Kepribadian

Manusia Takkan Bisa Sempurna – Terima Kelemahan Diri Apa Adanya

Manusia Tak Akan Pernah Bisa Sempurna - Terima Kelemahan Diri Apa Adanya

Sedari awal, manusia tidak sempurna

Bukan yang pertama tetapi yang terakhir diciptakan, itulah fakta yang menunjukkan bahwa kehidupan kita sungguh berada dalam faktor yang paling lemah. Pihak yang paling akhir selalu mengindikasikan bahwa butuh perlindungan dari ragam kekuatan yang sudah ada terdahulu. Jadi, sebagai makhluk yang tahu diri, tanpa titik koma: “tidak ada hal yang dapat kita anggarkan” di tengah semua kenyataan yang menunjukkan bahwa kitalah yang terlemah itu. Jadi, apa pun keunggulan kita saat ini, tidak perlu membanggakan diri karena sekalipun kita “agak lebih dari diri ini,” tetap saja membutuhkan peran orang lain dan lingkungan sekitar. Melainkan rendahkanlah hati di dalam rasa kebersamaan sebab saat semuanya dipersatukan dalam kesetaraan, keberadaan kita akan terus terjamin hingga ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Kemampuan memanajemem seluruh komponen alam semesta dalam satu kesatuanlah yang menyempurnakan kehidupan manusia.

Sejak dari awal, nenek moyang kita adalah orang-orang yang arogan

Bila kita mengikuti kebiasaan nenek moyang kita yang terdahulu dimana mereka selalu terjebak dalam praktek manipulasi sesat yang menuntut pengorbanan. Jalan yang salah ini ditempuh semata-mata demi menempatkan dirinya jauh di atas yang lainnya. Mereka terjebak dalam nafsu arogan yang menciptakan kelas-kelas sosial di dalam masyarakat. Menciptakan sistem bermasyarakat yang syarat dengan ketidakadilan. Menjadi manusia yang saling saing-saingan antar kubu yang satu dan yang lain. Menginjak oknum paling lemah yang dikorbankan untuk membuat sistem terus berputar. Sedang dirinya sendiri dipenuhi oleh rasa bersalah yang membuat hati tidak tenteram saat kemana-mana. Mereka terus merasa terancam padahal tidak ada orang lain di sekitarnya/ di sekelilingnya.

Manusia cenderung memikirkan keuntungan pribadi dan kelompoknya saja

Sistem bermasyarakat yang diciptakan oleh kapitalis hanya menguntungkan dirinya sendiri serta kelompoknya. Sedang, pihak lain diposisikan seolah-olah lemah, bodoh dan malas sehingga hanya kelompoknya yang merasa berhak terhadap sumber daya yang besar. Padahal, mereka hanyalah minoritas sedangkan yang lain-lainnya mayoritas. Kalangan minoritas memperlakukan tidak adil kaum mayoritas sebagai masyarakat kelas bawah yang lemah, kurang cerdas, malas dan tidak bisa apa-apa sehingga dijatahin sumber daya kecil saja. Mereka menempuh semuanya ini dengan mengedepankan manipulasi informasi yang menunjukkan bahwa kelompoknya memang hebat penyelamat fajar yang sempurna. Menempatkan dirinya seolah-olah sebagai pahlawan yang ternyata kesiangan dan telah kebobolan.

Manusia selalu berusaha menyempurnakan dirinya dengan meraih kegemilangan duniawi

Demikianlah kehidupan kita yang syarat dengan praktek kebohongan yang kompleks. Berbagai drama kehidupan ditebarkan demi meningkatkan  pesona hidup yang menunjukkan bahwa dirinya jauh lebih sempurna dari orang lain. Apa anda bisa hidup dengan tenang lewat semua kebohongan yang diwartakan? Apakah perasaan yang senang diunggulkan tersebut sudah mampu menyempurnakan kehidupan anda? Atau lebih tepatnya, apakah hari-hari yang dilalui menjadi jauh lebih baik saat hidup menyendiri dalam kemewahan yang hampa? Faktanya, manusia menyempurnakan dirinya sendiri dengan membuat aturan yang menempatkan kehidupannya lebih kaya dan mulia dari sesamanya. Sayang, pada kenyataannya semua itu tidak akan mampu menyempurnakan kehidupannya. Malahan kelemahan itu semakin kentara saja saat hatinya ditinggikan oleh keagungan, kemewahan dan kenyamanan.

