Konflik Batin

+10 Manusia Penipu Ulung Sejak Dari Mulanya, Mengapa Demikian?

Alasan Manusia Penipu Ulung Sejak Dari Mulanya, Mengapa Demikian

Allah adalah sumber dari segala aktivitas di seluruh jagad raya

Memang benar bahwa manusia diciptakan oleh Allah lewat nafas-Nya yang langsung dihembuskan ke dalam hidung Adam dan Hawa. Mereka spesial karena memperoleh langsung nafas hidup tersebut dari Sang Pencipta. Kita pun spesial karena merupakan keturunan yang ke sekian yang juga memiliki nafas hidup tersebut. Tetapi, hendaknya kita tidak menyombongkan diri dengan ketegasan Sang Khalik yang langsung menitipkan kehidupan itu kepada moyang awal manusia. Sebab pada hakekatnya, masing-masing bagian di seluruh alam semesta telah beroleh nafas hidup tersebut dimana keluar dari mulut Allah pada saat bertutur mengucapkan firman menciptakan langit dan bumi beserta seluruh komponen yang ada di dalamnya dari yang terkecil sampai yang terbesar.

Manusia ciptaan paling lemah tetapi bersama-sama ciptaan lainnya, kita sempurna

Kita bukanlah yang terkuat di alam semesta karena tidak diciptakan di hari pertama. Bukan yang terhebat karena tidak diciptakan di hari ke dua, bukan yang terdahsyat karena tidak diciptakan di hari ke tiga, bukan yang terkeras karena tidak diciptakan di hari ke empat. Juga bukan yang paling diunggulkan sebab tidak diciptakan di hari ke lima. Melainkan kitalah si bungsu yang paling lemah, diciptakan di hari terakhir namun diberi kebebasan untuk berkuasa di bumi. Jadi, tidak ada satu pun dari kemanusiaan ini yang pantas kita  banggakan sebab di antara seluruh ciptaan, kitalah pribadi yang kurang di sana-sini. Tetapi, lewat pengetahuan benar yang dimiliki, kita bisa memanajemen seluruh elemen kehidupan yang terdapat di sekitar sehingga kehidupan menjadi sempurna adanya. Jadi, kesempurnaan itu tidak diperoleh saat kita sendiri-sendiri melainkan saat hidup bersama-sama dengan ciptaan lainnya.

Kelebihan kita adalah menjadi peniru terbaik

Jika matahari dilebihkan Tuhan lewat cahaya abadinya, bumi dilebihkan Tuhan lewat ketegarannya yang takkan goyah kecuali Tuhan yang mengehendakinya. Pepohonan yang diberikan kebesaran dan ketinggian yang menyentuh puncak-puncak langit. Hewan dianugerahkan kekuatan yang besar tak tertandingi dan lain sebagainya. Sedang manusia itu sendiri, hanya bermodalkan kecerdasannya belaka. Sungguh kalau bukan karena otak ini, kita justru lebih lemah dari hewan-hewan di alam rimba. Anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan memang luar biasa adanya sehingga kita dimampukan untuk meniru berbagai potensi alamiah lainnya. Misalnya, kita bisa merangkai kendaraan yang setangguh kuda, membuat lampu yang seterang matahari, membangun rumah yang sekuat pohon, mensintesis obat yang semirip garam dan lain sebagainya. Anugerah intelektual yang diberikan Allah membuat kita menjadi peniru ulung di seluruh bumi.

Sayang, sikap yang suka meniru tersebut bisa disusupi oleh rasa sombong dan dengki. Saat seorang manusia mulai meniru-niru karena dengki dengan kehidupan sesamanya. Atau menirukan sesuatu supaya beroleh pujian dari orang lain (disombongkan). Tepat saat itu jugalah otak mulai bekerja untuk membahas-bahas betapa baiknya kehidupan kita saat ini. Sedang kita pun harus mengetahui dengan pasti bahwa aktivitas memakan dan dimakan merupakan bagian dari kedagingan manusia. Akan tetapi, karena sudah terbiasa meniru terlebih ketika tingkat persaingan tinggi di sekitarnya, kebiasaan ini bisa mengarahkan seseorang untuk melakukan penipuan. Terlebih ketika hal-hal duniawi yang di cita-citakan masih belum terwujud dan ingin digapai sekali pun dengan menghalalkan segala cara.

