Kepribadian

10 Alasan & Bahaya Memaksakan Kehendak – Keinginan Berbanding Terbalik Dengan Kebahagiaan

Alasan Memaksakan Kehendak – Keinginan Berbanding Terbalik Dengan Kebahagiaan

Teka-teki – Akulah pilot yang mengendalikan segala sesuatu, aku ada dalam diri setiap makhluk hidup, siapakah aku?

Kita hidup sendiri-sendiri sejak dari awal dilahirkan secara perseorangan walau ada pula yang kembar. Permulaan hidup yang bergerak individu demi individu membuat kita dari kecilnya sudah memiliki sifat-sifat egois. Suatu kecenderungan yang menganggap bahwa kita hanyalah seorang saja di dunia ini sehingga menganggap diri sebagai segala-galanya. Padahal, pikiran semacam ini erat kaitannya dengan sifat tinggi hati yang cenderung menciptakan rasa senang namun membuat kita jauh dari Sang Pencipta. Hal tersebut bisa juga membuat hubungan kita dengan sesama turut anjlok bahkan lingkungan sekitar bisa kena imbasnya. Oleh karena itu, berusahalah untuk mengikis sifat mementingkan diri sendiri (egois) dengan senantiasa bersemangat untuk berbaur/ bersosialisasi bersama masyarakat sekeliling.

Saat kita  masih kanak-kanan, diri ini suka berdiri di bawah pengaturan orang lain. Namun saat kita telah menjadi muda bahkan dewasa, mulailah belajar untuk mengendalikan diri sendiri. Sebab saat usia sudah mencapai tapal batas kemudaan, kita mulai belajar hidup mandiri, masing-masing sendiri. Namun, bila kemandirian kita cenderung jauh dari kasih kepada sesama dan kepada Tuhan niscaya kebiasaan baik tersebut berubah menjadi petaka egosentrisme. Keadaan ini membuat orang yang masuk ke dalam kehidupan kita menjadi kurang nyaman karena merasa terlalu banyak mengatur. Kemandirian yang tidak benar (jauh dari kasih) lebih banyak membuat kita memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain tanpa dasar yang pasti dan jelas.

Pengertian

Memaksakan kehendak adalah mendesak sesuatu (diri sendiri maupun orang lain) untuk diharuskan mengikuti keinginan tertentu. Biasanya sifat ini lebih banyak mengarah kepada diri sendiri mau pun orang lain di sekitar. Kita paksa diri sendiri untuk mencapai sesuatu tetapi sakali pun sudah berusaha tetap tak tercapai sehingga besar rasa kecewa itu. Kadang bentuk pemaksaan ini juga nyata terhadap orang lain, agar mereka mau menuruti apa yang kita kehendaki. Ini bisa terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan dan dalam kehidupan bermasyarakat lainnya. Puncak dari sikap yang hobi memaksakan apa yang dikehendakinya adalah sifat diktatoris. Biasanya, orang yang diktator menganggap dirinya benar semuanya sekali pun tanpa dasar (berbeda dengan kenyataan/ aturannya tidak ada) sehingga merasa berhak untuk memaksakan keinginannya kepada orang lain.

Sikap yang suka memaksakan diri ini perlu kita antisipasi di dalam keluarga. Terutama sebagai orang tua, anda perlu untuk menghindari sikap diktator tersebut dengan cara membuat peraturan. Setiap orang harus patuh pada aturan sebab bila kepatuhan anggota keluarga hanya kepada oknum orang tuanya saja, besar kemungkinan akan menyeleweng saat oknum yang ditakuti tidak ada. Oleh karena itu, orang tua harus memindahkan ketakutan kepada dirinya menjadi ketakutan untuk melanggar aturan. Pastikan bahwa setiap aturan tersebut bermanfaat untuk kebaikan bersama. Lebih dari pada itu, setiap orang yang takut akan Tuhan pasti menghormati ayah dan ibunya juga menghargai sesama manusia. “Cara menghormati/ menghargai orang lain adalah dengan mengikhlaskan apa yang menjadi haknya dan melaksanakan kewajiban kita terhadapnya.” Lebih dari itu, kita bisa menyempurnakannya lewat sikap santun yang saling memperhatikan sebab itu adalah kebaikan yang paling sederhana.

“Keharusan dalam hidup yaitu mengikhlaskan apa yang menjadi hak orang lain dan melaksanakan kewajiban kita terhadapnya. Sedang yang dianjurkan tapi tidak dipaksakan adalah sikap yang ramah dan santun yang penuh perhatian (kecuali anak terhadap orang tua di dalam keluarga : Hormatilah ayahmu dan ibumu!).”

