Kepribadian

Inti Cobaan Hidup – Masalah Yang Terus-Menerus Menguji Kita

Inti Cobaan Hidup – Hal Yang Terus-Menerus Menguji Kita

Kita tidak perlu menyaksikan mukjizat karena pengetahuan adalah awal keajaiban

Tuhan adalah Allah yang paling bijaksana dalam segala pekerjaan tangannya. Mulai dari hal-hal kecil sampai besar menyatakan kemuliaan dan kebesaran kuasa-Nya. Kita tidak harus melihat keajaiban “laut terbelah untuk diseberangi” sebab sudah ada kapal kecil sampai besar yang dapat mengantarkan ke seberang lautan. Tidak perlu menyaksikan kekuatan “tiang awan” sebab awan sering sekali menutupi teriknya matahari dalam beberapa bulan belakangan ini. Juga tidak perlu melihat muzizat “tiang api” sebab listrik senantiasa menerangi malam, kapan pun anda membutuhkannya, tinggal tekan. Demikian pula, kita tidak harus melihat berbagai “muzizat kesembuhan” yang langsung dilakukan Yesus Kristus sebab dengan minum air (sedikit-sedikit tapi tekun), mengonsumsi garam (air garam manis isotonik) dan menelan ludah sendiri segala penyakit disembuhkan.

Justru tanpa Sang Pencipta, kita tidak ada artinya tetapi bersama kebenaran-Nya hidup lebih bermakna

Kita berada di zaman yang dahsyat dimana ilmu pengetahuan telah menjawab berbagai mukjizat yang dahulu pernah terjadi. Artinya, mukjizat yang terjadi pada zaman dahulu adalah gambaran dari kehidupan umat manusia di masa mendatang. Jadi, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk meragukan keberadaan Tuhan sebab segala sesuatu yang dapat kita amati, cicipi dan telaah merupakan kepunyaan Tuhan semata. Jangan murtad dengan menjadi ateis sebab tanpa Sang Khalik yang menjaga hati, kehidupan kita terancam dipenuhi dengan perbuatan daging. Juga tanpa Allah, kedamaian, kebahagiaan dan ketenteraman hatia hilang-timbul karena pengaruh hal-hal duniawi (materi – kemuliaan) yang jumlahnya terbatas, tidak selalu ada dan fluktuatif. Tetapi di dalam Tuhan, hati bisa selalu menemukan ketenangan di dalam-Nya lewat doa, firman dan nyanyian pujian untuk kemuliaan nama-Nya.

Manusia diciptakan di wilayah iblis yang syarat kejahatan

Allah yang kita cintai maha bijaksana. Ia membentuk manusia sejak semula dari kefanaan yang syarat dengan godaan iblis. Tepatnya, Ia menciptakan kita di bawah kekuasaan iblis sehingga iblis yang adalah kedagingan ini mencobai masing-masing orang. Semuanya itu semata-mata untuk membuktikan siapakah orang yang benar-benar terpaut hatinya kepada Allah dan siapa juga yang memberi dirinya menjadi hamba bagi ilah-ilah dunia ini. Orang yang menjadi hamba bagi ilah-ilah duniawi menundukkan dirinya di bawah kekuasaan materi dan kemuliaan. Mereka akan berjuang mati-matian sampai menghalalkan segala cara untuk mencapai puncak kehidupan sekali pun dengan mengorbankan orang lain dan lingkungan sekitar. Terjebak dalam arogansi, iri hati dan ketakutannya sendiri sehingga berkepribadian labil yang cenderung jauh dari nilai benar yang  sejati (walau dari luarnya tampak benar).

Kunci cobaan hidup manusia – hal yang terus-menerus menguji kita

Inilah tiga inti dari cobaan hidup yang kita alami dari waktu ke waktu, yaitu kesombongan, kedengkian dan ketakutan. Manusia yang memiliki kelebihan/ potensi dicobai oleh arogansinya, apakah membanggakan dirinya atas semua itu? Kita dikuasai oleh iri hati sehingga tidak tenang menginginkan banyak hal setelah melihatnya dari orang lain, lingkungan sekitar dan media yang berseliweran (televisi, radio, koran, media sosial dan konten internet lainnya). Manusia diuji oleh ketakutannya sendiri sebab dalam kekuatiran tidak ada damai karena hati mereka-rekakan hal yang belum tentu terjadi. Tiga hal ini senantiasa mengguncang, menjatuhkan dan mengasah kepribadian kita dalam berbagai bentuk dan lewat berbagai sisi kehidupan. Setiap orang memiliki sifat-sifat tersebut di dalam dirinya, itulah yang namanya perbuatan daging melekat erat sejak dari mulanya kita dilahirkan. Tetapi, mereka yang hatinya tertuju kepada Tuhan akan dimampukan untuk mengantisipasi semua sifat buruk tersebut.