Pengertian

“Semua manusia adalah pembohong,” bukanlah suatu frase biasa sekedar mempermanis pendengaran. Melainkan “Manusia adalah penipu ulung” merupakan suatu kenyataan yang telah terjadi selama berabad-abad lalu sejak awal penciptaan. Ini pun terus terjadi sampai sekarang hingga di masa mendatang sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Sikap manipulatif tersebut akan semakin buruk hingga merusak karena tingginya persaingan penuh dengki di dalam masyarakat. Ini diawali oleh tabiat manusia yang suka menirukan segala sesuatu tanpa menilainya terlebih dahulu. Apakah itu sudah sesuai dengan nilai yang benar atau jangan-jangan bertentangan? Selama kita mampu menemukan kekuatan positif di balik suatu sikap yang membawa diri untuk mengasihi Allah sepenuhnya dan menyayangi sesama dengan adil. Niscaya selama itu pulalah apa yang ditekuni tidak jauh-jauh dari kehendak Allah.

Definisi – semua manusia penipu adalah kenyataan yang menunjukkan kecenderungan umat manusia yang melakukan hal-hal yang manipulatif, baik untuk tujuan negatif maupun demi tujuan positif. Kecenderungan arah sikap tipu-menipu ini sangat ditentukan oleh kemampuan sistem dalam menafkahi seluruh masyarakat seadil-adilnya. Artinya, semakin tidak adil organisasi membagikan keuntungan maka arah penipuan yang berlangsung lebih condong ke sisi negatif. Sebab tanpa kesetaraan, setiap manusia ingin mencapai puncak tertinggi kehidupan. Dimana semuanya itu mengharuskan kita untuk menjadi tukang tipu handal yang jago memindahkan hak orang lain/ hak bersama menjadi milik sendiri.

Faktor penyebab manusia adalah pialang tipu-menipu sesamanya

Siapa pun anda di luar sana, selalu sadari tabiat alamiah manusia tersebut. Sebab tanpa mengertikannya, kita cenderung menganggap diri sendiri sudah benar semua-muanya dan melupakan sisi kemanusiawian sendiri sebagai mahkluk yang selalu memiliki kesalahan namun tidak menyadarinya. Jangankan dalam hal perilaku, dalam hal berkata-kata apalagi dalam pikiran sendiri, dosa itu bisa muncul tanpa disadari sebelumnya. Oleh karena itu, mintalah pertolongan Tuhan agar mata hati dicerahkan agar kita beroleh pengetahuan, apa-apa saja kesalahan tersembunyi yang harus diperbaiki selama ada kesempatan mengubahnya di dunia ini.

Berikut akan kami jelaska beberapa alasan mengapa manusia menjadi tukang tipu seumur hidupnya.

  1. Tuhan Yesus Kristus sendiri yang mengatakannya.

    (Yohanes 8:44) Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

    Memang benar adanya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Sebab berbagai ilmu yang Ia wartakan awalnya tidak masuk di akal. Ada orang menganggap ajarannya terlalu tinggi dan sukar dimengerti. Akan tetapi belakangan, kita baru memahami bahwa setiap kata yang diucapkan-Nya adalah ya dan amin. Siapa lagi yang dapat memberi tahukan kita hal-hal yang terkemudian selain dari pada Allah sendiri? Bukankah semuanya ini ditujukan agar kita senantiasa bernyanyi mengagungkan kebesaran karya-Nya atas kehidupan kita? Seperti yang termuat dalam firman-Nya.

