Keluarga

10 Bahaya Menangkap Ikan Kecil – Keserakahan Yang Memiskinkan Peternakan Lautan

Dampak Buruk Akibat Menangkap Ikan Kecil

Sedikit debat pendek di kala senja

Sore yang mendung cerah telah tiba. Kami melaksanakan aktivitas seperti biasa. Ibu pun pulang dari pekerjaannya membawa beberapa bahan makanan. Dari semua barang belanjaannya, kami melihat ada ikan teri kecil-kecil dalam jumlah banyak. Itu membuat diri ini sedikit bertutur “inilah perilaku yang membuat lautan miskin ikannya.” Sifat yang cenderung serakah tersebut telah berulang kali kami saksikan. Pikiran kami, “moga-moga ini adalah tangkapan tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya.” Sepertinya tidak ada salahnya jika kami membahas tentang dampak buruk dari perilaku tersebut demi kepentingan bersama dari generasi ke generasi.

Semua makhluk laut bisa menjadi lebih besar dan besar lagi oleh pengaruh sodium

Sebelum membahasnya lebih jauh, kami ingin mengingatkan sedikit tentang salah satu game yang sederhana dan disukai oleh banyak kalangan, yaitu “finding franzzy.” Kisahnya menceritakan tentang ikan kecil yang terus-menerus menjadi besar dan berevolusi karena pengaruh makanan. Dulu menyaksikan hal tersebut biasa saja tetapi belakangan ini kami mulai menyadari bahwa besarnya makhluk laut sangat dimungkinkan sebab mereka berada di wilayah terkaya di seluruh planet ini. Mengapa lautan adalah wilayah terkaya? Sebab garam adalah mineral yang paling dibutuhkan tubuh yang menjadi inti dari setiap energi dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Saat ikan berada di laut, mereka bisa tumbuh besar dan besar lagi bahkan masing-masing bisa sebesar paus. Akan tetapi, oleh karena proses alamiah yang disebut dengan rantai makanan, keterbatasan pernapasan, pertarungan antar spesies dan penangkapan oleh manusia, maka ukuran mereka terbatas begitu saja (tidak sampai segede rumah). Satu-satunya yang dapat bertahan hingga besar adalah paus saja karena di dukung oleh kebiasaannya yang suka berkelompok dan bernafas dengan paru-paru. Demikian jugalah seharusnya dengan makhluk lainnya di lautan yang terus saja bertambah besar seandainya mereka tidak terbunuh oleh faktor-faktor di atas. Termasuk dalam hal ini adalah ikan kecil (anakan) yang tega kita bunuh demi uang yang tidak seberapa.

Keserakahan tingkat dewa yang paling kejam

Seandainya makhluk tersebut adalah manusia seperti kita, bisa dikatakan bahwa “orang yang membunuh anak-anak lebih kejam dan sadis dibandingkan dengan yang membunuh orang yang sudah dewasa.” Mungkin akan lebih heboh dan banyak orang yang protes karena kejahatan membunuh anak-anak daripada perilaku kriminal yang melenyapkan manusia yang sudah dewasa badan dan pemikirannya. Sebab orang-orang cenderung tidak tega membayangkan kekejaman yang melenyapkan kanak-kanak yang masih lucu, unyu-unyu dan tidak berdosa itu. Rasa-rasanya, orang yang tega melakukannya adalah psikopat pangkat seribu. Demikian juga dalam hal membunuh makhluk kecil yang masih sangat mungil, putih, halus dan unyu-unyu di dalam air untuk dijadikan asinan teri atau kering, “teganya kau kawan? Apa masih belum cukup mengambil yang ukurannya besar-besar itu?”

Bahaya memanen ikan kecil dari lautan

Sadarkah anda bahwa sesungguhnya bumi ini berlimpah-limpah dengan bahan pangan? Tetapi umat manusia adalah penguasa yang tamak dengan keinginannya yang selalu mau lebih dan lebih lagi dari orang lain (arogansi). Hasrat semacam ini secara berangsur-angsur tapi pasti akan mengikis ketersediaan sumber daya di lautan sehingga berimbas pada kehidupan orang-orang yang menggantungkan nafkahnya dari sana. Bahkan bisa kami katakan bahwa dampak buruk dari perilaku yang tamak ini akan dirasakan oleh seluruh umat manusia, termasuk kita sebagai pengguna tetap jaringan internet. Berikut ini akan kami bahas lebih lanjut tentang dampak negatif dari erilaku serakah oknum nelayan yang menyapu bersih ikan kecil demi uang.

