Gejolak Sosial

Manusia, Ikan & Dewa Matahari

Manusia, Ikan & Dewa Matahari

Teka-teki – Aku bisa membuat seseorang iri hati, aku akan mengganggunya hingga dia emosian lalu mengejarku. Padahal itu adalah jerat yang membuatnya tertangkap. Siapakah aku si pemicu kedengkian itu?

Segala sesuatu adalah satu dan terhubung oleh energi

Dari awal sejak masa penciptaan, segala sesuatu di alam semesta adalah satu. Benih tunggal tersebut kemudian melakukan diferensiasi ekstrim seiring dengan firman yang keluar dari mulut Allah. Firman tersebut membuat masing-masing bagian menempati wilayah yang berbeda-beda untuk menciptakan sistem yang penuh keseimbangan. Nafas Allah tersebut seolah-olah membuat mereka bernyawa sama halnya seperti manusia yang melakukan aktivitas berputar-putar seperti biasa. Kekuatan yang bekerja pada setiap komponen alam semesta, kita sebut juga sebagai energi. Hanya saja, bentuk dan ekspresinya berbeda-beda antara satu sisi dengan sisi lainnya. Namun tidak saling berlawanan apalagi menghancurkan melainkan saling terhubung.

Kesatuan ini tidak hanya tergambar lewat alam semesta dalam mode besar tetapi setiap bagian yang kecil-kecil sekali pun turut menggambarkan kebersamaan tersebut. Misalnya saja di bumi ini, kita cenderung melihat segala hal berbeda, ada tumbuhan, hewan dan manusia. Masing-masing memang berbeda-beda tetapi tidak bisa hidup secara soliter satu jenis saja melainkan semuanya bersama-sama sehingga menciptakan suatu ekosistem yang seimbang. Pepohonan ada untuk melindungi bumi dari tingginya intensitas solar sistem sekaligus sebagai sumber bahan pangan, bangunan dan lain sebagainya. Hewan-hewan turut menyediakan kebutuhan akan daging dan menguji indra akan hal-hal duniawi. Sedang manusia sendiri berperan sebagai pengatur yang memanajemen segala sesuatu sehingga terus ada dan tetap ada dari waktu ke waktu.

Masing-masing makhluk hidup mirip adanya

Ada kemiripan antara satu makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya di seluruh bumi ini. Itulah mengapa ada orang-orang cerdas yang berpikir bahwa evolusi fisik itu sepertinya nyata meyakinkan. Kemiripan antar makhluk hidup inilah yang membuat mereka berpikir demikian. Tetapi kami berpkir bahwa kemiripan tersebut lebih menyatakan bahwa sesungguhnya segala makhluk hidup yang terdapat di bumi berasal dari satu sumber. Itu memang benar bahwa hanya Allahlah Bapa kita sedangkan ibu pertiwi yang mengandung kita secara bersama-sama adalah bumi ini. Oleh karena itu, masing-masing makhluk yang ada di dunia ini sebaiknya bertanggung jawab atas diri sendiri, kelompok dan lingkungannya dalam satu keutuhan tanpa ada yang terabaikan. Demikian juga antara ikan dan manusia memiliki suatu sifat yang mirip-mirip walau nyatanya berbeda.

Kita sama seperti makhluk laut sebagai penyuka sihir yang bercahaya

Dari struktur sel ada kemiripan tetapi bentuk organ yang dimilikinya berbeda jauh karena pengaruh lingkungan hidup yang berbeda-beda. Tetapi ada satu hal kebiasaan yang cenderung sama antara manusia dan ikan, yaitu kesukaannya terhadap cahaya. Sifat inilah yang sama-sama dimiliki dan cenderung didewakan satu sama lain. Manusia dalam sejarah kehidupannya pernah mendewakan matahari saking kagumnya kita terhadap hal tersebut. Sedang hewan laut ini pun bukan saja dari sejarah melainkan sampai sekarang masih menjadi pemuja utama matahari. Mereka tidak hanya tertarik kepada matahari secara umum melainkan pada setiap warna cahaya yang terdapat dipermukaan.

Kesukaan manusia terhadap matahari telah nyata sampai orang-orang terdahulu mendewakannya. Adalah bangsa mesir kuno yang secara pasti diketahui sebagai pemuja dewa cahaya. Mungkin masih banyak bangsa lainnya yang memuja tentara langit tersebut namun tidak terdokumentasi oleh sejarah. Sedang di masa kini, ada orang-orang tertentu yang tidak dapat hidup tanpanya. Mereka cenderung merasa ketakutan bila tinggal dalam kegelapan sehingga di malam yang sunyi-sepi, lampu kecil akan tetap dihidupkan. Ada juga oknum yang menyukai lampu yang bewarna-warni sebab hal tersebut membuat dirinya senang walau hanya sesaat. Secara umum kita butuh “sinar lampu besar” tersebut untuk menjalankan aktivitas seperti biasa. Bahkan kita bisa menganggapnya sebagai surga tetapi bukan untuk dipuja-puji. Sebab matahari sama seperti kita yang hanyalah ciptaan dari Sang Khalik. Melainkan puji-pujalah Tuhan dalam roh dan kebenaran.

