Ekonomi

+10 Alasan Hiu Menyerang Manusia, Mungkinkah Ikan Membunuh & Memangsa Manusia?

Alasan Hiu Menyerang Manusia, Mungkinkah Ikan Membunuh & Memangsa Manusia

Alam adalah ilmu pengetahuan bersama anugerah Tuhan

Tuhan yang kita sembah puji sungguh luar biasa. Ia meletakkan segala sesuatu secara terstruktur sesuai dengan tempatnya. Dengan mempelajari karya-Nya, kita beroleh ilmu pengetahuan yang baik untuk mencerdaskan kehidupan. Semua itu berisi petunjuk tentang rahasia kehidupan agar keberadaan umat manusia lestari, damai dan sejahtera sampai Tuhan Yesus Kristus datang untuk kedua kalinya sebagai hakim atas kita. Oleh karena itu, kita patut bersyukur akan keindahan karya Allah di seluruh semesta pada umumnya dan secara khusus di bumi ini. Dengan belajar memperhatikan dan menyimak segala gejolak alamiah yang telah lama, sedang dan akan terus terjadi dari waktu ke waktu, kita beroleh wawasan untuk memperbaiki kehidupan semakin sejalan dengan tujuan Tuhan.

Mengapa manusia suka memfitnah ciptaan Allah?

Sayang, ada oknum tertentu di luar sana yang mencoba untuk memungkiri kenyataan dengan memanipulasi informasi demi kepentingan sempit. Untuk apakah mereka memfitnah ciptaan lainnya? Terserah apa pun tujuan mereka tetapi kita, marilah berpikir positif saja tentang perilaku tersebut. Anggap saja itu hanyalah rupa-ruppa sandiwara untuk membuat diri tetap sibuk. Demikianlah manusia harus tetap aktif di dunia ini untuk kemuliaan nama Tuhan. Akan tetapi, jalan yang kita tempuh akan semakin berat dan penuh tipu muslihat bila ingim mencari kemuliaan bagi diri sendiri atau kelompok masing-masing. Mungkin itu jugalah yang menjadi alasan bagi segelintir orang untuk memfitnah ikan sebagai musuh manusia. Tetapi bisa juga terjadi demi menjauhkan orang dari lautan yang adalah pusat garam obat ajaib sedunia.

Sebaran informasi manipulatif membuat masyarakat lebih hati-hati

Ceritanya akan semakin rumit jikalau kita berbicara tentang konspirasi ini-itu. Sebab memang kekuatan oknum kapitalis dalam melancarkan jurus-jurusnya amatlah jitu. Tetapi khususnya kami mesti bersyukur karena hal tersebut. Lewat pernyataan miring ikan membunuh manusia, kami pun bisa menulis sesuatu untuk mengulasnya. Mungkin di sinilah kita bisa memahami bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang terlalu jahat sehingga tidak memberikan manfaat positif sedikit pun. Dari konspirasi informasi yang disebar oleh oknum pemodal besar justru membuat kita menjadi semakin selektif dan kritis menilai berbagai suara media. Artinya, kita harus memahami betul bahwa ada kebaikan dan keburukan yang dibawa oleh arus informasi yang bersangkutan. Ambillah yang baiknya dan tendang yang buruknya ke lubang sampah.

Jalan-jalan ke situs lain, kami dapat beberapa tentang hewan yang digembar-gemborkan ganas tersebut

Beberapa informasi yang sempat kami dapatkan dari internet “apakah hiu menyerang manusia?” Ini pun mengandung dualisme sehingga kita sebagai pembaca jangan meyakininya seluruhnya. Berikut informasi selengkapnya.

