anak

10 Alasan Semakin Dewasa Makin Arogan, Kebaikan Hatinya Hilang – Kesombongan Menelan Kebaikan

Alasan Semakin Dewasa Makin Arogan, Kebaikan Hatinya Hilang – Kesombongan Menelan Kebaikan

Kerendahan hati di masa kecil dan Tuhan Yesus Kristus

Saat masih kanak-kanak, mudah untuk merendahkan hati. Bahkan bisa kita katakan bahwa setiap anak yang ada di sekitar kita adalah rendah hati adanya. Memang yang menjadi penyebab utama dari kecenderungan tersebut adalah tubuh yang lebih kecil dari kebanyakan orang di sekitarnya. Selain itu, karena faktor pengetahuan yang masih minim bahkan belum ada sama sekali. Sungguh keadaan semacam ini sangatlah baik di awal-awal kehidupan, Tuhan sangat senang menyambut anak-anak karena mereka memang lebih banyak rendah diri di hadapan-Nya mau pun dihadapan sesama manusia lainnya. Bahkan saking sayang-Nya lagi pula mereka benar di mata-Nya, tiap-tiap anak yang rendah hati memiliki malaikat penjaga yang senantiasa mengawasinya. Seperti ada tertulis.

(Matius  18:10) Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.

Perkataan Tuhan sangatlah jelas. Ini tidak hanya berlaku bagi anak kecil saja melainkan setiap orang yang tulus merendahkan diri dan dianggap rendah oleh banyak orang memiliki malaikat yang senantiasa mengawasinya dari sorga. “Memandang wajah” kami artikan sebagai aktivitas yang selalu memberi laporan, bisa juga dianggap sebagai salah satu bentuk pengawasan sorga terhadap mereka yang rendah hati. Oleh karena itu, mulailah belajar untuk melakukan berbagai hal sambil merendahkan hati dari sekarang. Tentu saja, kebiasaan merendahkan hati semacam ini tidaklah mudah untuk dilakukan terutama bagi orang yang merasa dirinya sudah dewasa, berpengetahuan dan telah beroleh sejumlah penghargaan duniawi lainnya (gelar, nama belakang, nama depan).

Pengertian

Manusia semakin dewasa makin arogan adalah suatu pandangan yang menganggap bahwa kedewasaan yang mengedepankan kemandirian hingga mencapai kemakmuran memiliki efek samping yaitu hidup yang semakin arogan dan kian enggan berbuat baik kepada sesama. Mereka yang sudah menjadi dewasa biasanya ditandai dengan bakat yang mumpuni, kemapanan hidup, kebebasan finansial dan jauh dari tekanan orang lain. Tahapan kehidupan ini membuat manusia sudah mulai enggan untuk berbuat baik kepada sesama. Pikirnya, “terlalu hina sikap ramah-tamah dan santun kepada sesama, itu membuat harga dirinya anjlok.” Malahan beberapa orang yang sudah berkembang pola pikirnya saling bersaing satu sama lain yang diwarnai dengan aksi saling menekan-ditekan. Keadaan ini justru kian mempertipis kasih sehingga menjadi dingin. Tentu saja semua ini adalah hal yang biasa bagi orang dewasa yang sedang memperebutkan posisi/ jabatan terbaik. Tambah bernilai posisi yang diperebutkan maka tambah banyak soal-soal yang ditimbulkan. Semua ini dilakukan demi hawa nafsu yang arogan (menginginkan sesuatu yang lebih).

Keangkuhan bisa menghilangkan kebaikan hati – Hilangkan sikap arogan dengan melayani

Arogansi jelas sangat bertentangan dengan kebaikan hati. Saat memiliki jiwa yang arogan maka niat untuk berbuat baik kepada sesama cenderung meredup bahkan hilang sama sekali. Semuanya ini terjadi karena kita merasa diri jauh lebih baik dari orang lain. Sisi arogansi ini menginjeksi harga diri semakin tinggi. Satu-satunya cara untuk mengikis sifat sombong adalah dengan menyangkal diri dan merendahkan diri untuk melayani sesama. Kasih adalah jurus jitu untuk menepis sisi hidup yang penuh dengan keakuan yang suka berbangga-bangga. Jika anda mau melayani dengan hati yang tulus niscaya kesombongan itu tidak sampai menyesakkan hidup kita. Namun jika keangkuhan menguasai, niscaya cepat atau lambat rasa bersalah, ketidaktenangan, kecemasan, kekuatiran dan ketakutan akan menguasai hidup.

