik bukan berarti hal-hal tersebut tidak memiliki kehidupan. Justru kehidupan di dalam komponen ini bisa kita rasakan dari aktivitasnya dalam skala besar. Misalnya saja bumi yang selalu aktif berputar, udara yang selalu mengalir, air yang selalu berputar dan mentari yang tetap memberi kehangatan. Semuanya ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta bukanlah benda mati. Oleh karena itu, marilah masing-masing dari kita menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar sehingga mampu bertahan hidup bahkan berkembang dan dewasa bersama.

Berikut selengkapnya beberapa hal yang kami tahu sebagai hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

  1. Sama-sama berasal dari Allah.

    (Kejadian 1:21-22) Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

    Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa “manusia dan seluruh alam semesta adalah satu.” Masing-masing dari kita memang berbeda-beda baik dari segi lokasinya, fungsi, kebutuhan, aktivitas dan lain sebagainya. Tetapi, di tengah perbedaan itu harus menyadari bahwa sesungguhnya kita hidup oleh nafas Allah. Sebab setiap firman yang keluar dari mulutnya telah memberikan kita kehidupan seperti sekarang ini. Justru saat kita mulai berpikir egois lalu mulai menjauh dari orang lain dan alam lalu hidup dalam petak-petak kemewahan. Inilah sumber ketidakdewasaan yang justru membahayakan kehidupan kita sehingga menjadi tidak manusiawi dalam berpikir dan bersikap.

  2. Kita berkuasa atas alam.

    (Kejadian 1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

    Senang rasanya karena kita berkuasa atas alam ini tetapi tunggu dulu…. Kekuasaan yang diberikan Yang Maha Mulia tidak digunakan untuk menghancurkan ciptaan lainnya. Berkuasa dalam hal ini bertujuan untuk memanfaatkan air, udara, hewan, tumbuhan dan lainnya ala kadarnya saja untuk memenuhi keperluan hidup. Kita berhak melakukan eksploitasi tetapi dalam batas-batas yang wajar, seperlunya saja dan bukan demi mengejar harta kekayaan yang melimpah ruah. Sadarilah nafsu terhadap materi yang berlebihan dapat mendorong keserakahan yang beresiko mengganggu keseimbangan alam.

    Eksplorasi lingkungan demi kepentingan kapitalis yang semata-mata hanya ingin menambah kekayaannya dilakukan penuh hawa nafsu. Mereka yang memanfaatkan lingkungan demi meraih nama besar dan kemuliaan lainnya akan mengarah kepada tindakan yang serakah. Tindakan ini beresiko tinggi mencemari lingkungan yang akan terakumulasi lalu mencapai puncaknya hingga menimbulkan bencana alam. Dimulai dari banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, gagal panen, badai tropis, puting beliung, topan, cuaca ekstrim dan lain sebagainya.

    Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup lainnya untuk kita hancurkan sampai punah tetapi untuk dimanfaatkan seperlunya sekaligus menguji hati ini. Semuanya itu adalah titipan yang suatu saat kelak pasti akan ditanyakan bagaimana-bagaimana pemberdayaannya apa sudah benar atau malah diarahkan untuk menunjang sikap arogan, melakukan tipu muslihat dan menjadi serakah?

  3. Lingkungan adalah penopang & pelindung hidup kita yang dipersiapkan Allah.

    Bukan suatu kebetulan saja dimana manusia diciptakan pada hari yang terakhir. Bagaimana jadinya kehidupan kita seandainya saja diciptakan di hari ke tiga atau ke dua? Tentu saja keadaan ini tidak memungkinkan bagi manusia untuk hidup. Sungguh betapa indahnya perencanaan karya Tuhan yang menempatkan kita sebagai ciptaan terakhir. Ini juga sekaligus menandakan bahwa sebenarnya manusia adalah makhluk yang paling lemah dari seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Hanya saja anugerah berpikir yang kita dimiliki telah memberikan kita kemampuan khusus yang tidak dimiliki makhluk hidup lainnya.

