Ekonomi

+10 Penyebab Nilai Rupiah Turun, Sedang Dolar Naik – Mengapa Mata Uang Nasional Anjlok Tetapi Mata Uang Asing Makin Melunjak (Meninggi)

Penyebab Nilai Rupiah Turun, Sedang Dolar Naik – Mengapa Mata Uang Nasional Anjlok Tetapi Mata Uang Asing Makin Melunjak (Meninggi)

Uang sebagai alat tukar bermanfaat luas dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab fungsinya sangat dominan dalam kehidupan masyarakat karena mereka pun percaya dengan nilai yang tertera di atas kertas bekas tersebut. Padahal, sesungguhnya kertas itu, hanya dibuat dari kertas biasa saja, sama seperti kertas hasil print biasa yang dikeluarkan oleh mesin percetakan buku. Hanya saja, mesin cetaknya dibuat dengan teknik khusus sehingga menghasilkan permukaan kertas yang kasar sesuai dengan kontur yang dikehendaki. Perlu disadari bahwa kertas ajaib ini nilainya lebih rendah dari alat tukar yang dari logam.  Namun seluruh  masyarakat sangat percaya bahwa kertas-kertas yang ditumpuknya di dalam almari tersebut sangat berharga.

Kepercayaaan masyarakat terhadap pemerintah sangat ditentukan oleh aktivitas perekonomiaan yang saat ini sedang dan akan terus berlangsung di dalam suatu negara. “Semakin baik ekonomi masyarakat maka makin sejahtera kehidupannya.” Orang yang hidupnya sudah makmur pastilah bisa damai dan rukun dalam kebersamaan sekali pun yang namanya perbedaan tidak dapat dihindari. Tetapi yang namanya negara tanpa keadilan sosial, pastilah orang-orang makmurnya itu hanya segelintir saja. Sedangkan yang hidupnya melarat, sekali pun sehari-hari bekerja keras membanting tulang terdapat sangat banyak. Mereka miskin bukan karena mereka tidak bekerja tetapi karena pemerintah tidak adil dalam membagi susu sumber daya yang asalnya dari APBN.

Mengapa sumber daya negara yang adalah milik bersama hanya dinikmati oleh segelintir orang saja?

Harap dipahami bahwa Pancasila telah menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (khususnya sila ke 5). Sedang kita tahu bersama bahwa Pancasila ini adalah kesaktian yang menjadi dasar negara kita. Artinya, sudah sepatutnya segala aturan yang berlaku di dalam negeri bertulang punggungkan Pancasila termasuk dalam hal ini adalah hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah dan swasta. Sedang di dalam pemerintahan, pusat seluruh sumber daya yang ada tercatat rapi di dalam APBN atau APBD. Masalahnya sekarang adalah APBN/ APBD di negara kita hanya dinikmati oleh orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan saja sedang masyarakat luas selain koorporasi tidak mendapatkan apa-apa.

Memang secara umum seluruh masyarakat juga telah dan akan menikmati kucuran APBN dan APBD tersebut lewat pembangunan infrastruktur. Misalnya dalam hal penyediaan fasilitas umum, jalan, sekolah, terminal, perpustakaan, situs bersejarah dan ruang publik lainnya. Akan tetapi, semua aliran dana tersebut sifatnya terjadi secara tidak langsung. Namun susu APBN/ APBD hanya dinikmati secara langsung oleh kalangan tertentu saja. Mereka yang langsung mendapatkan aliran dana APBN tiap-tiap bulannya adalah kalangan pemerintah dan pihak swasta sebagai afiliasi atau aliansinya. Sedang masyarakat luas tidak mendapatkan aliran dana tersebut secara langsung tiap-tiap bulannya. Padahal Pancasila sebagai tulang punggung seluruh hukum di Indonesia telah berpesan “keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.”

Pengertian fluktuasi mata uang

Sebenarnya fluktuasi mata uang adalah hal yang biasa terjadi di dalam suatu negara. Lagi pula keadaan ini mirip-mirip seperti kehidupan kita yang kadang naik dan kadang turun. Saat konsumsi masyarakat membaik, barang-jasa terbeli dan aktivitas ekspor meningkat: nilai rupiah membaik. Akan tetapi, saat konsumsi masyarakat menurun, barang-jasa menumpuk sedang aktivitas impor meningkat: nilai rupiah akan turut menurun pula. Jadi fluktuasi mata uang adalah sebaran aktivitas perdagangan dalam negeri mau pun antar negeri yang mempengaruhi keluar-masuknya suatu mata uang. Ada dua nilai tukar yang sangat populer khususnya di Indonesia, yaitu rupiah dan dolar.