Pengertian

Kami berharap para pembaca sekalian memahami apa yang kami sampaikan pada artikel ini. Yang hendak kami tegaskan di sini adalah tentang “manusia sebagai makhluk yang terbatas adanya. Akan tetapi selalu saja berusaha menyempurnakan dirinya dengan menciptakan sistem bertingkat yang seolah-olah mengindikasikan bahwa “semakin tinggi kelas sosialnya, makin sempurnalah kehidupan orang tersebut.” Kita selalu berusaha menyempurnakan segala sesuatu yang ada di sekitar dengan membangun berbagai-bagai hunian megah, mengincar posisi tinggi, membeli teknologi canggih, memperbudak lebih banyak orang dan masih banyak lagi. Ternyata semua usaha tersebut bukannya semakin membaikkan kehidupan kita melainkan justru menyendiri dalam kemewahan membuat mental menjadi lemah. Kita labil oleh gangguan sosial hanya karena perbedaan kepentingan sehingga secara tidak langsung melibatkan diri dalam kekesalan hati yang tidak menenteramkan.

Sadarilah kenyataan kawan, bahwa apa pun usaha kita di bumi ini untuk membuat diri terasa sempurna, itu tidak akan pernah terwujud. Sekali pun kita menciptakan peraturan/ sistem yang hanya menguntungkan diri sendiri, menduduki jabatan tertinggi di seluruh bumi, mengepalai sangat banyak orang, menimbun harta benda berlimpah-limpah, menempati rumah termegah, mempunyai suami/ istri tercantik sejagad dan masih banyak usaha mengunggulkan diri lainnya. Semuanya itu tidak akan pernah bisa membuat kehidupan ini tenang dan tenteram dalam kesempurnaan. Sebab faktor yang menyebabkan ketidaksempurnaan itu berasal dari dalam diri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang berseliweran di sekitar kita. Jadi sepandai apa pun kita menyemaraki kehidupan ini, kita tetaplah manusia yang penuh kelemahan yang sumbernya berawal dari dalam diri masing-masing.

Defenisi – Manusia tidak sempurna adalah suatu kenyataan yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun yang menunjukkan bahwa sebaik apa pun kita memanajemen kehidupan, tetap saja ada celah yang menunjukkan ketidaksempurnaan yang berupa kelemahan bawaan atau kekurangan dalam bersikap.

Gambaran umum tentang jenis-jenis kekurangan yang dialami oleh setiap manusia

Apa saja contoh-contoh dari kelemahan manusia? Kelemahan fisik merupakan yang paling menonjol dalam diri tiap-tiap orang. Mungkin itu bawaan dari lahir atau diperoleh selama mengarungi hari demi hari. Selanjutnya adalah kelemahan komunikasi berupa hal-hal yang kurang saat bertutur sapa dengan sesama. Kemudian kelemahan saat bertindak yang diekspresikan lewat perilaku yang mungkin agak lebay. Apa yang lemah bisa saja berwujud dalam bentuk kekhilafan (umumnya tidak disengaja) yang dilakukan dari waktu ke waktu. Hal lainnya yang terasa tidak sempurna adalah saat apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan yang diidam-idamkan dengan harapan yang besar. Segala bentuk ketidaksempurnaan ini akan selalu mengoncang suasana pikiran masing-masing orang. Sedang mereka yang terlalu fokus pada kekurangannya akan menemukan diri tertekan dalam rasa minder yang berlebihan atau menyombongkan diri demi menutupi kekurangannya.

Siapa sih yang tidak memiliki kelemahan fisik? Siapakah yang belum pernah khilaf dalam tiap-tiap penampilannya? Atau siapakah orang yang tidak pernah salah dalam bertutur sapa? Siapa juga yang belum pernah bertindak kurang tepat menjalani hari? Pula siapakah orang yang tidak pernah lebay saat menjalin hubungan dengan sesama manusia? Orang yang tidak bisa menerima kenyataan tersebut akan terpaku dan tertahan kehidupannya dalam tekanan stres yang kian hari makin berat. Sedang mereka yang ikhlas, menjalani dan mempelajari semuanya sehingga berpengalaman untuk meminimalisirnya sambil tetap melanjutkan hidup dalam aktivitas positif.