Atasi arogansi dengan menyadari asal muasal kita

Saat menjalani hidup di dunia ini, lalu ada sesuatu yang membuat kita berbangga hati. Ketahuilah bahwa itu adalah ciri khas kesombongan yang bisa menginjeksi harga diri sehingga menganggap bahwa keberadaan kita lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Bahkan makhluk hidup lain pun (hewan dan tumbuhan) mencoba menghasut bahwa diri ini lebih hebat dari sesama. Menjadikan kebanggaan sebagai suatu kesenangan adalah awal kerapuhan hidup. Padahal semuanya itu hanya sesaat saja hingga semuanya berlalu tanpa bekas. Suatu rasa yang membuat kita cenderung menjadi agresif kotor ketika ada cobaan yang menghimpit hidup. Bahkan sifat angkuh ini pun beresiko tinggi memiskinkan kebaikan hati yang dimiliki. Kita harus menepis sikap tinggi hati dengan menyangkal diri lalu merendahkan hati dihadapan Tuhan. Menyadari betul asal kita sejak dari semula, yaitu debu tanah yang tidak ada artinya. Oleh karena nafas hidup yang dianugerahkan Tuhan, kita menjadi seperti sekarang ini. Oleh karena itu, tujukan hati hanya kepada-Nya dan layanilah sesama sambil merendahkan diri dimulai dari hal-hal kecil di dalam keluarga (misal ramah, bersih-bersih, rapi-rapi dan lainnya).

Orang yang sombong menganggap diri layaknya tuhan yang harus terus-menerus dilayani oleh kenikmatan materi dan dimuliakan oleh sesama. Tetapi orang yang rendah hati fokus kepada Allah dan merendahkan diri untuk melayani sesama dengan tulus.

Atasi iri hati dengan mengakui kelebihan orang

Iri hati selalu nyata di dalam pikiran. Tepatnya dalam otak kami pun hal tersebut selalu menggema, ingin menjadi seperti orang lain yang hidupnya lebih baik dan susah melihat orang yang hari-harinya lebih baik. Suatu rasa yang lebih banyak membuat kita sulit menjalin kasih persaudaraan sebab kedengkian teramat banyak menjadi pemecah kebersamaan. Iri hati bersama dengan kesombongan adalah teman sejoli yang membuat situasi di dalam masyarakat semakin semeraut, penuh jebakan tipu-tipu. Tidak ada yang tulus, tidak ada yang benar-benar berbuat baik melainkan masing-masing bersaing ingin menjatuhkan lawannya. Rasa dengki ini jugalah yang membuat hawa nafsu semakin menjadi-jadi karena menginginkan apa saja yang diamatinya sekali pun dengan melegalkan segala cara. Kita perlu menepisnya dengan sikap hidup yang menyetarakan diri dengan sesama dan memberi pengakuan terhadap keunggulan lawan dari hati yang paling dalam.

Terus memendam rasa dengki membebani hati saja. Lebih baik akuilah bahwa dia memang sudah lebih baik, berikan pujian yang wajar dan lanjutkan aktivitas positif untuk membuat hati tenteram.

Atasi kekuatiran dan ketakutan dengan bersandar kepada Tuhan dan ramah kepada siapa pun

Ujian selanjutnya yang terus-menerus menerpa kita adalah kekuatiran dan ketakutan. Kita takut oleh hal-hal yang diserap oleh panca indra karena (gangguan indra/ gangguan sosial) mungkin saja itu terlalu besar dan tinggi sehingga menimbulkan gemetaran. Kita gentar menghadapi orang-orang yang suka menguji diri ini sehingga ciut nyali menghindar sana-sini. Manusia kuatir akan masa depan, bagaimana kehidupannya di waktu yang akan datang yang penuh dengan ketidakpastian. Hati semakin cemas tatkala kita mendengar berbagai informasi di media tentang ini dan itu yang “secara tidak langsung menakut-nakuti diri ini.” Alam sekitar kita pun (hewan dan tumbuhan) secara spontanitas kadang-kadang menimbulkan ketakutan. Sadarilah bahwa kita hanya pantas takut terhadap kebenaran Tuhan dan aturan negara. Kegentaran kita terhadap sesama manusia muncul karena rasa bersalah dan permusuhan. Oleh karena itu, bersikap benarlah dan akrab kepada siapa pun termasuk terhadap musang berbulu domba itu. Lebih daripada itu, pasrahkanlah kehidupan hanya kepada Tuhan saja dalam doa, firman dan nyanyian pujian serta dalam setiap tindakan kita yang mengasihi sesama dalam pekerjaan dan pendidikan yang ditempuh.

Kesimpulan

Inti dari cobaan hidup yang kita alami dari waktu ke waktu adalah kesombongan, iri hati dan ketakutan/ kekuatiran. Tiga hal inilah yang akan selalu mewarnai hati sehingga perbuatan daging yang buruk-buruk itu pun muncul secara diam-diam bahkan menguasai diri ini. Jika rasa sombong dan dengki menguasai hidup maka tipu muslihat, kekerasan (verbal dan fisik), keserakahan dan kejahatan lainnya akan mengiringi langkah kaki. Sedang saat ketakutan/ kecemasam menguasai diri ini maka akan timbullah berbagai tindakan lebay yang sesungguhnya tidak diperlukan selama nafas berhembus. Pada hakekatnya, semua ujian tersebut menggiring kita untuk semakin konsumtif terhadap kenikmatan materi dan kemuliaan duniawi. Orang yang cinta terhadap hal-hal duniawi mustahil bisa mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Sedang mereka yang mencintai kebenaran dengan sepenuh hati senantiasa fokus kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian. Serta berbagi kasih yang adil kepada sesama di sela-sela pelajaran dan pekerjaan yang digeluti. Simak kawan, Sikap menjalani ujian sosial.

Salam, Ujian hidup berujung baik,
Asalkan dilalui dengan kebenaran yang tegak
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.