Faktor penyebab nilai rupiah turun sedang dolar terus saja naik

Logikanya adalah kita punya harta lalu menyimpannya di rumah B sedang hunian A hanya diisi dengan perabotan recehan belaka. Menurut anda, lebih berharga rumah A atau B? Tentu saja yang lebih berharga adalah rumah B sebab hampir semua kekayaan yang dimiliki disimpan di sana. Demikian juga dengan rupiah yang anjlok sangat dipengaruhi oleh banyaknya harta yang dipindah tempatkan dari Indonesia ke negara lain (misalnya Singapura, Swiss, Amerika dan lainnya). Artinya, kekayaan negeri kita yang telah dikonversi dalam bentuk dolar lebih banyak disimpan di luar negeri daripada di bank-bank Indonesia itu sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pengaruh umumnya disebabkan oleh suku bunga yang ditawarkan oleh negara asing lebih tinggi dari suku bunga yang diberikan oleh bank-bank di Indonesia. Berikut akan kami uraikan dan jelaskan alasan mengapa nilai mata uang dalam negeri terus saja anjlok dibandingkan mata uang asing yang makin melejit tinggi.

  1. Sumber daya yang miskin (Uang di tangan masyarakat banyak sedangkan barang yang tersedia sedikit).

    Semiskin-miskinnya suatu negara di dunia ini, tidak ada yang tidak memiliki sumber daya sama sekali. Masing-masing wilayah di bumi ini mengelola sumber daya tersebut secara berkelompok, baik yang dipelopori oleh pemerintah mau pun swasta. Adalah mustahil bila rupiah terus turun karena sumber daya alam yang kita miliki melimpah-limpah dari ujung ke ujung negeri ini. Sudah sepatutnya bila kita makmur dan damai hari lepas hari.

    Sumber daya alam yang baik membuat kita bisa membuat barang apa saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tentu saja, keadaan ini turut pula dipengaruhi oleh ketersedian sumber daya manusia yang memadai. Namun di sisi lain, tidak semua barang-jasa yang kita hasilkan terbeli oleh masyarakat, mungkin saja ada yang menumpuk di gudang/ toko karena sepi peminat. Untuk apa pula sumber daya yang banyak kalau tidak mampu menambah minat masyarakat untuk membelinya.

    Saat barang dan jasa yang memadai tersedia dalam jumlah cukup maka masyarakat akan membelanjakan uangnya sehingga perputaran ekonomi akan bergerak ke arah positif dimana nilai tukar rupiah membaik. Akan tetapi, lain halnya jika rupiah yang dimiliki masyarakat melimpah-limpah tetapi barang dan jasa sangatlah minim. Biasanya keadaan ini membuat produk yang dihasilkan baru dapat diperoleh dengan harga selangit. Keterbatasan barang dan jasa ini tentu saja disebabkan oleh minimnya sumber daya yang tersedia. Pelanggan pun berebut untuk memperolehnya. Tingginya permintaan memaksa pedagang mempertinggi nilai penawaran yang diberikan. Harga produk yang sangat mahal menunjukkan betapa terbatasnya stok yang dimiliki sehingga harus mengorbankan lebih banyak rupiah untuk membelinya.

  2. Perbankan yang lemah.

    Kami bukanlah seorang ekonom handal tetapi dari kenyataan yang kita amati bersama dimana masyarakat kelas atas lebih suka menabung di luar negeri daripada di dalam negeri merupakan suatu koreksi besar. Petinggi negeri di bidang keuangan perlu mencarikan solusi tepat untuk memperbaiki perbankan di Indonesia agar orang kecil sampai besar mau menyimpan dananya ke sana. Peraturan juga perlu ditegakkan dimana setiap perusahaan yang berdiri di Indonesia diwajibkan untuk menyimpan modal dan keuntungannya di bank-bank milik pemerintah setempat. Jika memang ada celah untuk menaikkan suku bunga, mengapa tidak? Kebiasaan menabung di tengah masyarakat perlu dibudayakan tetapi bagaimana seseorang mau menabung jika uang yang disimpannya hangus terus akibat pajak yang tidak manusiawi? Sudah seharusnya, orang yang tabungannya kecil, persenan pajaknya haruslah lebih kecil. Sedang pajak yang besar-besar itu diambil dari mereka yang kaya raya, itukan tidak akan terasa sebab bunga yang diterimanya juga sangat besar.

