Gejolak Sosial

+10 Alasan Ikan Lapar Tidak Butuh Makanan – Apa Makanan Ikan Di Lautan Lepas?

Apakah Ikan Lapar & Butuh Makanan Apa Makanan Ikan Di Lautan Lepas.png

Anda bisa menjawab teka-teki di bawah ini setelah membaca tulisan kami.

Saya memiliki banyak pisau tapi bukan untuk makan melainkan sebagai perhiasan dan sekedar menakuti siapa pun, siapakah saya?

Aku memiliki sayap sehingga bisa terbang tapi bukan di udara. Sayap itu kecil, lebih kecil dari tubuhku, siapakah aku?

Saya suka dengki terhadap teman yang bercahaya. Apalagi jika teman tersebut mengganggu saya, pasti akan dikejar dengan penuh emosi tetapi ternyata jebakan, siapakah saya?

Aku adalah aktivitas yang menurut orang kejam tetapi itu hanyalah tabokan gaya paus, apakah saya?

Serius dengan pertanyaan ini? Masakan ada makhluk hidup yang tidak membutuhkan makanan? Sepertinya semua ciptaan Tuhan saling membutuhkan satu sama lain dalam ikatan energi yang berbentuk rantai makanan. Mungkin ini hanyalah salah satu dari sekian banyak tulisan yang lebay di internet. Tetapi pernyataan tersebut di atas sangat dimungkinkan bisa terjadi di lautan lepas. Sebab kondisi lingkungannya memampukan mereka untuk tidak merasa lapar seperti halnya yang dialami oleh setiap manusia dan binatang lainnya yang asam lambungnya akan memuncak bahkan bertransformasi menjadi GERD (kerongkongan terbakar, perih). Kami sendiri yakin betul bahwa ikan di lautan adalah makhluk yang bebas dari penyakit menular mana pun sebab garam adalah awal mula dari semua obat farmasi.

Semua makhluk laut tidak lapar tetapi terpesona oleh hal-hal yang berkilau

Asam lambung adalah tanda kelaparan yang membuat semua makhluk yang menderita hal tersebut menanggapinya dengan mencari bahan makanan. Akan tetapi, kemungkinan besar penyakit lapar semacam ini tidak dialami oleh makhluk yang berdomisili di dalam lautan sebab garam adalah senyawa yang dapat menetralkan asam lambung sehingga kemungkinan besar setiap ikan tetap kenyang. Hanya saja, hewan laut lebih tertarik dengan pesona yang menggerayangi indra penglihatannya (mata) daripada indra pengecap (lidah) dan penciumannya (hidung). Ini dibuktikan dengan pemanfaatan umpan saat memancing di laut lepas tidak membutuhkan makanan atau ikan lainnya melainkan memerlukan umpan yang berkilau memantulkan cahaya (matahari/ bulan) atau bercahaya sendiri (memakai baterai).

Teknik memancing personal dan masal yang digunakan nelayan profesional

Hewan laut sama seperti manusia primitif yang menganggap matahari sebagai dewanya (bangsa Mesir kuno). Demikianlah makhluk laut tersebut akan tertarik untuk mendatangi dan memuja cahaya bahkan memakannya. Itulah sebabnya teknik pembuatan umpan yang berkilau ini dipakai oleh orang-orang yang biasanya memancing secara personal di lingkungan air asin. Demikian juga dengan para nelayan yang biasanya memancing secara masal menggunakan kapal besar. Mereka menggunakan umpan mainan yang mengeluarkan cahaya sendiri (energi baterai kecil) untuk memancing ikan besar dalam untaian tali pancing yang berjejer-jejer, luar biasa banyak. Yang menjadi masalah adalah warna cahaya yang digunakan untuk memancing hewan besar tersebut, apakah merah, biru, kuning, hijau, putih atau yang lainnya? Tentu saja secara umum mereka tertarik dengan warna putih tetapi setiap umpan dengan warna cahaya harus diuji yang mana yang lebih banyak di lahap oleh ikan besar.