Akibat pemaksaan kehendak

Bahaya sekali yang namanya sikap yang suka memaksa-maksa. “Jika suatu hal bermanfaat dan membuat manusia aktif positif, tanpa dipaksakan pun pasti sesuatu tersebut akan dilakukan juga.” Langsung saja kita bahas bersama, poin-poin penting tentang dampak buruk sikap yang terlalu memaksakan kehendak.

  1. Perbuatan menyimpang.

    Saat seseorang berusaha mencapai tingkatan kehidupan yang jauh sangat baik namun jalan yang ditempuh sangat sukar. Muncullah niat untuk menempuh jalan pintas, suatu hal yang penuh manipulasi semata-mata demi mencapai tujuan egois. Mereka yang hasratnya sangat tinggi bisa saja melegalkan segala cara untuk mencapai keinginannnya Misalnya dengan melakukan penipuan, penggelapan, pencurian, perampasan, korupsi tersistem dan berbagai kejahatan lainnya.

  2. Kecewa berat.

    Anda berhak punya cita-cita, seperti kata pepatah “gantunglah cita-citamu setinggi bintang di langit.” Akan tetapi bila hal tersebut tidak pernah terwujud, hindari kecewa berat sampai sakit hati selama berhari-hari larut dalam kepiluan. Perjuangkanlah semaksimal mungkin tetapi apa pun hasilnya, pasrahkan kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa kita diuji oleh keinginan yang timbul di dalam hati sendiri.

  3. Kesal hati – bahagia redup menguap.

    Nafsu yang diharapkan sekali namun kenyataannya tidak menjadi apa-apa beresiko membendung rasa kecewa lalu pecah hingga membentuk efek domino panjang. Terlebih ketika keadaan ini tidak disambut dengan memuji-muji Tuhan di dalam hati niscaya pikiran jadi kacau balau karena hati telah melebur dalam kekesalan. Tidak ada lagi ketenangan yang dirasakan bahkan damai dan bahagia pun terlah lama hilang jauh sebelum-sebelumnya (sejak keinginan tersebut didesak atau disorong secara paksa).

  4. Menjadi stres.

    Situasi hidup yang stres dimulai dari pikiran yang amburadul. Jika supir/ pilot tubuh kita sedang mabuk oleh kenikmatan materi dan kemuliaan niscaya kehidupan mungkin bisa mengarah kepada hal negatif. Tetapi “mereka yang bisa ikhlas akan melalui hambatan hidup dengan damai.”

  5. Bunuh diri.

    Membunuh diri sendiri tidak selalu berbicara tentang mengakhiri hidup. Tetapi, bunuh diri di sini bisa berakhir dengan rumah sakit (akibat terlalu banyak mengonsumsi narkoba, alkohol dan makanan), rumah sakit jiwa dan lembaga pemasyarakatan (dampak dari moralitas yang buruk, melegalkan hal-hal yang salah). Saksikan juga, Mengapa seseorang memilih untuk mengakhiri hidup?

  6. Hubungan dengan sesama tidak luwes (terganggu).

    Saat kita merasa sudah tidak nyaman lagi bertemu seseorang karena kerap sekali membantah dan mempermalukan kita di depan umum. Inilah salah satu perwujudan dampak buruk dari pemaksaan kehendak. Sifat yang terlalu memaksakan keinginan kepada sesama menciptakan distorsi yang kuat di dalam hati. Terlebih ketika kita mulai tidak ikhlas dengan sikapnya itu. Memang dari luar, kita terlihat baik-baik saja tetapi kekesalan hati terhadap si kawan itu membuat pikiran selalu berkomentar miring tentang dirinya (prasangka buruk). Tentu saja sikap ini membuat hubungan dengannya turut merenggang walau masih sebatas di dalam hati.

  7. Perselisihan datang tiba-tiba.

    Paksaan yang tidak berdasar sama sekali atau melenceng dari aturan bisa membuat kita musuh-musuhan dengan sesama. Ketidakikhlasan membuat hubungan dengan orang lain sangat mudah retak.

  8. Kekerasan verbal.

    Bahaya lainnya dari sikap ini adalah keluarnya kata-kata kasar, baik lewat bibir mau pun lewat berbagai karya yang kita hasilkan. Itu bisa saja berupa kata-kata ejekan, hinaan, bully, fitnah, status palsu dan lain sebagainya.

  9. Kekerasan fisik.

    Mereka yang masih saja mempertahankan sikap superiornya bisa saja terdorong untuk bersikap keras terhadap sesama dengan memukul/ melempar benda-benda di sekitarnya.

  10. Konflik besar/ pemberontakan.

    Perselisihan kecil dalam hidup ini adalah perkara biasa yang disebabkan oleh beragam perbedaan sudut pandang. Tetapi konflik besar tidak hanya mengorbankan materi melainkan turut melenyapkan nyawa sesama manusia.