  • Ada 440 jenis hiu dengan 3 kelompok besar yang dirasa menyerang manusia. Di antaranya adalah The Great White Shark, The Tiger Shark, dan The Bull Shark. Peluang hiu membunuh manusia sangat kecil. Perbandingannya adalah 1 : 300 juta kejadian.
  • Andai dibuat suatu perbandingan antara manusia yang memburu hiu atau hiu yang memangsa manusia, hasilnya sangat kontras. Menurut data tercatat hanya 9 korban dari keganasan hewan laut tersebut selama sepuluh tahun berturut-turut. Itu berarti kurang lebih hanya satu korban manusia setiap tahunnya. Berbanding terbaik dengan perilaku manusia yang memburu lebih dari 100 juta ekor setiap tahunnya untuk makanan santapan kelas wahid.
  • Di benak kita selama ini, hiu selalu diproyeksikan sebagai sesuatu yang berbau horor dan teror. Sejak jaman dahulu kala, telah dianggap sebagai spesies yang istimewa. Mitos tentang hewan ini sangat menonjol dalam mitologi Hawaii. Pada saat itu, hiu disebut sebagai Aumakua atau penguasa samudera. Mitos hiu sebagai pemakan manusia dan pembunuh yang agresif juga ternyata masih melekat di mata masyarakat hingga kini dan menjadi stigma yang membelenggu.

Faktor penyebab hewan laut tidak memakan manusia

Fakta ini memang sangat menggelitik hati, bagaimana mungkin binatang yang hidupnya makmur bisa menjadi terlalu serakah hingga memangsa sesuatu yang melebihi isi perutnya? Tetapi, begitulah sifat manusia saat berusaha melindungi sesuatu yang menurutnya dan menurut kelompoknya sangat berharga. Semua fitnah ini semata-mata demi memperoleh keajaiban hidup untuk diri sendiri sehingga sesuatu yang dari awal sebagai anugerah Tuhan yang gratis bisa diperdagangkan. Berikut akan kami jelaskan alasan bahwa mustahil ikan memakan manusia.

  1. Semua makanan adalah garam dan semua garam adalah makanan.

    Tahukah anda bahwa semua makanan yang kita konsumsi bisa menjadi enak – lezat karena pengaruh garam? Bahkan bisa kami katakan bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu di bumi ini yang tidak memerlukan sodium. Mulai dari tumbuhan, hewan hingga manusia sangatlah membutuhkan mineral ajaib tersebut. Bahkan bisa dikatakan bahwa tanpanya, hidup setiap makhluk berada di ujung tanduk.

    Natrium adalah mineral penyambung hidup yang membuat setiap makhluk tetap awet lestari hingga waktu yang tidak ditentukan. Asalkan takarannya tepat maka mineral tersebut akan menjadi faktor penting pendukung kesehatan seluruh makhluk, termasuk kesehatan seluruh jenis ikan.

    Mampu hidup dan berkembang biak di dalam garam adalah suatu keberuntungan yang membuat makhluk di dalamnya makmur sepanjang masa. Mereka berada di wilayah paling kaya nutrisi, sebab sodium adalah mineral penyusun segala jenis makanan. Jadi, makanan apa pun yang membusuk akan di mineralisasi sehingga berubah wujud menjadi garam. Sedang makhluk bumi akan kembali menyusun unsur penyambung hidup tersebut menjadi senyawa yang lebih kompleks, di antaranya karbohidrat, lemak dan protein. Bahan-bahan inilah yang akan menjadi penyusun berbagai jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

  2. Adaptasi makhluk laut yang hidup berdampingan.

    perlu diketahui bahwa di lautan ada makhluk yang secara alamiah hidup berdampingan. Yang terjadi di antara mereka adalah sifat bersosial yang tinggi akibat populasi yang melimpah-ruah. Semua potensi yang ada di sana sangat memungkinkan untuk tumbuh kembangnya beragam spesies dalam satu komunitas terumbu karang yang indah adanya. Kekuatan sosialisasi ini muncul akibat padatnya populasi di tengah makanan yang melimpah ruah dan tak akan pernah habis.