Lautan adalah energi

Pernah mendengar di beberapa blog bahwa garam adalah sumber energi cair di bumi ini. Hal tersebut juga nyata kepada kita hingga saat ini sebab saat mengonsumsinya, rasa lapar pergi begitu saja. Seolah kita sudah makan walau sesungguhnya belum mengkonsumsi nasi sebutir pun sejak berjam-jam lalu lamanya. Bahkan dinginnya malam hari akan pergi berlalu begitu saja setelah meminum air garam manis. Memang mineral ini adalah sumber energi cair yang secara konsisten terkandung dalam setiap sel tubuh makhluk hidup mana pun di bumi ini. Namun jumlahnya yang sangat banyak di lautan menunjukkan eksistensinya yang sangat penting bagi seluruh kehidupan yang ada di atas planet bumi ini.

Sodium penghasil biogas, bersyukurlah!

Manfaat garam lainnya sebagai sumber pemicu energi adalah dalam proses pembusukan. Saat suatu bahan organik dibusukkan oleh lingkungan, yang mempercepat proses tersebut adalah natrium. Itulah mengapa dalam setiap proses pengomposan, kita perlu menaburinya dengan sodium secukupnya sehingga proses yang berlangsung semakin efektif hingga menghasilkan gas aktif yang digunakan sebagai bahan bakar (biofuel/ biogas). Kita patut beterima kasih kepada Sang Pencipta oleh karena semua anugerah yang diberikan-Nya terhadap keberlanjutan hidup di bumi ini. Sungguh, dari sudut ke sudut, ada keberkahan dan kelimpahan. Hanya saja, dalam beberapa situasi, kita menjadi serakah memanfaatkan potensi besar tersebut sehingga kebebasan ini pun direnggut aturan hukum.

Ikan sendiri bisa hidup di air tawar dan air laut. Makhluk yang hidup di air tawar mungkin saja memiliki nafsu yang besar terhadap makanan sebab kandungan garam di dalamnya lebih sedikit. Akan tetapi lain halnya saat kita berbicara tentang laut lepas dimana wilayah ini merupakan pusat perhentian terakhir dari seluruh perairan yang terdapat di muka bumi. Sebab lautan sangat kaya dengan energi yang melimpah. Seandainya makhluk di sana tidak makan sedikit pun niscaya mereka tetap masih bisa hidup. Jadi, bisa dikatakan bahwa proses rantai makanan di dalam sana tidak berjalan seperti rantai makanan di hutan rimba. Biasanya makhluk darat memakan dan dimakan karena mereka memiliki lambung yang bisa merasa lapar.

Apakah yang menjadi makanan ikan di lautan bebas?

Menarik juga misteri tentang makanan makhluk laut. Orang yang tidak paham manfaat garam pastilah akan berpikir, “mustahil binatang laut itu tidak makan, bagaimana dia bisa besar?” Ini adalah salah satu rahasia dari keajaiban alam. Kami sendiri pun selama ini berpikiran bahwa keberadaan predator di hutan rimba sama dengan di lautan. Barulah beberapa hari belakangan ini kami menyadari bahwa kehidupan hewan laut sangat jauh berbeda dari hewan darat. Sebab di dalam air asin mereka tidak akan pernah merasa lapar karena laut kaya akan garam yang adalah sumber energi bagi seluruh kehiduoan di bumi. Ada yang mengatakan bahwa ikan memakan plankton dan fitoplankton, makhluk kecil mungil yang tidak terlihat secara kasat mata. Sekali pun demikian, kami yakin betul bahwa yang mereka maksud dengan plankton dan fitoplankton adalah sodium itu sendiri.

Benarkah ikan butuh makanan atau tidak?

Bagaimana mungkin anda merasa butuh makanan ketika hidup dan tinggal di dalam pabrik pembuatan kue? Tentu saja seperti itu jugalah yang terjadi di dalam lautan, Satu-satunya yang membuat orang-orang di dalam sana saling bertekak, menyinggung, menyikuk dan bertengkar adalah masalah emosional yang cenderung labil. Demikianlah yang terjadi kepada hewan-hewan lautan, karena mereka tinggal di pusat makanan, tidak ada lagi yang berebut untuk saling bunuh membunuh. Melainkan semuanya hidup bersama-sama dalam kelompoknya masing-masing. Satu-satunya yang membuat mereka saling serang di tengah kemakmuran hidup adalah kepribadiannya yang buruk sama sekali.