Faktor penyebab seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain

Seterusnya, kita perlu mengantisipasi sikap yang suka memaksakan kehendak dengan mengetahui apa-apa saja yang menjadi penyebabnya. Pada dasarnya ada tiga bentuk penyebab umum dari keadaan ini yaitu peraturan, hawa nafsu lebay dan kesombongan. Tritunggal ini akan kami bagi-bagi dalam berbagai bentuk. Berikut selengkapnya alasan mengapa kita memaksakan kehendak.

Pemaksaan yang baik.

  1. Apa yang kita kehendaki sesuai dengan aturan.

    Kita bisa mengingatkan orang lain tentang suatu aturan tetapi saat dia berkeras hati dan tidak mau mematuhinya, biarkan saja. Terkecuali jika anda adalah pengawas dari aturan tersebut (misalnya pihak Kepolisian). Jelaslah bahwa apa yang dikehendaki oleh para pemimpin dan pengawas harus selalu diikuti sebab apa yang diperintahkannya tidak berasal dari diri sendiri melainkan semua ada dasar aturannya.

  2. Yang dikehendaki orang tua terhadap anak.

    Antara sesama manusia, kita tidak bisa memaksakan kehendak sebab posisi kita setara adanya. Akan tetapi antara orang tua dan anak perlu pemaksaan manakala si anak tersebut masih kurang tanggap. Pemaksaan dalam hal ini adalah berupa nasehat tentang berbagai-bagai hal yang baik dan benar. Lagi pula setiap anak di dalam keluarga masih berada di bawah naungan orang tuanya atau lebih tepatnya di bawah kekuasaan Ayah & Ibunya. Jadi, orang tua berhak menganjurkan anak untuk ini dan itu dan sebaliknya anak pun harus menghormati orang tuanya. Tentulah semua pemaksaan ini tidak jauh-jauh dari kebenaran firman Tuhan.

    Pemaksaan yang kurang baik.

  3. Egois sangat.

    Mereka yang menganggap bahwa dirinya lebih penting dari orang lain cenderung mendewakan keinginannya. Jauhilah sikap egois dengan memelihara niat yang tulus – ikhlas untuk berbaur bersama orang lain. Paksaan akibat tingginya ego bisa saja menghancurkan tatanan kehidupan bersama di dalam masyarakat. Selalu sadari bahwa kita tidak sendiri di dunia ini melainkan upayakan untuk menegakkan keputusan yang berlaku secara umum yang ditentukan langsung oleh penduduk setempat (kearifan lokal).

  4. Hawa nafsu besar (yang sesat, menyimpang).

    Milikilah nafsu yang datar saja. Memang saat masih kecil nafsu yang dimiliki cenderung berlebihan. Seperti saat kita berpikir untuk memiliki cita-cita di hari esok. Akan tetapi setelah dewasa, kita mulai belajar untuk menekan segala sesuatu sehingga dapat diekspresikan secara stabil tetap konsisten. Sekali pun ada harapan di masa depan, tetap diperjuangkan semaksimal mungkin, sedang apa pun jadinya nanti diri ini pasrahkan kepada Sang Khalik. Justru ketika hasrat terlalu besar kemungkinan akan mendesak-desak hal tersebut agar segera dipenuhi/ dikabulkan/ dituruti oleh orang lain.

  5. Telah kecanduan/ ketergantungan.

    Apa yang membuat anda ketagihan dalam hidup ini? Biasanya saat hal tersebut tidak ada cenderung menjadi gelisah, kesal dan emosian (pemarah). Ketika apa yang dicandukan tersebut tidak ada, besar kemungkinan seseorang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencarinya sampai menghalalkan segala cara. Ini juga berpotensi menimbulkan kerugiaan bagi orang lain dan lingkungan alamiah terlebih ketika kehidupannya berdampingan dengan si pemaksa tersebut.

  6. Merasa berhak.

    kita terkadang merasa sudah lebih baik dari orang lain terlebih ketika ada potensi besar yang dimiliki. Saat kita merasa berhak atas sesuatu dari orang lain, pasti akan menuntut hal tersebut. Ini biasanya terjadi dalam zaman kapitalisme, orang yang bermodal besar merasa lebih berhak atas berbagai fasilitas dan pelayanan super mewah. Saat seseorang tidak melayani dengan baik, mungkin akan menuntutnya di pengadilan hanya atas perilaku yang terkesan sepele tersebut. Oleh sebab itu, dalam hidup ini adalah baik adanya jika hak-hak antara manusia setara adanya agar tidak ada orang yang terlalu sombong hingga harus diperlakukan istimewa lain dari yang lain.

