Kepribadian

+10 Alasan Mengapa Bunuh Diri, Pengertian Dan Akibatnya

Alasan Mengapa Bunuh Diri, Pengertian Dan Akibatnya

Ingatlah, kesombongan bisa menjadi batu sandungan paling halus dan paling berbahaya

Kita masih bisa bernafas sampai sekarang oleh karena kasih karunia yang dari pada Tuhan. Suatu esensi yang tidak mampu kita balaskan sepenuhnya dan tidak bisa lagi diperoleh dari hari-hari murkaannya. Ia menganugerahkan berkat kehidupan secara cuma-Cuma kepada siapa pun yang diinginkan-Nya. Jika dahulu Ia mampu membuat manusia dari lumpur menjadi Adam dan Hawa maka saat ini Ia pun dapat menciptakan anak-anak yang setia dari batu-batu di sekitar kita (bnd Lukas 3:8). Artinya, setelah mendapatkan kemurahan hati Tuhan, jangan pula kita menjadi sombong karena terus-terusan diberkati. Sadar atau tidak, kesombongan inilah yang membuat manusia mudah sekali terjatuh, ambruk, tergeletak dan tidak bangun lagi (berpulang ke rumah Tuhan).

Hasrat yang berlebihan dan sesat membuat kita berakhir tragis

Setiap manusia memiliki keinginan tetapi tidak setiap saat membahas hal-hal tersebut di dalam hatinya. Sebab saat kehidupan ini lebih banyak mengarah kepada kenikmatan dan kemuliaan belaka bisa-bisa terjebak dalam kebiasaan yang konsumtif. Kita kecaanduan mengonsumsi sesuatu dan lain hal sehingga saat hal-hal tersebut tidak ada, pikian kacau dan sikap amburadul sehingga muncullah niat untuk melakukan kejahatan. Sadarilah bahwa kejahatan apa pun bisa membuat kita membunuh diri sendiri karena kebebasan kita terampas mendekap di balik jeruji besi. Di sisi lain, fokus kepada keinginan duniawi dapat menyebabkan kekecewaan besar yang menimbulkan stres yang membuka niat untuk mengakhiri hidup.

Hindari menggantungkan hidup kepada dunia ini tapi carilah kebutuhanmu sehari-hari sambil bersandar kepada Tuhan

Menurut pengalaman sendiri, kita tidak pantas bergantung pada hal-hal duniawi untuk mencapai jalan hidup yang baik. Justru semakin dekat dengan dunia ini membuat kita makin cinta terhadap uang, pujian dan penghormatan. Padahal kiita tidak mampu menjamin keberadaannya tetap ada/ selalu ada. Keadaan ini bisa saja membuat kita patah semangat dan putus asa menjalani waktu demi waktu. Oleh karena itu, penuhilah kebutuhan sehari-hari seperti biasa dan secukupnya saja. Hindari fokus pada keinginan yang masih jauh di depan sebab masa depan tidak ada yang tahu. Melainkan lebih baik menggantungkan kehidupan ini kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Artinya, kebutuhan memang harus dicari dalam dunia ini tetapi kiranya hati tidak pernah jauh dari Tuhan yang adalah kebenaran itu sendiri.

Pengertian (defenisi)

Bunuh diri adalah niat hati yang jahat karena telah merusak hak-hak hidup sendiri sebelum waktunya Tuhan. Memang jelaslah bahwa yang namanya kematian itu hanya tinggal menunggu giliran saja. “Pemula mencemooh akhir hidupnya, orang cerdas mempersiapkan dirinya tetapi mereka yang bijak akan mengakhiri hidup dalam kebenaran.” Di sisi lain, kita juga beresiko membuang diri sendiri lewat berbagai aksi kejahatan yang dilakukan sehingga kebebasan dicekal dan berakhir dalam penjara. Praktek ini juga bisa berakhir dengan menggiring seseorang masuk panti rehabilitasi, rumah sakit dan rumah sakit jiwa. Artinya, dalam kasus percobaan bunuh diri seseorang bisa berakhir dengan kematian, rumah sakit, rumah sakit jiwa, panti rehabilitasi dan lembaga pemasyarakatan.

Membunuh diri sendiri adalah melakukan aksi kejahatan yang merugikan diri sendiri sehingga berakibat fatal menyebabkan seseorang masuk rumah sakit, panti rehabilitasi, rumah sakit jiwa dan lembaga pemasyarakat bahkan bisa juga berakhir dengan kematian.