Berikut ini akan kami jelaskan beberapa faktor penyebab yang membuktikan bahwa hewan laut tidak makan sesamanya
  1. Yunus di perut ikan.

    (Yunus 2:10) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.
    Jelaslah bahwa tidak ada makhluk laut yang memakan manusia. Nabi Yunus kala itu memang lagi sial saja sebab dia sedang dalam pelarian untuk menghindari titah Allah. Ini mungkin disebabkan oleh keberadaannya yang dicampakkan ke dalam lautan sehingga makhluk besar yang ada di bawahnya terkejut bercampur marah lalu melahap sang nabi yang kebetulan jatuh tepat dihadapannya. Akan tetapi, hal tersebut hanya berlangsung selama 3 hari lalu hewan besar tersebut memuntahkan Yunus ke daratan. Memang kisah di atas kental dengan sisi spiritual yang alot untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Sisi lainnya yang bisa kita pahami adalah makhluk tersebut belum menelan sang nabi ke dalam perutnya melainkan tersangkut di dalam mulutnya karena kerongkonganya tidak cukup besar untuk memuati dan mendorong benda padat ke dalam perutnya. Tahapan melahap pengganggu yang dilakukan makhluk berkulit licin ini seperti saat kita menabok lalat atau nyamuk yang lewat. Aksi ini adalah gerakan refleks alias spontanitas yang terkadang tidak kita sadari. Saat kita terganggu oleh kehadiran serangga maka secara spontan akan memukulnya dengan satu atau dua tangan ini, demikianlah juga ikan yang mulutnya menjadi tangan untuk melenyapkan pengganggu. Tetapi kemudian setelah beberapa hari, hal tersebut akan dimuntahkan keluar karena memang dari awal tidak untuk di makan.
  2. Mata pancing yang menjerat mulut ikan.

    Sepertinya kepanasan hati yang diikuti dengan tabokan (tamparan) gaya ikan tidak hanya berlaku bagi ikan air asin saja melainkan juga bagi yang hidup di air tawar. Mengapa kami berkata demikian? Karena setiap kali kita memancing makhluk laut mana pun pasti mata kailnya hanya akan nyangkut di mulutnya saja. Tidak pernah kedapatan kail masuk sampai ke dalam perutnya melainkan hanya terkait di antara tulang pipi dan dagunya. Dari sini bisa kita pahami betul bahwa sesungguhnya tujuan makhluk laut saat melahap sesuatu tidak sekejam yang kita pikirkan, yaitu membunuh hewan air lainnya. Melainkan tamparan gaya mulut ini semata-mata demi meluapkan amarahnya yang membara karena telah diganggu oleh mata pancing yang kita lemparkan.
  3. Bentuk gigi dan rahang menjadi kuat, tajam dan sehat karena garam.

    Sadarilah bahwa bentuk rahang dan gigi ikan yang tajam, besar, kuat dan sehat sangat memungkinkan baginya untuk memangsa apa saja. Harap diingat bahwa garamlah yang membuat pertumbuhan gigi mereka sangat baik sehingga bentuknya rapi, kuat, besar, tajam dan sehat. Itu bukan ditujukan untuk berburu tetapi lebih banyak digunakan sebagai aksesoris belaka.
  4. Garam adalah awal dari semua makanan.

    Bagaimana mungkin ikan bisa memakan sesama ikan kalau mereka hari-hari selalu kenyang? Sadar atau tidak, semua bahan pangan yang kita konsumsi berasal dari garam dan akan kembali diubah (demineralisasi) menjadi sodium lewat proses pembusukan. Sebab tanpa asupan natrium yang salin, tumbuh-tumbuhan tidak dapat subur dan hewan-hewan tidak akan tebal dagingnya sehingga siap untuk dikonsumsi.
  5. Makhluk laut hanya tertarik pada umpan yang berkilau.