  1. Melanggar perintah Allah.

    (Kejadian 1:22) Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

    Memang manusia adalah penguasa di bumi, itu adalah berkat dan anugerah yang langsung dititahkan Allah kepada kita. Sayang, beberapa dari kita lebih tajam pendengarannya terhadap jumlah uang yang berseliweran di sekitar. Terlebih ketika kebutuhan nafkahnya sehari-hari belum tercukupi, besar kemungkinan mengeruk sumber daya sebanyak-banyaknya, termasuk dalam hal ini adalah memunguti bayi-bayi ikan yang masih sangat kecil. Menurut anda, apakah Tuhan akan membiarkan keserakahan ini? Tentu saja ini terhitung sebagai salah satu kesalahan yang akan dituntut di hari penghakiman kelak.

    Perlu dipahami bahwa berdasarkan firman di atas, segala jenis ikan dan burung akan terus hadir di sekitar kita. Artinya, jika jumlah manusia memenuhi bumi maka makhluk-makhluk tersebut pun harus hidup dan bertambah banyak bersama-sama dengan kita. Oleh karena itu, jagalah ekosistem lautan, ambil apa yang perlu saja dan jaga kelestarian hutan-hutan sebagai tempat tinggal dan sarang burung.

  2. Kekejaman terhadap binatang.

    Sebebas-bebasnya kita kepada hewan tetap harus memperhatikan unsur kekejaman agar tidak terkesan menjadi raja tega. Sebab binatang juga merupakan bagian dari nafas Allah. Terlebih lagi jika dikatakan membunuh langsung bayi-bayi atau anak-anak keci yang masih lemah tak berdaya. Ini adalah tindakan yang agak sadis sehingga terkesan membuat kita menjadi raja tega.

    Kami sendiri memiliki beberapa kucing di sini. Saat anak-anaknya terlalu banyak, kami pun akan memusnahkannya tetapi tidak dengan mencekiknya lewat tangan sendiri melainkan membuangnya di alam liar agar dimakan oleh binatang buas lainnya. Seandainya kami mengonsumsinya maka akan disembelih juga tapi siapakah di antara kita yang suka makan kucing? Pernah juga mendengar dari salah satu teman kerja bahwa saat memiliki hewan peliharaan yang terlalu banyak, bisa disumbangkan ke kebun binatang (sebagai mangsa predator). Salah satu cara untuk membatasi kelahiran hewan adalah dengan memberinya makan secukupnya saja (sedikit dan sekali sehari). Sedang membunuh anak-anak ikan kecil untuk dijadikan teri kering jelas merupakan suatu tindakan yang super tega. Lain halnya bila yang besar-besarnya memang jelas-jelas tidak ada lagi satu pun….

  3. Mengurangi jumlah tangkapan nelayan.

    Mereka yang menggantungkan kehidupannya di lautan bisa saja mendapatkan bonus ketika telur ikan menetas yang menghasilkan banyak bahkan sampai ribuan dan jutaan anakan. Hasil tangkapan tersebut bisa dijual kepada pembeli yang serakah atau bisa dijadikan ikan teri kecil-kecil. Namun saat musim menetas habis, semua makhluk laut tidak lagi kelihatan di permukaan air. Sebab dari yang dewasa sampai yang anakannya telah dijarah habis-habisan. Jadi, bagaimana lagi bisa ada regenarasi ikan kalau keturunannya pun turut ditelan oleh nafsu yang tamak?

  4. Menurunkan jumlah tangkapan besar.

    Nelayan yang biasanya mampu menangkap ikan jenis besar dalam jumlah banyak bisa saja akan berkurang hasilnya di waktu-waktu berikutnya. Semua itu turut didorong oleh perilaku sebelumnya yang telalu kejam memunguti bayi-bayi yang masih unyu-unyu. Hilangnya generasi kecil secara otomatis menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi jumlah tangkapan ukuran besar kelak. Seandainya para nelayan memelihara kearifan lokal yang peduli pada benih ikan sehingga mampu menahan dirinya untuk tidak menyekopnya ke dalam perahu. Niscaya hasil tangkapan besar akan meningkat drastis dari tahun ke tahun (bukannya malah menurun).