    Jelaslah bahwa alam sekitar adalah penyokong kehidupan ini sebab tanpa kehadiran salah satu saja nasib kita akan terkatung-katung. Misalnya saja tanpa matahari maka tidak mungkin ada kehidupan di bumi ini. Tanpa pepohonan, udara sangat panas hingga membakar kulit; tanpa hewan liar, jumlah serangga akan membludak dari dalam hutan.

  4. Alam merupakan sumber kebutuhan hidup sehari-hari.

    Dari alam kita bisa memperoleh berbagai-bagai bahan makanan atau sering disebut sebagai sembako. Memang beberapa di antaranya harus dipelihara, dirawat dan dijaga agar tumbuh dan berkembang tetapi bukankah semua manfaat itu asalnya dari alam? Bahan kebutuhan lainnya butuh diproses lewat berbagai mesin pabrik rumahan maupun lewat industri besar. Misalnya dalam pembuatan gula dari tebu dan minyak makan dari kelapa. Untuk memenuhi kebutuhan daging, kita harus memelihara domba, kambing, lembu, babi, ayam dan lain sebagainya. Sedang hewan jenis ikan harus ditangkap terlebih dahulu dari lautan luas. Demikian halnya saat hendak membangun hunian, kita butuh bahan-bahan dari berbagai penjuru yang diolah dengan teknik khusus sehingga jadilah hunian yang layak.

    Lautan memberikan kepada kita esensi mineral langka yang tidak ditemukan di tempat lain. Mineral yang disebut sebagai garam ini bermanfaat dalam berbagai bidang kehidupan, di antaranya pertanian (pupuk), peternakan (nutrisi), kesehatan (asal dari semua obat), industri dan lain sebagainya.

  5. Lingkungan adalah sumber ilmu pengetahuan yang kita miliki.

    Dari lingkungan sekitar kita mempelajari berbagai hal, dimulai dari yang kecil-kecil. Apa yang sederhana biasanya memiliki pola yang mirip atau serupa dengan bagian yang lebih besar. Alamlah yang membuat para pakar bisa menulis berbagai-bagai buku ilmu pengetahuan. Saat kita mampu mengamati ciri khas tersendiri dimana peristiwa tersebut terjadi secara berulang, hasil pengamatan yang konsisten inilah yang menjadi ilmu pengetahuan.

  6. Alam memberi kita pekerjaan.

    Dengan adanya sumber daya yang melimpah ruah di sekitar, membuat manusia tetap sibuk. Sekarang semua ini tergantung di tangan kita masing-masing, apakah mengarahkan pekerjaan tersebut pada hal-hal positif atau malah memanfaatkannya sekedar demi arogansi dan ketamakan. Orang yang bekerja dengan dasar yang arogan cenderung melakukan hal-hal yang berlebihan dan terkesan merusak lingkungannya. Sedang orang yang serakah dalam bekerja akan menyapu bersih sumber daya yang tersedia sehingga tidak tersisa sama sekali. Aktivitas semacam ini harus ditinggalkan dengan mengembangkan rasa kebersamaan yang setara di antara umat manusia. Sebab tanpa kesetaraan akan tercipta iri hati sehingga setiap orang akan bekerja secara berlebihan demi mencapai puncak kehidupan.

  7. Lingkungan sumber teknologi umat manusia.

    Semua teknologi berasal dari alam sekitar kita. Hanya saja telah melalui teknik pengolahan khusus sehingga menjadi barang-barang yang lebih berdaya guna tinggi. Tidak ada zat baru yang dihasilkan tetapi yang kita lakukan adalah mencampur, menyusun dan membentuknya sesuai dengan kebutuhan. Sekali pun masing-masing barang elektronik memiliki merek dagangnya sendiri-sendiri, bukan berarti itu adalah murni ciptaannya melainkan bahan-bahannya diambil dari berbagai penjuru bumi.

  8. Alamlah yang melatih kita untuk beradaptasi bahkan menguji.

    Saat cuaca panas, apakah anda mengeluh? Ketika dingin, apakah timbul sungut-sungut? Sewaktu terang berkilau, apakah mulai cemas? Ketika gelap tiba, apakah ada rasa takut? Sadarilah bahwa perubahan yang ditimbulkan alam sekitar untuk mengajari kita beradaptasi. Makhluk hidup yang lihai beradaptasi biasanya yang paling cerdas. Sedang yang tidak mau beradaptasi namun melindungi diri di balik kemewahan dan teknologi mesin hanya akan dimanjakan oleh ketumpulan pikiran. Menyesuaikan dirilah dengan fenomena yang ditimbulkan oleh lingkungan sekitar sebab kebiasaan inilah yang mempersiapkan kita untuk menghadapi ujian hidup yang lebih berat.