    Apakah ikan makan sesamanya atau tidak? Atau kira-kira lebih banyak predator di daratan atau di lautan? Menurut kami, sekali pun makhluk laut makan sesamanya, itu lebih banyak terjadi secara tidak sengaja. Memang beberapa dari mereka ganas, tetapi hal tersebut disebabkan oleh perilaku manusia yang menangkap secara berlebihan (bayi-bayi pun dicekik, lebih jahat dari teroris) sehingga populasi lautan sangat sedikit (jarang-jarang tempat yang ramai/ padat). Pernahkah anda mendengar bahwa memancing di lautan menggunakan ikan kecil? Tentu saja hal ini tidaklah mungkin terjadi sebab di sana adalah pusatnya makanan, jadi mereka tidak butuh makanan. Tetapi hewan-hewan tersebut merupakan pemuja tetap cahaya. Saat ada sesuatu yang berkilau-kilauan terlebih saat hal tersebut mengganggu si arogan pastilah akan dikejar dengan penuh emosi untuk dilenyapkan (dimakan). Artinya, mereka mengejar umpan yang bercahaya tersebut karena merasa iri hati/ terganggu/ tersaingi/ faktor kepribadian lainnya. Kemilau yang dipantulkan/ dipancarkan oleh umpan membantunya untuk melihat dengan jelas lalu mengikuti sampai melahapnya yang ternyata adalah jebakan. Sifat binatang laut yang sangat suka dengan cahaya telah menjadi objek terpenting saat para nelayan melaut. Mereka bisa menggunakan cahaya dalam skala besar untuk memancing dan menjaring ikan kecil sampai besar (masal). Sedang untuk yang lebih spesifik dan soliter, nelayan bisa menggunakan umpan manipulasi seperti ikan yang memantulkan cahaya (dipakai di siang hari) dan yang memancarkan cahaya sendiri (menggunakan baterai untuk dipakai malam hari).
  6. Mereka saling serang karena miskin populasi sehingga menghasilkan mental psikopat.

    Sadar atau tidak, manusia adalah penyebab utama yang membuat hewan laut menjadi ganas. Sebab kita menekan kehidupan mereka dengan memungut segala jenisnya dari yang besar sampai yang terkecil sehingga populasinya sangat minim. Keserakahan manusia membuat jumlah makhluk laut laut yang tinggal dalam kelompok sangat minim bahkan mungkin kelompok mereka dapat dihitung dengan jari pada wilayah pantai tertentu. Jumlah yang jarang-jarang tersebut menciptakan individu yang lebih suka menyendiri yang jauh dari kerumunan. Pribadi penyendiri semacam inilah yang akan menjadi psikopat. Mereka sangat sensitif dengan gangguan sehingga saat terjadi sesuatu di sekitarnya langsung menggigit. Tetapi tujuan menggigit tersebut lebih banyak bukan untuk dimangsa melainkan bagian dari perlindungan diri semata. Lain halnya dengan ikan yang sudah terbiasa hidup secara berkerumun, sekali pun mereka bersentuhan satu sama lain, biasa saja. Kita pun yang menyentuh mereka secara tak sengaja tidak akan ditanggapi dengan agresif. Tetapi menyentuh jenisnya yang hidup sendiri-sendiri mungkin akan ditanggapi dengan langsung melarikan diri sejauh mungkin. Atau bisa juga menjadi agresif sehingga menyerang sekedar melindungi diri (ikan tidak pernah memakan manusia).
  7. Makhluk laut tidak memakan bangkai.

    Pernah kami mendengar cerita sempit saat ada kapal tenggelam atau pesawat terjatuh di lautan atau tsunami. Ceritanya menyatakan bahwa bangkai manusia yang bersebaran dalam laut akan dimakani oleh ikan, apakah ini masuk akal? Sepertinya lebih enak baginya mengkonsumsi plankton atau garam atau apalah dari pada mengkonsumsi bangkai entah berantah yang sudah tidak sedap lagi. Jadi, sekali pun lautan adalah pusat sampah dunia namun tidak ada makhluk pemakan bangkai di sana. Terkecuali plankton atau bakteri atau mikroplankton yang melakukan demineralisasi terhadap segala jenis sampah.
  8. Logikanya: Sekali pun mereka menyerang untuk makan bagaimana caranya memotong makanan yang melayang jatuh?