    Pernahkah anda menyaksikan kartun Spongebob Squarepant? Dahulu kami tidak menangkap sinyal positif yang disampaikan oleh acara televisi yang cukup menghibur ini. Akan tetapi, barulah belakangan ini kami memahami bahwa sesungguhnya di dalam lautan memang benar ada komunitas yang hidup dengan damai. Mereka saling beradaptasi satu sama lain semata-mata untuk menonjolkan solidaritas antar sesama ikan sekali pun tidak saling memahami satu-sama lain.

    Kemakmuran lautan membuat setiap makhluk yang ada di dalamnya semakin dekat satu-sama lain sehingga mustahil ada aksi saling menggigit. Adaptasi yang mereka kembangkan sangatlah baik, silahkan saksikan sendiri beragam ikan yang hidup di antara terumbu karang. Atau mungkin di sekitar anda terdapat aquarium raksasa dimana segala jenis ikan ada di dalamnya. Bukankah hidup bermasyarakat semacam ini sangatlah menjanjikan bahwa tidak ada aksi saling makan (predatorisme) di tengah kekayaan lautan?

  3. Populasi yang jarang menciptakan mental psikopat diam-diam merusak.

    Makhluk laut tidak jauh berbeda dari manusia dan hewan lainnya. Saat kita lebih suka mencari kenyamanan sendiri dengan menyendiri di rumah-rumah mewah kelas wahid, niscaya mentalnya lebih labil menghadapi kemelut kecil kehidupan. Keadaan ini jugalah yang terjadi saat ikan di lautan populasinya turun drastis akibat perburuan paling serakah yang menangkapi makhluk mungil sampai besar tanpa pandang bulu. Memanen berkah lautan dengan menggunakan pukat harimau jelas membuat makhluk kecil yang masih bayi turut tercekik. Mengebom laut untuk beroleh banyak tangkapan dengan cepat turut pula memusnahkan anakan yang menjadi bakal ikan gede kelak. Oleh karena itu, hilangkan budaya instan yang tamak mengelola sumber daya yang ada sebab hal tersebut memiskinkan populasi ikan yang membuatnya bermental psikopat, diam-diam berani menggigit.

  4. Semakin besar ikan makin arogan sehingga mudah terganggu dan mungkin saja melakukan serangan.

    Makhluk air asin ini mirip-mirip dengan manusia yang ssat kekayaannya besar dan jabatannya tinggi menjadi berbangga hati. Kesombongan seolah membuat seseorang merasa hebat sehingga tidak masalah baginya untuk berlaku kejam/ jahat terhadap sesama. Saat hewan berukuran sangat besar diperhadapkan dengan situasi lingkungan sekitar yang seolah-olah mengusik keberadaannya maka bisa langsung saja ditanggapi dengan agresif. Sekali pun demikian, itu hanya terjadi saat gangguan tersebut terjadi di sekelilingnya. Harap diingat bahwa jarak pandang ikan di laut lebih buruk akibat molekul air yang membatasi pantulan cahaya yang membuat mata bisa melihat.

    Manusia kaya raya menganggarkan dirinya dan kehebatannya saat ada masalah langsung menanggapinya dengan menginstruksikan orang lain untuk melakukan aksi balas dendam. Demikianlah juga hiu yang berukuran besar (ukurannya harus berkali lipat dari tinggi manusia itu sendiri) rasa arogansinya tinggi sehingga bisa saja melakukan serangan mendadak untuk mempertahankan egonya. Tetapi ini hanyalah serangan yang kebetulan saja dan bukan untuk tujuan memakan manusia.

    Pada dasarnya, mustahil ikan berukuran kecil (seukuran manusia itu sendiri) memiliki nyali untuk menyerang manusia. Sebab dalam dunia perbinatangan ukuran lawan sangat menentukan agresifitas hewan. Jika makhluk laut tersebut ukurannya masih sama dengan besar manusia pasti ada keenggananan untuk menyerang. Hewan yang seukuran manusia lebih banyak takut terhadap kita (manusia) atau setidak-tidaknya segan untuk menyerang atas dasar alasan apa pun. Hanya hewan yang ukurannya lebih besar dimana arogansinya juga lebih tinggi hingga mempunyai nyali gede untuk melakukan serangan tiba-tiba tetapi bukan untuk memakan kita melainkan hanya karena dirinya terganggu.

