Kepribadian

Sikap Menghadapi Masalah Sosial – Hal Yang Selalu Diujikan Saat Menjalani Gejolak Dalam Bermasyarakat

Sikap Menghadapi Masalah Sosial – Hal Yang Selalu Diujikan Saat Menjalani Gejolak Dalam Bermasyarakat

Berkat dan penderitaan adalah anugerah yang sama-sama dapat mendatangkan kebaikan

Sebenarnya, masalah adalah bagian dari kehidupan seluruh umat manusia di muka bumi. Hanya saja, beberapa orang cenderung menganggapnya sebagai aib atau kutukan yang harus dijauhi dan ditolak. Mereka terlalu mendewakan kenyamanan hidup yang selalu bebas hambatan. Menganggap bahwa semuanya selalu semulus apa yang dipikirkan. Dengan bersikap demikian, kita menganggap diri sendiri sebagai tuhan yang merencanakan segala sesuatu. Akan tetapi, dengan menerima persoalan sebagai bagian dari rencana Allah, kita berusaha untuk ikhlas memasrahkan hidup hanya kepada keputusan-Nya. Lalu percaya bahwa berkat dan rasa sakit itu adalah sama-sama anugerah Sang Pencipta untuk mendatangkan kebaikan bagi kehidupan umat manusia

Pahamilah manfaatnya agar mampu menerimanya dengan ikhlas

Masalah tidak sama dengan kutukan. Sebab kutukan selalu disebabkan oleh karena dosa sedang masalah adalah anomali kehidupan yang bisa menghimpit siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Pada dasarnya, setiap soal sosial yang mendatangi kita menguras banyak sisi emosional, menimbulkan kelelahan dan meregangkan hubungan dengan sesama. Tetapi, lama-kelamaan situasi semacam ini bisa dimaklumi seiring dengan munculnya sikap mau memahami situasi yang dihadapi. Saat kita paham bahwa suatu ujian sosial itu baik maka akan bisa menjalaninya dengan suka hati sambil terus bergerak positif melanjutkan hidup. Sebab dalam hidup ini tidak ada satu pun yang terjadi yang tidak bermanfaat. Salah satu di antaranya adalah membangun kekuatan hati yang sanggup bertahan di tengah situasi yang sulit sambil menebar kebaikan.

Tidak ada persoalan yang bisa diprediksi, semakin kuat seseorang maka main kuat juga penghalang yang merintanginya.

Sekali pun persoalan yang anda hadapi saat ini terkesan unik dan lain dari yang lain, sebenarnya itu hanyalah perasaan sendiri saja. Sebab pada umumnya, apa yang kita alami, dialami pula oleh orang-orang yang hidup di sekitar kita. Hanya saja variasi dan porsi atau takarannya berbeda satu sama lain. Tentu saja, orang-orang dengan jabatan tertinggi semakin tinggi pula intensitas tekanan hidupnya yang bisa muncul dari berbagai aspek termasuk aspek sosial bermasyarakat. Demikian pula halnya dengan mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang lebih niscaya ujian sosial yang dihadapi pun lebih intens. Di atas semuanya itu, tidak ada cobaan hidup yang datang melebihi kekuatan kita. Artinya, semakin kuat seseorang dalam aspek tertentu maka kian kuat pula masalah yang dihadapinya sehingga timbullah keseimbangan hidup agar tidak menyombongkan diri.

Hal yang memperberat masalah yang sedang dihadapi

Pergumulan hidup yang kita jalani bisa semakin berat dan banyak oleh karena memiliki sifat-sifat buruk seperti sombong, dengki dan takut/ cemas. Orang yang angkuh biasanya selalu merasa dirinya tidak pantas menerima tekanan, menambah daftar permusuhan dan bersikap terlalu agresif saat diperhadapkan dengan gangguan. Pribadi yang suka mengiri terhadap sesamanya, cenderung susah menerima kelebihan teman, memiliki banyak keinginan dan bersenang-senang di atas derita sesamanya. Sedang yang memiliki hati yang suka cemas/ takut menjadi kesulitan menghadapi hal-hal baru, pesimis memandang kehidupan ini dan kurang mampu mandiri menjalani hidup. Ketiga sifat ini, bila terus-menerus dipelihara niscaya beresiko tinggi menambah banyak daftar masalah yang kita hadapi. Bahkan bisa saja pergumulan tersebut menjadi lebih kompleks, rumit dan susah untuk ditemukan benang merahnya.

