Kata-Kata Bijak & Motivasi Kehidupan

10 Cara Menilai Kehidupan, Membandingkan Hidup Dengan Mata Hati Yang Bersih

Cara Menilai Kehidupan Yang Benar, Membandingkan Hidup Dengan Mata Hati Yang Bersih

Potensi terbesar manusia adalah pikiran, manfaatkan sebaik-baiknya

Dianugerahi kemampuan otak yang tinggi, manusia suka mengamati, menimbang-nimbang, membandingkan dan menilai situasi di lingkungan sekitarnya. Ini kerap kali terjadi secara otomatis tanpa kita sadari tiba-tiba saja muncul berbagai telaah tentang sesuatu yang sedang terjadi. Semuanya itu, merupakan tabiat dasar manusia yang bawaannya cerdas dan suka mereka-rekakan banyak hal di sekelilingnya. Apabila kita mampu mengarahkan hal tersebut maka akan lebih banyak manfaat ke wilayah yang dituju. Jika mengarahkannya kepada hal-hal negatif maka berbagai rupa penalaran aneh pun akan digelar di hadapan pikiran. Namun, mereka yang selalu mengarahkan hatinya untuk memuji-muji Tuhan niscaya akan lebih banyak muncul hal positif. Sedang yang negatif memang muncul  hanya langsung dikenali bahwa itu kurang bagus dan perlu diabaikan.

Ada sisi negatifnya yang buruk

Pada satu sisi kehidupan, saat kita mencoba menilai sesuatu, bisa saja muncul rasa sombong karena merasa lebih baik dari orang-orang tersebut. Namun bisa juga kedengkian semakin menebal karena orang ini – itu masih jauh lebih baik dari keadaan kita. Menilai kehidupan sesama memang jelas beresiko tinggi terhadap pandangan pribadi yang cenderung menghasilkan energi negatif berpotensi merusak persepsi dan sikap sehari-hari. Hanya penilai yang mampu membebaskan dirinya dari iri hati, keangkuhan dan ketakutan sajalah yang dapat memberikan pandangan yang baik tentang kehidupan sesama. Jika ketiga hal tersebut belum dibersihkan dari dalam pikiran maka akan menjadi penghambat yang membuat penilaian yang dilakukan cenderung menjadi suudzon (prasangka buruk) yang tidak berdasar. Jalan juga ke mari ya, Akibat lebay menilai orang lain.

Ada sisi positifnya yang kaya

Di lain pihak, kemampuan manusia menilai lingkungan sekitarnya menjadi suatu kekuatan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertiannya tentang kehidupan. Ilmu tersebut bisa dimanfaatkan untuk menilai sejauh mana perkembangan dirinya dan apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai hal-hal positif di dalam kehidupan. Bagaimana membuat suatu aktivitas/ kebiasaan menjadi lebih efektif dan efisen namun memberikan hasil maksimal. Semua pengetahuan tersebut dapat dimanfaatkan juga untuk memutar sumber daya sehingga selalu ada dari waktu ke waktu. Hasil membanding-bandingkan juga bisa membantu kita untuk mensyukuri, memuaskan, mendamaikan, membahagiakan dan menentramkan hati juga. Hanya saja, sudahkah kita melakukan penilaian/ telaah yang benar atas hidup ini sehingga turut memberikan manfaat positif bagi kehidupan yang dijalani?

Pengertian

Menilai kehidupan merupakan aktivitas mengamati, menganalisis (membanding-bandingkan) dan merumuskan situasi yang sedang dihadapi untuk diambil makna positifnya sedang yang negatifnya diabaikan saja. Jelaslah bahwa aktivitas ini bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan tetapi orang yang mau memberi perhatian lebih terhadap kehidupan di sekelilingnya sembari mencondongkan hati kepada hal-hal yang benar akan dimampukan untuk belajar dari alam. Sebab pada dasarnya segala ilmu yang kita miliki sumbernya berasal dari pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Baik pengamatan yang menggunakan waktu singkat maupun pengamatan jangka panjang. Semuanya itu, tergantung dari kemauan dan tujuan kita mempelajari makhluk lain yang terdapat dalam lingkungan alamiah.