  5. Ikan yang mengalami soliterisasi (penyendirian/ individualisasi).

    Kemungkinan serangan binatang buas terhadap manusia adalah nihil sebab sehebat-hebatnya binatang tidak pernah memburu makhluk yang lebih besar atau lebih tinggi dari ukuran badannya. Sebab semakin kecil hewan semakin tinggi pula rasa takut di dalam dirinya. Ketakutan ini bisa saja diiringi dengan sikap agresif yang cenderung menjauhi gangguan yang terjadi.

    Agresifitas makhluk laut bisa saja muncul akibat individualisasi oleh oknum tertentu sehingga lebih ganas dari yang lainnya. Ini sama halnya seperti yang terjadi pada ikan laga yang dijual satu setiap botolnya. Mereka dipisah-pisah supaya menjadi pribadi yang egois. Menganggap dirinya sebagai raja botol kacanya sendiri. Saat berhadapan dengan kehadiran ikan lain, bisa jadi sifat egois menjadi bengis dengan melakukan serangan agresif untuk mempertahankan kerajaan kecilnya tidak ditempati oleh yang lainnya.

    Minimnya makhluk hidup di dalam lautan, bisa jadi berdampak pada mental ikan yang cenderung menjadi penyendiri. Bukankah semuanya ini terjadi oleh karena sikap kita yang serakah menangkapi bayi-bayi mungil putih yang masih kecil untuk dikeringkan dan dijadikan teri? [Bahaya menangkap hewan kecil] Akibatnya, hewan laut menjadi lebih jarang karena miskin populasi. Dengan hidup sendiri-sendirinya makhluk laut, terbentuklah mental psikopat yang anti sosial. Saat makhluk yang antisosial tersebut terpapar dengan gangguan atau kehadiran makhluk lainnya niscaya akan ada serangan gigit-menggigit dan kejar mengejar. Hiu penyendiri yang psikopat kemungkinan akan menyerang manusia yang dirasanya menjadi pengganggu. Sekali pun demikian ukurannya haruslah sangat besar sehingga nyalinya cukup besar untuk melakukan serangan.

  6. Terkejut yang diiringi dengan amarah.

    Hewan juga seperti halnya manusia yang bisa terkejut lalu menanggapi hal tersebut dengan amarah dan langsung menyerang. Seperti yang kami katakan sebelumnya bahwa ukuran sangat menentukan agresifitas suatu makhluk hidup. Adalah mustahil jika ikan yang berukuran lebih kecil atau sama besarnya seperti manusia marahnya sampai menggigit, paling juga melarikan diri. wkwkwkkkkk…..

    Semakin besar ukuran hewan maka semakin tinggi pula arogansinya sehingga saat di sekitarnya terjadi sesuatu yang mencolok, nyalinya cukup besar untuk melakukan serangan. Terlebih saat gangguan tersebut tepat berada dihadapannya, pastilah langsung ditanggapi dengan menamparnya lewat tangan bergigi tajam.

    Ini sama halnya dengan kita, manusia yang cenderung menepuk atau menampar serangga yang lewat di sekitar tepatnya di depan mata ini. Akan tetapi, bila hal tersebut cukup jauh, pasti nggak dipikirin (cenderung diabaikan). Mungkin itu jugalah yang terjadi kepada nabi Yunus ketika dibuang ke laut, ia tepat jatuh dihadapan ikan yang ukurannya sangat besar. Akibatnya, makhluk tersebut menganggapnya sebagai serangga pengganggu yang pantas ditampeleng selama beberapa hari. Tentu saja hal ini berhubungan langsung dengan Titah Allah.