    (Yesaya 42:9-10) Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan, hal-hal yang baru hendak Kuberitahukan. Sebelum hal-hal itu muncul, Aku mengabarkannya kepadamu.” Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya.

  2. Kitab Suci menyimpan kisah kesuksesan seorang penipu.

    Cermati baik-baik Alkitab anda niscaya akan menemukan bahwa “kegemilangan hidup terdapat dalam diri seorang penipu.” Dialah Yakub yang menjadi moyang bangsa Israel. Merampas hak kesulungan lewat tipuan kacang merah dan menipu ayahnya demi menyerobot berkat orang lain (berkat abangnya). Mungkin beberapa orang mengagumi aksi licin yang menipu tersebut lalu mempraktekkannya juga. Sebab pikirnya, “Alkitab adalah buku yang di dalamnya benar semua dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.”

    Kita harus memperbaiki pemahaman tentang Kitab Suci yang menganggap bahwa semua isi di dalamnya adalah kebenaran yang dapat diaplikasikan. Sebab pada kenyataannya Alkitab juga memiliki sisi manusiawi yang terbatas dan cenderung melakukan kekhilafan. Bagaimana mungkin manusia yang penuh kelemahan menghasilkan sesuatu yang selalu sempurna?

    Akan tetapi, perkataan yang terucap oleh Tuhan Yesus Kristus adalah sebuah kebenaran. Bahkan ilustrasi/ perumpamaan yang diberikannya pun sungguh-sungguh pernah terjadi. Entah itu di masa lalu, di masa kehidupan-Nya atau di masa yang akan datang dan bisa juga di dunia yang lain (bumi/ bulan/ planet yang lain).

  3. Manusia adalah peniru ulung.

    Peniru itu terdengar lebih halus daripada penjiplak. Apakah anda kerap menjiplak berbagai hal yang ada di sekitar menjadi milik pribadi? Di sisi lain secara tidak langsung kita sering menjiplak karya orang sebab mampu mengurut landasan berpikirnya. Karena itulah terjadi kata-kata yang kita ucapkan atau tuliskan sering sekali telah diucapkan orang di negeri lain. Apakah ini termasuk menjiplak atau bukan? Padahal kita sering berbangga hati karena merasa telah menemukan sesuatu (sebenarnya hasil jiplakan).

  4. Kegiatan lembaga keuangan memberi riba (udah jagonya menipu, mengambil untung pulak).

    Coba baca lagi Kitab Suci secara berulang-ulang, apakah membungakan uang itu diperbolehkan? Tentulah aktivitas semacam ini menjadi sebuah siatuasi dilematis. Di satu sisi, kita bisa beruntung ketika beroleh bunga uang sendiri tetapi di sisi lain ada yang dirugikan karena meminjam uang untuk keperluan mendesak. Padahal bila proses peminjaman tersebut kita tinjau baik-baik, tidak ada yang bertambah apalagi berkurang, sebab seberapa besar dana yang dipinjam kelak akan dikembalikan lagi dalam jumlah yang sama. Tetapi, dari kegiatan yang bahkan tidak merugikan tersebut, kita melebihkan harga pengembalian oleh karena sesuatu yang disebut bunga.

  5. Kegiatan perdagangan adalah penipuan.

    Seorang pedagang membeli barang dengan harga segini tetapi menjualnya dengan harga segitu, bukankah itu penipuan? Memang selisih angkanya sangat sedikit sama seperti pembungaan uang yang hanya beberapa persen saja. Ingatlah bahwa dosa kecil dan dosa besar itu sama saja.

  6. Para pemimpin kita adalah penipu.

    Kami sendiri tidak tahu apa kebohongan yang suka disebarkan oleh oknum pemimpin dimana pun berada. Silahkan tanyakan sendiri kepada mereka, bagaimana perannya dalam aktivitas yang berputar-putar.