Faktor penyebab semakin dewasa makin arogan

Karena kecerdasan yang semakin tinggi, dunia orang dewasa makin rumit dengan soal-soal kehidupan. Sebab ada rasa dengki di dalam hati masing-masing orang, itulah yang membuat mereka terus bergerak mencari lebih dan mengumpulkan sangat banyak. Rasa dengki ini jugalah yang membuatnya lebih banyak “sembunyi hati – sembunyi maksud, ada maksud hati yang tersembunyi.” Semua kepintarannya didedikasikan untuk memanipulasi orang lain maup pun sistem sehingga semakin kaya raya lebih dari kebayakan orang di sekelilingnya. Oleh karena itu, masing-masing orang dewasa perlu mengenali pemicu arogansi yang cenderung membuat kehidupan ini lebih dekat dengan sisi gelap dan jauh dari kebaikan. Berikut ini beberapa alasan mengapa semakin mandiri seseorang makin tinggi hati.

  1. Tubuh sudah lebih besar.

    Dia bukanlah anak kecil lagi yang saat dijitak tidak menjitak balik. Sebab semakin besar badannya makin minim juga keseganannya terhadap orang lain. Saat berdiri di depan kaca, ada hati yang memuji-muji diri sendiri begitu lembut syahdu didengar. Bukannya menyangkal pujian yang asalnya dari dalam pikirannya tersebut melainkan justru menikmatinya dan merasakan kesenangannya yang jelas-jelas hanya sesaat saja.

  2. Pengetahuan dan wawasan lebih luas.

    Si kawan bukanlah orang yang bisa dibodoh-bodohi lagi seperti waktu kecil dahulu. Justru yang terjadi malah sebaliknya, ia lebih suka mengerjai orang lain lewat keilmuaan yang dimilikinya. Timbullah rasa bangga di dalam hati sehingga turut membuat kehidupannya tenggelam dalam kesombongan. Tidak ada juga orang yang berani menegurnya karena selalu merasa sok pintar. Padahal ilmu yang dimilikinya tidak semuanya benar dan masih banyak hal yang tersembunyi.

  3. Memiliki kekuatan yang lebih besar.

    Manusia saat sudah besar badannya, kekuatannya juga besar. Bisa bergerak dengan sangat cepat menandingi orang lain menembus berbagai rintangan. Hanya saja kekuatan yang lebih itu turut pula dilebih-lebihkan di dalam hati sehingga terciptalah rasa sombong. Kekuatannya yang membuat gesit membuat gelap mata sehingga suka serobot sana – serobot sini mengambil kepunyaan orang lain. Lantas ia bertutur dengan angkuh “tidak ada yang melihat, tidak ada yang berani sama gua, ha… ha… ha…” Di waktu yang tidak diharapkannya, otot dan tulangnya itu akan mendatangkan jerat dalam hidupnya.

  4. Telah mengalami banyak masalah dan memenangkannya.

    Di awal-awal kehidupan, ada orang-orang yang takut menghadapi masalah. Mereka akan menyembunyikan diri atau mengadu. Akan tetapi, semakin dewasa, manusia justru menjadi penyuka tantangan. Sebab sudah banyak persoalan hidup yang mendera lantas dia memenangkannya. Saat menghadapi rintangan, selalu bertutur dengan menganggapnya remeh. Mereka berkata “ahh semuanya itu pasti seperti yang sudah-sudah, pasti semuanya beres.” Karena pengalaman yang tinggi, menjadi sepele terhada segala sesuatu. Padahal ini bisa jadi sebagai sebuah cela untuk terjebak dalam soal-soal yang lebih besar.

  5. Ada potensi yang sudah berkembang pesat.

    Orang yang sudah dewasa biasanya telah memiliki potensi dalam bidang tertentu. Mereka sangat ahli dalam bidang tersebut sehingga dapat membuat banyak orang kagum. Pujian pun mengalir deras namun dirinya tidak menyangkal semuanya itu melainkan hati kecilnya berkata “ahh beginilah nikmatnya, beginilah asyiknya.” Padahal semua kemuliaan tersebut datangnya cepat dan perginya pun cepat. Saat pendengaran dan penglihatannya sudah sepi pujian, lantas mulailah cari-cari sensasi dengan memanfaatkan sisi negatif dari bakatnya.

  6. Sudah memiliki pekerjaan.

    Memiliki pekerjaan membuat kemandirian hidup seseorang dipatenkan. Tidak perlu lagi dia bergantung dengan orang lain sebab banyak uangnya, bisa membeli apa saja. Lalu dia pun melihat orang-orang pengangguran di sekitarnya dengan mata yang menyombong. Ingin hatinya merendahkan mereka karena dilihatnya dengan penuh kedengkian. Memang aneh, seharusnya yang belum kerjalah yang dengki terhadap pekerja. Tetapi ini malah sebaliknya, pekerja yang iri terhadap orang yang belum kerja. Bukankah pengangguran itu ditentukan oleh pemerintah?