  3. Sistem pelaporan kekayaan yang kurang memadai.

    Siapa pun di negeri ini, baik dari kalangan pemerintah mau pun swasta diwajibkan untuk melaporkan harta kekayaannya. Lewat pelaporan secara transparan inilah dunia internasional dapat memantau sudah sekaya apa Indonesia? Jika oknum pejabat atau pemimpin atau pengusaha tidak melaporkan hartanya maka secara nasional hal tersebut juga tidak diketahui apalagi secara internasional. Oleh karena itu, perlu selalu diingatkan agar aktivitas ini tidak diabaikan oleh siapa pun terlebih-lebih oleh konglomerat yang bermukim di dalam negeri. Semua laporan ini akan menjadi masukan yang akan meningkatkan nilai rupiah di mata internasional.

  4. Negeri yang penuh sesak perusahaan swasta (modal milik perorangan).

    Pada dasarnya, lembaga usaha perorangan tidak memiliki ikatan khusus terhadap negara. Semua permodalannya dilakukan secara terpisah dari negara. Sekali pun kita mengetahui bahwa terkadang negara menyuntikkan dana talangan terhadap perusahaan tertentu demi stabilitas ekonomi. Akan tetapi, perusahaan swasta tersebut bisa saja atau sah-sah saja untuk menyimpan keuntungannya di tempat yang disukainya atau di luar negeri. Lagi pula mereka ingin uang itu lebih banyak lagi dimana tempat yang paling digemari adalah di negara yang menawarkan suku bunga tertinggi, yaitu Amerika.

    Pada tahapan ini, kita harus menyadari bahwa para pengusaha swasta tersebut memang sedikit keterlaluan. Sudah seharusnya koorporasi tersebut di nasionalisasi, masakan “cari uang di negeri sendiri, lalu keuntungan yang berhasil dikumpulkan disimpan di negara asing, entah berantah?” Terlebih minat untuk nasionalisasi semakin kentara ternyata terbukti bahwa pemerintah selalu menyuntikkan sejumlah dana ke perusahaan tersebut secara berkala.

    Jika para pengusaha swasta jujur maka setiap detail harta yang dimilikinya dan dimiliki oleh perusahaannya akan dilaporkan ke lembaga keuangan pemerintah. Pelaporan ini akan menambah daftar kekayaan negara sekalipun itu milik perorangan.

  5. Pejabat/ pemimpin yang tidak cinta dengan Rupiah melainkan cintanya sama mata uang Dolar.

    Mengapa oknum pejabat atau petinggi negeri ini tidak cinta dengan negerinya sendiri? Mengapa mereka lebih banyak membagi-bagikan jatah dolar yang dimiliki secara diam-diam? Artinya, tiap-tiap tahun Bank Nasional Amerika menyuntikkan sejumlah dana ke seluruh negara lain sebagai rekannya. Dana tersebutlah yang menjadi cadangan devisa negara kalau-kalau suatu negara hendak membeli sesuatu dari negara lain. Artinya, berapa rupiah pun kekayaan yang kita simpan di bank dan di bangga-banggakan, itu tidak diakui di luar negeri. Mata uang yang diakui saat kita keluar dari teritorial Indonesia adalah hanyalau dolar saja.

    Jadi, pantas saja oknum pejabat kita sangat mencintai dolar. Sebab saat bertandang ke negeri orang, mata uang itulah yang digunakannya. Lagi pula dengan memiliki dolar, ia bisa menyimpan hartanya di negara yang menawarkan suku bunga tertinggi yaitu “The Feat.” Bahkan besar kecenderungan bila sebagin besar hartanya telah dikonversikan ke dolar agar kekayaan tersebut tidak hanya berlaku dalam skala nasional melainkan diakui pula dalam skala internasional.

  6. Pejabat atau pemimpin yang tidak jujur dalam melaporkan kekayaannya.

    Harap diketahui bahwa sekaya apa pun seorang pejabat/ pemimpin dan sebanyak apa pun emas batangan yang dimilikinya, itu akan berada di daerah abu-abu selama tidak dilaporkan. Tentu saja pemimpin/ pejabat yang bersih tidak sungkan-sungkan melaporkan setiap detail dari kekayaannya. Akan tetapi yang suka belat-belit korupsi “mana mau itu….” Laporan keuangan semacam inilah yang menjadi salah satu indikator yang menunjukkan semakmur apa bangsa Indonesia saat ini. Apakah kemakmuran itu sudah dilakukan dengan sejujur-jujurnya atau lebih banyak yang disembunyikan dari badan keuangan nasional.