Sikap yang terutama, sangat dibutuhkan dalam menghadapi persoalan sosial

Sesungguhnya, sangat banyak sikap yang diperlukan saat menghadapi berbagai kemelut kehidupan. Kebenaran hakiki adalah salah satu hal yang paling membahagiakan hati dan mampu menjadi solusi jitu. Kami merasa bahwa hal tersebut sudah cukup jelas sehingga tidak perlu lagi kami ulas dalam bagian ini. Akan  tetapi yang kami hendak tonjolkan adalah kerendahan hati (merendahkan diri), meu repot dengan menanggalkan kenyamanan serta mau menjadi penunggu yang penu kesabaran. Sebelum, lebih jauh membahas semua tentang hal ini, perlu kita tahu terlebih dahulu apa-apa saja contoh dari masalah sosial di dalam masyarakat? Misalnya pengabaian (cuek), ejekan, hinaan, fitnah, kekerasan verbal, bully lainnya.

Menghadapi pergumulan sosial sambil merendahkan diri

Menurut pengalaman kami, semua gejolak sosial yang kita hadapi dari hari ke hari sangat berpotensi merendahkan kehidupan kita. Orang yang sudah terbiasa menjaga harga dirinya cenderung kurang mampu menghadapi kesesakan di dalam masyarakat. Mereka yang terlalu banyak berbangga hati di dalam hidupnya cenderung menghadapinya dengan lebay dan agresif bahkan bisa saja bertindak kasar terhadap sesama. Oleh karena itu, ada baiknya jika semakin banyak keunggulan dalam hati maka perlu semakin intens menyangkal diri sendiri. Hilangkan kebiasaan memuji diri sendiri di dalam hati melainkan puji-pujilah Allah seumur hidup kita. Terbiasalah merendahkan diri dengan tidak sungkan untuk beramah-tamah, bersih-bersih, rapi-rapi dan lain-lain di daam keluarga. Kami sendiri berusaha menekan diri sendiri dengn ramah terhadap semua orang, termasuk kepada anak kecil.

Mau diropotkan oleh soal-soal kehidupan

Sebagian dari kita mungkin begitu mengagung-agungkan kenyamanan hidup bahkan sangat mencari hal tersebut dengan tekun dan teliti lewat kerja keras dan kerja cerdas. Perlu disadari bahwa dalam banyak perkara sosial, akan kita temukan banyak momen dimana harus repot-repot dalam menjalani semuanya itu. Misalnya saja, saat seseorang berusaha untuk mempersulit kehidupan kita maka akan lebih ribet jalur yang ditempuh. Dari kerumitan itulah mereka ingin menjebak kita sehingga mengambil jalan pintas. Tentu saja semakin instan jalannya akan semakin tinggi resikonya mengalami tabrakan kepentingan dengan sesama. Dalam banyak permasalahan sosial, kita hanya perlu mengikutinya saja sekali pun terkesan “ribet buat repot saja!” Tetap fokus bernyanyi memuji Tuhan agar Dia menginspirasikan kita cara terbaik dan praktis untuk melewati semuanya itu namum tetap memperhatikan aturan main yang berlaku.

Aktivitas ramah tamah juga termasuk salah satu kebiasaan yang merepotkan kita. Akan tetapi oleh karena manfaatnya yang mengantarkan kita untuk lebih tabh menghadapi ujian kehidupan yang lebih besar sehingga terus ditekuni. Kerepotan kita untuk bersikap santun bukanlah aktivitas yang sia-sia melainkan ini juga sebagai salah satu kebaikan hati yang diperhitungkan di sorga kelak. Bahkan bisa dikatakan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan hati selalu butuh jiwa yang mau melayani dan rela berkorban.  Tentulah yang namanya seorang pelayan yang loyal perlu selalu berlelah untuk memikirkan apa lagi yang harus dilakukan demi kebaikan orang lain.  Mereka yang selalu menempatkan dirinya untuk melayani sesama tidak akan menemukn hambatan yang besar saat menghadapi masalah yang memaksanya untuk bekerja lebih/ memberikan lebih.