Faktor yang menyebabkan seseorang melakukan aksi bunuh diri

Hidup ini sangatlah berarti lebih dari apa pun juga. Sekali pun anda saat ini kita tidak memiliki materi yang cukup berarti bahkan tidak dipandang terhormat oleh siapa pun. Harap diketahui bahwa Tuhan Yesus Kristus telah berkata “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (Matius  5:3)” Jadi, jika saat ini anda dipanggil Tuhan dalam keadaan miskin, hidup pas-pasan dan sangat sederhana; camkanlah bahwa kemiskinanmu adalah jaminan bagimu untuk beroleh sorga yang kekal! Jadi berbahagialah menjadi orang miskin hanya lakukanlah yang benar dan hindari mencuri. Lebih baik menjadi orang miskin yang meminta-minta daripada menjadi pencuri yang kaya raya seperi para koruptor.

Berikut ini adalah alasan mengapa manusia tega membuang dirinya sendiri.

  1. Kehilangan Tuhan dalam dirinya.

    Mereka yang kehilangan Tuhan cenderung menganggap bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Sehingga mereka pun cenderung terlalu mengeksploitasi sisi kesenangan duniawi untuk mencapai derajat hidup yang kaya raya dan nama baik yang terhormat. Saat pencapaian terhadap keunggulan materi tersebut tidak sesuai target, pikiran stres, menjadi depresi bahkan berniat untuk mengakhiri hidup. Biasanya, penyebab hal ini adalah karena malu terhadap diri sendiri yang tidak mampu sukses seperti orang lain yang kaya raya dan terhormat.

    Seandainya mereka memiliki Tuhan di dalam hatinya maka akan paham dengan maksud Tuhan Yesus Kristus yang mengatakan bahwa “hidup itu lebih bernilai dari kenikmatan dan kemuliaan duniawi mana pun.” Oleh karenanya, jangan sia-siakan hidupmu dalam kesalahan sendiri. Sebab hidup saja sudah syukur di hadapan Tuhan penuh sukacita. Seerti kata firman.

    (Lukas 12:23) Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian.

  2. Negara kapitalis dengan ciri khas persaingan super disegala lini kehidupan

    Coba cari tahu kawanku lewat internet, negara manakah di dunia ini dengan angka bunuh diri tertinggi? Pastilah negara tersebut merupakan salah satu yang menganut paham liberal kapitalis. Sistem ekonomi yang melegalkan swasta untuk memiliki modal sendiri membuat mereka berusaha maksimal mungkin untuk mencapai hasil terbaik. Tanpa memikirkan sisi proses yang cenderung kebablasan sehingga menjebak banyak konsumen dalam mekanisme sampah yang membuat beberapa di antaranya melakukan aksi bunuh diri. Tingginya kesenjangan sosial menyebabkan angka iri hati juga meningkat. Dengan sedikit arogansi, kedengkian tersebutlah yang sering dipakai untuk membumbui otak pelanggan agar terus-menerus belanja.

  3. Tidak mampu menerima kelemahan diri apa adanya.

    Kita harus menyadari bahwa diri ini lemah dalam beberapa hal. Terkadang kelemahan itu sangat mencolok sehingga menjadi bahan ejekan teman-teman. Kuatkanlah hatimu kawan dan cobalah untuk tidak melawan dengan mengatakan bahwa “aku hebat, aku luar biasa, aku spesial, aku istimewa dan lain sebagainya.” Melainkan terbiasalah menikmati buli itu dengan menerimanya apa adanya bahkan lebih lagi merendahkan diri.

    Misalnya saat ada yang mengatakan anda “hai jelek.” Jawablah dia dengan berkata “oh iya ya, aku inikan orang terjelek satu propinsi.” Ada yang mengatakan bahwa “diri ini sampah,” jawab dengan mengatakan, “sudah dari dulu kali.” Contoh lainnya, saat anda diejek oleh orang lain, senyum atau sapa sajalah dia kembali. Memang melakukan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus banyak-banyak menyangkal diri di hadapan Tuhan sebab itulah modal awal untuk membiasakan diri terhadap sikap negatif orang lain.

  4. Kurang mampu menerima kenyataan hidup (ikhlas).

    Kenyataan hidup memang tidak semuanya baik. Terkadang kita diperhadapkan dalam situasi terjelek sehingga suasana emosional berada di titik nadir kehidupan. Pada posisi sedih dan galau semacam ini, seseorang bisa berpikiran pendek sehingga memilih untuk membunuh dirinya sendiri ketimbang menanggung beratnya beban kehidupan tersebut. Padahal, sesungguhnya “beban hidup yang lebih berat akan menciptakan mental kelas berat yang lebih kuat.”