  7. Penciuman ikan buruk di lautan.

    Pernahkah anda mendengar nelayan menjerat makhluk laut dengan diracun? Ya, cara tangkapan jahat semacam ini, mungkin bisa saja dilakukan terhadap ikan air tawar namun hal tersebut tidak berlaku di laut lepas. Sebab lautan adalah wahana demineralisasi segala bentuk senyawa kompleks menjadi garam. Penggaraman juga terjadi terhadap bahan-bahan buangan manusia dimana semuanya akan dijadikan mineral sedang sejumlah gas metana akan dilepaskan ke udara.

    Hidung ikan telah terbiasa dengan air laut kaya garam yang sifatnya netral. Senyawa apa pun yang kita lemparkan ke dalam lautan, lama-kelamaan pasti akan dinetralisasi oleh natrium yang adalah buffer alamiah. Jadi, apa pun bau-bauan yang terdapat di kedalaman pastilah akan terlebih dahulu dicerna sehingga mustahil mencapai hidung ikan yang jaraknya berkilo-kilo meter.

    Udara di sekitar kita bisa saja memancarkan bau yang semerbak berkilo-kilo meter jauhnya sebab udara dapat mempertahankan senyawa wewangian tersebut tetap utuh selama beberapa waktu.  Sedangkan di air asin, mustahil keadaan ini bisa terjadi karena senyawa yang membawa bau tidak mungkin menyebar ke segala arah (seperti halnya saat kita menggunakan parfum). Satu-satunya yang membawa bau tersebut adalah arus air, proses transportasinya pun cenderung pendek sebab sempat dicerna oleh garam diperjalanan. Jadi, ikan hiu yang mampu mencium bau darah sejauh lima kilometer adalah suatu kebohongan (hoax).

  8. Ikan tidak memakan bangkai.

    Pernah pula kami dengar bahwa dikatakan ikan memakan bangkai. Ini jelas sebagai sebuah persepsi yang kurang tepat sebab makanan makhluk laut yang asi adalah garam itu sendiri yang rasanya terkesan asin. Rasa bangkai di mulutnya justru lebih buruk lagi sehingga mustahil dijadikan pemicu nafsu makan. Lagipula bagaimana hewan tersebut bisa mengonsumsi bangkai yang tenggelam di dasar lautan sedangkan di sana tidak ada kehidupan karena kurangnya oksigen tersaturasi.

  9. Semakin besar ikan makin lambat, mustahil bisa mengejar yang kecil.

    Kekuatan hewan besar memang terletak pada gigi dan badannya yang terlihat raksasa. Akan tatapi, hal tersebut juga sekaligus sebagai suatu kelemahan baginya sebab semakin besar ukuran maka semakin besar gaya gravitasi yang berlaku terhadapnya. Ukuran tubuh yang besar membuatnya berat sehingga cenderung mengalami keterlambatan saat ingin mengejar ikan kecil yang biasanya lebih gesit dan lincah berenang. Gerakan yang lebih lambat di lautan membuat makhluk ini tidak dimungkinkan untuk menjadi pemangsa ikan kecil.

  10. Gigi ikan tidak berkembang (hanya satu jenis saja).

    Karena berada di tengah kekayaan obat segala jenis penyakit, kesehatan dan pertumbuhan gigi ikan sangat baik. Kekuatan giginya pun luar biasa dan tidak pernah membusuk (seperti halnya manusia) karena bantuan garam. Perhatikanlah gigi makhluk lautan bukankah semuanya mirip-mirip satu sama lain dimana yang dimilikinya adalah semuanya taring. Perkembangan kemampuan gigi yang sangat terbatas menunjukkan bahwa makhluk tersebut tidak mengunyah sesuatu. Fungsinya hanya untuk mencabik namun tidak bisa dikunyah seperti halnya predator daratan (misal singa, harimau). Fungsi gigi makhluk ini lebih kepada aksesoris belaka dan tidak ditujukan untuk menyerang sesuatu secara bertubi-tubi.