    Kita harus memahami bahwa apa pun posisi saat ini, kita selalu terjerembab dalam siklus yang berputar-putar. Segala profesi dan tingkatan jabatan selalu berputar dalam aktivitas yang serupa dalam siklus pekerjaan spesifik. Memang secara kreativitas, mereka yang pintar terjebak dalam pekerjaan yang berjenis-jenis. Sedang orang yang mengandalkan ototnya hanya melakukan pekerjaan dua-tiga jenis saja. Akan tetapi semuanya itu setara sebab yang menggunakan otot dan otak sama-sama merasakan kelelahan.

    Ada pepatah yang mengatakan “semakin banyak bicara makin banyak pula kebohongan yang diumbar.” Semoga saja hal-hal tersebut timbul sekedar berbuat perumpamaan bukan demi menyesatkan orang lain.

  7. Karya yang kita hasilkan mengandung kebohongan.

    Ini khususnya bagi kami sendiri. Bahwa dalam berbagai karya yang dihasilkan “masakan benar semuanya?” Ingatlah bahwa kami pun serupa seperti para pembaca sekalian, yaitu sama-sama sebagai tukang khilaf. Lagipula mungkin saja di masa depan akan ada lebih banyak lagi teori-teori yang lebih keren dan mendekati kebenaran ketimbang hal-hal yang telah kami tuliskan di blog ini. Jadi, selektif dan kritislah menyaring setiap informasi yang kami haturkan.

  8. Media yang kita miliki menebar kebohongan.

    Sepertinya bagian ini tidak perlu kami jelaskan lagi sebab semuanya sudah memahami dan mencermatinya. Hanya saja, kita berharap bahwa media-media yang ada sekarang mampu memberikan perbedaan yang nyata antara fakta asli dan kebohongan semata (hoax). Sedang sebagai pemirsa yang budiman, kita perlu memelihara sikap selektif dan kritis menanggapi media sosial, televisi, radio, majalah, koran dan lain sebagainya. Semua saringan ini dilkukan agar kita tidak terjebak oleh hal-hal buruk yang disampaikannya melainkan senantiasa membandingkan informasi dengan standar kehidupan.

  9. Tanpa manipulasi tidak ada pekerjaan.

    Pada posisi ini, kita menjadi serba salah. Harus sama sekali melupakan kebohongan untuk hidup sejujur-jujurnya tanpa titik koma tetapi tidak ada kerjaan. Tanpa aktivitas, kecerdasan manusia menurun dan cenderung menjadi serupa dengan binatang: artinya “orang yang hidupnya masih syarat kebinatangan karena masih kurang cerdas otaknya (kasarnya bodoh).” Atau memilih untuk tetap memberi celah terhadap manipulasi wajar agar kita tetap aktif bekerja menyambung hidup. Sekali pun demikian “dosa tetaplah dosa,” kecil besarnya tetap saja telah mengotori kehidupan ini.

  10. Perlu ada penjelasan agar kebohongan kita tidak menjadi dosa.

    Dalam hidup ini, penjelasan itu amatlah penting. Kita tahu bahwa hari-hari hidup yang dijalani berpotensi besar menghasilkan kekhilafan sehingga muncullah niat untuk meminta maaf. Agar setidak-tidaknya beban yang ditanggungkan di akhir zaman bisa lebih ringan bahkan beroleh upah kekal abadi. Itulah mengapa pada beberapa bagian blog ini, kami mengajak seluruh pembaca untuk menyaring segala sesuatu yang kami tuliskan sebab, kami bukanlah penulis yang selalu sempurna.

  11. Perlu ada kesetaraan antar penipu agar tidak menghalalkan segala cara.

    Tidak perlu ada kebohongan dan konspirasi picik di antara sesama penipu. Bukankah negara ini kaya dan makmur dari ujung ke ujung? Sayang beberaapa orang yang berasal dari antara kaum intelektual memanfaatkan ilmunya untuk beroleh kebih banyak kekayaan, popularitas, pujian, jabatan dan lain-lain. Bahkan sekonyong-konyongnya, mereka mengubah dan memfitnah hal-hal alamiah yang asalnya dari alam semata-mata agar produknya laris-manis.