    Saat ada ikan yang menyerang untuk memenuhi isi perutnya (seandainya), bagaimana caranya untuk memakan temannya sendiri sementara penglihatannya hanya mengarah ke depan? Mungkin saat cabikan pertama, ia bisa mengonsumsinya. Akan tetapi setelah itu pasti mangsanya tersebut akan terjatuh ke bawah. Pertanyaannya, “bagaimana ia bisa berbelok untuk menukik ke bawah menggigit buruannya sementara matanya hanya mengarah ke depan?” Sekali pun bisa melihat ke bawah, jika jatuhnya mangsa makin dalam pastilah tidak kelihatan lagi. Sementara ikan yang berukuran besar harus memutar lebih jauh lagi sambil menukik ke bawah jika ingin mencabiknya kembali. Tentulah dia tidak akan tahu arah jatuhnya sebab matanya tidak bisa dipakai untuk melihat ke bawah melainkan hanya ke depan, samping dan mungkin juga ke atas. Bisa saja muncul spekulasi tentang penciumannya yang tajam sehingga bisa membaui arah mangsa yang jatuh ke bawah. Harap di ketahui bahwa lautan tidaklah sama dengan daratan. Jika di daratan berbagai jenis bau-bauan akan semerbak menyebar ke segala arah. Akan tetapi lain halnya di dalam air, aroma darah tidak akan menyebar dengan cepat kecuali di bawa oleh arus. Bahkan aroma apa pun di dalam lautan kemungkinan bisa saja dipecah oleh garam sehingga baunya tidak lagi terasa (hambar – sama saja dengan yang lainnya). Sebab natrium adalah senyawa aktif yang melakukan proses netralisasi terhadap segala jenis bahan organik mau pun anorganik.
  9. Sekali pun mereka menyerang untuk makan pasti langsung telan dan tidak dikunyah.

    Semua makhluk laut hanya memiliki gigi pedang yang bertujuan untuk memotong dan mengoyakkan. Mereka hanya memiliki kemampuan untuk menggigit tetapi bukan untuk mengunyahnya. Artinya, mungkin saja mereka saling makan satu sama lain tetapi mereka tidak mencabik-cabiknya seperti hewan darat. Satu-satunya yang dilakukan adalah menelannya bulat-bulat. Diferensiasi yang sangat minimal pada giginya cenderung membuktikan bahwa fungsi dari organ tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal. Tidak sama dengan karnivora daratan yang biasanya memiliki tiga jenis gigi, yaitu taring, seri dan geraham. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa fungsi pisau-pisau tajam itu hanyalah aksesoris (perhiasan) yang tumbuh subur karena terus diperkaya oleh garam laut.
  10. Logikanya : Ikan besar mustahil bisa memakan yang kecil!

    Seperti yang kami katakan sejak dari awal bahwa pemangsa di lautan adalah jarang, sekali pun ada, itu terjadi secara tidak disengaja. Sebab tidak ada yang kelaparan di tengah limpahan garam yang luar biasa hingga kadar 3,5%. Lagi pula, hewan yang ukurannya besar mustahil bisa menyaingi kecepatan yang kecil yang bisa bergerak dengan sangat cepat. Biar bagaimana pun, hukum gravitasi masih berlaku di dalam perairan walau nilainya cenderung lebih kecil dibandingkan dengan di daratan. Bobot hewan yang lebih besar membuat pergerakannya lebih lambat. Akan tetapi, lain halnya dengan cecunguk kecil yang dapat meliuk-liuk dengan gesit dan bebas di dalam lautan. Jadi bagaimana abang gede bisa mengejar adik kecil yang gesit? Mustahil juga bila yang besar saling makan sebab sekalipun bisa saling menyerang tetapi tidak bisa mencabik-cabiknya untuk di lahap sampai habis karena santapan cenderung melayang jatuh.
  11. Bagaimana dengan lumba-lumba yang suka makan ikan di sirkus?

    Aneh juga ya, kalau memang makhluk laut tidak pernah makan sesamanya, mengapa hewan yang berada di dekat manusia malah lebih ganas? Lumba-lumba yang memakan ikan kecil cukup aneh juga. Tapi mari telisik lebih dalam lagi, apakah air yang digunakan sebagai media hidupnya sudah mengandung garam 3,5%? Atau jangan-jangan itu hanyalah air tawar biasa yang sekali pun di beri garam tapi jumlahnya sangat sedikit. Otomatis kalau perairan tempat hidupnya di lahan sirkus/ wahana tersebut tidak mengandung sodium yang mencukupi, rasa lapar bisa saja muncul. Lagi pula mereka sudah dilatih dengan keras oleh pawang khusus untuk melakukan hal tersebut.
  12. Bagaimana dengan hiu yang katanya suka berburu bahkan melukai manusia?