  5. Terlalu tinggi hati.

    Seperti yang selalu kami ulang-ulang bahwa “semakin tinggi keberadaan kita, makin lihai juga orang lain untuk menjatuhkan.” Oleh karena itu, berupayalah untuk merendahkan diri sebelum semuanya berakhir.

    Biasanya mereka yang sombong menganggap dirinya sudah sempurna semuanya. Pas ada kelemahannya yang mencolok atau diketahui yang lainnya maka akan muncul rasa malu yang berlebihan. Sebab “semakin tinggi kesombongan hati makin tinggi pula rasa malu yang dibawa sampai mati.” Terlebih ketika pada awalnya dia tak menyadari kelemahan tersebut. Begitu diingatkan dengan sedikit penekanan maka gengsinya hancur, mentalnya jatuh, malu-maluin, stres berat hingga mengakhiri hidup dengan tangan sendiri.

  6. Terlalu iri hati.

    Tingginya kedengkian menyebabkan seseorang cenderung/ lebih banyak/ lebih suka membanding-bandingkan kehidupannya dengan sesama. Memang kebiasaan ini bisa membuat hati senang sesaat. Akan tetapi, bagaimana jadinya ketika orang yang kita perbandingkan adalah lebih hebat dari diri sendiri. Dalam posisi semacam ini, otomatis membuat rasa minder semakin melunjak. Ada ketidakpuasan yang sangat kentara sehingga membuat seseorang membenci diri sendiri sampai membuangnya dengan sia-sia.

    Pengaruh iri hati yang bisa sampai membuat seseorang saing-saingan dengan yang lainnya. Dia begitu percaya diri dengan kemampuannya sehingga berppikir untuk menang bahkan pasti menang. Namun setelah pertandingan diurutkan dengan seksama, dirinya kalah besar. Kata-kata sombong yang sempat terucap demi meyakinkan kehebatannya justru menjadi batu sandungan sekaligus bahan ejekan bagi orang lain. Lantas gengsinya yang tinggi tak lagi mampu menahan semua tekanan tersebut lalu memilih untuk bunuh diri.

  7. Terlalu ketergantungan dengan nilai materi yang tinggi-tinggi.

    Orang yang kecanduan dengan uang cenderung mendewakannya. Saat jumlah uangnya banyak, kesenangan meledak-ledak. Akan tetapi sewaktu uangnya menipis semangat pun terjun bebas. Padahal sebenarnya dengan uang apa adanya saja dia masih bisa terjamin kehidupannya. Namun rasa bangga yang dipelihara selama memiliki banyak uang dahulu, ternyata masih membekas di dalam hati. Dia pun tidak mampu hidup secara pas-pasan dengan yang membuatnya kehilangan semangat hidup akibat kebanggaan yang telah redup. Semuanya ini membuat dirinya tertekan, mengalami depresi berat hingga membuang diri sendiri.

  8. Terlalu ketergantungan terhadap pujian dan popularitas.

    Saat pujian dan popularitas seseorang menurun akibat sesuatu dan lain hal, apakah dia bisa menerima kenyataan ini secara logis? Atau justru lebih memilih untuk menebar sensasi negatif? Pamor yang turun jika tidak dapat diterima dengan ikhlas, besar kemungkinan akan dibawa stres sampai di tempat tidur. Bahkan makan dan minum pun turut dilupakan sehingga menjadi orang yang sakit-sakitan tak-karuan masuk rumah sakit karena kesalahan sendiri. Mereka akan nekad mengakhiri hidup jika masih belum mampu mengikhlaskan semuanya dimana hatinya terus bersungut-sungut.