  7. Sudah mempunyai pasangan hidup.

    Rasa-rasanya sudah hebat memiliki pasangan yang ganteng-rupawan. Seolah dunia menjadi milik berdua. Pasangannya adalah pemuja setianya yang suka mengapresiasi kemampuannya dalam mengerjakan ini-itu. Ia pun langsung berbangga hati karena semua apresiasi. Sayang, saat jauh dari pasangannya, dunia ini rasa-rasanya membosankan sebab tidak ada yang menyapa apalagi memujinya. Ketergantungan terhadap pasangan justru membuatnya semakin jauh dari dunia ini (masyarakat sekitar).

  8. Sudah memiliki anak.

    Hebat sekali rasanya memiliki anak yang sudah sukses semuanya. Mereka lebih baik dari banyak orang di sekitarnya. Orang tua menjadi sangat bangga karena bayi-bayinya yang dulu unyu-unyu kini telah mencapai kemajuan hidup melebihi siapa pun. Lantas hal ini membuat orang tua semakin arogan, merasa tidak perlu bekerja lagi dan meminta anak-anaknya untuk membelikan mereka barang elektronnik canggih dan menyewa orang lain menyelesaikan pekerjaan rumah. Padahal dengan minimnya aktivitas bisa membuat mereka cepat pikun hingga sakit-sakitan.

  9. Hidup makin makmur.

    Kesejahteraan ekonomi memang baik. Kian lama manusia, kian bertambah-tambah harta yang ditimbunnya. Lantas saat hidupnya melimpah-limpah, mulailah lupa daratan, lupa kebenaran. Uang yang banyak itu malah dimanfaatkan untuk saing-saingan dengan oknum tertentu, mewah-mewahan, foya-foya, miras, narkoba, seks bebas dan lain sebagainya. Lagi pula kebanggaan hatinya memuncak saat membanding-bandingkan kehidupan dengan orang lain, ternyata dia jauh lebih kaya raya!

  10. Menduduki jabatan tertentu.

    Kekuasaan semakin meneguhkan kemuliaan hidup seseorang. Orang yang memiliki jabatan, ada orang lain di bawahnya yang siap mendengar dan melaksanakan perintah junjungan. Dirinya bertindak sebagai bos keci/ bos menengah/ bos besar yang bisa memerintahkan orang untuk melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya. Semua penghormatan yang diterimanya membuatnya gelap mata sehingga tidak mau lagi diganggu-ganggu atau diuji orang. Malahan tindakannya menjadi terlalu lebay saat orang melakukan kekhilafan kecil.

  11. dan lain sebagainya silahkan cari sendiri….

Berawas-Awaslah, Kesombongan Berpotensi Menghilangkan Kebaikan!

Saat kemapanan hidup sudah lebih baik dari banyak orang di sekitar. Hati lebih suka menyombongkan diri sehingga besar kemungkinan hal-hal kecil akan dianggap sepele. Kebaikan kita kepada orang lain pun seolah menciut karena merasa terlalu tinggi harga diri ini untuk menekuninya. Kebanggaan pribadi yang kita miliki menciptakan mental anti kebaikan hati. Padahal ada kesempatan untuk mengasihi sesama namun hati setengah-setengah lalu enggan untuk melakukannya. Semua ini, membuat hubungan dengan sesama terganggu dan koneksi dengan Tuhan pun mulai meredup. Sadarilah bahwa semua sifat angkuh tersebut tidak akan membuat kita bahagia dan tenang menjalani hidup. Justru sifat buruk  itu membuat hati semakin tidak tenteram, terlalu gelisah, banyak khawatir dan merasa bersalah. Satu-satunya jalan untuk menghilangkan arogansi ini adalah dengan merendahkan diri. Buanglah harga diri yang anda bangga-banggakan itu lalu mulai melayani Tuhan (fokus Tuhan) dan melayani sesama dimulai dari hal-hal kecil dalam keluarga, misalnya ramah-tamah, bersih-bersih, rapi-rapi dan lain sebagainya. Saksikan juga, Mengapa rendah hati itu penting?

Salam, Saat kebanggaan bertambah,
Harga diri semakin gagah,
Kebaikan hati justru runtuh,
Rendahkan diri dengan gigih,
Layanilah sesama dengan kasih
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.