  11. Sekali pun menggigit, mustahil bisa mencabik hingga tertelan.

    Kita hanya berandai-andai saja. Katakanlah makhluk laut saling makan dimana makhluk yang lebih besar menyerang dan membunuh mangsanya dengan bengis. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara makhluk tersebut mengonsumsi makanan yang berukuran besar sampai habis? Saat dirinya melakukan cabikan demi cabikan pastilah arah jatuh mangsanya akan ke bawah. Sekali pun ikan mampu mondar-mandir mencabiknya selama beberapa kali namun arah jatuh mangsa tetaplah semakin dalam. Padahal kemampuan ikan untuk melihat ke bawah cukup buruk lagi pula di dasar laut tidak ada oksigen dan semakin gelap.

  12. Bagaimana mungkin memakan sesuatu yang lebih besar dari ukuran perutnya?

    Ukuran manusia cukup besar dibandingkan dengan ukuran perut hiu terbesar sekali pun. Jadi, hewan tersebut kemungkinan besar tidak akan berselera dengan daging manusia. Satu-satunya yang membuatnya berselera adalah mengonsumsi garam sehingga ukuran badannya semakin bertambah-tambah besar saja. Harap diingat bahwa hewan tidaklah seperti manusia yang tamak karena menginginkan hal-hal yang lebih besar dari dirinya sendiri.

  13. Mungkinkah memakan sesuatu bulat-bulat tanpa dengan kerongkongan kecil?

    Sebesar-besarnya manusia, kita tidak pernah mengonsumsi makanan segede tinju hanya dalam sekali telan. Tentulah harus didahului oleh proses mengunyah. Sedang ikan tidak bisa mengunyah karena giginya pedang semua (taring). Lantas mustahil dia bisa mengunyah walau pun berhasil membunuh satu ikan besar. Sedang kerongkongannya cukup kecil untuk dimasukkan daging besar. Semua pemahaman logis ini membuat kita semakin yakin bahwa hewan laut memang tidak memakan daging layaknya hewan darat. Bahkan sangat dimungkinkan bahwa di sana pun tidak terdapat aksi predatorisme. Sekali pun ada saling melukai, itu karena temperamen buruk karena sifat yang egois dan arogan.

  14. Hiu kapasitas otaknya kecil dan mustahil melakukan serangan yang terencana.

    Adalah cerita fantasi belaka ketika insan pertelevisian mulai mendengungkan kisah yang lebih bombastis tentang keberadaan hiu yang menyerang manusia. Sutradaranya dan seluruh tim pembuat film tersebut adalah sama seperti kami, yaitu menginginkan uang untuk bisa menjalani hidup. Manipulasi adalah hal yang biasa dalam pembuatan film dimana salah satunya terlihat jelas dalam pembuatan film ini. Seolah-olah kisah tentang hiu menyerang manusia sangat terencana. Ikan ini tidak bisa melakukan perencanaan karena rasio otak dan tubuhnya sangatlah kecil. Ingatlah bahwa semuanya ini dilakukan demi uang, coba pemerintah menyediakan lahan mencari uang yang tidak syarat tipu-tipu…. Tetapi, bagaimana pemerinah bisa menjalankan pemerintahan yang benar sedang mereka sendiri bersandiwara melakukan hal yang serupa?

  15. Hiu menyerang manusia adalah mitos.

    Seperti yang kami dapat dari salah satu blog (wwf.com) yang mengatakan bahwa hiu adalah hewan mitos penguasa samudera. Insan perfileman memang banyak terinspirasi oleh kisah-kisah tersebut sebab penuh dengan tahayul yang lebih seru menantang imajinasi. Informasi ini pun telah banyak dimanipulasi sehingga menghasilkan rentetan cerita yang terkesan eksentrik walau lebay. Semuanya ini demi uang untuk mengejar materi yang lebih tinggi dan banyak dibandingkan sesama.