Penilaian yang salah terhadap situasi atau sesama

(Lukas  6:41-42) Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Kita hanya mampu menilai sesuatu dengan baik saat hati dan sikap sehari-hari sudah benar adanya. Sebab seperti yang diutarakan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, “mustahil orang yang tidak mengenal kesalahannya mampu mengenali kesalahan orang lain.” Oleh karena itu, sebelum kita mencermati detail terkecil dari lingkungan dan makhluk hidup lainnya juga dari sesama manusia. Ada baiknya jika terlebih dahulu membersihkan hati dari segala niat jahat dan menyucikan sikap dari segala bentuk dosa. Pelanggaran yang kita lakukan di hadapan Allah dan di hadapan manusia beresiko tinggi mengacaukan pikiran sehingga penuh dengan kedengkian, keangkuhan dan ketakutan. Tiga hal ini saja, sudah bisa menjadi balok yang menghalangi penelaahan kita terhadap situasi yang sedang berlangsung di sekitar. Jadi, “murnikanlah terlebih dahulu hati dan sikap dari kejahatan, baru setelah itu nilai segala sesuatunya.”

Cara menilai atau membanding-bandingkan kehidupan yang baik dan benar

Tidak cukup hanya kedewasaan dan umur yang tinggi agar dimampukan untuk menganalisis sesuatu. Kita juga butuh pikiran yang bersih dari segala dosa dan tujuan yang sempit. Perlu juga, memerhatikan sikap (perkataan dan perilaku) yang diekspresikan sehari-hari agar tidak salah terus-menerus. Manusia memang bisa khilaf sehingga teledor melakukan pelanggaran sederhana tetapi pelanggaran yang diulang-ulang adalah dosa yang disengaja dan terencana. Tuhan tidak menyukai orang yang hobi merencanakan dosanya lalu sekonyong-konyong menganggap diri bisa masuk sorga: “emang sorga sarang penyamun dan orang-orang licikkah?” Sadarilah bahwa Allah yang kita sembah adalah suci maka baiklah kita juga menyucikan diri agar mata hati jernih saat menelaah segala sesuatu. Semuanya itu agar telaah/ analisis yang kita lakukan tidak menjadi ramalan kosong tanpa dasar yang logis karena dikotori oleh sudut pandang yang kurang tepat.

Berikut ini akan kami tampilkan beberapa kiat apa adanya saat membanding-bandingkan segala sesuatu.

  1. Bersihkan hati dari kejahatan.

    Otak manusia layaknya seperti internet dimana segala sesuatu ada di sana, mulai dari yang baik sampai buruk dan yang positif sampai negatif. Kuncinya adalah “bagaimana caranya agar pikiran ini hanya berputar-putar pada ranah positif saja?” Tentulah yang kita butuhkan untuk mewujudkan keadaan ini adalah aktivitas otak yang positif. Berusahalah untuk mengisi hati lewat puji-pujian demi kemuliaan nama Allah. Kita juga bisa mengisinya dengan berdoa atau membahas-bahas tentang firman. Manusia yang memiliki hati yang condong kepada Sang Pencipta akan selalu berpikiran positif. Memang dosa yang buruk-buruk itu selalu saja menggoda hati namun bisa dikenali dengan sigap dan diabaikan dengan segera.

    Pikiran yang bersih membuat Roh Kudus menetap di dalam hati. Dialah yang sesungguhnya akan menunjukkan berbagai cuplikan ingatan yang menambah inspirasi hidup. Semuanya itulah yang membuat proses membanding-bandingkan yang kita lakukan memberi hasil yang sangat mendekati kebenaran.

  2. Bersihkan sikap dari pelanggaran.

    Pada dasarnya, hati yang bersih sudah secara otomatis membersihkan sikap dari berbagai dosa. Sebab apa yang diperkatakan dan diperbuat manusia sumber perbendaharaannya berasal dari dalam hati. Perlu sekali dalam hidup ini untuk menyibukkan diri dengan aktivitas positif. Jangan bangga dengan status “tidak bekerja, santai menikmati hidup.” Justru keadaan tersebut berpotensi besar melemahkan hati sehingga teledor melakukan dosa kecil sampai besar.

    Sibukkan diri dengan cara bekerja dan belajar. Bila sedang tidak ada kerjaan silahkan memuji-muji Tuhan di dalam hati atau doakanlah masa-masalah yang sedang berlangsung di sekitar kita. Bisa juga dengan membaca, mendengar dan mempelajari firman-Nya. Termasuk sikap yang rendah hati berbuat baik atau melayani sesama seadil-adilnya. Sebab “orang yang bersih dari kejahatan secara otomatis hidupnya dipenuhi dengan sikap yang benar.”

