Konflik Batin

Suatu Kebetulan Atau Terencana, Disengaja/ Spontanitas, Kemiripan Adalah Wajar, Berpikir Positiflah

Suatu Kebetulan Atau Terencana, Disengaja Atau Spontanitas, Kemiripan Adalah Wajar, Berpikir Positiflah

Seluruh alam semesta berada dalam satu kesatuan, demikianlah harusnya manusia

Perlu diketahui bersama bahwa segala sesuatu di alam semesta berasal dari satu sumber yang sama. Benih ini kemudian berkembang seturut firman yang diucapkan Allah membentuk komponennya masing-masing. Sekali pun setiap komponen tersebut berbeda, terpisah dan terkesan berjauh-jauhan tetapi terhubung dalam ikatan yang mempersatukan yang disebut dengan energi. Hubungan antara seluruh objek tersebut saling terlebat dalam satu kesatuan sistem yang berputar (siklus) sempurna. Demikianlah seluruh umat manusia sekali pun berbeda suku, agar, ras dan golongannya tetapi kita tetaplah satu dalam kebersamaan yang setara. Seandainya kita mencari kemuliaan bagi nama Tuhan maka ini mudah untuk dicapai. Tetapi karena masing-masing orang mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, itulah yang membuat kita terpecah dan terpisah satu-sama lain membentuk kerajaan/ negara/ wilayah kapitalisasinya sendiri-sendiri.

Semua manusia adalah satu, apa yang kita hadapi serupa walau tak sama persis

Awal mula manusia adalah satu, yaitu Adam dan Hawa. Anak-anak mereka, yaitu kita yang memenuhi seluruh bumi telah terpisah-pisah dalam dunianya masing-masing. Sekali pun tempat tinggal kita berada jauh-jauhan di timur, barat, selatan dan utara namun pada dasarnya pikiran, perkataan dan perbuatannya mirip-mirip. Perbedaan itu hanya karena kapitalis yang berkuasa, kebiasaan dalam lingkungan sosial bermasyarakat (SARA), profesi, umur, jenis kelamin dan lain sebagainya. Udara yang kita konsumsi adalah sama, makanan dan minuman yang ditelan pun serupalah walau tidak selalu sama persis. Bahkan bisa kami katakan bahwa segala masalah kehidupan yang kita alami pun tidak jauh beda satu sama lain. Perbedaan itu hanya terjadi dalam hal bentuk dan jenisnya saja sedang konteksnya adalah sama; entah itu soal pengendalian diri, hawa nafsu gede, gangguan indra, hubungan dengan sesama dan lain-lain.

Kemiripan Adalah Wajar, Kebetulan Atau Terencana, Disengaja Atau Spontanitas, Berpikir Positiflah

 

Ada kemiripan dimana-mana, maklumlah….

Kejadian yang berlangsung di suatu tempat bisa saja sudah terjadi sebelumnya atau sedang terjadi atau akan terjadi kelak di wilayah lain yang berbeda. Ketika kita sedang mengalami sesuatu, bisa jadi orang lain pun mengalami hal yang sama di daerah atau di tempat lain. Jadi ketika orang lain bercerita tentang masalahnya, boleh jadi hal tersebut mirip-mirip dengan diri sendiri lalu kita hubung-hubungkan dengan kehidupan yang dijalani. Bagus kalau perkataan/ perbuatan tersebut mencerminkan kebaikan tetapi bagaimana jadinya jika hal tersebut agaknya seperti sebuah sindiran? Apabila aktivitas menghubung-hubungkan hal yang buruk ini terus saja berlangsung, muncullah rasa kesal yang membuat amarah meledak dan kekerasan menjalar kemana-mana. Tentu saja semua keadaan ini akan beresiko membuat hubungan baik dengan sesama menjadi terganggu bahkan saling musuh-musuhan tidak jelas.

Jadilah pembelajar bijak yang berpikir positif menanggapi segala sesuatu

Adalah baik bagi kita untuk mengedepankan berpikir positif saat memahami berbagai pengalaman orang lain. Jika, kisah hidupnya mirip dengan kita, memang itu sudah sewajarnya sebab pada hakikatnya semua manusia bahkan segala sesuatu di jagad raya adalah hidup yang berasal dari sumber yang sama, yaitu firman yang keluar dari mulut Allah. Jadi kemiripan itu adalah hal yang wajar namun kedagingan kita sering sekali menghubung-hubungkannya dengan sisi negatif (berpikir negatif). Entah dianggap sebagai sebuah ejekan atau penghinaan atau sindiran atau tantangan atau kepura-puraan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, tidak perlu terlalu PD (percaya diri) sehingga menjadi gede rasa (GR) menanggapinya. Melainkan, silahkan ambil sisi positifnya sebagai pelajaran hidup dan bungkus muatan negatifnya untuk dibuang di tong sampah.