  9. Terlalu memaksakan kehendak dan tidak diikuti.

    Saat kita terlalu memaksakan kehendak, ada beberapa orang yang mengikutinya lalu muncul rasa bangga. Dalam lain kesempatan kita kembali menganjurkan hal yang berbeda tetapi tidak ada satu pun yang mengikutinya. Lantas kita mencoba menjelaskannya mati-matian tetapi tidak ada yang memercayainya. Akhirnya, diri ini stres sendiri sekaligus malu karena dianggap gila. Kebiasaan memaksakan kehendak semacam ini cenderung mendorong seseorang untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

    Terkadang dalam hidup ini, kita perlu membiarkan orang-orang dalam kesalahan dan kejahatannya sendiri. Biarkan Tuhan yang menegur mereka sebab mau disadarkan bagaimana pun, kita tidak akan mampu dan alasan mereka banyak sekali. Oleh karena itu, biarkan saja lalu biarlah waktu yang membuktikan semuanya. Sedang disamping itu, marilah kita menyibukkan diri dengan fokus kepada Tuhan, belajar lebih giat dan bekerja melakukan hal-hal positif untuk kebaikan hati.

  10. Kekecewaan tanpa henti.

    Orang yang kecewa tetapi selalu bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan niscaya rasa kecewa itu pun pergi. Tetapi mereka yang kecewa namun terus berkeluh kesah justru semakin memperparah luka hati. Bila sakit hati ini terus berlanjut selama berhari-hari terlebih ketika terus mengurung diri di dalam kamar. Besar kemungkinan menjadi depresi sehingga mengkonsumsi hal yang aneh-aneh hingga berakhir nyawanya tanpa diketahui siapa-siapa.

  11. Merasa kesepian/ merasa ditinggalkan.

    Orang yang sangat makmur hidupnya dari segi materi tetapi tidak ada sesama manusia yang tinggal betah bersamanya karena temperamen buruk membuatnya terpaksa hidup menyendiri. Kebiasaan menyepi tanpa aktivitas selama berbulan-bulan bahkan menahun bisa saja meningkatkan perasaan seolah hidup tak berarti lagi. Akhirnya, dia pun memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

    Rasa kesepian akan semakin parah ketika kita tidak mau berbuat baik terlebih ketika hal tersebut diabaikan pula oleh beberapa oknum. Pada kesempatan ini, anda perlu melakukan kebaikan bukan hanya untuk menggenapi firman dan perintah Allah, melainkan demi meramaikan aktivitas dan melatih daya tahan emosional. Saat anda mampu bertahan sekali pun banyak diabaikan, besar rasa sukacita itu saat hati terus-menerus memuji-muji nama Tuhan. Sebab secara tidak langsung penderitaan yang dialam oleh Tuhan Yesus Kristus dahulu telah kita alami dan sanggup bertahan tetap benar memuliakan nama Tuhan.

  12. Merasa hidup tidak bermanfaat.

    Orang yang terlalu sombong kepada sesamanya tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Mereka tidak mau melakukan hal-hal kecil sebab harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan aktivitas recehan tersebut. Namun semaki lama hidup dalam kesombongan membuat dirinya makin jauh dari orang-orang. Sehingga pada satu titik merasa bahwa keberadaannya sudah tidak berarti lagi. Terlebih ketika ada tekanan berupa bully atau gangguan sosial di sekitar, cenderung lebih tenang menurutnya untuk mengakhiri nyawanya di tangan sendiri.

    Ada banyak momen dalam kehidupan dimana kita perlu melakukan kebaikan yang egois. Jika kita baru berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita niscaya tidak akan pernah menemukan orang yang sempurna yang selalu membalas kebaikan kita. Oleh karena itu, lakukan kebaikan kepada sesama tetap panjatkanlah semuanya itu kepada Tuhan. Sehingga tidak ada nafsu untuk mengharapkan balasan dari orang lain melainkan menantikannya di sorga yang kekal kelak. Mulailah kebaikan yang egois dari hal-hal kecil misalnya ramah-tamah.

  13. Putus asa (hilang semangat).

    Mereka yang terlalu banyak berharap kepada dunia ini beresiko tinggi mengalami kehampaan karena keinginannya tidak dapat dipenuhi oleh dunia. Sebab segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak akan pernah memuaskan hati sekali pun seluruh dunia adalah milik kita seorang. Mereka yang animonya terlalu tinggi terhadap hal-hal tertentu beresiko mengalami kekecewaan sehingga hilang pengharapan. Seolah hidup tidak lagi berarti karena apa yang diiming-iminginya kandas di tengah jalan. Pikiran yang tertekan berat ditambah suasana sosial yang mulai gonjang-ganjing membuat mereka memilih untuk mengakhiri hidup dengan meminum racun maut.

    Padahal jika saja dia tahu bahwa di dalam Tuhan yang namanya kepuasan, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hati itu gratis niscaya tidak akan melakukan hal tersebut. Cukup dengan hidup senantiasa fokus kepada-Nya dan biasakan diri mengasihi sesama seadil-adilnya. Melakukan kebenaran hakiki ini membuat hati penuh dengan kebaikan dan niat yang aneh-aneh pun hilang.