  3. Jangan menilai sesuatu dengan tujuan sempit.

    Sadarilah bahwa segala sesuatu yang berlangsung dalam hidup kita dipengaruhi oleh “apa yang menjadi tujuannya?” Sebaik apa pun tutur kata dan tindakan yang ditempuh, jika tujuaannya demi pendapatan yang lebih besar, pujian yang bersahut-sahutan dan penghargaan yang tidak putus-putusnya. Niscaya, pencapaian hal-hal semacam ini cenderung mengarah kepada hal-hal negatif.

    Saat sedang berusaha membandingkan sesuatu, bersihkanlah niat hati dari “keinginan membalas dendam.” Penilaian yang dikotori oleh dendam pastilah hasilnya buruk adanya.

    Jangan menilai seseorang karena mendengki dengan keadaan hidupnya sebab iri hati hanya menambah noda dalam analisis yang kita gunakan.

    Hindari menelaah sesuatu namun terlebih dahulu merendahkan hal tersebut di dalam hati. Sikap sombong semacam ini akan menjadi lumpur yang akan menilai sesuatu lebih rendah dari yang seharusnya.

    Batasi diri untuk menganalisis sesuatu bila tujuannya untuk membela. Karena orang tersebut adalah sahabat atau kerabat kita maka akan dilemparkan berbagai analisis hampa yang memberi hasil lebih tinggi dari yang seharusnya.

    Murnikanlah tujuan anda saat melakukan aktivitas membanding-bandingkan tersebut sehingga dihasilkan suatu analisis yang benar-benar akurat terpercaya bahkan menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri mau pun orang lain.

  4. Membandingkan kehidupan dengan hewan.

    Dari sinilah sebenarnya kita belajar membanding-bandingkan kehidupan yang dijalani hari lepas hari. Sebab membandingkan hidup dengan sesama manusia beresiko menciptakan iri hati dan kesombongan. Tetapi marilah kita belajar dari hewan-hewan di sekitar kita yang terus saja beraktivitas dari waktu ke waktu.

    Raja Salomo juga suka membandingkan kemanusiaan dengan aktivitas hewan di sekitar. Seperti saat menilai semut yang hidup dalam kesetaraan namun sangat rajin dan gigih mencari makanannya. Aktivitas kehidupan mereka sungguh tidak ada taranya bila dibandingkan dengan manusia yang cenderung suka malas-malasan.

    Tuhan Yesus Kristus juga suka membandingkan kehidupan manusia dengan hewan. Saat Ia mengatakan dalam firman-Nya, (Matius 6:26) Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

    Belajarlah aktif berkomunikasi sekali pun orang yang menanggapinya minim. Seperti katak/ kodok, burung dan ayam. Mereka hewan yang mengeluarkan suara pada momen tertentu, padahal tidak ada yang memanggil atau menjawabnya. Makhluk-makhluk ini suka bernyanyi memuji nama Tuhan padahal tidak ada yang peduli, tidak ada yang bertepuk tangan dan tidak ada yang menghargainya.

    Lihatlah kepada ayam, anjing dan kucing yang beraktivitas dengan riangnya sekali pun tidak memiliki harta benda berlimpah, jabatan dan kenyamanan hidup lainnya. Belajarlah dari kehidupan hewan di sekitar maka anda bisa mensyukuri sesederhana apa pun kehidupan yang kita jalani masing-masing.

  5. Membandingkan kehidupan dengan tumbuhan.

    (Lukas 12:27) Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

    Jika anda hendak menilai sesuatu sebagai bahan perbandingan, belajarlah dari kehidupan tumbuh-tumbuhan di padang belantara. Jika bunga bakung saja bisa didandani Allah sedemikian rupa, terlebih lagi manusia yang lebih berharga dari bunga bakung itu. Berupayalah untuk rendah hati dan tampil apa adanya sebab dalam kesederhanaanlah terletak keindahan sejati.

    Mari belajar sabar dari pohon. Seberapa pun anda melukainya, apa dia pernah mengeluh lalu pengennya mati saja? Tidak, bahkan sekali pun anda menebas batangnya sampai habis. Tidak lama kemudian tunas-tunasnya akan bermunculan dari tungkulnya sehingga ia terus tumbuh tinggi dan lebih besar lagi.