Di dalam pikiranmu semuanya ada, aturlah fokusmu kawan!

Pikiran kita seperti internet yang terus-menerus online dari waktu ke waktu. Otak adalah organ yang paling aktif dalam hal melakukan berbagai-bagai koordinasi mengendalikan aktivitas organ lainnya. Tetapi bagian ini juga memiliki dualisme yang kadang-kadang kentara bertolak-tolakan sampai menimbulkan serba salah. Di sana ada pikiran kotor, kebencian, iri hati, penipuan, amarah, niat jahat, kemesuman, homoseksual, pedofil dan berbagai sifat-sifat kriminal lainnya. Bila kita fokus memikirkan hal-hal tersebut maka keburukan itu akan semakin sering ditampilkan di LCD otak (lebih sering timbul dalam hati). Akan tetapi, jika kita mampu memfokuskan pikiran pada hal-hal positif niscaya semua distorsi tersebut dapat diabaikan sehingga hidup selalu di jalan yang benar. Memang ada penyimpangan tetapi itu bukan hal yang besar melainkan hanya karena kekhilafan sederhana sebab kita bukanlah makhluk yang sesempurna cahaya.

Kecurigaan itu bisa timbul kapan saja

Suatu peristiwa terjadi dalam kehidupan kita dimana terdapat interaksi yang intens dengan orang lain sehingga muncullah beberapa derajat gesekan sosial. Lantas hal tersebut menimbulkan gejolak di dalam hati lalu mulai membahas-bahasnya untuk mencari pokok permasalahan. Kemudian muncullah dugaan awal yang terbaca dengan cepat bahkan sebelum proses telaah dimulai (menyiapkan waktu khusus untuk belajar dari pengalaman masa silam). Ada suara dalam hati yang mengatakan “jangan-jangan ini spionase, jangan-jangan ini konspirasi, jangan-jangan ini manipulasi, jangan-jangan ini sudah diskenariokan matang-matang.” Dalam beberapa kesempatan kecurigaan semacam ini dapat muncul saat kejadian tersebut sedang berlangsung atau sesaat saja setelah terjadi. Pemikiran ini memang agaknya masuk akal saja sebab ada banyak orang di sekitar dan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dipikirkan oleh sesamanya.

Tidak pernah ada orang yang bebas dari prasangka, apa akibatnya?

Sayang perilaku semacam ini juga syarat dengan kesalahan akibat dosa “prasangka buruk.” Semakin membahas-bahas hal ini di dalam hati niscaya kehidupan kita cenderung diseret dalam kebiasaan jelek menghakimi sesama. Aktivitas negatif ini tidak saja berakibat pada miringnya opini tanpa dasar yang kuat. Melainkan turut pula berimbas pada meningkatnya rasa benci terhadap seseorang/ sekelompok orang. Hubungan kita dengan mereka seolah kurang akrab dan cenderung terganggu malahan ada rasa saling jauh-jauhan. Aktivitas suudzon bisa-bisa berubah menjadi fitnah tepat saat kita menceritakan dugaan tak berdasar tersebut kepada orang lain. Memang kita harus menerima kenyataan bahwa tidak ada satu orang pun manusia yang tidak pernah berprasangka negatif. Namun bukan berarti kita tenggelam dalam prasangka dengan terus-menerus membedahnya dalam otak. Ini sama saja dengan memperdalam nilai buruk dengan membangkitkan perbuatan daging dari dalam hati.

Suudzon memicu sifat sombong dan menghakimi orang lain

Semakin cerdas seorang manusia, makin tinggi pula kecurigaan di dalam dirinya. Sebab orang yang intelektualnya tinggi biasanya aktivitas otaknya pun tinggi. Jika aktivitas pikiran sempat memudar karena ada bagian tertentu yang hampa, beresiko menjadi peluang tumbuh kembangnya pikiran yang syarat kedagingan yang dekil. Salah satu entitas negatif tersebut adalah prasangka buruk yang akan menimbulkan kesan hebat. Artinya, orang memelihara sifat yang selalu curiga karena dagingnya senang dengan aktivitas tersebut. Ini adalah bagian dari membenarkan diri sendiri sembari mempersalahkan orang lain atas dasar yang lemah. “Mengapa pikiran suudzon itu lemah? Karena tidak ada bukti dan tidak akan pernah ada, sekali pun ada kesannya tidak konsisten (berbeda orang lain pendapatnya).”