Mau selalu tabah/ kuat/ bertahan menghadapi permasalahan yang muncul

Perlu dipahami bahwa hidup ini adalah proses. Segala sesuatu ada jalur dan tahapannya. Baiklah kita untuk tetap tenang dan patuh mengikuti setiap proses kehidupan. Banyak perkara yang melibatkan orang lain, kita dituntut untuk lebih sabar menghadapinya. Entah itu hanya soal-soal yang berhubungan dengan kekerasan verbal atau ada kaitannya dengan masalah relasi terhadap sesama. Situasi pelik apa pun yang membuat kita tersakiti pastilah membutuhkan ketabahan hati dalam menghadapinya. Bahkan di tengah kesesakan hebat sekali pun, tidak perlu cengengesan, menghindar apalagi melarikan diri melainkan cobalah untuk bertahan. Kemampuan seseorang untuk bertaham mengahadapi beratnya lika-liku kehidupan akan melatih daya tahan mentalnya sehingga tidak mudah patah semangat atau putus asa saat persoalan menghimpit. Mereka yang sanggup menghadapi soal-soal kehidupan yang sederhana akan dimampukan untuk menjalani masalah sosial yang lebih kompleks menyita banyak waktu dan emosi juga materi.

Kami sendiri memaksakan diri untuk melatih kesabaran dengan memberi celah kepada orang lain untuk menguji diri ini. Artinya, tidak mau main aman-aman saja, diam-diam sehingga tidak bisa terjebak oleh kata-kata yang terucap. Melainkan kami menggunakan kata-kata ini untuk ramah, memberi perhatian dan memuji sesama. Ketahuilah bahwa aktivitas yang santun semacam ini beresiko tinggi diabaikan oleh orang lain. Tetapi bagi kami itu sudah bagus adanya sebab dengan demikian kesabaran di dalam hati diuji. Adalah lebih baik bagi kita untuk dicobai orang lewat kebaikan yang dilakukan dari pada bermasalah karena kejahatan: itu namanya hukuman! Sikap cari aman dan cari nyamannya saja memang awalnya baik tetapi pas diterpa oleh angin sepoi-sepoi saja sudah gundah gulana hati ini. Bila kita memberi celah kepada sesama untuk menguji diri ini tiap-tiap hari niscaya akan menjadi terbiasa bahkan membudaya dimana rasa perihnya sudah lenyap berubah menjadi sukacita.

Kesimpulan

Tidak ada pergumulan hidup yang terlalu besar untuk kita hadapi sebab semua cobaan yang datang tidak melebihi kekuatan kita. Hanya saja, terkadang kita belum membersihkan hati dari kesombongan, kedengkian dan ketakutan/ kecemasan sehingga ujian tersebut lipat kali ganda terasa semakin berat saja menyesakkan kehidupan ini. Akan tetapi, jika sikap kita sudah bersih dari berbagai sifat angkuh, iri dan kuatir maka semua ujian sosial yang berlangsung di sekitar pastilah bisa kita tanggung sampai akhir. Orang yang merendahkan hatinya akan lebih luwes dalam menghadapi gejolak sosial. Mereka yang mau repot melayani dan mengikuti aturan pastilah dimampukan untuk tetap tenang menghadapi masalah dengan sesama  Tegar menghadapi segala cobaan di dalam masyarakat mengajari kita untuk menjadi pribadi yang bermental tangguh. Biarkanlah orang-orang menguji kita lewat kebaikan yang dihaturkan pada momen yang tepat. Biarlah itu menjadi celah untuk membiasakan diri dengan rasa sakit hingga suatu saat menjadi budaya yang menyukakan hati. Juga jangan lupa bahwa energi kebaikan hati berasal dari aktivitas pikiran yang selalu fokus kepada Tuhan.

Salam, Hidup seperti siang dan malam.
Berkat dan masalah silih berganti.
Demikian hidup selalu berputar dalam sistem.
Biasakan diri hingga menjadi budaya asli
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.