  14. Stres berat.

    Orang yang stres jika tidak segera menemukan penghiburan akan berujung depresi. Mereka yang stres bija juga mencari penghiburan dengan mengkonsumsi banyak makanan sehingga membuatnya sakit-sakitan kelak. Pikiran yang kacau sambil berkendara bisa saja membuat orang ini mengalami kecelakaan dan tewas tanpa ada yang menabraknya.

  15. Dorongan dari media.

    Ada film tertentu yang menunjukkan aksi bunuh diri dengan memberi sudut pandang positif terhadap aksit tersebut. Padahal, kejadian itu jelas-jelas menyalahi aturan hidup yang benar. Pemirsa yang tidak selektif menyimak film atau sinetron tersebut turut pula ikut-ikutan melakukannya tanpa pikir panjang. Oleh karena itu, biasakanlah untuk menyaring segala informasi yang diperoleh dari luar agar tidak hanyut dalam pengaruh buruk yang dibawanya.

  16. Penyakit berkepanjangan.

    Orang yang memiliki penyakit yang tidak sembuh-sembuh bisa saja mengambil tekad mati karena kurang sabar menghadapi cobaan tersebut. Seandainya dia bisa berpikir jernih niscaya akan mengetahui tiga obat ajaib yang sangat ampuh bagi kesehatan yang dapat diperoleh dengan mudah. Obat segala penyakit itu adalah air putih, air garam manis dan ludah sendiri. Konsumsilah air putih minimal dua liter per hari secara perlahan-lahan dua tiga teguk sekali minum (jangan sekaligus nanti mineral tubuh bisa hanyut). Biasakan menambahkan garam pada makanan secukupnya dan minumlah air garam manis setiap pagi. Juga jangan lupa dengan ludah sendiri yang dapat menyembuhkan segala penyakit dalam rongga mulut dan area pencernaan lainnya.

  17. Penyakit pikun.

    Tahukah anda apa hal yang paling banyak dilupakan oleh orang tua yang sudah kakek-nenek? Ya…. Mereka suka lupa mengkonsumsi air. Kebiasaan yang lupa minum inilah yang membuat orang yang lanjut usianya cepat berpulang karena terkena serangan jantung dan dehidrasi kronis lainnya. Oleh sebab itu, ingatkan orang-orang pikun untuk selalu meminum air agar mereka tetap sehat dan jangan sampai kepikunan itu membuatnya bunuh diri secara tak sengaja.

Catatan: semua faktor di atas hanyalah kemungkinan, bisa saja seseorang mengakhiri hidup karena gabungan dari beberapa faktor dan penyebab lainnya yang turut mendukung tetapi belu tertera dalam tulisan ini.

Orang yang bunuh diri belum siap mengalami dualisme hidup dimana selalu ada yang baik-buruk dan suka duka. Kita harus kuat menghadapi beratnya dunia ini sambil memperjuangkan apa yang menjadi tujuan hidup yang telah diniatkan dari awal. Saat kita berjuang demi kebenaran niscaya kebenaran itu jugalah yang akan kembali untuk menghibur dan mencerdaskan diri ini sehingga jauh dari praktek buruk tersebut. Berupayalah untuk menujukan hati hanya kepada Tuhan sebab Dialah sumber harapan yang memberi semangat karena ada upah yang besar dari setiap penderitaan yang ditanggung. Pada satu titik, kita akan mampu membiasakan diri dengan semuanya itu namun hati tetap bahagia menjalaninya karena paham bahwa kita bekerja untuk sorga bukan untuk dunia ini. Bernyanyi-nyanyilah memuji Tuhan, baca-dengar-pelajari firman-Nya dan berdoalah senantiasa. Serta lakukanlah kebaikan kepada sesama di sela-sela pelajaran dan pekerjaan yang ditekuni. Nilai-nilai kebenaran sejati jika terus digiatkan membuat hidup terus aktif sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan yang buruk-buruk termasuk niat untuk bunuh diri lenyap.

Hidup Sangat Berarti - Alasan Mengapa Bunuh Diri, Pengertian Dan Akibatnya

Salam, hiduplah untuk kebenaran,
Niscaya hari-hari tetap ada kesibukan,
Nafsu busuk pula aneh menjauh berlarian
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.