Kecurigaan hanya membuat hati tidak tenteram dan kecemasan

Jelaslah bahwa pemikiran semacam ini hanya akan menimbulkan ketidaktenangan di dalam hati kita. Dari penilaian situasi muncullah sisi sombong yang membuat senang sesaat sekaligus menghakimi orang lain. Sebab ada kesan menuduh sana-sini atau menyalahkan ini-itu yang terkesan menghakimi orang lain di dalam hati. Sifat menghakimi tersebut bisa saja membuat kita benci/ kesal dengan seseorang/ sekelompok orang. Kemudian salah paham ini bisa berlanjut terus menjadi perkataan atau perbuatan yang cenderung merendahkan sesama. Di sisi lain, kecurigaan juga dapat membuat kita kuatir atau takut berlebihan terhadap sesuatu.  Biasanya, orang yang hatinya dipenuhi ketakutan menjadi terlalu waspada. Kewaspadaannya bisa saja berubah menjadi fobia yang terkesan lebay.

Suatu peristiwa apa terencana (disengaja) atau kebetulan (spontanitas)? Merupakan dasar kecurigaan

Kunci saat sifat suudzon itu dimulai adalah “apakah kejadian tersebut direncanakan atau tidak disengaja?” Peristiwa yang diskenariokan biasanya memiliki alur dan tujuan khusus, itu bisa saja untuk kebaikan kita tetapi bisa juga untuk menjatuhkan kita. Demikian pula suatu kejadian yang kebetulan bisa saja mendatangkan kebaikan atau pun keburukan bagi kita, hanya saja alurnya acak. Terkadang saat rangkaian peristiwa sedang berlangsung, bila menganggapnya sebagai skenario terencana, hati menjadi gelisah karena prasangka buruk semakin jelas. Tetapi kadang juga, saat menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu kebetulan, kita menjadi kurang hati-hati sehingga teledor melakukan kesalahan kecil sampai besar.

Dampak buruk menganggap suatu kejadian disengaja (terencana) adalah menjadi besar kecurigaan buruk, muncul ejekan, hati tidak tenang, menjauhi orang lain, terlalu waspada, ketakutan dan hubungan dengan sesama tidak lancar

Akibat positif menganggap sesuatu sangat terencana (disengaja) adalah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan, penuh perhitungan, melakukan analisis singkat (menimbang-nimbang dalam hati).

Akan tetapi….

Dampak baik menganggap sesuatu tidak disengaja (kebetulan – spontan) adalah cenderung dihadapi dengan santai (biasa saja), hubungan dengan sesama lancar.

Akibat negatif menganggap suatu keadaan karena kebetulan (tidak sengaja – spontanitas) adalah menjadi sepele dan kurang berhati-hati menjalani hidup di waktu yang akan datang.

Pengertian

Suatu keadaan terencana adalah peristiwa yang berlangsung di sekitar yang dilakukan secara sengaja dan terstruktur demi tujuan positif mau pun negatif.” Secara sengaja di sini bisa juga dimaksudkan sebagai suatu kekuatan dramatisasi yang diskenariokan dengan rapi oleh seseorang atau beberapa orang.” Sedang “suatu keadaan bersifat kebetulan adalah peristiwa yang berlangsung di sekitar yang terjadi begitu saja (acak – random) dimana bisa mendatangkan kebaikan mau pun keburukan dalam hidup ini.” Terjadi begitu saja bisa juga diartikan sebagai sesuatu yang tidak disengaja. Jadi, apa pun yang terjadi di sekitar kita, baik itu secara sengaja mau pun tidak sengaja, ketahuilah bahwa hal tersebut syarat dengan dualisme. Kita lebih baik memilih untuk mengambil jalan tengah sebab pada hakikatnya masing-masing opini tersebut memiliki sisi positif-negatifnya.

Kesimpulan

Intinya adalah saat sesuatu terjadi, jangan fokus pada penilaian, apakah itu disengaja (terencana) atau tidak sengaja (kebetulan)? Sebab apa pun opini anda tentang kejadian tersebut bisa saja menyebabkan timbulnya kecurigaan dan meningkatnya kekuatiran atau malah menganggap remeh dan kurang hati-hati. Melainkan berpikir positiflah! Fokuskan hati pada “sikap ikhlas yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus, anggap saja hal tersebut sebagai kehendak Tuhan yang perlu diterima apa adanya.” Daripada fokus membahas terencana tidaknya sesuatu, alangkah lebih baik jikalau kita mendoakan kebaikan orang-orang tersebut lalu lanjutkanlah hidup ini. Berikan belas kasihan pada situasi yang syarat kekhilafan dan maafkan setiap gangguan yang timbul. Selanjutnya, teruskan aktivitas anda: fokuslah kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta berbagi kasih yang adillah dengan sesama selama menekuni pendidikan mau pun pekerjaan. Simaklah, Kiat menjadi pribadi yang selalu ikhlas.

Salam, Curiga berawal dari,
mempersoalkan terencana tidaknya
suatu peristiwa yang diduga-duga.
Ikhlaskanlah semua,
agar hati selalu tenang dan damai
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.