  16. CGI : edit gambar-video tingkat profesional.

    Teknologi CGI (Computer Graphic Image) adalah sangat digemari oleh pembuat berita sebab bisa membuat berbagai-bagai hal yang tidak real (nyata) menjadi kenyataan di dalam sebuah film. Ikan menyerang manusia bisa saja hanya sebuah benda yang dicitrakan seolah-oleh sebagai ikan hiu. Saat sesuatu itu bergerak maka kamera menangkapnya sebagai hiu asli bergigi tajam. Padahal semuanya hanyalah manipulasi. Dikatakan juga bahwa teknologi CGI inilah yang mampu menggambarkan foto bumi secara keseluruhan walau pun salah (bumi bewarna biru). Sebab pada dasarnya, orang dari luar angkasa akan melihat bumi sebagai planet putih/ kuning keabu-abuan sama halnya seperti bulan yang kita lihat di malam hari.

  17. Laporan palsu: terbanting di terumbu karang tetapi dikatakan digigit oleh hiu.

    Ada pemberitaan di beberapa media bahwa hiu telah tercium sedang menyerang para peselancar sehingga mereka terluka. Mungkin saja luka yang mereka peroleh adalah hasil bantingan ombak yang membuat badannya menyentuh dasar laut. Sedang di bawah sana terdapat karang dan koral yang keras agak tajam sehingga membuat kulitnya tercabik. Lantas hal tersebut dianggap sebagai serangan ikan ganas. Lagi-lagi, berita hoax semacam ini hanyalah alat untuk membiaskan informasi yang benar.

  18. Hampir semua orang (terutama orang kreatif) mencari uang dengan bersandiwara, pemerintah harus memfasilitasi.

    Segala bentuk seni yang dibangga-banggakan oleh umat manusia adalah hoax. Semua itu hanyalah manipulasi kata-kata, gambar dan video. Semakin kreatif seseorang maka makin kilat juga kemampuannya untuk menggabung-gabungkan banyak hal sehingga jadilah karya yang cukup menarik. Sadarilah bahwa semuanya itu hanyalah hasil dari imajinasi belaka sedang kenyataannya sungguh jauh berbeda. Akan tetapi, bila aktivitas berkarya semacam ini dilarang, apa yang menjadi kegiatan orang kreatif? Oleh karena itu, ada baiknya jika orang-orang ini diberikan hak yang sama untuk mengelola bakatnya menghasilkan karya seni. Lagi pula bukankah itu cukup menghibur khalayak? Di atas semuanya itu perlu ada yang namanya “kesetaraan antar penipu.” Artinya, semua dibayar pemerintah dengan adil dan tidak bertujuan untuk memanipulasi sesama melainkan hanya sekedar mencari kesibukan positif lewat hobi sembari mencari nafkah.

  19. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Sadar atau tidak, ikan di lautan hidup sejahtera bersama dengan kayanya kandungan garam yang adalah energi bagi seluruh makhluk hidup di bumi. Hiu yang menyerang manusia hanyalah kisah fiksi yang secara realitas tidak sedemikian bengisnya. Daripada mengonsumsi daging manusia yang nyatanya tidak muat dalam kerongkongannya yang kecil lebih baik baginya meminum air samudra sedikit demi sedikit. Lagi pula kedamaian di lautan tampak jelas saat kita memiliki kesempatan untuk mengunjungi komunitas terumbu karang di air tenang. Anda akan menemukan bahwa di sana terdapat beragam jenis ikan yang hidup rukun tanpa ada yang saling makan satu sama lain. Mungkin dahulu kami pun pernah menganggap bahwa aksi predatorisme juga berlangsung di dalam samudera. Akan tetapi, bersamaan dengan tulisan kami ini, yakin betul bahwa aktivitas memangsa dan dimangsa adalah sesuatu yang langka di sana.

Salam, Manusia memang anak iblis,
tukang tipu seumur hidupnya.
Berlakukan keadilan sosial,
agar penipuannya tidak liar
menjebak sesama dalam
persepsi yang salah
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.