Ada yang memiliki kekurangan namun menjadi sombong

Seperti yang kami jelaskan pada paragraf bahwa beberapa orang dengan sangaja menutupi kelemahannya lewat sikap yang tinggi angkuh. Mereka mencari-cari cara agar menemukan dirinya selalu bisa tampil sempurna dihadapan orang lain lewat gemerlapan materi dan kemuliaan yang terlihat luar biasa. Ada yang menutupi kelemahan fisiknya dengan berpakaian indah-indah atau membeli aksesoris selangit. Terdapat pula orang yang menutupi kekurang mampuannya dalam berkomunikasi dengan senantiasa hidup dalam baju besi berteknologi roda. Juga ada yang menyembunyikan keterbatasan perilakunya dengan tinggal dalam liang-liang rumah mewah nan megah. Dan masih banyak bentuk lainnya dari usaha menyempurnakan kehidupan dengan memperbanyak harta benda dan jabatan yang dimiliki. Sayang, semuanya itu hanya akan berujung dalam kebosanan yang menghampakan hati dan kehancuran yang menghanguskan sumber daya yang ada.

Pula ada yang memiliki kelemahan namun menjadi minder

Di sisi lain, ada pula orang yang saat menyadari ketidaksempurnaannya justru menjadi minder sehingga kurang semangat hidup. Seolah keterbatasan tersebut terus memberati dirinya sehingga berpotensi menjadi stres yang mengantarkan hidup dalam tekanan depresi. Hal tersebut terjadi oleh karena kita terlalu fokus terhadap ketidaksempurnaan yang tertanam jelas dalam diri ini. Semakin banyak penyesalan, kekecewaan dan sungut-sungut serta kekesalan hati yang muncul makin tinggi pula tingkat kegalauan yang dicicipi. Akibatnya, kita hampir tidak mau beraktivitas melainkan hanya termenung lesu dalam lamunan kehidupan yang memahitkan hati. Sebelum kita mampu mengabaikan soal “betapa banyaknya kelemahan ini,” selama itulah tidak ada kebahagiaan dan ketenteraman hati. Melainkan fokuslah kepada hal-hal positif (pelajaran dan pekerjaan) serta fokuslah kepada Tuhan, niscaya semua itu akan berlalu begitu saja. Karena sadar betul bahwa bukan kita satu-satunya orang yang lemah itu, melainkan orang lain pun punya keterbatasan sendiri-sendiri.

Kesimpulan

Sebesar apa pun kita mencari materi dan kemuliaan duniawi untuk menutup-nutupi bahwa diri ini penuh kekurangan. Usaha apa pun yang kita lakukan demi menyempurnakan hari-hari yang dijalani, tetap saja yang namanya kurang sana-sini itu timbul otomatis dari dalam diri sendiri. Entah lemahnya diri melekat dari penampilan fisik dan lewat tutur kata serta gerak-gerik (tindakan) yang dilakonkan. Kita mungkin saja memanipulasi situasi di lingkungan sekitar agar terkesan lebih sempurna dari yang lainnya membuat aturan dimana posisi lebih unggul dari yang lain. Hidup dalam kemewahan, kemegahan dan kenyamanan luar biasa yang dipuja-puji banyak orang. Sadarilah bahwa sehebat apa pun semarak yang mewarnai sekeliling, kelemahan itu selalu saja berkibar di kala waktu yang tak terduga. Oleh karenanya, kita perlu mengikhlaskan segala sesuatu, menerima diri yang terbatas apa adanya, berusaha memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dan selalu memfokuskan pikiran kepada Tuhan serta aktif berbagi kasih kepada sesama. Bersukacitalah dalam kelemahanmu sebab lewat hal tersebut Allah akan melawat umat-Nya.

Salam, Menyadari ketidaksempurnaan kita,
membuat tetap waras menjalani hidup.
walau  kerap salah dalam bersikap.
Pastikan semua itu tidak disengaja
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.