    Lihat saja ke akuarium super besar yang dibangun di wilayah anda (biasanya di Ibukota), bukankah di dalamnya ada hiu yang berkeriapan dengan tenang dengan ikan-ikan kecil dan besar lainnya? Keberadaannya di dalam kehidupan sosial lautan telah membuatnya jinak dan tidak seperti yang dikabarkan orang dimana dianggap sebagai predator yang menyerang manusia. Sekali pun ada kejadian semacam itu, hanyalah bagian dari melindungi diri karena terlalu sensitif dengan kehadiran kita. Terlebih ketika mereka bermental psikopat karena hidup sendiri-sendiri. Ini seperti kisah hidup ikan laga yang dipisah-pisah satu setiap botolnya. Soliterisasi ini (penyendirian) menciptakan ikan laga bermental psikopat yang dikuasai kebencian sehingga langsung bertarung sengit saat digabung dengan ikan lainnya. Hal ini jugalah yang terjadi jika hiu tersebut hidup sendiri-sendiri. Sehingga saat manusia tidak sengaja menyentuhnya, pasti sangat agresif menyerang tetapi bukan memakan manusianya.
  13. Jika benar ada predator pemburu ikan lainnya di dalam lautan tidak akan penuh dengan ikan.

    Seandainya anda pergi ke ekosistem yang kaya dengan terumbu karang maka akan menemukan di sana bahwa kehidupannya sangat tenang dan damai. Jika predator itu sungguh ada di dalam laut maka jumlah populasi makhluk hidup terumbu karang sangatlah miskin. Hewan yang saling serang itu hanya terjadi di daratan yang miskin makanan sedang lautan yang kaya pan. Tidak ada yang saling serang sebab semuanya bersama-sama. Kemungkinan bagi lautan untuk dipenuhi dengan ikan sangat dimungkinkan asal manusia tidak menangkapi bayi-bayinya yang masih kecil-kecil.
  14. Ikan paus besar kerongkongannya hanya seukuran bola voli.

    Pernah membaca sebuah tulisan di blog media yang mengatakan bahwa sebesar-besarnya paus kerongkongannya hanya sebesar bola voli. Jika ikan ukuran besar saja kerongkongannya kecil apalagi ikan yang lebih kecil lainnya, kerongkongan mereka pastilah lebih kecil dari itu. Atau kalau tidak percaya, silahkan periksa sendiri hal tersebut sesaat setelah membelinya dari pasar, bukankah itu sangat mini? Jadi, sungguh tidaklah mungkin jika ada sistem dimakan dan memakan di dalam lautan karena kerongkongan setiap makhluk laut sangat mini, jika kemasukan benda-benda keras-tajam pasti akan tersedak hingga dimuntahkan lagi ke luar. Terkecuali bila mereka melakukannya secara tidak sengaja sehingga makhluk yang ukurannya kecil masuk ke dalam tanpa terhambat sedikit pun.
  15. Perut ikan sangat mini dengan dinding otot yang tidak dirancang untuk menelan makhluk hidup aktif.

    Bisa saja ada di antara manusia dengan perut yang sangat besar atau di antara hewn peliharaan kita (misalnya kerbau, sapi, babi). Ketahuilah bahwa penumpukan lemak tidak terjadi di lautan garam sebab semua kelebihannya akan larut. Pernahkah anda ke pasar untuk membeli ikan dan langsung melihat proses pemotongannya? Jika pernah melakukannya pasti mengetahui bahwa ukuran perutnya sangat kecil. Sedang daging ikan itu sendiri sangatlah besar, berkali-kali lipat besarnya dari ukuran perutnya yang begitu minimalis. Jelaslah bahwa bentuk perut yang mini tersebut tidak ditujukan untuk memangsa sesuatu hidup-hidup. Sebab mungkin saja yang hidup tersebut akan tersangkut di tenggorokan hingga merobeknya. atau bisa juga merobek lambungnya. Sehingga bisa dipastikan bahwa setiap makhluk laut sangat menjaga dirinya untuk tidak mengonsumsi sesamanya secara hidup-hidup. Memakan ikan lain hidup-hidup bisa merusak organ dalam khususnya pencernaan.
  16. Mustahil ikan memakan anaknya sendiri di tengah limpahnya makanan dan kekenyangan.