  7. Uang yang tiba-tiba hilang tanpa jejak.

    Kekayaan yang disimpan di bank terpantau dengan baik dan dianggap sebagai harta negara Indonesia sekali pun senyatanya bukan milik pemerintah. Akan tetapi, kekayaan ini bisa saja diambil oleh pemiliknya dengan alasan atau tanpa alasan. Lantas tepat saat rupiah, emas dan surat-surat berharga lainnya telah berpindah dari tempat yang terpantau jelas ke tangan-tangan pribadi dalam brangkas tersembunyi. Jika pihak swasta yang beruang banyak menyerab kekayaanya dari wilayah resmi ke wilayah abu-abu, siapa yang bisa melarangnya? Jika keadaan ini terjadi dalam gelombang yang besar dan serentak, niscaya nilai rupiah akan terus anjlok lebih dalam.

    Oleh karena itu, perlu ada peraturan pemerintah untuk membatasi warganya menarik dana dari bank. Peraturan tersebut harus menyebutkan bahwa setiap aktivitas tarik-tunai dalam batas tertinggi yang sudah ditentukan harus disertai dengan alasan logis. Penarikan dana secara berlebihan tanpa dipertanggung jawabkan oleh pemiliknya harus dibatasi karena beresiko mengganggu stabilitas ekonomi di dalam negeri. Uang sangat besar yang diambil nasabah dari bank harus berdasar dan dapat ditelusuri alirannya. Tentu saja peraturan ini hanya berlaku bagi konglomerat – kapitalis kelas atas yang kekayaannya sangatlah besar sehingga “lego sedikit saja, ekonomi negara bisa babak belur.”

  8. Korupsi, kolusi dan nepotisme.

    Praktek kotor semacam ini juga sangat mempengaruhi perekonomian dalam suatu negara. Sebab semakin banyak praktek KKN maka makin tinggi jumlah uang yang berada di wilayah abu-abu. Mengapa demikian? Karena tidak ada koruptor yang begitu PD-nya menyimpan uang hasil penggelapan di bank swasta apalagi bank pemerintah. Uang panas semacam ini mungkin saja akan diletakkan di dalam brangkas saja atau disimpan dibalik dinding yang ada ruang rahasianya. Bisa juga dengan menguburkan kertas pahlawan tersebut di dalam tanah/ di dalam ruang bawah tanah. Tingginya jumlah uang yang tak terpantau di wilayah gelap membuat suatu negara seakan-akan miskin sedang nilai mata uangnya pun terus jatuh seiring dengan semakin menjamurnya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme.

  9. Pengangguran tersistem.

    Mengapa ada pengangguran? Menurut anda lebih duluan mana, menganggur atau malas? “Orang yang pengangguran belum tentu malas sedang orang yang malas pasti pengangguran.” Sesungguhnya, bila pemerintah mau membuka dirinya maka yang namanya lowongan pekerjaan itu akan selalu ada. Jika pun itu tidak ada secara nyata tetapi dengan ekonomi sandiwara, lahan pekerjaan bisa disediakan oleh pemerintah.

    Jangan berpikir yang rumit-rumit, aktivitas ngeblog, menulis, aktif di media sosial, berkomentar di blog pemerintah dan lain sebagainya juga merupakan pekerjaan. Di negara-negara maju, dimana jumlah penduduk melimpah sedang lahan kerja nyata terbatas, banyak warganya justru bekerja sebagai penulis dan pemerintah menggaji mereka untuk itu. Ada juga pekerjaan yang intinya sibuk meramaikan situs-situs pemerintah, entah itu berkomentar atau membaginya atau sekedar mengunjunginya saja. Yang manusia ada aktivitas sehingga membuat dirinya tetap sadar cerdas.

    Mengapa angka pengangguran bisa mempengaruhi nilai rupiah? Sebab tingginya orang yang produktif tetapi tidak bekerja menyebabkan banyak masalah di dalam masyarakat. Mulai dari aksi kriminalitas (misal pencuri, copet, jambret, begal dan lainnya), gangguan kepribadian dan kelainan psikologi lainnya serta barang dan jasa yang tersedia pun tidak laku-laku. Buruknya daya beli masyarakat beresiko tinggi membuat perputaran uang tidak lancar bahkan terkesan ada produk yang dibung-buangi begitu saja (misal karena kadaluarsa). Tentu saja aktivitas semacam ini membuat pengusaha merugi yang turut berpengaruh pada menurunnya jumlah uang yang disimpannya di bank. Terlebih jika usahawa tersebut adalah pengusaha kelas kakap/ kelas hiu bermodal miliaran hingga triliunan.