    Oleh sebab itu, jumlah pendapatan yang berlain-lainan dan adanya kesempatan untuk beroleh nilai uang yang lebih merupakan dasar untuk berusaha di luar batas-batas kewajaran. Orang cerdas rentan dengan iri hati sehingga memasuki persaingan sempit yang melampaui batas tepi kebenaran. Oknum tertentu akan melakukan berbagai langkah-langkah manipulatif dan cenderung menjebak orang lain dalam petak-petak pengetahuan sempit. Semuanya itu dilakukan demi tujuan yang picik, yaitu materi dan kemuliaan yang lebih besar nilainya dari orang lain (nafsu arogan).

  12. Kita harus menerima kenyataan bahwa kitalah pembohong besar itu namun meminimalisir dampaknya dengan bersikap benar.

    Manusia adalah penipu, itu adalah kenyataan yang memahitkan hidup. Akan tetapi dengan melakukan kebenaran hakiki di antara manusia tersingkirlah kejahatan itu. Jika setiap orang mampu melatih dirinya untuk menjadi lihai beraktivitas sambil fokus bernyanyi memuliakan Tuhan. Serta mampu mengasihi sesama seperti diri sendiri dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.

    Kita perlu ikhlas menerima kenyataan bahwa penipuan yang kita lakukan di dunia ini berakibat pada kemunduran bagi diri sendiri, orang lain dan lingkngan sekitarnya. Selain itu, setiap orang kiranya mendukung kesetaraan di antara umat manusia dimana negara adalah kapitalis tunggal. Jadi, setiap orang tidak perlu lagi mencari uang dengan menipu sesamanya sebab semua gajinya dibayarkan oleh pemerintah secara beertahap terus-menerus asal dia mau bekerja. Artinya, “satu-satunya jalan untuk meminimalisir potensi negatif sekaligus dosa kedustaan adalah dengan memberlakukan keadilan sosial/ kesetaraan/ sosialisme di segala lini kehidupan.” Bukankah ini sudah tercantum jelas dalam butir Pencasila khususnya sila ke lima?

    Dengan memberlakukan kebenaran dan keadilan, otomatis setiap kebohongan akan ditepis. Tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat dosa karena setiap orang saling memaafkan. Juga tidak ada kekuatan untuk menjebak orang lain sebab masing-masing tahu membedakan, mana yang baik dan buruk. Pekerjaan yang penuh tipu muslihat hanya sekedar permainan yang akan dimaafkan dan dilupakan dalam sekejap mata. Sedang setiap warga negara beroleh upah langsung dari negara sebagai kapitalis tunggal.

Tidak ada yang perlu kita banggakan di dunia ini. Sebab hampir segala sesuatu yang kita lakukan berpotensi menjadi salah satu bagian dari kebohongan. Oleh karena itu, kita harus saling mengampuni satu sama lain agar terbebas dari dosa tersebut. Sedang keadilan sosial perlu diberlakukan agar kebohongan yang kita lakukan dapat terpantau oleh semua orang sehingga tidak ada manipulasi yang secara diam-diam menimbulkan kerugian yang besar, baik bagi orang lain dan lingkungan juga bagi diri sendiri. Manipulasi yang tidak diiringi dengan kesetaraan bisa berujung pada pelemahan sistem bermasyarakat. Sebab ada oknum tertentu yang berusaha membodohi atau setidak-tidaknya menyembunyikan sumber daya dari orang lain sehingga hanya dirinya dan kelompoknya semakin kaya raya, terpuji, terhormat dan terpopuler. Sedang dalam  sistem yang menjunjung tinggi sosialisme, manusia akan bekerja untuk negaranya sehingga tidak ada lagi yang harus membohongi sesamanya demi mendapat sepeser uang.

Salam, Apa yang kita lakukan,
selalu syarat dengan kebohongan.
Berlakukan keadilan untuk semua,
semoga damai sejahtera ada dimana-mana
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.