Kepribadian

Bahagia Adalah Senang Terus-Menerus, Kebahagiaan Adalah Kesenangan Yang Benar

Bahagia Adalah Senang Terus - Kebahagiaan Adalah Kesenangan Yang Selalu Ada

Hidup ini hanya sesaat saja, seperti balok es yang keras membeku namun dalam waktu yang relatif singkat sudah tidak ada lagi. Kekerasannya yang dingin telah hilang bahkan bentuknya sudah tidak kelihatan lagi. Hanya dalam masa yang singkat saja, wujud batu es tersebut akan kembali menyatu dengan lingkungannya, meresap ke dalam tanah atau menggenangi/ membasahi permukaan benda padat. Demikianlah singkatnya masa-masa kehidupan kita seperti layaknya salah satu dari komponen alamiah yang terdapat di bumi. Kita terbentuk oleh proses-proses alamiah namun akan hilang pula dalam proses alamiah tersebut. Sebab setiap orang yang pernah hidup pasti akan mati namun siapakah yang mengetahui akan mengarah ke mana kehidupan ini? Apakah ke sorga atau neraka?

Pengertian

Menurut hemat kami, gambaran kehidupan kita di masa depan (saat hidup di sorga), kita rasakan pula saat ini (saat masih di dunia). Artinya, sukacita sorgawi yang dirasakan kelak saat memasuki nirwana dan berjumpa dengan Sang Pencipta turut kita rasakan selama menjalani sisa hari-hari hidup di bumi yang fana ini. Sukacita sorgawi tersebut adalah kebahagiaan yang tetap ada di dalam hati sekali pun ada banyak gejolak kehidupan (pergumulan) yang mendatangi kita. Sedang “kebahagiaan itu sendiri adalah kesenangan hati yang selalu dirasakan walau pun hidup kadang baik – kadang buruk.” Memang pada mulanya kita merasakan kesenangan saat mencicipi kenikmatan dan kemuliaan duniawi namun seiring dengan perkembangan otak dan kepribadian masing-masing kita bisa menciptakan hal tersebut di dalam hati.

Defenisi – Bahagia adalah rasa senangnya hati yang tetap ada di tengah gonjang-ganjing yang syarat akan fluktuasi kehidupan. Bisa dikatakan bahwa berbahagia adalah soal bagaimana cara mempertahankan kesenangan hati masing-masing tanpa harus candu terhadap nikmat duniawi dan situasi di sekitar kita.

Selama kita menjalani kehidupan di dunia ini, terdapat dualisme rasa yang selalu nyata dalam setiap hari yang dijalani: ada kebaikan – ada keburukan; ada rasa sakit – ada rasa nyaman; ada berkat – ada penderitaan. Pada dasarnya semuanya itu mendatangkan manfaat nyata dalam setiap hembusan nafas yang diambil. Hal-hal baik mengajari kita untuk bersyukur, demikian pula sesuatu yang buruk melatih kita untuk tetap mensyukurinya. Semuanya ini berawal dari sikap hati yang tulus ikhlas menerima kenyataan hidup apa adanya. Kemudian kita perlu belajar untuk membiasakan diri dengan ujian kehidupan, yaitu masalah yang kerap kali membuat hati terluka. Juga tetap akrab kepada siapa pun termasuk terhadap si pembuat masalah. Mereka yang sudah terbiasa dan teruji kepribadiannya dimampukan menerima rasa sakit dengan ikhlas dan penuh sukacita (bahagia).

Bisa dikatakan bahwa bahagia itu adalah suasana hati yang selalu senang walau pun situasi di luar diri kita berubah-ubah. Seperti kita ketahui bersama bahwa kehidupan ini layaknya siang dan malam yang selalu bergonta ganti namun kebahagiaan kita sifatnya selalu konsisten. Sebaik atau seburuk, sepositif atau senegatif apa pun situasi di lingkungan sekitar, itu tidak akan dapat mempengaruhi suasana hati terkecuali bila pikiran terlalu fokus kepada hal-hal duniawi tersebut. Orang yang berbahagia mengalami keindahan jiwa yang terus-menerus mengembang seperti lampu yang selalu hidup dan bunga yang selalu mekar. Situasi jiwa yang bagus tenang seperti air yang dalam yang terlihat tenang sekali pun ada orang iseng mengguncang, memukul, menendang dan melemparnya. Memang untuk sesaat saja terjadi guncangan namun lama kelamaan akan kembali tenang karena telah mampu menyesuaikan diri.

Perbedaan dan persamaan antara kebahagiaan dan kesenangan

Pada dasarnya, kesenangan itu kita peroleh lewat kenikmatan dan kemuliaan duniawi yang dicicipi oleh indra dari waktu ke waktu. Akan tetapi, kebahagiaan bersumber dari aktivitas yang ditekuni di dalam hati/ pikiran lalu diwujudnyatakan lewat perkataan dan perbuatan sehari-hari. Artinya, orang yang senang biasanya disebabkan oleh pesona duniawi yang memukau indra sedangkan mereka yang bahagia disebabkan oleh kemampuan menjaga suasana hati tetap berputar dalam ranah yang positif. Mudah saja untuk merasakan senangnya dunia ini, “ayo belanja – beli ini, beli itu.” Namun untuk menjadi orang yang bahagianya konstan dibutuhkan latihan kehidupan yang mengharuskan kita untuk menjalani ujian kehidupan (pencobaan). Simak juga kawan, Beda senangnya hidup dan bahagianya hati.