    Nelayan baik yang kreatif tidak menggunakan jaring yang terlalu kecil (pukat harimau) untuk melakukan penangkapan yang lebih selektif. Mereka juga perlu memiliki kearifan lokal sehingga tidak sekedar menangkap sembarangan menghalalkan segala cara (misal dibom) melainkan dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Sebab dirinya telah diedukasi dengan pengetahuan dasar tentang regenerasi makhluk laut. Bahwa “jika saat ini jumlah anakan yang lebih kecil melimpah-ruah niscaya jumlah yang berukuran besar pun semakin banyak kelak.”

  5. Memiskinkan pinggir pantai dari kehidupan alamiah.

    Tahukah anda bahwa kami sendiri sebagai seorang sosialis pecinta lingkungan sangat meragukan bahwa ada ikan yang dengan sengaja memakan dan mengejar manusia. Satu saja pertanyaan kami adalah “apakah makhluk laut lapar?” Kita perlu melihat mereka sebagai makhluk yang hidup dalam kelimpahan energi di lautan bebas sehingga tidak perlu pun makan, seiring waktu berlalu mereka akan menjadi besar. Kami percaya bahwa mereka tidak mengenal istilah lapar karena tidak seperti manusia yang perutnya bisa perih karena asam lambung meningkat. Ketahuilah bahwa ikan di lautan lepas tidak pernah lapar. Itulah mengapa beberapa umpan pancing tidak butuh ikan kecil melainkan hanya sesuatu yang menarik dan memantulkan cahaya matahari atau memancarkan cahaya sendiri (baterai). Sebab bukan perutnya yang lapar tetapi matanyalah yang terkesima hingga mengejar umpan tersebut.

    Lalu timbul pertanyaan, “mengapa gigi-gigi ikan tersebut besar-besar dan menakutkan?” Kita harus memahami bahwa sel-sel mereka bisa membesar semuanya termasuk sel gigi karena mereka berada di tengah obat penyembuh terkuat di seluruh bumi. Giginya pun panjang karena pengaruh air garam yang hampir tiap waktu dikonsumsinya (umumnya lewat insang).

    Saat anak-anak ikan dibom sama seperti menjatuhkan nuklir ke sekolah taman kanak-kanak (seandainya itu manusia), siapakah yang tega melakukan ini? Bahkan teroris terjahat sekali pun tidak pernah berpikiran untuk melakukan hal tersebut! Jelaslah kalau ada teroris yang hobi menjatuhkan bom di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, jumlah manusia sangat jarang. Sama halnya dengan pantai kita yang miskin dengan ikan oleh karena kebiasaan oknum nelayan mengumpulkan dan menimbun secara berlebih-lebihan. Daya tarik pantai yang seharusnya bisa menjadi daerah wisata tidak lagi menarik sebab kunjungan ke sana sama saja dengan bertandang ke padang gurun dimana nihil pemandangan alamiah.

  6. Memunculkan ikan buas, ubur-ubur dan berbagai makhluk laut aneh lainya.

    Seperti yang kami katakan tadi, kami ragu kalau di dalam lautan ada sistem saling makan sebab mereka senantiasa kenyang dari waktu ke waktu. Lalu mengapa mereka saling makan bahkan menjadi buas mengejar manusia pula? Sebab ada di antara makhluk laut itu yang psikopat “colek dikit ganas!” Siapakah yang membuat ikan tersebut mejadi psikopat? Bukankah itu adalah kita yang turut menangkap anaknya yang kecil dan unyu-unyu?

    Ikan sama seperti manusia, saat mereka kurang bersosial dimana populasinya sangat menurun, emosinya cenderung tidak stabil ketika ada gangguan sedikit saja dari luar. Keadaan ini membuatnya sangat sensitif sehingga sewaktu ada yang menyentuh badannya langsung agresif menggeliat dan menggigit. Akan tetapi, coba kalau jumlah mereka banyak di lautan dimana populasi padat akan sering terjadi gangguan dan sentuh-menyentuh tetapi dirinya tidak langsung menggigit. Tingginya toleransi adalah salah satu manfaat padatnya populasi makhluk hidup.