  10. Kemiskinan terstruktur.

    Sadar atau tidak, yang namanya pengangguran dan kemiskinan tercipta oleh kelemahan pemerintah dalam memanajemen suatu negara. Seharusnya, hal-hal semacam ini bisa dihindari dengan cara “memperkaya manusia lewat apa yang bisa dia lakukan.” Artinya, pemerintah menggaji seseorang berdasarkan potensi yang dimilikinya, tentu saja hal ini dilakukan setara dengan potensi lainnya yang berbeda-beda. Asalkan suatu bakat bisa membuat seseorang tetap aktif dari hari ke hari maka talenta tersebut bisa dijadikan sebagai sebuah pekerjaan.

    Hanya saja, perlu diingatkan agar negara menggaji manusia sama rata, bukankah hal tersebut tercantum dengan jelas dalam Pancasila khususnya sila ke lima? Lagipula dalam pemahaman yang setara tidak ada lagi orang yang menjadi terlalu egois atau arogan yang beresiko menimbulkan kekacauan di dalam masyarakat. Sebab orang besar berharga diri tinggi tersebut terlalu rapuh saat hidupnya diperhadapkan dengan gejolak biasa.

    Tingginya angka kemiskinan juga turut beresiko membuat produk yang tersebar di seluruh negeri kurang laris. Jelaslah bahwa keadaan ini membuat aktivitas perdagangan minim sebab jumlah barang yang terbeli oleh masyarakat sangat sedikit. Bahkan beberapa diantaranya dilempar ke tong sampah karena telah kadaluarsa. Otomatis, jika pengusaha merugi maka negara pun ikut mengalami kerugian. Terlebih ketika usahawan tersebut bermodal sangat tebal sehingga kerugian yang dideritanya bisa menimbulkan dampak sistemik dalam perekonomian suatu negara.

  11. Aktivitas impor dan ekspor yang tidak berimbang.

    Sudah seharusnya kegiatan ekspor lebih tinggi dari impor. Jika yang terjadi sebaliknya maka hal tersebut adalah bukti konkrit yang menunjukkan bahwa negara tersebut terlalu ketergantungan dengan bangsa lain. Akan tetapi saat kegiatan ekspor lebih limpah daripada impor niscaya negara akan di datangi lebih banyak modal asing sehingga terasa makmur di mata Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lainnya.

Oknum yang memanen di negeri ini tetapi menyimpan hasil panennya di negeri orang atau menyembunyikannya di wilayah abu-abu adalah penyebab utama nilai rupiah semakin tenggelam.

Pada dasarnya, setiap “dana yang kita simpan di berbagai lembaga keuangan,” mulai dari koperasi hingga bank (baik milik pemerintah maupun swasta) akan dideteksi sebagai kekayaan negara. Demikian juga setiap perusahaan/ industri yang melaporkan asetnya ke lembaga keuangan pemerintah akan dianggap sebagai kekayaan negara. Tidak hanya itu saja, “kekayaan alam (SDA)” dan “kekayaan intelektual (SDM)” bisa juga diperhitungkan sebagai harta bagi bangsa tersebut. Segala aktivitas mengambil uang di bank tanpa alasan ekonomi/ perdagangan cenderung membuatnya berada di wilayah abu-abu seolah negeri ini baru saja dijarah secara diam-diam. Semua kegiatan memindahkan kekayaan pribadi/ kelompok dari dalam negeri ke luar negeri dalam bentuk tunai mau pun non tunai juga membuat harta negara beralih ke negeri orang. Hal-hal semacam inilah yang menjadi penyebab utama turunnya nilai rupiah sedangkan nilai dolar kian meningkat. Sesungguhnya, masih banyak rahasia yang ditutupi pemerintah dari aktivitas perekonomian Indonesia. Misalnya saja tentang perusahaan swasta apa saja yang secara rutin menerima dana talangan dari negara dan ekonomi sandiwara seperti apa yang dilakukan untuk membuat Indonesia terus aktif berputar? Simak juga kawan, Kekayaan negara yang hilang.

Salam, Nilai rupiah anjlok,
banyak kekayaan hilang acak.
Titip harta di bank dalam negeri,
membuat Indonesia rasa berisi
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.