    Kita bisa belajar bersyukur lewat membandingkan hidup ini dengan kehidupan hewan dan tumbuhan di lingkungan sekitar. Makhluk tersebut begitu sederhana tetapi semangatnya untuk terus hidup tetap nyata. Perhatikan baik-baik kehidupan hewan dan tanaman di sekitar, mereka tidak memiliki harta dan jabatan dan kekuasaan tetapi terus melanjutkan hidupnya. Bahkan ada di antara mereka yang terus-menerus menyanyikan lagu yang sama untuk memuji Tuhan

  6. Membandingkan kehidupan dengan lingkungan alamiah

    Orang yang kreatif dan inovatif selalu bisa membaca lingkungan sekitarnya untuk diambil makna positif demi hidup yang lebih baik. Sebab kehidupan kita berawal dari pikiran yang cerdas dan bijak sehingga menghasilkan sikap yang santun melaksanakan kewajibannya dengan benar. Seperti Daud yang selalu membandingkan Allah dengan gunung batu yang meluputkan dirinya dari ancaman musuh. Demikian juga saat Yesus Kristus mengumpamakan diri sebagai air hidup yang akan terus mengalir di dalam hati manusia. Memberi kesegaran terhadap diri sendiri dan mewartakan kebaikan kepada sesama.

  7. Membandingkan kehidupan dengan manusia secara umum.

    (Matius 24:43) Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.

    (Yesaya  49:15) Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.

    Kita juga bisa membanding-bandingkan diri dengan sesama manusia lainnya. Hanya saja sebaiknya penilaian yang dilakukan sifatnya umum dan tidak menyebutkan nama oknum tertentu. Kita perlu menjaga perasaan orang lain sebagaimana melindungi perasaan sendiri. Namun yang namanya kebenaran haruslah tetap dinyatakan, tentu saja dengan mengambil momen yang tepat.

    Seperti perbandingan yang dilakukan oleh Tuhan melalui nabi Yesaya. Seorang ibu, ayah dan kerabat sekali pun mungkin akan melupakan kita. Tetapi sadarilah bahwa Tuhan tidak akan pernah melupakan umat yang dikasihi-Nya. Jadi, berbahagialah dan tetap semangat menjalani hidup walau cobaan yang datang menghempaskan kadang-kadang berat. Bukankah di sela-sela pergumulan tersebut terdapat hal-hal baik yang bisa kita nikmati? Jadi, bersyukurlah senantiasa.

    Tuhan Yesus Kristus sendiri memberikan banyak perumpamaan yang bercerita langsung tentang pengalaman yang berhubungan dengan kemanusiaan. Silahkan lihat, baca dan pelajari semuanya itu. Bukankah semuanya sudah tertulis jelas dalam Alkitab masing-masing? Dia sangat ahli dalam mengambil contoh-contoh kehidupan sehingga setiap perumpamaan yang diutarakan masuk akal dan penuh kemaknaan.

  8. Membandingkan kehidupan dengan aksesoris/ properti.

    (Yeremia 2:32) Dapatkah seorang dara melupakan perhiasannya, atau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya? Tetapi umat-Ku melupakan Aku, sejak waktu yang tidak terbilang lamanya.

    (Mazmur  61:4) Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh.

    (Mazmur  59:10) Ya kekuatanku, aku mau berpegang pada-Mu, sebab Allah adalah kota bentengku.

    (Matius 7:24-25) “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.

    (Matius  13:44) “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

    (Matius 7:6 “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

  9. Membandingkan kehidupan dengan pergerakan cuaca/ iklim.

    (Matius 16:2-3) Tetapi jawab Yesus: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak.

    Jika anda sudah mengenyam banyak pengalaman selama menjalani hidup, ada berbagai-bagai pola alamiah yang dapat dipelajari. Salah satunya adalah cuaca. Biasanya saat hari mau hujan, langit akan berubah warna, kabut akan menghitam dan suhu udara menjadi dingin. Ini hanyalah kemungkinan besar. Demikian juga saat matahari terik menyinari, langit menjadi cerah dan tidak ada sedikit pun awan yang bisa diamati.

  10. Membandingkan kehidupan dengan aktivits alam semesta.

    (Ayub 26:7) Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.