    Hewan air asin ini ternyata memiliki kerongkongan yang cukup kecil, proporsional sesuai dengan ukuran badannya. Jadi mustahil dia memakan sesamanya (yang seukuran); tidak mungkin juga dia memakan sesuatu yang ukuran tubuhnya setengah (separuh dari badanya). Sebab hewan bersirip tidak bisa mencabik-cabik makanannya menjadi lebih kecil. Mereka bahkan tidak bisa mengonsumsi sesuatu yang ukurannya sebesar mulutnya karena ukuran tenggorokan pastilah lebih kecil dari besarnya mulut menganga. Melainkan harus mengonsumsi sesuatu yang sangat kecil bahkan lebih kecil lagi, yaitu bayi-bayinya sendiri. Ini jelas mustahil terjadi ditengah limpahnya nutrisi di sekitarnya. Lagi pula dia tidaklah lapar.
  17. Mengonsumsi air laut sedikit-sedikit.

    Hidup di tengah kelimpahan mineral ajaib membuat hewan air asin beradaptasi dengan sedikit membuang urin. Penyesuaian ini diiringi dengan asupan minum yang lebih sedikit. Berbeda dengan jenisnya yang hidup di perairan tawar yang lebih banyak mengonsumsi air. Artinya, kekuatan sodium yang sangat besar di lautan diantisipasi dengan meminum air laut sedikit-sedikit. Mereka memang berada di dalam air asin tapi tidak meminumnya terlalu banyak dan tidak terlalu sering untuk menjaga salinitas darahnya tetap stabil (0,9% sama halnya dengan makhluk hidup pada umumnya). Kebiasaannya meminum air garam konsentrasi tinggi serba sedikit inilah yang membuat ikan yang ditangkap dari laut tidak terasa asin sewaktu kita makan (setelah dimasak terlebih dahulu). Paus, hiu, pari dan berbagai makhluk besar licin lainnya meminum air laut sedikit-sedikit dan sangat selektif. Sehingga mustahil terdapat ikan kecil yang memasuki mulut apalagi tenggorokannya. Jadi, kesimpulannya telah bulat: IKAN TIDAK MEMAKAN IKAN LAINNYA!

Apakah ada damai di lautan luas? Seolah wilayah ini sangat bertentangan dengan ajaran yang disebarkan oleh awak media di masa-masa sebelum sekarang. Digambarkan dengan jelas tentang proses rantai makanan di lautan bahkan sampai menyerang manusia tetapi sesungguhnya hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi. Memang ada saling serang gigit-menggigit di antara mereka namun itu hanya karena mentalnya labil oleh populasi yang sempit. Dia menjadi penyendiri sehingga mudah terganggu & tersaingi oleh gejolak situasi yang ada disekelilingnya lalu mengejar juga melahap apa saja yang mencolok (bersinar). Semuanya itu karena hatinya kesal kemudian melampiaskan amarahnya yang besar dengan bersikap agresif. Ternyata, manusia dan ikan itu mirip-mirip, kepribadian yang buruk membuatnya lebih ganas. Ditambah lagi dengan indahnya pertumbuhan aksesoris gigi yang dimiliki, membuatnya terlihat garang. Padahal makhluk laut memiliki kerongkongan kecll, perut kecil dan terbuat dari otot biasa yang bisa koyak. Sekali pun dia bisa melukai lawannya, itu karena gangguan pengendalian diri. Mereka tidak bisa mencabik-cabik mangsa dalam keadaan melayang-layang jatuh. Lagi pula ukurannya yang cukup besar membuat gerakannya lambat sehingga kurang mampu mengejar ikan kecil-kecil yang bergerak sangat cepat karena mungilnya. Jadi sekali lagi kami tegaskan bahwa tidak ada rantai makanan di lautan dan tidak ada yang namanya ikan memakan ikan.

Salam, Makhluk laut tidak pernah makan, Hobinya makan garam sedikit-sedikit, Mereka tidak saling menyerang & menggigit, Kecuali karena faktor buruknya kepribadian!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.