    Alam juga memberikan kita suara-suara yang menakutkan (misalnya anjing dan burung hantu dan yang lainnya), apakah kita merinding takut dengan semuanya itu? Juga memberi kita suara yang mempesona, apakah kita ketergantungan dengan suara merdu itu? Sadarilah bahwa hewan dan tumbuhan juga pola lekak-lekuk bumi yang ada adalah menantang kehidupan kita untuk lebih kuat dan berani. Tentu saja kekuatan dan keberanian ini harus diarahkan kepada hal-hal positif. Salah satu ujian yang menantang lainnya adalah soal ketagihan akan suara-suara yang memukau telinga. Ingatlah untuk tidak fokus terhadap hal-hal tersebut melainkan fokuskan kehidupan hanya kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian.

  9. Alam adalah tempat sampah (pembuangan).

    Hubungan kita dengan alam memang sangat erat sebab dari A sampai Z telah disediakan dan dipenuhi lewat bagian-bagian yang ada. Tempat-tempat tertentu di belakang/ sekitar rumah menjadi tempat untuk membuang kotoran dan sampah. Sedang di kota-kota besar yang menjadi tempat pembuangan kotoran secara masal adalah lautan. Bisa dikatakan bahwa lautan selain sebagai sumber protein dan garam juga merupakan toilet umum terbesar di seluruh dunia.

  10. Lingkungan adalah tempat berlangsungnya proses daur ulang sumber daya yang kita perlukan.

    Mengapa beras, ikan, kelapa, garam, air, sayuran, daging, susu dan berbagai sumber daya alam lainnya tetap ada? Karena alam melakukan daur ulang terhadap semua SDA tersebut. Memang hal ini tidak lepas dari peran manusia yang memanfaatkan pengetahuan dan teknologi tertentu namun semuanya itu memanfaatkan bahan-bahan alamiah. Misalnya sebagai agen daur ulang utama adalah garam yang bermanfaat untuk melakukan mineralisasi terhadap berbagai bahan. Agar bisa dimanfaatkan kembali oleh tumbuhan untuk membangun berbagai bahan organik yang siap konsumsi.

Kita Adalah Satu Dengan Lingkungan Sekitar Manfaatkan Untuk Kepentingan Bersama Yang Setara

Manusia dengan alam tidak bisa dipisahkan satu sama lain. “Alam bisa hidup sendiri tanpa kehadiran manusia tetapi kita tidak dapat hidup tanpa kehadiran alam.” Inilah yang harus kita ketahui agar tidak berlaku semena-mena menghancurkannya demi kekayaan dan kekuasaan yang besar. Hindari menjadi sombong dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat memanipulasi segala hal termasuk merusakkan titipan Tuhan. Sadarilah bahwa itu hanya titipan, suatu saat Tuhan akan menanyakan keberadaannya. Oleh karena itu, manfaatkanlah segala sumber daya yang ada di sekitar seperlunya saja, hindari tindakan yang berlebihan sehingga berpotensi merusak lingkungan. Ketahuilah bahwa lingkungan biotik dan abiotik merupakan penopang, penyokong dan pelindung keberadaan umat manusia. Pelihara, jaga dan rawatlah mereka seperti saudara tiri atau saudara jauh! Bukankah nafas Allah yang keluar dalam setiap firman-Nya telah mengalir ke dalam masing-masing komponen alamiah? Orang yang mengenal Penciptanya pastilah bersahabat dengan ciptaan Tuhan lainnya. Memanfaatkan itu sah-sah saja asalkan bukan demi memenuhi nafsu yang arogan dan jauh dari sifat-sifat tamak. Simak juga, Teori persatuan alam semesta.

Salam, Kita dan alam tidak bisa dipisahkan,
Mereka rekan yang dapat diberdayakan,
Manfaatkanlah secara terpimpin
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.