Sinar sang surya sebagai penanda aktivitas penuh kegirangan

Ikan dan makhluk darat lainnya (misalnya laron) merupakan penyuka aktif cahaya. Saat mereka mampu melihatnya dari jauh maka masing-masing akan berlari merenang terbang melesat ke arah sumber cahaya tersebut. Hatinya seperti bersukacita saat melihat sinar terang tersebut sehingga aktivitasnya meningkat dimana masing-masing berkelompok membentuk formasi sendiri. Sedang yang sedang sendiri akan melakukan gerakan melingkar untuk memuatari sumber cahaya tersebut. Terang bagaikan jam alarm yang membuat makhluk laut bergerak aktif dalam pola-pola yang cenderung menginginkan dirinya untuk masuk ke dalamnya. Saat mereka bergerak dalam pola tertentu hatinya bergirang sehingga hal tersebut terus diulang-ulang.

Teknik memancing di lautan dan kepribadian makhluk di dalamnya – filosofi kehidupan

Kesukaan makhluk laut ini terhadap matahari ternyata dijadikan sebagai suatu akomodasi untuk membuat alat pancing yang unik dimana mengedepankan pencahayaan yang menawan. Mereka membuat bentuk mata pancing yang memantulkan cahaya matahari dalam berbagai warna yang khas sehingga menarik penglihatan ikan. Tetapi bukan rasa laparlah yang membuat makhluk tersebut melahap pancingnya melainkan rasa tinggi hati, dengki dan amarah. Itulah mengapa saat memancing di lautan perlu menggerak-gerakkan gagang pancingnya ke kanan dan ke kiri serta ke depan dan ke belakang. Ini dilakukan semata-mata demi membuat ikan besar yang arogan (sombong) menjadi sakit mata melihatnya sehingga marah lalu melahap umpan tersebut. Bahkan beberapa ikan besar yang besar ego dan kesombongannya bisa saja tercolek umpan yang digoyang-goyang sehingga marah lalu melahapnya. Ada juga teori yang mengatakan bahwa umpan yang bergerak cepat dapat meningkatkan kedengkian makhluk bersirip tersebut sehingga panas hati lalu melahap mata pancing.

Filosofi hidup dari makhluk lautan – Kesombongan, iri hati dan amarah adalah tritunggal yang dapat membuat ikan tertangkap oleh manusia. Maka bisa dikatakan bahwa “angkuh, iri hati dan amarah adalah sifat-sifat yang paling banyak membuat kita terjebak dalam jerat musuh” (termasuk jerat iblis). Jadi, “atasilah iri hati, tinggi hati dan amarah agar anda tidak tertangkap terus-menerus dalam umpatan dosa.”

Manusia saja yang mengonsumsi air garam manis kenyang, apalagi makhluk laut yang sangat kenyang karena konsentrasi yang diminumnya tinggi

Lautan penuh sesak dengan sodium dalam jumlah sangat banyak. Mineral ini membuat siapa pun yang bisa mengolahnya dapat menjadikannya sebagai energi. Kita sendiri dapat senantiasa mengonsumsi air garam yang ada manis-manisnya sehingga rasa lapar pun pergi. Jadi, kalau kita saja yang manusiawi dan lebih peka dari hewan soal makanan bisa tidak kelaparan karena meminum sedikit natrium dalam kadar isotonik terlebih lagi hewan laut itu tidak akan pernah merasa lapar sampai kapan pun. Mereka memakan umpannya lebih cenderung karena kepribadiannya yang sangat labil sehingga emosinya mudah terpancing hanya oleh hal-hal kecil. Sedang pantulan cahaya hanya sekedar membantu mengarahkan agar penglihatannya lebih jelas untuk mengejar umpan tersebut.

Kesimpulan

Bukan hanya manusia saja yang menyukai cahaya, hewan laut dan darat lainnya pun sangat menyukainya. Bahkan makhluk tersebut cenderung menjadi pemuja tetap cahaya. Bagi mereka, seolah-olah cahaya adalah jam alarm di pagi hari yang membuatnya bangun dari tidur ayam lalu mulai beraktivitas. Dimulai dari bergerak lurus, melingkar hingga membentuk formasi tertentu dalam pola khusus dengan kelompoknya. Aktivitas membuatnya bergirang dan bahagia sehingga hal tersebut terus saja diulang-ulang. Seharusnya demikianlah juga kita sebagai manusia biasa perlu menggalakkan dan merencanakan apa-apa saja kesibukan yang bagus untuk dilakukan di waktu senggang. Sebab kesibukan kitalah yang membuat diri ini puas, damai, bahagia dan tenteram walau pun hal tersebut terkesan diulang-ulang. Oleh karena itu, ingat-ingatlah untuk mefokuskan pikiran senantiasa kepada Tuhan serta berbagi kasihlah kepada sesama di sela-sela tugas kerja atau tugas belajar. Selalu mulai dari hal-hal kecil: ingatlah hidup ini adalah latihan, kekhilafan bukan untuk disesali tetapi demi peningkatan di masa depan.

Salam,
Ikan aktif dan bergirang saat ada cahaya,
Hidup senantiasa berbahagia
bila terus aktif melakukan kebenaran-Nya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.