  7. Merasa sudah sempurna.

    Kita merasa hidup ini sudah sempurna sehingga hati menjadi sombong. Lalu mulailah menuntut orang lain untuk menuruti apa yang kita inginkan dengan alasan bahwa apa yang kita miliki adalah sempurna adanya. Hal ini juga bisa terjadi lewat perdebatan sengit yang dijalani dalam interaksi sosial. Jika ada pendapat yang tidak cocok, tidak perlu di lawan secara berlebihan, melainkan banyak-banyaklah bersikap ikhlas dan rendah hati agar kita jauh dari kesan memaksakan kehendak kepada sesama. “Perdebatan sengit dan alot hanya dibutuhkan dalam pembuatan aturan. Sedang dalam diskusi publik yang umum kita tidak perlu terlalu memaksakan apa yang dipahami/ diyakini kepada pihak lain.”

  8. Merasa kaya.

    Saat kekayaan yang dimiliki luar biasa, muncullah kebanggaan yang membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain. Sikap yang merasa kaya membuat seseorang bisa hidup sendiri-sendiri terpisah dari yang lainnya. Ketika orang yang merasa kaya tersebut diperhadapkan dengan pergaulan hidusetianya.p sehari-hari, cenderung merasa diri jauh lebih baik sehingga harus diikuti oleh orang lain. Artinya, karena dia hebat maka dialah yang harusnya diikuti dengan mengintimidasi orang lain untuk menjadi pengikut setia.

  9. Merasa punya jabatan/ kekuasaan.

    Biasanya tingkat keangkuhan manusia akan tumbuh kembang seiring dengan besarnya kekuasaan yang dimiliki. Mereka yang menjadikan kekuasaan sebagai kesenangan akan lenyap rasa kemanusiawiannya. Karena memiliki kecenderungan untuk menganggarkan diri dari sesama, dia lantas memaksakan setiap hal yang diinginkannya.

  10. Merasa diabaikan/ dicuekin.

    Saat kita bertanya kepada seseorang lantas orang tersebut tidak menjawabnya lalu pertanyaan kita malah semakin banyak tapi dia tetap tak menjawabnya. Dalam pengabaian komunikasi yang kita alami, sebaiknya membiarkan dan mengikhlaskan hal tersebut. Ditanya sekali tetapi tidak di jawab ya sudah biarkan saja (kecuali saat minta izin, menanyakan hal penting, meminta sesuatu) dan terima apa adanya lalu lanjutkan aktivitas positif yang digeluti. Terkecuali jika dia menantang anda dalam permainan komunikasi, silahkan ladeni.

  11. Merasa benar sendiri.

    Kita bukanlah orang yang seratus persen benar. Kita tidak berhak memaksakan kehendak kepada sesama karena tiap-tiap orang adalah setara posisinya. Jika kita memaksa berarti seolah-olah memposisikan diri lebih tinggi dari orang lain. Terkadang saat kita menyampaikan kebenaran, ada yang mengabaikan. Tetapi janganlah fokus dengan pengabaian tersebut. Sebab yang namanya kebenaran tetap akan nyata juga cepat atau lambat.

    Satu inti yang perlu kita fahami dari perjuangan tersebut adalah “jangan mencari kemuliaan bagi diri sendiri melainkan dedikasikan semuanya itu demi kemuliaan nama Allah.” Kita tidak bahagia saat menerima kemuliaan dari orang lain, yang didapatkan hanyalah rasa senang sesaat. Tetapi kebahagiaan kita sifatnya terus-menerus oleh karena kita memuji, menghargai, menghormati dan memperhatikan sesama lagi dan lagi (sesuai momennya).

Keinginan Berbanding Terbalik Dengan Kebahagiaan

Keinginan yang dipaksa-paksa cenderung membuat kita stres dan hubungan dengan Tuhan juga dengan sesama manusia cenderung retak. Meletakkan ketakutan kepada diri sendiri hanya membuat orang lain patuh saat kita ada disisinya mengawasi dan cenderung membuat kita menjadi diktator. Tetapi tinggikanlah peraturan di antara manusia yang posisinya setara, niscaya hal tersebut akan diikuti oleh semua orang karena mereka faham manfaatnya. Kita harus belajar lebih banyak ikhlas dan rendah hati sembari tetap melanjutkan aktivitas positif (fokus Tuhan, belajar dan bekerja) sehari-hari. Sebab justru saat kita memaksakan kehendak, kebahagiaan redup bahkan hilang. Kehendak atau keinginan atau hawa nafsu adalah faktor yang berbanding terbalik dengan kebahagiaan anda. Jika kemauan kita terlalu banyak cenderung lebih sukar untuk bahagia namun bila kehendak kita lebih simple cenderung lebih mudah untuk berbahagia. Sebab dimana ada keinginan besar, disitu ada potensi kekecewaan besar. Oleh karena itu, “minimalisir keinginan tetapi penuhilah kebutuhan anda sehari-harinya.”

Salam, Apa yang dipaksakan,
Bisa berujung pada perselisihan,
Tetapi tegakkan aturan,
Niscaya ada kedamaian
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.