    Ubur-ubur dan berbagai makhluk lainnya di dalam lautan adalah makhluk antara yang semakin besar oleh karena tidak adanya pemangsa. Mereka seperti bakteri dan virus yang oleh karena dorongan garam semakin besar dan besar lagi sehingga ukurannya meningkat tajam. Seandainya jumlah populasi ikan padat merapat niscaya kehadiran makhluk kecil-kecil tersebut bisa diminimalisir sedini mungkin sebab akan termakan (terminum) oleh ikan secara tidak sengaja saat ukurannya masih cecunguk kecil. Akan tetapi, pantai atau lautan yang sangat miskin dengan ikan cenderung membuat makhluk antara dan makhluk aneh lainnya turut berkembang menjadi lebih besar lagi dan lagi.

  7. Membuat nelayan melaut lebih jauh.

    Saat populasi ikan sangat sedikit seorang nelayan harus menjaringnya dari tempat yang lebih dalam dan luas lagi. Tentu saja hal tersebut tidak berada di dekat pantai melainkan harus cukup jauh bahkan sangat jauh dari pinggir pantai hingga ke lautan lepas untuk menangkap ikan. Bahkan bisa saja sampai masuk pula menyerobot lautan orang di perbatasan negara lain oleh karena miskinnya populasi ikan di wilayah sendiri.

  8. Membuat nelayan melaut lebih lama.

    Populasi ikan yang jarang-jarang membuat nelayan harus mencari dengan teliti. Pencarian ini akan semakin berat seiring dengan minimnya peralatan memancing/ menjala ikan (misalnya radar untuk mengetahui keberadaan populasi terbanyak). Jarak tempuh dan skema pencarian yang rumit membuat waktu melaut lebih lama untuk menemukan tangkapan.

  9. Menghabiskan lebih banyak energi sehingga pengeluaran hampir sama besarnya dengan penghasilan.

    Sudah otomatis solar atau bensin akan habis lebih banyak oleh karena jarah tempuh yang jauh dan waktu penelaahan lautan yang lebih lama. Belum lagi masalah peralatan melaut yang canggih sehingga turut menghabiskan energi selama melakukan pencarian populasi.

    Semua keadaan ini cenderung membuat biaya melaut lebih besar. Para nelayan harus menghabiskan lebih banyak dana untuk hasil yang mencukupi. Akan tetapi, begitu hasilnya dijual, keuntungan yang diperoleh sangatlah sedikit. Bukankah ini akibat kesalahan oknum nelayan itu sendiri yang terlalu tamak mencedok bayi-bayi yang masih dalam masa pertumbuhan?

  10. Masa depan terancam miskin ikan.

    Di hari esok yang masih rahasia, kita sudah bisa menebak bahwa populasi ikan yang dikandung lautan bisa jadi sangatlah minim. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan memiliki dampak berantai yang bukan saja mempengaruhi masa kini melainkan masa depan. Cara terbaik untuk memperkaya kehidupan kita dan anak-anak kita di masa depan adalah dengan tidak membunuh generasi makhluk kecil yang terdapat di lautan.

Sesungguhnya peternakan paling kaya di bumi ini adalah lautan. Sebab di sanalah pusat energi cair garam yang membuat makhluk apa pun tidak perlu diberi makan oleh siapa pun juga. Kita saja yang mengonsumsi air garam manis setiap waktu bisa hilang rasa laparnya terlebih dengan ikan yang selalu mengonsumsinya dalam kadar tinggi. Besar kemungkinan ketertarikan mereka terhadap umpan pancing hanya karena memancarkan cahaya atau memantulkan cahaya. Oleh sebab itu, biarkan kanak-kanak tumbuh dewasa niscaya lautan kita akan kaya dengan populasi makhluk hidup yang ramah-ramah di masa depan. Sebab ikan mirip-mirip dengan manusia, mereka juga bisa jinak jika populasinya tinggi. Bukankah Tuhan sudah menakdirkan mereka dari awal untuk memenuhi lautan tepat seperti yang difirmankan-Nya? Jadi mari memudahkan mereka untuk mencapai tingkatan populasi yang besar sehingga anak-cucu kita pun tidak akan kekurangan. Tangkaplah ikan yang besar-besar tetapi lepaskan yang kecil-kecil. Bukankah yang besar itu bisa untuk semua orang dan lebih mudah dikelola?

Salam, Hidup kita hari ini
hasil dari masa lampau.
Hidup kita hari esok,
tergantung dari tindakan hari ini
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.