Menikmati hidup terus-menerus atau dimuliakan terus-menerus, apa itu akan terus terasa senang? Tidak! Justru ketika kita menikmati hidup secara terus-menerus bahkan menjadi maraton. Justru akan menciptakan kejenuhan yang ujung-ujungnya memuakkan hati. Hidup ini akan terasa membosankan jika itu-itu saja kerjanya menikmati gemerlapan duniawi yang fana. Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa raga ini membutuhkan hal-hal materi tetapi semuanya itu harus memerhatikan tempo dan momen yang tepat. Justru bila temponya terlalu sering akan sangat berbahaya bagi kesehatan fisik. Misalnya saja, orang yang terlalu banyak makan/ ngemil cemilan bisa terkena diabetes, kolesterol, asam urat, obesitas dan berbagai penyakit lainnya. Jadi jelaslah bahwa kita tidak bisa senang terus dengan memperbanyak belanja/ meningkatkan jumlah konsumsi.

Lain halnya dengan kebahagiaan, kita bisa merasakannya secara terus-menerus seumur hidup hingga ajal menjemput. Sebab asal dari nikmat tersebut bukan dari luar diri kita melainkan dari dalam hati sendiri yang akan diekspresikan lewat sikap hidup yang dijalani hari lepas hari. Yang perlu kita lakukan adalah memutar suasana hati dalam ranah positif sambil memunculkan rasa senang di tengah-tengahnya. Aktivitas pikiran yang berupa siklus inilah yang secara alamiah membuat hidup selalu senang walau kadang hujan-panas, ribut-diam, suka-duka, nyaman-sakit sedang berlangsung di lingkungan sekitar kita (di luar diri sendiri). Tentu saja hal ini kembali lagi kepada seberapa banyak latihan yang ditempuh dan seberapa banyak persoalan hidup yang telah dilalui oleh tiap-tiap orang. Cermati juga, Bagaimana rasanya menjadi orang yang berbahagia?

Bahagianya hati tetap karena sikap yang diekspresikan konsisten

Apa yang bersumber dari dalam hati masing-masing adalah tanggung-jawab kita pribadi lepas pribadi. Pikiran anda sepenuhnya berada di bawah kendali sendiri. Sedang di satu pihak, kedagingan kita mencoba menimbulkan bias dengan berusaha menimbulkan hal-hal jahat di dalam hati masing-masing. Mulai dari kebiasaan menghakimi tanpa dasar, mengeluh/ sungut-sungut, prasangka buruk, dengki, angkuh, cemburu, kebencian (ilfil dengan sesuatu/ seseorang), kejahatan, kebohongan, menelanjangi orang, suka sesama jenis, pedofil dan berbagai potensi negatif lainnya. Semua bentuk mental kriminal tersebut akan terus bermunculan di dalam hati tanpa disadari: itulah perbuatan daging! Sadar atau tidak, pemikiran semacam ini kadang merayu kita dengan “mencoba menawarkan rasa senang sesaat yang kelihatan & kedengarannya waw….” Akan tetapi, selalu sadarilah bahwa semuanya itu justru akan semakin menjauhkan kita dari kesenangan sejati alias kebahagiaan hakiki.

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan di dunia ini selain melakukan apa yang baik dan benar kepada Allah Yang Maha Mulia dan terhadap sesama manusia. Memang harus diakui bahwa untuk melakukan kebenaran butuh latihan dan manajemen pola pikir baik yang secara langsung ditantang oleh ujian kehidupan. Biarlah kita dicobai orang lain lewat kebaikan hati yang ditempuh. Seperti jalan hidup Yesus Kristus demikianlah jalan hidup kita mirip-mirip dengan-nya semata-mata berjuang demi kebenaran hakiki. Bukankah itu justru baik adanya sebab dengan demikian otak selalu aktif berputar pada ranah positif. Dimana hal-hal positif ini dapat menekan kedagingan negatif yang selalu bisa dilakukan kapan pun, dimana pun dan apa pun yang sedang dialami dalam setiap denyut nadi ini. Saat kita memutar pikiran ke arah yang benar niscaya orang lain senang, lingkungan girang dan hati sendiri pun bahagia.

Kesimpulan

Siapa pun di dunia ini bisa saja menikmati indahnya dunia sehingga menimbulkan sensasi rasa senang. Tetapi, selalu ingatlah bahwa itu hanya sesaat saja. Kita tidak mungkin hidup terus-menerus dalam keduniawian tersebut. Meningkatkan intensitas kenikmatan dan kemuliaan duniawi justru semakin mendorong kita dalam kejenuhan yang berujung pada kehampaan hidup seolah segala sesuatu sia-sia belaka. Ada baiknya bila mulai saat ini, kita membatasi konsumsi (bukan meniadakannya sama sekali) agar rasanya tetap segar menggelegar. Sedang kesenangan sejati yang terus-menerus ada diperoleh dengan mengusahakan kebenaran walau pun kadang-kadang menantang. Hal tersebut justru bagus sebagai latihan untuk mempertahankan kesenangan hati yang konsisten. Mari fokuskan pikiran kepada Tuhan dalam doa, firman dan nyanyian pujian untuk kemuliaan nama-Nya. Serta berlaku baiklah kepada sesama seadil-adilnya di tengah pendidikan dan pekerjaan yang digeluti.

Fokus Tuhan Adalah Sumber Kebahagiaan Utama, Pertama dan Terbanyak - Bahagia Adalah Senang Terus-Menerus Selalu Ada

Salam, Senang itu tergantung dari luar,
Bahagia itu tergantung dari dalam,
Belajarlah menekuni yang benar,
Agar bahagiamu selalu tajam!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.