    Jika anda bisa memahami alam semesta maka akan menemukan bahwa segala sesuatu berputar-putar pada siklus yang konstan. Seharusnya demikianlah kehidupan kita yang tetap nikmat dan bahagia sekali pun berputar-putar dalam pola yang sama dari waktu ke waktu.

    Sama halnya dengan pergerakan siang dan malam yang terus bergonta-ganti. Selalu ada hal positif dan ada juga yang negatif, terdapat suka dan ada duka, semua ini berlangsung secara bergonta-ganti. Di sela-sela rasa sakit yang kita terima bisa saja berbagai berkat lain turut bermunculan. Kita perlu menerima semuanya itu dengan ikhlas sambil merendahkan diri.

    Sama halnya dengan matahari sebagai satu-satunya pusat tata surga. Tidak ada matahari lain seperti yang diungkapkan oleh para ahli di zaman entah-berantah Yang menyebutkan bahwa terdapat banyak galaksi di luar sistem tata surya kita. Pemahaman bahwa ada banyak matahari sama halnya dengan melegalkan sistem multikapitalisme di dalam masyarakat. Akan tetapi, sistem tata surya dengan satu matahari mengindikasikan bahwa seluruh alam semesta murni beraliran sosialisme. Sebab hanya ada satu penguasa yang pantas diikuti, yaitu Tuhan Allah semesta alam. Demikian juga halnya dalam sebuah negara hanya terdapat satu kapitalis yakni negara itu sendiri. Sedang semua manusia adalah setara.

Pengalaman pribadi

Ada beberapa ekor kucing yang kerap kali bertandang ke rumah kami. Saat diperhatikan dengan seksama, bulunya tidak halus, badannya tercoreng-corong dan bentuknya secara umum sungguh tidak enak diamati. Tetapi mereka tidak peduli dengan penampilannya dan tidak peduli juga dengan tanggapan pihak lain tentang dirinya juga selalu melupakan perlakuan buruk terhadap dirinya. Yang lebih penting baginya adalah bertahan hidup dengan merendahkan diri sambil memohon-mohon dan mengelus-eluskan ekornya kepada siapa saja pihak yang dirasanya bisa membantunya. Dari sini kami bisa belajar soal penampilan itu tidak penting. Melainkan jadilah pribadi yang rendah hati dan selalu berupaya untuk bertahan agar tetap hidup di dunia ini.

Jangan terlalu fokus mengamati sesama manusia untuk menjadi bahagia. Melainkan lihatlah kepada hewan dan tumbuhan di sekitar kita, niscaya ada kelegaan karena mereka enjoy dan happy aja menjalani hidup apa adanya. Bukankah seharusnya suasana hati kita bisa lebih baik lagi dari itu? Saksikan juga, Kiat menambah semangat hidup.

= Kesimpulan =
membaca dan membandinkan kehidupan kita dengan makhluk lain dan lingkungan adalah  baik

Ada banyak hal positif yang dapat menambah ilmu pengetahuan kita. Salah satu yang terbaik adalah dengan menjadi naturalis yang selalu mempelajari pergerakan alamiah yang berlangsung di sekitar. Bila hendak belajar puas, bahagia dan bersyukur sekali pun di tengah masalah, lihatlah kepada hewan dan tumbuhan. Mereka adalah makhluk yang mungkin dianggap sepele oleh banyak orang angkuh tetapi perhatikan betapa semangat dan betapa indah bentuknya. Jika hewan saja bisa sesemangat itu menjalani hidup walau sering diperlakukan tidak adil, mengapa kita tidak bisa lebih bersemangat menjalani hidup? Apabila tanaman saja selalu tampil indah apa adanya maka terlebih lagi manusia yang akan menampilkan sisi eksotisnya masing-masing jika hidup ikhlas seadanya dirinya. Hewan pun PD aja bicara sendiri tak ada yang menanggapi maka terlebih lagi dengan kita yang tetap santai melanjutkan hidup sekali pun keramahan ini kadang kurang ditanggapi orang. Jadilah naturalis,  cintai lingkungan dan manfaatkan secukupnya saja sebab dari sanalah sumber nafkah dan wawasan yang selalu ada.

Salam, Bandingkan kehidupan
bukan dengan hidup orang lain,”
Bandingkan dengan makhluk lain dan lingkungan,
Niscaya ada rasa syukur, semangat dan kepuasan!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.